Minggu, 30 Januari 2011

MELIHAT KEMBALI

Tak terasa aku di Jogja sudah 4 tahun lebih (mulai 17 Agustus 2006). Waktu berjalan cukup cepat. Entah, apakah ini tersebab terlalu banyaknya kenangan yang sudah hilang dari ingatan atau karena selama 4 tahun ini aku merasa hanya sedikit mendapatkan sesuatu dari harapan dan cita-citaku merantau ke Jogja.

Aku masih ingat, cita-citaku dari rumah berangkat ke Jogja ialah untuk menjadi menulis. Alhamdulillah ini sudah aku dapatkan. Namaku sudah pernah nampang di koran, jurnal dan majalan dalam tulisan yang bervariasi, seperti opini, resensi, artikel, esai, kolom, cerpen dan puisi. Aku juga beberapa kali menerbitkan buku. Meskipun sampai saat ini pun aku belum juga menjadi penulis yang dikenal banyak orang, setidaknya aku cukup bahagia karena cita-cita awalku itu tercapai.

Bermacam-macamnya genre dan tema tulisan yang aku garap mulai tahun 2006 dulu sebenarnya merupakan bentuk eksperimentalku dalam wilayah mana yang pada akhirnya akan aku tekuni. Setelah selama itu aku bereksperimen, kini aku mengambil sikap untuk lebih berkonsentrasi menulis cerpen dan puisi untuk fiksi dan esai sastra-budaya untuk non-fiksi. Itu secara idealis. Secara pragmatis, aku masih ingin meniti karirku menulis buku-buku pesanan dari beberapa penerbit. Maklum, aku mandiri. Kalau tidak berpikir pragmatis, dari mana aku dapat makan, bayar kost, bayar SPP kampus dan memenuhi kebutuhan materi lainnya.

Eksperimen itu senada dengan pengembaraanku dalam dunia ilmu. Mulai tahun 2006 aku telah belajar banyak hal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari filsafat, ilmu sosial, budaya, politik dan sebagainya. Itu aku jalani sebagai bentuk pencarian jati diri dalam wilayah ilmu. Setelah lama-kelamaan – mungkin ini juga karena aku masuk jurusan fisika – aku pikir bahwa aku ingin berkonsentrasi belajar ilmu fisika, matematika, filsafat dan budaya. Ilmu filsafat dan budaya sebenarnya hanya sebagai suplemen untuk karirku di dunia tulis-menulis. Yang ingin aku dalami saat ini – kesadaran ini aku dapatkan sekitar satu tahun yang lalu – ialah ilmu fisika dan matematika.

Awal mula aku menyukai fisika dan matematika ialah karena dorongan bahwa aku seorang mahasiswa fisika. Meskipun aku masuk jurusan fisika hanya karena merasa tertantang (apa betul orang seperti saya yang berlatar belakang pesantren dan peminat ilmu sosial-budaya mendalami ilmu fisika dan matematika yang terkenal rumit itu?), lama kelamaan aku menjadi sadar bahwa aku harus malu jika pada akhirnya aku menjadi seorang sarjana fisika tidak tahu ditanya tentang hukum gravitasi atau teori relativitas Einstein. Lebih dari itu, setelah aku banyak mengenal sejumlah sosok fisikawan dunia dan sedikit mempelajari hasil pikirannya, aku betul-betul terkesima.
Lalu aku putuskan untuk mempelajari ilmu fisika dan matematika lebih mendalam lagi. Kesadaran ini muncul ketika aku semester V, tahun 2009 akhir. Sebenarnya ini sudah terlambat, tetapi aku pikir, tidak apalah. Dengan berbekal umur 21 tahun ketika itu, aku kira, pada umur 25 tahun nanti aku sudah bisa menguasai pondasi dasar dari keseluruhan ilmu fisika yang berkembang hingga saat ini. Akhirnya aku membagi waktu. Siang aku belajar fisika dan matematika, malam aku menulis.

