Minggu, 08 November 2009

AKU INGAT MASA KANAK-KANAKKU

(Bagian Pertama)

Aku adalah penyuka musik, setidaknya sejak aku paham bagaimana musik adalah bagian instrumen jiwa yang paling hakiki. Ini terjadi saat aku masih kelas empat (IV) SD. Waktu itu, buatku, tak ada waktu luang untuk tidak mendengarkan musik, baik dari radio atau type recorder. Aku, biasanya, sehabis sekolah, langsung ke rumah paman untuk mendengarkan musik – maklum, di rumah aku tidak punya alat elektronik. Kini pun, ketika ada waktu luang, sering aku datang ke kost teman – sebab di kos aku tidak punya komputer – untuk sekedar mendengarkan musik-musik kesukaanku.

Akibat dari hobi itu, sering aku merasa bahwa musik adalah catatan harian lain dalam hidupku. Aku tidak bisa lepas darinya, seperti juga aku tidak bisa lepas dari buku catatan harian yang ke manapun aku pergi pasti selalu aku bawa. Dengan aku bernostalgia dengan musik-musik yang dulu pernah menjadi kesukaanku, dengan itu pula aku bisa bernostalgia dengan masa laluku.

Seperti sekarang ini, aku sedang menikmati lagu-lagu Malaysia yang pernah populer tahun-tahun 90-an, aku menjadi ingat masa kanak-kanakku, masa-masa bahagia ketika masih SD dulu. Lagu-lagu dari group band Slam, Exist, Sultan, Iklim dan lainnya adalah seraut kisah catatan masa kecil yang sangat mengesankan bagiku.

1
Aku ingat, setidaknya kelas IV-VI SD, aku adalah pembantu setia pamanku, Nom Hosin, dalam mengadu merpati. Waktu itu aku sangat menyukai aduan merpati. Aku menjadi seorang pangocol merpati punya pamanku. Sekali ngocol aku dibayar, kalau tidak salah, Rp. 500. Aku sudah bahagia dengan bayaran sekecil itu. Pikirku, tidak apa-apa bayaran kecil, yang penting aku bisa beriang-riang dengan teman-teman kecilku yang kebetulan punya hobi sama sepertiku.

Kalau tidak di lapangan sepak bola belakang gedung sekolah, paling banter ke daerah Manggalang yang dulu dikesankan sepi dan angker oleh teman-temanku untuk melatih merpati punya pamanku itu. Tetapi yang paling mengesankan, saat aku diajak ke festival-festival aduan merpati oleh paman buat membantunya menjadi tokang pangocol. Betapa senangnya aku ketika merpati pamanku dapat juara. Selain aku bisa dapat bayaran yang agak lumayan, aku juga bisa punya banyak cerita buat teman-teman di kelas esok harinya.

Ah, kapan aku bisa bernostalgia dengan hobiku itu, dengan pamanku itu (yang sekarang hidup bahagia di desa dengan istri dan dua anaknya, yang seakan sudah tidak punya waktu lagi untuk sekedar mengulang masa lajangnya sebagai pengadu merpati handal).....!

2
Aku juga ingat, masa-masa pahitku sebagai seorang anak kecil yang malang. Dibanding teman-temanku yang lain, aku adalah anak yang paling miskin. Sehingga karenanya, sering aku menangis sendiri karena orang tuaku tidak bisa membelikanku, misalnya, sepeda atau tali addhuwan layang-layang – yang pada waktu itu terkesan mahal – karena orang tuaku tidak punya uang. Orang tuaku hanya bisa minta maaf kepadaku karena tidak bisa memenuhi permintaanku itu. Aku memakluminya, meski sesungguhnya di hatiku terasa sakitnya.

Ketika teman-temanku menikmati sepeda barunya atau mainan layang-layangnya, aku hanya bisa melihat mereka dari jauh, sendirian. Meratap diri. Menangis. Bagaimana rasanya bila aku seperti mereka?

Untungnya, teman-temanku baik kepadaku. Mereka tidak ingin aku menangis. Mereka ingin aku juga menikmati mainan miliknya. Mereka senantiasa akan mengajakku bermain bersama, ketika melihat aku sendirian melihat keriangan mereka. “Ayo, Kih, kita main bersama. Sudahlah, jangan menangis. Kamu boleh kok pinjam sepedaku (atau layanganku), dan main sepuasmu. Ayo...,” ajak mereka sambil menarik-narik tanganku yang aku kucek-kucekkan ke mataku, menghapus air mata.

