Sabtu, 30 April 2011

MEMBACA PUISI DI HADAPAN RIBUAN ORANG

Praktis, di desaku tidak ada sesosok penyair atau setidak-tidaknya orang yang bisa menulis dan membaca puisi. Sementara sosok itu sangatlah dibutuhkan terutama ketika perayaan Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan di Yayasan Madrasah at-Taqwa di desaku. Satu-satunya yang bisa menulis dan membaca puisi, anak muda yang juga merupakan alumni madrasah tersebut adalah aku. Entah dari siapa kiaiku yang mengasuh madrasah tersebut tahu bahwa aku suka puisi dan bisa menulis puisi, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja pada tahun 2008 yang lalu, beliau memintaku untuk membaca puisi penganugerahan siswa/santri tauladan pada malam puncak Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan. Maka apa dayalah aku menolak permintaan guru yang telah dengan sabar dan ikhlas dulu semasih aku kecil mengajariku membaca alif-baa-taa itu. Meskipun merasa terpaksa, dan uang ongkos ngutang, akhirnya aku pun pulang ke Madura hanya untuk sebuah urusan yang sangat sepele itu: “membaca puisi penganugerahan siswa/santri tauladan”.

Sesampainya di rumah, aku sowan ke ndalem kiaiku itu. Beliau berkelit bahwa sesungguhnya beliau memaksaku pulang kampung bukan hanya untuk alasan “membaca puisi”, tetapi – kata beliau dengan sifat humorisnya yang khas itu – karena rindu kepadaku. “Kamu kan sudah lama tidak pulang, sampai-sampai saya rindu kamu. Makanya saya paksa kamu pulang. Sekalian juga bantu-bantu madrasah dalam acara ini!” kata beliau dengan enteng. Dan aku pun hanya bisa menunduk senyum.

Pada malam itu digelarlah acara paling akbar di desaku, yakni Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan Madrasah at-Taqwa Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura. Acara kali itu adalah yang terbesar selama sejarah madrasah. Undangannya pun banyak sekali, terdiri dari para kiai se-Kabupaten, ustadz madrasah se-Kecamatan, kelompok gambus hadrah dari desa sebelah, dan – ini yang membuatku terheran-heran – penonton yang mencapai ribuan orang. Ternyata penonton sebanyak itu tidak hanya warga desaku saja, tetapi hampir mencapai seluruh warga di 4 desa tetangga.

Tata acara pembacaan puisi penganugerahan siswa/santri tauladan tahun ajaran 2006-2008 itu terletak sebelum mau’idhah hasanah dari Kiai Haji Mawardi asal Surabaya. Aku siap-siap di belakang panggung, membaca berulang-ulang puisi sepanjang tiga lembar yang adalah karanganku sendiri. Aku mencoba meyakinkan diri berkali-kali bahwa aku mampu untuk tidak gugup membaca puisi di hadapan ribuan penonton dan para kiai-kiai besar se-Kabupaten itu.

Sungguh aku tidak pernah membayangkan banyaknya jumlah penonton, karena biasanya hanya ratusan orang saja. Ini sangat luar biasa. Dan selama pengalamanku, aku tidak pernah membaca puisi di hadapan ribuan orang. Paling banter hanya puluhan orang saja, baik ketika masih di Pondok Annuqayah maupun di Jogja. Hampir-hampir aku keder dan memutuskan diri untuk tidak tampil. Tetapi guruku sangat memaksa. Dan, sekali lagi, apa daya, aku tak bisa menolaknya.

Akhirnya dipanggillah aku ke atas panggung. Aku pun naik ke panggung setelah memberi hormat kepada seluruh undangan dan penonton terlebih dahulu. Sebelum memegang mic, detak jantungku tidak teratur. Aku berusaha untuk yakin, tidak gugup dan menganggap semua orang di hadapanku adalah benda mati. Aku panggil salam pembuka, kulihati seluruh penonton dengan tatapan tajam, dan kubaca judul puisi dengan suara diafragma. Tiba-tiba saja – dan mungkin karena besar dan gemuruh suaraku – semua orang diam dan terpana kepadaku. Omongan-omongan kecil yang sedari tadi terdengar dari kerumunan orang, sebegitu saja lenyap. Kesunyian seakan-akan telah menjerat ribuan orang di hadapanku. Dan karenanya dadaku terasa sedikit lega.

Bait-perbait puisi itu aku baca dengan sangat jelas dan tajam, dengan suara yang dinaik dan turunkan dan dengan mimik muka yang meyakinkan. Entahlah, ketika sampai di lembaran kedua, aku seakan-akan sudah bisa menghayati puisi. Mentalku dan sikapku lepas. Aku benar-benar tidak merasa sedang membaca puisi di hadapan orang-orang yang sudah semestinya untuk bersikap Islami. Kujiwai puisi itu dalam-dalam, sehingga suaraku meraung-raung tak karuan, ekspresi tangan dan mukaku betul-betul lahir dari ketidaksadaran, dan aku benar-benar telepas. Anehnya, semua orang semakin terdiam, seakan-akan tercekam oleh penampilanku. Sedikit pun tidak terdengar suara dari kerumunan mereka. Aku lihat semua wajah mereka nampaknya sedang khusuk memperhatikanku.

