Mak, udara Idul Adha tadi pagi sangatlah dingin, cuaca menjadi sangat sunyi dan suasana terbawa ke dalam rasa sedih. Tidak ada hal yang istimewa ketika tadi aku bangun tidur. Tidak mendengar celoteh adik atau senyum nenek. Aku bangun sendiri, Mak, sendiri saja. Tidak terdengar omelanmu yang selalu memekakkan telinga di saat kamu membangunkanku. Tidak terasa cucuran air di mukaku yang biasa kau lakukan agar aku cepat-cepat bangun. Di samping bantalku, aku tidak melihat sebungkus kembang dan daun pandan untuk nanti sebagai bekal ziarah ke makam para leluhur.
Gema takbir yang terdengar di sana-sini membuat dadaku sesak, Mak. Sehabis shalat subuh aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku hanya bisa bertawassul dan membaca surat Yaa Sin sendiri kepada para leluhur sambil tak kuasa menahan tangis. Aku minta maaf, Mak, hari ini tidak bisa ziarah ke makam-makam mereka. Aku hanya bisa bermunajat sendiri di dalam kost yang sempit dan kumuh sambil merasakan desir angin Jogja yang menggigilkan.
Tahukah kau, Mak, tadi pagi tidak ada orang yang menawariku makan jajan atau mencicipi kuah gule yang biasa dibuat nenek. Bukan karena aku lapar, sebab semalam aku sudah mempersiapkan makanan kecil, minuman dan rokok untuk sarapan pagi. Tetapi rasanya, Mak, sangatlah hambar. Aku rindu pada nenek yang biasa langsung menawariku makan setelah aku shalat subuh. Aku rindu kepadamu yang biasa menawariku jajan sebelum berangkat ke makam.
Aku memang sengaja tidak langsung menelponmu atau menelpon nenek dan adikku di rumah, karena aku belum bisa meredam air mata dan sedu sedan. Aku takut engkau terbebani dengan rasa sedihku. Aku takut engkau tak tenang di Malaysia. Aku ingin kau hidup tenteram, tak terbebani dengan sesuatu pun, dan menjalani hidup normal sebagaimana orang kebanyakan. Aku ingin kau bahagia di sana, Mak, meski jauh dari sanak keluarga. Aku tak ingin menambah bebanmu yang sungguh berat itu. Aku ingin kau tersenyum. Aku ingin kau bahagia.
Kepada nenek dan adik di Madura, aku tidak terlalu risau, sebab di sana mereka masih bisa tersenyum dan bersenda gurau dengan para saudara. Mungkin aku hanya merindukan mereka saja, tidak lebih dari itu. Tetapi terhadap kamu, bagaimana aku tidak rindu dan risau, sedang kau di Malaysia sendirian tanpa satu pun sanak keluarga. Aku kasihan padamu, Mak, sungguh kasihan sekali.
Selepas shalat Id, yang kutelpon pertama kali bukanlah siapa-siapa, tetapi kau Mak. Mendengar suaramu, aku gembira campur sedih. Sungguh aku ingin sekali menangis. Meskipun nada suaramu datar-datar saja, aku merasa suara itu datang dari jiwa yang gundah gulana. Apalagi saat kau bilang bahwa kau tidak bisa melaksanakan shalat Id, karena kau harus menjaga bayi majikanmu, kerongkonganmu serasa serak, air mata tak bisa lagi di bendung. Di dalam pikiranku, berkecamuk berbagai macam hal. Aku benci pada keadaan, aku benci pada diriku sendiri. Mengapa kejadiannya bisa seperti ini? Mengapa engkau yang kucintai harus terasing dengan kehidupan yang telah bertahun-tahun engkau jalani dengan perasaan yang tenteram dan damai seperti halnya di kampung kita dulu?
Aku begitu sangat merasa berdosa dan merasa sebagai anak yang tak berguna sebab membiarkanmu harus pergi jauh dari rumah, dari tempat di mana kau bisa merasakan hidup yang sebenarnya. Maafkanlah aku, Mak, maafkanlah aku. Aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk hidupmu. Tetapi di dalam dadaku, terpatri janji, bahwa bila kelak aku sudah cukup mampu membiayai hidupmu, akan kuistimewakan hidupmu. Aku ingin kau tinggal di rumah saja. Tidak usah bekerja ke mana-mana. Cukup bertani ringan saja di rumah. Segala kebutuhanmu akan aku penuhi. Akan kubuat kau jauh dari kehidupan sengsara yang telah menjeratmu bertahun-tahun lamanya. Aku ingin kau bahagia. Aku ingin membuatmu bahagia. Ini janjiku, Mak. Semoga Allah mengabulkannya. (06 November 2011).***
Sabtu, 03 Desember 2011
AKU INGIN HARI RAYA SEPANJANG HARI
Aku ingin hari raya sepanjang hari, sebab di waktu-waktu itulah aku bisa mendengar takbir di mana-mana. Gema takbir di corong-corong masjid seakan-akan menyuruhku untuk senantiasa memuji Allah. Di waktu-waktu itulah aku sangat bisa menikmati lantunan takbir sendirian, sambil mengunci kamar dan menangis di hadapan Allahku. Aku bisa ”bercengkrama” dengan Allah sepanjang hari, di mana-mana, lebih-lebih di ceruk terdalam dari hatiku.
Sudah dua lebaran ini (Idul Fitri dan Idul Adha 2011) aku merasakan betapa menangis bahagia di hadapan Allah sungguh amatlah nikmat rasanya. Di tengah-tengah lantunan takbir aku bersungkur diri tersebab diriku yang tak berdaya, penuh dosa dan tak mampu memikul tanggung jawabku sebagai manusia. Di tengah-tengah lantunan takbir aku merasa bangga dengan Allahku yang telah memberiku hidup, memberiku alam semesta, memberiku waktu, memberiku kesedihan, memberiku duka, memberiku harapan, memberiku keindahan, memberiku apa saja yang tak ternilai harganya.
Di malam-malam lebaran aku bisa bertakbir sepanjang malam, bercengkerama dengan Allahku dengan penuh damba dan cinta. Aku sungguh-sungguh merasa sebagai hamba, ’abdun, sesuatu yang begitu kudambakan sepanjang hidup. Aku lihat langit, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat masa lalu, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat diriku, hanya Allahlah yang ada. Allah ada di mana-mana, dan aku memujinya, bahkan dengan bulu kudukku. Di malam-malam lebaran, sungguh aku terkesima memandang hidup ini, Tuhan!
Aku ingin hari raya sepanjang hari, sebab di waktu-waktu itulah aku bisa merasakan makna dari kebahagiaan. Aku seperti anak kecil yang di malam-malam lebaran hatinya berbunga-bunga. Mereka menyulut petasan karena bahagia. Mereka meneriak-neriakkan takbir sambil menabuh apa saja dengan nada yang seperti apa saja karena bahagia. Mereka amatlah bahagia sekali menyambut datangnya hari raya. Apalagi ketika pagi-pagi berangkat ke masjid, sungguh kebahagiaan telah menjadi miliknya yang suci. Kebahagiaan anak-anak kecil di waktu lebaran adalah kebahagiaan yang abadi. Dan aku merasakannya saat ini.
Setiap sore menjelang, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Besok lebaran”. Setiap malam aku ingin berbunga-bunga sambil berkata pada diriku sendiri, ”Sekarang malam lebaran”. Setiap bangun pagi, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Sekarang lebaran”. Aku ingin kebahagiaan hari lebaran tak lekang dari hatiku. Aku ingin bertakbir setiap hari, aku ingin lebaran setiap hari. ”Allahku, sambutlah kebahagiaan hari lebaranku sepanjang hayat!”. (06 November 2011).