Sungguh kemesraan itu tiada terkira bila aku ingat kini. Aku sangat berterima kasih pada teman-temanku itu. Tanpa kehangatan persahaban mereka, mungkin sampai kini pun aku tidak bisa naik sepeda, juga tidak bisa main layang-layang dengan baik. Kalian adalah pendekarku, kawan. Semoga kelak kita mengayuh hidup lebih sempurna.

3
Aku ingat, tiap hari minggu pagi, aku – bersama teman-teman kecilku – pergi ke pantai, sekedar untuk lari pagi. Ada pengalaman yang sangat mengesankan saat-saat seperti itu. Biasanya, kami berangkat jam lima pagi, dan sampai di pantai sekitar setengah enam. Di tengah jalan, sudah menjadi kebiasaan bersama, kami saling meledek. Kebetulan, teman-teman yang ikut tidak hanya cowok, tetapi juga cewek. Kami saling menjodoh-jodohkan di antara kami. Ada marah, ada yang kecut, ada juga yang merasa bangga. Aku biasanya kecut saja menanggapi ledekan teman-teman.

Sesampainya di pantai, kami berpencar. Sebelum itu, biasanya, kami berlari-lari kecil bersama, memperagakan senam yang sudah diajarkan di sekolahan. Lalu terserah masing-masing mau ke mana, yang penting, kami harus pulang bersama. Ada yang mandi di laut, ada yang minta ikan-ikan kepada para nelayan yang baru saja pulang berlayar, ada yang duduk-duduk memandangi indahnya pantai, ada yang main bola, ada pula yang mencari bukkol (buah-buahan pinggir pantai). Aku, bersama dengan sebagian teman, biasanya, langsung menuju semak-semak karang, mencari urmang.

Sekitar jam tujuh, kami pulang. Tetapi sebelum itu, biasanya, kami mencuri kelapa muda milik pak tani. Rudi, salah seorang dari temanku, biasanya yang jadi joki naik kelapa, sementara yang lainnya, termasuk juga aku (kebetulan aku tidak bisa naik kelapa), bertugas mengambil kelapa yang sudah dipetik dan ada sebagian yang bertugas membelahnya (dengan diantukkan ke batu). Kelapa muda itu kami nikmati bersama. Sekali waktu, ada pengalaman yang mengesankan. Kami ketahuan pak tani. Ia marah kepada kami. Kami hanya menunduk gemetar mendengar cerocosnya. Karena mungkin kami masih kanak-kanak, urusannya sebatas itu. Setelah itu, kami bisa pulang. “Untung kita tidak dipukul olehnya,” ujar si cewek-cewek.

Esok harinya, hari senin, aku membawa urmang-urmang itu ke kelas, menjualnya ke teman-teman, adik kelas, juga kakak kelas. Tiap hari senin, aku memang punya langganan. Kalau aku tidak bawa urmang, biasanya ditanya oleh para pelangganku itu. Satu urmang dihargai sekitar Rp. 100-Rp. 300. Hasilku tergantung banyaknya urmang yang aku bawa. Tetapi rata-rata tiap hari senin, aku komulatifkan, hasilnya bisa sampai Rp. 3000-Rp. 4000. Uang itu simpan atau aku belikan buku tulis, potlot, stip, dan barang-barang kebutuhan sekolah lainnya. Tetapi seringnya, aku kasihkan kepada ibu. Sebab, aku sering kasihan pada beliau. Buat uang belanja ke pasar tiap hari, sering beliau harus pontang-panting cari hutangan ke tetangga.

Teman-teman, kapan-kapan kita ke pantai bersama lagi ya....meski di antara kalian sudah ada yang menikah. Aku ingin kembali menikmati keriangan kita dulu itu...

4
Kalau di antara kami ada yang sakit, seluruh anak harus menjenguknya. Itu sudah keputusan dari Pak Solehoddin (guruku waktu kelas V dan VI). Ide itu pertama lahir dari usulan teman-teman kelasku. Sampai beberapa tahun kemudian, ide itu terus dilestarikan oleh adik-adik kelas kami. Sekarang, entahlah, apakah kultur itu masih ada atau tidak. Tetapi semoga masih ada, karena aku rasa kultur itu penting demi penguatan tali persahabatan di antara anak-anak – sesuatu yang dibutuhkan di era yang telah mulai melunturkan kultur-kultur semacam itu.