Maka seketika selesai pembacaan puisi, demikian pula penganugerahan siswa/santri tauladan, aku turun dengan salam dan sikap yang halus. Kini aku tampak lebih tenang dari sebelumnya. Tepuk-tangan dari penonton bergemuruh. Kasak-kusuk tentang aku pun terdengar di antara para kerumunan, terutama di kumpulan ibu-ibu. ”Wah, dia itu anak siapa? Sudah ganteng, pintar pula. Seandainya aku punya anak perempuan......,” kata seorang ibu yang entah siapa. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dan aku kembali ke balik panggung dengan rasa senang karena sukses dan ”telinga lebar” karena banyak disanjung.

Setelah itu, di acara Khatmil Qur’an dan Haflatul Imtihan pada tahun-tahun berikutnya, sampai sekarang, aku senantiasa diminta pulang dan membaca puisi di hadapan ribuan orang. Sampai hari ini, itu sudah terjadi sebanyak tiga kali. Hahaha, sebuah pengalaman yang betul-betul mengesankan. Dan aku berterima kasih kepada guruku! (26 April 2011).

Jumat, 22 April 2011

PUISI PERTAMA DAN SEBUAH HARAPAN AKAN KEMASYGULAN

KELAHIRAN

dan mungkin untuk selamanya
waktu mengeras di kabut dingin
sedingin kematian
di dadaku yang hening

waktu yang asing untuk sebuah impian
tapi begitu dekat, begitu menyekap
dan aku mengakrabinya

seperti mengakrabi air mata:
sesuatu yang mungkin tercipta
untuk tanahnya sendiri
tanah yang sepi dan abadi
tanah di dadaku ini

Jogja, 2009



Puisi di atas ini aku anggap sebagai puisi pertamaku. Orang pertama yang memuji puisi ini adalah seorang teman yang entah apakah ini betul atau tidak aku anggap sebagai kritikus sastra, yakni Purwana. Anggapanku ini muncul ketika berkali-kali aku berjumpa dengannya dalam beberapa waktu yang tak terduga, memperbincangkan soal puisi dan cerpen, yang dengan cara-cara aneh, dia melontarkan beberapa kritik dan penilaian terhadap beberapa karya sastra Jepang, China, Eropa Kontinental, India dan Amerika Latin dengan sangat fasih, dalam, mengesankan serta merupakan sesuatu yang baru bagiku.

Dia memang tidak terkenal, tetapi kawan-kawan penyair muda Yogyakarta (terutama kawan di Komunitas Rumah Poetika) ”mengakui” kepakaran dan keluasan wawasan kritik sastranya. Saat itu, pada sebuah Minggu sore yang hangat, aku, Purwana, Mahwi Air Tawar, Indrian Koto, Mutia Sukma, As’adi dan Iman ”Kedung” Romansyah berkumpul di depan Gedung Multi Perpuse UIN Sunan Kalijaga untuk sebuah diskusi sastra terbatas. Kawan-kawan tersebut – dan juga aku – membacakan sajak-sajaknya di depan Purwana, dan selanjutnya dia ”menghakiminya”. Anehnya, puisiku di atas termasuk salah satu puisi yang dipujinya ketika itu.

Purwana bilang, puisiku tersebut memuat makna yang luas dan dalam, dengan kata-kata metomini yang tajam. Entahlah, bagiku, tidak penting diuraikan dengan kriteria-kriteria apa dan bagaimana Purwana menilai puisiku itu. Yang penting bahwa pada waktu itu aku merasa bangga dan tersanjung, sehingga dengan seketika kekuatanku untuk membangun kembali pondasi-pondasi puisiku bangkit lagi setelah berbulan-bulan sempat kendor. Mentalku merasa terangkat di hadapan kawan-kawan sastrawan muda Jogja tersebut yang karya-karyanya telah jauh melampaui karyaku. Aku sangat berterimakasih pada kawan Purwana, karena dengan kritiknya, menjadikanku semakin bersemangat untuk benar-benar menenggelamkan diri ke dalam samudera puisi. Memang aku tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyair. Aku hanya berpikir untuk membuat karya puisi, dan itu saja telah cukup membahagiakanku.

