<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750</id><updated>2012-02-15T22:54:39.206-08:00</updated><title type='text'>MAFASYRUS-KERDASUMA</title><subtitle type='html'>Catatan Melawan Lupa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>100</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6049525732276819741</id><published>2011-12-03T08:08:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T08:09:07.810-08:00</updated><title type='text'>SURAT BUAT EMAK DI MALAYSIA</title><content type='html'>Mak, udara Idul Adha tadi pagi sangatlah dingin, cuaca menjadi sangat sunyi dan suasana terbawa ke dalam rasa sedih. Tidak ada hal yang istimewa ketika tadi aku bangun tidur. Tidak mendengar celoteh adik atau senyum nenek. Aku bangun sendiri, Mak, sendiri saja. Tidak terdengar omelanmu yang selalu memekakkan telinga di saat kamu membangunkanku. Tidak terasa cucuran air di mukaku yang biasa kau lakukan agar aku cepat-cepat bangun. Di samping bantalku, aku tidak melihat sebungkus kembang dan daun pandan untuk nanti sebagai bekal ziarah ke makam para leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gema takbir yang terdengar di sana-sini membuat dadaku sesak, Mak. Sehabis shalat subuh aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku hanya bisa bertawassul dan membaca surat Yaa Sin sendiri kepada para leluhur sambil tak kuasa menahan tangis. Aku minta maaf, Mak, hari ini tidak bisa ziarah ke makam-makam mereka. Aku hanya bisa bermunajat sendiri di dalam kost yang sempit dan kumuh sambil merasakan desir angin Jogja yang menggigilkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau, Mak, tadi pagi tidak ada orang yang menawariku makan jajan atau mencicipi kuah gule yang biasa dibuat nenek. Bukan karena aku lapar, sebab semalam aku sudah mempersiapkan makanan kecil, minuman dan rokok untuk sarapan pagi. Tetapi rasanya, Mak, sangatlah hambar. Aku rindu pada nenek yang biasa langsung menawariku makan setelah aku shalat subuh. Aku rindu kepadamu yang biasa menawariku jajan sebelum berangkat ke makam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sengaja tidak langsung menelponmu atau menelpon nenek dan adikku di rumah, karena aku belum bisa meredam air mata dan sedu sedan. Aku takut engkau terbebani dengan rasa sedihku. Aku takut engkau tak tenang di Malaysia. Aku ingin kau hidup tenteram, tak terbebani dengan sesuatu pun, dan menjalani hidup normal sebagaimana orang kebanyakan. Aku ingin kau bahagia di sana, Mak, meski jauh dari sanak keluarga. Aku tak ingin menambah bebanmu yang sungguh berat itu. Aku ingin kau tersenyum. Aku ingin kau bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada nenek dan adik di Madura, aku tidak terlalu risau, sebab di sana mereka masih bisa tersenyum dan bersenda gurau dengan para saudara. Mungkin aku hanya merindukan mereka saja, tidak lebih dari itu. Tetapi terhadap kamu, bagaimana aku tidak rindu dan risau, sedang kau di Malaysia sendirian tanpa satu pun sanak keluarga. Aku kasihan padamu, Mak, sungguh kasihan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas shalat Id, yang kutelpon pertama kali bukanlah siapa-siapa, tetapi kau Mak. Mendengar suaramu, aku gembira campur sedih. Sungguh aku ingin sekali menangis. Meskipun nada suaramu datar-datar saja, aku merasa suara itu datang dari jiwa yang gundah gulana. Apalagi saat kau bilang bahwa kau tidak bisa melaksanakan shalat Id, karena kau harus menjaga bayi majikanmu, kerongkonganmu serasa serak, air mata tak bisa lagi di bendung. Di dalam pikiranku, berkecamuk berbagai macam hal. Aku benci pada keadaan, aku benci pada diriku sendiri. Mengapa kejadiannya bisa seperti ini? Mengapa engkau yang kucintai harus terasing dengan kehidupan yang telah bertahun-tahun engkau jalani dengan perasaan yang tenteram dan damai seperti halnya di kampung kita dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu sangat merasa berdosa dan merasa sebagai anak yang tak berguna sebab membiarkanmu harus pergi jauh dari rumah, dari tempat di mana kau bisa merasakan hidup yang sebenarnya. Maafkanlah aku, Mak, maafkanlah aku. Aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk hidupmu. Tetapi di dalam dadaku, terpatri janji, bahwa bila kelak aku sudah cukup mampu membiayai hidupmu, akan kuistimewakan hidupmu. Aku ingin kau tinggal di rumah saja. Tidak usah bekerja ke mana-mana. Cukup bertani ringan saja di rumah. Segala kebutuhanmu akan aku penuhi. Akan kubuat kau jauh dari kehidupan sengsara yang telah menjeratmu bertahun-tahun lamanya. Aku ingin kau bahagia. Aku ingin membuatmu bahagia. Ini janjiku, Mak. Semoga Allah mengabulkannya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(06 November 2011).***&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6049525732276819741?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6049525732276819741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6049525732276819741&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6049525732276819741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6049525732276819741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/12/surat-buat-emak-di-malaysia.html' title='SURAT BUAT EMAK DI MALAYSIA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1267118183512013352</id><published>2011-12-03T08:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T08:07:52.025-08:00</updated><title type='text'>AKU INGIN HARI RAYA SEPANJANG HARI</title><content type='html'>Aku ingin hari raya sepanjang hari, sebab di waktu-waktu itulah aku bisa mendengar takbir di mana-mana. Gema takbir di corong-corong masjid seakan-akan menyuruhku untuk senantiasa memuji Allah. Di waktu-waktu itulah aku sangat bisa menikmati lantunan takbir sendirian, sambil mengunci kamar dan menangis di hadapan Allahku. Aku bisa ”bercengkrama” dengan Allah sepanjang hari, di mana-mana, lebih-lebih di ceruk terdalam dari hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua lebaran ini (Idul Fitri dan Idul Adha 2011) aku merasakan betapa menangis bahagia di hadapan Allah sungguh amatlah nikmat rasanya. Di tengah-tengah lantunan takbir aku bersungkur diri tersebab diriku yang tak berdaya, penuh dosa dan tak mampu memikul tanggung jawabku sebagai manusia. Di tengah-tengah lantunan takbir aku merasa bangga dengan Allahku yang telah memberiku hidup, memberiku alam semesta, memberiku waktu, memberiku kesedihan, memberiku duka, memberiku harapan, memberiku keindahan, memberiku apa saja yang tak ternilai harganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam-malam lebaran aku bisa bertakbir sepanjang malam, bercengkerama dengan Allahku dengan penuh damba dan cinta. Aku sungguh-sungguh merasa sebagai hamba, ’abdun, sesuatu yang begitu kudambakan sepanjang hidup. Aku lihat langit, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat masa lalu, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat diriku, hanya Allahlah yang ada. Allah ada di mana-mana, dan aku memujinya, bahkan dengan bulu kudukku. Di malam-malam lebaran, sungguh aku terkesima memandang hidup ini, Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin hari raya sepanjang hari, sebab di waktu-waktu itulah aku bisa merasakan makna dari kebahagiaan. Aku seperti anak kecil yang di malam-malam lebaran hatinya berbunga-bunga. Mereka menyulut petasan karena bahagia. Mereka meneriak-neriakkan takbir sambil menabuh apa saja dengan nada yang seperti apa saja karena bahagia. Mereka amatlah bahagia sekali menyambut datangnya hari raya. Apalagi ketika pagi-pagi berangkat ke masjid, sungguh kebahagiaan telah menjadi miliknya yang suci. Kebahagiaan anak-anak kecil di waktu lebaran adalah kebahagiaan yang abadi. Dan aku merasakannya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sore menjelang, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Besok lebaran”. Setiap malam aku ingin berbunga-bunga sambil berkata pada diriku sendiri, ”Sekarang malam lebaran”. Setiap bangun pagi, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Sekarang lebaran”. Aku ingin kebahagiaan hari lebaran tak lekang dari hatiku. Aku ingin bertakbir setiap hari, aku ingin lebaran setiap hari. ”Allahku, sambutlah kebahagiaan hari lebaranku sepanjang hayat!”. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(06 November 2011).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1267118183512013352?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1267118183512013352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1267118183512013352&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1267118183512013352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1267118183512013352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/12/aku-ingin-hari-raya-sepanjang-hari.html' title='AKU INGIN HARI RAYA SEPANJANG HARI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-851426445015011081</id><published>2011-10-24T21:06:00.000-07:00</published><updated>2011-10-24T21:14:31.822-07:00</updated><title type='text'>AKU ADALAH MANUSIA LANGIT-BUMI</title><content type='html'>Hampir setahun lebih aku mengikuti pengajian tasawwuf Cak Kuswaidi Syafi’ie, meskipun tidak istiqamah. Pengajian itu kadang dimulai pukul 01.00 sampai subuh, kadang juga sore pukul 16.00 sampai maghrib. Tempatnya pun berpindah-pindah, kadang di warung kopi, caffe dan di Lapangan Karang Kota Gede. Cak Kus – begitu kami memanggilnya – adalah guruku spiritualitasku yang pertama. Beliau adalah guru keduaku di Jogja setelah almarhum K.H. Zainal Arifin Thoha (semoga Allah menempatkannya bersama para auliya’ dan para ‘abidin yang dicintainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, Cak Kus sangat keras dalam mendidikku. Kalau aku salah, beliau kerap memarahiku, sehingga hingga kini pun, di mana Cak Kus sudah semakin arif dan bijaksana, perasaan takutku kepada beliau belum pula pudar. Aku jujur, lebih besar rasa takutku dari pada tawaddu’ku kepada beliau. Jadi, rasa takut itulah yang membuatku selalu merasa salah tingkah di hadapan beliau. Tetapi demikianlah, beliau adalah guru spiritualku yang sangat luar biasa alim dan sangat aku kagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menguraikan satu-persatu apa saja yang beliau ajarkan kepadaku. Aku hanya menangkap – ingat, ini hanya tangkapanku belaka – bahwa aku diajarkan bagaimana menganggap selain Allah itu tidak penting. Kemuliaan manusia adalah apabila dia telah tenggelam ke dalam telaga Ilahi. Dunia adalah kenyataan yang fiktif, tidak ada, dan oleh karenanya sangat rendahlah ia. Aku dibimbing bagaimana senantiasa merasakan kehadiran Allah, bersama Allah, hidup di dalam cahaya cinta Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal-awal aku dapat menerima akan hal itu. Aku menganggapnya adalah jalan hakikat yang mesti disadari olehku dan aku jalani sepenuh hati. Membenarkan syari’at dan “bercumbu-rayu” dengan hanya Allah adalah tujuan mulia hidupku di dunia – begitu menurutku dulu. Membuang cinta dunia merupakan satu hal yang pokok yang harus aku usahakan. Oleh karenanya, aku menjadi sangat menikmati kehidupan yang demikian. Aku sedikit demi sedikit dapat “mencicipi” air “telaga yang tak berpantai” itu. Aku sangat senang bershalawat sendiri, berdzikir di tengah malam sendiri, senang menghadiri majelis-majelis dhiba’ dan sebagainya yang berhubungan dengan Allah dan Nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi entah kenapa aku menjadi seperti hidup di dalam bayang-bayang yang tak nyata. Dunia di mataku seperti onggokan sampah yang tak berguna. Aku menjadi sangat tidak tertarik kepada dunia, sehingga apa pun yang berhubungan dengan dunia aku mulai sedikit abai. Aku semakin menganggap minor dengan pandangan-pandanganku terhadap impian-impian duniaku. Aku menjadi sangat asing dengan cita-citaku dulu yang ingin menjadi seorang intelektual, fisikawan dan sastrawan. Aku menjadi ogah-ogahan belajar dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu aku kira belumlah seberapa. Terhadap semua derajat-derajat keduniaan aku sudah mulai menertawakannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang hampa dan sama sekali tak berguna. Terhadap orang-orang yang menggumuli dunia aku kian menilainya secara minor. Aku menjadi tidak tertarik lagi berteman dengan orang-orang yang jauh dari Allah. Pokoknya aku merasa seperti orang asing terhadap dunia dan kehidupan di sekelilingku, bahkan mungkin terhadap diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu setelah lebaran kemarin (2011), aku jadi menggelisahkan anggapan dan jalanku ini. Aku menjadi bertanya-tanya, mengapa aku menganggap jalanku ini lebih suci ketimbang jalan yang ditempuh oleh teman-temanku atau orang-orang di sekelilingku yang tidak berbau akhirat? Mengapa aku sudah tidak produktif lagi menulis, sudah jarang lagi membaca, belajar dan menajamkan otakku? Mengapa aku harus menganggap dunia tidak penting, padahal aku ini hidup di dunia? Mengapa aku harus meninggalkan teman-temanku yang menurut pandanganku tidak dekat dengan Allah? Mengapa aku harus memaksakan diri untuk tidak hanya mendekat kepada Allah, tetapi juga “bercinta” dengan-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak dalam kepalaku. Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada skeptisisme terhadap jalan dan pola pikirku yang demikian itu. Pertanyaan-pertanyaan ini kian membuatku yakin bahwa jalan dan pandanganku salah, sebab mengabaikan dunia dan menjauhi orang-orang yang menurutku jauh dari Allah bagiku adalah kedhaliman yang nyata. Aku ini ditugaskan oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku menarik kesimpulan dari sejumlah perenunganku bahwa tugas seorang khalifah menurutku ada tiga macam, yakni hamblum minallah, hablum minannass dan hablum minal’alm. Ketiga-tiganya harus seimbang dalam tiap-tiap diri manusia. Tidak boleh ada yang berat sebelah. Sebab makna dari ketiganya adalah satu, yakni ‘amrullah. Sementara itu, tujuan dari hidup manusia di dunia ini itu hanya satu, menjadi ‘abdun, yaitu “menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”. Kalau begitu, mengapa aku harus abai kepada manusia dan dunia, bukankah itu juga merupakan rahmat Allah yang diturunkan oleh-Nya kepadaku? Aku dituntut supaya menjadi rahmatan lil ‘alamin, tapi mengapa aku harus mengabaikan manusia dan dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku apa yang dinamakan sebagai ma’rifat (mengenal) itu ada tiga macam, yakni ma’rifatullah, ma’rifatunnass dan ma’rifatul’alm. Jadi kenalilah ketiga-tiganya sekaligus, berjalanlah di jalan yang baik di dalam ketiga-tiganya. Kalau memang begitu, mengapa aku hanya menganggap penting ma’rifatullah di samping ma’rifatunnass dan ma’rifatul’am? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sepenangkapanku, Cak Kus lebih banyak mengajarkanku tentang bagaimana dan seperti apa itu ma’rifatullah. Sementara ma’rifatunnass dan ma’rifatul’alm mendapat porsi yang sedikit dari pengajian-pengajiannya. Aku sebagai orang awam jadi bingung sendiri. Jadinya aku seperti “manusia langit” yang terkadang kabur melihat dunia dan manusia. Padahal bagiku, aku ditugaskan tidak hanya menjadi “manusia langit”, tetapi juga menjadi “manusia bumi”. Jadi aku adalah “manusia langit” sekaligus “manusia bumi”. Oleh sebabnya, ketiga macam ma’rifat itu mesti aku jalankan secara bersandingan dan bersama-sama.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Jogja, 20 Oktober 2011)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-851426445015011081?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/851426445015011081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=851426445015011081&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/851426445015011081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/851426445015011081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/10/aku-adalah-manusia-langit-bumi.html' title='AKU ADALAH MANUSIA LANGIT-BUMI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1919513729754347677</id><published>2011-10-12T09:38:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T09:40:04.628-07:00</updated><title type='text'>BAYANGAN-BAYANGAN CALON ISTRI</title><content type='html'>Entahlah mengapa akhir-akhir ini pikiranku selalu dirasuki oleh hayalan-hayalan kosong tentang perempuan. Dalam benakku, aku selalu bertanya-tanya, benarkah perkataan temanku bahwa dibanding laki-laki yang sudah atau setidaknya pernah menjalin hubungan dengan perempuan, orang yang tidak pernah menjalin hubungan lebih kerap dihantui oleh bayangan atau hayalan tentang perempuan. Aku sudah berusaha meyakinkan diri untuk membuang jauh-jauh hayalan-hayalan itu, tetapi apatah daya, pikiran tidak selamanya bisa diatur oleh pemiliknya. Kalau boleh jujur, aku ini sudah ingin sekali memiliki pendamping, baik itu pacar atau setidaknya tunangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pikirku, menurutku, barangkali sudah mencapai taraf dewasa. Seandainya aku dianugerahi kekasih oleh Allah, aku ingin membina hubungan itu dengan baik hingga kelak sampai di pelaminan. Aku pikir, main-main sudah bukan lagi waktunya untukku. Aku ingin menjadikannya kekasih dan pendamping hidupku yang abadi hingga di akhirat nanti. Aku selalu menunggunya setiap waktu. Tetapi entahlah hingga kini belum juga datang perempuan yang aku idamkan itu. Mungkin belum waktunya dia datang kepadaku. Aku yakin, Allah lebih tahu tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya soal perempuan yang bagaimanakah yang aku harapkan kelak jadi pendamping hidupku, aku akan menjawabnya sesuai dengan kriteria-kriteria yang diimpikan oleh ibuku. Suatu hari ibuku pernah bilang kepadaku, “Nak, kalau kamu mencari calon istri, carilah perempuan yang benar agamanya, bagus akhlakul karimahnya, dan bisa membawamu serta anak-anakmu kelak ke dalam kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Carilah perempuan yang dapat mencintaimu, menyayangimu dan mendukungmu sepenuh hati. Carilah perempuan yang cantik, cerdas dan dapat membahagiakan keluarga. Ibu akan sangat bahagia jika kelak istrimu adalah perempuan semacam itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria-kriteria yang diberikan oleh ibuku itu tentu cukup sempurna, sehingga karenanya kadang kala membuatku lebih teliti melihat perempuan yang sedang aku senangi. Kalau dia tidak sesuai dengan kriteria di atas, aku tidak akan segan-segan untuk memalingkan muka darinya. Kerap kali aku jatuh cinta pada sesosok perempuan, akan tetapi karena dia tidak sesuai dengan kriteria-kriteria tersebut, aku berusaha sekuat mungkin untuk membuang rasa cinta yang sedang menyeruak di dadaku itu. Aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar. Aku tidak ingin beristrikan perempuan yang hanya bisa membuatku menderita dan tersiksa. Aku tidak ingin punya istri yang hanya membuatku kelak diceburkan ke dalam ganasnya api neraka. (Jogja, 12 Oktober 2011).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1919513729754347677?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1919513729754347677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1919513729754347677&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1919513729754347677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1919513729754347677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/10/bayangan-bayangan-calon-istri.html' title='BAYANGAN-BAYANGAN CALON ISTRI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2846030793797115649</id><published>2011-07-24T04:00:00.000-07:00</published><updated>2011-07-24T04:01:22.059-07:00</updated><title type='text'>Surau Ngaji Pertama Dan Mereka Semua</title><content type='html'>terima kasih yon, edi, deni, yoyok, joko, lisa &lt;br /&gt;terima kasih atas kebersamaannya&lt;br /&gt;terima kasih pak matripin, terima kasih mak erra&lt;br /&gt;terima kasih atas kasih-sayangnya&lt;br /&gt;tanpa kalian, aku tak akan pernah bisa mengaji alif-baa-taa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih ingat kenangan kita itu&lt;br /&gt;saat magrib tiba, kita datang ke langgar bersama-sama&lt;br /&gt;berjemaah bersama-sama, mengaji bersama-sama &lt;br /&gt;dan bermain-bermain riang sebelum pulang ngaji bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat diantara kita ada yang khatam iqra’ atau al-qur’an&lt;br /&gt;kita merasa begitu senang&lt;br /&gt;karena kita bisa makan bersama nasi rebbha syukuran&lt;br /&gt;dan saling mengayuh masa-masa keriangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak pernah menyesal dan marah padamu, edi, deni&lt;br /&gt;atas kenakalan kalian yang menyebabkan lengan kiriku patah&lt;br /&gt;karena kenakalan kalian ini&lt;br /&gt;kini menyadarkanku akan makna kata waspada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih ingat kenangan itu, pak, mak&lt;br /&gt;saat kalian mengajari kami bagaimana cara mengaji yang baik&lt;br /&gt;bagaimana cara berwudhu dan bershalat yang baik&lt;br /&gt;bagaimana cara menghormati guru dan orang tua yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh kalian begitu sabar membimbing kami yang nakal ini&lt;br /&gt;mengajari bagaimana berbuat baik pada orang lain dan diri&lt;br /&gt;menapih sesal tentang betapa jahatnya kebodohan&lt;br /&gt;belajar bagaimana selalu ingat pada tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh, betapa kenangan itu tak pernah aku melupakannya&lt;br /&gt;selamanya, bahkan barangkali sampai aku ini tiada&lt;br /&gt;betapa sangat berharganya kebersamaan kita&lt;br /&gt;betapa bahwa segalanya menjadi begitu bermakna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suru tua itu, bolehlah kini sepi atau bukan lagi tempat untuk ngaji&lt;br /&gt;bagiku, ia tetaplah tempat yang bergelimang cahaya di hati&lt;br /&gt;sudah terlalu lama aku tak menjenguknya&lt;br /&gt;rindu ini telah berkarat sekian lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin aku memampirinya lagi&lt;br /&gt;sekedar bersih-bersih&lt;br /&gt;dan mengingat kembali &lt;br /&gt;bagaimana ia begitu berharga bagi kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 13 Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2846030793797115649?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2846030793797115649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2846030793797115649&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2846030793797115649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2846030793797115649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/07/surau-ngaji-pertama-dan-mereka-semua.html' title='Surau Ngaji Pertama Dan Mereka Semua'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1621858398777018872</id><published>2011-07-24T03:46:00.000-07:00</published><updated>2011-07-24T03:48:15.719-07:00</updated><title type='text'>Sya’banan di ndalem Habib ‘Abdillah al-Malik al-Habsyi</title><content type='html'>Beliau biasa dipanggil Habib Dillah. Rumahnya di daerah Kalasan Yogyakarta. Tetapi beliau bukan orang asli Yogyakarta. Beliau adalah orang desa Baraji Gapura Sumenep Madura. Hanya saja barangkali beliau sudah lama tinggal di Jogja sehingga bahasa Jawa beliau cukup fasih dan lancar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, aku tahu beliau hanya dari cerita beberapa teman yang kebetulan sering sowan ke ndalemnya. Konon, beliau beristrikan orang Jember. Informasi terakhir yang aku dengar bahwa istrinya itu sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Mungkin, keluarga beliau satu-satunya di Jogja adalah anaknya yang masih seumur anak SD itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ndalemnya, beliau mengasuh beberapa santri. Pondoknya sangat kecil dan sederhana. Ndalemnya pun, menurut khabar yang berkembang, sangat kecil dan hanya bisa ditempati oleh 2 orang saja. Di samping pondok itu, terdapat mushalla yang sangat sederhana, semacam joglo, yang tiap harinya tidak pernah sepi dari para pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teman yang menuturkan tentang beliau kepadaku, beliau adalah seorang waliullah yang jadhab. Beliau adalah peminum yang tidak pernah mabuk, sebab pada suatu ketika beliau ditanya tentang hal itu, beliau membuka mulutnya dan orang yang bertanyaitu tidak melihat apa-apa kecuali hamparan laut yang luas. Beliau kalau bicara nyerocos saja, seakan-akan tidak tahu tata krama. Tetapi entahlah, kenapa kata-kata beliau selalu benar, selalu yang dibicarakannya adalah hakikat hidup yang paling hakiki, sehingga tidak ada alasan bagi orang yang mendengarkannya menolak pernyataan-pernyataannya yang kerap kali aneh itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak barangkali, bagiku, untuk mengutarakan banyak hal tentang beliau sebagaimana khabar yang kudengar dari sejumlah sumber. Yang terpenting bahwa aku pertama kali diceritakan oleh temanku tentang kehidupan, sifat, sikap dan derajat kewalian beliau, aku jadi penasaran ingin berjumpa beliau. Aku begitu terpukau dengan tuturan-tuturan teman-temanku tentang beliau. Aku lalu berjanji kepada diriku sendiri bahwa nanti bila waktunya tiba, aku akan sowan ke ndalem beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, beliau sangat sukar ditemui. Hanya orang-orang yang beruntung saja yang akan ditemuinya. Tidak sedikit dari orang dan bahkan teman-temanku sendiri yang harus gigit jari sebab beliau tidak berkenan menemuinya. Ini, menurut temanku, dikarenakan niat yang salah ketika hendak berangkat ke ndalemnya itu. Jadi beliau ini mukasyafah, tahu apa yang menjadi grundelan dan pikiran seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya. Sebagian temanku yang termasuk beruntung itu, katanya, ketika hendak berangkat sampai tiba di ndalem beliau, ia tawassulan tak henti-hentinya kepada beliau, sehingga seakan-akan beliau merasa bahwa niat temanku itu benar-benar murni untuk belajar mendekatkan diri kepada Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, dan ini merupakan rezeki yang tiada taranya, secara kebetulan aku dipertemukan kepada beliau oleh ajakan Sya’banan teman-temanku. Mereka tidak mengatakannya terlebih dahulu bahwa mereka akan Sya’banan di ndalem beliau. Aku tahu informasinya malah ketika sudah di tempatnya Cak Kuswaidi Syafi’ie, guru spiritualku. Jadi, kata temanku, kita akan Sya’banan di calon pondok yang hendak didirikan oleh ak Kuswaidi. Tetapi entah karena apa, Cak Kuswaidi secara tiba-tiba mengurungkan niat awal itu dan mengajak teman-teman bersya’banan di ndalemnya Habib Dillah. Alhamdulillah, niat dan keinginanku bejumpa beliau terbayar oleh kondisi yang barangkali bukan merupakan suatu kebetulan, tetapi aku yakin adalah takdir dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di mushalla beliau, kami langsung disuruh menyantap makanan yang sudah tersedia di teras depan. Kami pun makan bersama-sama. Setelah makan, kami whudlu’ dan ikut bergabung dengan orang-orang yang bersholawat di dalam mushalla. Shalawat itu semacam praacara menyambut para jemaah. Orang-orang berdatangan dari sana-sini, dari anak-anak muda sampai kakek-kakek. Mereka berjumlah kurang-lebih 200-an orang. Ketika acara resmi hendak dimulai, aku memang sengaja duduk di deretan paling depan, di dekat kelompok hadrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan, Cak Kuswaidi, Habib Utsman, penata acara dan orang-orang tua yang tidak aku mengenalnya. Aku tanya ke orang-orang yang duduk di kanan-kiriku, yang manakah Habib Dilla itu. Tetapi jawabannya nihil, Habib Dillah tidak turut berkumpul di depan. Aku sudah hampir kecewa, sebab beliau tidak hadir. Tetapi aku berusaha menentang rasa kecewa itu dengan meluruskan niat kembali. Acara pertama bershalawat dengan kitab Maulid ad-Diba’i yang dipimpin oleh orang yang tidak kukenal. Setelah itu, Habib Utsman didaulat memimpin pembacaan Manakib Syekh Abdul Qodir Jailani. Setelah itu ceramah keagamaan yang diutarakan oleh seorang ustadz yang tidak begitu menggembirakanku, karena terlalu kakunya ia dalam berceramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ceramah, beberapa menit kemudian, datanglah sesosok laki-laki muda. Dia pakai kaos putih, celana yang sudah lusuh, songkok haji warna-warni dan berkalungkan sarung. Dilihat dari pakaian yang dia pakai, aku berpikir dia orang tidak genah, sebab di forum resmi seperti ini ia berpakaian demikian, seperti tidak tahu sopan-santun saja. Tetapi aku kaget bukan main ketika melihat orang-orang mengerubunginya untuk bersalaman kepadanya. Aku pun, dengan tanpa adanya dorongan pribadi, ikut bersalaman dengannya dan mencium tangannya. Dia lalu duduk di mimbar bangku. Teman di sebelahku berkata, “Itu dia Habib Dillah!” Ya Allah, Astaghfirllah, aku benar-benar tidak menyangka. Untung aku tadi ikut bersalaman dan mencium tangannya. “Alhamdulillah, Alhamdulillah!,” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gelagat yang lepas dan suara yang keras, beliau menyuruh jemaah hadrah untuk main lagi. Aku langsung meluruskan niat, berusaha khusyu’, menggugah kesungguhan dan ketulusan hati. Aku ingin merasakan kebahagiaan bershalawat bersama beliau. Setelah hadrah, tanpa aba-aba, beliau kemudian bertawassul dan membuka kitab Simtud ad-Dhurar. Kami bershalawat lagi. Kondisi diri yang sangat berbeda hadir tiba-tiba. Aku begitu menjadi sangat khusyu’, sangat menikmati untaian-untaian bacaan beliau dan sangat tercekap dalam rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Aku yakin ini adalah karena aura Habib Dillah yang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sungguh sangat tajam dan sensitif perasaannya. Baru membuka bacaan Simtud ad-Dhurar, air mata beliau sudah berlinang memahat pipi beliau yang bersinar. Lantunan demi lantunan shalawat beliau baca dengan suara yang rendah, lagu yang mendayu-dayu dan penghayatan sepenuh jiwa. Di tengah-tengah bacaan, sambil memejamkan mata, baliau berkata, “Ya Nabi, sesungguhnya kami ingin sekali terus-menerus bershalawat. Tetapi wahai Nabi, akhlak kami ini lho, akhlak kami ini lho.” Setelah itu, dengan nada tangis yang menjerit dan seakan-akan memeluk-meluk sesuatu. Aku yakin, Nabi hadir ke hadapan beliau secara nyata, mencium bibirnya yang kuyup bergetar, mengecup keningnya yang bercahaya dan mendekap hatinya yang lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula air mataku tak dapat aku tahan. Air mataku terus menyumbul dari pelupuk-pelupuk mataku yang sayu. Bukan karena aku merasakan kehadiran Nabi, tetapi terharu kepada cinta Habib Dillah yang tulus dan dalam kepada junjungan agung itu. Di dalam hati, aku berdoa kepada Allah, jadikanlah aku sebagai bagian dari hamba yang dicintai-Nya. Di dalam hati, aku menghiba-hiba kepada Nabi agar turut hadir ke hadapanku. Aku terus menangis, meskipun aku berusaha menahannya, serasa aku tak mampu. Aku tak berdaya di hadapan keagungan Nabi Muhammad SAW; aku tak berdaya di hadapan kekuatan Allah SWT yang nampak begitu nyata; aku tak berdaya menganggap diri ini bukan sebagai sampah belaka. Demikianlah hingga shalawat selesai dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Habib Dillah berceramah dengan mengaji syi’ir-syi’ir dari seorang waliullah Timur Tengah yang sudah kulupa namanya. Syi’ir-syi’ir itu memuat banyak hal, terutama tentang tawakkal dan taqwa. Dari hasil perenungannya yang dalam terhadap syi’ir-syi’ir itu, Habib Dillah berpesan kepada kami agar kami berkhusnuddhan dan ikhlas kepada segala yang dihadirkan Allah kepada hidup kami. Beliau juga berpesan agar meminta kepada Allah kesenangan dan ketentraman hidup, juga derajat yang tinggi di hadapan-Nya. Seketika aku ingat pesan Ibunda Maya Veri Oktavia, istri guruku tercinta alm. Zainal Arifin Thoha, bahwa kesufian itu memiliki dua sayap: khusnuddhan di sayap kanan dan ikhlas di sayap kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Habib Dillah berceramah sungguh unik dan belum aku jumpai pada da’i-da’i yang lain. Beliau terkesan ceplas-ceplos, terang-terangan bilang “asu”, memukul-mukul mimbar dan tertawa terbahak-bahak. Tetapi sama sekali “kesembronoan” beliau itu memunculkan perasaan tidak suka atau benci di dalam hatiku. Meskipun beliau terkesan sembarangan, kata-kata beliau bersinar bagai permata, sebab yang dibicarakannya memang adalah hakikat hidup yang azali. Malah kata-kata beliau lebih masuk ke dalam hatiku ketimbang kata-kata para da’i yang sok bijaksana. Kedalaman kata-katanya itu tidak lain karena beliau telah mengalaminya. Beliau seolah-olah tidak ngomong tentang sesuatu yang beliau sendiri tidak melakukannya. Demikianlah, kata-kata menjadi hidup dan bermekaran di dada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berceramah, beliau membaca shalawat lagi, menangis lagi. Kali ini beliau lebih banyak meminta maaf kepada kami, dengan nada yang tulus dan menghiba-hiba, agar kami berkenan memaafkan dosa-dosa beliau kepada kami. Padahal, alih-alih dosa, beliau telah memberikan beribu-ribu hikmah kepada kami. Begitulah memang, seorang waliullah selalu takut akan murka Allah, seorang waliullah selalu berpegang teguh pada firmah Allah yang menyatakan bahwa Allah tidak akan memaafkan dosa seseorang kepada orang lain sebelum orang itu meminta maaf dan maafnya itu diterima. Acara rampung kira-kira pukul satu dinihari. Kami dipersilahkan makan lagi oleh beliau. Setelah itu, kami berpamitan kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu, dalam menjalani hari-hari yang kadang banyak menipu, setiap kali aku lupa akan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, selalu wajah Habib Dillah mengumbar di mataku. Dan seketika itu pula, aku menjadi sadar dan menangis sendiri. Aku menjadi semakin yakin bahwa yang paling berharga dari seorang wali bukan hanya kata-kata bijaknya, tetapi juga raut mukanya. Aura muka seorang wali senantiasa membawa kita bersimpuh di hadirat Allah SWT dan menghunjamkan linggis cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Wallahu’alam bi as-shawab. (20 Juli 2011)***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1621858398777018872?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1621858398777018872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1621858398777018872&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1621858398777018872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1621858398777018872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/07/syabanan-di-ndalem-habib-abdillah-al.html' title='Sya’banan di ndalem Habib ‘Abdillah al-Malik al-Habsyi'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1082549793142700026</id><published>2011-06-28T17:15:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T17:16:05.444-07:00</updated><title type='text'>AKU, NOM HOSIN DAN MERPATI</title><content type='html'>Nom Hosin adalah pamanku dari jalur emak. Dia anak kakek Sumokat (saudara nenekku). Jadi dia adalah keponakan nenekku atau sepupu emakku. Dia lahir tahun 1975. Pada masa-masa remajanya, dia suka bergabung dengan para Blater (baca: sebutan untuk jagoan Madura). Tetapi dia tetaplah remaja seperti remaja desa kebanyakan. Dia juga suka permainan anak remaja, misalnya, aduan merpati. Ketika aku masih kecil (sekitar kelas 3-6 SD) aku sering diajaknya melatih dan ikut perlombaan aduan merpati. Dia yang ngebher, aku yang ngocol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan-kenangan itu begitu indahnya. Kenangan-kenangan itu hadir kembali setelah aku menemukan lagu Satu Senyum Saja karya group band Tatoo, sebuah lagu lawas yang dulu sangat populer dinyanyikan anak-anak, termasuk juga Nom Hosin dan aku. Biasanya, selagi aku dan Nom Hosin berangkat ke tempat latihan adu merpati dengan menggunakan motor bebeknya yang menyedihkan itu, di tengah jalan kami nyanyi lagu itu bareng-bareng. Meskipun dia pamanku, dia sangat memahamiku. Gelagatnya seperti berharap aku tidak usah sungkan bergaul dengannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memanggilku kacong, sebuah sebutan Madura oleh paman kepada keponakannya. Aku ingat betul, ketika itu sekitar tahun 1997, aku dengannya ikut lomba adu merpati yang akhirnya burung merpati Nom Hosin dapat juara 2 se-Kecamatan Dasuk. Aku ikut senang. Aku pun dikasihnya uang jajan sekitar 10 ribu. Biasanya, setiap aku ikut dia, aku diberi uang hanya seribu atau lima ratus rupiah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sore, sehabis pulang dari Madrasah Diniyah, Nom Hosin – yang dulu rumahnya berdempetan dengan rumahku – mengajakku melatih burung merpatinya. Kalau tidak ke lapangan sepak bola belakang sekolahku, kami pergi ke Gelkandheng, sebuah hamparan sawah yang luas dan panjang. Kami pulang hampir selalu saat magrib tiba. Tidak jarang aku dimarahi sama ayahku karenanya, Nom Hosin dimarahi pula oleh ayahnya. Tetapi ketika malam-malam sehabis Ngaji ke Langgar aku ketemu sama Nom Hosin, kami ketawa-ketawa. Kami kerap kali menertawakan kemarahan orang tua kami. Begitulah, darah nakal Nom Hosin mungkin saja sedikit banyak mengalir ke dalam darahku. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(28 Juni 2011).&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1082549793142700026?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1082549793142700026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1082549793142700026&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1082549793142700026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1082549793142700026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/06/aku-nom-hosin-dan-merpati.html' title='AKU, NOM HOSIN DAN MERPATI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2156497209639674626</id><published>2011-06-28T17:14:00.001-07:00</published><updated>2011-06-28T17:14:59.235-07:00</updated><title type='text'>10 Bulan Tidak Pulang Kampung</title><content type='html'>Sudah hampir 10 bulan aku tidak pulang kampung. Ini pengalaman pertamaku. Biasanya, setahun 2 kali aku pulang. Jadi tidak sampai 7 bulan di Jogja, aku sudah bisa pulang ke Madura. Tetapi sekarang lain cerita. Sesuatu yang tidak terduga-duga kadang hadir kepada kita tanpa kita mau, tetapi harus kita terima dan hadapi. Inilah kehidupan. &lt;br /&gt;Betapa rasa rindu ke nenek, adik, paman, bibi, kakek dan nenek sangatlah besar. Rasa rindu ini datang hampir tak tertahankan sekitar sebulanan ini. Ingin rasanya aku pulang ke rumah besok pagi juga. Tetapi apalah daya, di Jogja masih banyak perkerjaan dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bayang-bayang kampong halaman selalu menghantuiku sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, emakku dari Malaysia nelpon, menanyakan apakah aku selama beliau berangkat ke Malaysia (bulan Februari) sudah pernah pulang apa belum. Beliau agak sedikit marah ketika kujawab belum. Aku disuruhnya pulang barang sebentar, kasihan nenek dan adik. Aku minta maaf sama beliau. Aku katakan, bukan karena aku tidak mau pulang, tetapi tanggung jawab yang mesti kulaksanakan di Jogja masih belum kelar. Nanti, kukatakan pada beliau, kalau sudah kelar, aku pasti pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku sangat merasa berdosa kepada nenek dan adik dengan tidak menyempatkan waktu meskipun sehari-dua hari pulang ke kampung. Pada semester ini aku cuti. Tentu selama cuti ada selalu ada banyak waktu bagiku untuk pulang. Tetapi begitukah, tanggung jawab itu selalu menghantuiku. Aku tidak bisa melepasnya begitu saja. Jika aku melepasnya, mungkin rencana-rencana untuk semester depan akan terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab itu ialah mencari dana untuk membayar SPP semester depan. Selain itu juga mencari dana untuk membayar kost, membeli perlengkapan yang kuanggap perlu untuk semester depan agar kuliahku lancar, seperti motor. Kost dan kampusku berjarak lumayan jauh, sekitar 12 kilometer. Aku tiap hari naik angkot. Kalau tidak punya uang untuk ongkos angkot, berarti aku mesti bolos kuliah. Nah, itu aku tidak mau terjadi di semester depan. Oleh sebabnya aku ngebet punya kendaraan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah hampir 3 bulan lebih aku bekerja, baru 2 buku yang aku selesaikan. Buku pertama, honornya sudah habis buat bayar hutang, kost dan kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya, dalam rencana awal, honor itu akan kusisihkan untuk membayar hutang SPP semester kemarin ke Dewan Hibah Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga. Tetapi entahlah, rencana itu tidak terlaksana. Sisa honor 2 juta itu, setelah kubayar hutang ke teman-teman, bayar kost dan kupotong untuk persediaan hidup, hanya 600 ribu rupiah. Padahal, hutangku ke Fakultas 850 ribu rupiah. Itu pun nenek di kampung membutuhkan uang, sehingga aku kirimkan 150 ke rumah. Entah pula, mengapa sisa uang 450 ribu rupiah itu kok tiba-tiba tinggal sedikit. Ditambah lagi pada hari Jum’at (10 Juni) aku ikut rombongan ziarah wali songo Jam’iyyah Diba’iyah bil Musthofa asuhan Gus Kelik Krapyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak, aku tidak terlalu risau. Kadang memang perhitungan kita selalu tidak sesuai dengan takdir. Maka, aku berharap honor buku kedua yang belum turun dapat kusisihkan untuk membayar SPP dan kusimpan untuk modal beli motor nanti. Sekarang aku lagi garap buku ketiga. Aku harap setelah selesai ini, dan honor buku kedua juga turun, aku akan pulang ke kampung. Lagi pula, pada awal Juli kampus sudah libur UAS sampai pertengahan September. Berarti masih ada banyak waktu untuk kuhabiskan bersama adik dan nenek di rumah nanti. Biarlah rindu ini aku simpan dalam-dalam. Pada saatnya nanti akan aku bayar. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(08 Juni 2011).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2156497209639674626?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2156497209639674626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2156497209639674626&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2156497209639674626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2156497209639674626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/06/10-bulan-tidak-pulang-kampung.html' title='10 Bulan Tidak Pulang Kampung'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3434074023301986537</id><published>2011-05-27T19:34:00.000-07:00</published><updated>2011-05-27T19:35:54.968-07:00</updated><title type='text'>BUK SUHAENA</title><content type='html'>Buk Suhaena adalah mbak sepupuku. Sekarang (2011) umurnya 31 tahun. Tapi dia tidak menikah. Entahlah, aku kasihan padanya bila sampai beberapa tahun kemudian dia juga tidak menikah. Padahal, Mak Enna – emaknya – sudah ingin menimang cucu; Mbuk – nenekku – ingin menimang cicit; dan aku juga ingin menimang keponakan. Aku selalu berdoa, semoga Allah segera memberikannya jodoh yang baik dan sholeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu semasih aku kanak-kanak, sering aku bertengkar dengannya, tetapi bukan karena aku tidak menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Dialah mbakku yang paling aku cintai. Ketika aku kelas dua SD, dia yang mengajariku membaca buku, menulis tegak bersambung, menghafal perkalian 1 sampai 10. Dan setelah aku di Jogja, mengarang beberapa buku dan bisa hidup mandiri, dia sangat bangga kepadaku. Diceritakannya aku kepada teman-temannya. Dipuji-pujinya aku setinggi langit.  Bukan karena telah ”dipromosikannya” aku kepada orang lain yang membuatku terharu, tetapi karena aku tahu bahwa ini adalah bukti betapa sebenarnya dia sangat menyayangiku meskipun sikapnya kepadaku sangat dingin, bahkan terkesan keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sekitar tahun 1999 dan 2000-an, mbakku menyukai acara atensian dan dangdutan di radio Pesona 2000. Acaranya siang, sehabis dhuhur. Saat-saat seperti itu aku sudah pulang dari sekolah (SD). Aku selalu diajaknya mendengarkan radio bersama. Awalnya aku tidak mau, tetapi setelah lama-kelamaan akhirnya aku turut menyukai acara itu. Ini pula yang membuatku pada saat-saat setelah itu banyak menyukai acara-acara radio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan kepadaku bahwa dia banyak hafal lagu dangdut, dan mengejekku karena tak satu pun lagu dangdut yang aku hafal. Maka aku pun merengek-rengek untuk diajari lagu dangdut. Dan dia sangat antusias sekali. Aku masih ingat, dan mungkin tidak akan pernah kulupa, lagu dandut pertama yang diajarinya kepadaku adalah karya pedangdut daerah, Firmansyah, yang judulnya telah aku lupa. Beginilah lagunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yang manakah, yang mana harus kupilih&lt;br /&gt;Untuk kumiliki, untuk kumiliki, selamanya (2x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni..wes-wes-wes ni&lt;br /&gt;Bhelerhek kalare tarebung manyang &lt;br /&gt;Beres mare tedung nyaman&lt;br /&gt;Beres mare tedung nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Reff)&lt;br /&gt;Ingin kutepis kenyataan ini&lt;br /&gt;Sampai tiada rasa bimbang lagi&lt;br /&gt;Hanya satu cinta yang kudambakan&lt;br /&gt;Impian asmaraku tak ingin terbeli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin kumiliki, ingin kumiliki&lt;br /&gt;Dia, untuk selamanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kunyanyikan lagu itu, bahkan hingga kini, yang tergambar di kepalaku adalah wajahnya, kenangan-kenangan bersamanya yang sungguh luar biasa indah. Tidak hanya lagu, dia pun mengajariku main remi, dom, tebak-tebakan, lagu Madura, dan banyak mainan lainnya. Kalau punya pacar, dia pasti memperkenalkannya kepadaku. Dia membanggakan aku di depan pacarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pula yang mengajariku bagaimana mengarit rumput yang benar, menyuruhku untuk mencuci sendiri baju-bajuku yang sudah kotor, membantuku menyelesaikan PR sekolah, memarahiku jika aku berbuat kesalahan, menyuruhku untuk mengaji dan sekolah yang benar, memberikanku banyak bayangan yang indah tentang masa depan, dan sebagainya-dan sebagainya. Ketika aku sedang bertengkar dengan temanku, aku selalu mencurhatkannya kepadanya. Pokoknya, she is the best my sister!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ini hanya kenangan. Ya, hanya kenangan semata. Setelah aku pulang ke Madura, aku tidak akan melihatnya lagi. Dia tidak akan lagi menemaniku bercerita banyak hal tentang perjalanan hidupku di Jogja. Dia tidak akan lagi mengajakku mengarit rumput, mengajariku menanam padi, mengajakku merawat tembakau dan mendengarkan acara dangdutan di radio. Dia tidak akan lagi marah-marah padaku bila aku berbuat salah. &lt;br /&gt;Ya, sudah sekitar seminggu dia meninggalkan rumah. Dia sekarang jadi TKW di Malaysia. Tujuannya satu: untuk membayar hutang-hutang emaknya yang sudah menumpuk. Kata bibiku (mak Enna), dia akan kembali ke Madura setelah masa kerja kurang-lebih dua tahun. Aku kaget mendengarnya. Bukankah dia berjanji kepadaku bahwa dia akan menemani wisudaku nanti? Lalu siapa yang akan mendengarkan cerita-ceritaku ketika aku pulang ke Madura? Siapa pula ketika pagi-pagi akan memarahiku dan mengajakku pergi ke sawah biar kerjaanku tidak hanya tidur saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Buk,” kataku ketika dia hampir berangkat ke Malaysia. ”Seandainya aku kaya, akan kuajak kau tinggal di rumahku. Akan kubantu kau membayar hutang-hutangmu. Akan kucarikan kau jodoh, biar tugasmu sebagai tulang-punggung keluarga tidak seberat ini. Aku sebenarnya tidak ingin kau pergi jauh dari rumah. Kasihan sama mak Enna yang penyakitan begitu, adikmu juga masih kecil-kecil dan bapakmu sudah tua. Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan mengurus mereka.” Dia hanya menangis dan berkata, ”Sudahlah, dik, aku minta doamu saja. Hentikan omelanmu itu!”***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(05 April 2011).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3434074023301986537?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3434074023301986537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3434074023301986537&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3434074023301986537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3434074023301986537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/05/buk-suhaena.html' title='BUK SUHAENA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2720888329167004553</id><published>2011-05-27T19:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-27T19:34:07.457-07:00</updated><title type='text'>SISKA DAN LAGU-LAGU MALAYSIA</title><content type='html'>Aku masih ingat, ketika aku kelas 6 SD dan Siska kelas 4 SD, aku suka menyanyikan lagu-lagu Malaysia bersama teman akrabku, Nono. Aku dan Nono, ketika istirahat sekolah, kerap duduk-duduk santai di belakang sekolah dan menyanyikan lagu-lagu Malaysia yang banyak kami hafal bersama-sama. Kami duduk di pinggir lapangan – lapangan sepak bola itu terletak di belakang sekolah kami – sambil melihati anak-anak yang sedang bermain riang. Nono melihat Sri, perempuan dambaannya, sementara aku melihat Siska. Begitu PD-nya kami ketika itu, kami merasa bahwa kamilah laki-laki terganteng dan teromantis ketimbang teman-teman yang lain, sehingga belumlah kami mengungkapkan rasa cinta kami kepada perempuan pujaan kami masing-masing, kami sudah memastikan bahwa mereka juga merasakan hal yang sama dengan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang tahu bahwa aku menyukai Siska kecuali Nono. Bahkan mungkin Nono pun tidak terlalu memahami perasaanku yang sebenarnya kepada Siska, sebab aku hanya menceritakan sedikit dari perasaanku kepadanya. Memang orang yang sangat introvert, apalagi terrhadap perasaanku. Aku merasa lebih enak menikmati perasaanku sendirian, temasuk juga menikmati hanyalan dan impian-impianku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat musim sepeda, Siska selalu memamerkan sepedanya kepada teman-temannya. Aku yang tidak memiliki sepeda, sering meminjam sepeda kepada Nono atau Sipul. Aku bermain sepeda dengan teman-teman yang lain, kadang berusaha menunjukkan kelihaianku beratraksi sepeda. Hanya satu tujuannya, biar Siska kagum kepadaku. Tetapi ternyata Siska tidak kagum dengan sikapku yang seperti itu. Sepertinya dia ingin aku menjadi diriku sendiri, Fakih yang romantis dan tidak ugal-ugalan seperti anak yang lain. Itu anggapanku saja. Aku tidak tahu apakah memang demikian perasaan Siska, sebab kalau tidak ada hal yang sangat penting, aku tidak bicara dengan Siska. Aku menikmati senyumannya, kegenitannya, kecantikannya, kemanisannya, gerai rambutnya, lentik bulu matanya, langsing tubuhnya, dan lain-lainnya dari jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihatnya saja aku sudah bersyukur. Aku sudah bisa menghayalkan hal-hal yang manis dengannya. Ketika Siska tersenyum kepadaku saat aku melakukan hal-hal yang bodoh, misalnya, aku sungguh berbunga-bunga. Ketika dia memarahiku karena alasan yang kadang-kadang aneh, hatiku berpendar-pendar. Menyebut namaku saja, meskipun entah dia memarahiku atau menjelek-jelekkanku, aku bisa menjadi sangat bangga. Ah, sungguh luar biasa energi cinta yang mengaliri tubuhku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang dia memamerkan kecerdikannya bermain permainan-permainan perempuan di hadapanku. Mungkin agar aku memerhatikannya. Aku pun membalasnya dengan menyanyikan lagu-lagu Malaysia kesukaanku. Dia pun ketawa-ketawa melihatku yang sok romantis, bahkan tidak jarang ketika itu, dia menjelek-jelekkanku di hadapan teman-temannya. Tetapi anehnya, aku merasa tidak dijelek-jelekkan, tetapi justru merasa hal itu sebagai bahasa lain bahwa dia menyukaiku. Dengan berbekal itu, aku pulang sekolah dengan perasaan yang riang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun rumah dan sekolahku berdekatan, aku biasa datang pagi ke sekolah. Ini aku lakukan agar bisa melihat Siska datang. Biasanya dia bersama adiknya atau diantar orang tuanya, tetapi lebih sering jalan bersama teman-temannya. Dapat dipastikan, ketika datang ke sekolah pagi-pagi, rambutnya basah. Ini yang aku suka, sebab dengan begitu kecantikan Siska lebih natural dan aura mukanya bersinar. Kebetulan ruang kelas 4 ada di paling pojok sekolah, sehingga anak-anak kelas 4 harus lewat di depan kelas 6. Ketika Siska lewat di depan kelas 6, aku berusaha berpenampilan perfect. Kunyanyikan lagu-lagu Malaysia untuk menyindirnya. Dia pun menoleh kepadaku dengan senyumnya yang indah. Dan aku pun sangat bahagia sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling aku sesali bahwa setelah lulus SD, orang tuaku menuntutku supaya mondok di PP. Annuqayah Guluk-Guluk (perjalanan sekitar 2 jam dari rumahku). Dengan begitu aku tidak lagi bisa melihat wajah Siska tiap hari. Serasa aku ingin menangis dengan keputusan orang tuaku itu. Serasa aku tidak bisa dilepaskan dari sisi Siska. Aku ingin melihatnya tiap hari meskipun hanya sesaat. Tak apalah aku dan dia jarang bicara karena perasaan kami masing-masing, yang penting aku bisa bertemu dia setiap hari. Tetapi apa daya, keputusan orang tua itu tidak dapat kutolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan satu-satunya bertemu dengan Siska adalah ketika liburan atau idzin pulang ke rumah setiap bulan. Aku manfaatkan kesempatan itu. Untuk awal-awal mondok, aku memang jarang pulang agar aku bisa cepat beradabtasi dengan kehidupan baru itu. Tetapi lebih dari setahun aku mondok, aku pamit pulang tiap bulan sekali. Tujuannya hanya satu, ingin melihat Siska. Kesempatan melihat wajahnya pun sangat terbatas, yakni hanya di sekolah SD, sebab rumahku dengan rumahnya agak berjauhan. Atau kadang kalau rinduku sudah meluap-luap, aku bermain ke rumah Bambang, kakak kelasku. Kebetulan rumah Bambang berhadap-hadapan dengan rumahnya, hanya dibatasi oleh jalan raya. Jadi aku tidak perlu mencari alasan yang tidak-tidak untuk sekedar melihat wajah Siska. Tinggal duduk di teras rumah Bambang, aku sudah bisa melihatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, ketika aku ada di rumah Bambang, selalu saja ada alasan bagi Siska untuk bermain di halaman rumahnya. Mungkin dia ingin juga melihat wajahku yang sudah jarang dilihatnya. Mungkin dia juga merindukanku ketika aku ada di pondok. Mungkin dia merasakan hal yang sama dengan perasaanku. Mungkin dia mencintaiku. Mungkin dia menyayangiku. Aku tahu itu dari gelagatnya yang aneh ketika kutatap wajahnya. Sungguh betapa bangganya aku bisa menjadi laki-laki yang dicintai oleh seorang perempuan yang sangat aku cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku duduk-duduk di depan rumah Bambang dan Siska duduk di rumahnya berhadapan denganku, kunyanyikan lagu-lagu Malaysia yang nampaknya sudah menjadi kenangan itu. Dia tersenyum pahit. Aku tahu bahwa kenyataan ini juga turut menyakitinya. Aku tahu Siska juga ingin kenyataannya berubah seperti dulu-dulunya, aku kelas 6 dan dia kelas 4, dan kita bisa bertemu setiap hari. Dia seperti ingin menangis saat kukeraskan nyanyianku. Aku bisa merasakan sakit hatinya terhadap takdir yang sepertinya tidak sesuai dengan keinginan-keinginan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah berkata kepadaku bahwa ketika aku pulang kampung agar sekali-kali bermain ke sekolah. Mungkin dia ingin mengulang kenangan-kenangan dulu. Aku pun turuti kemauannya. Tidak hanya sekali-kali aku datang ke sekolah SD, tetapi justru tiap hari. Bisa saja sampai setengah hari aku di sekolah. Hanya satu tujuannya, melihat raut wajahnya dan ingin mengulang kenangan-kenangan manis dulu. Dia pernah berkata kepadaku, “Seandainya kamu masih sekolah di sini, Fakih!