Biasanya, sehabis pelajaran, sekitar jam satu siang, kami bersama-sama berangkat ke rumah salah seorang teman yang sedang sakit. Kami sumbangan membeli oleh-oleh (biasanya berupa gula, pisang dan jajan-jajan kecil) untuk teman yang sedang sakit itu. Senda-gurau kami di tengah perjalanan adalah keriangan yang tiada terkira, sesuatu yang tidak aku dapatkan saat ini. Saling meledek di antara kami telah menjadi budaya yang sulit dikubur. Terasa hampa bila kami tidak saling meledek satu di antara yang lain.

Setelah sampai di rumah teman yang sakit, kami disambut dengan bahagia oleh keluarga di sana. Kami langsung disuguhi minuman dan makanan. Senda-gurau masih bertahana di antara kami. Sehingga, dan ini sangat sering terjadi, senda-gurau kami yang kadang keterlaluan itu membuat teman yang sedang sakit itu merasa terhibur, dan keesokan harinya sudah sembuh. Akhirnya, ia bisa berkumpul kembali dengan kami mengikuti pelajaran Pak Saleh.

Sekedar catatan, teman kelasku yang sering dijodoh-jodohkan denganku – baik di sekolahan maupun ketika kami berkumpul di luar jam sekolah, lebih-lebih ketika sedang dalam perjalanan ke rumah teman yang sakit – Vera Yuli, tahun kemarin (2008) meninggal dunia. Ia meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Kebetulan waktu itu aku ada di Jogja. Aku terenyuh mendengar berita itu dari teman-teman. Aku sedih, seharian mengurung diri di kos: merefleksikan kembali tali persahabatan yang dulu sempat kami rajut dengan luar biasa bahagianya.

Yuli, maafkanlah segala kesalahanku, baik yang aku sengaja atau yang tidak aku sengaja. Maafkanlah temanmu ini yang tidak bisa melayat ke rumahmu, tidak bisa berada di sampingmu ketika kau sedang menghirup nafas terakhirmu. Semoga persahabatan kita tetap kekal, meski kau sudah tiada. Semoga di surga kelak, kita dapat lagi merajut kebahagiaan bersama dengan teman-teman yang lain. (06 November 2009).

Kamis, 05 November 2009

DOSENKU YANG PALING AKU KAGUMI

(Bapak Dr. rer. nat. Muhammad Farchani Rosyid)

Pertama, beliau adalah dosen astronomiku (semester empat). Kebetulan, semester empat adalah momen paling istimewa dalam sejarah pendidikanku. Semester empat adalah suatu tonggak di mana aku mulai sadar untuk benar-benar belajar ilmu-ilmu alam, khususnya matematika dan fisika. Sebelum itu, boleh dibilang aku tidak tahu-menahu mengenai teori-teori matematika dan fisika. Aku menganggap dua ilmu itu jauh dari kenyataanku sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan sampai semester tiga pun, aku sama sekali tidak faham matematika dan fisika.

Sebelum semester empat, pikiranku banyak aku forsir untuk mendalami ilmu-ilmu sosial-politik dan budaya, lebih-lebih sastra. Kurang-lebih aku sudah mulai merasa bangga dengan prestasiku di bidang ilmu itu: setumpuk opini, artikel, esei, cerpen dan puisi telah aku hasilkan, serta sebagiannya aku terbitkan di koran-koran. Aku juga sudah mulai bisa menulis satu buku (Membaca Rahasia Nabi Khidir, Mitra Pustaka, 2008) dan menyumbang tulisan dalam beberapa buku komplikasi. Mungkin ini karena aku lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang berlatar sosial, budaya dan sastra ketimbang dengan teman-teman kelas sendiri.

Tapi setelah semester empat, aku kira prestasi eksternal tersebut tidak cukup membuatku puas dengan proses pembelajaranku. Mengesampingkan ilmu internal (fisika dan matematika) dari ilmu eksternal bagiku adalah penghianatan intelektual seseorang. Lebih-lebih, saat itu aku juga mulai faham bahwa matematika dan fisika lebih rumit ketimbang ilmu sosial-budaya dan sastra (anggapan ini telah aku tanggalkan, karena setelah tahu, dua bidang yang tampaknya terpisah itu, sama-sama rumitnya). Karena aku adalah tipe orang selalu merasa tertantang dengan hal-hal yang rumit-rumit, aku berpikir, ini cukup menarik untuk aku jelajahi. Pasca itulah aku mulai sadar untuk memulai dari awal belajar matematika dan fisika.