Sudah dua lebaran ini (Idul Fitri dan Idul Adha 2011) aku merasakan betapa menangis bahagia di hadapan Allah sungguh amatlah nikmat rasanya. Di tengah-tengah lantunan takbir aku bersungkur diri tersebab diriku yang tak berdaya, penuh dosa dan tak mampu memikul tanggung jawabku sebagai manusia. Di tengah-tengah lantunan takbir aku merasa bangga dengan Allahku yang telah memberiku hidup, memberiku alam semesta, memberiku waktu, memberiku kesedihan, memberiku duka, memberiku harapan, memberiku keindahan, memberiku apa saja yang tak ternilai harganya.
Di malam-malam lebaran aku bisa bertakbir sepanjang malam, bercengkerama dengan Allahku dengan penuh damba dan cinta. Aku sungguh-sungguh merasa sebagai hamba, ’abdun, sesuatu yang begitu kudambakan sepanjang hidup. Aku lihat langit, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat masa lalu, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat diriku, hanya Allahlah yang ada. Allah ada di mana-mana, dan aku memujinya, bahkan dengan bulu kudukku. Di malam-malam lebaran, sungguh aku terkesima memandang hidup ini, Tuhan!
Aku ingin hari raya sepanjang hari, sebab di waktu-waktu itulah aku bisa merasakan makna dari kebahagiaan. Aku seperti anak kecil yang di malam-malam lebaran hatinya berbunga-bunga. Mereka menyulut petasan karena bahagia. Mereka meneriak-neriakkan takbir sambil menabuh apa saja dengan nada yang seperti apa saja karena bahagia. Mereka amatlah bahagia sekali menyambut datangnya hari raya. Apalagi ketika pagi-pagi berangkat ke masjid, sungguh kebahagiaan telah menjadi miliknya yang suci. Kebahagiaan anak-anak kecil di waktu lebaran adalah kebahagiaan yang abadi. Dan aku merasakannya saat ini.
Setiap sore menjelang, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Besok lebaran”. Setiap malam aku ingin berbunga-bunga sambil berkata pada diriku sendiri, ”Sekarang malam lebaran”. Setiap bangun pagi, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Sekarang lebaran”. Aku ingin kebahagiaan hari lebaran tak lekang dari hatiku. Aku ingin bertakbir setiap hari, aku ingin lebaran setiap hari. ”Allahku, sambutlah kebahagiaan hari lebaranku sepanjang hayat!”. (06 November 2011).
Senin, 24 Oktober 2011
AKU ADALAH MANUSIA LANGIT-BUMI
Hampir setahun lebih aku mengikuti pengajian tasawwuf Cak Kuswaidi Syafi’ie, meskipun tidak istiqamah. Pengajian itu kadang dimulai pukul 01.00 sampai subuh, kadang juga sore pukul 16.00 sampai maghrib. Tempatnya pun berpindah-pindah, kadang di warung kopi, caffe dan di Lapangan Karang Kota Gede. Cak Kus – begitu kami memanggilnya – adalah guruku spiritualitasku yang pertama. Beliau adalah guru keduaku di Jogja setelah almarhum K.H. Zainal Arifin Thoha (semoga Allah menempatkannya bersama para auliya’ dan para ‘abidin yang dicintainya).
Dulu, Cak Kus sangat keras dalam mendidikku. Kalau aku salah, beliau kerap memarahiku, sehingga hingga kini pun, di mana Cak Kus sudah semakin arif dan bijaksana, perasaan takutku kepada beliau belum pula pudar. Aku jujur, lebih besar rasa takutku dari pada tawaddu’ku kepada beliau. Jadi, rasa takut itulah yang membuatku selalu merasa salah tingkah di hadapan beliau. Tetapi demikianlah, beliau adalah guru spiritualku yang sangat luar biasa alim dan sangat aku kagumi.
Aku tidak bisa menguraikan satu-persatu apa saja yang beliau ajarkan kepadaku. Aku hanya menangkap – ingat, ini hanya tangkapanku belaka – bahwa aku diajarkan bagaimana menganggap selain Allah itu tidak penting. Kemuliaan manusia adalah apabila dia telah tenggelam ke dalam telaga Ilahi. Dunia adalah kenyataan yang fiktif, tidak ada, dan oleh karenanya sangat rendahlah ia. Aku dibimbing bagaimana senantiasa merasakan kehadiran Allah, bersama Allah, hidup di dalam cahaya cinta Allah.
Awal-awal aku dapat menerima akan hal itu. Aku menganggapnya adalah jalan hakikat yang mesti disadari olehku dan aku jalani sepenuh hati. Membenarkan syari’at dan “bercumbu-rayu” dengan hanya Allah adalah tujuan mulia hidupku di dunia – begitu menurutku dulu. Membuang cinta dunia merupakan satu hal yang pokok yang harus aku usahakan. Oleh karenanya, aku menjadi sangat menikmati kehidupan yang demikian. Aku sedikit demi sedikit dapat “mencicipi” air “telaga yang tak berpantai” itu. Aku sangat senang bershalawat sendiri, berdzikir di tengah malam sendiri, senang menghadiri majelis-majelis dhiba’ dan sebagainya yang berhubungan dengan Allah dan Nabi.
Tetapi entah kenapa aku menjadi seperti hidup di dalam bayang-bayang yang tak nyata. Dunia di mataku seperti onggokan sampah yang tak berguna. Aku menjadi sangat tidak tertarik kepada dunia, sehingga apa pun yang berhubungan dengan dunia aku mulai sedikit abai. Aku semakin menganggap minor dengan pandangan-pandanganku terhadap impian-impian duniaku. Aku menjadi sangat asing dengan cita-citaku dulu yang ingin menjadi seorang intelektual, fisikawan dan sastrawan. Aku menjadi ogah-ogahan belajar dan menulis.
Itu aku kira belumlah seberapa. Terhadap semua derajat-derajat keduniaan aku sudah mulai menertawakannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang hampa dan sama sekali tak berguna. Terhadap orang-orang yang menggumuli dunia aku kian menilainya secara minor. Aku menjadi tidak tertarik lagi berteman dengan orang-orang yang jauh dari Allah. Pokoknya aku merasa seperti orang asing terhadap dunia dan kehidupan di sekelilingku, bahkan mungkin terhadap diriku sendiri.
Lalu setelah lebaran kemarin (2011), aku jadi menggelisahkan anggapan dan jalanku ini. Aku menjadi bertanya-tanya, mengapa aku menganggap jalanku ini lebih suci ketimbang jalan yang ditempuh oleh teman-temanku atau orang-orang di sekelilingku yang tidak berbau akhirat? Mengapa aku sudah tidak produktif lagi menulis, sudah jarang lagi membaca, belajar dan menajamkan otakku? Mengapa aku harus menganggap dunia tidak penting, padahal aku ini hidup di dunia? Mengapa aku harus meninggalkan teman-temanku yang menurut pandanganku tidak dekat dengan Allah? Mengapa aku harus memaksakan diri untuk tidak hanya mendekat kepada Allah, tetapi juga “bercinta” dengan-Nya?
Ini hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak dalam kepalaku. Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada skeptisisme terhadap jalan dan pola pikirku yang demikian itu. Pertanyaan-pertanyaan ini kian membuatku yakin bahwa jalan dan pandanganku salah, sebab mengabaikan dunia dan menjauhi orang-orang yang menurutku jauh dari Allah bagiku adalah kedhaliman yang nyata. Aku ini ditugaskan oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi.
Lalu aku menarik kesimpulan dari sejumlah perenunganku bahwa tugas seorang khalifah menurutku ada tiga macam, yakni hamblum minallah, hablum minannass dan hablum minal’alm. Ketiga-tiganya harus seimbang dalam tiap-tiap diri manusia. Tidak boleh ada yang berat sebelah. Sebab makna dari ketiganya adalah satu, yakni ‘amrullah. Sementara itu, tujuan dari hidup manusia di dunia ini itu hanya satu, menjadi ‘abdun, yaitu “menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”. Kalau begitu, mengapa aku harus abai kepada manusia dan dunia, bukankah itu juga merupakan rahmat Allah yang diturunkan oleh-Nya kepadaku? Aku dituntut supaya menjadi rahmatan lil ‘alamin, tapi mengapa aku harus mengabaikan manusia dan dunia?