“. Aku hanya bisa menunduk di hadapannya. Ingin sekali aku memeluknya, memegang tangannya dan mengecup keningnya sebagai tanda cintaku kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siska adalah perempuan pertama – dan mungkin hingga saat ini – yang mengenalkanku pada hakikat cinta yang sejati. Dia cinta pertamaku. Dia perempuan yang pernah mengajariku banyak hal, terutama tentang bagaimana tegar di hadapan takdir yang tidak memungkinkan cinta kita bersama kembali seperti dulu-dulunya. Sekarang Siska sudah tunangan dengan seorang polisi dari Pamekasan. Aku tahu berita ini dari emakku. Dia pun sudah lulus kuliah keperawatan di Bangkalan. Katanya, sebentar lagi dia akan menikah. Sementara di Jogja, aku terus-menerus mengenangnya sebagai kekasih abadi. Aku selalu bertanya-tanya, apakah sekarang perasaannya sudah tidak seperti perasaanku? Apakah dia telah melupakanku sepenuhnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya ingin keadaannya manis seperti semula, yakni ketika aku masih mondok, di mana Siska berulang kali bertanya kapan aku akan pulang kampung kepada emakku. Siska bertanya macam-macam tentangku kepada emak, apakah aku kerasan di pondok atau tidak? Apakah tubuhku kurus atau malah tambah gemuk? Bagaimana prestasi-prestasi sekolahku? Apakah aku masih nakal seperti dulu? Aku tidak bisa membayangkan apakah dia juga bertanya, apakah aku sering menyanyikan lagu-lagu Malaysia untuk mengingatnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siska, Siska, engkau sebentar lagi akan memasuki jenjang hidup baru, pernikahan itu, sesuatu yang dulu pernah kita hayalkan bersama. Kita menikah, hidup bersama sampai tua, sampai ajal menjemput kita. Kini kau secara resmi akan menjadi milik orang lain untuk selamanya. Aku relakan engkau, sebab aku tidak ingin menggangu kebahagiaan kalian. Aku juga tahu bagaimana perasaan calon suamimu. Mungkin dia cinta dan sayang kepadamu sebagaimana aku. Biarlah aku menjelma dalam dirinya. Selamat menempuh hidup baru, Siska! Selamat menempuh hidup baru! Meskipun kita tidak bersama, aku akan selalu mencintaimu dan merindukanmu hingga akhir hayatku. Sampai kapan pun aku akan selalu menyanyikan lagu-lagu Malaysia kesukaanku dulu. Sampai kapan pun, aku akan selalu mengingatmu.&lt;span style="font-style:italic;"&gt; (27 Mei 2011)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2720888329167004553?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2720888329167004553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2720888329167004553&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2720888329167004553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2720888329167004553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/05/siska-dan-lagu-lagu-malaysia.html' title='SISKA DAN LAGU-LAGU MALAYSIA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-5215646210890272710</id><published>2011-05-25T20:25:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T20:27:08.041-07:00</updated><title type='text'>Dua Pengalaman Jadi Penyaji dan Sedikit Kegelisahan</title><content type='html'>Selama di Jogja (17 Agustus 2006) sampai hari ini (24 Mei 2011), hanya dua kali aku berpengalaman jadi penyaji. Pertama di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang dalam acara Pekan Tadarus Sastra – sebagai bagian dari perayaan Haflatul Imtihan – pada tanggal 20-21 Juni 2010. Di sana aku didakwah jadi pembedah buku novel Sepasang Sayap di Punggungmu karya Mangun Kuncoro pada tanggal 20 dan antologi puisi Mazhab Kutub karya penyair-penyair Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta pada tanggal 21. Audiennya rata-rata adalah anak SMA-SMP, sedikit mahasiswa, penggiat sastra Jombang serta wartawan Radar Mojo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam acara bedah buku antologi puisi karangan M. Faizi, Permaisuri Malamku, pada tanggal 21 Mei 2011. Sebagai penyaji, selain penulisnya, adalah aku dan Afrizal Malna. Aku ditugasi berbicara isi sajak-sajak dalam antologi puisi tersebut yang rata-rata berisi tentang alam semesta, sementara Bang Afrizal dari sisi kritik sastranya. Audiennya cukup banyak, barangkali 100-an orang yang terdiri dari berbagai latar belakang: mahasiswa (UIN, UNY dan UGM), anak teater ESKA, anggota IAA Yogyakarta (Ikatan Alumni Annuqayah Yogyakarta) serta satu-dua penyair (baik muda dan tua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pengalaman yang kedua ini ada kesan tersendiri bagiku. Bagaimana tidak, buku yang dibedah adalah karangan penyair yang sudah kesohor. Selain itu, aku didudukkan satu kursi dengan Afrizal Malna yang menurut sejumlah kritikus sastra adalah merupakan “penyair besar“. Untungnya aku hanya ditugasi untuk berbicara soal “kisah alam semesta“ serta hubungannya dengan isi puisi, sehingga aku dapat dengan leluasa berbicara ini dan itu tentang topik yang memang pernah aku mempelajarinya di kampus. Uniknya, meskipun bagiku apa yang aku bicarakan tidaklah cukup istimewa, mendapat sambutan antusias dari audien. Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah jika memang betul bahwa para audien merasa senang dengan apa yang aku sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undangan untuk acara tersebut datang secara mendadak ketika aku di Kost Bahauddin – temanku – sedang memperbaiki notebookku. Undangan itu melalui sms, dari teman Bernando J. Soedjibto (biasa dipanggil BJ). BJ memintaku untuk membahas puisi-puisi M. Faizi dalam perspektif ilmu Astrofisika. Tanpa dipikir panjang, aku terima tawaran itu. Aku pikir, ini merupakan jalan buatku mengamalkan ilmu yang aku miliki. Aku tidak menanyakan soal honor, sebab bagiku hal yang paling membahagiakanku adalah dapat bersilaturrahim dan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Apalagi setelah tiga hari setelah undangan itu aku tahu panitianya (IAA-ESKA) tidak cukup dana untuk membayar pembicara. Jadi, aku semakin bisa untuk tidak menghiraukan soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara tersebut selesai, Bang Afrizal meminta kontak saya. Katanya, dia mau mengudang saya untuk acara pertunjukannya. Aku menerima email darinya tanggal 23 Mei. Isi email itu, Bang Afrizal berharap aku bpergabung dalam acara pementasan tari Group Kelola sebagai perpanjangan program instansi EWA 2011 (Empowering Women Artis 2011) di Taman Budaya Jawa Tengah Solo. Hingga hari ini, aku belum bisa memutuskan bisa-tidaknya. Hanya saja, aku pikir, jika ini adalah jalan buatku berbagi ilmu dengan orang lain, apalagikah alasan untuk menolaknya. Dalam acara itu, demikian minta Bang Afrizal, adalah sebagai pendamping dan pembicara dalam acara diskusi pengenalan seputar “fenomena langit“. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah berkah, tetapi mungkin juga hal yang hanya akan mengakibatkan sesuatu yang buruk bagi diriku. Aku tidak ingin disibukkan oleh hal-hal di luar aktivitasku. Aku tidak ingin jadi orang sibuk, itu saja. Sebab kesibukan membuatku menjadi tidak “istimewa“ dalam menjalani hari-hari. Aku sangat tidak bisa untuk menjadi terkenal seperti mereka-mereka, bisa bersombong diri, menjadi elit dan teralienasi dari kehidupan “sederhanaku“. Tetapi aku selalu ingat pesan guruku, “Jadilah orang yang bisa membahagiakan orang lain, sebab tanpa orang lain, kau tidak berarti apa-apa“. Kata-kata itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam diriku, dan aku menyadarinya sebagai suatu “kebenaran“. Lagi pula, betapa kecewanya Bang Afrizal yang sudah dengan rendah hatinya memintaku bergabung dengan dia dalam acara itu ketika nanti aku putuskan untuk menolak tawarannya? Bagaimana juga bila seandainya aku meminta temanku untuk membantuku kemudian dia tidak mau? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir, jika aku terima tawaran ini, mungkin akan semakin memperbanyak perbendaharaan pengalamanku. Pengalaman, kata orang, adalah guru yang paling baik. Lagi pula, apa sih susahnya bergabung bersama mereka dalam acara yang tidak terlalu lama itu. Apalagi acara itu, aku yakin, adalah bagian dari kebaikan. Mungkin jika acara itu adalah bagian keburukan, maklum saja aku berpikir  panjang untu menerimanya, atau langsung menolaknya. Ini kebaikan kok. Mungkin acara ini akan menjadi semacam ritual untuk memperbanyak amal kepada orang lain. Hitung-hitung juga, aku pikir, bila Allah telah membuka jalan bagi manusia, tidakkah dia menyambutnya dengan suka cita? Aku selalu minta jalan yang lurus kepada Allah, tetapi setelah diberiNya jalan lurus, aku malah menolaknya. Bukankah tindakan itu sangat aneh dan tidak rasional? Ya sudahlah, aku akan menerimanya segenap jiwa. Ya Allah, jadikanlah ini sebagai media untukku semakin mendekat ke hadiratMu. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(24 Mei 2011).&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-5215646210890272710?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/5215646210890272710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=5215646210890272710&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5215646210890272710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5215646210890272710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/05/dua-pengalaman-jadi-penyaji-dan-sedikit.html' title='Dua Pengalaman Jadi Penyaji dan Sedikit Kegelisahan'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2716690100583434062</id><published>2011-05-25T20:23:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T20:24:18.147-07:00</updated><title type='text'>AKU DAN BUK SUHAENA</title><content type='html'>Buk Suhaena adalah mbak sepupuku. Sekarang (2011) umurnya 31 tahun. Tapi dia tidak menikah. Entahlah, aku kasihan padanya bila sampai beberapa tahun kemudian dia juga tidak menikah. Padahal, Mak Enna – emaknya – sudah ingin menimang cucu; Mbuk – nenekku – ingin menimang cicit; dan aku juga ingin menimang keponakan. Aku selalu berdoa, semoga Allah segera memberikannya jodoh yang baik dan sholeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu semasih aku kanak-kanak, sering aku bertengkar dengannya, tetapi bukan karena aku tidak menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Dialah mbakku yang paling aku cintai. Ketika aku kelas dua SD, dia yang mengajariku membaca buku, menulis tegak bersambung, menghafal perkalian 1 sampai 10. Dan setelah aku di Jogja, mengarang beberapa buku dan bisa hidup mandiri, dia sangat bangga kepadaku. Diceritakannya aku kepada teman-temannya. Dipuji-pujinya aku setinggi langit.  Bukan karena telah ”dipromosikannya” aku kepada orang lain yang membuatku terharu, tetapi karena aku tahu bahwa ini adalah bukti betapa sebenarnya dia sangat menyayangiku meskipun sikapnya kepadaku sangat dingin, bahkan terkesan keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sekitar tahun 1999 dan 2000-an, mbakku menyukai acara atensian dan dangdutan di radio Pesona 2000. Acaranya siang, sehabis dhuhur. Saat-saat seperti itu aku sudah pulang dari sekolah (SD). Aku selalu diajaknya mendengarkan radio bersama. Awalnya aku tidak mau, tetapi setelah lama-kelamaan akhirnya aku turut menyukai acara itu. Ini pula yang membuatku pada saat-saat setelah itu banyak menyukai acara-acara radio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan kepadaku bahwa dia banyak hafal lagu dangdut, dan mengejekku karena tak satu pun lagu dangdut yang aku hafal. Maka aku pun merengek-rengek untuk diajari lagu dangdut. Dan dia sangat antusias sekali. Aku masih ingat, dan mungkin tidak akan pernah kulupa, lagu dandut pertama yang diajarinya kepadaku adalah karya pedangdut daerah, Firmansyah, yang judulnya telah aku lupa. Beginilah lagunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yang manakah, yang mana harus kupilih&lt;br /&gt;Untuk kumiliki, untuk kumiliki, selamanya (2x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni..wes-wes-wes ni&lt;br /&gt;Bhelerhek kalare tarebung manyang &lt;br /&gt;Beres mare tedung nyaman&lt;br /&gt;Beres mare tedung nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Reff)&lt;br /&gt;Ingin kutepis kenyataan ini&lt;br /&gt;Sampai tiada rasa bimbang lagi&lt;br /&gt;Hanya satu cinta yang kudambakan&lt;br /&gt;Impian asmaraku tak ingin terbeli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin kumiliki, ingin kumiliki&lt;br /&gt;Dia, untuk selamanya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kunyanyikan lagu itu, bahkan hingga kini, yang tergambar di kepalaku adalah wajahnya, kenangan-kenangan bersamanya yang sungguh luar biasa indah. Tidak hanya lagu, dia pun mengajariku main remi, dom, tebak-tebakan, lagu Madura, dan banyak mainan lainnya. Kalau punya pacar, dia pasti memperkenalkannya kepadaku. Dia membanggakan aku di depan pacarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pula yang mengajariku bagaimana mengarit rumput yang benar, menyuruhku untuk mencuci sendiri baju-bajuku yang sudah kotor, membantuku menyelesaikan PR sekolah, memarahiku jika aku berbuat kesalahan, menyuruhku untuk mengaji dan sekolah yang benar, memberikanku banyak bayangan yang indah tentang masa depan, dan sebagainya-dan sebagainya. Ketika aku sedang bertengkar dengan temanku, aku selalu mencurhatkannya kepadanya. Pokoknya, she is the best my sister!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ini hanya kenangan. Ya, hanya kenangan semata. Setelah aku pulang ke Madura, aku tidak akan melihatnya lagi. Dia tidak akan lagi menemaniku bercerita banyak hal tentang perjalanan hidupku di Jogja. Dia tidak akan lagi mengajakku mengarit rumput, mengajariku menanam padi, mengajakku merawat tembakau dan mendengarkan acara dangdutan di radio. Dia tidak akan lagi marah-marah padaku bila aku berbuat salah. &lt;br /&gt;Ya, sudah sekitar seminggu dia meninggalkan rumah. Dia sekarang jadi TKW di Malaysia. Tujuannya satu: untuk membayar hutang-hutang emaknya yang sudah menumpuk. Kata bibiku (mak Enna), dia akan kembali ke Madura setelah masa kerja kurang-lebih dua tahun. Aku kaget mendengarnya. Bukankah dia berjanji kepadaku bahwa dia akan menemani wisudaku nanti? Lalu siapa yang akan mendengarkan cerita-ceritaku ketika aku pulang ke Madura? Siapa pula ketika pagi-pagi akan memarahiku dan mengajakku pergi ke sawah biar kerjaanku tidak hanya tidur saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Buk,” kataku ketika dia hampir berangkat ke Malaysia. ”Seandainya aku kaya, akan kuajak kau tinggal di rumahku. Akan kubantu kau membayar hutang-hutangmu. Akan kucarikan kau jodoh, biar tugasmu sebagai tulang-punggung keluarga tidak seberat ini. Aku sebenarnya tidak ingin kau pergi jauh dari rumah. Kasihan sama mak Enna yang penyakitan begitu, adikmu juga masih kecil-kecil dan bapakmu sudah tua. Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan mengurus mereka.” Dia hanya menangis dan berkata, ”Sudahlah, dik, aku minta doamu saja. Hentikan omelanmu itu!”***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(05 April 2011).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2716690100583434062?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2716690100583434062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2716690100583434062&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2716690100583434062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2716690100583434062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/05/aku-dan-buk-suhaena.html' title='AKU DAN BUK SUHAENA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6329957846743925762</id><published>2011-05-01T00:05:00.000-07:00</published><updated>2011-05-01T00:06:25.403-07:00</updated><title type='text'>MENCURI JAMBU MENTE PAK MANTOLANI</title><content type='html'>Rudi, Hamdi, Aan, Nasiroh, Sri dan aku adalah sepaket teman akrab. Pada suatu kali di tahun 1997 (waktu itu aku kelas 4 SD), di musim tanam jambu mente, kami berinisiatif untuk mencuri jambu mentenya Pak Mantolani. Kami berencana mencurinya sekarung saja, untuk keinginan kami membeli mainan yang kala itu lagi musim-musimnya, yakni layang-layang, bhejeng, kelereng, kentat, dan lain-lain. Pokoknya, banyak amat rencana kami. Mengapa jambu mente Pak Mantolani dan bukan yang lain? Karena Pak Mantolani waktu itu suka jail sama kita-kita. Ada saja cara dia untuk membuat kita menangis. Dan kami sangat membencinya. Kami bersepakat bahwa pada saatnya nanti kami akan menuntut balas. Dengan mencuri jambu mentenya kami pikir adalah balasan yang setimpal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sehabis jam sekolah, di hari Jum’at (hari itu adalah hari pasaran di desa kami), kami berduyun-duyun menuju sawah Pak Mantolani lengkap dengan clurit kecil dan karung. Nasiroh kami mintai untuk memantau keadaan, aman dan tidaknya, sementara kami berlima naik ke pohon mente untuk memetik jambu mentenya dengan cepat. Sial, sungguh sial, Nasiroh bukannya memantau keadaan, tetapi malah bermain-main sendiri ke luar areal persawahan. Jadinya, kehadiran Pak Mantolani tidak kami ketahui. Pertama-tama dia tidak melihat kami, karena kami ada di bagian tengah sawah. Tetapi akhirnya ketika dia masuk ke dalam sawah, seketika dia melihat kami, lantas berteriak-teriak supaya kami turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang tiba-tiba tahu kehadirannya, balingsatan lari. Pak Mantolani mencabut cluritnya dari balik punggungnya dan mengejar kami. Untung lari kami lebih cepat dari dia. Kalau tidak, mungkin di antara kami akan ada yang ditebasnya. Soalnya, dari gelagatnya, Pak Mantolani tidak main-main dengan ancamannya itu. Dia betul-betul mengejar kami sekuat tenaga, mukanya berubah tajam, garang dan menakutkan. Seumpama kami tertangkap, mungkin dia tidak akan segan-segan untuk membacokkan cluritnya. Tapi untungnya tidak. Aku pikir barangkali nasib belum saatnya berkata buruk bagi kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kagetnya minta ampun. Karena saking kagetnya, sampai-sampai karung dan clurit kecil kami tinggal di sawahnya tanpa sadar. Kami lari sekencang-kencangnya hingga bukan saja jauh dari kejaran Pak Mantolani, tetapi bahkan sampai ke pantai yang jaraknya kurang-lebih 3 kilometer dari tempat itu. Setibanya di pantai kami berenam bersembunyi di bawah rimbunan pohon bakau sambil menyelesaikan rasa capek yang luar biasa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak tahu bagaimana seandainya orang tua kami tahu akan hal ini. Kami juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang tua kami bila mereka tahu bahwa kami (terutama aku, Hamdi dan Rudi) tidak pergi Jum’atan ke masjid. Hah, benar-benar kami menyesal akhirnya. Kami merasa sangat ketakutan untuk pulang ke rumah, sebab pulang berarti menyerahkan diri ke Pak Mantolani. Tempat lewat satu-satunya dari laut ke rumah kami adalah sawah Pak Mantolani itu. Dan kami pikir, Pak Mantolani akan terus menunggu hingga sore. Makanya kami bersepakat untuk pulang ke rumah bila magrib tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan magrib pun tiba, kami berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. Setali tiga uang, semua dari kami harus tidak hanya menghadapi kemarahan orang tua kami, tetapi juga beberapa pukulan. Katanya, orang tua kami sama-sama mencari kami sedari tadi siang. Sebenarnya hal ini sudah terpikirkan oleh kami, tetapi apa daya kami merasa lebih takut pada Pak Mantolani ketimbang kepada orang tua kami. Maka, pagi-pagi keesokan harinya, kami bertemu di sekolah. Kepala pinggang Hamdi memar, demikian juga pipi Rudi, telinga Aaan merah, dahi Nasiroh benjol, hidung sri bengkak dan di pahaku tercetak tiga lambang gagang sapu. Tanpa saling bilang apa yang terjadi, kami pun sama-sama tahu, semua itu karena kemarin kami sama-sama mendapatkan hadiah pukulan dari orang tua kami. Kami pun saling mengejek satu sama lain, saling tertawa cekikikan, dan saling berusaha sendiri-sendiri menghilangkan rasa gundah dalam diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kutulis catatan ini ketika pada jam 00.02 sedang teringat teman-teman masa kecil, terutama Rudi, Hamdi, Aan, Nasiroh dan Sri. Rasa rinduku pada mereka tiba-tiba menjadi besar dan tak terbendung. Ingin rasanya aku pulang segera dan bertamu ke rumah mereka satu-persatu. Tetapi apa daya, di Jogja aku masih ada banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Tak apalah. Tetapi aku janji, nanti kalau sudah bisa mudik ke kampung, aku akan mengumpulkan mereka dan menceritakan kisah kenangan aneh ini!). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Jogjakarta, 25 April 2011).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6329957846743925762?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6329957846743925762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6329957846743925762&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6329957846743925762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6329957846743925762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/05/mencuri-jambu-mente-pak-mantolani.html' title='MENCURI JAMBU MENTE PAK MANTOLANI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1051862835258835282</id><published>2011-04-30T23:55:00.001-07:00</published><updated>2011-05-01T00:02:31.685-07:00</updated><title type='text'>MEMBACA PUISI DI HADAPAN RIBUAN ORANG</title><content type='html'>Praktis, di desaku tidak ada sesosok penyair atau setidak-tidaknya orang yang bisa menulis dan membaca puisi. Sementara sosok itu sangatlah dibutuhkan terutama ketika perayaan Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan di Yayasan Madrasah at-Taqwa di desaku. Satu-satunya yang bisa menulis dan membaca puisi, anak muda yang juga merupakan alumni madrasah tersebut adalah aku. Entah dari siapa kiaiku yang mengasuh madrasah tersebut tahu bahwa aku suka puisi dan bisa menulis puisi, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja pada tahun 2008 yang lalu, beliau memintaku untuk membaca puisi penganugerahan siswa/santri tauladan pada malam puncak Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan. Maka apa dayalah aku menolak permintaan guru yang telah dengan sabar dan ikhlas dulu semasih aku kecil mengajariku membaca alif-baa-taa itu. Meskipun merasa terpaksa, dan uang ongkos ngutang, akhirnya aku pun pulang ke Madura hanya untuk sebuah urusan yang sangat sepele itu: “membaca puisi penganugerahan siswa/santri tauladan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, aku sowan ke ndalem kiaiku itu. Beliau berkelit bahwa sesungguhnya beliau memaksaku pulang kampung bukan hanya untuk alasan “membaca puisi”, tetapi – kata beliau dengan sifat humorisnya yang khas itu – karena rindu kepadaku. “Kamu kan sudah lama tidak pulang, sampai-sampai saya rindu kamu. Makanya saya paksa kamu pulang. Sekalian juga bantu-bantu madrasah dalam acara ini!” kata beliau dengan enteng. Dan aku pun hanya bisa menunduk senyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam itu digelarlah acara paling akbar di desaku, yakni Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan Madrasah at-Taqwa Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura. Acara kali itu adalah yang terbesar selama sejarah madrasah. Undangannya pun banyak sekali, terdiri dari para kiai se-Kabupaten, ustadz madrasah se-Kecamatan, kelompok gambus hadrah dari desa sebelah, dan – ini yang membuatku terheran-heran – penonton yang mencapai ribuan orang. Ternyata penonton sebanyak itu tidak hanya warga desaku saja, tetapi hampir mencapai seluruh warga di 4 desa tetangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata acara pembacaan puisi penganugerahan siswa/santri tauladan tahun ajaran 2006-2008 itu terletak sebelum mau’idhah hasanah dari Kiai Haji Mawardi asal Surabaya. Aku siap-siap di belakang panggung, membaca berulang-ulang puisi sepanjang tiga lembar yang adalah karanganku sendiri. Aku mencoba meyakinkan diri berkali-kali bahwa aku mampu untuk tidak gugup membaca puisi di hadapan ribuan penonton dan para kiai-kiai besar se-Kabupaten itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku tidak pernah membayangkan banyaknya jumlah penonton, karena biasanya hanya ratusan orang saja. Ini sangat luar biasa. Dan selama pengalamanku, aku tidak pernah membaca puisi di hadapan ribuan orang. Paling banter hanya puluhan orang saja, baik ketika masih di Pondok Annuqayah maupun di Jogja. Hampir-hampir aku keder dan memutuskan diri untuk tidak tampil. Tetapi guruku sangat memaksa. Dan, sekali lagi, apa daya, aku tak bisa menolaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dipanggillah aku ke atas panggung. Aku pun naik ke panggung setelah memberi hormat kepada seluruh undangan dan penonton terlebih dahulu. Sebelum memegang mic, detak jantungku tidak teratur. Aku berusaha untuk yakin, tidak gugup dan menganggap semua orang di hadapanku adalah benda mati. Aku panggil salam pembuka, kulihati seluruh penonton dengan tatapan tajam, dan kubaca judul puisi dengan suara diafragma. Tiba-tiba saja – dan mungkin karena besar dan gemuruh suaraku – semua orang diam dan terpana kepadaku. Omongan-omongan kecil yang sedari tadi terdengar dari kerumunan orang, sebegitu saja lenyap. Kesunyian seakan-akan telah menjerat ribuan orang di hadapanku. Dan karenanya dadaku terasa sedikit lega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait-perbait puisi itu aku baca dengan sangat jelas dan tajam, dengan suara yang dinaik dan turunkan dan dengan mimik muka yang meyakinkan. Entahlah, ketika sampai di lembaran kedua, aku seakan-akan sudah bisa menghayati puisi. Mentalku dan sikapku lepas. Aku benar-benar tidak merasa sedang membaca puisi di hadapan orang-orang yang sudah semestinya untuk bersikap Islami. Kujiwai puisi itu dalam-dalam, sehingga suaraku meraung-raung tak karuan, ekspresi tangan dan mukaku betul-betul lahir dari ketidaksadaran, dan aku benar-benar telepas. Anehnya, semua orang semakin terdiam, seakan-akan tercekam oleh penampilanku. Sedikit pun tidak terdengar suara dari kerumunan mereka. Aku lihat semua wajah mereka nampaknya sedang khusuk memperhatikanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seketika selesai pembacaan puisi, demikian pula penganugerahan siswa/santri tauladan, aku turun dengan salam dan sikap yang halus. Kini aku tampak lebih tenang dari sebelumnya. Tepuk-tangan dari penonton bergemuruh. Kasak-kusuk tentang aku pun terdengar di antara para kerumunan, terutama di kumpulan ibu-ibu. ”Wah, dia itu anak siapa? Sudah ganteng, pintar pula. Seandainya aku punya anak perempuan......,” kata seorang ibu yang entah siapa. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dan aku kembali ke balik panggung dengan rasa senang karena sukses dan ”telinga lebar” karena banyak disanjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, di acara Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan pada tahun-tahun berikutnya, sampai sekarang, aku senantiasa diminta pulang dan membaca puisi di hadapan ribuan orang. Sampai hari ini, itu sudah terjadi sebanyak tiga kali. Hahaha, sebuah pengalaman yang betul-betul mengesankan. Dan aku berterima kasih kepada guruku!&lt;span style="font-style:italic;"&gt; (26 April 2011).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1051862835258835282?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1051862835258835282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1051862835258835282&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1051862835258835282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1051862835258835282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/04/membaca-puisi-di-hadapan-ribuan-orang.html' title='MEMBACA PUISI DI HADAPAN RIBUAN ORANG'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-5637516803740701102</id><published>2011-04-22T18:24:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T18:26:28.037-07:00</updated><title type='text'>PUISI PERTAMA DAN SEBUAH HARAPAN AKAN KEMASYGULAN</title><content type='html'>KELAHIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan mungkin untuk selamanya&lt;br /&gt;waktu mengeras di kabut dingin&lt;br /&gt;sedingin kematian&lt;br /&gt;di dadaku yang hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu yang asing untuk sebuah impian&lt;br /&gt;tapi begitu dekat, begitu menyekap&lt;br /&gt;dan aku mengakrabinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti mengakrabi air mata:&lt;br /&gt;sesuatu yang mungkin tercipta&lt;br /&gt;untuk tanahnya sendiri&lt;br /&gt;tanah yang sepi dan abadi&lt;br /&gt;tanah di dadaku ini&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 2009&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi di atas ini aku anggap sebagai puisi pertamaku. Orang pertama yang memuji puisi ini adalah seorang teman yang entah apakah ini betul atau tidak aku anggap sebagai kritikus sastra, yakni Purwana. Anggapanku ini muncul ketika berkali-kali aku berjumpa dengannya dalam beberapa waktu yang tak terduga, memperbincangkan soal puisi dan cerpen, yang dengan cara-cara aneh, dia melontarkan beberapa kritik dan penilaian terhadap beberapa karya sastra Jepang, China, Eropa Kontinental, India dan Amerika Latin dengan sangat fasih, dalam, mengesankan serta merupakan sesuatu yang baru bagiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang tidak terkenal, tetapi kawan-kawan penyair muda Yogyakarta (terutama kawan di Komunitas Rumah Poetika) ”mengakui” kepakaran dan keluasan wawasan kritik sastranya. Saat itu, pada sebuah Minggu sore yang hangat, aku, Purwana, Mahwi Air Tawar, Indrian Koto, Mutia Sukma, As’adi dan Iman ”Kedung” Romansyah berkumpul di depan Gedung Multi Perpuse UIN Sunan Kalijaga untuk sebuah diskusi sastra terbatas. Kawan-kawan tersebut – dan juga aku – membacakan sajak-sajaknya di depan Purwana, dan selanjutnya dia ”menghakiminya”. Anehnya, puisiku di atas termasuk salah satu puisi yang dipujinya ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwana bilang, puisiku tersebut memuat makna yang luas dan dalam, dengan kata-kata metomini yang tajam. Entahlah, bagiku, tidak penting diuraikan dengan kriteria-kriteria apa dan bagaimana Purwana menilai puisiku itu. Yang penting bahwa pada waktu itu aku merasa bangga dan tersanjung, sehingga dengan seketika kekuatanku untuk membangun kembali pondasi-pondasi puisiku bangkit lagi setelah berbulan-bulan sempat kendor. Mentalku merasa terangkat di hadapan kawan-kawan sastrawan muda Jogja tersebut yang karya-karyanya telah jauh melampaui karyaku. Aku sangat berterimakasih pada kawan Purwana, karena dengan kritiknya, menjadikanku semakin bersemangat untuk benar-benar menenggelamkan diri ke dalam samudera puisi. Memang aku tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyair. Aku hanya berpikir untuk membuat karya puisi, dan itu saja telah cukup membahagiakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diskusi terbatas tersebut, aku mengirimkan puisi KELAHIRAN bersama lima puisiku yang lain ke koran Minggu Pagi dan Suara Pembaruan. Dan tidak disangka, pada bulan Juli dan November yang indah, puisi itu dimuat di kedua media tersebut. Ini merupakan pemuatan puisiku untuk yang ketiga kalinya setelah sempat pada akhir 2006 lima puisiku dimuat di Surabaya Post dan pada 2007 di Pontianak Post. Setelah pemuatan ketiga kali itu, puisi-puisiku pada kesempata selanjutnya (dari 2009 hingga saat ini) mengalir dimuat di beberapa media. Puisi KELAHIRAN itu turut aku kirimkan pula ke acara kritik sastra di radio Pro-2 FM pada akhir tahun 2010, dan secara tidak terduga, mendapat pujian dari penyair Evi Idawati sebagai puisi terbaik untuk malam kali itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku belajar menulis puisi mulai tahun 2005. Ketika itu aku masih di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura. Di pondok itu tak satu pun komunitas sastra atau di forum-forum sastra aku ikuti. Hanya saja aku berteman dekat dengan banyak kawan penyair pesantren yang aktif di komunitas-komunitas sastra. Bersama mereka, aku mendiskusikan banyak hal soal sastra dan teater. Tetapi bagiku itu hanya sekedar ”basa-basi” yang tidak menghasilkan apa-apa dalam diriku. Sebaliknya, semangat kesusasteraanku tumbuh untuk pertama kalinya ketika aku dapatkan dua buah buku luar biasa karangan HB. Jassin dan Harry Aveling yang menghimpun karya puisi penyair Angkatan Poejangga Baroe, angkatan 45, 60-an, 70-an dan 80-an. Aku habiskan malam-malamku untuk menikmati puisi-puisi mereka, dari Chairil Anwar hingga Sapardi Djoko Damono. Aku pun tergugah untuk turut menulis puisi. Maka pada sekitar pertengahan tahun 2005 itu, persentuhanku dengan dunia puisi untuk pertama kali dimulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 2005 hingga awal 2009 ratusan puisi yang kucipta. Awal-awal aku membikin 3 puisi dalam sehari-semalam. Tetapi semuanya mentah. Aku berpikir untuk lebih menseriusi dunia puisi adalah sekitar pada tahun 2007. Secara konsisten aku mempelajari dan mengkaji puisi-puisi para penyair terkenal secara mandiri, aktif mengikuti forum-forum sastra, mendatangi rumah-rumah para penyair angkatan tua Jogja dan sering berkumpul dengan teman-teman sastrawan muda. Akibatnya, aku pun tahu banyak hal tentang puisi, hingga akhirnya aku merasa puisi bukan hanya semacam genre tulisan, tetapi bahkan inti keberbahasaan, sebab di dalam puisi tidak hanya terdapat pergulatan bahasa, tetapi juga pergulatan makna dan permenungan. Maka tidak terlalu banyak puisi yang ciptakan dari tahun 2007 hingga awal-awal 2009. Aku tidak lagi menulis 3 puisi dalam sehari-semalam. Puisi-puisiku tercipta hanya ketika pada suatu waktu apa yang disebut sebagai ”momen puitika” datang menghampiriku. Kedatangan ”momen puitika” itu sungguh sangat pelik dan tidak mudah. Kadang ia datang 6 bulan sekali, 3 bulan sekali, 2 bulan sekali, sebulan sekali, seminggu sekali, tetapi terkadang ia datang hampir 5 kali dalam semalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi yang aku karang dari tahun 2005 hingga awal 2009 aku anggap semuanya ”sampah”. Tak satu pun dari ratusan puisi itu yang dapat membanggakanku. Hingga datang sebuah ”momen puitika” pada Selasa sore yang lungrah, bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke-21, yakni tanggal 08 Maret 2009, ketika hampir-hampir permenunganku mencapai klimaks tentang cerapan dan makna kelahiran bagi hidupku, maka lahirlah puisi KELAHIRAN tersebut. Puisi itu aku buat persis selama 2 menit. Aku dalam keadaan tidak sadar ketika itu. Tahu-tahunya, ketika aku sadar, di atas kertas yang memang kupersiapkan tertulis puisi itu. Hingga saat ini tak ada yang kurubah atau kuperbaiki kalimat-kalimat yang muncul saat pertama kalinya puisi KELAHIRAN hadir. Jadi puisi KELAHIRAN itu murni sebagai puisi yang jadi secara seketika. Dan aku memang membiarkannya seperti itu, dan sedikit pun aku tidak memperbaikinya, karena aku yakin bahwa puisi yang lahir dari ketidaksadaran terkadang lebih ”dahsyat” ketimbang puisi yang lahir dari kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak lahirnya puisi yang aku anggap sebagai puisi pertamaku itu (2009), aku semakin memantapkan diri untuk lebih jauh bergelut dengan dunia perpuisian, dengan dunia kepenyairan. Ketika pada 2010 bangkit ketertarikanku untuk lebih mendalami fisika, sehingga sejak saat itu aku berpikir untuk mendalami kedua-duanya: fisika dan puisi. Mungkin ini terkesan aneh untuk pikiran-pikiran sempit seseorang yang sudah terperangkap di dalam cara pandang spesialisasi bidang keilmuan, juga dalam konstruksi metodis yang cenderung menganggap tidak ada hubungannya antara sastra dan ilmu fisika. Padahal, menurutku, keduanya adalah merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan jika seseorang masih menghargai sesuatu yang amat berharga bagi hidupnya, yakni permenungan. Tanpa permenungan, aku rasa hidup seperti sebuah kehampaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hidup ini, aku hanya menginginkan satu hal, yakni kemasygulan: masygul melihat alam, masygul melihat diri sendiri, masygul melihat rahasia-rahasia paling rahasia dalam kehidupan dan – ini terutama – masygul di hadapan Tuhan. Dan kemasygulan itu tidak akan pernah bisa di temui di sebuah diri yang kosong oleh permenungan. Kemasygulan merupakan akibat dari permenungan, atau dengan kata lain, permenungan merupakan sebab hadirnya kemasygulan. Aku tidak percaya pada orang yang mengatakan bahwa kerap kali kemasygulan datang tanpa didahului oleh permenungan. Tanpa permenungan yang panjang – atau sebuah usaha ke arah itu – tidak mungkin seseorang pada suatu waktu merasakan kemasygulan yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saat ini, aku telah sedikit menemukan ”bentuk” kemasygulanku di dalam fisika dan puisi. Aku menemukan sesuatu yang membuatku ekstase di dalam keduanya: sebentuk transendensi yang aku pikir tak dapat dihargai dengan apa pun. Aku berhasrat untuk berkarya di dua bidang ini – atau dalam istilah akademis, ingin mengembangkannya – hingga kemasygulanku semakin bertambah, bertambah hingga mencapai puncak transendensi yang tak terkirakan....Tuhan, semoga ini sesuai dengan jalan-Mu. Amin! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(22 April 2011)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-5637516803740701102?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/5637516803740701102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=5637516803740701102&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5637516803740701102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5637516803740701102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/04/puisi-pertama-dan-sebuah-harapan-akan.html' title='PUISI PERTAMA DAN SEBUAH HARAPAN AKAN KEMASYGULAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1656751398015423211</id><published>2011-04-20T19:14:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T19:15:48.588-07:00</updated><title type='text'>Aku dan Perempuan</title><content type='html'>Setiap kali aku merenungi hidup, aku merasa, perempuan adalah hal yang amat luar biasa. Perempuan, barangkali, adalah salah satu alasan mengapa hidup menjadi demikian berharga dan masih bertahan hingga detik ini. Puisi hadir karena perempuan. Cinta – dan ini terutama – mengilhami banyak orang karena keberadaan perempuan. Namun bagiku, perempuan adalah hal yang agak rumit. Dalam sejarah hidupku yang tragik, aku tidak pernah sekali pun mengalami hidup yang dalam bahasa anak muda sekarang disebut sebagai ”pacaran”. Hal ini kadang membuatku tersenyum-senyum sendiri, karena merasa – untuk urusan ini – hidupku sungguh lucu sekali. &lt;br /&gt;Sering aku ditanya oleh kawan, apakah aku sudah punya pacar atau setidak-tidaknya pernah pacaran? Dan ketika aku jawab ”tidak”, mereka tertawa dan berkata: ”Naif sekali hidupmu, Fakih!” Barangkali, memang, adalah sesuatu yang tabu bagi mereka bahwa diumurku yang ke-23 ini aku belum pernah sekali pun menjalin tali kasih dengan perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukan berarti aku tidak pernah mencintai perempuan. Aku adalah laki-laki normal, seperti halnya laki-laki kebanyakan. Tetapi setiap kali aku mencintai perempuan, setiap kali pula aku tidak pernah mengungkapkannya. Mungkin ada rasa takut, khawatir dan bimbang yang mendorongku bersikap demikian. Dan aku tidak mengerti dengan perasaanku ini. Aku lebih memilih diam, menikmati perasaanku sendiri dan menuliskannya dalam puisi. Anehnya, sikap ini masih bertahan hingga kini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pertamaku adalah tetanggaku sendiri. Dia orangnya cantik, manis, pintar, cerdas, terbuka dan terkesan agak centil. Cukup ganjil memang ketika para pemuda menganggapnya sebagai bunga desa. Tetapi aku tidak menolak anggapan itu, sebab dia memanglah demikian adanya. Itu terjadi sekitar tahun 2003 yang lalu ketika aku masih kelas III MTs dan dia kelas I SMP. Aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepadanya, tetapi nampaknya dia tahu akan perasaanku itu. Dia pun demikian, sepertinya juga memiliki perasaan yang sama denganku, sebab kerap kali dia datang ke rumah untuk sekedar menanyakan kepada ibuku apakah aku pulang dari pondok atau tidak. Dan kalau tidak, seringkali dia menitipkan salam kepada ibuku. Saat aku pulang, ibu selalu berkata: ”Ada salam dari calon menantuku!”  Aku hanya tersenyum-senyum malu ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percintaan yang gelap dan rumit itu berjalan seperti apa yang biasa dikatakan sebagai ”cinta monyet”. Aku dan dia kadang-kadang bertemu secara tak terduga dan mengobrol panjang-lebar tentang segala hal. Di sisinya, hari menjadi demikian sempit. Melihat wajahnya, aku seperti telah melihat wajah keabadian. Aku sangat mencintainya, sungguh mencintainya setulus hati. Tetapi sayangnya, aku harus kecewa pada akhirnya, sebab tiba-tiba pada sekitar tahun  2005 dia datang kepadaku dengan wajah lesu dan mengatakan bahwa dia sudah jadian dengan temanku sendiri yang juga masih tetanggaku. Hancur-leburlah ketika itu. Angan-angan masa depan yang telah kupancangkan rapuh seketika. Aku tidak bisa melukiskan betapa sakitnya hatiku, hingga bertahun-tahun lamanya. Tetapi aku simpan dalam-dalam rasa sakit itu. Aku tak ingin orang-orang tahu. Aku menyimpannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah tidak ada harapan lagi, rasa cintaku kepadanya tetap bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Sebenarnya aku tidak menginginkan hal ini, sebab sangat mengganggu terhadap hidupku. Tetapi terkadang perasaan seringkali tidak pernah bisa diatur. Apalagi terhadap cinta pertama yang kata orang-orang sulit dilepaskan. Namun alhamdulillah akhirnya perasaan cintaku kepadanya pudar juga. Dan ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2009 yang lalu, ketika salah seorang temanku bercerita tentang sisi-sisi negatif dan aib-aibnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa – menurut cerita temanku itu – dia playgirl dan sudah berkali-kali berhubungan badan dengan pacar-pacarnya. Bahkan temanku itu bercerita sendiri kepadaku pernah berhubungan badan dengannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, mulai tahun 2009 (artinya aku sudah di Jogja sudah sekitar 3 tahun, mulai tahun 2006 lalu), aku berusaha berusaha membuang jauh-jauh kenangan bersamanya dan guratan namanya dalam hatiku. Untuk awal-awal sulitnya minta ampun. Wajahnya, senyumnya, suaranya selalu menghantuiku siang dan malam. Namun akhirnya, aku punya cara, yakni berusaha membuka diri pada perempuan lain. Setidaknya dari saat itu sampai pertengahan tahun 2010 yang lalu ada sekitar 3 perempuan yang sempat menyita perhatianku. Tetapi lagi-lagi aku tidak berani mengungkapkan perasaanku kepadanya. Apalagi setelah aku telusuri, ketiga-tiganya sudah punya pacar. Jadinya aku mengurungkan diri dan berusaha dengan keras membuang jauh-jauh perasaanku kepada mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku sedang menyukai seorang perempuan lagi. Dia orangnya baik, pintar, supel dan sangat mungkin solehah. Wajahnya ayu, seayu personalitas dirinya. Aku yakin dia perempuan yang dapat menjaga diri dan dewasa. Entah, apa karena aku terlalu terbawa perasaan atau tidak, aku tidak tahu. Yang pasti bayang-bayangnya selalu menghantui hari-hariku. Aku selalu tidak yakin bahwa dia merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Karena dilihat dari tingkah laku dan gelagatnya, perhatiannya kepadaku tidak seperti halnya perhatianku kepadanya. Atau mungkin ini hanya dugaanku saja, bahwa sebenarnya aku tidak pernah mengungkapkan perhatianku lebih jauh kepadanya, sehingga dia tidak merasakan apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu bahwa dia perempuan yang sangat istimewa dan mengagumkan. Bahkan saking istimewa dan kagumnya aku kepadanya, kerap kali aku meyakinkan diri bahwa dia perempuan yang tidak pantas untukku, bahwa bukan laki-laki sepertiku yang pantas bagi hidupnya. Dia lebih dariku dalam segala hal, baik materi, keanggunan jiwa dan aura fisiknya. Atas dasar perhitungan itu, aku jadi mengutuk diri. Sering aku berkata pada diriku sendiri, ” Fakih, Fakih, kau ini sungguh aneh. Apa yang kau miliki untuknya? Apa kau bisa membahagiakannya dengan keadaanmu yang sekarang ini? Kau itu laki-laki yang sangat tidak pantas baginya. Kau sungguh bodoh dan tolol dengan perasaanmu itu. Kau ini tidak punya apa-apa. Tak ada yang dapat dibanggakan darimu. Kasihan kepadanya bila punya kekasih sepertimu. Meskipun kau ngotot untuk mendapatkannya, paling-paling kau akan ditolak, sebab perempuan sepertinya tidak menginginkan laki-laki sepertimu. Sudahlah, lupakan saja perasaanmu itu daripada nantinya kau sakit hati dan tersiksa lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termasuk orang yang sulit mencintai perempuan. Tetapi setelah mencintainya, aku adalah orang yang paling sulit melepas rasa cintaku itu. Selama hidupku, hanya 2 kali aku mengungkapkan cinta pada perempuan. Dan sungguh sayang, semuanya ditolak. Mungkin aku memang laki-laki yang tidak pantas dicintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa tidak ada perempuan yang mencintaiku selain cinta pertamaku itu, bahwa aku tidak diberi kesempatan berpacaran, sehingga sampai saat ini pun aku belum pernah menyentuh tubuh perempuan. Aku sangat bersyukur bahwa aku merasa masih dijaga oleh Tuhan dari kebiasaan hidup yang barangkali tidak senonoh. Dan seandainya kelak aku dianugerahi seorang perempuan, aku berdoa semoga itu adalah jodohku; semoga dia perempuan yang baik, solehah dan bisa menjadi pasangan yang setia dan bertanggung jawab, sehingga aku bisa mencurahkan dengan sepenuh hati seluruh rasa cinta serta kasih dan sayangku kepadanya. Amien!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogjakarta, 29 Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1656751398015423211?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1656751398015423211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1656751398015423211&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1656751398015423211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1656751398015423211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/04/aku-dan-perempuan.html' title='Aku dan Perempuan'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3735966159644408050</id><published>2011-04-20T18:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T19:14:12.418-07:00</updated><title type='text'>Henri Poincare: Sang Universalis Terakhir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-M1etL7eIXnk/Ta-SwTnDgAI/AAAAAAAAAEw/3nnkx_e0OFg/s1600/poincare2b.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-M1etL7eIXnk/Ta-SwTnDgAI/AAAAAAAAAEw/3nnkx_e0OFg/s320/poincare2b.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597854220440272898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Henri Poincare (29 April 1854-17 Juli 1912) adalah seorang universalis dari Perancis yang unggul di sejumlah bidang disiplin ilmu. Ia adalah seorang insinyur, matematikawan, fisikawan, astronom, kosmolog, logikawan dan filsuf sains. Ia adalah penulis yang sangat produktif. Publikasi makalah dan buku-bukunya banyak sekali. &lt;br /&gt;Sebagai seorang matematikawan, ia banyak memberikan kontribusi fundamental baik di bidang matematika murni maupun terapan. Dia dianggap sebagai salah satu pendiri bidang aljabar topologi, geometri non-Euclidean, geometri system dinamis untuk matematika murni, serta juga bapak teori chaos, teori yang banyak diterapkan di sosiologi, ekonomi, politik, kimia, biologi dan ilmu-ilmu lainnya untuk matematika terapan. Selain itu, ia juga mengeksposisikan diri di bidang topologi diferensial, aljabar geometri, geometri hiperbolik, aljabar kompleks, analisis fungsional, statistik, matematika ekonomi, matematika fisika dan lain-lain. &lt;br /&gt;Sebagai astronom dan kosmolog, ia mendirikan teori n-benda yang menjadi pondasi penting dari ilmu mekanika langit dan termasuk orang pertama pembangun teori kosmologi fisik. Sebagai fisikawan teoritis, ia juga dianggap sebagai salah satu pencetus relativitas khusus dan eksponen penting dari banyak subjek di bidang fisika matematika, termodinamika, elektromagnetisme, fluida, optik, listrik, kapilaritas, elastisitas teori potensial, teori relativitas dan mekanika kuantum. &lt;br /&gt;Sebagai logikawan, ia adalah penentang keras teori bilangan transitif dari George Cantor. Selain itu, ia juga banyak mengambangkan subjek-subjek penting dari ilmu logika matematika. Dan yang paling mencolok dalam subjek ini aladah di bidang ilmu bilangan, teori pembuktian, induksi matematika dan teori himpunan. &lt;br /&gt;Sebagai seorang insinyur, ia mengembangkan teori dan penerapan alat telegrafi untuk keselamatan kerja, terutama di barak penambangan. Selain itu, ia pekerja di perusahaan kereta api dan pertambangan. Ia bergabung dengan France Ministry of Public Services sebagai insinyur yang bertanggung jawab atas pembangunan rel kereta api, serta di Corps de Mines sebagai insinyur dan inspektur kepala untuk penggalian tambang di Vesoul, wilayah timur laut Perancis. &lt;br /&gt;Sebagai filsuf ilmu pengetahuan, ia mengembangkan filsafat matematika, filsafat etika dan filsafat sains. Poincare adalah penentang keras pernyataan dan pembuktian Bertrand Russel dan Gottlob Frege bahwa matematika adalah cabang dari logika. Bagi Poincare, kehidupan matematika adalah intuisi, dan hal ini dibuktikannya di sejumlah makalah-makalahnya. Ia juga penentang Kantianisme tentang akal murni dan akal praktis, dan oleh sebabnya ia banyak merevisi kesalahan-kesalahan fundamental dalam filsafat Emanuel Kant mengenai teori a priori dan a posteriori yang implikasinya terhadap reasoning paradigm, etika dan hukum. Ia adalah filsuf penentang fundamentalisme dan penganjur liberalisme. Buku-buku filsafat matematikanya meliputi On the Nature of Mathematical Reasoning (1894), On the Foundations of Geometry (1898), Intuition and Logic in Mathematics (1900), Mathematics and Logic (1905) dan On Transfinitie Numbers (1910), dan masih banyak lagi. Sementara buku-buku filsafat sains dan etikanya adalah Science and Hypothesis (1902), The Value of Science (1905), Science and Method (1908), dan Last Essays (1913), dan lain-lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH HIDUP, PENDIDIKAN DAN KARIRNYA&lt;br /&gt;Nama pemberian orang tuanya adalah Jules Henri Poincare. Dia lahir pada 29 April 1854 di Ducale Cite, Nancy, Meurthe-et-Moselle, Kerajaan Perancis. Dia lahir dari keluarga bangsawan, yang tentu berkecukupan dan berpendidikan. Ayahnya, Leon Poincare (1828-1892) adalah seorang professor kedokteran di University of Nancy (sekarang berganti nama menjadi Univerty of Henri Poincare). Ibunya, Eugenie Lounois (1830-1897) adalah seorang ibu rumah tangga sederhana yang sangat dekat dan menyayangi anak-anaknya. Sejak kecil, Henri Poincare sering sakit-sakitan, dan oleh karenanya, perlu perawatan khusus dari ibunya. Sampai tuanya pun ia memiliki ciri-ciri fisik yang lemah dan rapuh. Penyakit rabunnya sudah dia alami mulai sejak kecil. &lt;br /&gt;Pada tahun 1862, Poincare masuk sekolah Lycee di daerah Nancy (sekarang berganti nama menjadi Lycee Henri Poincare). Dia menghabiskan sebelas tahun di Lycee, dari tingkat dasar sampai menengah. Poincare merupakan salah satu siswa terbaik di setiap topik pelajaran. Guru matematikanya menyebutnya ”raksasa matematika” setelah Poincare memenangkan hadiah General Concours dalam sebuah kompetisi antar siswa se-Perancis. Nilai jeleknya hanya pada pelajaran musik dan pendidikan jasmani dan kesehatan. Poincare lulus dari Lycee pada tahun 1871.&lt;br /&gt;Setelah lulus, Poincare menganggur selama satu tahun untuk membantu korban perang Perancis-Jerman. Dia ikut ayahnya yang seorang dokter mengurus Korps Ambulan. Sebenarnya aktivitas ini ia lakukan sejak masih duduk di bangku sekolah, pada 1870. Baru setelah keadaan agak tenang, Poincare meneruskan pendidikannya dengan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa matematika di Ecole Polytechnique pada tahun 1873. Di kampus itu termasuk sebagai dosen adalah Charles Hermite, salah seorang matematikawan termasyhur Perancis. &lt;br /&gt;Satu tahun sebagai mahasiswa tingkat pertama (S 1), yakni pada 1874, Poincare telah mampu menerbitkan makalah penelitian pertamanya, Démonstration nouvelle des propriétés de l'indicatrice d'une surface. Dia lulus sebagai sarjana sains (Bachelor of Science) pada 1876. Lalu dia melanjutkan pendidikannya di Ecole des Mines, sebagai mahasiswa tingkat pertama (S 1) teknik pertambangan, sambil melanjutkan ke tingkat pascasarjana di University of Paris. Dia lulus dan menerima gelar insinyur pada 1879. &lt;br /&gt;Setelah lulus, pada tahun itu juga, dia bergabung dengan Korps des Mines sebagai inspektur pertambangan di Vesoul, wilayah timur laut Perancis. Pada saat yang sama, Poincare sedang mempersiapkan gelar doktor ilmu matematika di bawah pengawasan Charles Hermite. Poincare menerima gelar doktornya pada tahun 1879 dengan disertasi berjudul Sur les propriétés des fonctions définies par les équations differences. Disertasi ini berada di bidang persamaan diferensial, di mana di dalamnya Poincare meletakkan pondasi pertama sifat geometris dari persamaan integral, suatu formulasi matematis yang nantinya digunakan oleh dia untuk model masalahn-tubuh dalam gerakan tata surya.