Tetapi rupanya, kesadaran itu tidak muncul serta-merta tanpa adanya suntikan-suntikan dari luar. Siapakah gerangan orang-orang yang telah berjasa mengangkat semangatku belajar matematika dan fisika?

Pertama adalah kakak angkatanku: orang yang selalu menganggap aku tidak cocok masuk jurusan fisika, karena pemahaman matematika dan fisikaku sangat lemah (maklum, sebelum itu aku tidak benar-benar ingin belajar fisika). Kata dia, karena dasarku adalah seorang penulis, lebih baik aku masuk jurusan filsafat atau sosial, atau setidaknya pendidikan fisika, karena menurutnya ilmu-ilmu itu tidak terlampau sulit (kini aku berani bertaruh dengan anggapannya bahwa ilmu sosial dan filsafat itu tidak sesulit matematika dan fisika).

Kedua, teman-teman kelasku sendiri: orang-orang yang sering membuatku terasing sendiri di kelas ketika dosen-dosen fisika dan matematika sedang memberikan pelajaran. Aku iri pada mereka. Mengapa mereka paham dan aku tidak paham? Apa yang sesungguhnya yang membuatku berbeda dengan mereka? Keseriusan! Ya, keseriusan. Aku “kalah” dengan mereka karena selama ini aku tidak pernah serius belajar matematika dan fisika.

Ketiga adalah Pak Rosyid. Beliau tidak seperti dosen-dosenku yang lain. Banyak dari dosen-dosenku (tetapi tidak semuanya) yang bertipikal sebagai “pekerja”, yakni “asal mengajar, yang penting dapat duit”. Ada juga yang bermodel sebagai “dewan juri”, yaitu mereka yang sering menganakemaskan satu anak dan mengabaikan yang lainnya. Ada juga yang “kaku”, hanya paham mata kuliah yang diampunya semata dan tidak yang lain. Ada pula yang tidak tahu-menahu sebuah arti semangat belajar mahasiswanya.

Ini sangat kontras dengan sosok Pak Rosyid. Aku dapat melihat secara kasat mata, bahwa beliau mengajar bukan karena apa-apa, melainkan karena kecintaannya kepada ilmu. Beliau tidak pernah menganakemaskan satu anak diantara yang lainnya. Beliau juga tidak kaku, berpengetahuan sangat luas, dan sering membuka cakrawala berpikir mahasiswa-mahasiswanya.

Kata-kata beliau yang selalu menggaum dalam kesadaranku, “kalian boleh saat ini tidak paham, tetapi tidak untuk saat yang lain. Tugas arif seorang ilmuwan adalah belajar dan belajar, berpikir dan bermenung, lalu menyumbangkan pengetahuannya untuk kemaslahatan peradaban manusia ke depan. Telah lama bangsa ini menunggu generasi-generasi penerusnya yang betul-betul konsisten dan punya integritas yang tinggi terhadap yang mereka tekuni”.

Melihat visi integritas-interkoneksitas kampus UIN Sunan Kalijaga, selama pengalamanku diajar oleh dosen-dosen Saintek, hanya beliau yang kiranya sangat paham dan matang dalam mengomunikasikan antara wahyu dan sains. Beliau pernah berkata di hadapan kami saat mengajar Astronomi, “bidang penelitian saya yang sedang saya tekuni adalah mengenai mekanika langit. Saya senantiasa skeptis dengan teori-teori yang diciptakan oleh fisikawan-astronomer Barat jika hal itu bertentangan dengan al-Qur’an. Penelitian-penelitian yang saya hasilkan selalu merujuk terhadap kebenaran dalam al-Qur’an, karena itu keyakinan saya.”.

Aku mulai tahu eksistensi beliau sebagai ilmuwan, salah satunya, ketika ikut bedah buku “Ayat-Ayat Semesta” oleh Bapak Dr. Agus Purwanto (fisikawan nuklir ITS). Pak Agus bilang, Indonesia hingga kini hanya memiliki 15 fisikawan yang berkredebilitas internasional, dan salah satunya ialah Pak Rosyid. Hebat! – pikirku. Aku punya dosen hebat. Dan merasa sangat beruntung, setidaknya pernah diajar oleh dosen berkaliber internasional.