Menurutku apa yang dinamakan sebagai ma’rifat (mengenal) itu ada tiga macam, yakni ma’rifatullah, ma’rifatunnass dan ma’rifatul’alm. Jadi kenalilah ketiga-tiganya sekaligus, berjalanlah di jalan yang baik di dalam ketiga-tiganya. Kalau memang begitu, mengapa aku hanya menganggap penting ma’rifatullah di samping ma’rifatunnass dan ma’rifatul’am?
Menurut sepenangkapanku, Cak Kus lebih banyak mengajarkanku tentang bagaimana dan seperti apa itu ma’rifatullah. Sementara ma’rifatunnass dan ma’rifatul’alm mendapat porsi yang sedikit dari pengajian-pengajiannya. Aku sebagai orang awam jadi bingung sendiri. Jadinya aku seperti “manusia langit” yang terkadang kabur melihat dunia dan manusia. Padahal bagiku, aku ditugaskan tidak hanya menjadi “manusia langit”, tetapi juga menjadi “manusia bumi”. Jadi aku adalah “manusia langit” sekaligus “manusia bumi”. Oleh sebabnya, ketiga macam ma’rifat itu mesti aku jalankan secara bersandingan dan bersama-sama.***
(Jogja, 20 Oktober 2011)
Dulu, Cak Kus sangat keras dalam mendidikku. Kalau aku salah, beliau kerap memarahiku, sehingga hingga kini pun, di mana Cak Kus sudah semakin arif dan bijaksana, perasaan takutku kepada beliau belum pula pudar. Aku jujur, lebih besar rasa takutku dari pada tawaddu’ku kepada beliau. Jadi, rasa takut itulah yang membuatku selalu merasa salah tingkah di hadapan beliau. Tetapi demikianlah, beliau adalah guru spiritualku yang sangat luar biasa alim dan sangat aku kagumi.
Aku tidak bisa menguraikan satu-persatu apa saja yang beliau ajarkan kepadaku. Aku hanya menangkap – ingat, ini hanya tangkapanku belaka – bahwa aku diajarkan bagaimana menganggap selain Allah itu tidak penting. Kemuliaan manusia adalah apabila dia telah tenggelam ke dalam telaga Ilahi. Dunia adalah kenyataan yang fiktif, tidak ada, dan oleh karenanya sangat rendahlah ia. Aku dibimbing bagaimana senantiasa merasakan kehadiran Allah, bersama Allah, hidup di dalam cahaya cinta Allah.
Awal-awal aku dapat menerima akan hal itu. Aku menganggapnya adalah jalan hakikat yang mesti disadari olehku dan aku jalani sepenuh hati. Membenarkan syari’at dan “bercumbu-rayu” dengan hanya Allah adalah tujuan mulia hidupku di dunia – begitu menurutku dulu. Membuang cinta dunia merupakan satu hal yang pokok yang harus aku usahakan. Oleh karenanya, aku menjadi sangat menikmati kehidupan yang demikian. Aku sedikit demi sedikit dapat “mencicipi” air “telaga yang tak berpantai” itu. Aku sangat senang bershalawat sendiri, berdzikir di tengah malam sendiri, senang menghadiri majelis-majelis dhiba’ dan sebagainya yang berhubungan dengan Allah dan Nabi.
Tetapi entah kenapa aku menjadi seperti hidup di dalam bayang-bayang yang tak nyata. Dunia di mataku seperti onggokan sampah yang tak berguna. Aku menjadi sangat tidak tertarik kepada dunia, sehingga apa pun yang berhubungan dengan dunia aku mulai sedikit abai. Aku semakin menganggap minor dengan pandangan-pandanganku terhadap impian-impian duniaku. Aku menjadi sangat asing dengan cita-citaku dulu yang ingin menjadi seorang intelektual, fisikawan dan sastrawan. Aku menjadi ogah-ogahan belajar dan menulis.
Itu aku kira belumlah seberapa. Terhadap semua derajat-derajat keduniaan aku sudah mulai menertawakannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang hampa dan sama sekali tak berguna. Terhadap orang-orang yang menggumuli dunia aku kian menilainya secara minor. Aku menjadi tidak tertarik lagi berteman dengan orang-orang yang jauh dari Allah. Pokoknya aku merasa seperti orang asing terhadap dunia dan kehidupan di sekelilingku, bahkan mungkin terhadap diriku sendiri.
Lalu setelah lebaran kemarin (2011), aku jadi menggelisahkan anggapan dan jalanku ini. Aku menjadi bertanya-tanya, mengapa aku menganggap jalanku ini lebih suci ketimbang jalan yang ditempuh oleh teman-temanku atau orang-orang di sekelilingku yang tidak berbau akhirat? Mengapa aku sudah tidak produktif lagi menulis, sudah jarang lagi membaca, belajar dan menajamkan otakku? Mengapa aku harus menganggap dunia tidak penting, padahal aku ini hidup di dunia? Mengapa aku harus meninggalkan teman-temanku yang menurut pandanganku tidak dekat dengan Allah? Mengapa aku harus memaksakan diri untuk tidak hanya mendekat kepada Allah, tetapi juga “bercinta” dengan-Nya?
Ini hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak dalam kepalaku. Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada skeptisisme terhadap jalan dan pola pikirku yang demikian itu. Pertanyaan-pertanyaan ini kian membuatku yakin bahwa jalan dan pandanganku salah, sebab mengabaikan dunia dan menjauhi orang-orang yang menurutku jauh dari Allah bagiku adalah kedhaliman yang nyata. Aku ini ditugaskan oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi.
Lalu aku menarik kesimpulan dari sejumlah perenunganku bahwa tugas seorang khalifah menurutku ada tiga macam, yakni hamblum minallah, hablum minannass dan hablum minal’alm. Ketiga-tiganya harus seimbang dalam tiap-tiap diri manusia. Tidak boleh ada yang berat sebelah. Sebab makna dari ketiganya adalah satu, yakni ‘amrullah. Sementara itu, tujuan dari hidup manusia di dunia ini itu hanya satu, menjadi ‘abdun, yaitu “menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”. Kalau begitu, mengapa aku harus abai kepada manusia dan dunia, bukankah itu juga merupakan rahmat Allah yang diturunkan oleh-Nya kepadaku? Aku dituntut supaya menjadi rahmatan lil ‘alamin, tapi mengapa aku harus mengabaikan manusia dan dunia?
Menurutku apa yang dinamakan sebagai ma’rifat (mengenal) itu ada tiga macam, yakni ma’rifatullah, ma’rifatunnass dan ma’rifatul’alm. Jadi kenalilah ketiga-tiganya sekaligus, berjalanlah di jalan yang baik di dalam ketiga-tiganya. Kalau memang begitu, mengapa aku hanya menganggap penting ma’rifatullah di samping ma’rifatunnass dan ma’rifatul’am?