&lt;br /&gt;Setelah itu, dia ditawari sebagai dosen junior di departemen matematika di Caen University. Meski demikian, Poincare tidak meninggalkan pekerjaannya di departemen pertambangan. Pada 1881 dilamar di Departemen Pelayanan Publik (Ministry of Public Service) untuk menjadi insinyur pembuatan rel kereta api utara Perancis. Di departemen ini pada 1910 dia diangkat sebagai inspektur umum. &lt;br /&gt;Tahun 1881 Poincare keluar dari Caen University, kemudian mendedikasikan diri di University of Paris (Sorbonne) sampai akhir hayatnya. Pada tahun itu pula dia diangkat sebagai profesor matematika analisis. Di sana dia mengajar matakuliah fisika, mekanika eksperimental, fisika matematika, teori probabilitas, mekanika langit dan astronomi. Pada tahun yang sama (1881) Poincare menikah dengan Paulain d’Andecy, di mana dengannya dia mempunyai empat anak, yakni Jeanne (lahir 1887), Yvonne (lahir 1889), Henriette (lahir 1891) dan Leon (lahir 1893). &lt;br /&gt;Pada tahun 1887, pada usia 32 tahun, Poincare diangkat menjadi anggota French Academy of Sciences, dan pada tahun 1906 dia menjabat sebagai ketua umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1897, Poincare bergabung dengan French Bureau des Longitudes, suatu lembaga yang bertanggung jawab menyingkronisasi waktu di seluruh dunia. Pada tahun yang sama dia mengajukan usulan cara mudah untuk mengukur waktu menggunakan metode lingkaran waktu bujur dan penerapan waktu relatif. Metode ini kemudian dia terapkan ke dalam fisika sehingga menghasilkan apa yang sekarang dikenal sebagai relativitas waktu dalam teori relativitas khusus. Ini adalah salah satu sumbangan besarnya dalam membentuk zona waktu internasional. Lalu pada tahun 1909 dia terpilih sebagai ketua umum Academie Francaise. &lt;br /&gt;Pada tahun 1912, Poincare mengidap penyakit prostat. Oleh istri dan keluarganya ia dibawa ke rumah sakit dan dioperasi. Tetapi sayangnya tidak berhasil. Pada tanggal 17 Juli 1912, Henri Poincare menghembuskan nafas terakhirnya dalam umur yang masih relatif muda, yakni 58 tahun. Dia dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Poincare di Cemetery of Montparnasse, Paris. Pada tahun 2004, Menteri Pendidikan Perancis, Claude Allegre, mengusulkan supanya jasad Poincare diambil dan dimakamkan kembali di Pantheon Paris, yakni suatu wilayah pemakaman khusus bagi warga kehormatan Perancis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARAKTERNYA&lt;br /&gt;Kebiasaan Poincare dianalogikan seperti seekor lebah yang terbang dari bunga ke bunga. Analogi ini ditujukan kepadanya sebab dia memiliki minat yang luas terhadap ilmu pengetahuan. Menurut matematikawan Perancis lainnya, Darboux, Poincare bekerja dengan intuisinya, dan ini ditunjukkan oleh kebiasaannya menggunakan representasi visual, baik ketika mengajar maupun mengerjakan kertas penelitiannya. Dia tidak menyukai dengan aturan-aturan logika yang ketat. Lebih-lebih dia percaya bahwa logika bukan cara untuk menemukan sesuatu, tetapi hanya cara untuk menstrukturkan dan mensistematisasi ide-ide. &lt;br /&gt;Toulouse, seorang psikolog dari Psychology Laboratory of the School of Higher Studies di University of Paris, tertarik untuk meneliti karakter dan kebiasaan hidup harian Poincare. Hasil penelitian itu dibukukan dalam Henri Poincare (1910). Menurut Toulouse, kebiasaan, kelebihan dan kekurangan Henri Poincare adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Poincare bekerja pada waktu yang sama setiap hari dalam jangka waktu yang singkat. Dia melakukan penelitian matematika selama empat jam sehari, antara jam 10:00 pagi dan siang, kemudian diterukan pada jam 15:00-19:00. dia membaca artikel jurnal di malam hari. &lt;br /&gt;• Kebiasaannya ketika meneliti adalah menyelesaikan masalah-masalahnya terlebih dahulu di pikirannya, kemudian setelah dikira benar-benar sudah terpecahkan, baru dituliskannya di kertas. &lt;br /&gt;• Dia terkena penyakit ambidextrous dan rabun dekat. Namun ia mampu membayangkan apa yang didengarnya ketika, misalnya, ketika mengikuti kuliah. Dia tidak bisa melihat dengan benar apa yang ditulis oleh dosennya di papan, tetapi dari penjelasan dosennya itu, dia bisa menangkap maksudnya.  &lt;br /&gt;• Dia secara fisik kikuk dan artistik tubuhnya tidak kompeten. &lt;br /&gt;• Dia selalu terburu-buru dan tidak suka merubah atau mengkoreksi kertas kerja yang sudah disusunnya. &lt;br /&gt;• Ia tidak pernah menghabiskan waktu yang lama untuk sebuah masalah, karena ia yakin bahwa alam bawah sadarnya akan terus bekerja pada masalah tersebut meskipun dia sedang mengerjakan masalah lain. &lt;br /&gt;• Jika matematikawan lain memulai pekerjaannya dari prinsip-prinsip yang sudah mapan, sementara Poincare memulainya dari prinsip-prinsip yang sangat dasar. Dan entah, menurut Toulouse, apakah ini dapat dianggap sebagai kekurangan atau justru kelebihian. &lt;br /&gt;• Poincare terbiasa mengabaikan rincian-rincian masalah. Dia lebih melihat masalah dari sisi umumnya dan paling fundamental. Sehingga karenanya dia banyak menemukan sesuatu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3735966159644408050?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3735966159644408050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3735966159644408050&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3735966159644408050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3735966159644408050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/04/henri-poincare-sang-universalis.html' title='Henri Poincare: Sang Universalis Terakhir'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-M1etL7eIXnk/Ta-SwTnDgAI/AAAAAAAAAEw/3nnkx_e0OFg/s72-c/poincare2b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3174781420664624812</id><published>2011-02-26T18:06:00.000-08:00</published><updated>2011-02-26T18:08:10.454-08:00</updated><title type='text'>AKHIRNYA CUTI LAGI</title><content type='html'>Ahirnya aku harus mengambil cuti lagi semester ini, semester VIII, setelah cuti pertama pada semester III kemarin. Aku mencantumkan alasan “kendala dana” pada belanko Surat Izin Cuti. Ketika ditanya lebih jauh oleh petugas, aku bilang bahwa aku benar-benar tidak punya uang untuk registrasi. Bahkan untuk membayar hutang ke Badan Wakaf Fakultas Sains dan Teknologi aku bilang tak punya. Hutang sebesar Rp 850.000,00 itu adalah untuk registrasiku pada semester VII kemarin. Dan petugas itu hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan untuk cuti sebenarnya sudah ada di pikiranku sejak sekitar satu bulan yang lalu, setelah dihitung-hitung, dengan keadaan yang serba terjepit dan tidak punya persiapan (uang) sama sekali, aku tidak akan tidak akan bisa membayar registrasi. Alih-alih registrasi, hutangku menumpuk dan aku tidak pernah ada pemasukan setidaknya selama lima bulan belakang ini. Selama itu aku hanya merasa ada pemasukan kurang lebih Rp 600.000,00 hasil riward bukuku dari kampus, dengan rincian sebagai berikut: untuk The Miracel of Kere Rp 300.000,00, untuk Antologi Mazhab Kutub Rp 200.000,00 dan untuk buku Karya Tulis Terbaik UIN Sunan Kalijaga 2009 Rp 100.000,00. Itu pun, uang yang Rp 600.000,00 aku kirimkan ke rumah sebesar Rp 250.000,00 untuk biaya mutasi sekolah adekku di rumah – Ibuku waktu itu mengaku tidak punya uang sebesar itu, dan oleh karenanya, beliau mengabarkannya kepadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi selama lima bulan (September 2010 s/d Februari 2011) pemasukanku hanya sebesar Rp 350.000,00. Selebihnya, untuk biaya hidup dan lain-lainnya, aku hutang. Sampai-sampai aku tidak tahu lagi dengan cara apa aku harus menghitung hutang-hutangku yang semakin hari semakin menumpuk. Ini mungkin ujian terberatku belakangan ini. Dan kalau tidak karena keajaiban, tidaklah mungkin aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. Perhitungan-perhitungan statistikal ekonomis barangkali tidak akan sanggup mendefinisikan hidupku selama lima bulan ini. Bayangkan dengan bermodalkan Rp 350.000,00 dan hutang ke sana-ke mari yang menurutku jika dihitung-hitung jumlah hutangku itu tidak mencukupiku hidup selama dua bulan, aku masih bisa makan, bayar kost, listrik dan tidak kekurangan sesuatu apa. Dan ini barangkali cukup memberiku alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Aku akhirnya menjadi sadar bahwa rupanya hidup ini kadang-kadang irrasional. Dan aku benar-benar yakin, sebab aku telah mengalaminya, tidak hanya sekarang, bahkan berkali-kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, meskipun aku pikir bahwa aku harus cuti tersebab keadaan, aku merasa harus tetap berusaha tidak percaya pada pikiranku, sebab aku tahu takdir tidak ditentukan oleh kepala dan perasaan, tetapi oleh waktu. Oleh sebabnya aku pontang-panting cari hutangan untuk uang registrasi. Tetapi hasilnya nihil. Rupanya takdir benar-benar menghendakiku cuti. Maka, dengan memantapkan diri dan berusaha untuk senantiasa bersabar, aku memutuskan mengambil Surat Izin Cuti ke Fakultas. Sambil menggigit bibir aku berkata pada diriku sendiri: ”Tidak pernah tidak ada rahasia di balik sana, Fakih. Ia akan selalu ada, dan kamu harus menemukannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, aku memantapkan diri menerima keadaan dan berusaha sekuat mungkin untuk berbalik arah. Kususun rencana-rencana aktivitas dan kegiatan yang setidaknya dapat membuat masa-masa cutiku lebih berharga, tidak seperti halnya ketika cuti pertama di mana setelah selesainya waktu cuti aku merasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesia-siaan. Ada dua rencana yang aku susun dengan keyakinan yang kurang-lebih mantap, yakni – tidak ada pilihan lain – belajar dan menulis buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, aku berencana untuk mendalami kembali fisika dasar, fisika modern, matematika dasar, kalkulus (I &amp; II) dan matematika fisika (I, II &amp; III). Setelah itu, sebagai persiapan tugas akhir nanti, aku berharap bisa memulai mempelajari dan mendalami dasar-dasar dari dua wilayah yang menarik minatku: mekanika geometrik dan mekanika langit. Untuk ini, aku punya impian yang lebih lanjut, dan aku berdoa semoga ini berhasil, yakni membuat sebuah paper yang dapat menjelaskan mengapa lintasan orbit benda-benda langit harus berbentuk elips dan tidak dengan bentuk lain? Atau kalau tidak tentang masalah 3-benda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menulis buku-buku proyek (how to) di samping tetap menulis untuk media massa secara umum. Tujuannya satu: mengumpulkan uang, memenuhi keperluan yang mendesak seperti membeli notebook dan motor, membayar hutang-hutangku dan menyiapkan uang untuk registrasi semester depan. Seandainya uang itu ada sedikit lebih, aku mau mengirimkannya untuk nenekku di rumah. Aku menjadwal diri, dalam waktu maksimal satu bulan aku harus menghasilkan satu buku. Menurut perkiraanku yang terbatas, dengan begitu, selama waktu 6 bulan aku dapat menulis 6 buku, dan honornya yang terbilang cukup insyaallah bisa memenuhi impian-impian pragmatisku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdoa, semoga rencana-rencana itu berhasil. Secara perkiraan memang rencana-rencana tersebut tidaklah begitu berat dan membebankan, meskipun juga tidak dapat dibilang enteng. Tetapi, sekali lagi, takdir tidak ditentukan oleh kepala, tetapi oleh waktu. Biarlah Tuhan yang menentukan. Aku yakin, Dia akan senantiasa menganugerahi hambaNya yang ingin berusaha dengan banyak-banyak keberhasilan dan kebahagiaan. Tuhan, anugerahilah hambaMu ini kekuatan untuk belajar dan berusaha yang rajin dan istiqamah, yang dengan sebenar-benarnya tidaklah lain kecuali dengan tujuan mensyukuri hidup dan potensi yang Engkau berikan untukku. Amien!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 26 Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3174781420664624812?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3174781420664624812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3174781420664624812&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3174781420664624812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3174781420664624812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/02/akhirnya-cuti-lagi.html' title='AKHIRNYA CUTI LAGI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7944486943114413230</id><published>2011-02-19T09:23:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T09:30:24.332-08:00</updated><title type='text'>CURRICULUM VITAE</title><content type='html'>(Sampai Feburuari 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Muhammad Ali Fakih&lt;br /&gt;Lahir : Sumenep, 08 Maret 1988&lt;br /&gt;Orang Tua : (alm.) Asyikurrahman (Ayah) &amp; Rusipa (Ibu)&lt;br /&gt;Alamat Rumah : Jl. Raya Dasuk No. 9 Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura 69454&lt;br /&gt;Email : faki_ar@yahoo.co.id atau muhammadalifakih@gmail.com. &lt;br /&gt;Pendidikan : &lt;br /&gt;– SDN 204 Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura (1994-2000).&lt;br /&gt;– Madrasah Diniyah Yayasan At-Taqwa Kerta Timur Dasuk Sumenep (1994-2000).&lt;br /&gt;– MTs 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura (2000-2003).&lt;br /&gt;– SMA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura (2003-2006).&lt;br /&gt;– Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep (2000-2006).&lt;br /&gt;– Madrasah Kutub Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie Bantul Yogyakarta (2006-Sekarang).&lt;br /&gt;– Program Studi Fisika Fakultas Saintek Univertas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (Angkatan 2007).&lt;br /&gt;Karya Berupa Buku :&lt;br /&gt;– Membaca Rahasia Nabi Khidir (Mitra Pustaka Yogyakarta, 2008). Bersama M. Sanusi.&lt;br /&gt;– Dalam Taufiq Rahzen (ed.), Almanak Abad Partai Indonesia (I: Boekoe Jakarta, 2008). &lt;br /&gt;– Dalam Taufiq Rahzen (ed.), Dia. RI Partai Politik: Seratus Tokoh di Alam Parlementer  (I: Boekoe Jakarta, 2008).&lt;br /&gt;– Dalam Abdurrahman Wahid, Halim HD, dkk, Mengapa Kami Memilih Golput (Sagon, 2009).&lt;br /&gt;– Dalam Antologi Puisi Mazhab Kutub (Pustaka puJAngga, 2010).&lt;br /&gt;– The Miracle of Kere: Keajaiban Kere (Flash Books, 2010).&lt;br /&gt;– Dalam Drs. Sabarudin, M.Si. &amp; Masroer, S.Ag., M. Ag. (ed.), Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: Karya Ilmiah Unggulan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (Bagian Kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga, 2010).&lt;br /&gt;– Apotek Hidup Tanaman Obat: Jenis dan Khasiatnya (Penerbit Kutub, Belum Dipublikasikan).&lt;br /&gt;– Mengenal Ginjal: Ragam Penyakit dan Pencegahannya Secara Herbal (Diva Press, Belum Dipublikasikan).&lt;br /&gt;– Reposisi Kebudayaan dan Kesusasteraan Indonesia Kontemporer: Serumpun Essay (Tidak Dipublikasikan).&lt;br /&gt;– Antologi Puisi Tunggal 2007-2011: Palung Waktu (Tidak Dipublikasikan).&lt;br /&gt;Karya Berupa Opini, Esei, Resensi, Cerpen dan Puisi Dimuat di:&lt;br /&gt;Kompas (Yogyakarta), Media Indonesia, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, Suara Merdeka, Surya, Bisnis Indonesia, Koran Investor, Surabaya Post, Bali Post, Solo Post, Pontianak Post, Lampung Post, Bisnis Bali, Koran Merapi, Koran Joglosemar, Surabaya Post, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7944486943114413230?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7944486943114413230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7944486943114413230&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7944486943114413230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7944486943114413230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/02/curriculum-vitae.html' title='CURRICULUM VITAE'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-70915255895332864</id><published>2011-02-14T17:09:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T17:10:33.293-08:00</updated><title type='text'>Emakku Seorang TKW</title><content type='html'>Tadi malam (Rabu, 12 Januari 2011) akhirnya ibu berangkat ke Malaysia. Kabar ini sangat mendadak. Kemarin sore aku baru diberitahu menganai keberangkatan itu. Padahal kemarin lusa aku telpon beliau belum memastikan kapan mau berangkat. Seketika aku mendengar beliau berucap, "Nak, nanti malam ibu berangkat ke Malaysia. Doakan ibu ya, nak, doakan" dengan suara serak menahan tangis, dadaku tiba-tiba penuh dengan kesedihan. Air mataku menetes tak terasa. Sore yang indah jadi suram seketika. Sesuatu yang paling tidak aku kehendaki, yakni ibuku kerja di tempat jauh - apalagi di luar negeri - akhirnya terjadi pula. Takdir memang kerap kali tidak seperti yang kita inginkan. Rencana Tuhan jauh dari perkiraan manusia. Aku merasa betul-betul rapuh di hadapan nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pergi ke Malaysia dengan satu tujuan: jadi TKW (Tenaga Kerja Wanita). Keputusan itu sebenarnya sungguh sangat terpaksa. Hutanglah yang menuntut ibuku pergi ke sana. Kemiskinan memang sering kali memaksa diri mengambil langkah-langkah yang tidak kita kehendaki. Tapi mau apa lagi. Di rumah ibu hanya kerja sebagai tukang pijat anak kecil dan ibu-ibu. Hasilnya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan. Sementara kebutuhan ibu sangat besar: arisan yang tiap bulan rata-rata 500 ribu, biaya adik sekolah dan tetek-bengek lainnya. Jadi kerja ibu di rumah hanya ngutang, ngutang dan ngutang. Serasa tiada hari tanpa ngutang. Ketika aku pulang ke rumah sangat miris melihat ibu yang menangis karena seharian cari hutangan tidak dapat-dapat. Kadang sampai-sampai beliau tidak makan. Apalagi tiap hari berdatangan orang-orang ke rumah untuk menagih hutang. Keluh-kesah ibu kepada mereka membuat hatiku menangis. Keluargaku secara turun-temurun memang begitulah: miskin semiskin-miskinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya keinginan ibu jadi TKW di Malaysia sudah dari dulu, tetapi selalu tidak aku perbolehkan. Aku pikir beliau lebih baik kerja di rumah atau setidak-tidaknya jadi pembantu di kota. Sudah dekat rumah, ibu masih bisa menyempatkan diri berkumpul bersama keluarga. Tetapi kerja semacam itu tidak gampang didapat. Ada satu-dua informasi, tetapi selalu tidak sesuai dengan keinginan ibu. Akhirnya ibu tetap bertahan di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ibu kerja di luar daerah, aku kasihan sama adik dan nenekku yang sudah tua itu. Siapa kemudian yang akan mengurus mereka. Ketika aku masih kelas 2 SMA, ibu pernah setahun kerja di Bandung dan Jakarta, jadi PRT (Pembantu Rumah Tangga). Tujuan beliau ialah untuk mencari biaya kuliahku. Padahal sudah aku cegah, tetapi beliau selalu mengatakan, "Ayahmu sebelum meninggal dulu berpesan sama ibu supaya ibu mendukung kamu untuk mencari ilmu sampai setinggi-tingginya. Ayahmu ingin kamu jadi orang berilmu, tidak seperti kita yang bodoh. Untuk memondokkanmu saja ayahmu bekerja tanpa kenal waktu untuk mencari biaya, sampai-sampai beliau jatuh sakit dan meninggal dunia. Sudikah aku mengabaikan wasiat ayahmu itu? Sudahlah, Insyaallah ibu tidak akan kenapa-kenapa di sana. Kamu jangan khawatir. Doakan saja ibu semoga selamat dan sukses." Ketika itu aku tidak dapat berkutik lagi. Akhirnya dengan berat hati aku mengizinkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir kerja di dalam negeri masih lumayan. Tetapi sekarang di Malaysia, jadi TKW lagi. Aku jadi sangat khawatir. Soalnya sudah bukan rahasia umum lagi kalau TKW di Malaysia sering diperlakukan tidak becus oleh majikan-majikannya. Tetapi aku tidak kuasa dengan keluh-kesah ibu yang sering diburu-buru oleh para penagih hutang. Ketika curhat tentang kondisi hutang dan kondisi perekonomian di rumah yang amat melarat, kerap ibu tidak bisa menahan tangisnya. Setengah memohon beliau meminta aku mengizinkannya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Serba dilema. Maka akhirnya, sekali lagi, dengan berat hati aku izinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku adalah orang yang sangat luar biasa. Beliau adalah pahlawanku, inspirasiku, tempat kasih-sayangku dikembalikan. Beliau sangat perkasa. Beliau seorang diri membiayai keluarga. Selama sepuluh tahun ayah meninggal, selama itu pula ibu memikul beban yang tidak berat. Di tengah kondisi kemiskinan keluarga yang amat rentan, dengan tegar ibu menghadapinya. Beliau sangat ulet, tidak pernah mengeluh dalam bekerja. Kerja apa pun beliau kerjakan, bahkan kerja sebagai kuli tani sampai kuli bangunan serta jadi pemulung di desa sendiri. Tanpa kenal lelah beliau bekerja menafkahi kami, menyekolahkan adik, membiayaiku mondok, menanggung segala keperluan nenek dan mengurus pertanian seorang diri. Bayangkan, seorang wanita yang menanggung tugas sedemikian berat itu. Sungguh aku bersyukur kepada Allah bahwa aku dilahirkan dari rahimnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah aku usulkan kepada beliau supaya beliau bersuami lagi. Bukan untuk maksud apa-apa, tetapi karena aku merasa sangat kasihan sama beliau menanggung beban seorang diri. Tetapi dengan berbunga-bunga berkata, "Ibu masih kuat, nak. Kamu jangan khawatir. Asalkan kita berusaha dan tawakkal kepada Allah, Insyaallah kita bisa mengatasi kesulitan ini. Allah tidak akan menyianyiakan perjuangan hambanya. Lagipula ibu tidak berpikir mau bersuami lagi. Ibu masih cinta sama ayahmu. Apa kamu tidak kasihan sama ayahmu kalau sampai ibu bersuami lagi? Seluruh cinta-kasih ibu sudah ibu curahkan sama ayahmu. Ibu merasa beliau masih hidup, memberi dorongan dan semangat kepada ibu dalam berusaha mengatasi keterjepitan hidup kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat diberatkan oleh beliau adalah pendidikanku dan adikku. Kata beliau, jangan sampai putus di tengah jalan. "Biarlah ayah dan ibu yang bodoh, nak. Kalian harus jadi orang 'alim dan bijaksana. Ayah dan ibu kelak mau berteduh di bawah ilmu kalian. Ibu selalu berharap, meski amal-amal ayah dan ibu di dunia tidak dapat menjadikan ayah dan ibu ahli surga, semoga dengan pengorbanan ibu mendukung kalian mencari ilmu, ayah dan ibu jadi terangkat ke surga. Makanya, belajar yang rajin dan mengabdilah kepada Allah dengan sebaik-baiknya," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya dengan cara apa pun, ibu berusaha membiayai pendidikanku dan adikku. Meski sekarang aku mandiri - dan aku memang tidak ingin dikirim oleh beliau - selalu beliau memaksakan diri mengirim uang kepadaku walaupun jumlahnya sedikit. Terhadap adik juga begitu. Adik yang orangnya suka ngeyel, manja dan pemalas, tidak luput dari kasih-sayang ibu. Dengan kesabaran yang barangkali tak ternilai dengan bijaksana beliau menyadarkan adikku sedemikian sehingga kini semangat keilmuan adikku tumbuh sedikit demi sedikit. Adikku termasuk orang yang cerdas, malah lebih cerdas ketimbang aku. Barangkali lewat kegigihan ibulah dalam mendidik adikku sehingga dia menjadi begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat menyayangi ibu. Beliau bagai jantung bagi hidup kami. Kini beliau ada di negeri jauh yang tidak dapat kami jangkau. Oleh karenanya aku memasrahkan sepenuhnya kepada Allah, Tuhanku tercita. Kami berdoa semoga dengan jadi TKW di Malaysia Allah memuliakan ibu. Semoga jalan beliau ini diridhai oleh Allah. Semoga beliau dilindungi dari marabahaya, dari terputusnya iman, islam dan ihsan, dari segala yang akan membuatnya menderita di negeri sana. Semoga beliau berbahagia dan tergapai cita-citanya. Amin ya Robbal 'Alamin.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 13 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-70915255895332864?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/70915255895332864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=70915255895332864&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/70915255895332864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/70915255895332864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/02/emakku-seorang-tkw.html' title='Emakku Seorang TKW'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6862176685055484753</id><published>2011-01-30T23:57:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T23:59:33.815-08:00</updated><title type='text'>MELIHAT KEMBALI</title><content type='html'>Tak terasa aku di Jogja sudah 4 tahun lebih (mulai 17 Agustus 2006). Waktu berjalan cukup cepat. Entah, apakah ini tersebab terlalu banyaknya kenangan yang sudah hilang dari ingatan atau karena selama 4 tahun ini aku merasa hanya sedikit mendapatkan sesuatu dari harapan dan cita-citaku merantau ke Jogja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat, cita-citaku dari rumah berangkat ke Jogja ialah untuk menjadi menulis. Alhamdulillah ini sudah aku dapatkan. Namaku sudah pernah nampang di koran, jurnal dan majalan dalam tulisan yang bervariasi, seperti opini, resensi, artikel, esai, kolom, cerpen dan puisi. Aku juga beberapa kali menerbitkan buku. Meskipun sampai saat ini pun aku belum juga menjadi penulis yang dikenal banyak orang, setidaknya aku cukup bahagia karena cita-cita awalku itu tercapai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam-macamnya genre dan tema tulisan yang aku garap mulai tahun 2006 dulu sebenarnya merupakan bentuk eksperimentalku dalam wilayah mana yang pada akhirnya akan aku tekuni. Setelah selama itu aku bereksperimen, kini aku mengambil sikap untuk lebih berkonsentrasi menulis cerpen dan puisi untuk fiksi dan esai sastra-budaya untuk non-fiksi. Itu secara idealis. Secara pragmatis, aku masih ingin meniti karirku menulis buku-buku pesanan dari beberapa penerbit. Maklum, aku mandiri. Kalau tidak berpikir pragmatis, dari mana aku dapat makan, bayar kost, bayar SPP kampus dan memenuhi kebutuhan materi lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen itu senada dengan pengembaraanku dalam dunia ilmu. Mulai tahun 2006 aku telah belajar banyak hal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari filsafat, ilmu sosial, budaya, politik dan sebagainya. Itu aku jalani sebagai bentuk pencarian jati diri dalam wilayah ilmu. Setelah lama-kelamaan – mungkin ini juga karena aku masuk jurusan fisika – aku pikir bahwa aku ingin berkonsentrasi belajar ilmu fisika, matematika, filsafat dan budaya. Ilmu filsafat dan budaya sebenarnya hanya sebagai suplemen untuk karirku di dunia tulis-menulis. Yang ingin aku dalami saat ini – kesadaran ini aku dapatkan sekitar satu tahun yang lalu – ialah ilmu fisika dan matematika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mula aku menyukai fisika dan matematika ialah karena dorongan bahwa aku seorang mahasiswa fisika. Meskipun aku masuk jurusan fisika hanya karena merasa tertantang (apa betul orang seperti saya yang berlatar belakang pesantren dan peminat ilmu sosial-budaya mendalami ilmu fisika dan matematika yang terkenal rumit itu?), lama kelamaan aku menjadi sadar bahwa aku harus malu jika pada akhirnya aku menjadi seorang sarjana fisika tidak tahu ditanya tentang hukum gravitasi atau teori relativitas Einstein. Lebih dari itu, setelah aku banyak mengenal sejumlah sosok fisikawan dunia dan sedikit mempelajari hasil pikirannya, aku betul-betul terkesima. &lt;br /&gt;Lalu aku putuskan untuk mempelajari ilmu fisika dan matematika lebih mendalam lagi. Kesadaran ini muncul ketika aku semester V, tahun 2009 akhir. Sebenarnya ini sudah terlambat, tetapi aku pikir, tidak apalah. Dengan berbekal umur 21 tahun ketika itu, aku kira, pada umur 25 tahun nanti aku sudah bisa menguasai pondasi dasar dari keseluruhan ilmu fisika yang berkembang hingga saat ini. Akhirnya aku membagi waktu. Siang aku belajar fisika dan matematika, malam aku menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahun 2010 akhir, ternyata hasil belajarku itu tidak betul-betul maksimal. Aku hanya sedikit tahu tentang subjek-subjek dalam Fisika 1, Fisika 2, Fluida, Termodinamika, Elektromagnetisme, Teori Relativitas Khusus, Mekanika Kuantum, Astrofisika dan Kosmologi dasar, dan sebagainya. Aku menyesal bahwa selama setahun ini aku belum bisa menjadi ahli dalam bidang dasar fisika itu. Untuk matematika aku belajar ulang Matematika Dasar, Kalkulus 1 dan Kalkulus 2, Geometri Analitik, Teori Himpunan, Aljabar Linier dan Fisika Matematika 1 dan 2. Tetapi lagi-lagi, aku hanya mengetahuinya sedikit saja dari keseluruhan bidang matematika itu. Aku betul-betul menyesal bahwa apa yang aku ketahui dari fisika dan matematika semuanya setengah-setengah, tidak betul-betul ahli. Mungkin ini karena aku tidak terlalu serius dalam belajar. Atau mungkin karena konsentrasi belajarku sering terganggu oleh keharusanku mencari uang buat biaya hidupku. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dari pada tidak sama sekali, aku cukup merasa bahagia dengan perolehan yang tidak seberapa ini. Dengan belajar yang tidak penuh itu aku sudah bisa meraba-raba alur-pikir fisika – atau dalam bahasa Thomas S. Kuhn, struktur saintifiknya. Aku banyak mencatat hal-hal penting dan fundamental dari materi-materi itu. Aku juga banyak mencatat beberapa pertanyaan yang aku kira penting baik di fisika dan matematika. Dengan sedikit ”bergenit-genit” aku ciptakan formalisme matematika yang ”aneh” (karena tidak ada di buku-buku) dan hipotesis-hipotesis fisika, misalnya tentang teori ”Kekuatan”. Meskipun aku pikir terlalu dini dengan hal-hal semacam itu, tetapi setidaknya aku tidak menyianyiakan ”keliaran” pikiranku. Betapapun akhirnya sia-sia, aku pikir tidak apa-apa, ketimbang tidak dituliskan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku sedang mendalami ilmu Mekanika dan perangkat matematikanya, karena aku kira hal mendasar dari alam semesta adalah gerak, dan tanpa ilmu Mekanika kita tidak akan tahu seluk-beluk tentang gerak benda, baik dalam skala makro maupun mikro. Aku dalami lagi Mekanika Newtonian, Mekanika Lagrangean, Mekanika Hamiltonian, Mekanika Relativitas dan Mekanika Kuantum. Untuk perangkat matematikanya, aku juga mendalami lagi analisis Vektor, Matriks, Tensor, Deret, Persamaan Diferensial, Variabel Kompleks, Fungsi-Fungsi Khusus dan lebih-lebih Kalkulus Variasi. Karena ilmu Mekanika semuanya itu bisa diformulasikan di dalam sistem koordinat, aku pelajari Geometri Koordinat, termasuk teori Ruang-Waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempelajari itu semua aku ingin berkonsentrasi di Mekanika Langit (untuk skala makro), karena setelah tak berpikir panjang, aku nanti ingin mengambil tema sikripsi dalam wilayah Mekanika Langit, terutama mengenai subjek Three Body Problem untuk sistem Matahari-Bumi-Bulan. Tetapi sebelum dasar-dasar ilmu Mekanika secara keseluruhan dan perangkat metematikanya belum aku kuasai, aku tidak mau langsung mendalami Mekanika Langit. Sebab aku pikir itu penting supaya perangkat keilmuanku mapan nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah harapan-harapanku ke depan. Apakah nantinya aku berhasil atau tidak, aku serahkan kepada takdir. Aku hanya yakin apabila kita bekerja keras memperoleh sesuatu, Allah Swt pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Allah tidak akan merubah nasib kita kecuali kita sendiri yang berhasrat merubahnya. Aku selalu berdoa kepada Allah semoga harapan untuk proses keilmuanku ini selaras dengan jalan-Nya. Aku juga berdoa semoga aku ditetapkan dalam semangat penuh, konsistensi belajar keras dan senantiaasa berproses mengetahui hukum-hukum-Nya yang ditetapkan di alam ini. Tujuanku belajar ilmu fisika dan matematika hanya satu, yakni aku hanya ingin masyigul melihat kekuasaan Allah yang luar biasa ini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 28 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6862176685055484753?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6862176685055484753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6862176685055484753&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6862176685055484753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6862176685055484753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/01/melihat-kembali.html' title='MELIHAT KEMBALI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6277974790526914803</id><published>2011-01-15T23:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-15T23:41:57.198-08:00</updated><title type='text'>Emakku Seorang TKW</title><content type='html'>Tadi malam (Rabu, 12 Januari 2011) akhirnya ibu berangkat ke Malaysia. Kabar ini sangat mendadak. Kemarin sore aku baru diberitahu menganai keberangkatan itu. Padahal kemarin lusa aku telpon beliau belum memastikan kapan mau berangkat. Seketika aku mendengar beliau berucap, "Nak, nanti malam ibu berangkat ke Malaysia. Doakan ibu ya, nak, doakan" dengan suara serak menahan tangis, dadaku tiba-tiba penuh dengan kesedihan. Air mataku menetes tak terasa. Sore yang indah jadi suram seketika. Sesuatu yang paling tidak aku kehendaki, yakni ibuku kerja di tempat jauh - apalagi di luar negeri - akhirnya terjadi pula. Takdir memang kerap kali tidak seperti yang kita inginkan. Rencana Tuhan jauh dari perkiraan manusia. Aku merasa betul-betul rapuh di hadapan nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pergi ke Malaysia dengan satu tujuan: jadi TKW (Tenaga Kerja Wanita). Keputusan itu sebenarnya sungguh sangat terpaksa. Hutanglah yang menuntut ibuku pergi ke sana. Kemiskinan memang sering kali memaksa diri mengambil langkah-langkah yang tidak kita kehendaki. Tapi mau apa lagi. Di rumah ibu hanya kerja sebagai tukang pijat anak kecil dan ibu-ibu. Hasilnya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan. Sementara kebutuhan ibu sangat besar: arisan yang tiap bulan rata-rata 500 ribu, biaya adik sekolah dan tetek-bengek lainnya. Jadi kerja ibu di rumah hanya ngutang, ngutang dan ngutang. Serasa tiada hari tanpa ngutang. Ketika aku pulang ke rumah sangat miris melihat ibu yang menangis karena seharian cari hutangan tidak dapat-dapat. Kadang sampai-sampai beliau tidak makan. Apalagi tiap hari berdatangan orang-orang ke rumah untuk menagih hutang. Keluh-kesah ibu kepada mereka membuat hatiku menangis. Keluargaku secara turun-temurun memang begitulah: miskin semiskin-miskinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya keinginan ibu jadi TKW di Malaysia sudah dari dulu, tetapi selalu tidak aku perbolehkan. Aku pikir beliau lebih baik kerja di rumah atau setidak-tidaknya jadi pembantu di kota. Sudah dekat rumah, ibu masih bisa menyempatkan diri berkumpul bersama keluarga. Tetapi kerja semacam itu tidak gampang didapat. Ada satu-dua informasi, tetapi selalu tidak sesuai dengan keinginan ibu. Akhirnya ibu tetap bertahan di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ibu kerja di luar daerah, aku kasihan sama adik dan nenekku yang sudah tua itu. Siapa kemudian yang akan mengurus mereka. Ketika aku masih kelas 2 SMA, ibu pernah setahun kerja di Bandung dan Jakarta, jadi PRT (Pembantu Rumah Tangga). Tujuan beliau ialah untuk mencari biaya kuliahku. Padahal sudah aku cegah, tetapi beliau selalu mengatakan, "Ayahmu sebelum meninggal dulu berpesan sama ibu supaya ibu mendukung kamu untuk mencari ilmu sampai setinggi-tingginya. Ayahmu ingin kamu jadi orang berilmu, tidak seperti kita yang bodoh. Untuk memondokkanmu saja ayahmu bekerja tanpa kenal waktu untuk mencari biaya, sampai-sampai beliau jatuh sakit dan meninggal dunia. Sudikah aku mengabaikan wasiat ayahmu itu? Sudahlah, Insyaallah ibu tidak akan kenapa-kenapa di sana. Kamu jangan khawatir. Doakan saja ibu semoga selamat dan sukses." Ketika itu aku tidak dapat berkutik lagi. Akhirnya dengan berat hati aku mengizinkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir kerja di dalam negeri masih lumayan. Tetapi sekarang di Malaysia, jadi TKW lagi. Aku jadi sangat khawatir. Soalnya sudah bukan rahasia umum lagi kalau TKW di Malaysia sering diperlakukan tidak becus oleh majikan-majikannya. Tetapi aku tidak kuasa dengan keluh-kesah ibu yang sering diburu-buru oleh para penagih hutang. Ketika curhat tentang kondisi hutang dan kondisi perekonomian di rumah yang amat melarat, kerap ibu tidak bisa menahan tangisnya. Setengah memohon beliau meminta aku mengizinkannya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Serba dilema. Maka akhirnya, sekali lagi, dengan berat hati aku izinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku adalah orang yang sangat luar biasa. Beliau adalah pahlawanku, inspirasiku, tempat kasih-sayangku dikembalikan. Beliau sangat perkasa. Beliau seorang diri membiayai keluarga. Selama sepuluh tahun ayah meninggal, selama itu pula ibu memikul beban yang tidak berat. Di tengah kondisi kemiskinan keluarga yang amat rentan, dengan tegar ibu menghadapinya. Beliau sangat ulet, tidak pernah mengeluh dalam bekerja. Kerja apa pun beliau kerjakan, bahkan kerja sebagai kuli tani sampai kuli bangunan serta jadi pemulung di desa sendiri. Tanpa kenal lelah beliau bekerja menafkahi kami, menyekolahkan adik, membiayaiku mondok, menanggung segala keperluan nenek dan mengurus pertanian seorang diri. Bayangkan, seorang wanita yang menanggung tugas sedemikian berat itu. Sungguh aku bersyukur kepada Allah bahwa aku dilahirkan dari rahimnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah aku usulkan kepada beliau supaya beliau bersuami lagi. Bukan untuk maksud apa-apa, tetapi karena aku merasa sangat kasihan sama beliau menanggung beban seorang diri. Tetapi dengan berbunga-bunga berkata, "Ibu masih kuat, nak. Kamu jangan khawatir. Asalkan kita berusaha dan tawakkal kepada Allah, Insyaallah kita bisa mengatasi kesulitan ini. Allah tidak akan menyianyiakan perjuangan hambanya. Lagipula ibu tidak berpikir mau bersuami lagi. Ibu masih cinta sama ayahmu. Apa kamu tidak kasihan sama ayahmu kalau sampai ibu bersuami lagi? Seluruh cinta-kasih ibu sudah ibu curahkan sama ayahmu. Ibu merasa beliau masih hidup, memberi dorongan dan semangat kepada ibu dalam berusaha mengatasi keterjepitan hidup kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat diberatkan oleh beliau adalah pendidikanku dan adikku. Kata beliau, jangan sampai putus di tengah jalan. "Biarlah ayah dan ibu yang bodoh, nak. Kalian harus jadi orang 'alim dan bijaksana. Ayah dan ibu kelak mau berteduh di bawah ilmu kalian. Ibu selalu berharap, meski amal-amal ayah dan ibu di dunia tidak dapat menjadikan ayah dan ibu ahli surga, semoga dengan pengorbanan ibu mendukung kalian mencari ilmu, ayah dan ibu jadi terangkat ke surga. Makanya, belajar yang rajin dan mengabdilah kepada Allah dengan sebaik-baiknya," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya dengan cara apa pun, ibu berusaha membiayai pendidikanku dan adikku. Meski sekarang aku mandiri - dan aku memang tidak ingin dikirim oleh beliau - selalu beliau memaksakan diri mengirim uang kepadaku walaupun jumlahnya sedikit. Terhadap adik juga begitu. Adik yang orangnya suka ngeyel, manja dan pemalas, tidak luput dari kasih-sayang ibu. Dengan kesabaran yang barangkali tak ternilai dengan bijaksana beliau menyadarkan adikku sedemikian sehingga kini semangat keilmuan adikku tumbuh sedikit demi sedikit. Adikku termasuk orang yang cerdas, malah lebih cerdas ketimbang aku. Barangkali lewat kegigihan ibulah dalam mendidik adikku sehingga dia menjadi begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat menyayangi ibu. Beliau bagai jantung bagi hidup kami. Kini beliau ada di negeri jauh yang tidak dapat kami jangkau. Oleh karenanya aku memasrahkan sepenuhnya kepada Allah, Tuhanku tercita. Kami berdoa semoga dengan jadi TKW di Malaysia Allah memuliakan ibu. Semoga jalan beliau ini diridhai oleh Allah. Semoga beliau dilindungi dari marabahaya, dari terputusnya iman, islam dan ihsan, dari segala yang akan membuatnya menderita di negeri sana. Semoga beliau berbahagia dan tergapai cita-citanya. Amin ya Robbal 'Alamin.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 13 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6277974790526914803?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6277974790526914803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6277974790526914803&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6277974790526914803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6277974790526914803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/01/emakku-seorang-tkw.html' title='Emakku Seorang TKW'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-4622731330502480212</id><published>2011-01-09T01:10:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T01:11:18.165-08:00</updated><title type='text'>Ketabahan Pak Daroji</title><content type='html'>Pagi itu (02/12/2010), saya dan Aziz diajak Pak Daroji pergi ke kebun salaknya untuk ikut bantu-bantu memanen salak dan menebangi pelepah-pelepahnya. Katanya, buah salak itu mesti kami panen semua, sebab bila tidak, akan cepat membusuk akibat kena debu vulkanik Merapi. Begitupun pelepah-pelepahnya harus ditebangi agar tidak layu dan mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela kerja, saya bertanya kepada Pak Daroji, kapan salak ini bisa dipanen lagi? Saya kaget ketika Pak Daroji menjawab, “butuh dua tahun lagi, mas!”. Betapa tidak, tulang punggung perekonomian beliau, juga rata-rata warga Cempan, adalah tani salak. Kalau selama dua tahun panen salak vakum, lalu dari mana beliau mendapatkan uang buat kebutuhan hidup sehari-harinya, buat belanja istri dan sekolah anak-anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya tersenyum, seperti tidak pernah risau dengan keadaan semacam ini. Ia yakin bahwa Allah tidak miskin dan bahwa Allah tidak akan menelantarkan hambanya yang sedang diterpa bencana. Sungguh ketabahan yang luar biasa saya kira. Padahal beliau juga harus kehilangan sekitar 3 hektare sawahnya yang ditelan lahar dingin. Sawah itu terletak di bantaran Kali Batang. Dulu kali itu tidak dialiri air. Tetapi sekarang, alih-alih kering, Kali Batang diluapi oleh lahar dingin yang mengalir dari puncak Merapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu akan hal ini, Pak Daroji sama sekali tidak bersedih. Malahan beliau berkata, kalau Allah mau mengambil sesuatu dari kita, siapa pun tidak akan bisa menghalanginya, begitu pun sebaliknya. “Kita enggak usah khawatir, mas. Jalan rezeki itu tak terhitung banyaknya. Orang yang bersedih karena kehilangan satu jalan rezekinya, berarti dia takabbur kepada Allah. Na’uzubillah,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Pak Daroji di barak pengungsian daerah Mantingan Salam Magelang sewaktu beliau bersama warga Cempan yang lain mengungsi ke sana. Kami dari Forum Silaturrahmi Keluarga Mahasiswa Madura Jogjakarta (FS-KMMJ) menjadi relawan di sana. Kerja kami di barak pengungsian ialah mengurusi kebutuhan logistik pengungsi dan mengadvokasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kami di Mantingan, hanya sekitar seminggu. Setelah dinyatakan aman dalam radius 10 km dari puncak Merapi untuk daerah Magelang, para pengungsi diperbolehkan pulang kampung. Pak Daroji meminta kami ikut ke kampungnya,  yakni dusun Cempan Jeruk Agung Srumbung Magelang, untuk Bantu-bantu merekonstruksi desa pasca bencana Merapi. Kami pun menyutujuinya. Pak Daroji mengizinkan kami tinggal di rumahnya sampai tugas kami di Cempan selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja kami di Cempan ialah membantu-bantu masyarakat membersihkan jalan, masjid, kuburan dan semua infrastruktur umum lainnya. Sejak itu, secara pribadi, saya mengagumi kesabaran Pak Daroji dan istrinya, Bu Sri Mulyati. Saya banyak belajar kepada kepadanya tentang kehidupan. Selama sembilan tahun berumah tangga, mereka tidak pernah sekali pun bertengkar. Mereka begitu taat beribadah. Keyakinannya pada Tuhan amat luar biasa. Kata Pak Daroji, tujuan kita hidup di dunia tidak lain kecuali terus-menerus berusaha belajar menghamba kepada Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan hidup demikianlah, saya pikir, yang menjadikannya begitu sabar dan tabah dalam menghadapi bencana. Kata Pak Daroji, bencana erupsi Merapi merupakan bentuk kasih sayang Tuhan kepada kita semua. “Banyak hikmah yang dapat kita petik dari setiap bencana dalam hidup kita, lebih-lebih bencana Merapi sekarang ini. Salah satunya ialah kita disadarkan oleh Tuhan bahwa kita sesungguhnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bahwa kita mesti menyempurnakan penghambaan kita kepada-Nya. Bahwa kita harus lebih banyak belajar menerima keadaan, banyak bersabar dan bersyukur,” katanya sambil tersenyum berbunga-bunga.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yogyakarta, 07 Januari 2011&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-4622731330502480212?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/4622731330502480212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=4622731330502480212&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4622731330502480212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4622731330502480212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2011/01/ketabahan-pak-daroji.html' title='Ketabahan Pak Daroji'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-716351452468741207</id><published>2010-10-02T05:36:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T05:39:36.475-07:00</updated><title type='text'>AKTIVITASKU SELAMA BULAN RAMADHAN 1423 H</title><content type='html'>Ramadhan tahun ini cukup mengesankan dan luar biasa bagiku. Pasalnya, aku bisa puasa sebulan penuh di rumah. Tidak seperti biasanya di mana aku pulang kampung beberapa hari sebelum lebaran, dan saat di perjalanan aku tidak berpuasa. Kini aku bisa puasa full, tidak keteteran seperti kemarin-kemarin. Bisa menikmati suasana ramadhan di rumah, berkumpul dengan keluarga dan teman-teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan tahun ini beda dengan sebelum-sebelumnya. Tambah maju. Tanggal 11 Agustus sudah masuk ramadhan. Padahal dulu bulan September. Jadi, aktivitas kampus turut berubah. Biasanya, saat-saat ramadhan kampus masuk. Sekarang diliburkan, karena terlalu dekat dengan liburan akhir semester. Aku sangat bersyukur dengan hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatanku di rumah sangat sederhana dan seperti terjadwal. Sehabis sahur aku bersama emak pergi ke masjid untuk shalat jama’ah subuh. Sesudah itu aku mengaji Al-Qur’an satu juz lalu menyapu halaman rumah. Istirahat sebentar sambil baca-baca buku Aljabar Linier Elementer, Kalkulus 1 dan Fisika Dasar 1 secara berurutan. Ini aku lakukan untuk mengulang dan memperdalam kembali matakuliah yang sudah-sudah. Baru setelah itu aku ikut nenek ke sawah. Sementara itu, ibuku kerja cari uang, dan adikku, ah…dasar dia nakal, jam-jam segitu dia masih tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan di sawah macam-macam. Menyabit rumput untuk pakan sapi, menanam cabe, mengurus tanaman jagung dan memanen ubi. Khusus menyabit rumput sudah seperti kegiatan rutin tiap pagi atau sore. Sudah sekitar dua tahun ini emak dan nenekku beternak sapi. Sapi itu milik pamanku. Nanti kalau sapi itu dijual, uangnya dibagi dua. Kalau beranak, anak sapi itu dijual dan uangnya juga dibagi dua. Jadi, dalam dua tahun itu pula emak dan nenek harus menyabit rumput. Sekarang, untuk sementara waktu, tugas menyabit rumput aku ambil alih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi, aku dan nenek sudah pulang dari sawah. Baru setelah itu aku bisa istirahat. Di salam mengisi saat istirahat itu aku menyempatkan diri untuk meneruskan belajar, menulis catatan atau main dengan adik. Di sela-sela permainan aku sering mencerca adik dengan wejangan-wejangan ringan tentang bagaimana seharusnya jadi santri yang benar, jadi penuntut ilmu yang ikhlas, jadi anak yang berbakti pada orang tua dan sebagainya. Meskipun adikku kadang tidak memperhatikanku, aku tetap meneruskan wejanganku. Karena aku yakin, setiap yang didengar akan abadi selamanya dalam ingatan. Boleh adikku sekarang tidak mengikuti kata-kataku, tetapi kelak dia akan mengingatnya dengan penuh kesadaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, aku juga mencerca adik dengan pertanyaan-pertanyaan matematika. Ini aku kira penting sebagai latihan analisis. Sebenarnya hal ini muncul dari kesadaranku bahwa latihan analisis itu penting untuk pembentukan pola pikir. Aku ingin agar dia tidak sepertiku yang tidak pernah ada yang ingin melatihku menganalisis. Aku kisahkan juga kepadanya cerita-cerita nabi, para wali dan sufi, dengan niat agar dia senang dengan orang-orang yang dekat dengan Allah sehingga akhirnya dia juga tertarik untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Aku tidak peduli apakah aku pantas mengarahkan pada hal itu atau tidak, aku hanya berusaha dan pasrah kepada Allah tentang bagaimana nantinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis itu, aku sholat dhuhur. Lalu pergi ke rumah teman, ya sekedar referesing. Kalau tidak aku tidur bersama adik. Itung-itung biar badanku nanti segar pas sore menjelang di mana aku biasanya diajak lagi oleh nenek untuk pergi ke sawah. Jadi, kebiasaanku tidak ada apa yang namanya ngabuburit. Ngabuburitku ya di sawah. Setelah di radio mulai acara tanya-jawab hukum Islam, kami pulang dari sawah untuk mempersiapkan diri menunggu datangnya berbuka puasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, pas buka puasa, kami kumpul sekeluarga. Nah, saat-saat menunggu adzan magrib itulah suasana kekeluargaan sangat terasa. Ditambah dengan kondisi alam dan tubuh segar, kebersamaan dengan keluarga menjadi sesuatu yang cukup sulit dibahasakan. Kebahagiaan itu tidak bisa ditukar dengan apa pun. Adik, emak, nenek dan aku. Ya, keluarga besarku. Sayangnya ayah sudah tidak ada. Seandainya beliau masih ada, sungguh betapa semakin besarnya kebahagiaan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis sholat magrib, biasanya aku mengirim surat Yaasin untuk para pendahulu-pendahuluku, untuk guru, kedua orang tua dan sahabat-sahabatku. Setelah itu sebentar berkumpul lagi bersama keluarga, makan sisa buka tadi. Lalu pergi ke rumah teman, mengajak mereka pergi ke masjid untuk sholat teraweh. &lt;br /&gt;Selama pengalaman terawehku, hanya ada satu dua malam saja aku melalikan satu dua rakaat teraweh. Tetapi mending ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya tidak hanya satu dua rakaat saja, tetapi hampir 70% dari rakaat teraweh itu sendiri. Semoga bulan ramadhan tahun depan aku bisa menyempurnakan shalat terawehku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat teraweh, seperti biasanya, aku ikut jemaah darusan di masjid. Ini sudah menjadi rutinitas mulai dulu waktu aku kecil dan bisa mengaji Al-Qur’an. Suasana itu pun sangat indah bagiku, karena bisa ngumpul-ngumpul bareng teman-teman. &lt;br /&gt;Setelah darusan, kira-kira jam 10 malam, aku nongkrong bareng teman-teman, main gitar dan bernyanyi bersama. Tidak lama untuk aktivitas ini, dan juga tidak terlalu sering aku lakukan. Hanya kadang-kadang saja. Sehabis gitaran, aku nonton tv bareng teman-teman, ngerokok sambil ngopi, cerita-cerita dan tertawa-tertawa bersama. Baru sekitar jam 12 malam aku tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah aktivitasku selama bulan ramadhan tahun ini. Sebuah pengalaman yang sungguh mengesankan. Ya Allah, sampaikanlah kembali aku, emakku, nenekku, adikku serta semua famili dan teman-temanku ke bulan ramadhan tahun depan Ya Allah. Panjangkanlah umur dan taubat kami. Masih ada banyak hal khusus untuk bulan ramadhan yang tidak kami kerjakan. Berilah kami semangat untuk menyempurnakannya di tahun-tahun berikutnya Ya Allah.Amien ya Robbal ‘alamien….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasuk Sumenep, 28 Ramadhan 1423 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-716351452468741207?