Setelah itu, aku mulai penasaran dengan sosok Pak Rosyid. Aku coba ketik nama MF. Rosyid di google scholar (ruang maya yang menghimpun artikel-artikel seputar fisika dan matematika). Aku menemukan artikel beliau yang berjudul On The Structure of Quantizable Algebras of The Products of Symplectic Manifolds with Polarizations atas nama beliau sendiri. Selain itu, ada beberapa artikel lain yang sudah kulupa judulnya. Artikel-artikel beliau yang aku temukan memang bukan yang dimuat di jurnal-jurnal internasional, tetapi di jurnal nasional. Ini hanya persoalan glamoritas, alih-alih juga persoalan keuangan (karena sepengetahuanku, untuk memuat tulisan di jurnal internasional, penulis harus mengeluarkan kocek 10 juta per tujuh halaman).

Selain itu, aku juga menemukan di google daftar keynot speeker dalam simposium-simposium fisika nasional dan internasional di mana tersemat nama dan judul karya Pak Rosyid. Dari sana aku mulai paham bahwa Pak Rosyid adalah fisikawan kuantum dan teoris astronomi, serta ahli matematika terapan.

Tetapi, bagiku, yang terpenting adalah tentang sikap dan sifat Pak Rosyid sebagai entitas akademik. Pak Rosyid memberikan kebebasan berekspresi kepada mahasiswa-mahasiswanya. Ketika di dalam kelas, beliau suka berhumor, mengritik pemerintah dan banyak mengulas isi-isi al-Qur’an, terutama tentang fenomena alam dan kewajiban umat Islam dalam mendalami ilmu. Ketika beliau mengajar, terutama astrofisika (semester lima), sangat tampak betapa penguasaannya terhadap ilmu itu sangat tinggi dan dapat dengan mudah mengomunikasikan teori-teori yang rumit kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Pernah sekali beliau bicara tentang demokrasi. Kata beliau, “di dalam demokrasi, suara seorang kiai sama nilainya dengan seorang biasa, suara seorang profesor sama nilainya dengan suara seorang preman”. Aku memikirkan dan merenungkannya dalam-dalam, dan segera mencari dan membaca buku-buku tentang demokrasi. Aku menulis opini untuk menyampaikan gagasan Pak Rosyid itu. Dan, Alhamdulillah, opiniku itu di muat di koran Joglosemar.

Sekali dalam kuliahnya di FMIPA UGM, beliau berhumor. Katanya, “ternyata banyak kalimat yang diwariskan oleh pendahulu kita salah. Salah satunya, mereka berkata, ‘belajar untuk mengejar ketertinggalan. Padahal seharusnya, ‘belajar untuk mengejar kemajuan’”. Dan banyak humor-humor lain yang sering beliau lontarkan di tengah-tengah memberikan kuliah.

Biodata Pak Rosyid
Dr. rer.nat. Muhammad Farchani Rosyid, lahir di Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juli 1968. Pendidikan dasar sampai menengah atas diselesaikan olehnya di tempat kelahiran dari tahun 1975 sampai tahun 1987.

Dr. Rosyid menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) fisika teori pada jurusan fisika FMIPA UGM pada tahun 1992 dan strata dua (S2) fisika teori di universitas yang sama pada tahun 1995. Derajad doktor diperolehnya pada tahun 2000 dalam Fisika Matematika (Mathematical Physics) dari Technische Universität Clausthal, Republik Federal Jerman dengan dissertasi berjudul : Zum Zusammenhang zwischen geometrischer Quantisierung und Borel-Quantisierung. (On the Relation between Geometric Quantization and Borel-Quantization).

Bidang penelitian yang diminatinya adalah Topological and differential geometrical methods in Physics, Theory of Quantization, Groups and Symmetries, Mathematical Foundations of Quantum Theory.

Riwayat Pekerjaan: - Asisten Dosen pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1992-1996) - Staf peneliti pada Arnold-Sommerfeld-Institut für Mathematische Physik, Technische Universität Clausthal, Jerman (1996-2000) - Staf Pengajar pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (sejak tahun 2000).

Bagiku, beliau adalah my best dosent! (05-11-2009).