Menurut sepenangkapanku, Cak Kus lebih banyak mengajarkanku tentang bagaimana dan seperti apa itu ma’rifatullah. Sementara ma’rifatunnass dan ma’rifatul’alm mendapat porsi yang sedikit dari pengajian-pengajiannya. Aku sebagai orang awam jadi bingung sendiri. Jadinya aku seperti “manusia langit” yang terkadang kabur melihat dunia dan manusia. Padahal bagiku, aku ditugaskan tidak hanya menjadi “manusia langit”, tetapi juga menjadi “manusia bumi”. Jadi aku adalah “manusia langit” sekaligus “manusia bumi”. Oleh sebabnya, ketiga macam ma’rifat itu mesti aku jalankan secara bersandingan dan bersama-sama.***
(Jogja, 20 Oktober 2011)
Rabu, 12 Oktober 2011
BAYANGAN-BAYANGAN CALON ISTRI
Entahlah mengapa akhir-akhir ini pikiranku selalu dirasuki oleh hayalan-hayalan kosong tentang perempuan. Dalam benakku, aku selalu bertanya-tanya, benarkah perkataan temanku bahwa dibanding laki-laki yang sudah atau setidaknya pernah menjalin hubungan dengan perempuan, orang yang tidak pernah menjalin hubungan lebih kerap dihantui oleh bayangan atau hayalan tentang perempuan. Aku sudah berusaha meyakinkan diri untuk membuang jauh-jauh hayalan-hayalan itu, tetapi apatah daya, pikiran tidak selamanya bisa diatur oleh pemiliknya. Kalau boleh jujur, aku ini sudah ingin sekali memiliki pendamping, baik itu pacar atau setidaknya tunangan.
Pola pikirku, menurutku, barangkali sudah mencapai taraf dewasa. Seandainya aku dianugerahi kekasih oleh Allah, aku ingin membina hubungan itu dengan baik hingga kelak sampai di pelaminan. Aku pikir, main-main sudah bukan lagi waktunya untukku. Aku ingin menjadikannya kekasih dan pendamping hidupku yang abadi hingga di akhirat nanti. Aku selalu menunggunya setiap waktu. Tetapi entahlah hingga kini belum juga datang perempuan yang aku idamkan itu. Mungkin belum waktunya dia datang kepadaku. Aku yakin, Allah lebih tahu tentang itu.
Kalau ditanya soal perempuan yang bagaimanakah yang aku harapkan kelak jadi pendamping hidupku, aku akan menjawabnya sesuai dengan kriteria-kriteria yang diimpikan oleh ibuku. Suatu hari ibuku pernah bilang kepadaku, “Nak, kalau kamu mencari calon istri, carilah perempuan yang benar agamanya, bagus akhlakul karimahnya, dan bisa membawamu serta anak-anakmu kelak ke dalam kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Carilah perempuan yang dapat mencintaimu, menyayangimu dan mendukungmu sepenuh hati. Carilah perempuan yang cantik, cerdas dan dapat membahagiakan keluarga. Ibu akan sangat bahagia jika kelak istrimu adalah perempuan semacam itu.”
Kriteria-kriteria yang diberikan oleh ibuku itu tentu cukup sempurna, sehingga karenanya kadang kala membuatku lebih teliti melihat perempuan yang sedang aku senangi. Kalau dia tidak sesuai dengan kriteria di atas, aku tidak akan segan-segan untuk memalingkan muka darinya. Kerap kali aku jatuh cinta pada sesosok perempuan, akan tetapi karena dia tidak sesuai dengan kriteria-kriteria tersebut, aku berusaha sekuat mungkin untuk membuang rasa cinta yang sedang menyeruak di dadaku itu. Aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar. Aku tidak ingin beristrikan perempuan yang hanya bisa membuatku menderita dan tersiksa. Aku tidak ingin punya istri yang hanya membuatku kelak diceburkan ke dalam ganasnya api neraka. (Jogja, 12 Oktober 2011).
Pola pikirku, menurutku, barangkali sudah mencapai taraf dewasa. Seandainya aku dianugerahi kekasih oleh Allah, aku ingin membina hubungan itu dengan baik hingga kelak sampai di pelaminan. Aku pikir, main-main sudah bukan lagi waktunya untukku. Aku ingin menjadikannya kekasih dan pendamping hidupku yang abadi hingga di akhirat nanti. Aku selalu menunggunya setiap waktu. Tetapi entahlah hingga kini belum juga datang perempuan yang aku idamkan itu. Mungkin belum waktunya dia datang kepadaku. Aku yakin, Allah lebih tahu tentang itu.
Kalau ditanya soal perempuan yang bagaimanakah yang aku harapkan kelak jadi pendamping hidupku, aku akan menjawabnya sesuai dengan kriteria-kriteria yang diimpikan oleh ibuku. Suatu hari ibuku pernah bilang kepadaku, “Nak, kalau kamu mencari calon istri, carilah perempuan yang benar agamanya, bagus akhlakul karimahnya, dan bisa membawamu serta anak-anakmu kelak ke dalam kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Carilah perempuan yang dapat mencintaimu, menyayangimu dan mendukungmu sepenuh hati. Carilah perempuan yang cantik, cerdas dan dapat membahagiakan keluarga. Ibu akan sangat bahagia jika kelak istrimu adalah perempuan semacam itu.”
Kriteria-kriteria yang diberikan oleh ibuku itu tentu cukup sempurna, sehingga karenanya kadang kala membuatku lebih teliti melihat perempuan yang sedang aku senangi. Kalau dia tidak sesuai dengan kriteria di atas, aku tidak akan segan-segan untuk memalingkan muka darinya. Kerap kali aku jatuh cinta pada sesosok perempuan, akan tetapi karena dia tidak sesuai dengan kriteria-kriteria tersebut, aku berusaha sekuat mungkin untuk membuang rasa cinta yang sedang menyeruak di dadaku itu. Aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar. Aku tidak ingin beristrikan perempuan yang hanya bisa membuatku menderita dan tersiksa. Aku tidak ingin punya istri yang hanya membuatku kelak diceburkan ke dalam ganasnya api neraka. (Jogja, 12 Oktober 2011).