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/716351452468741207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=716351452468741207&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/716351452468741207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/716351452468741207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2010/10/aktivitasku-selama-bulan-ramadhan-1423.html' title='AKTIVITASKU SELAMA BULAN RAMADHAN 1423 H'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-140427213002277832</id><published>2010-04-27T09:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-27T09:13:07.946-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Cita-Citaku</title><content type='html'>Dulu, setidaknya aku masih kelas IV SD, pernah aku punya cita-cita ingin menjadi praktisi elektronik. Aku terinspirasi oleh cerita guruku yang bercerita tentang penemuan-penemuan Thomas Edison dan Michael Faraday. Sejak itu aku mulai banyak mencari dan mengumpulkan barang-barang elektronik yang sudah dibuang di tempat sampah oleh para tetanggaku. Maklum, orang tuaku miskin, tidak mungkin mereka mampu membelikanku barang-barang semacam itu. Mereka hanya mampu membelikanku kertas dan tali layang-layang saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari barang-barang elektronik buangan itu aku buat kapal-kapalan dan mobil-mobilan memakai penggerak dynamo, kipas-kipasan, salon, setrom udang, dan lain-lain. Aku senang dengan mainan bikinanku sendiri. Aku tidak iri pada mainan teman-temanku yang rata-rata dibelikan orang tuanya. Aku banyak bermain sendiri, karena temn-temanku sering mengolok-olok mainanku yang jelek. Tak apalah, pikirku, aku lebih enak main sendiri. Dan aku memang – sampai saat ini – suka menyendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah kelas V dan VI, cita-citaku berubah. Aku tidak ingin menjadi ahli elektronik lagi, karena peralatannya mahal, dan aku tidak mampu membelinya. Aku berpikir agak realistis: aku ingin jadi olah ragawan. Setidaknya itu yang diisyaratkan oleh guru olah ragaku. Kata beliau, aku berpotensi jadi pelari dan pesepak bola. Setelah itu aku lebih banyak menyita diri untuk berlatih diri. Aku minta dibelikan bola karet ke ibuku, dan beliau membelikannya. Aku mengajak teman-temanku berlatih bersama. Tiap sehabis dhuhur aku sendirian lari. Gila, sungguh ini gila, pikirku. Tapi tanpa latihan keras, aku tidak akan pernah jadi pesepak bola yang hebat. Di luar sana, kata guru olah ragaku, sainganmu banyak. Jadi kamu harus lebih berlatih keras untuk menyaingi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita itu pupus, karena aku dimondokkan ke pesantren oleh orang tuaku. Di pesantren beberapa tahun aku vakum, tidak punya cita-cita. Aku banyak bergabung dengan teman-temanku yang tidak jelas mau jadi apa. Baru setelah aku kelas satu dan dua SMA, pikiran mau jadi pesepak bola dating lagi. Aku melanggar peraturan pesantren: tidak boleh main sepak bola di luar lingkungan pesantren. Aku ikut club sepak bola Flamboyan. Latihannya tiga kali seminggu. Jadi untuk fisikku tetap kuat dan eksis aku perlu latihan sendiri. Aku mengajak salah satu temanku lari tiap sehabis dhuhur. Ini aku lakukan dengan melanggar peraturan lagi. Selama dua tahun itu aku sudah banyak diikutkan ke pertandingan persahabatan. Aku katakan pada diriku sendiri, kelak kau harus menjadi pemain Timnas Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi cita-cita ini pupus juga akhirnya. Ini dilatarbelakangi karena club Flamboyan mendaftarkanku ke pertandingan liga kabupaten. Aku pikir, kalau sampai sejauh ini, bisa-bisa pelanggaranku ini dicium oleh pengurus pesantren. Aku tidak mau. Sejak itu aku memutuskan untuk ke luar dari club. Akhirnya aku kembali tidak punya cita-cita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kevakuman ini terbayar ketika aku tertarik bidang tulis-menulis. Aku belajar banyak dari teman-temanku yang penulis. Aku ingin menjadi penulis besar, hebat dan terkenal. Tiada hari tanpa nulis. Apa saja, termasuk catatan harian. Tak ada pengumuman lomba menulis yang aku abaikan. Sampai pernah tulisanku dapat nominasi Lomba Karya Tulis Ilmiah Siswa Menengah Se-Jawa Timur. Teman-temanku di pesantren menganggap aku sudah jadi penulis. Meski agak ragu, aku terima anggapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita ini cukup lama bertahan, bahkan hingga saat ini. Keberangkatanku ke Jogja juga dikarenakan ikhtiar ini. Sesudah beberapa di Jogja aku merasa tidak akan mampu meneruskan pendidikan di perguruan tinggi dengan biaya sendiri – karena ibuku yang seorang diri tidak mampu membiyayaiku – aku memutuskan untuk menekuni bidang tulis-menulis. Aku termasuk orang yang sedikit mampu menulis berbagai genre, mulai dari resensi, opini, esei, cerpen dan puisi. Lama-kelamaan tulisanku banyak menghiasi koran-koran, baik koran daerah maupun nasional. Kebutuhanku terpenuhi, bahkan lebih. Aku berpikir, bisakah aku kuliah dengan biaya sendiri dari honor tulisanku? Aku yakinkan, bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kuliah, ambil jurusan fisika. Sebenarnya ini bukan bidang minatku. Aku lebih berminat di filsafat atau sosiologi. Karena aku sedikit punya dasar dalam bidang itu, juga sangat mendukung dengan profesiku sebagai penulis. Tetapi aku ingat pesan kiaiku di pesantren, “Kalau kamu mau kuliah, silahkan. Tetapi ingat jangan mengambil jurusan filsafat. Ambillah jurusan sains-teknologi. Peradaban Islam saat ini terbelakang dalam bidang ini.” Pilihan ini cukup mistis, aku ingin mendapat barokah dari kiaiku tersebut. Tanpa banyak pikir, aku ambil jurusan fisika, sebuah ilmu yang sebelumnya aku benci. Semoga dengan ini aku mendapatkan barokahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku jadi mahasiswa fisika. Tetapi, aku masih menulis, sebab dari mana aku bisa makan dan biaya kuliah kalau tidak honorarium tulisan. Menulis sudah aku jadikan profesi. Akhirnya dari dua ilmu yang nampaknya saling tidak terkait ini – yakni ilmu fisika sebagai basis kuliahku dan ilmu social-budaya-politik-sastra sebagai basis profesiku – arah tujuanku tidak karuan. Semester-semester awal (1 sampai 4) kuliahku hancur. Aku semakin benci fisika, dan aku semakin cinta menulis. Aku baru sadar pada pertengahan semester 5, bahwa tidak boleh tidak aku harus menguasai ilmu fisika, karena ini latar belakang pendidikanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sulit rasanya aku memulai dari awal membuka-buka buku fisika. Susahnya juga aku sudah banyak tertinggal dari teman-temanku. Jadi, aku harus belajar dari awal lagi, dari fisika dasar dan forma-forma matematika pendukung ilmu fisika. Ah, sungguh ini tekanan yang sangat tidak aku sukai, tetapi bagaimana pun juga harus aku jalani. Akhirnya aku menikmati juga. Aku banyak mendapatkan informasi tentang para ilmuwan fisika, perkembangan riset fisika, wacana dan pemikiran tentang eksistensi alam semesta. Lalu, terbersit dalam pikiranku, aku ingin jadi ahli fisika. Ya, aku ingin jadi fisikawan, jelasnya peneliti ilmu fisika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sungguh sangat problematis. Kemampuanku rendah ketimbang teman-teman. Daya tangkapku terhadap rumus-rumus, perhitungan-perhitungan, analisis dan daya ingatku serasa tidak mempuni. Meskipun aku telah belajar keras, aku tidak mampu mencapai taraf kepahaman seperti teman-teman. Padahal kemampuan teman-teman juga terbiang rendah, juga sangat mungkin beberapa dosenku, dibanding dengan pemikiran para pioner fisika semacam Newton, Maxwel, Einstein, Wenberg, Salam, Hawking, Penrose atau Witten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati hal ini, aku menjadi pesimis bercita-cita jadi fisikawan. Tetapi aku tetap tertarik mempelajari alam semesta dalam detail-detailnya. Sungguh pemikiran para fisikawan itu mempesonaku. Aku ingin mengetahuinya, sungguh aku ingin mengetahuinya. Aku ingin mengetahui alam ciptaan Allah ini. Sebelum aku puas – dan semoga tidak puas – aku akan menekuni ilmu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-citaku sekarang sangat sederhana, bukan ingin jadi dosen fisika, pakar fisika, peneliti fisika atau orang yang terkenal di bidang fisika lainnya. Aku hanya ingin terus belajar ilmu fisika dan alam semesta. Dan aku tak akan peduli dengan hasil belajarku. Aku tak peduli apakah dengan belajarku itu akhirnya aku paham atau tetap bodoh. Aku tidak peduli sanjungan atau cacian orang-orang dengan kemampuan fisikaku. Aku hanya ingin apabila orang bertanya kepadaku tentang alam semesta, baik mikro maupun makro, aku bisa menjelaskannya, dan mereka menjadi puas dengan penjelasanku. Aku ingin terus menekuni ilmu fisika sampai akhir hayatku, sebagai ikhtiar agung dalam penghambaanku kepada Allah. Amien. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Jogja, 26 April 2010).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-140427213002277832?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/140427213002277832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=140427213002277832&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/140427213002277832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/140427213002277832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2010/04/sejarah-cita-citaku.html' title='Sejarah Cita-Citaku'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7316342797259101644</id><published>2010-01-07T19:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T19:52:44.086-08:00</updated><title type='text'>MENGINGAT YANG TERLUPA</title><content type='html'>Aku kuliah pada tahun 2007. Tetapi aku sampai di Jogja tanggal 17 Agustus 2006. Jadi aku menganggur di Jogja selama setahun. Waktu menganggur itu aku gunakan bekerja. Baru sampai di Jogja tiga hari, aku langsung disuruh oleh Gus Zainal supaya mengikuti pelatihan dakwah di CDP (Center Dakwah Pedesaan). Salah satu programnya adalah belajar bekerja di salah satu perusahaan sablon di Krapyak. Namun selang beberapa hari, aku tidak kerasan di CDP. Aku keluar. Hanya tinggal temanku (Ne’ Rosyid) yang bertahan di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Zainal adalah orang yang benci pada santrinya yang hanya malas-malasan, tidak bekerja, sementara untuk makan ia numpang kepada temannya. Aku tidak enak dengan sindiran-sindiran beliau. Makanya, aku ambil inisiatif untuk ikut teman-teman yang jualan koran. Maka jadilah aku penjual koran di perempatan Dongkelan. Selang beberapa bulan, aku ditawari oleh Yasin (anak Cilacap) untuk memanfaatkan rombong Angkringan milik Gus Zainal. Aku terima tawaran itu. Kami bersepakat untuk minta modal ke Gus Zainal dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Aku bekerja jadi penjual Angkring selama kurang-lebih lima bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan terakhir (Januari 2007) tulisanku di muat (Esei di Media Indonesia). Aku ditahbiskan oleh Gus Zainal sebagai penulis. Beliau memintaku untuk lebih konsentrasi menulis. Untuk itu, aku harus rela memberikan “jabatanku” sebagai penjual Angkring ke Fathorrahman MD yang pada waktu itu belum dimuat tulisannya. Namun demikian, hari-hariku setelah itu suntuk oleh baca buku dan nulis. Aku tidak enak kalau tidak bekerja. Lagipula tidak mungkin aku hidup hanya dari honor tulisan yang kadang tidak jelas dan lama turunnya. Oleh sebab itulah aku kembali berjualan koran. Kawasanku waktu itu di perempatan Wirobrajan Malioboro. Profesi penjual koran itu bertahan sampai dua bulan pertama aku jadi mahasiswa (Fisika Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum jadi mahasiswa, aku berkabung atas wafatnya guruku tercinta, Gus Zainal. Beliau meninggal bulan Maret 2007. Salah satu semangatku untuk kuliah adalah dari beliau. Aku kuliah berangkat dari Krapyak ke Kampus naik onthel (sepeda). Jarak dari Krapyak-UIN ialah sekitar 9 kilometer. Sepeda yang aku pakai bukan milikku sendiri. Sampai sekarang pun aku tidak pernah beli sepeda. Sepeda itu aku pinjam dari teman-temanku. Aku nyepeda tiap hari Krapyak-UIN sampai awal-awal tahun 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pondok pindah ke daerah Panggungharjo Sewon Bantul Jl. Paris km 7. Kepindahan itu sangat menyakitkan bagiku. Sebabnya adalah kami “diusir” oleh tetangga di Krapyak dengan cara halus, yakni tidak boleh memperpanjang kontrak pondok. Jadi sekarang jarak Pondok-Kampus bertambah 7 kilometer. Berarti aku harus mengayuh sepeda tiap hari dari pondok ke kampus sekitar 16 kilometer. Barangkali, bagi orang, jarak itu terlampau tidak mungkin dijalani tiap hari. Tapi apa bagi kami yang tidak mungkin. Bila semangat menggelegar, gunung pun terasa kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak selang beberapa bulan kemudian, setelah aku cuti semester 3, aku merasa harus lebih konsentrasi kuliah, dan karenanya aku memilih untuk kost di sekitar UIN. Hal ini terjadi sekitar awal-awal 2009. Aku sudah tidak menjadi pengontel ria sepanjang hari dengan menempuh jarak yang sekonyol itu lagi. Hidupku menjadi agak istimewa bagiku, meski ada banyak kendala keuangan dan kendala hidup lainnya selama aku kost. Tapi aku tetap bertahan. Menurutku, setiap orang pasti dihadapkan oleh tantangan dan cobaan. Aku tebas semua itu dengan kesabaran dan tawakkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah habis kost terakhir (di sebelah timur Kali Gajah Wong atau di belakangang Social Agency), aku tidak kost lagi. Itu terjadi pasca liburan semester genap (empat), sekitar bulan Agustus 2009. Disamping aku tidak punya uang untuk memperpanjang kost, juga aku sudah merasa tidak enak hidup di sekitar kampus. Aku sering gelisah dan diterpa oleh goncangan-goncangan jiwa yang dahsyat. Dan ini, aku kira, salah satunya adalah masalah lingkungan yang melingkupiku. Makanya, setelah berpikir lama, aku harus menemukan tempat yang membuatku tenang dan damai. Tempat itu adalah Krapyak, tempat pertama aku sampai di Jogja. Barangkali aku adalah termasuk orang yang melankolia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan itulah yang hendak aku jalani saat ini. Aku berdoa, semoga Krapyak versi ke-II itu menjadi simbol kelahiranku yang baru, baik kelahiran spiritualku, kelahiran intelektualku maupun kelahiran profesionalitasku. Amien!&lt;span style="font-style:italic;"&gt; (8 Januari 2010).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7316342797259101644?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7316342797259101644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7316342797259101644&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7316342797259101644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7316342797259101644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2010/01/mengingat-yang-terlupa.html' title='MENGINGAT YANG TERLUPA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-8780489802837205596</id><published>2010-01-05T14:02:00.000-08:00</published><updated>2010-01-05T14:04:56.576-08:00</updated><title type='text'>TENTANG DUA IBUKU DI YOGYAKARTA</title><content type='html'>Ini kisah tentang dua perempuan yang mulai saat ini aku anggap sebagai ibuku. Dua perempuan itu sangat menyayangiku, lebih-lebih, beliau menganggapku sebagai anaknya sendiri. Dua perempuan itu adalah Bunda Maya Very Oktavia dan Ibu Yuli Anisah. &lt;br /&gt;Aku merasa mereka berdua adalah pengganti orang tuaku di Yogyakarta. Mulai sejak ini aku mulai sadar bahwa rupanya curahan hati mereka terhadap aku sungguh sangatlah besar. Hanya karena keegoisanku sehingga sejak kemarin-kemarin aku menanggapi belai kasihnya hanya sekedar sebuah perbuatan baik semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ternyata aku salah besar. Mereka tidak sekedar berbuat baik kepadaku, tetapi lebih dari itu. Mereka betul-betul menyayangiku sepenuh hati, sepenuh perasaan seorang ibu. Aku sungguh menyesal mengapa kesadaran ini baru hadir sekarang. Tetapi, dari pada tidak sama sekali, aku bersyukur kepada Tuhan yang telah menunjukkan kebenarannya kepadaku, meski menurutku itu amat terlambat. Terima kasih, Tuhanku, terima kasihku kepada-Mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda Maya adalah istri guru pertamaku di Jogja, Gus Zainal Arifin Thoha. Beliau telah lama menjanda, setidaknya mulai bulan Maret 2007 kemarin. Beliau ditinggali lima putra dan tanggung jawab mengasuh pesantren (Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie) yang telah dirintis oleh Gus Zainal. Kelima putra itu (Vina, Hasan, Hafid, Shifa dan Zya) aku anggap sebagai saudaraku sendiri, seperti juga aku menganggap saudara seluruh santri-santri Hasyim Asy’arie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih-sayang Bunda Maya kepadaku sangatlah besar. Beliau sering memperingatiku ketika aku sedang salah, memberikan wejangan-wejangan, selalu bersedia menerima keluh-kesahku, membantu meringankan tanggung-jawabku, dan mengajariku hidup mandiri. &lt;br /&gt;Beliau telah memberikan banyak hal di dalam proses hidupku mulai sejak awal aku tinggal di Jogja. Aku merasa tidak akan pernah bisa membalas seluruh kebaikannya. Aku hanya bisa menyadarkan diriku untuk benar-benar ta’dhim kepada beliau dan menganggap beliau sebagai ibuku. Ketika beliau berkata, “Kamu aku anggap anakku sendiri, Fakih…”, aku berpikir, tidakkah demikian pantas menjadikan beliau sebagai ibu yang mesti kucurahkan baktiku kepadanya?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku yang kedua adalah Ibu Yuli Anisah. Beliau menjabat sebagai TU (Tata Usaha) Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga. Aku diperkenalkan kepada beliau oleh suatu kasus yang menimpaku. Kasus itu adalah semacam “tindakan buruk” yang aku lakukan sedemikian sehingga mengakibatkan nama Saintek tercoreng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, aku dipanggil oleh beliau dan diintrogasi macam-macam. Selain soal kasus, beliau juga bertanya banyak hal tentang latar belakangku dan kehidupanku di Jogja. Entah mengapa, setelah aku ceritakan semua seluk-beluk kehidupanku, beliau merasa tersentuh dan kasihan kepadaku. Padalah, demi Allah, aku tidak pernah berusaha untuk membuat beliau bersikap seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menawariku kost di Jl. Babaran Umbulharjo. Waktu itu aku memang tidak punya kost. Aku hidup nomaden (dari kost teman ke kost teman) selama kurang lebih empat bulan. Beliau kasihan kepadaku. Beliau menginginkan aku hidup layak sebagaimana anak lainnya. Kebetulan, di Umbulharjo beliau punya kos-kosan yang masih ada sisa dua kamar. Beliau menawariku untuk tinggal di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, aku belum bisa merasakan hal yang luar biasa dari sikap beliau. Meskipun beliau pada waktu itu juga memberiku uang 100 ribu buat biaya hidup harian, aku masih menganggap sebagai tindakan lumrah bagi orang yang merasa kasihan kepada orang lain. Tetapi, untuk menghargai niat baik beliau, aku menerimanya. Aku berjanji untuk mendatangi kost tersebut dan ngomong sama orang yang mengelolanya (saudaranya sendiri). Aku diberi kepercayaan oleh saudara beliau itu, dan diberikan kunci kamar yang akan aku tempati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, aku tidak pernah datang lagi kesana setelah itu. Ada banyak alasan yang menuntutku untuk tidak menyempatkan diri kesana. Selain jadwal kuliah dan tugas kampus yang padat dan banyak, juga aku harus segera merampungkan buku pesanan Diva Press. Selain itu pula aku tidak punya kendaraan untuk bolak-balik kost-kampus (jaraknya kira-kira 9 kilo meter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sebulan kemudian, aku dipanggil oleh Bu Yuli. Bagiku sangat maklum beliau memanggilku, karena aku tidak menepati janjiku untuk menghadap beliau setelah lebaran kurban, sekedar untuk mengetahui perkembangan hidupku di kost tersebut. Aku tidak menepati janji itu sebab ada beragam alasan, terutama adanya masalah dalam proses pembuatan Surat Pernyataan ke Pembantu Dekan Tiga untuk kasusku tersebut di atas. Seandainya aku cepat membuat Surat Pernyataan tersebut, mungkin aku bisa langsung menghadap Bu Yuli. Berhubung ada halangan, aku tidak segera mambuat surat itu. Karena itu juga, aku tidak segera menghadap Bu Yuli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta beribu-ribu maaf kepada beliau atas kelalaianku itu. Aku juga lontarkan alasan-alasan mengapa aku tidak menghadapnya lagi, juga mengapa aku tidak menempati kost yang beliau hibahkan kepadaku. Aku kira beliau akan marah. Ternyata dugaanku salah. Beliau malah menunjukkan kehangatan dan pengertian tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seperti biasa, beliau tetap memancarkan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja beliau agak mengintrogasiku dan memberikan sedikit pandangan terhadap alasan-alasanku itu. Aku hanya mengangguk dan menunduk saja, menunjukkan rasa bersalahku. Setelah itu, kami berbincang-bincang cukup banyak dan cukup panjang pula. Beliau bertanya banyak hal kepadaku, terutama tentang pengalaman-pengalaman hidupku. Beliau memberikanku pencerahan dengan pandangan-pandangannya. Beliau juga mengucapkan selamat kepadaku lantaran aku telah masuk 10 besar Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata, “Sekarang kamu pengen apa, Fakih? Mau tempat tinggal? Silahkan kamu cari kost yang membuatmu nyaman. Saya Insyaallah bisa membantumu menanggung bayarannya. Kamu disuruh kost di Babaran atau tinggal di rumahku tidak mau. Sekarang terserah kamu saja…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak dengan kata-kata itu. Masa, ada orang yang belum begitu lama mengenalku ingin berbuat baik kepadaku dengan sesuatu yang menurutku “tidak wajar”. Padahal beliau tahu kalau aku terkena kasus yang mencoreng nama Fakultas. Itu saja aku kira cukup bagi setiap orang untuk enggan berbuat baik kepadaku. Aku mulai tidak paham dengan beliau. Apa yang diinginkan beliau dariku. Ketika sedikit menyindir, beliau hanya bilang, “Aku hanya ingin membantumu, Fakih”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menolak tawaran beliau. Aku bilang kalau sebentar lagi aku akan punya uang banyak dari hasil jerih payahku menulis buku. Honor buku tersebut, aku bilang, sangat cukup untuk membayar uang kost selama setahun. Namun nampaknya beliau ngotot untuk menolongku. Beliau bertanya, “Kamu ada uang untuk SPP semester depan?”. Aku menjawabnya ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya ibu tidak perlu hawatir. Saya ada cukup uang untuk ngekost dan bayar SPP semester depan. Sekarang saya memang punya hutang ke Fakultas. Tetapi uang saya cukup kalau hanya untuk membayar hutang itu. SPP semester depan saya bisa pinjam lagi ke Fakultas,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana saya lihat tanda buktinya?,” tanyanya. Aku cari tanda bukti itu di dompetku. Tapi tidak ada. Aku bilang saja, tanda buktinya tertinggal di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini saya ada rezeki sedikit untuk kamu. Uang ini terserah kamu mau dibuat apa. Apa kamu buat bayar hutang ke Fakultas atau buat ngekost. Saya minta tolong kamu menerima ini. Dari kemarin saya memang sudah berjanji untuk mensedekahkan uang ini kepadamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kira, pasti uang itu banyak sekali, paling tidak kurang-lebih sejuta. Aku heran. Aku tertegun. Lama aku termenung sendiri, tidak mengindahkan kata-kata beliau. Sampai-sampai beliau menegurku, membuyarkan renunganku. Dan aku mengungkapkan apa yang sedang aku renungkan. Tentu, renunganku itu ialah berkisar tentang kebaikannya, uang itu, dan sesuatu yang berada di balik semua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dulu, tidak pernah aku diberi uang sebanyak itu. Namun, bukan sekedar itu yang membuatku terhenyak. Aku masygul dan sama sekali tidak habis pikir dengan sikap Bu Yuli itu. Aku tidak yakin pemberian itu tidak tulus. Aku yakin beliau tidak mengharapkan apa-apa dengan pemberian itu. Itu terbukti dari sorot matanya, juga kata-kata beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima, Fakih. Aku tidak bermaksud apa-apa kok. Apalagi aku belum tahu banyak tentang kamu. Aku hanya ingin membantumu, memperingan bebanmu. Aku prihatin dan kasihan sama kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terharu dengan kata-kata itu. Hatiku menangis. Aku tidak tahan menahan keharuanku. Aku marasa ini suatu keajaiban yang bahkan tidak pantas ditujukan padaku. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa maksud-Mu dengan semua ini, Tuhanku? Mengapa Kau berikan sesuatu yang menurutku sangat tidak pantas bagiku ini? Apa maksud-Mu mempertemukan aku dengan Bu Yuli? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini tidak fire, Tuhanku, benar-benar tidak fire. Pemberian-Mu ini sangat tidak sebanding dengan penghambaanku kepada-Mu selama ini. Mengapa Kau berbuat kebaikan yang besar terhadap hambamu yang tidak sungguh-sungguh “menuhankan-Mu” ini?,” bisikku dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu harus berbuat apa waktu itu. Ucapan “terima kasih” atau kata-kata yang lebih dari itu pun, aku kira tidak cukup untuk menghargai sikap beliau. Aku merasa bahwa ini simbol kasih-sayang. Tidak mungkin Bu Yuli memberikan semua ini dengan tanpa rasa kasih-sayang yang tinggi kepadaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba perasaan lain hadir begitu saja di dalam hati. Di dekat beliau, aku merasa seperti seorang anak yang sedang berada di dekat ibunya. Dengan cinta dan kasihnya yang agung, ibu itu mencurahkan segala yang dimilikinya untuk kebahagiaan anaknya. Ibu itu ingin anaknya bahagia. Ibu itu ingin anaknya hidup layak sebagaimana anak-anak lainnya. Seakan ibu itu tidak rela bila anaknya hidup menderita. Semua yang dimilikinya seperti ingin diberikan kepada anaknya itu. Hanya untuk kebahagiaannya, itu saja. Tidak lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di jalan, aku buka amplop itu. 900 ribu, ya, uang yang diberikan Bu Yuli tepat 900 ribu. Melihat uang itu, aku mamatung diri. Semua yang telah terjadi seperti sebuah mimpi. Aku menangis bahagia..aku menangis bahagia. Mulai sejak itu aku menjadi paham bahwa rupanya Tuhan berkehendak memberikan sosok ibu kepadaku. Aku tidak bisa menolak kenyataan. Makanya, mulai sejak itu, aku anggap Bu Yuli sebagai ibuku sendiri, yaitu seseorang yang mesti aku ta’dhimi, cintai dan sayangi sepenuh hati...Terima kasih, ibu, terima kasih atas kasih-sayang dan pemberianmu! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Yogyakarta, 04/01/2010).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-8780489802837205596?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/8780489802837205596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=8780489802837205596&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8780489802837205596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8780489802837205596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2010/01/tentang-dua-ibuku-di-yogyakarta.html' title='TENTANG DUA IBUKU DI YOGYAKARTA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6332248279748313296</id><published>2009-12-07T08:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T08:33:54.454-08:00</updated><title type='text'>CATATAN LEBARAN HAJI 2009</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CIDE_NET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Tak banyak yang dapat aku perbuat pada lebaran haji kali ini. Semuanya berjalan cukup biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang pantas aku banggakan. Beginilah memang rasanya kalau lebaran di tanah rantau. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Subuh tadi, hanya rokok dan kopi yang menemaniku. Selain itu tak ada, kecuali geriap bayang-bayang tanah kelahiran dan sedikit air mata. Pagi menjelang sangat sederhana sekali. Untuk mandi pun aku harus memaksakan diri. Pergi ke masjid dengan pakaian lama tak membuatku risih, tak membuatku malu pada orang-orang. Aku tak yakin orang-orang kota begitu memperhatikanku. Mereka tak mungkin menanyakan apakah subuh tadi aku ziarah kubur atau tidak. Aku juga tak yakin mereka akan dengan ikhlasnya bertukar-tangkap tawa dan keriangan dengan orang pendatang sepertiku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Gema takbir benar-benar aku rasakan seperti kekosongan. Aku tak betul-betul menikmatinya sebagai deru kemenangan. Khutbah pun aku tak begitu memperhatikan. Apalagi khutbah di sini sudah menjadi ritual hampa, di mana kianya dipilih melalui semacam “audisi”. Aku tak suka itu. Kiai itu tidak seperti kiaiku di kampong yang betul-betul berniat menjadi benteng moral masyarakat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku hanya menunduk, merasakan betapa kerinduan di hatiku sungguh sangat dalam kepada sanak keluarga, teman-teman dan orang-orang kampung. Aku berpikir, seandainya kemarin aku pulang, mungkin hatiku tak akan sesakit ini. Sungguh aku kecewa pada diriku sendiri yang tidak berani mengambil keputusan untuk pulang kampung meski terbilang dua-tiga hari saja. Aku benci pada diriku yang lebih memilih mambayar hutang dari pada menyisihkan uang buat ongkos pulang. Tetapi apakah artinya penyesalan ini. Waktu sudah bergulir, dan aku harus memakluminya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku berdoa untuk keselamatan dan kemaslahatan ibu, nenek, adik, paman, bibi dan keluargaku yang lain. Aku berharap mereka saat ini merasakan kebahagiaan lebaran, meski tanpaku di sisi mereka. Aku berharap mereka sehat dan sentosa, selamat dunia dan akhirat. Aku berdoa untuk teman-temanku dan orang-orang yang telah mengartikanku sebagai manusia. Aku berdoa untuk semuanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Selain itu aku juga minta maaf, terutama kepada ayah, karena subuh tadi aku tidak bisa berziarah ke kubur beliau, membaca surah Yaasin dan menaburkan bunga, serta meminta doa untuk kesuksesanku kelak. Aku sungguh minta maaf kepada beliau. Semoga beliau mendapatkan kebahagiaan di alam sana, seperti yang selalu diimpikannya kepadaku. Semoga beliau tidak marah sebab aku tidak pulang untuk sekedar menjenguk keluarga dan melepaskan rindu mereka kepadaku. Semoga aku senantiasa dapat memegang impiannya terhadap aku: menjadi seorang santri yang beriman dan berislam dengan baik, serta menjadi penuntut ilmu kebajikan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku minta maaf kepada nenekku, tersebab aku tidak mampu menunaikan permintaannya kepadaku saat liburan kemarin bahwa jika sudah dekat hari lebaran aku harus pulang. Beliau adalah orang yang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya. Ketika mengingat beliau, sering aku berpikir untuk sesegera mungkin balik kampung dan menjaga beliau sampai akhir hayat. Aku sungguh minta maaf sebesar-besarnya kepadamu, nek, sebab hari ini aku tak dapat memberikanmu kebahagiaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku juga minta maaf kepada ibu dan adikku yang begitu mengharapkan aku pulang. Maafkan aku yang tidak bisa menemani kalian silaturrahim ke rumah emba, maafkan aku yang tak bisa menemani kalian berziarah ke kuburan ayah, memakan daging kurban bersama-sama, menuai keriangan yang tiada tara. Maafkan aku, sungguh maafkanlah aku. Aku tidak bermaksud membuat sakit hati kalian. Aku mencintai kalian, aku menyayangi kalian, bahkan melebihi diriku sendiri. &lt;b&gt;&lt;i&gt;(27 November 2009).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6332248279748313296?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6332248279748313296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6332248279748313296&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6332248279748313296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6332248279748313296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/12/catatan-lebaran-haji-2009.html' title='CATATAN LEBARAN HAJI 2009'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1302436381207208548</id><published>2009-11-08T19:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T19:15:08.858-08:00</updated><title type='text'>AKU INGAT MASA KANAK-KANAKKU</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Bagian Pertama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah penyuka musik, setidaknya sejak aku paham bagaimana musik adalah bagian instrumen jiwa yang paling hakiki. Ini terjadi saat aku masih kelas empat (IV) SD. Waktu itu, buatku, tak ada waktu luang untuk tidak mendengarkan musik, baik dari radio atau type recorder. Aku, biasanya, sehabis sekolah, langsung ke rumah paman untuk mendengarkan musik – maklum, di rumah aku tidak punya alat elektronik. Kini pun, ketika ada waktu luang, sering aku datang ke kost teman – sebab di kos aku tidak punya komputer – untuk sekedar mendengarkan musik-musik kesukaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari hobi itu, sering aku merasa bahwa musik adalah catatan harian lain dalam hidupku. Aku tidak bisa lepas darinya, seperti juga aku tidak bisa lepas dari buku catatan harian yang ke manapun aku pergi pasti selalu aku bawa. Dengan aku bernostalgia dengan musik-musik yang dulu pernah menjadi kesukaanku, dengan itu pula aku bisa bernostalgia dengan masa laluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sekarang ini, aku sedang menikmati lagu-lagu Malaysia yang pernah populer tahun-tahun 90-an, aku menjadi ingat masa kanak-kanakku, masa-masa bahagia ketika masih SD dulu. Lagu-lagu dari group band Slam, Exist, Sultan, Iklim dan lainnya adalah seraut kisah catatan masa kecil yang sangat mengesankan bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, setidaknya kelas IV-VI SD, aku adalah pembantu setia pamanku, Nom Hosin, dalam mengadu merpati. Waktu itu aku sangat menyukai aduan merpati. Aku menjadi seorang pangocol merpati punya pamanku. Sekali ngocol aku dibayar, kalau tidak salah, Rp. 500. Aku sudah bahagia dengan bayaran sekecil itu. Pikirku, tidak apa-apa bayaran kecil, yang penting aku bisa beriang-riang dengan teman-teman kecilku yang kebetulan punya hobi sama sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak di lapangan sepak bola belakang gedung sekolah, paling banter ke daerah Manggalang yang dulu dikesankan sepi dan angker oleh teman-temanku untuk melatih merpati punya pamanku itu. Tetapi yang paling mengesankan, saat aku diajak ke festival-festival aduan merpati oleh paman buat membantunya menjadi tokang pangocol. Betapa senangnya aku ketika merpati pamanku dapat juara. Selain aku bisa dapat bayaran yang agak lumayan, aku juga bisa punya banyak cerita buat teman-teman di kelas esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kapan aku bisa bernostalgia dengan hobiku itu, dengan pamanku itu (yang sekarang hidup bahagia di desa dengan istri dan dua anaknya, yang seakan sudah tidak punya waktu lagi untuk sekedar mengulang masa lajangnya sebagai pengadu merpati handal).....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku juga ingat, masa-masa pahitku sebagai seorang anak kecil yang malang. Dibanding teman-temanku yang lain, aku adalah anak yang paling miskin. Sehingga karenanya, sering aku menangis sendiri karena orang tuaku tidak bisa membelikanku, misalnya, sepeda atau tali addhuwan layang-layang – yang pada waktu itu terkesan mahal – karena orang tuaku tidak punya uang. Orang tuaku hanya bisa minta maaf kepadaku karena tidak bisa memenuhi permintaanku itu. Aku memakluminya, meski sesungguhnya di hatiku terasa sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika teman-temanku menikmati sepeda barunya atau mainan layang-layangnya, aku hanya bisa melihat mereka dari jauh, sendirian. Meratap diri. Menangis. Bagaimana rasanya bila aku seperti mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, teman-temanku baik kepadaku. Mereka tidak ingin aku menangis. Mereka ingin aku juga menikmati mainan miliknya. Mereka senantiasa akan mengajakku bermain bersama, ketika melihat aku sendirian melihat keriangan mereka. “Ayo, Kih, kita main bersama. Sudahlah, jangan menangis. Kamu boleh kok pinjam sepedaku (atau layanganku), dan main sepuasmu. Ayo...,” ajak mereka sambil menarik-narik tanganku yang aku kucek-kucekkan ke mataku, menghapus air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kemesraan itu tiada terkira bila aku ingat kini. Aku sangat berterima kasih pada teman-temanku itu. Tanpa kehangatan persahaban mereka, mungkin sampai kini pun aku tidak bisa naik sepeda, juga tidak bisa main layang-layang dengan baik. Kalian adalah pendekarku, kawan. Semoga kelak kita mengayuh hidup lebih sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, tiap hari minggu pagi, aku – bersama teman-teman kecilku – pergi ke pantai, sekedar untuk lari pagi. Ada pengalaman yang sangat mengesankan saat-saat seperti itu. Biasanya, kami berangkat jam lima pagi, dan sampai di pantai sekitar setengah enam. Di tengah jalan, sudah menjadi kebiasaan bersama, kami saling meledek. Kebetulan, teman-teman yang ikut tidak hanya cowok, tetapi juga cewek. Kami saling menjodoh-jodohkan di antara kami. Ada marah, ada yang kecut, ada juga yang merasa bangga. Aku biasanya kecut saja menanggapi ledekan teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di pantai, kami berpencar. Sebelum itu, biasanya, kami berlari-lari kecil bersama, memperagakan senam yang sudah diajarkan di sekolahan. Lalu terserah masing-masing mau ke mana, yang penting, kami harus pulang bersama. Ada yang mandi di laut, ada yang minta ikan-ikan kepada para nelayan yang baru saja pulang berlayar, ada yang duduk-duduk memandangi indahnya pantai, ada yang main bola, ada pula yang mencari bukkol (buah-buahan pinggir pantai). Aku, bersama dengan sebagian teman, biasanya, langsung menuju semak-semak karang, mencari urmang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam tujuh, kami pulang. Tetapi sebelum itu, biasanya, kami mencuri kelapa muda milik pak tani. Rudi, salah seorang dari temanku, biasanya yang jadi joki naik kelapa, sementara yang lainnya, termasuk juga aku (kebetulan aku tidak bisa naik kelapa), bertugas mengambil kelapa yang sudah dipetik dan ada sebagian yang bertugas membelahnya (dengan diantukkan ke batu). Kelapa muda itu kami nikmati bersama. Sekali waktu, ada pengalaman yang mengesankan. Kami ketahuan pak tani. Ia marah kepada kami. Kami hanya menunduk gemetar mendengar cerocosnya. Karena mungkin kami masih kanak-kanak, urusannya sebatas itu. Setelah itu, kami bisa pulang. “Untung kita tidak dipukul olehnya,” ujar si cewek-cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, hari senin, aku membawa urmang-urmang itu ke kelas, menjualnya ke teman-teman, adik kelas, juga kakak kelas. Tiap hari senin, aku memang punya langganan. Kalau aku tidak bawa urmang, biasanya ditanya oleh para pelangganku itu. Satu urmang dihargai sekitar Rp. 100-Rp. 300. Hasilku tergantung banyaknya urmang yang aku bawa. Tetapi rata-rata tiap hari senin, aku komulatifkan, hasilnya bisa sampai Rp. 3000-Rp. 4000. Uang itu simpan atau aku belikan buku tulis, potlot, stip, dan barang-barang kebutuhan sekolah lainnya. Tetapi seringnya, aku kasihkan kepada ibu. Sebab, aku sering kasihan pada beliau. Buat uang belanja ke pasar tiap hari, sering beliau harus pontang-panting cari hutangan ke tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, kapan-kapan kita ke pantai bersama lagi ya....meski di antara kalian sudah ada yang menikah. Aku ingin kembali menikmati keriangan kita dulu itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau di antara kami ada yang sakit, seluruh anak harus menjenguknya. Itu sudah keputusan dari Pak Solehoddin (guruku waktu kelas V dan VI). Ide itu pertama lahir dari usulan teman-teman kelasku. Sampai beberapa tahun kemudian, ide itu terus dilestarikan oleh adik-adik kelas kami. Sekarang, entahlah, apakah kultur itu masih ada atau tidak. Tetapi semoga masih ada, karena aku rasa kultur itu penting demi penguatan tali persahabatan di antara anak-anak – sesuatu yang dibutuhkan di era yang telah mulai melunturkan kultur-kultur semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, sehabis pelajaran, sekitar jam satu siang, kami bersama-sama berangkat ke rumah salah seorang teman yang sedang sakit. Kami sumbangan membeli oleh-oleh (biasanya berupa gula, pisang dan jajan-jajan kecil) untuk teman yang sedang sakit itu. Senda-gurau kami di tengah perjalanan adalah keriangan yang tiada terkira, sesuatu yang tidak aku dapatkan saat ini. Saling meledek di antara kami telah menjadi budaya yang sulit dikubur. Terasa hampa bila kami tidak saling meledek satu di antara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di rumah teman yang sakit, kami disambut dengan bahagia oleh keluarga di sana. Kami langsung disuguhi minuman dan makanan. Senda-gurau masih bertahana di antara kami. Sehingga, dan ini sangat sering terjadi, senda-gurau kami yang kadang keterlaluan itu membuat teman yang sedang sakit itu merasa terhibur, dan keesokan harinya sudah sembuh. Akhirnya, ia bisa berkumpul kembali dengan kami mengikuti pelajaran Pak Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar catatan, teman kelasku yang sering dijodoh-jodohkan denganku –  baik di sekolahan maupun ketika kami berkumpul di luar jam sekolah, lebih-lebih ketika sedang dalam perjalanan ke rumah teman yang sakit – Vera Yuli, tahun kemarin (2008) meninggal dunia. Ia meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Kebetulan waktu itu aku ada di Jogja. Aku terenyuh mendengar berita itu dari teman-teman. Aku sedih, seharian mengurung diri di kos: merefleksikan kembali tali persahabatan yang dulu sempat kami rajut dengan luar biasa bahagianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuli, maafkanlah segala kesalahanku, baik yang aku sengaja atau yang tidak aku sengaja. Maafkanlah temanmu ini yang tidak bisa melayat ke rumahmu, tidak bisa berada di sampingmu ketika kau sedang menghirup nafas terakhirmu. Semoga persahabatan kita tetap kekal, meski kau sudah tiada. Semoga di surga kelak, kita dapat lagi merajut kebahagiaan bersama dengan teman-teman  yang lain.&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (06 November 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1302436381207208548?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1302436381207208548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1302436381207208548&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1302436381207208548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1302436381207208548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/11/aku-ingat-masa-kanak-kanakku.html' title='AKU INGAT MASA KANAK-KANAKKU'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3323613703509270402</id><published>2009-11-05T18:05:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T18:09:07.692-08:00</updated><title type='text'>DOSENKU YANG PALING AKU KAGUMI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Bapak Dr. rer. nat. Muhammad Farchani Rosyid)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, beliau adalah dosen astronomiku (semester empat). Kebetulan, semester empat adalah momen paling istimewa dalam sejarah pendidikanku. Semester empat adalah suatu tonggak di mana aku mulai sadar untuk benar-benar belajar ilmu-ilmu alam, khususnya matematika dan fisika. Sebelum itu, boleh dibilang aku tidak tahu-menahu mengenai teori-teori matematika dan fisika. Aku menganggap dua ilmu itu jauh dari kenyataanku sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan sampai semester tiga pun, aku sama sekali tidak faham matematika dan fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum semester empat, pikiranku banyak aku forsir untuk mendalami ilmu-ilmu sosial-politik dan budaya, lebih-lebih sastra. Kurang-lebih aku sudah mulai merasa bangga dengan prestasiku di bidang ilmu itu: setumpuk opini, artikel, esei, cerpen dan puisi telah aku hasilkan, serta sebagiannya aku terbitkan di koran-koran. Aku juga sudah mulai bisa menulis satu buku (Membaca Rahasia Nabi Khidir, Mitra Pustaka, 2008) dan menyumbang tulisan dalam beberapa buku komplikasi. Mungkin ini karena aku lebih banyak bergaul dengan orang-orang  yang berlatar sosial, budaya dan sastra ketimbang dengan teman-teman kelas sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah semester empat, aku kira prestasi eksternal tersebut tidak cukup membuatku puas dengan proses pembelajaranku. Mengesampingkan ilmu internal (fisika dan matematika) dari ilmu eksternal bagiku adalah penghianatan intelektual seseorang. Lebih-lebih, saat itu aku juga mulai faham bahwa matematika dan fisika lebih rumit ketimbang ilmu sosial-budaya dan sastra (anggapan ini telah aku tanggalkan, karena setelah tahu, dua bidang yang tampaknya terpisah itu, sama-sama rumitnya). Karena aku adalah tipe orang selalu merasa tertantang dengan hal-hal yang rumit-rumit, aku berpikir, ini cukup menarik untuk aku jelajahi. Pasca itulah aku mulai sadar untuk memulai dari awal belajar matematika dan fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi rupanya, kesadaran itu tidak muncul serta-merta tanpa adanya suntikan-suntikan dari luar. Siapakah gerangan orang-orang yang telah berjasa mengangkat semangatku belajar matematika dan fisika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah kakak angkatanku: orang yang selalu menganggap aku tidak cocok masuk jurusan fisika, karena pemahaman matematika dan fisikaku sangat lemah (maklum, sebelum itu aku tidak benar-benar ingin belajar fisika). Kata dia, karena dasarku adalah seorang penulis, lebih baik aku masuk jurusan filsafat atau sosial, atau setidaknya pendidikan fisika, karena menurutnya ilmu-ilmu itu tidak terlampau sulit (kini aku berani bertaruh dengan anggapannya bahwa ilmu sosial dan filsafat itu tidak sesulit matematika dan fisika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, teman-teman kelasku sendiri: orang-orang yang sering membuatku terasing sendiri di kelas ketika dosen-dosen fisika dan matematika sedang memberikan pelajaran. Aku iri pada mereka. Mengapa mereka paham dan aku tidak paham? Apa yang sesungguhnya yang membuatku berbeda dengan mereka? Keseriusan! Ya, keseriusan. Aku “kalah” dengan mereka karena selama ini aku tidak pernah serius belajar matematika dan fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adalah Pak Rosyid. Beliau tidak seperti dosen-dosenku yang lain. Banyak dari dosen-dosenku (tetapi tidak semuanya) yang bertipikal sebagai “pekerja”, yakni “asal mengajar, yang penting dapat duit”. Ada juga yang bermodel sebagai “dewan juri”, yaitu mereka yang sering menganakemaskan satu anak dan mengabaikan yang lainnya. Ada juga yang “kaku”, hanya paham mata kuliah yang diampunya semata dan tidak yang lain. Ada pula yang tidak tahu-menahu sebuah arti semangat belajar mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat kontras dengan sosok Pak Rosyid. Aku dapat melihat secara kasat mata, bahwa beliau mengajar bukan karena apa-apa, melainkan karena kecintaannya kepada ilmu. Beliau tidak pernah menganakemaskan satu anak diantara yang lainnya. Beliau juga tidak kaku, berpengetahuan sangat luas, dan sering membuka cakrawala berpikir mahasiswa-mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata beliau yang selalu menggaum dalam kesadaranku, “kalian boleh saat ini tidak paham, tetapi tidak untuk saat yang lain. Tugas arif seorang ilmuwan adalah belajar dan belajar, berpikir dan bermenung, lalu menyumbangkan pengetahuannya untuk kemaslahatan peradaban manusia ke depan. Telah lama bangsa ini menunggu generasi-generasi penerusnya yang betul-betul konsisten dan punya integritas yang tinggi terhadap yang mereka tekuni”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat visi integritas-interkoneksitas kampus UIN Sunan Kalijaga, selama pengalamanku diajar oleh dosen-dosen Saintek, hanya beliau yang kiranya sangat paham dan matang dalam mengomunikasikan antara wahyu dan sains. Beliau pernah berkata di hadapan kami saat mengajar Astronomi, “bidang penelitian saya yang sedang saya tekuni adalah mengenai mekanika langit. Saya senantiasa skeptis dengan teori-teori yang diciptakan oleh fisikawan-astronomer Barat jika hal itu bertentangan dengan al-Qur’an. Penelitian-penelitian yang saya hasilkan selalu merujuk terhadap kebenaran dalam al-Qur’an, karena itu keyakinan saya.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai tahu eksistensi beliau sebagai ilmuwan, salah satunya, ketika ikut bedah buku “Ayat-Ayat Semesta” oleh Bapak Dr. Agus Purwanto (fisikawan nuklir ITS). Pak Agus bilang, Indonesia hingga kini hanya memiliki 15 fisikawan yang berkredebilitas internasional, dan salah satunya ialah Pak Rosyid. Hebat! – pikirku. Aku punya dosen hebat. Dan merasa sangat beruntung, setidaknya pernah diajar oleh dosen berkaliber internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku mulai penasaran dengan sosok Pak Rosyid. Aku coba ketik nama MF. Rosyid di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;google scholar&lt;/span&gt; (ruang maya yang menghimpun artikel-artikel seputar fisika dan matematika). Aku menemukan artikel beliau yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;On The Structure of Quantizable Algebras of The Products of Symplectic Manifolds with Polarizations&lt;/span&gt; atas nama beliau sendiri. Selain itu, ada beberapa artikel lain yang sudah kulupa judulnya. Artikel-artikel beliau yang aku temukan memang bukan yang dimuat di jurnal-jurnal internasional, tetapi di jurnal nasional. Ini hanya persoalan glamoritas, alih-alih juga persoalan keuangan (karena sepengetahuanku, untuk memuat tulisan di jurnal internasional, penulis harus mengeluarkan kocek 10 juta per tujuh halaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, aku juga menemukan di google daftar keynot speeker dalam simposium-simposium fisika nasional dan internasional di mana tersemat nama dan judul karya Pak Rosyid. Dari sana aku mulai paham bahwa Pak Rosyid adalah fisikawan kuantum dan teoris astronomi, serta ahli matematika terapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, bagiku, yang terpenting adalah tentang sikap dan sifat Pak Rosyid sebagai entitas akademik. Pak Rosyid memberikan kebebasan berekspresi kepada mahasiswa-mahasiswanya. Ketika di dalam kelas, beliau suka berhumor, mengritik pemerintah dan banyak mengulas isi-isi al-Qur’an, terutama tentang fenomena alam dan kewajiban umat Islam dalam mendalami ilmu. Ketika beliau mengajar, terutama astrofisika (semester lima), sangat tampak betapa penguasaannya terhadap ilmu itu sangat tinggi dan dapat dengan mudah mengomunikasikan teori-teori yang rumit kepada mahasiswa-mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali beliau bicara tentang demokrasi. Kata beliau, “di dalam demokrasi, suara seorang kiai sama nilainya dengan seorang biasa, suara seorang profesor sama nilainya dengan suara seorang preman”. Aku memikirkan dan merenungkannya dalam-dalam, dan segera mencari dan membaca buku-buku tentang demokrasi. Aku menulis opini untuk menyampaikan gagasan Pak Rosyid itu. Dan, Alhamdulillah, opiniku itu di muat di koran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Joglosemar&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali dalam kuliahnya di FMIPA UGM, beliau berhumor. Katanya, “ternyata banyak kalimat yang diwariskan oleh pendahulu kita salah. Salah satunya, mereka berkata, ‘belajar untuk mengejar ketertinggalan. Padahal seharusnya, ‘belajar untuk mengejar kemajuan’”. Dan banyak humor-humor lain yang sering beliau lontarkan di tengah-tengah memberikan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Biodata Pak Rosyid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dr. rer.nat. Muhammad Farchani Rosyid&lt;/span&gt;, lahir di Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juli 1968. Pendidikan dasar sampai menengah atas diselesaikan olehnya di tempat kelahiran dari tahun 1975 sampai tahun 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Rosyid menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) fisika teori pada jurusan fisika FMIPA UGM pada tahun 1992 dan strata dua (S2) fisika teori di universitas yang sama pada tahun 1995. Derajad doktor diperolehnya pada tahun 2000 dalam Fisika Matematika (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mathematical Physics&lt;/span&gt;) dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Technische Universität Clausthal, Republik Federal Jerman &lt;/span&gt;dengan dissertasi berjudul : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zum Zusammenhang zwischen geometrischer Quantisierung und Borel-Quantisierung. (On the Relation between Geometric Quantization and Borel-Quantization).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang penelitian yang diminatinya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Topological and differential geometrical methods in Physics, Theory of Quantization, Groups and Symmetries, Mathematical Foundations of Quantum Theory. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Pekerjaan: - Asisten Dosen pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1992-1996) - Staf peneliti pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arnold-Sommerfeld-Institut für Mathematische Physik, Technische Universität Clausthal, Jerman &lt;/span&gt;(1996-2000) - Staf Pengajar pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (sejak tahun 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, beliau adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;my best dosent&lt;/span&gt;!&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; (05-11-2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3323613703509270402?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3323613703509270402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3323613703509270402&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3323613703509270402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3323613703509270402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/11/dosenku-yang-paling-aku-kagumi.html' title='DOSENKU YANG PALING AKU KAGUMI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2346815602529002857</id><published>2009-11-05T18:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T18:05:08.420-08:00</updated><title type='text'>AKU ORANG PESANTREN</title><content type='html'>Mungkin aku memang tidak bisa lari dari kenyataan latar belakangku, bahwa aku ini adalah anak pesantren tulen. Karena setiap kali aku berpikir untuk melepaskan diri dari latar belakangku itu, selalu saja tersebat di hati perasaan bersalah dan sesuatu yang lalu membuatku ragu akan keberadaanku yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tidak bisa baca kitab kuning, setidaknya sampai aku keluar dari pesantrenku, PP. Annuqayah Daerah Lubangsa (2000-2006); tidak bisa berkhotbah dan berceramah; penampilan luaranku juga tidak menampakkan bahwa aku adalah seorang yang benar-benar santri; di pesantren juga aku sering melanggar peraturan, dan banyak teman-teman santri yang bilang, kesantrianku masih perlu dipertanyakan. Tapi entah mengapa, di dalam diriku seperti ada sesuatu yang tak bisa aku elakkan: mungkin ghirah kesantrian, mungkin juga diri kepesantrenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, semasih jadi santri, aku berpikir tentang hal yang macam-macam. Menurut pikiranku kala itu, jadi santri adalah suatu hal yang paling buruk dalam pengalaman hidup. Santri itu adalah lambang dari kekolotan, keterasingan dari gaung peradaban, bagian dari orang-orang yang tidak akan pernah maju-maju, selamanya. Aku juga berpikir, bahwa dalam kenyataanku, aku tidak cocok jadi santri, dengan alasan yang seringkali kubuat-buat sendiri dan kubenarkan sendiri. Pokoknya, ah..waktu itu aku sangat menyesali tuntutan orang tuaku yang membuatku terkurung dalam “kubangan kejumudan” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari pesantren pun, pikiran-pikiran semacam itu terus menghantuiku. Pada awal-awal di Jogja (2006) – dan ini berlanjut sampai awal-awal aku jadi mahasiswa (2007) – aku selalu mengelak dari kenyataan latar belakangku. Meskipun di Jogja aku juga hidup di pesantren (PP. Mahasiswa Hasyim Asyi’arie), aku tidak mau orang-orang tahu kalau aku santri. Ketika berkenalan dengan teman-teman kampus, misalnya, aku selalu bilang bahwa aku bukan lulusan Madrasah Aliah, tetapi SMA (identitas Annuqayahnya aku buang), dan juga bahwa tempatku memang bukan di kost, tetapi di asrama mahasiswa (untuk setidaknya tidak mengatakan di pesantren).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sepandai-pandainya orang menyimpan kebenaran, kelak pasti terungkap juga. Akhirnya teman-temanku tahu – bahkan semua orang – kalau aku seorang santri, orang pesantren tulen, produk asli suatu ruang hidup yang dulu aku anggap sebagai “kubang kejumudan”. Meski pada awalnya aku kecewa dengan semua ini, setidaknya aku puas bahwa aku mulai paham dengan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, ruh kesantrian dalam diriku tidak pernah bisa dihapus atau dipermak sedemikian rupa, bahkan hingga kini – dan aku harap untuk selamanya. Kesantrian memang kadang menimbulkan suatu kecenderungan yang “tidak enak di dengar”, tetapi tidak buatku kini. Aku sudah mulai sadar bahwa selamanya aku tidak bisa memaksakan diri untuk selalu mengelak dari latar belakang yang telah memahat hidupku. Aku adalah santri, dan hal ini tidak bisa dihapus dari catatan hidupku, oleh siapa pun, sekalipun oleh diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini sudah merasa cukup bangga dengan kesantrianku, meski hingga detik ini pun aku belum bisa baca kitab kuning, belum bisa jadi khotib atau penceramah, bahkan belum bisa secara benar “memasang songkok dan melipat sarung sendiri”. Kesantrian adalah identitasku, ruh hidupku, suatu bagian yang kini aku rasakan telah menimbulkan efek luar biasa dalam proses kreativitasku, juga proses pembentukan kepribadianku. Bahkan dalam diriku kini tersimpan suatu ambisi: aku ingin menunjukkan kepada publik bahwa stereotipe jelek terhadap santri dan pesantren adalah salah total. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(02-10-2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2346815602529002857?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2346815602529002857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2346815602529002857&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2346815602529002857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2346815602529002857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/11/aku-orang-pesantren.html' title='AKU ORANG PESANTREN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-8379294838901004234</id><published>2009-10-09T00:25:00.001-07:00</published><updated>2009-10-09T00:25:31.605-07:00</updated><title type='text'>CATATAN TENTANG MUSIK</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik, bagiku, adalah ruang kelam, dimana kenangan adalah ruhnya. Aku tak benar-benar bisa mengatakan bahwa aku adalah seorang melankolis. Aku berfikir, kenangan kadang menyesatkan seseorang, karena menurutku manusia adalah masa depan, dan karenanya kenangan tak mendapatkan tempat untuk itu. Aku termasuk seseorang yang berpikir tentang masa depan, tentang pembangunan, tentang sebuah impian. Tapi dengan musik, segalanya menjadi berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasa bahwa masa depan begitu jahat, serupa pembunuh yang siap dengan parangnya menunggu manusia. Tiba-tiba masa depan seperti suatu masa yang amat mencekam.&lt;br /&gt;Barangkali hanya kata ”rindu” yang cukup berdamai denganku. Rindu dan musik, akan halnya tangkai dan bunga, kapas dan api, pagi dan dingin. Rindu adalah semacam ruang dimana waktu yang telah jauh ditinggal bangkit kembali memanggil-manggil kita. Suatu waktu yang bahkan kita tak akan melupannya selamanya, selama hidup kita. Dan itu, sepengalamanku, musiklah yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika musik mengalun, aku seperti seseorang yang tak pernah ada. Segalanya menjadi asing. Bahkan diriku sendiri. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(09 Oktober 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-8379294838901004234?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/8379294838901004234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=8379294838901004234&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8379294838901004234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8379294838901004234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/10/catatan-tentang-musik.html' title='CATATAN TENTANG MUSIK'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-5511232789991809201</id><published>2009-10-09T00:19:00.001-07:00</published><updated>2009-10-09T00:19:53.039-07:00</updated><title type='text'>Tentang Pemikir Indonesia Paling Unik dan Brilian</title><content type='html'>(Hidayat Nataatmadja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat Nataatmadja, aku baru mengenalnya sekitar pertengahan tahun 2007 lewat karya keroyokannya, yakni Ilmu Humanistik. Ia barangkali tidaklah begitu terkenal dan tenar seperti, misalnya, Nurcholis Madjid, Selo Sumardjan, Ahmad Baiquni atau ilmuwan-ilmuwan Indonesia lainnya. Ia bagai seluet merah yang lebih panas menyala di tengah-tengah gemerlap cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ia tidak menjadi begitu terkenal, sebuah pertanyaan yang kadang menggelisahkanku. Tetapi tidak lama setelah aku cari tahu ternyata ialah karena pendiriannya yang keras dan “tanpa aturan ilmiah” sehingga menjadikannya terkucilkan – untuk tidak mengatakan dikucilkan – di tengah-tengah aktivitas intelektualisme kita. Watak Hidayat memanglah begitu: keras, kasar, sangar, “narcis”, “sombong dan sok”, “tanpa aturan”, “serabutan”, serta stereotip-stereotip negative intelektualitas lainnya; itu bisa dilihat dari tulisan-tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meski demikian, melalui karya-karyanya kesadaranku kemudian menjadi tergugah, sehingga akhirnya aku dapat menyimpulkan bahwa perangkat dasar seorang ilmuwan adalah logika dan imajinasi. Logika dan imajinasi yang dimaksud di sini adalah apa yang dapat dikatakan sebagai “logika terbalik” dan “imajinasi tingkat tinggi”. Logika terbalik ialah pola pikir yang cenderung bertolak dari frame umum, yaitu, misalnya, bila kebanyakan orang memandang bulu, mata, suara dan objek lainnya untuk mengambil pengetahuan mengenai kucing, maka ia mengambil jalan dengan menganalisanya dari sudut pandang tikus sebagai mahluk yang menjadi musuh utama kucing. Sementara imajinasi tingkat tinggi adalah, misalnya, apabila orang kebanyakan berimajinasi mengenai tata surya, maka ia lebih dari itu, yakni alam semesta secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diajarkan Hidayat secara tersirat dalam tulisan-tulisannya terletak pada dua hal tersebut. Tulisan-tulisannya memanglah serabutan. Ia kerap kali bicara tentang agama, pancasila, teori ekonomi dan teori fisika dalam satu pokok tulisan. Hal ini yang sering membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenanya diinginkan oleh Hidayat? Mengapa ia tidak menggeluti ilmu ekonomi – catatan: ia meraih doctor ekonomi di salah satu universitas Amerika – sebagai strudi utamanya ketimbang serabutan yang seperti tidak “menemukan arah”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur dalam tulisan-tulisannya rata-rata tidak memenuhi aturan ilmiah. Cara ia menyampaikan demikian juga: kadang ngelantur, kasar, bertele-tele, juga sama sekali keluar dari batas kewajaran karya ilmiah. Akhirnya hal ini berkonsekuensi pada nalar analitis yang dibangun di dalam tulisannya tersebut. Sebagai contoh, apa yang ia munculkan seperti teori psy-war dan Ilmu Humanistik versinya sebenarnya merupakan ide yang amat brilian, tetapi karena tidak ditopang oleh keseriusan cara penulisan, teori dan ilmu yang dibangunnya tersebut tidak memenuhi standart atau criteria umum untuk diterima publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang satu-satunya pemikir yang memiliki frame dan wilayah garapan paling unik di antara pemikir-pemikir lainnya di Indonesia yang aku kenal. Tetapi ide-idenya, inovasi pemikirannya, kecermatan pembacaan dan kedalaman renungannya sangat luar biasa. Membaca karya-karyanya sering aku dibuat tertegun dan bertanya-tanya, bagaimanakah pemikiran Hidayat sampai pada batas wacara yang tidak sempat dipikirkan atau dirambahi oleh orang sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah penemu teori-teori bahkan cabang disiplin ilmu baru yang mencengangkan. Seakan ia tidak mau berkarya dengan ide-ide yang basi dan “linier”, tetapi ia hanya ingin berkarya dengan segepok pemikiran yang betul-betul murni sebagai pencapaian yang sangat mengesankan. Tetapi sayang – mungkin karena a priori-nya terhadap prosedur ilmiah – teori-teori dan ilmu baru yang ia bangun tidak ditopang oleh kejernihan dan kedalaman karya dengan batas yang menggembirakan. Teori-teori dan ilmu barunya bagai bangunan rumah yang hanya diselesaikan dasarnya, tetapi tidak seutuhnya. Mungkin karena hal inilah teori-teori dan ilmu baru Hidayat minim apresiasi publik, bahkan dicibir dan dicemooh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi terlebih dari itu, aku betul-betul mengagiminya, salut dengan semangat dan cara ia memandang sesuatu. Ia menguasai banyak hal, dari ekonomi, fisika, al-ghazali, dan pancasila, dan ia juga tahu bagaimana ia mesti membalas hutang budi dengan mengembangkan ilmu-ilmu itu. Ia adalah fenomena bagi dunia keintelektualan Indonesia. Ia adalah tonggak yang bertuliskan, “kita jangan hanya jadi konsumen ilmu, tetapi juga harus jadi produsen”. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(04 Oktober 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-5511232789991809201?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/5511232789991809201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=5511232789991809201&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5511232789991809201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5511232789991809201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/10/tentang-pemikir-indonesia-paling-unik.html' title='Tentang Pemikir Indonesia Paling Unik dan Brilian'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7245661756830347110</id><published>2009-10-09T00:17:00.002-07:00</published><updated>2009-10-09T00:18:06.990-07:00</updated><title type='text'>KEHILANGAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah yang berarti di dunia ini&lt;br /&gt;dan lebih berarti daripada kehilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunga yang tumbuh kini&lt;br /&gt;kelak akan layu dan mati&lt;br /&gt;lalu hilang pesona dan baunya&lt;br /&gt;seperti akan juga kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup memang tak istimewa, kasihku&lt;br /&gt;kini kau milikku&lt;br /&gt;tapi mungkin tidak di saat yang lain&lt;br /&gt;karena setiap perjumpaan&lt;br /&gt;selalu menjanjikan kehilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi jangan kau takut dan sedih&lt;br /&gt;cinta adalah kemungkinan&lt;br /&gt;yang tak harus dipaksakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarkanlah segalanya datang&lt;br /&gt;segalanya menghilang&lt;br /&gt;bagai ombak yang bertandang dan pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7245661756830347110?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7245661756830347110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7245661756830347110&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7245661756830347110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7245661756830347110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/10/kehilangan.html' title='KEHILANGAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-4593123292384239108</id><published>2009-10-09T00:17:00.001-07:00</published><updated>2009-10-09T00:17:42.492-07:00</updated><title type='text'>SENYUMMU ADALAH MALAM PADAKU</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senyummu adalah malam padaku&lt;br /&gt;selalu menyisakan kelam pada mataku yang buta&lt;br /&gt;yang hanya bisa merapal nasib sendiri&lt;br /&gt;di dalam kubangan cinta yang gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku yang terus saja berjalan, bagai hanya terdiam&lt;br /&gt;menekuri butir-butir debu di kakiku&lt;br /&gt;masa depan, seperti juga kenangan&lt;br /&gt;hanya menyediakan kekalahan demi kekalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak pernah mampu mengelak segala yang datang padaku&lt;br /&gt;tetapi aku juga merasa tak mampu memilikinya&lt;br /&gt;kisah hidup menjadi sedemikian asing&lt;br /&gt;seperti sinar matamu yang tak menjanjikan apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang aku merasa lelah memikul nasibmu, kekasihku&lt;br /&gt;menyimpan cintamu yang fana&lt;br /&gt;tetapi aku juga tak mengerti&lt;br /&gt;mengapa segala yang kutatap adalah dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa waktu begitu rentan&lt;br /&gt;untuk setiap kenangan&lt;br /&gt;mengapa ia memberikanmu padaku&lt;br /&gt;jika akhirnya kumiliki kau&lt;br /&gt;hanya dalam ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini aku hanya bisa menulis puisi&lt;br /&gt;belajar menyimpan luka dalam kata-kata&lt;br /&gt;sebab aku tak percaya lagi&lt;br /&gt;pada impian yang membusuk di kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-4593123292384239108?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/4593123292384239108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=4593123292384239108&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4593123292384239108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4593123292384239108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/10/senyummu-adalah-malam-padaku.html' title='SENYUMMU ADALAH MALAM PADAKU'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1201569772780534822</id><published>2009-10-09T00:16:00.002-07:00</published><updated>2009-10-09T00:17:08.448-07:00</updated><title type='text'>ALIENASI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam cahaya, adakah kau lihat mimpi itu&lt;br /&gt;dalam kerling mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suara, adakah kau mendengarnya&lt;br /&gt;antara diam dan berkata-kata&lt;br /&gt;antara lengang dan hitam cuaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesuatu tak mungkin terjadi, kekasihku&lt;br /&gt;dalam sepi yang menyendiri&lt;br /&gt;sebab pada ketakpastian&lt;br /&gt;segalanya berasal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 2009 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1201569772780534822?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1201569772780534822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1201569772780534822&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1201569772780534822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1201569772780534822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/10/alienasi.html' title='ALIENASI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-506256790943599184</id><published>2009-10-09T00:16:00.001-07:00</published><updated>2009-10-09T00:16:44.315-07:00</updated><title type='text'>DI TANAH INI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tanah ini, kusunyikan angin&lt;br /&gt;dari aus tubuh, anyir darah&lt;br /&gt;dan nafsu perburuanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulukis musim dengan keheningan langit&lt;br /&gt;kutaburkan sejuta warna dan kisah-kisah&lt;br /&gt;kesucian cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuangkat lagi gugur daun-daun&lt;br /&gt;kumekarkan layu bunga-bunga&lt;br /&gt;– untuk menghapus sisa-sisa jejakmu –&lt;br /&gt;kurekatkan sukmaku ke lubuk sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu aku akan berkata, seperti juga mereka:&lt;br /&gt;“mari simpan dalam-dalam&lt;br /&gt;segala rencana dan masa silam&lt;br /&gt;segala mimpi buruk tentang luka dan air mata”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;dasuk, 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-506256790943599184?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/506256790943599184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=506256790943599184&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/506256790943599184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/506256790943599184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/10/di-tanah-ini.html' title='DI TANAH INI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-5097995750975532860</id><published>2009-10-09T00:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T00:16:07.422-07:00</updated><title type='text'>DI SAAT JALAN BEGITU KEDAP</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di saat jalan begitu kedap&lt;br /&gt;tangan dan mataku&lt;br /&gt;tak mampu berdamai&lt;br /&gt;dengan warna-warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang tertawa dalam kabut&lt;br /&gt;ada yang menangis dalam pagut&lt;br /&gt;dan waktu ibarat langkah&lt;br /&gt;berderap dalam rahasia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segalanya mengalir&lt;br /&gt;seperti bayang&lt;br /&gt;ke palung pejam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-5097995750975532860?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/5097995750975532860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=5097995750975532860&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5097995750975532860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/5097995750975532860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/10/di-saat-jalan-begitu-kedap.html' title='DI SAAT JALAN BEGITU KEDAP'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3174386423833125053</id><published>2009-08-20T21:07:00.002-07:00</published><updated>2009-08-20T21:08:13.215-07:00</updated><title type='text'>Tantangan Dalam Hidup</title><content type='html'>Tantangan paling besar dalam hidup manusia adalah pertama, menetapkan jiwa dan pikirannya senantiasa dalam kedamaian. Kedua, mencegah diri dari upaya merecoki atau bahkan mengambil hak orang lain. Setiap orang bisa berpikir tentang kearifan, tepi tidak setiap orang dapat berbuat arif, baik kepada orang lain, lebih-lebih pada dirinya sendiri.&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; (Dasuk, 6 Agustus 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3174386423833125053?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3174386423833125053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3174386423833125053&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3174386423833125053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3174386423833125053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/08/tantangan-dalam-hidup.html' title='Tantangan Dalam Hidup'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2817377164412758085</id><published>2009-08-20T21:07:00.001-07:00</published><updated>2009-08-20T21:07:44.286-07:00</updated><title type='text'>Hal Yang Paling Aku Benci</title><content type='html'>Hal yang paling aku benci adalah kekerasan. Menyakiti orang bagiku adalah kesalahan paling fatal dalam hidup manusia. Setiap orang sama-sama punya hak untuk senantiasa hidup dalam kedamaian. Hak itu tidak bisa diganggu gugat dengan cara apa pun, apalagi dengan kekerasan. Bila mana ada masalah, persoalan atau konflik dalam masyarakat, memang itulah hidup. Hidup dan masalah adalah satu, bagai hati dan perasaan. Yang paling penting dalam masalah adalah bagaimana cara memecahkannya. Tugas manusia adalah memecahkan segala permasalahannya sedemikian sehingga kedamaian kembali terajut. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Dasuk, 4 Agustus 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2817377164412758085?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2817377164412758085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2817377164412758085&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2817377164412758085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2817377164412758085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/08/hal-yang-paling-aku-benci.html' title='Hal Yang Paling Aku Benci'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7134083003391731254</id><published>2009-08-20T21:06:00.002-07:00</published><updated>2009-08-20T21:07:18.166-07:00</updated><title type='text'>Rasa Sedih Balik ke Tanah Rantau</title><content type='html'>Perasaan berat tiap kali meninggalkan rumah mungkin tiap orang merasakannya. Perasaan semacam ini sangat manusiawi. Aku tidak yakin, sekuat-kuatnya hati seseorang ketika berangkat merantau tidak merasa sedih sama sekali meninggalkan rumahnya. Perasaan semacam ini juga aku rasakan. Aku selalu merasa sangat berat sekali tiap kali mau berangkat ke tanah rantau. Dan ini sangat menghantuiku. Membuat hatiku senantiasa tidak nyaman, tidak damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa, tanah kelahiran adalah segalanya bagiku. Bukan hanya sekedar tempat aku pertama kali melihat matahari, mengenal lingkungan sekitar, atau mencium betapa anyirnya bau bumi. Ia bagai sesuatu yang sedemikian menatah jiwa dan ragaku, memalungkan cabik waktu pada darahku. Meski aku tahu –setelah mengenal banyak hal di perantauan– orang-orang rumah tidak sejalan dengan garis hidupku, dan karenanya ada rasa sedikit tidak senang pada diriku, tapi bagai sepasang kekasih abadi, aku mencintai mereka semua tanpa alasan apa pun. Aku benar-benar mencintai mereka, jiwa dan raga. Aku mencintai tanah Kerta Timur, karena itu aku juga mencintai orang-orang Kerta Timur.&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Dasuk, 11 Agustus 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7134083003391731254?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7134083003391731254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7134083003391731254&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7134083003391731254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7134083003391731254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/08/rasa-sedih-balik-ke-tanah-rantau.html' title='Rasa Sedih Balik ke Tanah Rantau'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1349289389090997199</id><published>2009-08-20T21:06:00.001-07:00</published><updated>2009-08-20T21:06:42.117-07:00</updated><title type='text'>Liburan Semester Empat</title><content type='html'>Liburan semester empat ini sungguh tak ada yang istimewa. Rumah baru rupanya tak membawa perubahan di batinku. Lama tak jumpa keluarga, sesuatu yang kukira sumber kebahagiaanku, tak membuatku merasakan hausnya rinduku. Aku hanya seperti perantau yang pulang tanpa kesan apa-apa, kecuali ratap yang sama sebagaimana sebelum aku meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gundah-gulanaku melihat kondisi keluarga masih pula bertahan dalam hatiku selama kurang-lebih tiga tahun dalam perantauanku di Yogyakarta. Entahlah, aku bingung dengan diriku sendiri. Mungkin hal inilah yang membuat liburanku tak istimewa. Aku berpikir, kebahagiaan tidak terletak pada rindu yang terselamatkan, tapi lebih pada aura hati dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ekonomi keluarga barangkali adalah hal yang paling utama yang aku risaukan. Hutang emakku yang semakin bertumpuk, ditambah tidak jelasnya pemasukan menjadikan keluargaku terpuruk dan kian takut menatap masa depan. Hatiku selalu menangis ketika pagi, siang dan malam melihat emakku pamit keluar rumah barang sebentar hanya untuk cari pinjaman uang buat kebutuhan harian kami. Lebih menyakitkan lagi ketika emakku tak dapat hutangan, lalu seperti antrian, orang-orang datang ke rumah buat menagih hutang. Ya Tuhan, kapan kondisi semacam ini leyap dari kehidupan keluargaku? Kami berlindung kepadaMu dari segala hal yang membuat kerapuhan pada jiwa dan hati kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua adalah soal kondisi keluargaku perseorangan. Nenekku yang sudah tua sering sakit-sakitan, kenakalan adikku yang amat merisaukanku dan wajah ibu yang selalu memancarkan aura kesedihan pada jiwaku, membuatku begitu tertekan. Kadang aku berpikir untuk menyudahi saja perantauanku, dan bertahan di rumah untuk meringankan beban dan menjaga keluarga. Tapi aku juga tidak berdaya meninggalkan kuliahku di Jogja dan membuat mereka kecewa kepadaku. Entahlah, aku sangat bingung dengan hal ini. Lebih-lebih tidak kuasa mengambil keputusan. Dalam hidup, kadang seseorang memang dihadapkan pada dua persoalan yang sangat rumit untuk memilih salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku sungguh luar biasa bersyukur kepada Tuhan, lantara dengan keadaan sesulit itu, keluargaku baik-baik saja, tidak ada yang terkena penyakit berat akan halnya tetanggaku yang dalam hari-hari ini ada beberapa yang masuk rumah sakit dengan biaya yang sangat besar. Tak ada cobaan begitu berat yang menimpa kami. Kami toh tetap ceria, damai dan besar hati menghadapi hidup kami yang terhimpit ini. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu berdoa kepada Tuhan, semoga kami tidak diberi cobaan besar dimana kami tidak kuasa menanggungnya. Semoga Allah senantiasa memberkahi kami, menguatkan dan memberikan keikhlasan serta ketabahan bagi kami dalam mengarungi aras hidup ini. Semoga Allah menjauhkan kami dari bencana panyaket bhalai. Semoga Allah senantiasa meneguhkan keimanan kami, menguatkan keharmonisan dan tali kasih pada keluarga kami, serta menuntun kami kepada jaaln yang lurus. Amien yaa rabbal ‘alamien. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Dasuk, 26 Juli 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1349289389090997199?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1349289389090997199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1349289389090997199&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1349289389090997199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1349289389090997199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/08/liburan-semester-empat.html' title='Liburan Semester Empat'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-4859753979211608542</id><published>2009-08-20T21:04:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:13:04.975-07:00</updated><title type='text'>Registrasi Semester Lima</title><content type='html'>Setiap kali registrasi, aku selalu kebingungan, pusing, dan ah…aku tak bisa membayangkannya. Hampir-hampir selalu saja registrasiku terlambat. Masalahnya adalah apalagi kalau bukan karena uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat registrasi aku merasa hidupku diatur oleh uang. Semuanya serba uang. Meskipun tidak banyak-banyak amat, membayar uang kost dan kampus bagiku sangat menyesakkan. Bukan karena apa, karena selalu pada detik-detik itu aku merasa seakan tak punya kebebasan menentukan hidupku sendiri. Uang adalah raja bagi hidupku. Uang telah sebegitu menjeratku. Dan aku sungguh tak berdaya karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang untuk registrasi 850.000 rupiah, dan kost rata-rata butuh satu jutaan rupiah untuk tiap tahunnya. Jadi tiap tahun aku harus mengeluarkan uang dua juta tujuhratusan. Betul-betul itu harga yang sangat besar buat orang sepertiku: orang yang hidup mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba pikirkan, dari mana aku dapat uang sebanyak itu? Honor tulisan tidak terlalu memungkinkan tentunya, karena aku bukan tipe orang yang pintar menyimpan. Honor tulisan hanya cukup buat kebutuhan harian saja. Meski honor tulisan juga terbilang besar, biaya hidup di kota sebesar kota Jogja ini juga besar. Jadi, secara rata-rata honor tulisan hanya berbanding lurus dengan kebutuhan harian. Bahkan, honor tulisan pun tidak cukup untuk biaya harianku yang aku pikir semakin hari nampak semakin besar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hutang adalah jalan terakhir yang tidak boleh tidak harus aku lakukan. Hampir tiap semester aku selalu ngutang ke fakultas untuk biaya registrasi. Ditambah lagi hutang buat biaya kost. Dan tidak cukup hanya itu, untuk biaya harian pun kerap aku harus cari hutangan kesana kemari. Jadi kalau dipikir-pikir, aku ini sangat cocok dengan tipe orang pengutang kelas berat. Ah, hutang, manis tapi sangat menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi disamping semua itu, aku tidak cukup pikir, dari mana aku dapat uang buat membayar hutang-hutang yang semakin hari semakin besar itu? Tuhan ternyata lebih cerdik dari yang kita kira. Selalu ada jalan yang diberikanNya buatku bayar hutang-hutang itu. Kalau dikalkulasi secara ekonomis, sangat jelas semakin hari aku akan terbunuh oleh hutang-hutangku. Tapi di luar dugaan, kalkulasi ekonomis tidak tepat dijadikan standart ukuran secara universal dalam segala segmen hidup manusia. Mukjizat ternyata ada, dan aku sangat mempercayainya, karena telah benar-benar terbukti dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, syukurku padaMu. Meski selayaknya tidak cukup banyaknya debu di alam semesta ini untuk dosaku, Engkau begitu Maha Besar, Maha Adil dan Maha Penyayang kepada umatmu  yang teramat buruk ini. Engkau telah memberikan bahkan hal yang tak pernah aku pikirkan. Ini betul-betul rahmat yang luar biasa bagiku. Aku bertobat, berdoa dan tawakkal kepadaMu, Tuhanku. Amien yaa rabbal ‘alamien. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(Jogja, 17 Agustus 2009).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-4859753979211608542?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/4859753979211608542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=4859753979211608542&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4859753979211608542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4859753979211608542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/08/registrasi-semester-lima.html' title='Registrasi Semester Lima'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6774774296749515643</id><published>2009-06-30T21:58:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T22:00:29.653-07:00</updated><title type='text'>DAVID HILBERT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Hilbert ( 23 Januari 1862 - 14Februari 1943) – setelah aku membaca sedikit biografinya – adalah seorang ilmuwan Jerman yang telah membuatku paham arti pengembaraan mencari hakikat alam, sebuah spekulasi membaca pikiran Tuhan. Ia mengajarkan pentingnya menjadi manusia pembelajar, pemikir yang kuat dan konsisten, manusia yang merdeka dan tidak pernah main-main dengan impiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penuhilah panggilan intelektual dalam dirimu. Pelajari apa yang ingin kamu pelajari. Sangsikan apa yang telah kamu pelajari. Pikirkan ia sedalam mungkin. Jika akhirnya kamu tidak merasa puas dengan itu, bangunlah suatu sistem pemikiran yang kurang lebih kokoh, detail dan kebal akan serbuan pertanyaan-pertanyaan, agar hasratmu terpuaskan,” begitu seolah ia berkata padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kau berhenti pada satu bidang keilmuan. Jelajahi dan kuasailah semuanya, tapi jangan setengah-setengah. Kau harus memberikan kontribusi penting pada ilmu yang sedang kau pelajari. Caranya tidak lain kecuali membaca, merenung, berpikir dan menulis. Yang harus kau ingat adalah tidak ada waktu santai, lalai dan tidur begitu lama dalam berproses untuk itu semua,” demikian lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Hilbert adalah seorang jenius matematika yang telah memberikan kontribusi demikian banyaknya di dalam berbagai bidang matematika. Ia adalah fisikawan yang tanpanya barangkali Albert Einstein tidak cukup memiliki pilihan banyak dalam membangun dan mengembangkan Teori Relativitas Umumnya dan salah satu dari sedikit orang yang menyumbang terhadap berkembangnya Teori Mekanika Kuantum. Ia adalah orang pertama yang membuka ruang terhadap lahirnya Fisika Matematika. Ia adalah filosof  dan bapak Formalisme, satu aliran penting dalam filsafat logika modern, dimana kemudian mempengaruhi Bertrand Russel dan Alfred Whitehead. Ia adalah pelempar 23 problem matematika, fisika teori dan logika terbesar abad ke-20, dimana karenanya akan terbuka jalan pengembangan keilmuan fronteir di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah praktisi media yang selama kurang lebih 20 tahun mengabdikan dirinya sebagai redaktur ahli di jurnal matematika berpengaruh di zamannya, Annalen der Mathematik. Ia adalah akademisi yang telah mengabdikan dirinya di tiga universitas terkenal Jerman. Ia adalah mahaguru dari sejumlah generasi matematikawan, fisikawan dan logikawan yang kelak menjadi yang terdepan dalam bidangnya masing-masing. Ia adalah penganut Kristen Lutheran yang taat. Ia adalah nasionalis – tetapi bukan pengikut Nazi – yang dibuktikan dengan konsistensinya menetap dan ikut mengembangkan masyarakat Jerman – tidak seperti ilmuwan-ilmuwan lain yang terbiasa berpindah-pindah tempat dari satu negara ke negara lainnya. Terlebih dari itu, ia adalah lambang dari sosok manusia yang rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hilbert, mampukah aku sepertimu?,” selalu tanyaku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 27 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6774774296749515643?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6774774296749515643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6774774296749515643&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6774774296749515643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6774774296749515643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/david-hilbert.html' title='DAVID HILBERT'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-4415009140926074363</id><published>2009-06-30T21:56:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T21:58:06.692-07:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Kembali Ke Pangkuanmu, Kampung!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah melupakanmu, kampungku. Sama sekali tidak akan pernah. Tak sudi rasanya hatiku jika kelak aku tidak kembali kepangkuanmu. Aku akan kembali jika saatnya sudah tiba. Dan ini adalah janjiku pada diriku sendiri. Aku yang lahir dari rahimmu, maka aku harus kembali ke rahimmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah 9 tahun aku telah meninggalkanmu, bayang-bayangmu tidak pernah luntur dari pikiranku. Rinduku padamu sangatlah dalam. Semakin dalam bila kenangan-kenangan bersamamu muncul tiba-tiba. Entah bagaimana aku harus menggambarkannya. Yang pasti, ketika kerinduan itu muncul, aku selalu merasa asing hidup di tanah rantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu renyuh hatiku bila ingat kenangan itu. Tidak kuat rasanya aku menahan kerenyuhan hatiku. Benar-benar aku tidak tahan. Aku sama sekali tak berdaya. Apalagi jika dalam bayangan itu, aku ingat betapa waktu tak akan pernah mengembalikan apa yang telah terjadi, aku selalu mengutuk diri. Mengapa aku harus ditakdirkan merantau seperti ini? Tidakkah lebih baik bila aku tinggal di rumah saja, hidup bersama keluarga, teman-teman, orang-orang kampung yang biasanya dikatakan bodoh itu, menjalin cinta yang tulus bersama mereka semua? Tidakkah lebih baik jika aku tak harus mengejar cita-cita ke tempat yang begitu jauh, dan hidup sederhana sebagaimana anak-anak kampung lainnya bersamamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku tidak bisa membayangkan ini semua. Aku selalu takut mengambil keputusan. Jika muncul dalam diriku tarik-menarik antara pulang ke pangkuanmu dengan meneruskan perjalanan yang telah aku jalani ini, aku selalu diam dan hanya bisa menangis. Sangat ingin rasanya aku hidup bersandingan dengan keluarga, biar kelak ketika diantara mereka ada yang dipanggil Tuhan aku tidak merasa terlalu memiliki beban yang besar. Tetapi aku selalu tidak kuasa membuang begitu saja keinginan-keinginan mereka agar aku menuntut ilmu setinggi-tingginya di tanah perantauan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku hanya bisa pasrah, meski sebenarnya hatiku selalu bergejolak karenanya. Meski tak pernah ada dalam diriku setitik ketenangan dan kebahagiaan. Kau hanya ada sebatas dalam kenangan dan bayang-bayang. Dan selalu muncul dalam bentuk kerinduan yang tak dapat kulukiskan. Hanya kenangan dan bayang-bayang tentangmu yang dapat menghiburku. Dan tak ada selain itu. Hanya kenangan dan bayang-bayangmu yang membuatku masih merasa bahwa aku memilikimu, dan kau memilikiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hancur rasanya hatiku bila merenungkan semua ini. Seakan aku tak dapat mempertahankan apa-apa dari diriku jika telah datang kerinduan itu. Aku tak dapat berbuat apa-apa, dan sekali lagi, hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Dan kau tahu, menangisi kerinduan itu terasa sangat menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan, kampungku, maafkan aku. Tak ada yang bisa aku curahkan padamu. Tak ada jasa yang aku berikan padamu. Aku merasa seperti anak durhaka, orang yang tidak menghargai masa lalunya, tak berterima kasih pada yang telah melahirkan dan membesarkanku.&lt;br /&gt;Tetapi ketahuilah, aku sangat mencintaimu. Sangat merasa bahwa kau adalah satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku. Aku sangat bangga padamu. Sangatlah bangga. Bahkan melebihi kebanggaanku pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan kembali ke pangkuanmu, kampungku. Ingin merangkai hidup manis bersama keluarga, ingin merasakan hidup hangat bersama teman-teman dan orang-orang kampung. Ingin menjalani masa-masa kejayaan dan masa tua bersamamu. Bahkan, kelak aku ingin meninggal dan dikubur di rahimmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjanji pada diriku, aku akan kembali ke pangkuanmu, kampungku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Jogja, 27 Juni 2009&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-4415009140926074363?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/4415009140926074363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=4415009140926074363&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4415009140926074363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4415009140926074363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/aku-ingin-kembali-ke-pangkuanmu-kampung.html' title='Aku Ingin Kembali Ke Pangkuanmu, Kampung!'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-753609596050248332</id><published>2009-06-24T23:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-24T23:47:15.251-07:00</updated><title type='text'>Apakah Aku Tidak Berbakat Jadi Seorang Ilmuwan (?)</title><content type='html'>Otakku kini sudah terasa tua. Tak punya kekuatan dan ketajaman. Tumpul. Sepertinya hanya cocok dipergunakan oleh orang-orang yang tak mau berpikir keras, orang-orang yang sukanya nyantai, atau orang-orang yang tak punya beban apa pun dengan suatu proyek besar intelektual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di umur 21 ini, yang katanya otak masih dalam  kondisi subur-suburnya, aku sering menyangsikan, apakah hal tersebut benar? Padahal yang terjadi padaku justeru sebaliknya. Daya tangkapku lemah, demikian juga dengan daya ingatku. Kekuatan ketajaman analitisku sering kewalahan, kurang akurat melihat persoalan, bahkan terasa tumpul sama sekali. Untuk persoalan-persoalan yang sulit, sering kali aku tidak bisa menembusnya. Toh walaupun aku akhirnya bisa, itu masih membutuhkan suatu rangkaian pemikiran yang panjang. Tidak sama halnya dengan teman-teman seangkatanku.&lt;br /&gt;Pikiranku tidak inovatif. Kurang cerdas. Tak mau dengan suatu problem yang butuh kedalaman pemikiran. Tidak bisa menyelesaikan dua, tiga atau lebih persoalan dalam sekali waktu. Sering lupa dengan apa yang sudah dipelajari. Proses logika yang lambat. Dan banyak lagi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu, aku sering menyesal diri. Aku takut dan selalu bertanya-tanya, apakah aku tidak berbakat jadi seorang ilmuwan? Aku selalu berdoa kepada Tuhan, jika memang intelektualitas adalah jalanku, maka berikanlah padaku jalan yang lurus. Berikanlah aku kemampuan daya pikir yang tajam dan tangguh, kekuatan belajar dan kecerdasan, serta keteguhan hati. Tetapi apabila tidak, tuntunlah aku kepada jalan hidup yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tawakkal kepada Allahku, tapi aku akan terus berusaha.............!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 23 Juni 2009&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-753609596050248332?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/753609596050248332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=753609596050248332&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/753609596050248332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/753609596050248332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/apakah-aku-tidak-berbakat-jadi-seorang.html' title='Apakah Aku Tidak Berbakat Jadi Seorang Ilmuwan (?)'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1762144847779750926</id><published>2009-06-17T05:44:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:47:19.774-07:00</updated><title type='text'>KEMANTAPAN ITU...?!</title><content type='html'>Ada seorang teman menyatakan, bahwa semestinya mahasiswa yang sudah mencapai jenjang semester IV itu sudah paham betul bagaimana ia harus menyikapi ilmu yang ia pilih sebagai jurusan di kampusnya. Barangkali tak setiap orang yang akan menolak pendapat itu. Bagi mahasiswa yang memang sudah memiliki niat kuat sebelum ia benar-benar mengambil jurusan yang ia pilih nantinya, semester IV barangkali merupakan langkah awal pengembangan ilmu yang telah lebih setahun setengah ia tekuni sebagai bidang keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lain halnya dengan aku. Hingga semester IV ini, aku masih terlalu malu untuk dikatakan sebagai mahasiswa fisika, lantaran – sebelum segalanya menjadi berubah – aku tak pernah paham bahkan satu bab pun dalam topik fisika. Padahal mestinya, mahasiswa semester IV itu minimal sudah tahu dan paham dasar-dasar umum mata kuliah jurusannya. Meskipun ia tidak terlalu berhasrat dengan jurusan kuliahnya, namun setidaknya ia sudah dapat “meraba” atau sekedar berdebat dengan teman-temannya mengenai kasus-kasus yang berhubungan dengan topik kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pertanyaan yang sering terngiang-ngiang dalam dada, bagaimana mungkin aku dikatakan mahasiswa fisika semester IV sementara aku tak paham sama-sekali topik-topik fisika dasar I dan II? Atau barangkali terlalu menggelikan bila aku mengaku telah setahun setengah belajar fisika sementara sistem deferensial dan integral – dua sistem matematika terpenting untuk penerapannya dalam fisika – aku belum menguasainya, bahkan sekelumit pun? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hal yang benar-benar membuatku gelisah. Aku tidak mau kelak ketika sudah wisuda dianggap lulusan kacangan atau sarjana fisika “sampahan”. Aku tidak mau dikatakan ini dan itu (diolok-olok) mengenai pengetahuanku tentang fisika. Sangat memalukan rasanya jika seandainya kelak ditanya oleh seseorang mengenai pendidikanku, aku menjawabnya, “SARJANA FISIKA”, sementara ketika aku ditanya menganai gravitasi Newtonian atau rumus E = mc  Einstein, aku hanya geleng-geleng kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berawal dari masa lalu yang suram, masa lalu yang “haram” hukumnya diikuti oleh generasi di bawahku, yakni ketika aku baru memutuskan untuk kuliah dan aku tidak benar-benar mantap dengan pilihan jurusan yang akan aku pilih. Hal ini sebuah problem pelik yang berimplikasi sangat luar biasa bagi masa depan seseorang. Ceritanya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu SMA, aku tak benar-benar yakin kalau kelak akan kuliah. Aku tak dapat berharap banyak menjadi seorang mahasiswa, lantaran orang tuaku miskin, apalagi aku sudah tidak punya ayah. Ayahku meninggal dunia ketika aku masih kelas satu MTs. Tidak mungkin rasanya ibuku seorang diri mampu membiayai kuliah yang menurut cerita-cerita para tetangga membutuhkan biaya yang sangat besar. Apalagi kerjaannya cuma tani, dan hasil dari tani itu pun hanya cukup untuk biaya hidup harian keluarga. Dari itu aku pesimistis untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keajaiban muncul tiba-tiba. Entah apa gerangan ihwal yang mendorongku sehingga aku – ketika sudah lulus SMA – memiliki cita-cita besar (dan cita-cita itu hingga kini Alhamdulillah masih berpendar di dadaku), yakni menjadi seorang ilmuwan. Cita-cita itu membuatku “buta”. Aku sudah tidak tahu lagi bahwa aku ini anak orang miskin, bodoh, terbelakang, dan sebagainya. Yang penting bahwa aku harus mewujudkan cita-cita itu, apa pun jalan alasannya. Aku pikir dengan menjadi seorang ilmuwan, kelak aku dikenal banyak orang, dan semoga dengan jalan inilah aku dapat membahagiakan orang tuaku. Aku yang terkenal bodoh di kelas dan tidak pernah membuat orang tuaku menangis haru dengan prestasi-prestasi belajarku, ingin membuktikan pada mereka bahwa aku bisa menjadi seorang yang besar oleh ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, ya, Yogyakarta, itulah tujuan awalku. Ketika itu, dua orang kakak kelasku (M. Sanusi dan Yusrianto Elga) sudah terkenal menjadi seorang penulis sukses di Yogyakarta. Kutub adalah nama sebuah lembaga kepenulisan yang begitu menggemparkan yang telah membesarkan dua seniorku itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tanpa banyak pikir aku meminta restu dan sedikit uang buat ongkos (hanya 300 ribu) kepada orang tuaku dan aku berangkat ke Yogyakarta, ke lembaga Kutub tepatnya (waktu itu masih di Krapyak). Aku berproses menjadi seorang penulis di sana. Meskipun perih dan runyamnya hidup banyak menerpaku dalam berproses di Kutub, aku tidak peduli. Yang penting aku jadi seorang penulis, dan dengan begitu, aku pikir bahwa aku sudah melewati satu jenjang proses keintelektualan. Alhamdulillah – meskipun tidak begitu terkenal – kini aku sudah merasa menjadi seorang penulis yang dapat menulis dalam tema apa pun. Untuk itu, aku sangat berterima kasih kepada alm. Gus Zainal Arifin Thoha – guru hidup, intelektual dan spiritualitasku – yang telah membimbingku ke jalan yang semoga lurus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iming-iming kuliah muncul begitu saja sewaktu aku satu tahun di Jogja. Ini tak lepas dari pikiran bahwa seorang intelektual saat ini harus menempuh pendidikan formal. Lebih-lebih dorongan yang sifatnya eksternal, yakni agar tetangga kampungku tidak beranggapan negatif dengan tahu bahwa aku merantau ialah untuk kuliah. Karena sudah menjadi tradisi di kampungku bahwa orang merantau jauh-jauh dari desa harus jelas, kuliah atau kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UIN Sunan Kalijaga adalah satu-satunya kampus yang hanya mungkin aku masuki, karena dibanding kampus lain, biayanya tidak terlalu mahal (untuk tahun 2007, SPPnya 600 ribu). Lagi pula aku sudah banyak tahu bahwa UIN telah banyak melahirkan ilmuwan. Kebetulan rata-rata teman-temanku kuliah di sana, jalanku menjadi semakin terang dan lancar – meskipun untuk urusan keuangan selalu menimbulkan masalah. Tapi aku mau ngambil fakultas apa, jurusan apa, aku benar-benar tidak tahu waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, tak pernah terlintas dalam pikiranku untuk masuk jurusan fisika. Inginnya sih aku mau ngambil jurusan filsafat atau sosiologi. Tapi aku pikir-pikir lagi, jurusan itu kurang menjanjikan secara pragmatis buat masa depanku. Oleh karenanya aku meminta pendapat dari orang-orang yang aku percayai. Setelah itu, aku pertimbangkan semuanya, utamanya dua pendapat sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. dari orang-orang rumahku (semuanya aku akumulasikan). Mereka mengatakan bahwa untuk gampang mendapatkan pekerjaan kelak ketika aku pulang ke Madura, jurusan sains dan teknik sangat menjanjikan. Setelah aku pikir-pikir kembali, untuk teknik aku tidak memiliki dasar sama sekali. Maka pilihannya adalah tingga fisika dan matematika (karena biologi dan kimia menurutku sangat sulit waktu itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. dari guru sekaligus kepala sekolah SMAku, yakni KH. Hanif Hasan. Beliau selalu mewanti-wanti kepada seluruh siswa untuk ngambil jurusan sains dan teknologi daripada jurusan-jurusan yang “mengotak-atik” agama. Yang dibutuhkan umat Islam sekarang untuk mencapai kemajuan peradaban masa depan, kata beliau, adalah bukan memikirkan agama, tetapi memantapkan keagamaannya. Sains dan teknologi merupakan garapan yang sangat respektif untuk itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua pertimbangan itu, lalu aku putuskan mengambil jurusan fisika, meskipun aku tidak suka pelajaran itu. Waktu itu, aku pikir, fisika lebih mudah ketimbang matematika. Tetapi ternyata merupakan pelajaran paling rumit untuk jurusan sains. Lebih dari itu semua, jurusan yang telah aku ambil itu, ternyata problematis. Ternyata aku salah pilih jurusan. Mestinya untuk menjadi guru fisika, aku harus ngambil jurusan pendidikan fisika, bukan fisika murni. Ah, entahlah, ini adalah pilihan salah yang keberapakalinya aku lakukan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena pilihan salah itu, ditambah ketidaksukaanku dengan fisika, semester satu dan dua aku tidak serius kuliah. Tahun itu (2007-2008) adalah tahun suram pendidikan formalku. Dalam kurun tahun itu aku tidak pernah belajar fisika sama sekali. Di dalam kelas, kerjaanku cuma tidur saja atau ngoret-ngeret buku sendiri. Aku malas-malasan datang ke kampus. Kini, sekitar lima mata kuliah di dua semester itu harus aku ulang kembali, lantara tidak bisa ikut ujian akhir. Nilaiku hancur. IPku tidak sampai 2,24. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan semester tiga aku pilih cuti, karena aku sudah tidak kuat lagi dengan kehidupan kampus. Aku berpikir, jurusan fisika tidak cocok dengan karir intelektualitasku. Waktu itu, hampir aku pindah kampus, yakni ke UT (Universitas Terbuka) di Bantul. Di sana katanya boleh tidak masuk, tapi boleh ikut ujian. Asalkan memenuhi nilai standart kita naik kelas. Aku pikir dengan masuk UT, waktu untuk belajar sendiri semakin terbuka. Di sana biaya kampusnya hanya 400 ribu/semester. Jadi kalau aku masuk di sana, aku tidak perlu terlalu pusing memikirkan biaya kampus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untung aku terlambat daftar. Waktu itu pendaftaran awal tahun 2008 untuk semester ganjil. “Tragedi” ini mungkin rahmat yang memang dikhususkan Tuhan buatku, sehingga aku tidak salah pilih lagi (sehabis aku gagal daftar di UT, banyak aku dengar berita “kejanggalan-kejanggalan” mengenai UT). Ya, sudah, aku mantapkan untuk meneruskan kuliah di UIN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal aku masuk semester IV, kesadaran untuk belajar kembali dan mendalami fisika masih belum tumbuh dalam diriku. Baru ketika aku dihadapkan pada berbagai hal, kesadaran itu muncul. Misalnya, karena semester semakin tua, tuntutan untuk tahu dalam ujian, malu pada kebodohan, keinginan selalu bersaing dengan teman-teman, dan hal-hal lain yang sebelumnya tak pernah aku duga. Lebih-lebih – entah mungkin karena aku sering baca biografi para fisikawan dan berita-berita seputar fisika sering aku up-date di internet – dalam diriku muncul cita-cita yang hingga detik ini aku tidak paham mengapa ia harus hadir dalam hidupku, yakni ingin menjadi seorang fisikawan. Kadang aku tertawa sendiri jika ingat cita-cita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, fisikawan adalah merupakan sebuah cita-cita yang menurutku sangat tidak pantas diharapkan oleh seseorang yang sama sekali tidak punya dasar fisika dan matematika, juga oleh seseorang yang tidak memiliki kemampuan luar biasa dan intens dalam merambahi ruang pemikiran yang super rumit itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita menjadi seorang fisikawan memang cenderung problematis. Tapi entahlah – semenjak semester empat ini – aku selalu di dorong oleh cita-cita itu. Dan aku yakin, aku bisa mewujudkannya. Apakah keyakinan ini hanya ilusi, halusinasi, atau mimpi buruk, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah bahwa, aku yakin kelak bisa menyumbangkan sesuatu dalam ilmu ini. Meskipun saat ini aku masih belum menguasai sedikit hal dalam topik-topik fisika, tapi aku yakin aku akan jadi seorang fisikawan. Entahlah, sekali lagi, aku tidak paham dengan keyakinan ini. Mungkin teman-teman kelasku akan tertawa seandainya tahu cita-cita dan keyakinanku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka barangkali akan berkata, “bagaimana mungkin orang paling bodoh di kelas dan terbelakang penalarannya seperti fakih memiliki impian sebesar itu…?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang mahasiswa paling bodoh di kelas. Tidak memiliki dasar yang kokoh dalam fisika dan matematika. Pemahamanku, ingatanku, logika dan penalaranku, mungkin lebih rendah ketimbang teman-teman kelasku. Aku akui, mereka sudah jauh di depanku pemahaman fisikanya. Aku sangat bukanlah apa-apa dibanding mereka semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semenjak hari ini, semester ini, aku pikir hari masihlah panjang untuk mengejar mereka. Masih banyak waktu buatku untuk belajar keras. Aku kira, tak ada kata terlambat untuk hal ini. Bagaimanapun rendahnya kualitas otakku, keras kepala dalam belajar adalah jalan yang tidak boleh tidak harus aku lalui. Semoga dengan cara ini, aku bisa menyaingi mereka, atau bahkan melampaui mereka. Semester IV ini, ya, pada semester IV ini, semuanya akan berawal. (Teman-teman, maaf kalau aku terlalu arogan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, angkatlah hambaMu ini dari jurang kebodohan. Berikanlah kepadaku kekuatan pemahaman, kekuatan ingatan, ketajaman penalaran, ketetapan hati, kegigihan dan keistiqamahan dalam belajar. Tunjukkan dan bimbinglah aku ke jalanMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 21/05/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1762144847779750926?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1762144847779750926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1762144847779750926&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1762144847779750926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1762144847779750926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/kemantapan-itu.html' title='KEMANTAPAN ITU...?!'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-4320957013070031599</id><published>2009-06-17T05:42:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:43:26.546-07:00</updated><title type='text'>Surat Kepada Kekasih</title><content type='html'>Kini apa yang akan kau katakan tentang cinta. Segalanya telah berakhir. Dan aku tak mau tahu lagi apakah kau merasa sedih dengan kenyataan ini atau bahkan tidak sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan memang binatang yang paling kejam. Ia tak dapat ditundukkan hanya dengan sekedar perasaan. Namun hanya satu, kasih, yang tersisa untuk kita renungkan: sempurnakah penyesalan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula memang tak sempat kubayangkan, betapa kau adalah bunga yang tak pernah layu di hatiku. Kau telah tumbuh sedewasa ini. Dan aku telah memeliharanya sekuat hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mengapa juga kau serupa serigala: terus memburuku dan terus saja memburu. Betapa aku tak paham, mengapa aku harus berlari, seakan mengelak dari kenyataan. Tak mampu aku berucap apa-apa dengan perasaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan bukanlah kata pertama bagi perjalanan kita, namun ketidakberdayaan serupa pintu yang tak mampu kubuka meski aku telah berusaha untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku luluh, kasihku. Aku begitu luruh. Semuanya kini telah beranjak dan aku terdiam sepi. Aku tak lagi mampu membanyangkanmu. Aku tak mampu membayangkan betapa takdir adalah kehampaan. Namun apakah kau juga begitu, itulah pertanyaan yang tak pernah kutahu jawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu berhadap akan kesempurnaan, kasih, karena barangkali itulah kata yang paling tulus bagimu. Bagi cinta kita. Bahkan tanpa alasan, aku menginginkannya demikian. Tanpa memaknai betapa sungguh kerdilnya aku ini, aku yakin, kesempurnaan itu bagai titik terdalam dalam buah mata kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 10/09/08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-4320957013070031599?