AKU ORANG PESANTREN

Mungkin aku memang tidak bisa lari dari kenyataan latar belakangku, bahwa aku ini adalah anak pesantren tulen. Karena setiap kali aku berpikir untuk melepaskan diri dari latar belakangku itu, selalu saja tersebat di hati perasaan bersalah dan sesuatu yang lalu membuatku ragu akan keberadaanku yang sesungguhnya.

Aku memang tidak bisa baca kitab kuning, setidaknya sampai aku keluar dari pesantrenku, PP. Annuqayah Daerah Lubangsa (2000-2006); tidak bisa berkhotbah dan berceramah; penampilan luaranku juga tidak menampakkan bahwa aku adalah seorang yang benar-benar santri; di pesantren juga aku sering melanggar peraturan, dan banyak teman-teman santri yang bilang, kesantrianku masih perlu dipertanyakan. Tapi entah mengapa, di dalam diriku seperti ada sesuatu yang tak bisa aku elakkan: mungkin ghirah kesantrian, mungkin juga diri kepesantrenan.

Dulu, semasih jadi santri, aku berpikir tentang hal yang macam-macam. Menurut pikiranku kala itu, jadi santri adalah suatu hal yang paling buruk dalam pengalaman hidup. Santri itu adalah lambang dari kekolotan, keterasingan dari gaung peradaban, bagian dari orang-orang yang tidak akan pernah maju-maju, selamanya. Aku juga berpikir, bahwa dalam kenyataanku, aku tidak cocok jadi santri, dengan alasan yang seringkali kubuat-buat sendiri dan kubenarkan sendiri. Pokoknya, ah..waktu itu aku sangat menyesali tuntutan orang tuaku yang membuatku terkurung dalam “kubangan kejumudan” itu.

Setelah lulus dari pesantren pun, pikiran-pikiran semacam itu terus menghantuiku. Pada awal-awal di Jogja (2006) – dan ini berlanjut sampai awal-awal aku jadi mahasiswa (2007) – aku selalu mengelak dari kenyataan latar belakangku. Meskipun di Jogja aku juga hidup di pesantren (PP. Mahasiswa Hasyim Asyi’arie), aku tidak mau orang-orang tahu kalau aku santri. Ketika berkenalan dengan teman-teman kampus, misalnya, aku selalu bilang bahwa aku bukan lulusan Madrasah Aliah, tetapi SMA (identitas Annuqayahnya aku buang), dan juga bahwa tempatku memang bukan di kost, tetapi di asrama mahasiswa (untuk setidaknya tidak mengatakan di pesantren).

Tetapi, sepandai-pandainya orang menyimpan kebenaran, kelak pasti terungkap juga. Akhirnya teman-temanku tahu – bahkan semua orang – kalau aku seorang santri, orang pesantren tulen, produk asli suatu ruang hidup yang dulu aku anggap sebagai “kubang kejumudan”. Meski pada awalnya aku kecewa dengan semua ini, setidaknya aku puas bahwa aku mulai paham dengan keadaan.

Dan memang, ruh kesantrian dalam diriku tidak pernah bisa dihapus atau dipermak sedemikian rupa, bahkan hingga kini – dan aku harap untuk selamanya. Kesantrian memang kadang menimbulkan suatu kecenderungan yang “tidak enak di dengar”, tetapi tidak buatku kini. Aku sudah mulai sadar bahwa selamanya aku tidak bisa memaksakan diri untuk selalu mengelak dari latar belakang yang telah memahat hidupku. Aku adalah santri, dan hal ini tidak bisa dihapus dari catatan hidupku, oleh siapa pun, sekalipun oleh diriku sendiri.

Aku kini sudah merasa cukup bangga dengan kesantrianku, meski hingga detik ini pun aku belum bisa baca kitab kuning, belum bisa jadi khotib atau penceramah, bahkan belum bisa secara benar “memasang songkok dan melipat sarung sendiri”. Kesantrian adalah identitasku, ruh hidupku, suatu bagian yang kini aku rasakan telah menimbulkan efek luar biasa dalam proses kreativitasku, juga proses pembentukan kepribadianku. Bahkan dalam diriku kini tersimpan suatu ambisi: aku ingin menunjukkan kepada publik bahwa stereotipe jelek terhadap santri dan pesantren adalah salah total. (02-10-2009).