Minggu, 24 Juli 2011
Surau Ngaji Pertama Dan Mereka Semua
terima kasih yon, edi, deni, yoyok, joko, lisa
terima kasih atas kebersamaannya
terima kasih pak matripin, terima kasih mak erra
terima kasih atas kasih-sayangnya
tanpa kalian, aku tak akan pernah bisa mengaji alif-baa-taa
aku masih ingat kenangan kita itu
saat magrib tiba, kita datang ke langgar bersama-sama
berjemaah bersama-sama, mengaji bersama-sama
dan bermain-bermain riang sebelum pulang ngaji bersama-sama
saat diantara kita ada yang khatam iqra’ atau al-qur’an
kita merasa begitu senang
karena kita bisa makan bersama nasi rebbha syukuran
dan saling mengayuh masa-masa keriangan
aku tak pernah menyesal dan marah padamu, edi, deni
atas kenakalan kalian yang menyebabkan lengan kiriku patah
karena kenakalan kalian ini
kini menyadarkanku akan makna kata waspada
aku masih ingat kenangan itu, pak, mak
saat kalian mengajari kami bagaimana cara mengaji yang baik
bagaimana cara berwudhu dan bershalat yang baik
bagaimana cara menghormati guru dan orang tua yang baik
sungguh kalian begitu sabar membimbing kami yang nakal ini
mengajari bagaimana berbuat baik pada orang lain dan diri
menapih sesal tentang betapa jahatnya kebodohan
belajar bagaimana selalu ingat pada tuhan
oh, betapa kenangan itu tak pernah aku melupakannya
selamanya, bahkan barangkali sampai aku ini tiada
betapa sangat berharganya kebersamaan kita
betapa bahwa segalanya menjadi begitu bermakna
suru tua itu, bolehlah kini sepi atau bukan lagi tempat untuk ngaji
bagiku, ia tetaplah tempat yang bergelimang cahaya di hati
sudah terlalu lama aku tak menjenguknya
rindu ini telah berkarat sekian lama
ingin aku memampirinya lagi
sekedar bersih-bersih
dan mengingat kembali
bagaimana ia begitu berharga bagi kami
Yogyakarta, 13 Juni 2009
terima kasih atas kebersamaannya
terima kasih pak matripin, terima kasih mak erra
terima kasih atas kasih-sayangnya
tanpa kalian, aku tak akan pernah bisa mengaji alif-baa-taa
aku masih ingat kenangan kita itu
saat magrib tiba, kita datang ke langgar bersama-sama
berjemaah bersama-sama, mengaji bersama-sama
dan bermain-bermain riang sebelum pulang ngaji bersama-sama
saat diantara kita ada yang khatam iqra’ atau al-qur’an
kita merasa begitu senang
karena kita bisa makan bersama nasi rebbha syukuran
dan saling mengayuh masa-masa keriangan
aku tak pernah menyesal dan marah padamu, edi, deni
atas kenakalan kalian yang menyebabkan lengan kiriku patah
karena kenakalan kalian ini
kini menyadarkanku akan makna kata waspada
aku masih ingat kenangan itu, pak, mak
saat kalian mengajari kami bagaimana cara mengaji yang baik
bagaimana cara berwudhu dan bershalat yang baik
bagaimana cara menghormati guru dan orang tua yang baik
sungguh kalian begitu sabar membimbing kami yang nakal ini
mengajari bagaimana berbuat baik pada orang lain dan diri
menapih sesal tentang betapa jahatnya kebodohan
belajar bagaimana selalu ingat pada tuhan
oh, betapa kenangan itu tak pernah aku melupakannya
selamanya, bahkan barangkali sampai aku ini tiada
betapa sangat berharganya kebersamaan kita
betapa bahwa segalanya menjadi begitu bermakna
suru tua itu, bolehlah kini sepi atau bukan lagi tempat untuk ngaji
bagiku, ia tetaplah tempat yang bergelimang cahaya di hati
sudah terlalu lama aku tak menjenguknya
rindu ini telah berkarat sekian lama
ingin aku memampirinya lagi
sekedar bersih-bersih
dan mengingat kembali
bagaimana ia begitu berharga bagi kami
Yogyakarta, 13 Juni 2009
Sya’banan di ndalem Habib ‘Abdillah al-Malik al-Habsyi
Beliau biasa dipanggil Habib Dillah. Rumahnya di daerah Kalasan Yogyakarta. Tetapi beliau bukan orang asli Yogyakarta. Beliau adalah orang desa Baraji Gapura Sumenep Madura. Hanya saja barangkali beliau sudah lama tinggal di Jogja sehingga bahasa Jawa beliau cukup fasih dan lancar.
Sebelumnya, aku tahu beliau hanya dari cerita beberapa teman yang kebetulan sering sowan ke ndalemnya. Konon, beliau beristrikan orang Jember. Informasi terakhir yang aku dengar bahwa istrinya itu sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Mungkin, keluarga beliau satu-satunya di Jogja adalah anaknya yang masih seumur anak SD itu.
Di ndalemnya, beliau mengasuh beberapa santri. Pondoknya sangat kecil dan sederhana. Ndalemnya pun, menurut khabar yang berkembang, sangat kecil dan hanya bisa ditempati oleh 2 orang saja. Di samping pondok itu, terdapat mushalla yang sangat sederhana, semacam joglo, yang tiap harinya tidak pernah sepi dari para pengunjung.
Menurut teman yang menuturkan tentang beliau kepadaku, beliau adalah seorang waliullah yang jadhab. Beliau adalah peminum yang tidak pernah mabuk, sebab pada suatu ketika beliau ditanya tentang hal itu, beliau membuka mulutnya dan orang yang bertanyaitu tidak melihat apa-apa kecuali hamparan laut yang luas. Beliau kalau bicara nyerocos saja, seakan-akan tidak tahu tata krama. Tetapi entahlah, kenapa kata-kata beliau selalu benar, selalu yang dibicarakannya adalah hakikat hidup yang paling hakiki, sehingga tidak ada alasan bagi orang yang mendengarkannya menolak pernyataan-pernyataannya yang kerap kali aneh itu?
Terlalu banyak barangkali, bagiku, untuk mengutarakan banyak hal tentang beliau sebagaimana khabar yang kudengar dari sejumlah sumber. Yang terpenting bahwa aku pertama kali diceritakan oleh temanku tentang kehidupan, sifat, sikap dan derajat kewalian beliau, aku jadi penasaran ingin berjumpa beliau. Aku begitu terpukau dengan tuturan-tuturan teman-temanku tentang beliau. Aku lalu berjanji kepada diriku sendiri bahwa nanti bila waktunya tiba, aku akan sowan ke ndalem beliau.
Konon, beliau sangat sukar ditemui. Hanya orang-orang yang beruntung saja yang akan ditemuinya. Tidak sedikit dari orang dan bahkan teman-temanku sendiri yang harus gigit jari sebab beliau tidak berkenan menemuinya. Ini, menurut temanku, dikarenakan niat yang salah ketika hendak berangkat ke ndalemnya itu. Jadi beliau ini mukasyafah, tahu apa yang menjadi grundelan dan pikiran seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya. Sebagian temanku yang termasuk beruntung itu, katanya, ketika hendak berangkat sampai tiba di ndalem beliau, ia tawassulan tak henti-hentinya kepada beliau, sehingga seakan-akan beliau merasa bahwa niat temanku itu benar-benar murni untuk belajar mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Alhamdulillah, dan ini merupakan rezeki yang tiada taranya, secara kebetulan aku dipertemukan kepada beliau oleh ajakan Sya’banan teman-temanku. Mereka tidak mengatakannya terlebih dahulu bahwa mereka akan Sya’banan di ndalem beliau. Aku tahu informasinya malah ketika sudah di tempatnya Cak Kuswaidi Syafi’ie, guru spiritualku. Jadi, kata temanku, kita akan Sya’banan di calon pondok yang hendak didirikan oleh ak Kuswaidi. Tetapi entah karena apa, Cak Kuswaidi secara tiba-tiba mengurungkan niat awal itu dan mengajak teman-teman bersya’banan di ndalemnya Habib Dillah. Alhamdulillah, niat dan keinginanku bejumpa beliau terbayar oleh kondisi yang barangkali bukan merupakan suatu kebetulan, tetapi aku yakin adalah takdir dari Allah SWT.
Ketika sampai di mushalla beliau, kami langsung disuruh menyantap makanan yang sudah tersedia di teras depan. Kami pun makan bersama-sama. Setelah makan, kami whudlu’ dan ikut bergabung dengan orang-orang yang bersholawat di dalam mushalla. Shalawat itu semacam praacara menyambut para jemaah. Orang-orang berdatangan dari sana-sini, dari anak-anak muda sampai kakek-kakek. Mereka berjumlah kurang-lebih 200-an orang. Ketika acara resmi hendak dimulai, aku memang sengaja duduk di deretan paling depan, di dekat kelompok hadrah.
Di depan, Cak Kuswaidi, Habib Utsman, penata acara dan orang-orang tua yang tidak aku mengenalnya. Aku tanya ke orang-orang yang duduk di kanan-kiriku, yang manakah Habib Dilla itu. Tetapi jawabannya nihil, Habib Dillah tidak turut berkumpul di depan. Aku sudah hampir kecewa, sebab beliau tidak hadir. Tetapi aku berusaha menentang rasa kecewa itu dengan meluruskan niat kembali. Acara pertama bershalawat dengan kitab Maulid ad-Diba’i yang dipimpin oleh orang yang tidak kukenal. Setelah itu, Habib Utsman didaulat memimpin pembacaan Manakib Syekh Abdul Qodir Jailani. Setelah itu ceramah keagamaan yang diutarakan oleh seorang ustadz yang tidak begitu menggembirakanku, karena terlalu kakunya ia dalam berceramah.