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/4320957013070031599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=4320957013070031599&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4320957013070031599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4320957013070031599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/surat-kepada-kekasih.html' title='Surat Kepada Kekasih'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-29935627982147147</id><published>2009-06-17T05:39:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:40:54.095-07:00</updated><title type='text'>Menggali Akar Kebudayaan Bangsa (?)</title><content type='html'>(Catatan Diskusi Budaya dan Bedah Buku Rhadar Panca Dahana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara Diskusi Budaya “Dialektika Seni dan Indonesia” dan bedah buku “Dalam Sebotol Coklat Cair” karya Radhar Panca Dahana yang diadakan oleh anak-anak Aqidah dan Filsafat UIN Suka pada hari Senin 26 Mei 2008 bertempat di Stadium Center (SC) UIN Suka, hadir tiga pembicara: Halim HD (seorang neteworker budaya), Radhar (penulis buku), dan Hairus Salim HS (pemerhati budaya dari LKiS). Diskusi itu juga dihadiri oleh berbagai lapisan pemuda, baik aktivis pergerakan, penyair, kritikus budaya, dan para utusan atau undangan dari beberapa organisasi pemuda di Yogyakarta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya diskusi budaya itu bukan terletak pada struktur dan pola acara yang disuguhkan oleh panitia, bukan pula karena buku yang dibedah menawarkan nuansa baru yang menyentak kesadaran para hadirin (maklum, buku itu adalah antologi essei yang tentu tidak sistematis), tetapi pada bagaimana pembahasan tentang kebudayaan dan tradisi bangsa dihadirkan sebagai ruang tafsir nasional yang kurang lebih menarik karena berkenaan dengan posisi bangsa yang kini sedang membutuhkan jawaban secara paradigmatik tentang memaknai kebudayaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, meskipun skeptisisme terhadap eksistensi dan perjalanan dialektika kebudayaan bangsa selalu hadir – baik dari pembicara maupun para penanya – dengan pernyataan-pernyataan yang seringkali memojokkan, namun dari sinilah tampak bahwa semangat nasionalisme ternyata belum luntur atau malah berkobar dalam diri bangsa Indonesia yang nyatanya kini sedang dihadapkan pada fenomena kebangsaan dimana pada batas terekstrim hendak melemahkan daya kesadaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sebagai genarasi muda bangsa – utamanya ketika diberi kesempatan angkat bicara oleh saudara moderator – tidak merasa risau, misalnya, pada pertanyaan yang seringkali dilontarkan oleh Radhar tentang apa arti kebudayaan bagi kita? Bukankah efektifitas kebudayaan dalam ruang sosial (dalam banyak pengalaman bangsa ini) justeru seringkali menimbulkan anarkisme dan bahkan disintegrasi? Lalu kenapa kita masih merasa perlu kepada kebudayaan bila sudah jelas bahwa kebudayaan itu sendiri tidak mampu memberikan pemaknaan terhadap hidup keseharian kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira pernyataan Radhar ini dalam tataran tertetu adalah bertolak dari sebuah semangat menghargai kebudayaan bangsa dalam bentuk mempertanyakannya sebagai dasar untuk merekonstruksi pemahaman kita bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang tidak hanya patut dihargai, melainkan turut pula dihayati. Atau jika tiga pertanyaan penting tersebut memang sangat mendesak untuk dijawab, maka cukuplah dengan hanya mengajukan salah satu poin dari ajaran Trisakti-nya Bung Karno, yang menandaskan suatu semangat kebangsaan untuk “berkepribadian dalam hal budaya”. &lt;br /&gt;Tidak terlalu sulit memang untuk menyatakan bahwa kebudayaan adalah sebuah identitas yang tampanya suatu bangsa barangkali tidak akan pernah menemukan titik pijak refleksi esensialitas kepribadiannya. Karena itu kebudayaan bukan hanya penting, tetapi barangkali sebuah keharusan yang tak terelakkan bagi suatu bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan pendek ini berusaha menanggapi beberapa uraian penting dari tiga orang pembicara pada diskusi budaya itu atau semacam koreksi ulang yang mempertanyakan, apakah pernyataan-pernyataan mereka tentang pola, struktur dan proses kebudayaan berkesuaian dengan paradigma konstruktif yang mendesah untuk diperbaharui maupun dengan realitas kekinian dimana konsep kebudayaan memerlukan pemaknaan ulang yang kurang lebih secara ekstrim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Adalah Hairus Salim yang menyatakan bahwa buku Rhadar itu merupakan percikan pemikiran yang hendak memberikan kemungkinan untuk mengembalikan kebudayaan bangsa kepada akar historisnya. Tidak jelas dia paparkan tentang bagaimana percikan pemikiran itu dibangun dan dikembangkan untuk menghindari segala celah yang menuntut untuk dipertanyakan. Misalnya tentang fenomena kebudayaan apa saja yang ditelaah oleh Rhadar dalam bukunya itu sebagai sampiran menuju pemecahan konstruktif dan solutif, atau tahapan dan prinsip apa yang harus dikembangkan oleh segenap masyarakat budaya dalam rangka menuju proses pembentukan kembali ke akar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama harus diperjelas bahwa tidak mudah dan selalu menemukan problematika pelik dalam setiap menangkap sesuatu tanpa mempertimbangkannya dalam segala dimensi tentangnya, misalnya dari sisi epistemologik, historis, substansi dan realitas anomali yang telah terjadi selama sesuatu itu dapat diketahui. Membicarakan segala kemungkinan untuk mengembalikan kebudayaan bangsa kepada akar pembentukannya, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit dalam merenungi pertanyaan, misalnya, adakah akar historis kebudayaan bangsa yang azali tanpa adanya modifikasi (realitas kebudayaan kita, menurut Salim, telah termodifikasi sedemikian rupa. Oleh karenanya harus dikembalikan kepada akarnya agar ruh kebudayaan kita menemukan momentum baiknya)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 23 Mei 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-29935627982147147?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/29935627982147147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=29935627982147147&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/29935627982147147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/29935627982147147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/menggali-akar-kebudayaan-bangsa.html' title='Menggali Akar Kebudayaan Bangsa (?)'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6264656385405083035</id><published>2009-06-17T05:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:37:23.607-07:00</updated><title type='text'>TUHAN, AGAMA, MANUSIA</title><content type='html'>Sejak makin vital ditentangnya modernisme sebagai landasan peradaban yang justeru menciptakan erosi multidimensi dunia dan kehidupan, pengambilan jalan tengah dengan menyertakan aspek sistem-nilai agama cukup mendominasi. Inilah yang kemudian, dalam posisi tertentu, dikatakan sebagai model lajur pemikiran post-modernisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kesatuan konstruksi pemikiran post-modernisme, terletak dalam dua corak kecenderungan yang berbeda, yaitu antara pencerabutan grend narration dan paralelisme dialektik. Grend narration atau narasi besar dikatakan sebagai kelangsungan hidup pemikiran modernisme dalam meletakkan klarisifikasi kecenderungan dunia pada hanya terhadap aspek ‘yang agung’. Para idealis post-modernisme merefleksikan ‘yang agung’ kepada bangunan dasar ideologi seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme bahkan demokratisme. Dikatakan bahwa dengan meletakkan dunia pada lintasan ‘yang agung’, sama halnya dengan mengatakan bahwa air adalah merupakan hidrogen dan oksigen. Bahwa dengan menumbangkan ‘yang agung’ ini sama saja dengan mengandaikan the end of history. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Keterburuan’ ini dikritisi oleh para pemikir post-modernisme dengan argumen bahwa menegasikan ‘narasi kecil’ yang dalam waktu tertentu sangat dominan sama dengan mereduksi tatanan hidup ‘yang lain’ yang semestinya pula patut dihormati. Karena ‘yang lain’ inilah pada tingkat intensitas tertentu bukan hanya sebatas dibutuhkan tetapi menyimpan potensi dasar dalam setiap pembicaraan tentang perkembangan sebuah peradaban  dalam mengandaikan pemenuhan hasrat tujuan masa depan yang lebih dapat dikendalikan. Dengan mengafirmasikan ‘yang lain’ ini, pakem ‘narasi agung’ harus ditanggapi melalui mendeteksi kecenderungan-kecenderungan untuk didekonstruksinya sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pengertian paralelisme dialektik, justeru merupakan usaha menemukan bentuk alternatif antara akal dan nurani. Oleh banyak pengamat dikatakan bahwa pengandaian akan hal ini merupakan bentuk romantisme terhadap nurani yang telah berabad-abad lamanya dinegasikan modernisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem simbolisasi terhadap nurani atau lebih jelasnya agama, terdapat bermacam kecenderungan yang berbeda yang menjadi bagian terpenting melalui sistem diagnostik terhadap simbol social maupun pemikiran. Agama ditekankan pada dua aspek yang sama-sama mengkritisi lajur hidup dunia dan kehidupan masyarakat modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petama, paralelisme menekankan akan terdapatnya bagian terpenting dari struktur social dan simbol dunia satu sama lain yang penuh ketergantungan. Argument dasar para penekan parelelisme adalah bahwa masyarakat modern mempunyai kecenderungan untuk membedakan secara mendasar antara kultur dan subkultur, symbol dan subsimbol, system dan subsistem, dan lain-lain yang pada ketentuan tertentu mengagungkan rasionalitas di atas spiritualitas kehidupan, sehingga melahirkan bermacam anomali yang justeru mengancam eksistensi hidup manusia di dunia. Dari sini kemudian dianalisis duduk persoalan masyarakat modern pada tingkat kesadaran substansialnya, bahwa sudah saatnya mengembalikan seluruh dimensi dunia dan kehidupan pada tataran yang dianggapnya berjejaring satu sama lain itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih radikal lagi, system pemikiran dialektik dalam tahap tertentu berusaha menekankan pada prinsip-prinsip agama supaya dijadikan sebagai pedoman dasar atau landasan dinamika social dan kesadaran individual, karena keberadaan kitab-kitab suci agama-agama secara substansial memberikan suatu bahan dasar tentang apa sesungguhnya dan bagaimana seharusnya dunia dan kehidupan. Sekularisme oleh para pemikir yang berkecenderungan demikian dianggap sebagai referensi dasar untuk melihat perkembangan peradaban modern yang diyakini bertitik klimaks pada pencerabutan system-nilai masyarakat dan perusakan terhadap symbol-simbol dunia dan alam dimana pada saat yang sama kehidupan manusia menjadi sumber satu-satunya atas masalahnya sendiri. Dari sini kemudian, posisi agama seperti terlihat pada arif-bijaksana tokoh-tokohnya terdahulu mesti lebih dipandang penting karena bahwa pandangan dan prinsip mereka terhadap dunia dan kehidupan sama sekali tidak mengemban pemahaman yang reduksionis. Titik kesadaran manusia dikatakan kemudian ialah terletak pada tahap bagaimana mereka mengambil kearifan dan kebijaksanaan itu sebagai modal dasar untuk memahami symbol zaman yang sedang mereka hadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar Modernisme&lt;br /&gt;Kalau ditarik ulur pada tahapan awal munculnya paham modern ialah sejak Descartes semakin skeptis terhadap para Yesuitnya yang dikatakannya tidak punya bangunan jelas dalam pemikirannya. Ketidakjelasan ini dinyatakan oleh Descartes sebagai konsekuensi logis dari dogma agama yang cenderung memuja ‘yang tahayyul’ daripada ‘yang rasional’. Dengan begitu dia mendeklarasikan cogito ergo sum-nya beserta pondasi dasar pemikiran yang disebutnya sebagai idea clara et distinca (ide yang terang dan jelas) untuk mencari kebenaran. Sikap skeptisis Descartes ini kemudian dapat diterima secara umum di Eropa dengan syarat utama menghilangkan unsur agama (religiositas) dalam proses epistemologisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada bermacam kecenderungan paham rasionalitas yang masih menyertakan mistisisme dimana tidak serta merta menghilangkan ‘yang tunggal’ (Allah), seperti yang dibawa oleh Leibnis dkk, pada perkembangan yang lebih lanjut tetap saja agama dianggap ‘musuh’ kebenaran karena ‘ketidakjelasannya’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode pasca rasionalisme Descartes, di ranah Britania Raya, para filsuf inggris secara bersamaan mendeklarasikan apa yang dikatakan empirisisme. Orang-orang semacam John Locke, Thomas Hobbes, Berkeley dan David Hume mambangun empirisismenya masing-masing dengan pondasi dan sistem yang berbeda-beda. Meskipun pada Berkeley – barangkali karena dia adalah seorang  pendeta – sistem emperisisme masih mengandaikan adanya ‘yang batiniah’, tetapi dapat dikatakan bahwa hal yang demikian hanyalah bentuk justifikasi pemikiran yang dipaksakan. Bahwa tetap saja paham emperisisme menegasikan ‘yang ghaib’ yaitu system-nilai pada agama-agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian pencerahan di Perancis telah menemukan pilihannya yang berpuncak paling radikal pada positivisme August Comte. Dia berusaha membangun pemikirannya atas sintesis antara rasionalisme dan empirisisme. Ateisme cenderung rentan dalam hal demikian, begitu juga sekularisme. Saat itu pengacuhan terhadap metafisis berpuncak, sementara materialisme menemukan titik pancarnya yang paling awal. Abad pencerahan selaras hanya pada tahapan epistemologi an sich dan agama betul-betul berada dalam keadaan yang sangat sulit, bahkan kian pudar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntun kemudian pada idealisme dan materialisme Jerman dimana sistem-nilai tidak lagi ditambatkan pada agama, tetapi hanya pada saja aspek dunia dan kehidupan. Etika hanya mendapatkan pengertiannya dalam ruang sosial formal. Metodologi saintifik terbangun kokoh dan barangkali merupakan titik klimaks yang paling awal. Sedangkan mekanisme Newtonian telah diprakarsai sedemikian rupa agar kemajuan ilmu pengetahuan tidak mendapatkan ancaman substansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya Erosi &lt;br /&gt;Peradaban Eropa dan Amerika, dengan seribu hasrat pemikiran yang telah membangun multidimensi kehidupan, kemudian menjadi tonggak kesadaran dunia. Tak dapat dibayangkan bagaimana anarkisme terjadi sangat gencar sehingga memakan banyak korban jiwa di Negara-negara dunia kedua yang “tergiur” oleh kesuksesan Eropa dan Amerika. Peran serta dunia kedua ini, karena pengaruh dari turunan pola pemikiran dasar mekanisme, mempercayai bahwa kolonialisme merupakan jalan terbaik untuk menemukan identitas pembangunan negaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehancuran moral kemanusiaan lalu terjadi tak terelakkan tanpa adanya kesadaran untuk melakukan perlawanan atas nama kebijaksanaan. Sementara eksploitasi nilai dan oprasional alam dilakukan demi hanya sekedar pemuas ’dimensi hasrat menguasai’ manusia. Perang, baik fisik maupun dingin, mewarnai kancah dunia abad modern yang memerankan Amerika sebagai kapitalis dan Rusia sebagai komunis menyeruak sedemikian rupa sehingga menciptakan “scizhoprenia” dunia. Dalam kondisi dunia yang demikian kritisnya, manusia tidak banyak lagi mementingkan peran agama dan kebijaksaan terhadap alam, namun justeru berupaya menemukan sitesis diantara dua blok itu. Disusun kemudian konsepsi demokrasi yang dipandang lebih humanis, tetapi pada saat bersamaan dituding sebagai ‘panjang tangan’ dari kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi berpacak sebagai paham dominant bahkan hingga saat ini dengan turunan paham yang lebih rumit lagi, yaitu globalisme. Manusia barangkali tidak sempat berfikir bahwa globalisme sesungguhnya bukan seperti apa yang dia bayangkan. Globalisme yang disinyalir oleh pengandaian terhadap terciptanya asimilasi positif antara warga dunia, ternyata pada tahapan realnya justeru hanya melahirkan perseteruan yang tiada habisnya. Hasrat “menguasai” dan “dikuasai” manusia bahkan menemukan tempat paling dominant dalam hal ini. Manusia tidak akan lagi memikirkan hal-hal yang sangat spesifik dan fundamental dari keringkihan diri dan alamnya, kerena sudah terlampau diteriaki oleh “iming-iming” kapitalisme yang sesungguhnya berpihak pada anarkisme dan bukan toleransi berkeadaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romantisme Spiritualitas&lt;br /&gt;Barangkali manusia tidak berfikir bahwa tatanan budaya, politik, ekonomi, sosial, alam dan dimensi dunia serta kehidupannya menjadi pertaruhan yang sedemikian rupa karena telah terjadi banyak erosi. Baru setelah ditemukan fenomena-fenomena fundamental yang diperkirakan akan menjadi ancaman serius terhadap eksistensi manusia, seperti bobroknya bangunan sistem-nilai dan moralitas serta etika kehidupan, ditambah lagi oleh bencana alam yang terjadi mendera tiada akhirnya, manusia mulai sadar bahwa pemahamannya terhadap dunia dan kehidupan selama ini dipenuhi oleh bangunan pemikiran yang reduksionis yang hanya sekedar artifisial. Bahkan ketika ditemukannya titik bahaya dari alam yang ditunjukkan sebagai global warming, pada saat bersamaan manusia merasa bahwa dirinya merasa kering dari nilai kearifan dan kebijaksanaan. Setidaknya terhadap dirinya sendiri dia tidak merasa bahwa selama ini dia telah menciptakan segala ketimpangan yang tidak pernah dia kira sebelumnya. Seperti halnya dia tidak mansyukuri keadaan dunia dan kehidupannya, kemudian dia mulai sadar bahwa berabad-abad lamanya dia telah memusuhi dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frijtof Capra barangkali adalah seorang ilmuawan yang hendak ingin mengembalikan reduksi pemahaman manusia modern pada duduk persoalannya secara substansial. Dikatakan bahwa pemahaman manusia modern, secara tidak langsung dari berbagai paham yang dia agungkan, telah meniscayakan keberjarakan dirinya terhadap dunia dan kehidupannya. Tidak disadari bahwa alam semesta sesungguhnya merupakan jaringan yang berantai antara satu entitas dengan entitas hidup lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disparitas dan paritas yang semestinya mengharapkan terciptanya solidaritas, dalam dunia modern justru dibuat lubang yang sangat lebar oleh masyarakat modern. Anggapan yang mengatakan bahwa alam semesta tak lebih serupa ruang mekanis itulah merupakan varian penting dari terciptanya pemahaman keterjarakan ini. Maka dari sini kemudian kepercayaan manusia pada yang abstrak atau yang ghaib menemui titik buntu yang paling memilukan. Manusia sepenuhnya percaya terhadap kekuatan dirinya dengan perangkat hukum alam yang diciptakannya sendiri, kemudian menganggap segalanya dapat direduksi dan dieksploitasi. Pada saat genting seperti inilah bahwa apa yang dikatakan daya spiritualitas Timur membutuhkan ruang untuk lebih dominan sebagai antitesis dari rasionalitas dan empirisitas pemahaman manusia, agar terjadi paralelisasi dan integrasi yang berkesinambungan antara keduanya. Diharapkan dari sintesis antara spiritualitas dan rasionalitas pada diri manusia suatu pemahaman yang sebisa mungkin dapat mengatasi berbagai problema modernsasi yang sekularistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodologi Spiritualitas&lt;br /&gt;Namun, bagaimana metodologi atau cara dalam meyakinkan manusia akan pentingnya daya spiritualitas disini tidak ada satu pun perangkat dasar yang setidaknya bisa menjadi acuan umum. Para post-modernis yang mendukung paralelisme spiritualitas dengan rasionalitas selama ini hanya dapat menampilkan beberapa catatan penting dari fenomena-fenomena keganjilan dunia dan kehidupan serta mendorong untuk bagaimana spiritualitas menjadi fondasi dasar dari paham manusia dan belum sampai pada pengertian tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Sangat sulit dirasa untuk mendapatkan pemahaman baik terhadap spiritualitas jika tidak diarahkan dengan perangkat metodologi dasar yang menyertakan peran ontologi dan epistemologi relegitusitas serta sistem-nilai agama. Karena bahwa untuk manusia yang makin memiliki daya nalar kritis tinggi, hal-hal berupa mistisisme atau tahayyul cenderung sangat sulit diterima seandainya tidak ada satu bangunan dasar pemahaman yang mengakar dan dapat dipercayai sebagai keyakinan yang patut diterapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya paham post-modernis yang menganjurkan paralelisme antara rasionalitas dengan spiritualitas dapat digolongkan pada dua kelompok besar, yaitu pemikir yang berusaha menemukan kesatuan antara sains dan agama dan penganjur supaya ditingkatkannya penghayatan terhadap dunia dan kehidupan termasuk juga kepercayaannya kepada tuhan. Mereka memiliki kecenderungan pemahaman yang berbada, dikarenakan penekanan yang diharapkannya memiliki bobot serta implikasi yang berbeda pula. Kelompok pertama lebih kepada penekanan terhadap kebenaran adanya ketersambungan antara satu dimensi dengan dimensi yang lain, sehingga dari ini manusia diharapkan tidak menegasikan diantara salah satunya. Indikasi logis dari ini pula, agar manusia memiliki kesadaran universal terhadap apa yang dia kerjakan. Kesadaran ini berkenaan dengan kemantapannya melakukan sesuatu serta kesiapannya menerima implikasi yang semestinya telah disadarinya sejak semula. Sementara untuk kelompok kedua, lebih menekankan kepada penerimaan terhadap adanya dzat tunggal yang memberikan manusia kesadaran terhadap dunia dan kehidupannya. Mereka mengharapkan manusia modern kembali mengindahkan ajaran-ajaran pokok dalam agama, agar daya naluriahnya tidak kering-kerontang sehingga manusia selalu merasa siap pada apa yang sedang dia hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, para penganjur spiritualitas hanya dapat mengangkat contoh kearifan hidup para spiritualis Timur dahulu, yang kalau dalam Islam biasa disebut sufi. Sufisme telah menjadi kajian umum dengan satu tujuan agar dapat menjadi pedoman manusia modern saat ini. Pemahaman dan pengalaman hidup serta pola pikir orang-orang sufi diinterpretasikan serta direlevansikan dengan kondisi arus zaman. Banyak interpretasi yang didapatkan dari usaha demikian, dan yang paling fundamental bahwa sistem-nilai spiritualitas adalah merupakan keyakinan untuk tidak bertindak tanpa adanya satu pegangan hidup yang terdiri dari kebijaksanaan spiritual yang tinggi. Pengenalan terhadap yang ‘Maha Tunggal’ merupakan satu urgensitas yang tidak boleh ditampik. Sistem-nilai agama yang dianggapnya determinan ialah karena mencakup dari keseluruhan sistem-nilai kehidupan. Sesungguhnya, menurut mereka, kebahagiaan di dunia dan di akhirat ialah ketika seseorang mengindahkan seruan agama. Baik dan buruk harus selalu ditimbang dari titik moralitas agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kelompok pertama berusaha mengilmiahkan sintetis tersebut, sementara yang kedua menyuguhkan perenungan kepada manusia tentang kearifan tokoh spiritualis zaman dulu. Bagaimanapun juga dapat dimafhumi dari dua kelompok itu, orang akan mengambil banyak pelajaran, akan tetapi apakah orang itu akan menjadi sadar dengan argumentasi keduanya merupakan satu keganjilan yang memang patut dipertanyakan. Karena bahwa secara substansial, romantisme spiritualitas untuk zaman ini harus lebih radikal lagi disebabkan jika tidak demikian, maka kecenderungan tidak diterima sangatlah memungkinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu kemudian, bahwa bagaimana kemungkinan untuk tidak diterima itu diperkecil sedemikian rupa adalah merupakan tugas bersama. Adapun dalam rangka penyadaran, memang tidak dapat dipungkiri untuk menyusun bermacam argumen sistematis dan konstruktif yang barangkali pula dapat dikatakan sebagai sistem paham seperti halnya paham-paham lainnya. Setiap paham diterima oleh khalayak ialah karena paham itu memiliki pondasi dan bahan serta perangkat dasar penyusun konstruksi pemikirannya. Paham itu tidak diterima kemudian jika telah ditemui cela terhadap ketahanannya atas segala kemungkinan konsekuensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6264656385405083035?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6264656385405083035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6264656385405083035&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6264656385405083035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6264656385405083035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/tuhan-agama-manusia.html' title='TUHAN, AGAMA, MANUSIA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3486408232674881098</id><published>2009-06-17T05:33:00.001-07:00</published><updated>2009-06-17T05:34:10.693-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1&lt;br /&gt;“Yang dikatakan manusia-dalam-Tuhan adalah manusia-bagi-kehidupannya dan bukan kehidupan-bagi-Tuhannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;“Alam semesta tercipta untuk kehidupan dan sama sekali tidak untuk Tuhan. Apakah demikian juga dengan agama? Seseorang hanya bisa merasakan dan tidak bisa menalar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;“Hidup bagai daun tegar dalam tumbuh dan tumbang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;“Menuhankan ‘Aku’ itu eksistensialisme radikal. Sementara meng-‘Aku’-kan Tuhan itu radikalisme eksistensial”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;“Jalan agama adalah horizontalisme-vertikal, sekaligus juga vertikalisme-horizontal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;“’Aku’ bukan pencipta diri, tapi penjadi diri. ‘Aku’ adalah Tuhan bagi Tuhan dalam ke-diri-an”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3486408232674881098?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3486408232674881098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3486408232674881098&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3486408232674881098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3486408232674881098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/1-yang-dikatakan-manusia-dalam-tuhan.html' title=''/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2277286759218381901</id><published>2009-06-17T05:30:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:31:47.919-07:00</updated><title type='text'>Musik dan Masa Lalu</title><content type='html'>Beberapa bulan belakangan ini, hatiku terasa hampa, kosong dan seperti tak pernah menemu tambatan. Entah bagaimana waktu begitu cepat membawaku jauh dari masa lalu. Tak sekali waktu, seperti biasanya dalam hidupku, ia mampir dalam perenungan, membawa aroma baru yang mencerahkan dalam hidupku. Ia terasa lain, seperti sesuatu yang tak pernah berarti sama sekali. Padahal, betapa ia menjadi obor dalam setiap jalan yang aku tapaki. Ia seperti seorang ibu, mengasuhku sepenuh hati. Aku terasa asing tanpanya. Merasa bahwa tak pernah menjadi seorang manusia, seorang anak desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah perantauan ini, aku rasa masa lalu adalah kekuatan, sesuatu dimana ketika dahaga ia selalu menyediakan air kesadaran. Tanpanya, entah bagaimana gersangnya hatiku. Saat dalam keadaan susah dan dipenuhi oleh kesulitan hidup, ia datang membawa kehangatan. Dikala hidup terasa sumuk, jiwa gelisah, hati merana, ia adalah satu-satunya kawan yang paling setia berbagi rasa, berbagi duka. Aku tak sudi, ia hilang dan lenyap dalam kesadaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski aku tak pernah bisa menyemainya lagi, setidaknya hidupku terasa berarti dengan kehadirannya. Barangkali dialah satu-satunya yang dimiliki oleh manusia ketika tak punya apa-apa lagi Dialah yang paling setia mendampingi perjalanannya dan memberinya pelajaran hidup yang kekal dan abadi. Dialah mungkin sesuatu yang diciptakan Tuhan agar manusia selalu sadar dari mana ia berasal dan bagaimana ia harus memperlakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2277286759218381901?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2277286759218381901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2277286759218381901&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2277286759218381901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2277286759218381901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/musik-dan-masa-lalu.html' title='Musik dan Masa Lalu'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2586010626515684853</id><published>2009-06-17T05:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:29:47.081-07:00</updated><title type='text'>SECARIK TENTANG TUHAN DAN AGAMA</title><content type='html'>Secara substansial, agama diturunkan untuk membentuk kemanusiaan yang beradab. Seandainya manusia diciptakan tuhan dengan sempurna, baik secara sikap maupun sifat yang utamanya bertendensi pada kemanusiaan universal, barangkali agama tidak akan pernah dihadirkan. Maka pentingnya ajaran agama ialah mengatur bagaimana sesungguhnya manusia menyikapi kehidupan pribadinya, sosial, lingkungan, tuhan, dan sebagainya. Menurutku, terlepas dari tujuan itu, dalam tataran tertentu, agama tidak terlalu penting. Perkembangan pembahasan seputar agama yang selama ini kita kenal dalam teologi, relegiusitas, spiritualitas, dan filsafat agama hanyalah berupa turunan dari tujuan utama itu. Namun yang perlu dipertanyakan, apakah keempat termin tersebut telah membawa spirit tujuan agama secara substansial?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama harus dipahami bahwa lahirnya banyak faham dan interpretasi terhadap suatu agama ialah karena terdapatnya penekanan khusus para penganutnya terhadap sisi syakralitas dan profanitas agama yang dianutnya itu. Namun dapat kita saksikan, indikasi dari hal ini kemudian memunculkan aliran fundamentalisme atau liberalisme, yang pada batas lebih ekstrem, menampakkan suatu pengertian dan tendensi yang menganggap agamanya lebih baik daripada agama lain dalam segala sesuatunya. Indikasi inilah yang kemudian manurut saya turut menciptakan kesenjangan antar pemeluk agama. Padahal jika mengacu pada hakikat tujuan diturunkannya agama, indikasi tersebut merupakan hal di luar batas kewajaran, bahkan dapat dikatakan melenceng dari apa yang diharapkan oleh lahirnya agama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, agama yang baik ialah ketika ajaran-ajarannya menjadi ruh para pemeluknya. Selain itu, misalnya agama yang hadir dalam ruang filsafat, teologi, spiritualitas, atau pada paham lain yang diturunkan dari ajaran-ajarannya yang justeru kemudian menciptakan keretakan sosial dalam batas hidup wajar kemanusiaan, bagiku, hanyalah menjadi petaka atau sumber anarkisme sosial belaka yang diciptakan oleh umatnya sendiri. Agama semacam ini tidak lagi azali, karena telah dicampur-adukkan atau dikomodifikasi dengan penalaran objektif dan tidak subjektif. Dan hal ini belum disadari oleh rata-rata manusia pada zaman ini, suatu zaman yang dikatakan maju. &lt;br /&gt;Sesungguhnya seluruh ajaran agama yang ditunjukkan dalam kitab sucinya, ialah semata-mata untuk kemaslahatan sosial dan perbaikan hidup individual. Di samping itu, bagi saya pribadi, agama tidak mempunyai maknanya. Namun pertama-tama untuk mesjustifikasi pendapat saya ini, maka harus diperjelas terlebih dahulu secara garis besar, apa isi dari keseluruhan kitab suci dalam tiap agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kitab suci membicarakan tentang tuhan, berkenaan dengan sifat dan eksistensi dzatnya. Tentang eksistensi dan sifat dalam tiap kitab suci agama-agama, tuhan digambarkan sebagai dzat tunggal yang memiliki dimensi sifat penguasa, pencipta, pengatur, pengasih, penyayang, absolut dan sebagainya. Dan ajaran tentang semua ini, sepenuhnya dipegang sebagai yang-determinan oleh tiap-tiap pemeluk agama, sehingga seandainya ada yang mencela “sifat tuhannya” itu, mereka tidak segan-segan akan mengutuknya, bahkan membunuhnya. Mereka akan mengagungkan tuhannya sendiri secara berlebih-lebihan tanpa didasarkan pada satu kerangka filosofis yang lebih mempuni. Sikap semacam inilah, bagi saya, merupakan kesalahan fatal manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, umat semacam ini telah teretidur di atas kesadarannya sendiri. Ajaran tentang eksistensi dan sifat tuhan, dalam pemahaman mereka masih dianggap sebagai medium bagi tuhan untuk disembah dan diagungkan oleh mereka. Padahal, jika memang itu landasan epistemologinya, betapa tuhan tidak Maha Kuasanya, karena masih butuh terhadap apa yang oleh manusia dikatakan sebagai penghambaan. Bila demikian, tuhan tidak lagi sebagai yang-absolut, dalam artian masih memiliki sifat berketergantungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, tuhan tidak memerlukan pengagungan dan penyembahan dari manusia, karena Dia adalah pencipta yang Maha Sempurna dari segala kebutuhan. Dia adalah yang Haq dan sama sekali tidak memiliki sifat egois seperti yang dibayangkan oleh manusia selama ini. Dia tidak butuh apa-apa dari mahluk ciptaannya, kecuali hendak mengantar mereka kepada alam kemaslahatan dan keberadaban. Tidak lebih dari itu. Tapi mengapa tuhan masih membicarakan tentang sifat dan eksistensi Dirinya dalam tiap kitab suci agama secara – lebih radikal dikatakan – berlebihan? Inilah sebenarnya yang harus pertama-tama direnungi oleh manusia, bukan lantas menerimanya tanpa adanya daya kritisisme dan kuroisitas yang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jogja, 23 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2586010626515684853?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2586010626515684853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2586010626515684853&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2586010626515684853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2586010626515684853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/secarik-tentang-tuhan-dan-agama.html' title='SECARIK TENTANG TUHAN DAN AGAMA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1554561756906521624</id><published>2009-06-17T05:26:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:27:39.470-07:00</updated><title type='text'>Surau Ngaji Pertama Dan Mereka Semua</title><content type='html'>terima kasih yon, edi, deni, yoyok, joko, lisa &lt;br /&gt;terima kasih atas kebersamaannya&lt;br /&gt;terima kasih pak matripin, terima kasih mak erra&lt;br /&gt;terima kasih atas kasih-sayangnya&lt;br /&gt;tanpa kalian, aku tak akan pernah bisa mengaji alif-baa-taa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih ingat kenangan kita itu&lt;br /&gt;saat magrib tiba, kita datang ke langgar bersama-sama&lt;br /&gt;berjemaah bersama-sama, mengaji bersama-sama &lt;br /&gt;dan bermain-bermain riang sebelum pulang ngaji bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat diantara kita ada yang khatam iqra’ atau al-qur’an&lt;br /&gt;kita merasa begitu senang&lt;br /&gt;karena kita bisa makan bersama nasi rebbha syukuran&lt;br /&gt;dan saling mengayuh masa-masa keriangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak pernah menyesal dan marah padamu, edi, deni&lt;br /&gt;atas kenakalan kalian yang menyebabkan lengan kiriku patah&lt;br /&gt;karena kenakalan kalian ini&lt;br /&gt;kini menyadarkanku akan makna kata waspada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih ingat kenangan itu, pak, mak&lt;br /&gt;saat kalian mengajari kami bagaimana cara mengaji yang baik&lt;br /&gt;bagaimana cara berwudhu dan bershalat yang baik&lt;br /&gt;bagaimana cara menghormati guru dan orang tua yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh kalian begitu sabar membimbing kami yang nakal ini&lt;br /&gt;mengajari bagaimana berbuat baik pada orang lain dan diri&lt;br /&gt;menapih sesal tentang betapa jahatnya kebodohan&lt;br /&gt;belajar bagaimana selalu ingat pada tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh, betapa kenangan itu tak pernah aku melupakannya&lt;br /&gt;selamanya, bahkan barangkali sampai aku ini tiada&lt;br /&gt;betapa sangat berharganya kebersamaan kita&lt;br /&gt;betapa bahwa segalanya menjadi begitu bermakna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suru tua itu, bolehlah kini sepi atau bukan lagi tempat untuk ngaji&lt;br /&gt;bagiku, ia tetaplah tempat yang bergelimang cahaya di hati&lt;br /&gt;sudah terlalu lama aku tak menjenguknya&lt;br /&gt;rindu ini telah berkarat sekian lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin aku memampirinya lagi&lt;br /&gt;sekedar bersih-bersih&lt;br /&gt;dan mengingat kembali &lt;br /&gt;bagaimana ia begitu berharga bagi kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 13 Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1554561756906521624?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1554561756906521624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1554561756906521624&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1554561756906521624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1554561756906521624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/surau-ngaji-pertama-dan-mereka-semua.html' title='Surau Ngaji Pertama Dan Mereka Semua'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-8954647692518885913</id><published>2009-06-17T05:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:24:38.570-07:00</updated><title type='text'>Biografi Pengembaraan dan Pergulatan Hidup</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5C3NET%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C05%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pada sebuah ashar akar musim kemarau, aku terlahir ke dunia (Selasa, 8 Maret 1988) – dengan nama pemberian &lt;i&gt;almarhum &lt;/i&gt;ayahku (Asyikurrahman), Ahmad Ali Faqih. Kelahiran itu adalah sejarah hidup pertamaku. Selama sembilan bulan bertapa di rahim ibu (Rusipa) – seorang yang kelak kukatakan sebagai “cahaya yang tak berlentera” itu – aku jadi tahu apa arti waktu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Menurut penuturan ibu, tangisku lamat-lamat terngiang, memekikkan penderitaan hidup yang hendak aku jalani di hari depan. Kisahnya, aku adalah bayi &lt;i&gt;sareang &lt;/i&gt;yang cukup sehat dibanding dengan bayi-bayi lainnya, walau tanpa asupan vitamin dan gizi yang sempurna. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Tanda kelahiranku, berwarna bening hitam, terletak di sisi dalam pangkal paha kanan. Ari-ariku ditanam di sebelah kanan depan rumah – rumah kuno khas Madura kesayanganku itu. Aku terlahir sebagai laki-laki dan karenanya tugas seorang ayah tersemat di pundakku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Kehadiranku di dunia untuk kali pertama telah menjadi kebahagiaan seluruh keluarga; sebuah keluarga yang telah turun-temurun dijerat kemiskinan, sebuah keluarga yang tak pernah berdendang lagu &lt;i&gt;afia &lt;/i&gt;(kebahagiaan) – sebuah lagu yang kelak ingin kunyanyikan untuk mereka. “Tahukah kau &lt;i&gt;Sareang-&lt;/i&gt;ku, betapa telah lama kau kunantikan. Dan hari ini kami adalah keluarga yang sangat berbahagia di dunia,” mungkin itulah kata-kata yang diucapkan oleh ayah dulu. &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Beliau mengisahkan bahwa aku sempat sakit berkepanjangan, kira-kira berumur belum satu tahunan. Dalam dunia mistik orang madura – sebagaimana yang tercetak dalam beberapa buku tentang Madura, juga dalam buku Mien Ahmad Rifai, &lt;i&gt;Manusia Madura &lt;/i&gt;yang terbit Maret 2007 ini – bahwa persoalan nama dapat menghambat apa saja dalam diri seorang anak, dan dapat juga sakit, karena namanya tidak cocok. Maka dengan jalan inisiatif seperti itu ke dua orang tuaku mengubah namaku – tetapi tidak dari segi arti dan tujuan nama itu dibuat – dengan nama Muhammad Ali Fakih. (Dalam ijazah maupun akte kelahiran tertulis Moh. Ali Faki). Sekarang kuubah (kutambahi) lagi, sebagai nama pena dan nama sepanjang masa, yaitu Muhammad Ali Fakih AR, (AR adalah kepanjangan dari nama orang tuaku, yaitu alm. Asykurrahman dan Rusifa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Aku adalah bayi yang &lt;i&gt;manying&lt;/i&gt;, hingga sampai air mataku sempat kering. Ini barangkali adalah bukti bahwa suka-derita hidup telah menanti kehadiranku di dunia yang penuh teka-teki ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Aku tumbuh besar dan sehat, walau batapa yang ia makan dan minum sangatlah jauh dari kelayakan umum. Kedua orang tuaku sangat bahagia ketika aku memperoleh apa yang sebelumnya tak pernah dikira: juara balita sehat se-Kecamatan Dasuk. (Sertifikat itu masih kuabadikan hingga sekarang). Perkembanganku sangat pesat. Dalam dada orang tuaku kemudian terserak harapan yang diluncurkan; “inilah sang buah hati yang bakal meneruskan perjuangan dan cita-citaku”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Kira-kira umur lima tahunan, kata ibu, aku merengek minta untuk di sekolahkan. Padahal pada waktu itu (sekitar bulan Juli 1993), jarang anak-anak seusiaku yang sekolah. Tapi karena keinginanku yang kuat, kedua orang tuaku tak dapat membendungnya. Maka diambillah inisiatif untuk menyekolahkannya, meskipun &lt;i&gt;ro’noro’ babhang&lt;/i&gt;. Ibuku memang sudah minta kepada bapak kepala sekolah, Suwito, untuk tidak menaikan kelas, lantaran aku masih terlalu kanak-kanak. Pada tahun itu pula aku resmi jadi siswa Sekolah Dasar (SDN Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Setahun aku tak naik kelas (kelas satu) lantaran memang permintaan dari orang tua. Padahal waktu itu aku peringkat delapan, suatu peringkat yang tak beralasan untuk tidak dinaikkan. Bahkan sempat aku kalahkan kakak kelasku (kelas dua) saat lomba antar kelas dalam bidang matematika dan menyanyi. Itu suatu prestasi yang dapat aku banggakan dan menurutku adalah sebuah batu loncatan semangat di tahun-tahun mendatang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Maka aku masih bertahan di kelas satu. Ada satu kenangan menarik yang tak pernah lekang dari ingatan. Setiap kali jam istirahat aku mesti jadi harimau-harimauan untuk menghibur teman-teman. Itu kulakukan atas keinginan untuk mendapatkan uang jajan dari teman-teman. Karena setiap anak yang merasa puas dengan penampilanku, ia harus memberiku uang. (enak juga buat jajan dan simpanan, pikirku). Maklum uang sakuku waktu itu 75 rupiah: terlalu rendah untuk ongkos saku anak sekolah. Tapi apa boleh dikata, kekuatan orang tuaku hanya segitu saja. Itu pun masih diperoleh dari banting-tulang dan keringat kuningnya dalam bertani, berjualan buah kedonong ke pasar, kuli sawah dan nelayan, yang kini ketika aku ingat kembali sungguh betapa beratnya hidup mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Aku menjalani masa siswa pertama itu seperti biasa; menghibur teman-teman saat istirahat untuk mendapat uang jajan. Perjalanan itu aku lakukan sampai kelas tiga. Setelah kelas tiga, aku punya inisiatif baru untuk sekedar tambahan uang jajan dan simpanan, yaitu berjualan jajan-jajan kecil, buah-buahan yang dipanen di kebun rumah, dan juga &lt;i&gt;urmang&lt;/i&gt; (kicot laut) – suatu pekerjaan yang kemudian menginspirasi adikku (baru lulus SD) untuk juga berbuat sebagaimana aku – di ruang kelas, karena kalau di luar aku takut dimarahi kepala sekolah. Itu kulakukan hingga lulus SD. Kunikmati jalan Allah yang satu ini. Mendingan juga kurasa. Sedang uang saku dari &lt;i&gt;emak &lt;/i&gt;(ibu) aku simpan, dan lalu kubelikan ayam untuk diternak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Satu hal lagi yang menarik saat aku masih SD: aku jadi peternak ayam yang ulung. Semua ayam itu adalah hasil simpananku sendiri. Aku sangat bangga karena itu. Aku bekerja sama dengan Hamdi – seorang teman kecilku, anak yang kini senasib denganku: tidak punya ayah, tetapi aku kagum pada ketangguhannya dalam mempertahankan idealismenya, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua dan berkorban hanya untuk mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Banyak hasil yang kudapat dari usahaku itu. Aku dapat membeli baju dan perangkat sekolah sendiri. Selain itu juga, kira-kira akhir kelas enam aku juga beternak ikan hias. Setiap hari Jum’at (hari pasar Dasuk) aku menjualnya dan membeli yang baru. Namun sayangnya, semua itu kutinggalkan akibat keharusanku pergi menuntut ilmu ke pondok pesantren.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Masa kecil (SD) bagiku adalah masa di mana segala rasa susah-senang tertumpah menjadi sejumput kenangan yang tak pernah lekang dari ingatan. Bahkan begitu sangat mengakar, ingin sekali rasanya aku melipat waktu dan kembali pada masa lalu, walau perih saat kuingat, tapi indah kala kubayangkan. Karena masa kecil adalah dunia bebas, tak pernah tertuntut oleh aturan. Sebab masa kecil merupakan suatu tonggak menuju kecemerlangan masa remaja. Sebab masa kecil….sebab masa kecil….ah, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Lebih baik aku merenung saja, karena waktu terus menjulur, dan segala kenangan kini telah jadi sejarah, sedang sejarah tak dapat terulang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ingin sekali rasanya aku menjenguk teman sekelas yang sakit bersama teman-teman lainnya dengan penuh kebersamaan. Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu dan memberi telur ayam pada guru saat lebaran. Ingin kudengar kembali suara Ibu Narti, Ibu Hos, dan Bapak Heri yang mengayomi kami dalam memberi pelajaran dan dengan kesabarannya mendidik kami yang nakal. Ingin aku kembali berolah raga bersama teman-teman di pagi hari pada waktu pelajaran olah raga dan kesenian dengan dipandu oleh Bapak Musyafak; guru yang mengantarkanku mendapat penghargaan sebagai juara ke II dalam lomba lari Agustusan se-Kabupaten Sumenep untuk kategori SD, guru yang mengantarkan kami dapat juara I lomba senam se-Kabupatan. Ingin sekali aku merasakan pukulan Bapak Sholehuddin, cubitan Bapak Kusairi, karena kini cubitan dan pukulan itu sejatinya adalah belaian kasih saying, kurasa. Ingin lagi aku mendengar sanjungan guru-guruku saat aku menorehkan prestasi dan mengharumkan nama sekolah. Ingin sekali aku dipentungi bapak tani, karena tanaman pisangnya, tanaman kacangnya, jambu mentenya kucuri. Dan ingin sekali rasanya aku menanak bersama teman-teman, bernyanyi lagu perpisahan, menangis bersama saat bersalaman kepada semua guru. Ingin…ingin….ingin…. ingin sekali semuanya terangkum, dan aku adalah raja waktu. Tapi aku tetaplah aku; kerdil dan mengerdilkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Keinginan untuk kembali pada masa kecil sama besarnya dengan keinginan untuk pulang ke alam kandungan – sekali lagi kata Hazrat Inayat Khan. Semuanya telah menjadi arca. Masa SD adalah masa keindahan yang tak pernah pulang dari sanubari. Sedang perpisahan dengan masa kanak-kanak untuk menuju masa remaja adalah masa peralihan yang penuh dengan kelabu kepenatan. Aku mungkin termasuk orang yang selalu penat, karena begitu dahsyatnya daya kemanusiaan saat masa itu diingat. Akulah orang yang merasa bahagia dengan masa kanak-kanakku, dan juga akulah orang yang paling perih menahan gejolak takdir pada masa kanak-kanak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Perpisahan hari itu cukup haru. Semuanya menangis. Air mataku menetes dan bumi menelannya, lalu kini jadilah ia bayang-bayang dan tonggak hidup. Betapa apa yang aku tangisi ialah masa yang penuh dengan keriangan. Betapa keriangan itu menjadi saksi menetesnya air mataku kini. Saat ijazah di serahkan, aku dan sekalian teman kelas akhir SD bersenandung lagu “Anak-Anak Desa”, lagu kebangsaan, dan “Wajib Sekolah Sembilan Tahun”. Mungkin perasaan kami semua lepas dari kesadaran kata-kata. Kami adalah makna yang bukan mantra, dan kesadaran yang tak dapat disaksikan adalah bukan kami. Tapi akulah orang yang sangat sayang dengan kesadaranku sendiri, karena darinya kutemukan makna hidup.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Perpisahan itu benar-benar terjadi (10 Juli 2000). Semua teman-teman telah menemukan tujuannya masing-masing, sedang aku bagai batu karang, seturut dengan &lt;i&gt;nazar &lt;/i&gt;orang tua yang bermaksud untuk memondokkanku di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura. Dengan perasaan yang berat aku setujui keinginan itu, karena itu &lt;i&gt;nadzar &lt;/i&gt;yang diucapkan ayah sebelum aku lahir. Padahal seandainya aku masuk SMP, mungkin masa dengan teman-teman seperjuangan sejak SD dapat aku rajut kembali sebuah tali ikat perkawanan. Tapi itulah jalan yang terbaik dari Tuhan. Tak dapat aku berbuat apa-apa kecuali dengan petunjuk-Nya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;persiapan bekal yang kurang, akhirnya aku berangkat juga. Yang dituju adalah PP. Annuqayah daerah Lubangsa, karena di sana ada pamanku. Jadi aku ada yang mengayomi. Dipesan dua mobil untuk mengantarku ke pondok yang bakal menjadi tempat prosesku selama enam tahun (MTs-SMA). Sedang ayahku masih tetap tergolek di tempat tidur, karena sakit kanker darah (kata dokter, sedang kata masyarakat di sihir. Menurutku memang adalah jalan takdir). Jelas tak dapat mengantarku ke pondok. Hatiku luruh, selain diberatkan oleh sebuah perpisahan dengan tanah kelahiran, ditambah oleh pikiran yang bukan-bukan tentang ayah (tapi akhirnya pikiran itu benar-benar terjadi). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pondok yang dapat ditempuh selama 2 kilo meter/jam, seturut keyakinanku pada waktu itu, adalah tempat yang dapat membunuh; tempat yang memisahkanku dari teman, tempat kelahiran, dan aroma panorama desaku tercinta, Kerta Timur. Tapi demikianlah, tidak boleh tidak aku harus ke sana. Dan ini atas nama &lt;i&gt;nadzar. &lt;/i&gt;Kadang aku menyesal sekali patuh pada &lt;i&gt;nadzar &lt;/i&gt;itu, tapi apa daya bahwa aku harus jadi anak yang patuh kepada orang tua, sebagaimana pesan Bapak Heri sewaktu SD.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Panorama pondok yang begitu asing. Bunyi-bunyian teralienasi dari perasaan. Walau aku sudah di pondok, perasaan tetap masih di rumah. Apalagi ketika ingat saat-saat perpisahan dengan ke dua orang tua, nenek, dan seorang adik yang sangat aku cintai. Rasanya aku ingin pulang saja. Aku tidak kerasan dengan panorama pondok. Semuanya asing bagiku. Aku merasa bahwa yang asing bukanlah duniaku. Duniaku adalah dunia keriangan yang tak penuh oleh perintah dan larangan. Mungkin dunia pondok bukanlah gantungan cita-cita. Sebuah cita-cita yang dipaksa akan berkonsekuensi pada keterpaksaan kehendak. Tetapi kehendak itu tetap saja akan jadi suatu identitas, suatu jati diri. Aku adalah korban dari pemikiran yang demikian. Tapi kuyakini itu sebagai takdir, yang pada akhirnya menjadi tambatan kemanusiaanku kelak. Dengan terpaksa aku berusaha untuk kerasan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Awal-awal aku di pondok adalah cerita tentang realitas yang menggelikan. Suatu ketika, kira-kira sudah mencapai satu bulan, aku belajar menanak. Kaum tanakku ada tiga orang; syamsul, pamanku sendiri (Tsabits) dan aku. Karena aku baru dan seorang santri baru itu harus belajar menanak, maka aku menjadi ahli dapur. Tak ada yang menanak kecuali aku. Pada suatu ketika aku ketiduran dan lupa menanak. Pamanku yang aktif di organisasi dan sangat sibuk itu marah atas “insiden” ini. Kuhadapi dengan biasa saja. Tapi akhirnya kemarahan pamanku itu memuncak dan tak pernah mengajakku makan. Ia hanya makan dengan syamsul. Aku marah dan sangat sedih. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Mungkin ia tak tahu tentang karakterku dan psikologi seorang anak yang jiwanya dalam keaadan ngambang. Karenanya, ketidakkerasanku semakin memuncak. Akhirnya perbuatan konyol kulakukan; mengambil inisiatif untuk pulang sendiri, walau aku tak faham jalan menuju ke rumah. Tapi keinginanku itu sangat kuat. Lalu kukemasi barang-barang bawaan, dan menuju ke perempatan; tempat menunggu mobil ke arah kota.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Tapi akhirnya, karena rasa tanggung jawab, pamanku mengejarku ke perempatan dan mengajakku kembali ke pondok. Aku merengek seperti anak kecil. Padahal aku tak pernah berbuat seperti itu, walau kepada orang tuaku. Jadinya aku sangat malu sekali, terutama pada diriku sendiri. Namun akhirnya aku kembali juga. Dan meneruskan hidup di pondok.