Jumat, 09 Oktober 2009

CATATAN TENTANG MUSIK



Musik, bagiku, adalah ruang kelam, dimana kenangan adalah ruhnya. Aku tak benar-benar bisa mengatakan bahwa aku adalah seorang melankolis. Aku berfikir, kenangan kadang menyesatkan seseorang, karena menurutku manusia adalah masa depan, dan karenanya kenangan tak mendapatkan tempat untuk itu. Aku termasuk seseorang yang berpikir tentang masa depan, tentang pembangunan, tentang sebuah impian. Tapi dengan musik, segalanya menjadi berubah.

Tiba-tiba aku merasa bahwa masa depan begitu jahat, serupa pembunuh yang siap dengan parangnya menunggu manusia. Tiba-tiba masa depan seperti suatu masa yang amat mencekam.
Barangkali hanya kata ”rindu” yang cukup berdamai denganku. Rindu dan musik, akan halnya tangkai dan bunga, kapas dan api, pagi dan dingin. Rindu adalah semacam ruang dimana waktu yang telah jauh ditinggal bangkit kembali memanggil-manggil kita. Suatu waktu yang bahkan kita tak akan melupannya selamanya, selama hidup kita. Dan itu, sepengalamanku, musiklah yang

Ketika musik mengalun, aku seperti seseorang yang tak pernah ada. Segalanya menjadi asing. Bahkan diriku sendiri. (09 Oktober 2009).

Tentang Pemikir Indonesia Paling Unik dan Brilian

(Hidayat Nataatmadja)

Hidayat Nataatmadja, aku baru mengenalnya sekitar pertengahan tahun 2007 lewat karya keroyokannya, yakni Ilmu Humanistik. Ia barangkali tidaklah begitu terkenal dan tenar seperti, misalnya, Nurcholis Madjid, Selo Sumardjan, Ahmad Baiquni atau ilmuwan-ilmuwan Indonesia lainnya. Ia bagai seluet merah yang lebih panas menyala di tengah-tengah gemerlap cahaya.

Mengapa ia tidak menjadi begitu terkenal, sebuah pertanyaan yang kadang menggelisahkanku. Tetapi tidak lama setelah aku cari tahu ternyata ialah karena pendiriannya yang keras dan “tanpa aturan ilmiah” sehingga menjadikannya terkucilkan – untuk tidak mengatakan dikucilkan – di tengah-tengah aktivitas intelektualisme kita. Watak Hidayat memanglah begitu: keras, kasar, sangar, “narcis”, “sombong dan sok”, “tanpa aturan”, “serabutan”, serta stereotip-stereotip negative intelektualitas lainnya; itu bisa dilihat dari tulisan-tulisannya.

Namun meski demikian, melalui karya-karyanya kesadaranku kemudian menjadi tergugah, sehingga akhirnya aku dapat menyimpulkan bahwa perangkat dasar seorang ilmuwan adalah logika dan imajinasi. Logika dan imajinasi yang dimaksud di sini adalah apa yang dapat dikatakan sebagai “logika terbalik” dan “imajinasi tingkat tinggi”. Logika terbalik ialah pola pikir yang cenderung bertolak dari frame umum, yaitu, misalnya, bila kebanyakan orang memandang bulu, mata, suara dan objek lainnya untuk mengambil pengetahuan mengenai kucing, maka ia mengambil jalan dengan menganalisanya dari sudut pandang tikus sebagai mahluk yang menjadi musuh utama kucing. Sementara imajinasi tingkat tinggi adalah, misalnya, apabila orang kebanyakan berimajinasi mengenai tata surya, maka ia lebih dari itu, yakni alam semesta secara umum.

Apa yang diajarkan Hidayat secara tersirat dalam tulisan-tulisannya terletak pada dua hal tersebut. Tulisan-tulisannya memanglah serabutan. Ia kerap kali bicara tentang agama, pancasila, teori ekonomi dan teori fisika dalam satu pokok tulisan. Hal ini yang sering membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenanya diinginkan oleh Hidayat? Mengapa ia tidak menggeluti ilmu ekonomi – catatan: ia meraih doctor ekonomi di salah satu universitas Amerika – sebagai strudi utamanya ketimbang serabutan yang seperti tidak “menemukan arah”?