Setelah ceramah, beberapa menit kemudian, datanglah sesosok laki-laki muda. Dia pakai kaos putih, celana yang sudah lusuh, songkok haji warna-warni dan berkalungkan sarung. Dilihat dari pakaian yang dia pakai, aku berpikir dia orang tidak genah, sebab di forum resmi seperti ini ia berpakaian demikian, seperti tidak tahu sopan-santun saja. Tetapi aku kaget bukan main ketika melihat orang-orang mengerubunginya untuk bersalaman kepadanya. Aku pun, dengan tanpa adanya dorongan pribadi, ikut bersalaman dengannya dan mencium tangannya. Dia lalu duduk di mimbar bangku. Teman di sebelahku berkata, “Itu dia Habib Dillah!” Ya Allah, Astaghfirllah, aku benar-benar tidak menyangka. Untung aku tadi ikut bersalaman dan mencium tangannya. “Alhamdulillah, Alhamdulillah!,” batinku.
Dengan gelagat yang lepas dan suara yang keras, beliau menyuruh jemaah hadrah untuk main lagi. Aku langsung meluruskan niat, berusaha khusyu’, menggugah kesungguhan dan ketulusan hati. Aku ingin merasakan kebahagiaan bershalawat bersama beliau. Setelah hadrah, tanpa aba-aba, beliau kemudian bertawassul dan membuka kitab Simtud ad-Dhurar. Kami bershalawat lagi. Kondisi diri yang sangat berbeda hadir tiba-tiba. Aku begitu menjadi sangat khusyu’, sangat menikmati untaian-untaian bacaan beliau dan sangat tercekap dalam rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Aku yakin ini adalah karena aura Habib Dillah yang sangat luar biasa.
Beliau sungguh sangat tajam dan sensitif perasaannya. Baru membuka bacaan Simtud ad-Dhurar, air mata beliau sudah berlinang memahat pipi beliau yang bersinar. Lantunan demi lantunan shalawat beliau baca dengan suara yang rendah, lagu yang mendayu-dayu dan penghayatan sepenuh jiwa. Di tengah-tengah bacaan, sambil memejamkan mata, baliau berkata, “Ya Nabi, sesungguhnya kami ingin sekali terus-menerus bershalawat. Tetapi wahai Nabi, akhlak kami ini lho, akhlak kami ini lho.” Setelah itu, dengan nada tangis yang menjerit dan seakan-akan memeluk-meluk sesuatu. Aku yakin, Nabi hadir ke hadapan beliau secara nyata, mencium bibirnya yang kuyup bergetar, mengecup keningnya yang bercahaya dan mendekap hatinya yang lapang.
Seketika itu pula air mataku tak dapat aku tahan. Air mataku terus menyumbul dari pelupuk-pelupuk mataku yang sayu. Bukan karena aku merasakan kehadiran Nabi, tetapi terharu kepada cinta Habib Dillah yang tulus dan dalam kepada junjungan agung itu. Di dalam hati, aku berdoa kepada Allah, jadikanlah aku sebagai bagian dari hamba yang dicintai-Nya. Di dalam hati, aku menghiba-hiba kepada Nabi agar turut hadir ke hadapanku. Aku terus menangis, meskipun aku berusaha menahannya, serasa aku tak mampu. Aku tak berdaya di hadapan keagungan Nabi Muhammad SAW; aku tak berdaya di hadapan kekuatan Allah SWT yang nampak begitu nyata; aku tak berdaya menganggap diri ini bukan sebagai sampah belaka. Demikianlah hingga shalawat selesai dibaca.
Setelah itu, Habib Dillah berceramah dengan mengaji syi’ir-syi’ir dari seorang waliullah Timur Tengah yang sudah kulupa namanya. Syi’ir-syi’ir itu memuat banyak hal, terutama tentang tawakkal dan taqwa. Dari hasil perenungannya yang dalam terhadap syi’ir-syi’ir itu, Habib Dillah berpesan kepada kami agar kami berkhusnuddhan dan ikhlas kepada segala yang dihadirkan Allah kepada hidup kami. Beliau juga berpesan agar meminta kepada Allah kesenangan dan ketentraman hidup, juga derajat yang tinggi di hadapan-Nya. Seketika aku ingat pesan Ibunda Maya Veri Oktavia, istri guruku tercinta alm. Zainal Arifin Thoha, bahwa kesufian itu memiliki dua sayap: khusnuddhan di sayap kanan dan ikhlas di sayap kiri.
Cara Habib Dillah berceramah sungguh unik dan belum aku jumpai pada da’i-da’i yang lain. Beliau terkesan ceplas-ceplos, terang-terangan bilang “asu”, memukul-mukul mimbar dan tertawa terbahak-bahak. Tetapi sama sekali “kesembronoan” beliau itu memunculkan perasaan tidak suka atau benci di dalam hatiku. Meskipun beliau terkesan sembarangan, kata-kata beliau bersinar bagai permata, sebab yang dibicarakannya memang adalah hakikat hidup yang azali. Malah kata-kata beliau lebih masuk ke dalam hatiku ketimbang kata-kata para da’i yang sok bijaksana. Kedalaman kata-katanya itu tidak lain karena beliau telah mengalaminya. Beliau seolah-olah tidak ngomong tentang sesuatu yang beliau sendiri tidak melakukannya. Demikianlah, kata-kata menjadi hidup dan bermekaran di dada kami.
Setelah berceramah, beliau membaca shalawat lagi, menangis lagi. Kali ini beliau lebih banyak meminta maaf kepada kami, dengan nada yang tulus dan menghiba-hiba, agar kami berkenan memaafkan dosa-dosa beliau kepada kami. Padahal, alih-alih dosa, beliau telah memberikan beribu-ribu hikmah kepada kami. Begitulah memang, seorang waliullah selalu takut akan murka Allah, seorang waliullah selalu berpegang teguh pada firmah Allah yang menyatakan bahwa Allah tidak akan memaafkan dosa seseorang kepada orang lain sebelum orang itu meminta maaf dan maafnya itu diterima. Acara rampung kira-kira pukul satu dinihari. Kami dipersilahkan makan lagi oleh beliau. Setelah itu, kami berpamitan kepada beliau.
Selepas itu, dalam menjalani hari-hari yang kadang banyak menipu, setiap kali aku lupa akan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, selalu wajah Habib Dillah mengumbar di mataku. Dan seketika itu pula, aku menjadi sadar dan menangis sendiri. Aku menjadi semakin yakin bahwa yang paling berharga dari seorang wali bukan hanya kata-kata bijaknya, tetapi juga raut mukanya. Aura muka seorang wali senantiasa membawa kita bersimpuh di hadirat Allah SWT dan menghunjamkan linggis cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Wallahu’alam bi as-shawab. (20 Juli 2011)***
Sebelumnya, aku tahu beliau hanya dari cerita beberapa teman yang kebetulan sering sowan ke ndalemnya. Konon, beliau beristrikan orang Jember. Informasi terakhir yang aku dengar bahwa istrinya itu sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Mungkin, keluarga beliau satu-satunya di Jogja adalah anaknya yang masih seumur anak SD itu.
Di ndalemnya, beliau mengasuh beberapa santri. Pondoknya sangat kecil dan sederhana. Ndalemnya pun, menurut khabar yang berkembang, sangat kecil dan hanya bisa ditempati oleh 2 orang saja. Di samping pondok itu, terdapat mushalla yang sangat sederhana, semacam joglo, yang tiap harinya tidak pernah sepi dari para pengunjung.
Menurut teman yang menuturkan tentang beliau kepadaku, beliau adalah seorang waliullah yang jadhab. Beliau adalah peminum yang tidak pernah mabuk, sebab pada suatu ketika beliau ditanya tentang hal itu, beliau membuka mulutnya dan orang yang bertanyaitu tidak melihat apa-apa kecuali hamparan laut yang luas. Beliau kalau bicara nyerocos saja, seakan-akan tidak tahu tata krama. Tetapi entahlah, kenapa kata-kata beliau selalu benar, selalu yang dibicarakannya adalah hakikat hidup yang paling hakiki, sehingga tidak ada alasan bagi orang yang mendengarkannya menolak pernyataan-pernyataannya yang kerap kali aneh itu?