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Perjalanan itu kunikmati. Hari demi hari telah menikamku, sekaligus juga menambah usiaku di pondok itu. Sampai sekitar usiaku dua bulan di pondok itu, adalah saat pertamaku pulang, karena aku di parani oleh orang rumah untuk menjenguk ayah yang katanya sedang sekarat. (Tapi sebelumnya aku tak diberitahu tentang hal itu. Jadinya seperti burung yang diberi kesempatan untuk terbang oleh pemiliknya; sangat bahagia.). Kini aku pulang; suatu harapan yang ditunggu-tunggu. Kini aku benar-benar kembali dan hendak menghirup aroma desa kelahiran. Pikirku bahwa kepulanganku itu menjadi momentum yang sangat indah. Tetapi tidak. Kepulanganku bahkan merupakan saat-saat yang sangat menyedihlam, bahkan mencapai puncaknya. Ayakku, tak lama setelah aku bacakan surat Yaasin, ia berpulang ke &lt;i&gt;rahmatullah &lt;/i&gt;dengan membawa Syahadat. Aku tak menyangka hal itu akan terjadi. Tapia pa bolek dikata; semuanya Allah yang menentukan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Akhirnya tulang punggung keluarga itu telah tiada. Akhirnya orang yang selalu memberiku semangat untuk terus &lt;i&gt;iqra’ &lt;/i&gt;dan belajar ilmu setinggi-tingginya telah tiada. Rasa sedih ini tak tertahankan, bahkan aku luapkan dengan menjerit sekeras-kerasnya, walau ada tokoh masyarakat yang aku segani pada waktu itu, dan memarahi orang-orang rumah yang tak pernah memberiku berita tentang keadaan ayah yang sebenarnya. Pada waktu itu aku merasa, segala tentang diriku, harapan dan cita-cita, segala tentang keluarga, keinginan dan hamparan jalan, luruh bersama kesedihan panjang. Kukira inilah awal dari kehancuran, momentum keterpurukan, dan sejarah yang mencatat kisah-kisah pedih yang melimpah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Hidupku jadi blingsatan; tak tentu arah untuk beranjak. Pernah aku berusaha untuk menghabisi diriku sendiri, dan orang yang dikira telah menyihir ayah. Ke mana saja aku bawa &lt;i&gt;clurit &lt;/i&gt;(senjata orang Madura) dan berusaha mengambil kesempatan untuk membunuh orang itu dengan tanganku sendiri. Sampai-sampai aku berkomplotan dengan teman-teman yang agak dewasa, bahkan pamanku. Aku benar-benar gila pada waktu itu. Padahal pada waktu itu aku masih sangat kecil (umur 12 tahun). Karena kemarahan, sesuatu yang mustahil akan jadi kenyataan. Tapi akhirnya niat itu kuurungkan setelah aku tahu bahwa tak ada yang kuasa mencabut nyawa manusia kecuali Allah. Dialah yang Maha Penguasa. Kuyakini saja bahwa ini adalah takdir-Nya. Karena separah apapun penyakit seseorang jika tidak sampai pada waktunya ia berpulang, maka di harus pasti hidup, sebagaimana nabi Ya’kub.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Benar sungguh segala harapan jadi hambar, bahkan aku ingin berhenti mondok dan lebih baik membantu orang tua saja mengais rezeki. Tapi walau bagaimanapun, jika Allah telah memberi jalan yang lurus kepada sekalian manusia, maka manusia itu akan tetap dengan jalannya. Alhamdulillah, walau dengan bantuan Bapak kepala desa, aku kembali kepondok dan belajar ilmu Agama. Aku sangat berhutang budi kepadanya. Tetapi denyar-denyar darah ini ingin mengatakan kelak esok, bahwa tidak sia-sia engkau membiayai proses pematanganku. (Terima kasih bapak kepala desa. Doaku bakal terus mengalir kepadamu).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Selama itulah biaya sekolahku (MIs) termasuk buku-buku wajib di gratiskan, karena aku yatim. Aku bersekolah seperti biasanya, dan selalu menjadikan segala keperihan (jeratan kemiskinan dan kematian ayah) sebagai gumpalan semangat. Kuharap gumpalan itu teruah oleh kekokohanku untuk menunaikan niat sang ayah tercinta. Selama tiga tahun sekolah tingkatan pertama kujalankan (2000-2003). Aku lulus dengan nilai biasa. Satu bidang pun tak ada yang kudalami, tak sama dengan idealismeku sebagai penuntut ilmu yang terserak di dada. Tapi aku bersyukur, karena aku banyak tahu tentang kehidupan; jalan dan batasan-batasannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Aku hendak melanjutkan ke sekolah tingkat atas (SMA). Kupilih SMA Annuqayah yang baru berdiri. Awalnya tak ada alas an mengapa aku tertarik padanya, padahal masih ada sekolah yang tua yang berada di naungan Yayasan Annuqayah (MA 1 dan MA 2). Tapi setelah kujalani, sangat jauhlah berbeda, karena sekolah yang baru pasti penuh dengan peraturan yang bertujuan untuk mendisiplinkan. Buatku SMA paling faforit. Walau aku tak mau pada formalitas, tetapi darinya aku dapat belajar bagaimana jadi orang formal. Kepada SMA aku sangat berhutang budi, karena dialah yang membesarkanku dengan ilmu-ilmu yang diajarkannya, juga karena guruku di sana, semangat keilmuanku semakin berhasrat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Kujalani sekolah SMA (2003-2006) dengan keriangan, keakraban, keeratan tali hubungan antar teman. Tak ada yang sangat paling terkesan dari segala sesuatu hidup masa remaja, kecuali masa-masa SMA. Hingga kini masih terngiang tentang apa yang terlipat; teman-tema seperjuangan, semua guru-guru yang bersahabat, kisah-kisah sekolah yang meriangkan hari-hari. Sungguh di sana hari-hariku jadi hidup, bersinar, dan pancarannya bertahan hingga kini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Perpisahan memang menguras air mata dan gejolak hati. Sebagaimana juga sewaktu SD, perpisahan SMA menjadi ujung kisah sedih. Perpisahan kali itu adalah puncak perpisahan, karena waktu itu sekaligus perpisahanku dengan pondok yang semakin kusayangi dan teman-guru yang sangat aku cintai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Perpisahan selalu mengundang romantika luka. Setelah segalanya terangkai, setelah segalanya selesai, perjalanan seakan kurang. Tak sudi kiranya aku meninggalkan jejak kakiku di pondok yang dulu sangat tak kusukai. Tak sudi aku meninggalkan teman-teman yang sering menolongku saat lapar, mengajakku cangkruan, merangkum hatiku, menjejaki segala yang bakal jadi sejarah. Ingin lagi kunikmati panorama pondok yang serba islami, ingin kurajut jejak-jejak yang tertinggal, ingin semai pertemanan sepanjang asa menggumpal. Tapi apalah daya, sebuah tangisan di awal juga akan berakhir dengan tangisan. Aku tak bisa terlalu lama bertahan di podok, karena prosesku tak harus sepenuhnya tertambat di sana. Aku harus beranjak, dan menatap cakrawala di ketinggian. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Karenanya maka dipilihlah Yogyakarta (17 Agustur 2006), sebagai ruang proses ke tigaku. Aku tertambat di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim ‘Asyi’ari; tempat aku jernih memandangi langit dan bumi, sebuah pondok yang diasuh oleh Gus Zainal Arifin Thoha; ilmuwan, penyair, budayawan, sufi, presiden kuburan, guru hidupku setelah orang tua, yang meninggal pertengahan Mei lalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Darinya aku banyak belajar tentang landai-terjal kehidupan dan bagaimana cara untuk menghadapinya. Aku belajar “hidup” dan sekaligus “mati”, belajar “menjual kehormatan”, dan hidup mandiri sepenuhnya dari beliau. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Karena beliau aku menjadi penjual &lt;i&gt;angkrengan &lt;/i&gt;(selama kira-kira empat bulan)&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;penjual Koran di perempatan &lt;i&gt;Malioboro, &lt;/i&gt;menjadi seseorang pengais jejak-langkah diri sebagai proses pematangan spiritual. Darinya aku dapat jadi remaja yang tangguh, kuat, dan mengakar. Salam hormat dan doaku selalu mengalir pada beliau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Dengan KUTUB-nya aku dapat menjadi “besar” berkenaan dengan proses kepenulisan. Dari lembaga ini beberapa tulisan-tulisanku, berupa Essai, opini, cepen, puisi dan resensi, bermunculan di koran-koran pusat maupun daerah, seperti di &lt;i&gt;Seputar Indonesia, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, Suara Merdeka, Surya, Bali Post, Bisnis Jakarta, Solo Pos,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Surabaya Pos &lt;/i&gt;dan di sejumlah &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Dasuk bagai sarang tempat aku pulang nanti. Annuqayah bagiku lebih dari segala apa yang tercipta di luar diriku. Jogja buatku adalah kota kecil tempat untuk menatap cakrawala yang lebih luas.. Sekarang aku masih dalam proses menjadi “manusia”, dengan motto hidup “spiritualitas, intelektualitas, kreativitas dan profesionalitas”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Itulah mungkin tentang siapa, apa dan bagaimana aku, guru. Tentang cinta, mungkin aku adalah lelaki sejati. Aku masih terlalu cinta buat kekasihku yang sejatinya kini telah menghilangkan aura cintanya yang dulu ditebarkannya saat aku masih kelas tiga MTs. Aku memilikinya, tapi dia tidak. Tetapi ketahuilah bahwa aku bukanlah lelaki pejantan – sebagaimana juga Ahmad Wahib, dalam catatan hariannya yang diterbitkan LP3S. Aku tak dapat menumpahkan rasa cinta di hatiku kepadanya, karena pikirku; hingga aku tak pernah berubah dari keterpurukan keadaan, dari kemiskinan, biarlah cinta ini kunikmati sendiri. Tanpa diucapkanpun kuyakini dia mengerti. Tapi ia tak pernah mengerti dengan kemengertiannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jogja, 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-8954647692518885913?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/8954647692518885913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=8954647692518885913&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8954647692518885913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8954647692518885913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/06/biografi-pengembaraan-dan-pergulatan.html' title='Biografi Pengembaraan dan Pergulatan Hidup'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2443392959348188320</id><published>2009-04-11T20:59:00.001-07:00</published><updated>2009-04-11T20:59:41.190-07:00</updated><title type='text'>CIRKUMPOLAR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kusebut namaku berkali-kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;tapi suara siapakah ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kubawa suara itu ke dasar hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;tapi perasaan siapakah ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;tak seorang akan tahu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;ada samar yang sunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;pada nama dan suaraku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;pada diriku sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;ada sesuatu yang kelabu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;dari gemuruh ruang dan waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;dari sebuah gumam agak ragu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”kutahu diriku, tapi tak kukenal dirimu”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;o. barangkali aku hanyalah peristiwa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;dari mimpi setengah nyata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;atau sesosok manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;karena itu aku tak ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jogja, 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2443392959348188320?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2443392959348188320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2443392959348188320&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2443392959348188320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2443392959348188320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/04/cirkumpolar.html' title='CIRKUMPOLAR'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3842975595396929539</id><published>2009-04-11T20:50:00.001-07:00</published><updated>2009-04-11T20:52:00.304-07:00</updated><title type='text'>DALAM DERU KERETA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:15;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;dalam deru kereta, kulihat kunang-kunang merubung kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;ada jiwa yang menangis, nampaknya, dan mengharap sapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;ada rindu yang tertahan: suara-suara masa silam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;kutatap kembali dalam-dalam batas ujung belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;baris-baris rel tenggelam dan hilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;lalu kurasa, pada kubur nenek moyang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;ada milik kita yang tertinggal: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;nyanyi sunyi, denting hari-hari&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;tapi kereta ini telah begitu jauh membawa kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;dan entah kapan akan berhenti:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;hingga segalanya lebih buruk lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;hingga kunang-kunang ini mati?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jogja, 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3842975595396929539?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3842975595396929539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3842975595396929539&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3842975595396929539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3842975595396929539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/04/dalam-deru-kereta_11.html' title='DALAM DERU KERETA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2927268393340607462</id><published>2009-04-01T01:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T20:50:36.954-07:00</updated><title type='text'>SEMBILU DINI HARI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:15;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:15;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;asap rokok menyelubung dalam hati, dalam bait-bait tasbih yang sepi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;setiap kali kopi ini menatapku, dan kucoba menatapMu pada wajahku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;semakin hitam, semakin kelabu: batin dan mataku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;aku tak bisa menangkap apa yang datang dan yang hilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;tapi semuanya terungkap begitu saja, begitu rahasia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;seperti malam yang menggelapkan kamarku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;tapi menjadikanku lapang dan lengang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;seperti sedih datang tiba-tiba&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;dan cinta berangkat rahasia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;o. aku semakin buta setiap kali menatapMu, kekasihku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;dan sunyi, nampaknya, tak cukup mengerti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;apa yang diisyaratkan rokok pada hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;dan yang dibaitkan tasbih pada sepi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;pada wajahku dalam cermin kopi ini&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jogja, 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2927268393340607462?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2927268393340607462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2927268393340607462&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2927268393340607462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2927268393340607462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/04/malam-dalam-kamar.html' title='SEMBILU DINI HARI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1632397091155189068</id><published>2009-03-29T21:18:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T21:19:08.648-07:00</updated><title type='text'>SESUATU DALAM PESIMISME HIDUP</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Pernah sekali aku kecewa pada hidup. Ketika itu aku sedang sendiri di kos. Di saat yang sepi itu, aku berusaha kembali mengotak-atik buku. Aku belajar sedapat yang aku inginkan dari bab per bab fisika modern. Setelah sekian lamanya aku belajar, hingga berjam-jam, aku mulai sadar bahwa aku bukanlah orang yang tepat menjadi seorang pembelajar. Sudah banyak hal aku upayakan dari belajarku itu. Tapi semuanya sia-sia. Tetap aku tidak bisa. Tetap saja aku tak paham yang sedang kupelajari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Berangkat dari ketakpahaman itulah aku mulai merenungi hidupku. Masa lalu serupa pasukan Jengis Khan menyerbu kesadaranku. Demikian pula masa depan. Hingga aku tak sadar bahwa aku ada di masa kini, dengan keberadaanku yang seperti ini. Serba terbatas dalam hal apa pun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku menangis. Sebuah tangisan kosong, tapi begitu histeris. Hatiku hancur. Aku tak berdaya dengan hidup. Kesuraman masa lalu tiba-tiba menyergap harapanku di masa mendatang. Aku tak tahu lagi, bagaimana harus memulai semuanya di hari ini. Di saat ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku mengutuk semuanya. Takdir, Tuhan dan diriku sendiri. Aku mengutuk kemiskinanku, kebodohanku, keterbatasanku, sifat dan tabiatku, dan segala kekuranganku. aku mengutuk hidup, setidaknya hidupku sendiri. Mengutuk kenyataan, mengapa telah menjadikanku sedemikian rapuh ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Serasa setelah segalanya terkungkung dalam diriku, aku ingin meninggalkan diriku sendiri. Aku sudah muak dengan diriku. Aku tidak sabar dengan kenyataan yang sedang aku hadapi. Aku merasa, sekaranglah waktu yang tepat mengakhiri segalanya. Aku harus meninggalkan hidup, karena itu, jalan satu-satunya aku harus bunuh diri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku ambil sedikit gerakan dari puncak kesadaranku. Aku berharap dengan ini Tuhan tidak akan marah. Ibu di kampung halaman, semoga tidak kecewa dengan tindakanku ini. Semoga beliau memaklumi alasanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tapi, ketika hendak kuhunjamkan sebilah besi karat tapi tajam ke perutku, ada yang datang tiba-tiba. Sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku tidak tahu, apakah itu ilham atau apa. Seperti sebuah kesadaran dalam dada, dan pendar cahaya yang demikian nyata. Ia tidak berkata apa-apa kepadaku. Hanya saja karenanya kesadaranku menjadi pecah, dan sedikit demi sedikit aku mulai berubah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Keyakinanku pada diri dan kehidupanku semakin kuat. Aku menjadi tegar seketika. Entah ketegaran macam apa, aku tidak bisa membahasakannya. Kalau dianalogikan, seperti pohon tumbang beranjak hidup kembali. Tumbuh subur sama sekali, seperti masa lalunya yang sudah berkarat di kantung waktu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Akhirnya aku pun sadar, mungkin inilah rahmat Tuhan. Petunjuk Tuhan yang secara nyata telah ditunjukkanNya padaku. Oh, benar-benar betapa bahagianya hatiku. Sebuah kebahagiaan tanpa sebab, barangkali pula tanpa akibat. Aku merasa kosong. Tetapi begitu tenang. Begitu damai. Begitu permai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Lalu aku beranjak dari ketertegunan itu. Menuju kamar mandi, dan berwudlu. Aku shalat malam. Sebuah shalat yang karenanya aku tidak mengharapkan apa-apa. Sebuah shalat yang tulus aku lakukan karena aku merasa bahwa Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan hidup umatnya, setidaknya umat yang sudah pesimis sepertiku. Aku tenggelam dalam irama cinta hakiki. Aku shalat tanpa membawa serta kesadaranku. Tanpa kemanusiaanku. Tanpa apa-apa – dan memang aku tak memiliki apa-apa, bahkan diriku sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sehabis shalat, kembali kesadaranku menyentakku tiba-tiba. Aku telah dibawanya kesuatu tempat dimana penyesalan dan harapan bercampur sedemikian rupa. Hingga akhirnya aku tahu keberadaanku dalam kehidupan ini. Aku mengenal diriku. Sebuah perkenalan yang telah membuatku bahagia, meski tak pernah bisa aku mengungkapkannya. Setelah itu, serasa aku kembali hidup sebagai diri yang seutuhnya. Diri yang sepenuhnya diri. Fakih yang sesungguhnya Fakih. Fakih historis, tetapi juga Fakih yang ahistoris…Terima kasih, Tuhan. &lt;b&gt;(28 Maret 2009).&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1632397091155189068?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1632397091155189068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1632397091155189068&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1632397091155189068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1632397091155189068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/03/sesuatu-dalam-pesimisme-hidup.html' title='SESUATU DALAM PESIMISME HIDUP'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7932056869867590431</id><published>2009-03-22T21:04:00.001-07:00</published><updated>2009-04-11T20:57:18.230-07:00</updated><title type='text'>LORONG SUNYI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:15;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;saat kukekalkan sunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;dan tak kukenal lagi suaramu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ada yang bergegas dari diriku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;serupa gelombang waktu;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ada yang menyekapku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dingin dan kosong;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;seberkas cahaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;menelusup ke relung dada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;menjelmakan jiwa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;hingga gemuruh hidup pun lesap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;bagai dencing gobang jatuh ke sumur gelap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dan kuraba kesunyian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dan gemetar tubuhku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kurasakan segalanya lenyap&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ruang-waktu menepi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ke bilik sunyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ke dalam Diri &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tak pasti ini&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jogja, 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7932056869867590431?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7932056869867590431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7932056869867590431&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7932056869867590431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7932056869867590431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/03/lorong-dalam-meditasi.html' title='LORONG SUNYI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6888723407513585527</id><published>2009-03-22T20:57:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T20:58:53.025-07:00</updated><title type='text'>ODE UNTUK AYAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang hilang selepas kepergianmu&lt;br /&gt;karena setiap kepergian adalah juga kepulangan&lt;br /&gt;(: kau pergi untuk pulang&lt;br /&gt;kembali&lt;br /&gt;pada kefanaan ini)&lt;br /&gt;karena hidup dan mati&lt;br /&gt;hanyalah bayang-bayang waktu&lt;br /&gt;jiwa kita yang rapuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita senantiasa melangkah dan bicara&lt;br /&gt;dengan tapak dan suara yang sama&lt;br /&gt;dalam jejak dan senyap yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jogja, 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6888723407513585527?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6888723407513585527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6888723407513585527&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6888723407513585527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6888723407513585527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/03/ode-untuk-ayah.html' title='ODE UNTUK AYAH'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6526114579133075923</id><published>2009-03-16T00:58:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T21:14:00.251-07:00</updated><title type='text'>DI ULTAHKU YANG KE-21</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SccMeiQDWCI/AAAAAAAAADw/nlHWKUtEEBw/s1600-h/edit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SccMeiQDWCI/AAAAAAAAADw/nlHWKUtEEBw/s320/edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316231603863902242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tanggal 08 Maret 2009. Semenjak tadi sore ba’da ashar aku resmi memasuki umur yang ke-21. Tak sempat kukira waktu berjalan begitu cepatnya. Rasanya baru kemarin tanggal 08 Maret 2008, tetapi tiba-tiba aku harus memaklumi bahwa kini sudah 08 Maret 2009. Benar-benar waktu secepat kilat memenggal umurku. Kurasa benar, waktu selalu bergerak cepat jika tak ditunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sederhana sekali di hari ultahku ini. Tak ada yang istimewa, tak ada yang spesial. Tak ada ucapan selamat dari teman-teman, kecuali dari mbakku dari kampong halman, apalagi sesuatu yang berbentuk kado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa kesepian waktu itu, dan betul-betul sepi. Aku merasa terasing dari kehidupan, dari gegap-gempita, dari riang tawa teman, dari lingkungan sekitar. Betul-betul sepi datang kepadaku dengan wajahnya yang paling suram dan asing. Sepi yang tak cukup diungkapkan dengan hanya memuramkan raut muka dan dengan samar sembari berkata, “kini aku merasa sepi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti orang malang yang tak punya siapa-siapa kecuali diriku sendiri. Karenanya, ketika sendiri di beranda kontrakan Kutub, bersama beberapa tetes air mata, dengan lirih aku ucapkan, “Happy Birth Day, Fakih!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berdaya dengan keadaan seperti ini. Aku berpikir, bolehlah seluruh hariku penuh dengan penderitaan, tetapi tidak untuk satu hari ini. Ulang tahun yang tak dirayakan memanglah betul-betul menyakitkan. Dan aku merasakan hal demikian. Sampai-sampai aku merasa berdosa pada diri sendiri. Aku merasa seperti orang yang tak pernah bisa menghargai kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat menyesal.  Menyesal karena keadaannya jadi serba tiba-tiba dan biasa. Menyesal karena pada dirikupun tak ada sepercik rasa haru dan bahagia. Bahkan menyesal pada hidup yang menakdirkanku jadi sosok seperti ini, sosok yang tak pernah selesai diliputi kemuraman dan penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, waktu peralihan umurku, senja memancar begitu senyap, menelusup di celah-celah pohon rambutan dan berpendar di beranda Kutub Krapyak dimana aku duduk merenung seorang diri. Berusaha kuulang dan kuulas kembali kisah hidupku satu tahun yang lalu. Dengan tetesan air mata yang tak kusadari, aku menyesali dan mengutuk diriku sendiri, karena aku merasa bahwa dalam satu tahun ini aku tak mendapatkan perubahan apa-apa pada diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap seperti Fakih yang dulu, orang yang selalu setengah-setengah dan tak pernah serius dalam hal apa pun. Aku tetap Fakih yang selalu kalah pada hidup, selalu tak bisa mengendalikan diri; seseorang dengan seperangkat harapan besar yang dalam kesehariannya menampakkan gairah hidup orang yang tak menghargai harapannya sendiri. Aku merasa bahwa aku bukanlah tipe orang yang revolusioner, orang yang sungguh-sungguh mengimpikan perubahan pada hidupku sendiri. Aku seperti orang yang tak berguna apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia ilmu, aku tak mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Aktifitas ilmiahku masih seperti tahun-tahun semenjak aku di Jogja: diskusi filsafat, ilmiah, editorial, sastra dan menulis di koran. Tetapi semuanya tak memberiku perubahan yang berarti. Proses belajarku tak betul sungguh-sungguh dengan daya koriositas yang tinggi pada ilmu. Hingga kini, sampai semester 4 ini, aku masih belum sepenuhnya paham dasar-dasar filsafat, fisika dan matematika – konsentrasi utamaku – apalagi teori sosial, budaya, ekonomi dan sastra – konsentrasi ilmu sampinganku. Hanya ada beberapa buku yang telah kubaca habis, tak lebih dari seratusan buku. Itu pun tak semuanya paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan pola pikiranku, masih jauh dikatakan sebagai orang dengan pola pikir yang  tinggi, generasi ilmuwan yang punya masa depan cerah. Ide-ide dan pikiranku hanyalah berupa lintasan-lintasan sejenak. Aku tak betul-betul serius menekuri pikiranku sendiri. Aku bukanlah orang dengan pola belajar dan konsentrasi tinggi pada apa yang aku pelajari. Aku bukanlah orang yang dengan serius, sabar dan tekun pada percikan-percikan pemikiranku sendiri. Pernah sekali peristiwa aku frustasi, hampir-hampir ingin menjauh dari dunia ilmiah dan kampus, hendak pulang dan jadi orang tani biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terjadi pula dalam dunia religi. Aku tetap sebagai orang Islam yang jarang mendirikan shalat subuh, jarang melakukan ritual-ritual sunnah, berdzikir dan mengaji. Bahkan kualitas keimananku pada Tuhan masih perlu dipertanyakan, masih prematur: kadang kuat dan dalam, kadang lemah dan dangkal. Tetapi dibanding tahun sebelumnya, selama tahun kemarin aku bersyukur bisa sedikit istiqamah mendirikan shalat sunnah hajat dan istikharah. Sehabis maghrib sudah mulai biasa membaca surat Yaasin. Sedikit demi sedikit sudh bias meluangkan waktu untuk membaca al-qur’an. Dan sekali waktu datang ke rumah Cak Kuswaidi Syafi’ie menimba limpahan spiritual. Tetapi semua usaha itu tidak menjamin keislamanku menjadi kuat: keyakinanku pada Allah masih terlalu labil, sikap dan sifatku masih jauh dari pribadi Nabiku tercinta, Muhammad Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia kampus, setahun kemarin kuliahku hancur. Sama sekali aku tidak serius kuliah: jarang masuk, jarang mengerjakan tugas, tidur dan seringkali main-main di kelas, dan sebagaimnya. Aku cuti semester 3 lantaran tidak punya uang buat SPP juga dalam keadaan gamang apakah mau meneruskan kuliah atau tidak. Waktu itu aku semester 2, menganggap kuliah tidak penting bagiku, karena hanya membuang-buang waktu saja. Hingga semester 4 ini, ketika aku kalkulasi semuanya, mata kuliah yang wajib aku ulang ada lima, suatu prestasi yang luar biasa jelek. IPKku tidak sampai dua koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pribadi yang instrinsik, aku termasuk orang yang tak punya pegangan prinsip yang jelas. Sering aku terombang-ambing dengan keadaan, terikutarus pada gerak lingkungan sekitar. Aku termasuk orang yang tidak teguh memegang pendirian, tidak pernah serius memperjuangkan sesuatu, pemalas, penakut, tidak disiplin, dan sebagainya. Aku masih jarang mandi, jarang bisa mengatur uang, memenej waktu dengan baik, dan mempergunakan kesempatan dengan baik. Aku masih belum bisa mengangankan sebagai pribadi yang pekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dan sikapku masih cenderung labil. Aku kadang masih sering egois, sok-sokan, bangga pada diri sendiri, sering meremehkan orang lain, pembenci, negative tinkhing, dhalim, dan sebagainya. Aku masih belum bisa mengendalikan diri dari sifat dan sikap buruk itu, tidak bisa memendam rahasia, perenung, penghayal, dan masih belum dewasa. Aku tidak punya pijakan yang jelas secara sikap dan sifat seturut karakter pribadiku sendiri. Dan yang terpenting, sifat dan sikapku belum seperti jungjunganku, nabi Muhammad Saw – sosok yang kepribadiannya sangat aku kagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di umur yang sebenarnya terlambat ini, aku berjanji akan merubah segalanya. Aku hendak berusaha dengan serius dalam beribadah, mengaji dan berdzikir, belajar, berpikir, berkarya dan kuliah. Aku berjanji pada diri untuk disiplin, pandai beramal dan bekerja keras, menjadi diri sendiri, belajar arif dan bijaksana pada diri dan orang lain, positive tinkhing, berani mengambil resiko dan bertanggung jawab dan tidak takut memperjuangkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang nampaknya itu sulit dilakukan semuanya. Tetapi aku yakin, aku bisa berbuat sesuatu. Aku bisa berharap banyak pada diri sendiri. Dan aku kira saat ini diriku siap menanggung segalanya. Kata-kata Sjahrir tetap aku pancangkan di dalam dada, bahwa hidup yang tak diperjuangkan, hidup yang tak dimenangkan. Aku ingin perubahan dalam hidupku. Aku tidak mau terlena dengan pola hidup yang buruk dan memuakkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah lama hal semacam ini aku sadari, tetapi tak pernah aku memerdulikannya. Kini aku tahu dan paham, bahwa perubahan itu perlu diupayakan dalam hidup. Dan aku akan memulainya. Saat ini, di pintu umur yang ke-21 ini. Amien! &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Selasa, 08 Maret 2009. Jam 00:05).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6526114579133075923?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6526114579133075923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6526114579133075923&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6526114579133075923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6526114579133075923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/03/di-ultahku-yang-ke-21.html' title='DI ULTAHKU YANG KE-21'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SccMeiQDWCI/AAAAAAAAADw/nlHWKUtEEBw/s72-c/edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-4410016517190002507</id><published>2009-03-01T20:44:00.000-08:00</published><updated>2009-04-11T20:58:47.798-07:00</updated><title type='text'>KELAHIRAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 15pt;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;pertama dan mungkin untuk selamanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;waktu mengeras di kabut dingin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;sedingin kematian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;di dadaku yang hening&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;waktu yang asing untuk sebuah impian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;tapi begitu dekat, begitu menyekap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dan aku mengakrabinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;seperti mengakrabi air mata:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;sesuatu yang mungkin tercipta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;untuk tanahnya sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;tanah yang sepi dan abadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;tanah di dadaku ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jogja, 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-4410016517190002507?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/4410016517190002507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=4410016517190002507&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4410016517190002507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4410016517190002507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/03/kelahiran.html' title='KELAHIRAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7799078246120714042</id><published>2009-01-18T23:08:00.000-08:00</published><updated>2009-03-22T21:02:47.820-07:00</updated><title type='text'>KENAL</title><content type='html'>mereka bilang, "kami mengenal-Nya!"&lt;br /&gt;padahal tak menganal siapa-siapa, elfa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka merasa mengenal-Nya&lt;br /&gt;kecuali ketika terluka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah mengapa. mereka tak pernah bertanya:&lt;br /&gt;"bagaimana kami harus mengenal-Nya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7799078246120714042?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7799078246120714042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7799078246120714042&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7799078246120714042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7799078246120714042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2009/01/kenal.html' title='KENAL'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3491449715754078765</id><published>2008-12-30T22:08:00.001-08:00</published><updated>2009-01-18T22:55:19.662-08:00</updated><title type='text'>Maafkan Aku, Blogku!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SVsM1kghMwI/AAAAAAAAADg/ymSdWAEzjaE/s1600-h/IMG_0117.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SVsM1kghMwI/AAAAAAAAADg/ymSdWAEzjaE/s320/IMG_0117.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285832702122078978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Wahai blogku, diriku yang lain, sudah lama aku tak mengunjungimu. Sungguh aku minta maaf. Selama ini aku sering disibukkan oleh banyak hal: konsentrasi menulis di media, belajar intens membaca buku, diskusi, free talk-kan dengan seorang wanita yang semu, berangan-angan, berhayal, dan belajar terus berdekat-dekatan dengan Tuhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Jadi sebenarnya ada banyak hal pula yang dapat aku tuliskan saat-saat menjalani pekerjaan itu. Namun entah mengapa, aku selalu lupa atau selalu merasa tidak punya waktu untuk menuliskannya. Aku sangat menyesal karenanya, blogku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebenarnya aku sangat yakin bahwa pada saat yang lain aku bisa menuliskannya. Tapi ternyata, setelah mencoba kembali untuk mengingat-ingatnya, aku sudah tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Blog, sekarang aku sadar, bahwa ternyata pengalaman penting itu harus segera ditulis pada saat dimana pengalaman itu sedang aku jalani. Selain agar perasaanku selalu kuat memberi menggali kedalaman pada setiap tulisan, juga agar kita dapat saling bertegur sapa. Mulai saat ini aku berjanji, jika pengalaman-pengalaman berharga itu datang, aku akan cepat-cepat menuliskannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sekali lagi maafkan aku, blogku. Aku telah berdosa karena sudah lama tidak mengunjungimu. Mari mulai saat ini, kita jadi karib lagi. Jika aku salah, tolong doakan aku supaya kembali ke jalan yang benar. Jika kau salah, aku akan memanggil temanku yang pandai mengolah blog, dan akan membetulkan kesalahan itu. Okey! &lt;b&gt;&lt;i&gt;(24-12-2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3491449715754078765?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3491449715754078765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3491449715754078765&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3491449715754078765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3491449715754078765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/12/maafkan-aku-blogku.html' title='Maafkan Aku, Blogku!'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SVsM1kghMwI/AAAAAAAAADg/ymSdWAEzjaE/s72-c/IMG_0117.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1124528020739999667</id><published>2008-12-03T23:08:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T22:59:09.996-08:00</updated><title type='text'>KEMANAKAH DIRIMU, KEKASIH?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku, kemanakah diriMu? Aku di sini menungguMu dengan tangis yang kosong, dengan diri yang beku. Lama. Oh, sungguh lama sekali, kekasih! Hingga kukira hidup ini adalah kesendirian yang sempurna. Atau sekedar arena pencarian yang tak akan pernah memberikan perjumpaan. Atau justeru tempat dimana keterasingan adalah keniscayaan. Kalau begitu, apa arti hidup ini, kekasihku? Mengapa Kau cipta rasa cinta dan rindu dalam diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanakah diriMu, kekasih? Kemanakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hariku selalu hampa dalam rindu yang patah. Dalam cinta yang tak tersua. Aku sudah muak dengan perjumpaan yang dipaksakan ini, kekasih. Aku tak mau lagi bersusah-payah mengekalkan diriMu dalam jiwaku, sementara Kau tak pernah sekali-kali mengekalkan jiwaMu dalam diriku. Aku tak mau hidup ini layaknya fatamorgana. Yang kumau adalah sebuah keyakinan bahwa Kau ini sungguh Ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanakah diriMu, kekasih? Kemanakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar memang kekasih, shalatku tak sempurna. Demikian pula zakat dan puasaku. Tapi apakah semua itu adalah ukuran dari kuatnya sebuah cinta dan kerinduan? Tidak. Sama sekali tidak. Karena aku tak pernah berfikir bahwa rasa cinta dan rinduku kepadaMu lebih dangkal daripada mereka yang sempurna shalat, zakat dan puasanya. Aku hanya tahu, rinduku padaMu benar-benar ada dan sempurna. Bahkan karena begitu dalam dan sublimnya, hingga tak dapat tertanggungkan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanakah diriMu, kekasih? Kemanakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(4/12/2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1124528020739999667?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1124528020739999667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1124528020739999667&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1124528020739999667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1124528020739999667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/12/kemanakah-dirimu-kekasih.html' title='KEMANAKAH DIRIMU, KEKASIH?'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-127893657935313014</id><published>2008-11-18T18:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T23:24:13.264-08:00</updated><title type='text'>Liburan di Rumah Pada Semester Genap Pertama</title><content type='html'>Liburan kali ini memberiku kesan yang lain. Kesan tentang keluarga, teman-teman dan semangat hidup yang baru. Mereka seperti segetun masa lalu yang kembali aku merajutnya. Mereka adalah serangkum harapan yang terus aku damba. Memang ini bukan pengalaman yang pertama, tapi setidak-tidaknya adalah kesan yang paling mempengaruhi hidupku sebagai seorang pemuda yang selalu gelisah mencari makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada perubahan yang berarti memang dari penampilanku saat pertama kali menginjakkan kaki di desa tumpah-darahku, Kerta Timurku. Baju, celana, tas dan segala asesoris yang aku pakai sangatlah sederhana, seperti tak menampilkan aku datang dari kota. Memang aku tidak suka gaya-gayaan. Bahkan tas dan sandal yang aku pakai pinjam kepada teman. Rambutku agak gondrong, sampai setengah punggung. Ini sudah biasa setiap kali aku pulang dari Jogja. Aku lebih suka rambut gondrongku dipotong di rumah saja kepada teman. Tapi yang esensi kesan atas liburanku bukan terletak pada hal remeh-temeh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan aku pulang ialah selain rindu kampung halaman juga ingin bantu-bantu orang tua menanam tembakau. Aku ingin belajar bagaimana menjadi petani yang sesungguhnya, karena itu aku selalu berusaha mengisi tiap waktu liburanku dengan hal-hal yang biasa dilakukan oleh para petani: jalan hidup rata-rata para tetanggaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi aku menyapu halaman, menyiram tanaman, dan setelah itu pergi ke sawah buat menyiram tembakau. Siangnya aku sisihkan waktu buat bersenda dengan sanak keluarga atau teman-teman, atau malah tidur. Sore harinya kalau tidak main bola, aku menyabit rumput atau membantu nenek menanam sayur-mayur, mencari kayu bakar dan memanen singkong. Malamnya, aku pasti ngumpul-ngumpul bareng teman-teman. Demikianlah hari-hari liburanku aku lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini tidak monoton. Selalu ada hal-hal kecil yang bisa aku lakukan seperti membaca buku, menulis puisi, belajar mendalami rumus-rumus fisika. Apalagi setelah tembakau jatuh panen. Tak ada sepertinya hidup tanpa tembakau. Pagi dan sore aku pasti membantu para tetanggaku memanen tembakau. Dan malamnya aku membantu mereka masat tembakau. Tak luput di sela-sela itu, aku membantu emak atau embuk menyabit rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam liburan itu sungguh aku merasakan betapa beratnya menjadi petani, tapi disamping itu pula sangat menyenangkan menjalani hari-hari. Kalau di Jogja hari-hariku penuh dengan penderitaan, seperti sering kelaparan, selalu gelisah mencari jati diri, dan gedung-gedung menjadi obyek tatapan, lain halnya aku di kampung. Hari-hari aku lalui dengan suka cita, permai, dan pemandangan-pemandangan hijaunya sungguh menyejukkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih memang ketika ngumpul dengan keluargaku. Aku sangat menyayangi mereka: ibu, nenek dan adikku yang nakal itu. Bagitu pula nenk-kakek samping, paman-bibi, dan keluargaku di Ambunten. Aku merasakan kehangatan yang luar biasa dari mereka. Semangatku terangkum dalam tawa-murung wajah mereka. Kesan itu bertambah besar ketika aku merasa bahwa sudah saatnya aku memberikan kasih-sayang kepada mereka dengan cara yang lebih dari sebelum-sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi saat turut merasakan penderitaan mereka, aku merasa semakin berat untuk kembali ke Jogja. Aku ingin selalu berada di samping mereka, turut ikut dalam suka dan derita mereka. Tapi keputusan itu menurutku terlalu sempit, walau sesungguhnya hal ini sangat aku paksakan. Untuk membahagiakan mereka aku kira tidak harus selalu bersama mereka. Dengan menuntut ilmu di Jogja dengan sebenar-benarnya belajar menurutku lebih urgen. Karena aku yakin kelak, setelah aku sukses mencari sesuatu yang kurang dari diriku, aku dapat lebih membahagiakan, mensejahterahkan dan membanggakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, aku putuskan untuk kembali ke Jogja, kembali mengeja hidup yang penuh makna. Itu saja. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(28 Juli 2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-127893657935313014?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/127893657935313014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=127893657935313014&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/127893657935313014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/127893657935313014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/11/liburan-di-rumah-pada-semester-genap.html' title='Liburan di Rumah Pada Semester Genap Pertama'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-430519412315456735</id><published>2008-11-18T18:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T23:01:59.508-08:00</updated><title type='text'>AKHIR SEBUAH CERITA CINTA PERTAMA</title><content type='html'>Hari selasa yang kelam itu, tanggal 11 November 2008. Waktu itu tepat jam 12.23, aku ditelpon oleh seorang laki-laki misterius dengan private namber. Dia bilang kepadaku, “Apa hubunganmu dengan nomor HP yang belakangnya 507? Kenapa kau tak henti-hentinya menge-call-nya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu, sungguh aku agak nerveos. Setelah aku cek di HPku, ternyata nomor itu punya Siska, seorang wanita yang bagiku adalah cinta pertamaku. Lalu aku menjawabnya, “Enggak ada apa-apa. Nomor itu punya Siska kan? Dia adalah teman dan tetanggaku. Ada sesuatu yang mesti aku sampaikan kepadanya, namun dia tidak menjawabnya, entah itu SMS atau call. Memang kau ini pacarnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak menjawab pertanyaanku, melainkan cuma bilang, “O..gitu. Ya sudah kalau kau tidak punya hubungan apa-apa sama dia.”. Setelah itu dia menutup HPnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku penasaran. Karena itu aku SMS ke Siska, minta nomor HPnya. Aku ingin ngomong kepada dia tentang maksudku kenapa aku ngotot menelpon Siska. Tapi sayang, Siska tak menjawab SMSku itu. Maka gagallah maksudku untuk menjelaskan kepada seorang laki-laki itu yang kemudian kuanggap saja sebagai kekasihnya Siska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas kejadian itu, pikiranku berkecamuk. Seribu pertanyaan tiba-tiba menyeruak di kepalaku. Baik laki-laki itu maupun sikap Siska yang tidak pernah menjawab call dan SMSku, semuanya menjadi ganjil. Aku menunda shalat dzuhurku hanya untuk berfikir sejenak tentang keganjilan-keganjilan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku butuh teman curhat. Ya, aku sangat butuh teman curhat untuk mencairkan kembali kebekuan yang mendekam di kepala. Barangkali hanya Sipul, teman kecil dan setiaku, dan Triana Oktavia, perempuan misterius itu yang bisa menerima tumpahkan curhatku. Nada-nada sumbing tapi menyejukkan dapat aku terima darinya, hingga akibatnya aku menjadi tegar dan berusaha berdamai dengan masa laluku, dengan Siskaku itu. Lalu semangatku  untuk tidak mengingat soal apa pun tentang wanita sebelum semester tujuh kian tegar. Dan aku sangat bersyukur karenanya. Aku sangat berterima kasih kepada dua teman setiaku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai shalat magrib aku putuskan untuk SMS kepada Siska tentang maksud callku tadi siang itu. Aku tak lagi berharap Siska menjawab SMSku itu, karena ini bukan pertanyaan tapi pernyataan. SMS itu barangkali sebagai yang terakhir dariku buatnya. Aku reka-reka kalimat yang bisa mewakili seluruh upayaku untuk menyatakan maksudku itu. Hingga sampai tiga karakter aku ketik SMS itu. Beginilah bunyi SMSku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sis, tadi aku call kamu cuma mau bilang bahwa selama 7 tahun &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku terus dihantui oleh bayang-bayangmu. Aku merasa tersiksa karenanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Entah apakah kau juga merasakan seperti itu, aku tidak mau tahu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang terpenting buatku kini adalah supaya kau tahu saja perasaanku dari dulu hingga kini itu. Tidak lebih dari itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kini aku ingin hidup bebas dan tidak lagi tersiksa oleh bayang-bayangmu. Kini aku hanya ingin konsentrasi kuliah, nulis, belajar, dan melupakan semuanya tentang wanita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Itu saja. Trim’s. (Tolong ini ceritakan kepada pacarmu, agar dia tidak salah sangka). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dariku: Fakih Kerta Timur.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengirimkan SMS itu, meski tak dijawabnya, sungguh aku sangat merasakan kebahagiaan yang luar biasa, dapat terlepas dari keganjilan perasaan terhadapnya yang sejak dulu menggumpal di dada. Aku tidak ingat lagi apa-apa tentang perempuan itu, Siskaku dulu. Kini ia bagiku adalah masa lalu yang mesti dibuang, bukan kenangan yang harus dibingkai. Nampaknya aku sudah bisa berdamai dengan masa lalu, dengan sayatan perasaanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersyukur bisa melepaskan perasaan ini tanpa rasa yang menyakitkan. Padahal aku tidak pernah menyangka hal ini bisa terjadi. Menurut perkiraanku, aku harus melupakannya dengan luka yang menganga. Karena dia, menurutku dulu, adalah seorang wanita setiaku dan hanya dialah yang pantas menjadi permaisuriku. Tapi aku bersyukur perasaan seperti itu kini telah luntur. Tak sedikitpun perasaanku terhadapnya yang masih tersisa. Kini aku sudah bisa merdeka dari bayang-bayangnya. Aku sudah bisa mengehempaskan rasa setia terhadapnya. Sudah bisa melupakan segala tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku berjanji, sebelum semester tujuh, tidak akan lagi bermain hati. Bahkan aku tak ingin diperhatikan oleh siapa pun, kecuali oleh para sahabatku. Aku ingin lepas dari bayang-bayang perempuan. Aku ingin hidup merdeka dari apa itu namanya cinta, karena cinta hanya membuat orang jadi tersiksa: tersiksa karena memilikinya, tersiksa karena ditinggalkannya.&lt;br /&gt;Yang aku inginkan kini bisa lebih konsentrasi terhadap hal-hal yang lebih penting: menyayangi dan membantu keluarga, konsentrasi kuliah, produktif menulis, belajar, dan apa pun yang berkenaan dengan masa depan. Sudah muak rasanya selalu berfikir tentang perempuan. Aku ingin lebih nanar menatap hari esok yang cerah. Lebih-lebih aku ingin hidup merdeka, tidak terikat pada siapa dan apapun, serta benar-benar menjadi diriku sendiri. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(12-11-2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-430519412315456735?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/430519412315456735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=430519412315456735&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/430519412315456735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/430519412315456735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/11/akhir-sebuah-cerita-cinta-pertama.html' title='AKHIR SEBUAH CERITA CINTA PERTAMA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6211570537027290335</id><published>2008-09-18T20:32:00.007-07:00</published><updated>2008-09-18T21:22:50.416-07:00</updated><title type='text'>RIWAYAT BATANGPAGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMmYHvp8FI/AAAAAAAAAB4/yy9q8uzBIkQ/s1600-h/20080114943.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMmYHvp8FI/AAAAAAAAAB4/yy9q8uzBIkQ/s200/20080114943.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247580186654404690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;bergerai sedingin teduh&lt;br /&gt;daun-daun membelai subuh&lt;br /&gt;maka berlepaskanlah embun-embun&lt;br /&gt;ke tanah kering malam tambun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o. fransiska&lt;br /&gt;jalan berkabut di pagi buta&lt;br /&gt;cinta berangkat rahasia&lt;br /&gt;di tiap tingkap rindu yang patah&lt;br /&gt;kemerlap di badan adalah istirah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemanakah tanah bangkit&lt;br /&gt;di langit tiadalah selilit&lt;br /&gt;dari mana datangnya angin&lt;br /&gt;desirnya melayukan tegar dinding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pohon-pohon tua riwayat luka&lt;br /&gt;darahnya habis dihisap cuaca&lt;br /&gt;darah yang mengalir serupa sungai&lt;br /&gt;singgah di pantai resai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o. fransiska&lt;br /&gt;di padang ini pagi begitu sunyi&lt;br /&gt;sesunyi cinta luka abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;RumahBadai, 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6211570537027290335?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6211570537027290335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6211570537027290335&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6211570537027290335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6211570537027290335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/riwayat-batangpagi.html' title='RIWAYAT BATANGPAGI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMmYHvp8FI/AAAAAAAAAB4/yy9q8uzBIkQ/s72-c/20080114943.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1795964881921225211</id><published>2008-09-18T20:32:00.006-07:00</published><updated>2008-09-18T21:15:17.423-07:00</updated><title type='text'>MEDITASI KEMARAU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMnSdfekpI/AAAAAAAAACI/aRyE7DimdL4/s1600-h/Copy+of+200801141007.