Prosedur dalam tulisan-tulisannya rata-rata tidak memenuhi aturan ilmiah. Cara ia menyampaikan demikian juga: kadang ngelantur, kasar, bertele-tele, juga sama sekali keluar dari batas kewajaran karya ilmiah. Akhirnya hal ini berkonsekuensi pada nalar analitis yang dibangun di dalam tulisannya tersebut. Sebagai contoh, apa yang ia munculkan seperti teori psy-war dan Ilmu Humanistik versinya sebenarnya merupakan ide yang amat brilian, tetapi karena tidak ditopang oleh keseriusan cara penulisan, teori dan ilmu yang dibangunnya tersebut tidak memenuhi standart atau criteria umum untuk diterima publik.

Dia memang satu-satunya pemikir yang memiliki frame dan wilayah garapan paling unik di antara pemikir-pemikir lainnya di Indonesia yang aku kenal. Tetapi ide-idenya, inovasi pemikirannya, kecermatan pembacaan dan kedalaman renungannya sangat luar biasa. Membaca karya-karyanya sering aku dibuat tertegun dan bertanya-tanya, bagaimanakah pemikiran Hidayat sampai pada batas wacara yang tidak sempat dipikirkan atau dirambahi oleh orang sebelumnya?

Ia adalah penemu teori-teori bahkan cabang disiplin ilmu baru yang mencengangkan. Seakan ia tidak mau berkarya dengan ide-ide yang basi dan “linier”, tetapi ia hanya ingin berkarya dengan segepok pemikiran yang betul-betul murni sebagai pencapaian yang sangat mengesankan. Tetapi sayang – mungkin karena a priori-nya terhadap prosedur ilmiah – teori-teori dan ilmu baru yang ia bangun tidak ditopang oleh kejernihan dan kedalaman karya dengan batas yang menggembirakan. Teori-teori dan ilmu barunya bagai bangunan rumah yang hanya diselesaikan dasarnya, tetapi tidak seutuhnya. Mungkin karena hal inilah teori-teori dan ilmu baru Hidayat minim apresiasi publik, bahkan dicibir dan dicemooh.

Tetapi terlebih dari itu, aku betul-betul mengagiminya, salut dengan semangat dan cara ia memandang sesuatu. Ia menguasai banyak hal, dari ekonomi, fisika, al-ghazali, dan pancasila, dan ia juga tahu bagaimana ia mesti membalas hutang budi dengan mengembangkan ilmu-ilmu itu. Ia adalah fenomena bagi dunia keintelektualan Indonesia. Ia adalah tonggak yang bertuliskan, “kita jangan hanya jadi konsumen ilmu, tetapi juga harus jadi produsen”. (04 Oktober 2009).

KEHILANGAN



adakah yang berarti di dunia ini
dan lebih berarti daripada kehilangan

bunga yang tumbuh kini
kelak akan layu dan mati
lalu hilang pesona dan baunya
seperti akan juga kita

hidup memang tak istimewa, kasihku
kini kau milikku
tapi mungkin tidak di saat yang lain
karena setiap perjumpaan
selalu menjanjikan kehilangan

tapi jangan kau takut dan sedih
cinta adalah kemungkinan
yang tak harus dipaksakan

biarkanlah segalanya datang
segalanya menghilang
bagai ombak yang bertandang dan pulang

jogja, 2009

SENYUMMU ADALAH MALAM PADAKU



senyummu adalah malam padaku
selalu menyisakan kelam pada mataku yang buta
yang hanya bisa merapal nasib sendiri
di dalam kubangan cinta yang gelap

aku yang terus saja berjalan, bagai hanya terdiam
menekuri butir-butir debu di kakiku
masa depan, seperti juga kenangan
hanya menyediakan kekalahan demi kekalahan

aku tak pernah mampu mengelak segala yang datang padaku
tetapi aku juga merasa tak mampu memilikinya
kisah hidup menjadi sedemikian asing
seperti sinar matamu yang tak menjanjikan apa-apa

kadang aku merasa lelah memikul nasibmu, kekasihku
menyimpan cintamu yang fana
tetapi aku juga tak mengerti
mengapa segala yang kutatap adalah dirimu

mengapa waktu begitu rentan
untuk setiap kenangan
mengapa ia memberikanmu padaku
jika akhirnya kumiliki kau
hanya dalam ingatan

kini aku hanya bisa menulis puisi
belajar menyimpan luka dalam kata-kata
sebab aku tak percaya lagi
pada impian yang membusuk di kepala

jogja, 2009