Terlalu banyak barangkali, bagiku, untuk mengutarakan banyak hal tentang beliau sebagaimana khabar yang kudengar dari sejumlah sumber. Yang terpenting bahwa aku pertama kali diceritakan oleh temanku tentang kehidupan, sifat, sikap dan derajat kewalian beliau, aku jadi penasaran ingin berjumpa beliau. Aku begitu terpukau dengan tuturan-tuturan teman-temanku tentang beliau. Aku lalu berjanji kepada diriku sendiri bahwa nanti bila waktunya tiba, aku akan sowan ke ndalem beliau.
Konon, beliau sangat sukar ditemui. Hanya orang-orang yang beruntung saja yang akan ditemuinya. Tidak sedikit dari orang dan bahkan teman-temanku sendiri yang harus gigit jari sebab beliau tidak berkenan menemuinya. Ini, menurut temanku, dikarenakan niat yang salah ketika hendak berangkat ke ndalemnya itu. Jadi beliau ini mukasyafah, tahu apa yang menjadi grundelan dan pikiran seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya. Sebagian temanku yang termasuk beruntung itu, katanya, ketika hendak berangkat sampai tiba di ndalem beliau, ia tawassulan tak henti-hentinya kepada beliau, sehingga seakan-akan beliau merasa bahwa niat temanku itu benar-benar murni untuk belajar mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Alhamdulillah, dan ini merupakan rezeki yang tiada taranya, secara kebetulan aku dipertemukan kepada beliau oleh ajakan Sya’banan teman-temanku. Mereka tidak mengatakannya terlebih dahulu bahwa mereka akan Sya’banan di ndalem beliau. Aku tahu informasinya malah ketika sudah di tempatnya Cak Kuswaidi Syafi’ie, guru spiritualku. Jadi, kata temanku, kita akan Sya’banan di calon pondok yang hendak didirikan oleh ak Kuswaidi. Tetapi entah karena apa, Cak Kuswaidi secara tiba-tiba mengurungkan niat awal itu dan mengajak teman-teman bersya’banan di ndalemnya Habib Dillah. Alhamdulillah, niat dan keinginanku bejumpa beliau terbayar oleh kondisi yang barangkali bukan merupakan suatu kebetulan, tetapi aku yakin adalah takdir dari Allah SWT.
Ketika sampai di mushalla beliau, kami langsung disuruh menyantap makanan yang sudah tersedia di teras depan. Kami pun makan bersama-sama. Setelah makan, kami whudlu’ dan ikut bergabung dengan orang-orang yang bersholawat di dalam mushalla. Shalawat itu semacam praacara menyambut para jemaah. Orang-orang berdatangan dari sana-sini, dari anak-anak muda sampai kakek-kakek. Mereka berjumlah kurang-lebih 200-an orang. Ketika acara resmi hendak dimulai, aku memang sengaja duduk di deretan paling depan, di dekat kelompok hadrah.
Di depan, Cak Kuswaidi, Habib Utsman, penata acara dan orang-orang tua yang tidak aku mengenalnya. Aku tanya ke orang-orang yang duduk di kanan-kiriku, yang manakah Habib Dilla itu. Tetapi jawabannya nihil, Habib Dillah tidak turut berkumpul di depan. Aku sudah hampir kecewa, sebab beliau tidak hadir. Tetapi aku berusaha menentang rasa kecewa itu dengan meluruskan niat kembali. Acara pertama bershalawat dengan kitab Maulid ad-Diba’i yang dipimpin oleh orang yang tidak kukenal. Setelah itu, Habib Utsman didaulat memimpin pembacaan Manakib Syekh Abdul Qodir Jailani. Setelah itu ceramah keagamaan yang diutarakan oleh seorang ustadz yang tidak begitu menggembirakanku, karena terlalu kakunya ia dalam berceramah.
Setelah ceramah, beberapa menit kemudian, datanglah sesosok laki-laki muda. Dia pakai kaos putih, celana yang sudah lusuh, songkok haji warna-warni dan berkalungkan sarung. Dilihat dari pakaian yang dia pakai, aku berpikir dia orang tidak genah, sebab di forum resmi seperti ini ia berpakaian demikian, seperti tidak tahu sopan-santun saja. Tetapi aku kaget bukan main ketika melihat orang-orang mengerubunginya untuk bersalaman kepadanya. Aku pun, dengan tanpa adanya dorongan pribadi, ikut bersalaman dengannya dan mencium tangannya. Dia lalu duduk di mimbar bangku. Teman di sebelahku berkata, “Itu dia Habib Dillah!” Ya Allah, Astaghfirllah, aku benar-benar tidak menyangka. Untung aku tadi ikut bersalaman dan mencium tangannya. “Alhamdulillah, Alhamdulillah!,” batinku.
Dengan gelagat yang lepas dan suara yang keras, beliau menyuruh jemaah hadrah untuk main lagi. Aku langsung meluruskan niat, berusaha khusyu’, menggugah kesungguhan dan ketulusan hati. Aku ingin merasakan kebahagiaan bershalawat bersama beliau. Setelah hadrah, tanpa aba-aba, beliau kemudian bertawassul dan membuka kitab Simtud ad-Dhurar. Kami bershalawat lagi. Kondisi diri yang sangat berbeda hadir tiba-tiba. Aku begitu menjadi sangat khusyu’, sangat menikmati untaian-untaian bacaan beliau dan sangat tercekap dalam rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Aku yakin ini adalah karena aura Habib Dillah yang sangat luar biasa.
Beliau sungguh sangat tajam dan sensitif perasaannya. Baru membuka bacaan Simtud ad-Dhurar, air mata beliau sudah berlinang memahat pipi beliau yang bersinar. Lantunan demi lantunan shalawat beliau baca dengan suara yang rendah, lagu yang mendayu-dayu dan penghayatan sepenuh jiwa. Di tengah-tengah bacaan, sambil memejamkan mata, baliau berkata, “Ya Nabi, sesungguhnya kami ingin sekali terus-menerus bershalawat. Tetapi wahai Nabi, akhlak kami ini lho, akhlak kami ini lho.” Setelah itu, dengan nada tangis yang menjerit dan seakan-akan memeluk-meluk sesuatu. Aku yakin, Nabi hadir ke hadapan beliau secara nyata, mencium bibirnya yang kuyup bergetar, mengecup keningnya yang bercahaya dan mendekap hatinya yang lapang.
Seketika itu pula air mataku tak dapat aku tahan. Air mataku terus menyumbul dari pelupuk-pelupuk mataku yang sayu. Bukan karena aku merasakan kehadiran Nabi, tetapi terharu kepada cinta Habib Dillah yang tulus dan dalam kepada junjungan agung itu. Di dalam hati, aku berdoa kepada Allah, jadikanlah aku sebagai bagian dari hamba yang dicintai-Nya. Di dalam hati, aku menghiba-hiba kepada Nabi agar turut hadir ke hadapanku. Aku terus menangis, meskipun aku berusaha menahannya, serasa aku tak mampu. Aku tak berdaya di hadapan keagungan Nabi Muhammad SAW; aku tak berdaya di hadapan kekuatan Allah SWT yang nampak begitu nyata; aku tak berdaya menganggap diri ini bukan sebagai sampah belaka. Demikianlah hingga shalawat selesai dibaca.