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMnSdfekpI/AAAAAAAAACI/aRyE7DimdL4/s200/Copy+of+200801141007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247581188924543634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;– kemarau panjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;adalah hari-hari yang bangkit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dari pembaringan penghujan –    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari mencari bayangannya&lt;br /&gt;di sekujur bayangan benda-benda&lt;br /&gt;sedang langit tercenung&lt;br /&gt;pada robekan tubuhnya yang menganga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada embun di daun-daun&lt;br /&gt;dan lindap angin&lt;br /&gt;tak lagi sanggup menyapa pohonan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung-burung mati&lt;br /&gt;dalam pelukan fatamorgana&lt;br /&gt;tanah-tanah membusuk&lt;br /&gt;seperti arang air dalam bejana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jogja, 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1795964881921225211?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1795964881921225211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1795964881921225211&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1795964881921225211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1795964881921225211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/meditasi-kemarau.html' title='MEDITASI KEMARAU'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMnSdfekpI/AAAAAAAAACI/aRyE7DimdL4/s72-c/Copy+of+200801141007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7175031868358071150</id><published>2008-09-18T20:32:00.005-07:00</published><updated>2008-09-18T21:23:58.706-07:00</updated><title type='text'>PADA SUATU SENJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMpSBby-xI/AAAAAAAAACQ/tQcIhui-14Q/s1600-h/faqih+himura.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMpSBby-xI/AAAAAAAAACQ/tQcIhui-14Q/s200/faqih+himura.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247583380416166674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;pada suatu senja&lt;br /&gt;perahu menari dalam sungkah ombak&lt;br /&gt;berlayar menyeberangi pulau demi pulau&lt;br /&gt;menjejaki hayalan dan kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kala matahari hampir tenggelam&lt;br /&gt;lautan melukiskan kesedihannya&lt;br /&gt;lewat deru gelombang yang sayu&lt;br /&gt;atau warna langit yang mulai kelabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu tiba-tiba angin berubah arah&lt;br /&gt;dan lanskap mulai muram&lt;br /&gt;serupa masa silam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jogja, 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7175031868358071150?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7175031868358071150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7175031868358071150&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7175031868358071150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7175031868358071150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/pada-suatu-senja.html' title='PADA SUATU SENJA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/SNMpSBby-xI/AAAAAAAAACQ/tQcIhui-14Q/s72-c/faqih+himura.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1925868782020847076</id><published>2008-09-18T20:32:00.004-07:00</published><updated>2008-12-03T21:33:37.295-08:00</updated><title type='text'>KEMBARA BULAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/STdp24CtbVI/AAAAAAAAAC4/xLvH8C0utZQ/s1600-h/korban+kelaparan+orba.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 180px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/STdp24CtbVI/AAAAAAAAAC4/xLvH8C0utZQ/s320/korban+kelaparan+orba.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275801879965429074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dari balik awan merah saga&lt;br /&gt;bulan memulai kembaranya&lt;br /&gt;selepas burung-burung pantai&lt;br /&gt;berkidung menabik malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tiap tingkap langit yang panjang dan jauh&lt;br /&gt;bulan mendzikirkan rahim waktu yang kelabu&lt;br /&gt;meski kilat dan guntur merajam akar pekat&lt;br /&gt;atau angin bergerai memeluk lanskap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o. betapa kerinduan&lt;br /&gt;di hatinya&lt;br /&gt;bagai hujan di malam buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sinarnya adalah kesunyian sepanjang kembara&lt;br /&gt;tak di laut ia berhias, tak di langit ia terlepas&lt;br /&gt;dan tak pula di tanah-tanah&lt;br /&gt;kemenangan dan cinta menjelma bahana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1925868782020847076?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1925868782020847076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1925868782020847076&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1925868782020847076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1925868782020847076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/kembara-bulan.html' title='KEMBARA BULAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Y94FE1eB90g/STdp24CtbVI/AAAAAAAAAC4/xLvH8C0utZQ/s72-c/korban+kelaparan+orba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-2900843065478595919</id><published>2008-09-18T20:32:00.003-07:00</published><updated>2008-09-18T20:52:50.670-07:00</updated><title type='text'>SENANDUNG AKAR SUNYI</title><content type='html'>daun-daun tertidur, embun, pantai&lt;br /&gt;mutiara di dasar lautan terdiam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahkan para nelayan mulai menggulung layar&lt;br /&gt;karena di langit ikan-ikan bergeletaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lebih tiris dari nyanyian seruling&lt;br /&gt;suara-suara di pantai basah memekarkan jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air laut di pinggiran mematung&lt;br /&gt;air laut di tengah bergelombang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senandung bunyi dan sunyi angin&lt;br /&gt;mematahkan kabut di cakrawala yang dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;jogja, 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-2900843065478595919?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/2900843065478595919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=2900843065478595919&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2900843065478595919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/2900843065478595919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/senandung-akar-sunyi.html' title='SENANDUNG AKAR SUNYI'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-6530259800807031422</id><published>2008-09-18T20:32:00.002-07:00</published><updated>2008-09-18T20:52:11.225-07:00</updated><title type='text'>ROMANSA SEPASANG BURUNG</title><content type='html'>meski sarang di pohon telah rapuh&lt;br /&gt;sarang di hati tak berwarna kelabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka tak akan pernah melupakan&lt;br /&gt;batu pertemuan di tanduk kemarau itu&lt;br /&gt;karena di sanalah kenangan dan harapan&lt;br /&gt;menjelma selaksa bayang-bayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kita adalah seruling merah keperakan&lt;br /&gt;seperti lukisan senja&lt;br /&gt;pada debur gelombang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu telah menggerai bulu-bulu mereka&lt;br /&gt;serupa putih rambut yang tak percaya pada usia&lt;br /&gt;matanya bersitatap dalam-dalam&lt;br /&gt;bertukar tangkap dalam kepedihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"barangkali kepastian dari mimpi&lt;br /&gt;adalah ketidakpastiannya&lt;br /&gt;dan kita seperti separuh mimpi yang tak nyata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;jogja, 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-6530259800807031422?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/6530259800807031422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=6530259800807031422&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6530259800807031422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/6530259800807031422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/romansa-sepasang-burung.html' title='ROMANSA SEPASANG BURUNG'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-9218871192669033446</id><published>2008-09-18T20:32:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T20:35:46.925-07:00</updated><title type='text'>PURNAMALAM</title><content type='html'>angin malam membuka awan&lt;br /&gt;lalu gerimis pun turun perlahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nun jauh di sana, segetun mimpi menggelinding&lt;br /&gt;dari lengang bebukitan, menggumpal&lt;br /&gt;memendam rahasia angkuh semak-belukar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sini, malam membawa kekunang ke pinggir kali&lt;br /&gt;terbaring di atas batu yang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ke mana bulan, ke mana gemintang?”&lt;br /&gt;“sempurnalah malam segenap jalang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jogja, 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-9218871192669033446?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/9218871192669033446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=9218871192669033446&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/9218871192669033446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/9218871192669033446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/purnamalam.html' title='PURNAMALAM'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-551465963837270132</id><published>2008-09-13T15:12:00.000-07:00</published><updated>2008-09-13T15:27:12.484-07:00</updated><title type='text'>KRAPYAK, SEBUAH POTRET KENANGAN</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:20;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sudah lebih satu tahun pondok pindah ke Cabeyan Panggungharjo Sewon Bantul. Berarti, sudah lebih satu tahun Gus Zainal meninggal dunia, lebih satu tahun pula kami (para santrinya) menjalani hidup tanpa seorang &lt;i style=""&gt;welas-asih &lt;/i&gt;sepertinya. Lanskap keindahan Krapyak saat-saat masih ada surga Gus Zainal, ternyata, sudah satu tahun lebih aku tinggalkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Betapa cepatnya waktu berlalu. Kenangan nun jauh di masa lalu, bagai baru saja terjadi. Sungguh, aku tak pernah sekali-kali merasa kenangan itu telah satu tahun aku alami. Aku merasa kenangan itu baru kemarin saja terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebegitu lesatnya aku dewasa. Jogja telah mengasuhku sekitar dua tahun yang lalu (aku berangkat ke Jogja tgl 17 Agustus 2006). Tapi, mengapa aku masih merasa baru kemarin menginjakkan kaki di Jogja? Ya, baru kemarin..., itulah kata yang sedang menyeruak di kepalaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ingatan akan waktu-waktu di Krapyak, kini begitu sangatlah dekat, sedekat api dan panas. Sungguh luruh hatiku ketika selintas lalu kenangan itu mengakar di pikiranku. Masa-masa itu adalah masa-masa kerianganku menjalani hidup di Jogja. Keriangan yang barangkali tak akan pernah aku alami kembali. Kini kenangan itu menjelma kerinduan yang luar biasa. Serasa tak sanggup aku mengingat-ingat kembali masa-masa yang sangat indah itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kenangan itu, masih lekat di kepalaku:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gus Zainal selalu berpesan kepadaku sama Yasin (anak Cilacap itu), sebelum berangkat ke pasar Prawirotaman untuk belanja keperluan Angkring kami, supaya hati-hati kalau lewat di jalan Krapyak. “Karena jalan itu sempit. Terkadang ada orang yang kebut-kebutan di sana. Kalau boncengan harus pakai ontel yang ada remnya! Ya udah, sana berangkat,” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lalu aku sama Yasin boncengan, berangkat ke pasar. Dari jauh, aku melihat sosok “guru kehidupanku” itu memakai kaos putih tipis, songkok putih, sarung biru kotak, dan tak lupa dengan rokok Super-nya, melempar senyum dan gelengan kepala kepada kami. Setiap pagi, pengalaman semacam itu kerap kami alami. (Kalau mengingatnya kembali, betapa aku selalu tak bisa menahan tangis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Satu momen penting ketika tulisanku untuk pertama kalinya (resensi paling atas) di muat di koran Seputar Indonesia. Gus Zainal pernah marah kepadaku saat aku sulit dibangunkan olehnya untuk berjemaah shalat subuh. Tapi kemarahan itu tampak hanya setitik saja, selayaknya orang yang tidak marah. Beliau bilang, “Wah, kalau gini, mendingan Fakih berhenti saja jualan Angkringan”. Itu kata-kata yang agak menyakitkan yang pernah kurasakan dari Gus Zainal. Dan aku rasa kata itu menyakinkan karena kesalahan aku juga. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sehabis magrib, setelah Gus Zainal memberi tausiah, Gus Zainal ngasi informasi kepada teman-teman santri. Beliau berkata, “Mulai sekarang, Fakih saya tahbiskan sebagai penulis sejati. Saya harap Fakih berjanji kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah meninggalkan dunia ini. Dan mulai saat ini juga, Fakih jangan jualan Angkringan lagi. Mendingan kamu fokus menulis. Biar Fathur yang menggantikanmu”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suatu kebanggaan dan sekaligus pukulan kepadaku. Aku merasa, Gus Zainal memecatku berjualan angkringan lantaran aku sulit bangun pagi. Tapi biarlah, saat itu aku benar-benar merasa bangga. Guruku tercinta itu telah menahbiskanku sebagai seorang penulis. Dan itu wasiat terakhir kepadaku, agar aku tidak main-main dalam dunia ini. Semoga saja aku tetap kuat berpegang teguh pada wasiat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mulai saat itu aku berhenti berjualan angkringan, dan fokus untuk belajar membaca dan menulis. &lt;b style=""&gt;(12-09-08). &lt;i style=""&gt;Bersambung.........&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-551465963837270132?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/551465963837270132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=551465963837270132&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/551465963837270132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/551465963837270132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/sudah-satu-tahun-lebih-kenangan-di.html' title='KRAPYAK, SEBUAH POTRET KENANGAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-8563735457006176060</id><published>2008-09-13T15:10:00.000-07:00</published><updated>2008-09-13T15:11:07.927-07:00</updated><title type='text'>SURAT KEPADA KEKASIH</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kini apa yang akan kau katakan tentang cinta. Segalanya telah berakhir. Dan aku tak mau tahu lagi apakah kau merasa sedih dengan kenyataan ini atau bahkan tidak sama sekali. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penyesalan memang binatang yang paling kejam. Ia tak dapat ditundukkan hanya dengan sekedar perasaan. Namun hanya satu, kasih, yang tersisa untuk kita renungkan: sempurnakah penyesalan itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semula memang tak sempat kubayangkan, betapa kau adalah bunga yang tak pernah layu di hatiku. Kau telah tumbuh sedewasa ini. Dan aku telah memeliharanya sekuat hati. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun mengapa juga kau serupa serigala: terus memburuku dan terus saja memburu. Betapa aku tak paham, mengapa aku harus berlari, seakan mengelak dari kenyataan. Tak mampu aku berucap apa-apa dengan perasaan ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kegagalan bukanlah kata pertama bagi perjalanan kita, namun ketidakberdayaan serupa pintu yang tak mampu kubuka meski aku telah berusaha untuknya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku luluh, kasihku. Aku begitu luruh. Semuanya kini telah beranjak dan aku terdiam sepi. Aku tak lagi mampu membanyangkanmu. Aku tak mampu membayangkan betapa takdir adalah kehampaan. Namun apakah kau juga begitu, itulah pertanyaan yang tak pernah kutahu jawabannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku selalu berhadap akan kesempurnaan, kasih, karena barangkali itulah kata yang paling tulus bagimu. Bagi cinta kita. Bahkan tanpa alasan, aku menginginkannya demikian. Tanpa memaknai betapa sungguh kerdilnya aku ini, aku yakin, kesempurnaan itu bagai titik terdalam dalam buah mata kita. &lt;b&gt;(100908).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-8563735457006176060?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/8563735457006176060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=8563735457006176060&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8563735457006176060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8563735457006176060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/surat-kepada-kekasih.html' title='SURAT KEPADA KEKASIH'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7595895772331410946</id><published>2008-09-13T15:06:00.000-07:00</published><updated>2008-09-13T15:08:08.552-07:00</updated><title type='text'>AKU INGIN JADI FAKIH, TUHANKU</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sudah terlalu lama aku jadi orang yang sok pintar, sok relegius, sok bangga dengan apa yang telah aku lakukan, dan bermacam sok sok lainnya. Kini aku mulai muak dengan diriku sendiri, dan mulai sadar bahwa aku ini bukanlah siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku hanyalah orang yang tak pernah puas menutup-nutupi kekuranganku. Dan aku merasa, inilah sesungguhnya penyakitku yang paling akut. Penyakit inilah yang mengkungkungku dalam ketidakbebasan dan dalam ketakutan-ketakutan. Karenanya aku selalu merasa dihantui oleh diriku sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kini aku tak mau lagi jadi dalang dan sekaligus korban atas permainan ini, Tuhanku, sungguh benar-benar tak ingin. Aku hanya ingin jadi “Fakih” yang selalu merasa puas dengan keadaan. “Fakih” yang tak hanya ada dalam ide, tetapi “Fakih” dalam kenyataan. Aku ingin puas dengan kehidupan yang sungguh-sungguh apa adanya, karena itulah aku rasa sumber kebebasan yang sebenarnya. &lt;b&gt;(100908).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7595895772331410946?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7595895772331410946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7595895772331410946&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7595895772331410946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7595895772331410946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/aku-ingin-jadi-fakih-tuhanku.html' title='AKU INGIN JADI FAKIH, TUHANKU'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-8376482083900699565</id><published>2008-09-10T05:07:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T05:09:24.387-07:00</updated><title type='text'>SEBUAH KEHIDUPAN YANG TAK DIPUNYA</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Inilah kehidupanku, bagian terkecil dari duniaku: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cinta yang hilang ditelan waktu, berlalu tanpa mengajakku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari ini, saat-saat dimana aku sudah merasa sendiri, cinta itu bagai debu yang menempel di alas sepatu. Padanya aku tak lagi peduli, padanya pula aku tak lagi simpati. Cinta hanyalah permata yang siap hilang di telan kenyataan. Tanpa ada jejaknya, tanpa ada sisanya. Kini aku berani bertaruh dan akan mengatakan kepada semua orang bahwa perasaan dan pengalaman cinta seperti air di tanah gurun: fisiknya hilang dalam kekekalan ruhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Aku benci cinta, aku benci cinta,” batinku selalu, “karena cinta buat orang jadi gila: gila karena memilikinya, gila karena kehilangannya.” Aku hanya merasa, terkadang cinta bagai srigala yang makan apa saja dan pula terkadang bagai kunang-kunang yang menyinari malam. Tapi bagiku kini, cinta lebih jahat dari apa saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ini bermula dari sebuah pengalaman yang sangat pelik dan tak pernah kupunya sebelumnya. Seorang wanita, setelah 7 tahun kutaruh dalam hati, tiba-tiba “menusukku” begitu saja. Ia adalah wanita yang sebelumnya selalu kupuja karena prinsipnya, kepribadiannya dan kepintarannya yang luar biasa. Aku suka padanya bukan karena ia terlalu istimewa rupanya, bukan pula karena ia adalah wanita kaya. Ia telah sempurna membuatku gila, karena dengan tanpa alasan aku telah benar-benar menyukainya. Bahkan jika lebih ekstrim aku katakan, aku cinta padanya sungguh apa adanya, bagai luapan rasa dari hati yang paling curam, dan aku tak tahu mengapa ini bisa terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seandainya ada orang yang bertanya mengapa aku mencintainya, barangkali aku tak bisa menjawabnya, karena aku suka padanya sungguh tanpa alasan. Sungguh tanpa batasan. Aku menyukainya karena ia adalah wanita yang pantas aku sukai. Aku mencintainya karena ia adalah wanita yang pantas aku cintai. Entah mengapa, ketika ingat dan atau termenung tentangnya, hatiku jadi berbunga-bunga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi...kini ia “meludahi” perasaan tulusku itu. Bukan cuma ia telah diambil orang, tapi bahkan sudah kehilangan perawan. Cinta dan keperawanannya yang dulu kudambakan, telah dimakan waktu dan harapan. Wanita yang dulunya aku junjung-junjung sebagai orang yang kuat dalam memegang prinsip ketegaran, kini bahkan tidak sama-sekali ia mengindahkannya. Wanita yang dulunya kupuja sebagai Khotijah, ternyata jadi Monica. Menurut temanku, bahkan kini ia pacaran dengan cowok brandal. Dan tentunya ia akan dikenalkan dengan gaya hidup gemerlap dan “tanpa aturan”. Syahdan, menurut teman-teman, semua dugaan itu benar-benar terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mendengar berita itu aku terhenyak, tak percaya. Hatiku menangis dan hancur. Aku merasa pupus dan sekaligus kasihan padanya. Akhirnya...cintaku, sebuah kehidupan yang tak pernah kupunya, hilang tanpa sisa. Rasa cintaku yang sempat kuanggap sebagai kesetiaan telah dibohongi oleh wanita pendusta. Sungguh betapa luluh-lantaknya hatiku. Serasa aku tak lagi bisa menahan diri, aku ingin lari dari kenyataan. Kenyataan yang tak pernah memberiku cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku hanya bisa merasa kasihan kepadanya, kepada orang tuanya, kepada masa depannya. Aku hanya bisa berharap semoga masa depan diri dan karirnya berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh orang tuanya. Dan aku selalu berdoa agar ia mendapatkan pendamping yang lebih sempurna, seseorang yang bisa membimbingnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ini akan kuanggap sebagai pengalaman berharga yang mengandung hikmah. Aku tak ingin pupus cinta untuk kedua kalinya. Aku tak ingin sembarangan memilih wanita. Ia harus kupunya sepenuhnya, jiwa-raganya. Dan ia harus selalu bersamaku, agar aku dapat menjaganya selalu. Selai itu, ia adalah orang yang bisa menghargai perasaan, kenyataan, dan hidupku. Ia adalah orang yang selalu mengatakan “tidak” untuk laki-laki selainku. Di luar kategori wanita seperti itu, aku tak manu. Kecuali memang ada takdir lain dari Tuhan, aku tak tahu. Daripada aku selalu sakit hati, mending aku tak sama sekali mengikat cinta. Karena cinta hanya membuat orang jadi gila: gila karena memilikinya dan gila karena ditinggalkannya. &lt;b&gt;(06/09/08).&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-8376482083900699565?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/8376482083900699565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=8376482083900699565&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8376482083900699565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8376482083900699565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/sebuah-kehidupan-yang-tak-dipunya.html' title='SEBUAH KEHIDUPAN YANG TAK DIPUNYA'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-4416611318635861698</id><published>2008-09-10T04:57:00.001-07:00</published><updated>2008-09-10T04:57:51.243-07:00</updated><title type='text'>Aku Jadi Cuti Semester Ini</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari ini (040908) aku benar-benar resmi jadi cuti. Cuti untuk satu semester, semester tiga. Tadi aku minta surat cuti ke bagian TU fakultas saintek. Dengan melalui proses birokratis yang sedikit rumit dan pertimbangan dari TU yang agak berbelit-belit, akhirnya semuanya jadi beres. Ini merupakan pengalaman pertamaku cuti kuliah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku terkesan dengan introgasi dan wejangan bapak TU. Dia bilang kepadaku bahwa cuti itu tidak baik manakala tidak ada keperluan jangka panjang yang mendesak yang bertujuan sebagai pengembangan diri. Cuti, lanjutnya, hanya menjadi jalan penghambat bagi keberlangsungan materi kuliah. “Kamu akan ketinggalan dari teman-temanmu. Dan parahnya, bisa-bisa kamu akan lupa terhadap pelajaran pada semester-semester sebelumnya kalau kamu tidak berusaha mengulang dan mempelajarinya kembali,” lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku mengerti, dia bilang seperti itu bukan tanpa alasan. Aku juga tahu kalau cuti itu hanya akan menjadi jangka-waktu kevakuman jika tidak di isi oleh aktifitas pendukung lainnya. Tapi keputusanku untuk cuti juga bukan tanpa alasan. Barangkali alasan yang paling utama ialah karena tidak adanya biaya pembayaran kampus. Dan juga karena aku belum bisa membayar hutang ke fakultas sebesar 850.000. Hutang itu buat pembayaran pada semester kemarin. Itu saja mungkin cukup sebagai alasan yang berkenaan dengan birokrasi kampus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi menurutku, alasan eksternal kampuslah yang paling signifikan. Sebenarnya aku memutuskan cuti berawal dari kebingungan. Pada semester dua aku sudah merasa jenuh dan &lt;i style=""&gt;emoh &lt;/i&gt;lagi kuliah di saintek (UIN). Karena disamping pembayarannya yang terlalu mahal (yakni, 850.000), juga karena jam pelajarannya sangat padat (untuk ukuran maksimal, aku masuk kuliah dari jam 07.00 sampai jam 17.30). Buat alasan yang pertama, aku rasa, untuk ukuran seorang penulis yang tidak produktif dan orang yang tidak bisa memenej uang dengan baik sepertiku, sangat sulit mendapatkan atau menyimpan uang sebanyak itu selama satu semester. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terus, buat alasan yang kedua, aku rasa jam pelajaran sepanjang itu bisa dikategorikan sebagai pembodohan terhadap mahasiswa. Apalagi ditambah sistem kredit absensi 75%: mentalitas dan dinamisasi aktifitas mahasiswa menjadi kerdil dan terkekang. Sementara aku tidak suka dengan kekakuan seperti itu. Bagiku, mahasiswa itu harus diberi ruang yang lebih luas untuk kebebasan ekspresinya. Karena kaum muda sepertiku selalu ingin memberontak jika hak kebebasannya dikekang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alasan selanjutnya, dan ini yang kiranya yang paling riskan, aku sudah merasa suntuk bergabung dengan orang-orang yang kaku, seperti teman-teman kelasku. Entah mangapa aku punya pikiran seperti ini kepada teman-temanku sendiri. Tapi yang jelas mereka bagiku sangatlah tidak menyenangkan. Mungkin karena kesenangan mereka tidak sama denganku. Dan dugaan itu ternyata benar. Sikap dan sifat mereka membuatku juga merasa jengah dan terkekang. Ya, terkekang karena mereka ada yang terlalu sok serius, tidak familiar, sok pintar, sok tidak fair dan sifat serta sikap lainnya yang tidak aku senangi dari mereka. Aku selalu tidak merasa kerasan di kelas karena tidak kuat menanggung persoalan itu. Pergaulanku di kelas sangat kaku, bahkan jika bisa dikatakan lebih dari itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Teman-temanku banyak yang tidak mengerti tentang keinginan-keinginanku dan tidak sepaham denganku, begitu pun juga sebaliknya. Meskipun aku sadar, mungkin hal itu dikarenakan aku belum bisa masuk dalam dunia mereka, aku merasa sangat bosan jika harus berkumpul dengan mereka selama bertahun-tahun dalam kadar kekakuan yang tetap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Akhirnya aku jadi bingung. Bingung bagaimana caranya berteman baik dan fair dengan mereka dan bagaimana caranya aku menjadi mahasiswa yang agak kaku sedikit, seperti kebanyakan anak-anak saintek. Sungguh aku sangat bingung dengan permasalan ini. Di satu sisi, aku mulai merasa &lt;i style=""&gt;emoh &lt;/i&gt;berteman dengan orang-orang yang kaku seperti itu, dan di sisi lainnya, aku ingin mempunyai prinsip dan berteman dekat dengan mereka. Makanya aku lebih memilih mengendapkan diri sejenak dari jerembab ruang yang tidak memberikan inspirasi kepadaku itu. Pendeknya, cuti ini kuambil ialah sebagai jalan proses melebur dalam dunia teman-teman. Aku tidak ingin kehilangan mereka, karena aku mencintai dan menyayangi mereka. Karena itu pula aku cuti. (Maaf teman-teman, aku sudah menyinggung keras kalian. Tapi yang pasti hal ini benar-benar aku rasakan dari kalian).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Itulah beberapa alasan-alasan mengapa aku memutuskan untuk cuti. Semoga pada semester selanjutnya aku bisa mengatasi permasalahan-permasalahanku itu. Amien.....!&lt;b style=""&gt;(05/09/08).&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-4416611318635861698?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/4416611318635861698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=4416611318635861698&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4416611318635861698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/4416611318635861698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/aku-jadi-cuti-semester-ini.html' title='Aku Jadi Cuti Semester Ini'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-7880675267234348196</id><published>2008-09-05T05:32:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T05:35:06.220-07:00</updated><title type='text'>TENTANG LAPAR DAN HAYALAN MASA DEPAN</title><content type='html'>Barangkali adalah kebiasaan dalam hidup perantauanku bahwa lapar telah menjadi kata sederhana dari penderitaan. Perasaan, yang kiranya belum merasa siap dengan kondisi semacam ini menuntutku untuk menafsirkan hidup secara parsial, bahwa aku adalah sosok manusia yang kerap kali dibohongi oleh pengandaian atau hayalan akan masa depan. Sebuah masa depan yang dulu aku hayalkan, ternyata tak sekali-kali mengasuhku dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa hayalan-hayalan itu telah mendorongku untuk tidak mempertimbangkan  konsekuensi-konsekuensi real yang harus aku dihadapi. Hayalan-hayalan itu rupanya hanyalah bualan yang menjanjikan apapun dari segenap kesenangan pada si penghayal, yang dalam hal ini adalah aku. Aku merasa bahwa ternyata aku belum memafhumi bagaimana sebuah proses hidup selalu tak lepas dari pengorbanan, dalam pengertian yang sebenarnya. Sebuah pengorbanan keras yang secara tidak sadar sangat bertolak belakang daripada sebuah hayalan. Sebuah pengorbanan yang tak sempat aku bayangkan dulu akan menjadi sedemikian rumitnya. Sebuah pengorbanan yang tak sebanding dengan apa yang aku harapkan, dengan apa yang kerap kali aku hayalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena hayalan-hayalan akan sempurnanya hidup yang ternyata kini telah memberiku segala kebohongan, membuatku heran, mengapa sebuah proses demikian sulitnya ditempuh. Jika tidak ingin benar-benar belajar pada sebuah proses dengan baik, barangkali seseorang akan menyudahinya dengan suka cita. Tapi aku…tak pernah sekali-kali membayangkan akan seperti itu. Aku telah memutuskan, bahwa apapun yang mesti kutempuh walaupun dengan darah sekalipun aku membayarnya, aku akan tetap bertahan dalam pilihan hidup semacam ini. Aku  ingin membuktikan bahwa kesusahan dan penderitaan apa pun macamnya akan bermuara pada kebahagiaan juga. Dan untuk saat ini sampai kapan pun aku tidak akan sekali-kali percaya lagi pada hayalan. Aku yakin akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku hanya tak ingin diperdaya olah hayalan-hayalan untuk yang kesekian kalinya. Aku ingin bangkit dengan kesadaran bahwa hidup memang tidak semudah yang dibayangkan oleh orang-orang yang hanya mampu berhayal. Segala cobaan dan penderitaan yang menerpa hidup manusia barangkali adalah semacam bualan yang hanya membuang-buang waktu jika dipikirkannya. (12 April 2008).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-7880675267234348196?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/7880675267234348196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=7880675267234348196&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7880675267234348196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/7880675267234348196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/tentang-lapar-dan-hayalan-masa-depan.html' title='TENTANG LAPAR DAN HAYALAN MASA DEPAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-8776096286643804975</id><published>2008-09-05T05:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T05:30:32.336-07:00</updated><title type='text'>Tentang Pembunuhan Terhadap Waktu</title><content type='html'>Kadang aku berfikir, menyia-nyiakan waktu adalah bagian dari membunuh diri sendiri. Sementara, adakah seseorang yang peduli terhadap kehidupan, rela menggiris sebagian dari tubuhnya? Barangkali hanyalah dia yang tidak sadar bahwa waktu telah mengasuhnya sebagai manusia yang betul-betul mengimpikan sejarah; dia yang tak dapat membedakan antara dunia dan kehidupan. (22.04.2008).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-8776096286643804975?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/8776096286643804975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=8776096286643804975&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8776096286643804975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/8776096286643804975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/09/tentang-pembunuhan-terhadap-waktu.html' title='Tentang Pembunuhan Terhadap Waktu'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-3791278850341019309</id><published>2008-06-03T20:08:00.003-07:00</published><updated>2008-06-08T23:02:47.090-07:00</updated><title type='text'>APOLOGIA MAFASYIRUS 1</title><content type='html'>jalan-jalan merentang. langit berkaca-kaca&lt;br /&gt;debu kerikil berhamburan mencari istirahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari-hari bercahaya. tanah-tanah lapang&lt;br /&gt;pohon-pohon tumbang. musim-musim berguguran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan-jalan mayapada&lt;br /&gt;waktu letih mencatatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-3791278850341019309?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/3791278850341019309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=3791278850341019309&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3791278850341019309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/3791278850341019309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/06/apologia-mafasyirus-2.html' title='APOLOGIA MAFASYIRUS 1'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-9003764839521818100</id><published>2008-06-03T20:08:00.001-07:00</published><updated>2008-06-08T23:03:30.472-07:00</updated><title type='text'>APOLOGIA MAFASYIRUS 2</title><content type='html'>o. angin, kemanakah tualang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pasir-pasir bidadari kesunyian&lt;br /&gt;karang-karang pecah berbantun ombak&lt;br /&gt;gelombang bertandang dan pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi dimanakah cakrawala?&lt;br /&gt;di kanvas pantai tiada jejaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jarak dan waktu tersipu bisu&lt;br /&gt;di lubuk layar sampan-sampan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pohon-pohon condong ke laut&lt;br /&gt;dan langit kian mengembang&lt;br /&gt;matahari dan bulan merangkai biasnya&lt;br /&gt;di delta-delta muara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu musim demi musim terasing&lt;br /&gt;dari lanskap dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-9003764839521818100?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/9003764839521818100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=9003764839521818100&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/9003764839521818100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/9003764839521818100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/06/apologia-mafasyirus-1.html' title='APOLOGIA MAFASYIRUS 2'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-64330065810092270</id><published>2008-06-03T20:06:00.004-07:00</published><updated>2008-06-03T20:07:08.124-07:00</updated><title type='text'>BERSAMPAN</title><content type='html'>bersampan aku seorang diri&lt;br /&gt;menyulam wajahmu pada rona senja&lt;br /&gt;pada pendar ombak dan nyala bebuih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuistirahkan mimpi tanah dan tetumbuhan&lt;br /&gt;pada matahari dan awan&lt;br /&gt;yang setia menenggakku&lt;br /&gt;dari cawan misteri kasihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi sampan ini tak akan pernah mengerti, sayang&lt;br /&gt;arti keindahan dan kesunyian&lt;br /&gt;bila kau tak paham warna pelangi:&lt;br /&gt;kilau embun bumi sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jogja, 2008&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-64330065810092270?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/64330065810092270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=64330065810092270&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/64330065810092270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/64330065810092270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/06/bersampan.html' title='BERSAMPAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1855111472123681106</id><published>2008-06-03T20:06:00.003-07:00</published><updated>2008-06-03T20:06:48.835-07:00</updated><title type='text'>RITUS PENCARIAN</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;berapa banyak lagi hutan yang mesti kubuka jalan&lt;br /&gt;untuk bertanya pada batu dan belukar&lt;br /&gt;tentang bagaimana mereka menangkap&lt;br /&gt;matahari dan bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena pada jalan-jalan itu&lt;br /&gt;selalu tumbuh kerikil dan rerumputan&lt;br /&gt;yang padanya kau cipta sejumlah luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka terkadang aku merasa bosan&lt;br /&gt;memelihara pohon sidrah kutukan ini&lt;br /&gt;terkadang pula ingin terus kuselami&lt;br /&gt;lubuk kemarau dan hujan&lt;br /&gt;yang tak pernah memberiku&lt;br /&gt;makna siang dan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;mengapa kau tak pula mendekapku&lt;br /&gt;meski harus aku kembali&lt;br /&gt;membakar debu kata-katamu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahkan kau cipta keterasingan di jiwaku&lt;br /&gt;kala kutatap kesunyian pada api itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tahu, sayang&lt;br /&gt;bara lahir dari rahim nyala&lt;br /&gt;tapi sungguh kau serupa udara&lt;br /&gt;yang membuat api itu berkobar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka seringkali aku bertanya-tanya&lt;br /&gt;haruskan aku membakar tubuhku yang asing ini&lt;br /&gt;agar kau paham arti jati diri&lt;br /&gt;yang pada wajahmu sedang menjelma misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jogja, 2008&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1855111472123681106?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1855111472123681106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1855111472123681106&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1855111472123681106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1855111472123681106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/06/ritus-pencarian.html' title='RITUS PENCARIAN'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-9161011984019929403</id><published>2008-06-03T20:06:00.001-07:00</published><updated>2008-06-03T20:06:23.555-07:00</updated><title type='text'>LAGU MUSIM-MUSIM</title><content type='html'>wajahku seringkali tersesat dalam bau cuaca&lt;br /&gt;yang tiada bosannya memukul ladang dan sawah&lt;br /&gt;bahkan tumbuhan yang kutanami dan kusirami sendiri&lt;br /&gt;menusuk-nusuk mataku hingga berdarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan entah kenapa, warna darah selalu mengingatkanku&lt;br /&gt;pada kata-kata yang kau tanam bersama bunga-bunga&lt;br /&gt;yang tak sempat mengajariku arti wewangian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah bau cuaca pernah mengajarimu&lt;br /&gt;arti musim kemarau&lt;br /&gt;yang menafsiri musim hujan&lt;br /&gt;kala bertandang dan hilang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali karena ladang dan sawah telah jadi hutan-hutan&lt;br /&gt;hingga kita kehilangan arah&lt;br /&gt;dalam mencari notasi tiap-tiap musim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jogja, 2008&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-9161011984019929403?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/9161011984019929403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=9161011984019929403&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/9161011984019929403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/9161011984019929403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/06/lagu-musim-musim.html' title='LAGU MUSIM-MUSIM'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-1208741062085207334</id><published>2008-06-03T20:03:00.000-07:00</published><updated>2008-06-03T20:05:43.558-07:00</updated><title type='text'>NYANYI SUNYI SEORANG PENUNGGU</title><content type='html'>wajahmu tak pula tumbuh bersama bunga-bunga&lt;br /&gt;di lengkung mataku. dan bahkan senja&lt;br /&gt;telah membeku di cakrawala&lt;br /&gt;memendam kutukanku pada pantai&lt;br /&gt;dan bau tubuhmu pada karang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka bangunlah sebuah rumah&lt;br /&gt;dari bulir-bulir pasir itu. hiasilah ia&lt;br /&gt;dengan keindahan yang kau cipta dari dosaku&lt;br /&gt;sebuah kealpaan yang tak akan pernah kusesali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena barangkali kita bukan lagi daun&lt;br /&gt;yang gugur di musim kemarau&lt;br /&gt;dan bangkit di musim semi&lt;br /&gt;bukan pula mercusuar yang tumbuh di atas misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kurasa telah cukup silih berhanti musim mengajarimu&lt;br /&gt;tentang kehadiran matahari dan bulan&lt;br /&gt;yang selang-menyelang menunggu kematianku&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 2008&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-1208741062085207334?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/1208741062085207334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=1208741062085207334&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1208741062085207334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/1208741062085207334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/06/nyanyi-sunyi-seorang-penunggu.html' title='NYANYI SUNYI SEORANG PENUNGGU'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-465511486081764306</id><published>2008-06-03T20:02:00.000-07:00</published><updated>2008-06-03T20:03:47.031-07:00</updated><title type='text'>NARASI MALAM</title><content type='html'>ketika malam telah menghitam&lt;br /&gt;perahu-perahu tertidur di atas karang&lt;br /&gt;debur ombak bagai kegelisahan pepasir&lt;br /&gt;menangkap arah mata angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tatapan langit pada laut telah membutakanku&lt;br /&gt;bahkan pada diriku sendiri&lt;br /&gt;segalanya tampak padaku&lt;br /&gt;memandam warna yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali ini malam bukanlah impian&lt;br /&gt;bagi seorang buta. perahu-perahu pula&lt;br /&gt;tak dapat menuntun tongkatnya ke tengah samudera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia hanya tahu laut karena ada ombak&lt;br /&gt;tahu karang karena keras merebak&lt;br /&gt;tahu pasir karena dapat menangkap jejak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesepian dan tangis terendam abadi&lt;br /&gt;dalam dingin sebeku ini&lt;br /&gt;aku ingin sekali kembali berperahu&lt;br /&gt;tak lebih kembali belajar&lt;br /&gt;mengaji diri yang tabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jogja, 2008&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6342719740160769750-465511486081764306?l=mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/feeds/465511486081764306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6342719740160769750&amp;postID=465511486081764306&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/465511486081764306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6342719740160769750/posts/default/465511486081764306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/2008/06/narasi-malam.html' title='NARASI MALAM'/><author><name>Muhammad Ali Fakih AR</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6342719740160769750.post-8537229817599802171</id><published>2008-05-12T19:38:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T19:40:31.360-07:00</updated><title type='text'>Ritus Pencarian Identitas</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi ruang-waktu dalam diri setiap orang adalah bagian utama dari suatu momentum sebuah pencarian jati diri atau secara umum dikatakan identitas. Dalam masa-masa yang demikian, jiwa seseorang cenderung sangat rentan tergerus oleh sistem dan konstruk realitas hidup dimana dan kapan dia tinggal. Pengaruh-pengaruh dari luar, disadari atau tidak, selalu akan menjadi masukan terhadap kondisi temperamentalnya. Kadang dia menolak terhadap realitas yang tidak disenanginya, tetapi lambat-laun dia sadar bahwa mengkondisikan diri pada alam sekitar adalah dimensi penting dikembangkan untuk dapat diterima oleh khalayak orang atau setidaknya oleh keadaan. Tanpa disadari, karena pergumulan dengan realitas sekitar itu sedikit banyak menggugah kesadarannya, meskipun awalnya dia menolak, tetapi pada akhirnya dia akan ikut lebur pada realitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dapat dikatakan di sini bahwa keyakinan selalu menjadi daya pendorong terhadap bagaimana sesungguhnya sikap yang harus diambil oleh setiap orang terhadap dirinya. Meskipun orang itu telah lebur dalam kondisi gaya hidup yang tidak sejalan dengan jiwa dan pemikirannya, namun sebuah keyakinan terhadap hidup yang telah terbentuk semacam idealisme primordial selalu saja akan mengelaknya. Dalam kondisi yang demikian, seseorang akan jadi serba dilema. Pada satu sisi dia harus mengkondisikan dirinya dengan realitas hidup sekitarnya, di sisi lain konstruksi hidup semacam itu sangat tidak sesuai dengan keyakinan pada hidup yang sebenarnya dia impikan. Ini yang kemudian menimbulkan problema klimaks dalam diri seseorang yang pada batas tertentu menuntut untuk segera diatasi. Dari sini pula, kondisi hidupnya selalu dihadapkan pada pilihan realitas yang sangat sulit. Juga, pada titik ini pula, seseorang akan merasa ragu terhadap pilihan sikapnya, sehingga menjadikannya seorang yang tidak konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya jika seseorang itu merasa mampu menjadi ‘yang-lain’, yaitu dengan melawan keadaan demi kemaslahatan idealismenya, dia akan segera jadi orang yang menang. Sebuah kemenangan yang sangat sulit dibayangkan, bahwa ternyata dia mampu melawan situasi gaya hidup komunal meskipun pada tahap yang kritis dia harus mengorbankan apa saja, bahkan dirinya sendiri. Dengan begitu, dia sudah dapat menjadi dirinya sendiri atau telah menemukan identitas ke-diri-annya lantaran dia mengambil keputusan berani untuk menjadikan dirinya itu ‘ada’. Keberadaannya itu, secara langsung maupun tidak, mencerminkan matangnya sebuah keyakinan atau penalaran yang diperoleh dari perenungan terhadap hidup yang selalu tak menafikan dimensi tranformasi kehidupan real. Inilah kemudian puncak dari ‘sucinya’ pemikiran dari asumsi-asumsi yang ‘ahirstoris’. Dalam perkataan lain, idealisme hidup telah benar-benar dapat menjelma realisme atitude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menjadi pertanyaan adalah: dengan daya apakah orang dapat melakukan itu semua? Langkah-langkah seperti apakah yang harus dia lalui dan mesti dilakukannya? Karena bahwa kadangkala seseorang hanya bisa beretorika tentang hakikat sebuah kehidupan, tapi ternyata dalam kesehariannya idealisme tersebut tidak tercermin pada sifat dan sikap hidupnya. Atau kadangkala juga seseorang itu telah mempunyai pandangan hidupnya sendiri, tetapi bahwa dia kurang menyadari hal itu sebagai sesuatu yang teramat penting, sehingga tetap saja kondisi realitas sekitar yang tidak disukainya tetap menguasai dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama harus dikatakan bahwa idealisme tanpa realisme seperti pohon yang tidak berbuah. Pohon itu tidak berguna apa-apa, selain hanya menjadi alat pelindung ketika dalam keadaan terik maupun hujan dan sama sekali dia tidak mampu memecahkan kebuntuan dimensi kebutuhan pokok manusia yang paling urgen, yaitu makan. Bahwa sangat omong-kosong, meski seorang filsuf pun, yang mempunyai konstruksi pikiran atau idealisme tentang kehidupan sangat mapan tetapi pada tataran atitude ke-diri-annya, pemikiran itu tidak mempunyai daya kerja nyata. Orang seperti Nietsche yang mengandaikan adanya ‘manusia super’ tanpa cela, gugur kemudian karena kehidupannya sangat melenceng jauh dari konstruk pemikirannya. Terpaan schizofrenia dan kegilaan pada saat-saat terakhir hidupnya, menunjukkan bahwa dia hanya bisa berandai tentang sesuatu tanpa dia memulai dari dirinya sendiri atau setidaknya sesuatu itu merupakan hikmah hidup yang mesti dia jalani. Begitu juga dengan para pemikir politik yang telah melahirkan beribu-ribu tumpuk teori dan hukum negara, namun tanpa adanya suatu keinginan membuat sebuah komunitas gerakan agar gagasan itu dapat dibuktikan secara riil, maka sepenuhnya dia dapat dikatakan sebagai seorang utopis tulen. Orang semacam ini termasuk pada golongan yang tidak berkata atas dasar keyakinan hati nuraninya.&lt;br /&gt;Maka dengan demikian, orang yang sempurna ialah ketika dia dapat menerapkan pikiran-pikirannya terhadap dirinya sendiri dan kepada lingkungannya. Tarulah sepotong contoh, seorang politikus yang gencar menentang KKN, maka dia harus menjadi orang yang bersih dari sikap tersebut. Atau, orang yang selalu mengagungkan kejujuran sebagai pilihan hidup paling utama, maka dia mesti dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran bagi setiap orang. Karena bahwa, kecilnya sebuah gagasan selalu dahsyat manakala menjadi rujukan suatu tatanan kehidupan, setidaknya hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu maka, seseorang harus memulainya dari hal terkecil. Dia harus merasa skeptis terhadap sifat dan sikap hidup yang telah dijalaninya secara positif dari hal-hal yang tampaknya remeh namun sangat mendasar. Misalnya tentang kejujuran, egoisme, kedewasaan, pengaturan mental, dan lain sebagainya yang berkenaan dengan falsafah hidup keseharian. Bermacam aspek mendasar kehidupan ini menemukan klasifikasinya pada konteks pribadi dan sosial.&lt;br /&gt;Dalam konteks pribadi, seperti manusia kebanyakan, seseorang pasti mempunyai sebuah rencana, angan-angan, cita-cita serta konsep hidup yang murni sebagai pengharapan dari sisi kemanusiaannya. Dia mesti akan bertanya, apa yang harus diketahui? Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus didapatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiga pertanyaan ini, tiap orang selalu memiliki kecenderungan untuk sautu jawaban yang berbeda-beda, karena pikiran dan keinginan tiap orang pula berbeda-beda. Setelah pertanyaan pertama sudah dia jawab, dia mesti beranjak pada pertanyaan kedua, dan bukan lantas pada pertanyaan ketiga. Kadangkala ada seseorang yang hanya mampu memberikan justifikasi terhadap masa depannya untuk mengangankan ‘apa yang harus didapatkan darinya’. Dia tidak memikirkan aspek hidup berkenaan dengan bagaimana yang mesti dia lakukan dan aspek hidup yang seperti apa yang mesti dia tentang. Pertanyaan kedualah yang sebenarnya menjadi titik sentral dari pertanyaan pertama dan kedua tersebut. Oleh orang kebanyakan pertanyaan kedua ini dikatakan sebagai proses. Dalam artian bahwa seseorang boleh mempunyai cita-cita dan angan-angan, tetapi yang patut dititikberatkan ialah bukan pada titik tujuan, melainkan proses yang harus dijalaninya. Orang yang menghargai proses seperti halnya menghargai hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal proses, pula ada tiga hal yang harus menjadi patokan kunci yaitu tentang niat, kehendak, dan konsekuensi. Niat, dalam arti yang sesungguhnya, adalah suara nurani yang menunjukkan kemantapan terhadap ‘apa yang harus diketahuinya’. Sementara kehendak ialah berkenaan dengan kesadaran untuk terus-menerus berusaha memberikan pengorbanan terhadap usahanya supaya dapat menjawab dengan keyakinan terhadap ‘apa yang harus didapatkan’. Dan konsekuensi merupakan aspek-aspek mendasar dari cobaan dan tantangan serta problematika hidup yang tidak boleh tidak harus dihadapi dengan kematangan mental yang harus selalu dilatih. Bukan justeru bahwa problematika harus dihindari, melainkah mesti dikalahkan, karena manusia akan menjadi dewasa dari pengalaman pahitnya. Orang yang tidak meniscayakan problematika berarti juga tidak menghargai cita-cita dan prosesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sosial, seseorang mempunyai kecenderungan ingin menguasai atau justeru terkuasai. Rasa ingin menguasai sesungguhnya lahir dari ketidakmampuannya dalam mengartikulasikan esensi hidup yang sebenarnya, bahwa komunikasi merupakan nyawa satu-satunya dari hidup manusia. Sedangkan dalam komunikasi mesti disertakan apa yang dinamakan keselarasan untuk saling menghormati, kerena bahwa disparitas dan paritas merupakan kunci pokok dari aspek-aspek sosial. Maka untuk itu rasa ingin menguasai tida