Sampai tahun 2010 akhir, ternyata hasil belajarku itu tidak betul-betul maksimal. Aku hanya sedikit tahu tentang subjek-subjek dalam Fisika 1, Fisika 2, Fluida, Termodinamika, Elektromagnetisme, Teori Relativitas Khusus, Mekanika Kuantum, Astrofisika dan Kosmologi dasar, dan sebagainya. Aku menyesal bahwa selama setahun ini aku belum bisa menjadi ahli dalam bidang dasar fisika itu. Untuk matematika aku belajar ulang Matematika Dasar, Kalkulus 1 dan Kalkulus 2, Geometri Analitik, Teori Himpunan, Aljabar Linier dan Fisika Matematika 1 dan 2. Tetapi lagi-lagi, aku hanya mengetahuinya sedikit saja dari keseluruhan bidang matematika itu. Aku betul-betul menyesal bahwa apa yang aku ketahui dari fisika dan matematika semuanya setengah-setengah, tidak betul-betul ahli. Mungkin ini karena aku tidak terlalu serius dalam belajar. Atau mungkin karena konsentrasi belajarku sering terganggu oleh keharusanku mencari uang buat biaya hidupku. Entahlah.

Tetapi dari pada tidak sama sekali, aku cukup merasa bahagia dengan perolehan yang tidak seberapa ini. Dengan belajar yang tidak penuh itu aku sudah bisa meraba-raba alur-pikir fisika – atau dalam bahasa Thomas S. Kuhn, struktur saintifiknya. Aku banyak mencatat hal-hal penting dan fundamental dari materi-materi itu. Aku juga banyak mencatat beberapa pertanyaan yang aku kira penting baik di fisika dan matematika. Dengan sedikit ”bergenit-genit” aku ciptakan formalisme matematika yang ”aneh” (karena tidak ada di buku-buku) dan hipotesis-hipotesis fisika, misalnya tentang teori ”Kekuatan”. Meskipun aku pikir terlalu dini dengan hal-hal semacam itu, tetapi setidaknya aku tidak menyianyiakan ”keliaran” pikiranku. Betapapun akhirnya sia-sia, aku pikir tidak apa-apa, ketimbang tidak dituliskan sama sekali.

Saat ini aku sedang mendalami ilmu Mekanika dan perangkat matematikanya, karena aku kira hal mendasar dari alam semesta adalah gerak, dan tanpa ilmu Mekanika kita tidak akan tahu seluk-beluk tentang gerak benda, baik dalam skala makro maupun mikro. Aku dalami lagi Mekanika Newtonian, Mekanika Lagrangean, Mekanika Hamiltonian, Mekanika Relativitas dan Mekanika Kuantum. Untuk perangkat matematikanya, aku juga mendalami lagi analisis Vektor, Matriks, Tensor, Deret, Persamaan Diferensial, Variabel Kompleks, Fungsi-Fungsi Khusus dan lebih-lebih Kalkulus Variasi. Karena ilmu Mekanika semuanya itu bisa diformulasikan di dalam sistem koordinat, aku pelajari Geometri Koordinat, termasuk teori Ruang-Waktunya.

Setelah mempelajari itu semua aku ingin berkonsentrasi di Mekanika Langit (untuk skala makro), karena setelah tak berpikir panjang, aku nanti ingin mengambil tema sikripsi dalam wilayah Mekanika Langit, terutama mengenai subjek Three Body Problem untuk sistem Matahari-Bumi-Bulan. Tetapi sebelum dasar-dasar ilmu Mekanika secara keseluruhan dan perangkat metematikanya belum aku kuasai, aku tidak mau langsung mendalami Mekanika Langit. Sebab aku pikir itu penting supaya perangkat keilmuanku mapan nantinya.

Itulah harapan-harapanku ke depan. Apakah nantinya aku berhasil atau tidak, aku serahkan kepada takdir. Aku hanya yakin apabila kita bekerja keras memperoleh sesuatu, Allah Swt pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Allah tidak akan merubah nasib kita kecuali kita sendiri yang berhasrat merubahnya. Aku selalu berdoa kepada Allah semoga harapan untuk proses keilmuanku ini selaras dengan jalan-Nya. Aku juga berdoa semoga aku ditetapkan dalam semangat penuh, konsistensi belajar keras dan senantiaasa berproses mengetahui hukum-hukum-Nya yang ditetapkan di alam ini. Tujuanku belajar ilmu fisika dan matematika hanya satu, yakni aku hanya ingin masyigul melihat kekuasaan Allah yang luar biasa ini.***

Yogyakarta, 28 Januari 2011

Minggu, 09 Januari 2011

Ketabahan Pak Daroji

Pagi itu (02/12/2010), saya dan Aziz diajak Pak Daroji pergi ke kebun salaknya untuk ikut bantu-bantu memanen salak dan menebangi pelepah-pelepahnya. Katanya, buah salak itu mesti kami panen semua, sebab bila tidak, akan cepat membusuk akibat kena debu vulkanik Merapi. Begitupun pelepah-pelepahnya harus ditebangi agar tidak layu dan mati.