Setelah itu, Habib Dillah berceramah dengan mengaji syi’ir-syi’ir dari seorang waliullah Timur Tengah yang sudah kulupa namanya. Syi’ir-syi’ir itu memuat banyak hal, terutama tentang tawakkal dan taqwa. Dari hasil perenungannya yang dalam terhadap syi’ir-syi’ir itu, Habib Dillah berpesan kepada kami agar kami berkhusnuddhan dan ikhlas kepada segala yang dihadirkan Allah kepada hidup kami. Beliau juga berpesan agar meminta kepada Allah kesenangan dan ketentraman hidup, juga derajat yang tinggi di hadapan-Nya. Seketika aku ingat pesan Ibunda Maya Veri Oktavia, istri guruku tercinta alm. Zainal Arifin Thoha, bahwa kesufian itu memiliki dua sayap: khusnuddhan di sayap kanan dan ikhlas di sayap kiri.
Cara Habib Dillah berceramah sungguh unik dan belum aku jumpai pada da’i-da’i yang lain. Beliau terkesan ceplas-ceplos, terang-terangan bilang “asu”, memukul-mukul mimbar dan tertawa terbahak-bahak. Tetapi sama sekali “kesembronoan” beliau itu memunculkan perasaan tidak suka atau benci di dalam hatiku. Meskipun beliau terkesan sembarangan, kata-kata beliau bersinar bagai permata, sebab yang dibicarakannya memang adalah hakikat hidup yang azali. Malah kata-kata beliau lebih masuk ke dalam hatiku ketimbang kata-kata para da’i yang sok bijaksana. Kedalaman kata-katanya itu tidak lain karena beliau telah mengalaminya. Beliau seolah-olah tidak ngomong tentang sesuatu yang beliau sendiri tidak melakukannya. Demikianlah, kata-kata menjadi hidup dan bermekaran di dada kami.
Setelah berceramah, beliau membaca shalawat lagi, menangis lagi. Kali ini beliau lebih banyak meminta maaf kepada kami, dengan nada yang tulus dan menghiba-hiba, agar kami berkenan memaafkan dosa-dosa beliau kepada kami. Padahal, alih-alih dosa, beliau telah memberikan beribu-ribu hikmah kepada kami. Begitulah memang, seorang waliullah selalu takut akan murka Allah, seorang waliullah selalu berpegang teguh pada firmah Allah yang menyatakan bahwa Allah tidak akan memaafkan dosa seseorang kepada orang lain sebelum orang itu meminta maaf dan maafnya itu diterima. Acara rampung kira-kira pukul satu dinihari. Kami dipersilahkan makan lagi oleh beliau. Setelah itu, kami berpamitan kepada beliau.
Selepas itu, dalam menjalani hari-hari yang kadang banyak menipu, setiap kali aku lupa akan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, selalu wajah Habib Dillah mengumbar di mataku. Dan seketika itu pula, aku menjadi sadar dan menangis sendiri. Aku menjadi semakin yakin bahwa yang paling berharga dari seorang wali bukan hanya kata-kata bijaknya, tetapi juga raut mukanya. Aura muka seorang wali senantiasa membawa kita bersimpuh di hadirat Allah SWT dan menghunjamkan linggis cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Wallahu’alam bi as-shawab. (20 Juli 2011)***
Selasa, 28 Juni 2011
AKU, NOM HOSIN DAN MERPATI
Nom Hosin adalah pamanku dari jalur emak. Dia anak kakek Sumokat (saudara nenekku). Jadi dia adalah keponakan nenekku atau sepupu emakku. Dia lahir tahun 1975. Pada masa-masa remajanya, dia suka bergabung dengan para Blater (baca: sebutan untuk jagoan Madura). Tetapi dia tetaplah remaja seperti remaja desa kebanyakan. Dia juga suka permainan anak remaja, misalnya, aduan merpati. Ketika aku masih kecil (sekitar kelas 3-6 SD) aku sering diajaknya melatih dan ikut perlombaan aduan merpati. Dia yang ngebher, aku yang ngocol.
Kenangan-kenangan itu begitu indahnya. Kenangan-kenangan itu hadir kembali setelah aku menemukan lagu Satu Senyum Saja karya group band Tatoo, sebuah lagu lawas yang dulu sangat populer dinyanyikan anak-anak, termasuk juga Nom Hosin dan aku. Biasanya, selagi aku dan Nom Hosin berangkat ke tempat latihan adu merpati dengan menggunakan motor bebeknya yang menyedihkan itu, di tengah jalan kami nyanyi lagu itu bareng-bareng. Meskipun dia pamanku, dia sangat memahamiku. Gelagatnya seperti berharap aku tidak usah sungkan bergaul dengannya.
Dia memanggilku kacong, sebuah sebutan Madura oleh paman kepada keponakannya. Aku ingat betul, ketika itu sekitar tahun 1997, aku dengannya ikut lomba adu merpati yang akhirnya burung merpati Nom Hosin dapat juara 2 se-Kecamatan Dasuk. Aku ikut senang. Aku pun dikasihnya uang jajan sekitar 10 ribu. Biasanya, setiap aku ikut dia, aku diberi uang hanya seribu atau lima ratus rupiah saja.
Setiap sore, sehabis pulang dari Madrasah Diniyah, Nom Hosin – yang dulu rumahnya berdempetan dengan rumahku – mengajakku melatih burung merpatinya. Kalau tidak ke lapangan sepak bola belakang sekolahku, kami pergi ke Gelkandheng, sebuah hamparan sawah yang luas dan panjang. Kami pulang hampir selalu saat magrib tiba. Tidak jarang aku dimarahi sama ayahku karenanya, Nom Hosin dimarahi pula oleh ayahnya. Tetapi ketika malam-malam sehabis Ngaji ke Langgar aku ketemu sama Nom Hosin, kami ketawa-ketawa. Kami kerap kali menertawakan kemarahan orang tua kami. Begitulah, darah nakal Nom Hosin mungkin saja sedikit banyak mengalir ke dalam darahku. (28 Juni 2011).
Kenangan-kenangan itu begitu indahnya. Kenangan-kenangan itu hadir kembali setelah aku menemukan lagu Satu Senyum Saja karya group band Tatoo, sebuah lagu lawas yang dulu sangat populer dinyanyikan anak-anak, termasuk juga Nom Hosin dan aku. Biasanya, selagi aku dan Nom Hosin berangkat ke tempat latihan adu merpati dengan menggunakan motor bebeknya yang menyedihkan itu, di tengah jalan kami nyanyi lagu itu bareng-bareng. Meskipun dia pamanku, dia sangat memahamiku. Gelagatnya seperti berharap aku tidak usah sungkan bergaul dengannya.
Dia memanggilku kacong, sebuah sebutan Madura oleh paman kepada keponakannya. Aku ingat betul, ketika itu sekitar tahun 1997, aku dengannya ikut lomba adu merpati yang akhirnya burung merpati Nom Hosin dapat juara 2 se-Kecamatan Dasuk. Aku ikut senang. Aku pun dikasihnya uang jajan sekitar 10 ribu. Biasanya, setiap aku ikut dia, aku diberi uang hanya seribu atau lima ratus rupiah saja.
Setiap sore, sehabis pulang dari Madrasah Diniyah, Nom Hosin – yang dulu rumahnya berdempetan dengan rumahku – mengajakku melatih burung merpatinya. Kalau tidak ke lapangan sepak bola belakang sekolahku, kami pergi ke Gelkandheng, sebuah hamparan sawah yang luas dan panjang. Kami pulang hampir selalu saat magrib tiba. Tidak jarang aku dimarahi sama ayahku karenanya, Nom Hosin dimarahi pula oleh ayahnya. Tetapi ketika malam-malam sehabis Ngaji ke Langgar aku ketemu sama Nom Hosin, kami ketawa-ketawa. Kami kerap kali menertawakan kemarahan orang tua kami. Begitulah, darah nakal Nom Hosin mungkin saja sedikit banyak mengalir ke dalam darahku. (28 Juni 2011).
Langganan:
Entri (Atom)