Di sela-sela kerja, saya bertanya kepada Pak Daroji, kapan salak ini bisa dipanen lagi? Saya kaget ketika Pak Daroji menjawab, “butuh dua tahun lagi, mas!”. Betapa tidak, tulang punggung perekonomian beliau, juga rata-rata warga Cempan, adalah tani salak. Kalau selama dua tahun panen salak vakum, lalu dari mana beliau mendapatkan uang buat kebutuhan hidup sehari-harinya, buat belanja istri dan sekolah anak-anaknya?

Ia hanya tersenyum, seperti tidak pernah risau dengan keadaan semacam ini. Ia yakin bahwa Allah tidak miskin dan bahwa Allah tidak akan menelantarkan hambanya yang sedang diterpa bencana. Sungguh ketabahan yang luar biasa saya kira. Padahal beliau juga harus kehilangan sekitar 3 hektare sawahnya yang ditelan lahar dingin. Sawah itu terletak di bantaran Kali Batang. Dulu kali itu tidak dialiri air. Tetapi sekarang, alih-alih kering, Kali Batang diluapi oleh lahar dingin yang mengalir dari puncak Merapi.

Tahu akan hal ini, Pak Daroji sama sekali tidak bersedih. Malahan beliau berkata, kalau Allah mau mengambil sesuatu dari kita, siapa pun tidak akan bisa menghalanginya, begitu pun sebaliknya. “Kita enggak usah khawatir, mas. Jalan rezeki itu tak terhitung banyaknya. Orang yang bersedih karena kehilangan satu jalan rezekinya, berarti dia takabbur kepada Allah. Na’uzubillah,” katanya.

Saya mengenal Pak Daroji di barak pengungsian daerah Mantingan Salam Magelang sewaktu beliau bersama warga Cempan yang lain mengungsi ke sana. Kami dari Forum Silaturrahmi Keluarga Mahasiswa Madura Jogjakarta (FS-KMMJ) menjadi relawan di sana. Kerja kami di barak pengungsian ialah mengurusi kebutuhan logistik pengungsi dan mengadvokasinya.

Tidak lama kami di Mantingan, hanya sekitar seminggu. Setelah dinyatakan aman dalam radius 10 km dari puncak Merapi untuk daerah Magelang, para pengungsi diperbolehkan pulang kampung. Pak Daroji meminta kami ikut ke kampungnya, yakni dusun Cempan Jeruk Agung Srumbung Magelang, untuk Bantu-bantu merekonstruksi desa pasca bencana Merapi. Kami pun menyutujuinya. Pak Daroji mengizinkan kami tinggal di rumahnya sampai tugas kami di Cempan selesai.

Kerja kami di Cempan ialah membantu-bantu masyarakat membersihkan jalan, masjid, kuburan dan semua infrastruktur umum lainnya. Sejak itu, secara pribadi, saya mengagumi kesabaran Pak Daroji dan istrinya, Bu Sri Mulyati. Saya banyak belajar kepada kepadanya tentang kehidupan. Selama sembilan tahun berumah tangga, mereka tidak pernah sekali pun bertengkar. Mereka begitu taat beribadah. Keyakinannya pada Tuhan amat luar biasa. Kata Pak Daroji, tujuan kita hidup di dunia tidak lain kecuali terus-menerus berusaha belajar menghamba kepada Tuhan.

Pandangan hidup demikianlah, saya pikir, yang menjadikannya begitu sabar dan tabah dalam menghadapi bencana. Kata Pak Daroji, bencana erupsi Merapi merupakan bentuk kasih sayang Tuhan kepada kita semua. “Banyak hikmah yang dapat kita petik dari setiap bencana dalam hidup kita, lebih-lebih bencana Merapi sekarang ini. Salah satunya ialah kita disadarkan oleh Tuhan bahwa kita sesungguhnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bahwa kita mesti menyempurnakan penghambaan kita kepada-Nya. Bahwa kita harus lebih banyak belajar menerima keadaan, banyak bersabar dan bersyukur,” katanya sambil tersenyum berbunga-bunga.***

Yogyakarta, 07 Januari 2011