Setelah diskusi terbatas tersebut, aku mengirimkan puisi KELAHIRAN bersama lima puisiku yang lain ke koran Minggu Pagi dan Suara Pembaruan. Dan tidak disangka, pada bulan Juli dan November yang indah, puisi itu dimuat di kedua media tersebut. Ini merupakan pemuatan puisiku untuk yang ketiga kalinya setelah sempat pada akhir 2006 lima puisiku dimuat di Surabaya Post dan pada 2007 di Pontianak Post. Setelah pemuatan ketiga kali itu, puisi-puisiku pada kesempata selanjutnya (dari 2009 hingga saat ini) mengalir dimuat di beberapa media. Puisi KELAHIRAN itu turut aku kirimkan pula ke acara kritik sastra di radio Pro-2 FM pada akhir tahun 2010, dan secara tidak terduga, mendapat pujian dari penyair Evi Idawati sebagai puisi terbaik untuk malam kali itu.

Sebenarnya aku belajar menulis puisi mulai tahun 2005. Ketika itu aku masih di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura. Di pondok itu tak satu pun komunitas sastra atau di forum-forum sastra aku ikuti. Hanya saja aku berteman dekat dengan banyak kawan penyair pesantren yang aktif di komunitas-komunitas sastra. Bersama mereka, aku mendiskusikan banyak hal soal sastra dan teater. Tetapi bagiku itu hanya sekedar ”basa-basi” yang tidak menghasilkan apa-apa dalam diriku. Sebaliknya, semangat kesusasteraanku tumbuh untuk pertama kalinya ketika aku dapatkan dua buah buku luar biasa karangan HB. Jassin dan Harry Aveling yang menghimpun karya puisi penyair Angkatan Poejangga Baroe, angkatan 45, 60-an, 70-an dan 80-an. Aku habiskan malam-malamku untuk menikmati puisi-puisi mereka, dari Chairil Anwar hingga Sapardi Djoko Damono. Aku pun tergugah untuk turut menulis puisi. Maka pada sekitar pertengahan tahun 2005 itu, persentuhanku dengan dunia puisi untuk pertama kali dimulai.

Dari 2005 hingga awal 2009 ratusan puisi yang kucipta. Awal-awal aku membikin 3 puisi dalam sehari-semalam. Tetapi semuanya mentah. Aku berpikir untuk lebih menseriusi dunia puisi adalah sekitar pada tahun 2007. Secara konsisten aku mempelajari dan mengkaji puisi-puisi para penyair terkenal secara mandiri, aktif mengikuti forum-forum sastra, mendatangi rumah-rumah para penyair angkatan tua Jogja dan sering berkumpul dengan teman-teman sastrawan muda. Akibatnya, aku pun tahu banyak hal tentang puisi, hingga akhirnya aku merasa puisi bukan hanya semacam genre tulisan, tetapi bahkan inti keberbahasaan, sebab di dalam puisi tidak hanya terdapat pergulatan bahasa, tetapi juga pergulatan makna dan permenungan. Maka tidak terlalu banyak puisi yang ciptakan dari tahun 2007 hingga awal-awal 2009. Aku tidak lagi menulis 3 puisi dalam sehari-semalam. Puisi-puisiku tercipta hanya ketika pada suatu waktu apa yang disebut sebagai ”momen puitika” datang menghampiriku. Kedatangan ”momen puitika” itu sungguh sangat pelik dan tidak mudah. Kadang ia datang 6 bulan sekali, 3 bulan sekali, 2 bulan sekali, sebulan sekali, seminggu sekali, tetapi terkadang ia datang hampir 5 kali dalam semalam.

Puisi yang aku karang dari tahun 2005 hingga awal 2009 aku anggap semuanya ”sampah”. Tak satu pun dari ratusan puisi itu yang dapat membanggakanku. Hingga datang sebuah ”momen puitika” pada Selasa sore yang lungrah, bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke-21, yakni tanggal 08 Maret 2009, ketika hampir-hampir permenunganku mencapai klimaks tentang cerapan dan makna kelahiran bagi hidupku, maka lahirlah puisi KELAHIRAN tersebut. Puisi itu aku buat persis selama 2 menit. Aku dalam keadaan tidak sadar ketika itu. Tahu-tahunya, ketika aku sadar, di atas kertas yang memang kupersiapkan tertulis puisi itu. Hingga saat ini tak ada yang kurubah atau kuperbaiki kalimat-kalimat yang muncul saat pertama kalinya puisi KELAHIRAN hadir. Jadi puisi KELAHIRAN itu murni sebagai puisi yang jadi secara seketika. Dan aku memang membiarkannya seperti itu, dan sedikit pun aku tidak memperbaikinya, karena aku yakin bahwa puisi yang lahir dari ketidaksadaran terkadang lebih ”dahsyat” ketimbang puisi yang lahir dari kesadaran.

Maka sejak lahirnya puisi yang aku anggap sebagai puisi pertamaku itu (2009), aku semakin memantapkan diri untuk lebih jauh bergelut dengan dunia perpuisian, dengan dunia kepenyairan. Ketika pada 2010 bangkit ketertarikanku untuk lebih mendalami fisika, sehingga sejak saat itu aku berpikir untuk mendalami kedua-duanya: fisika dan puisi. Mungkin ini terkesan aneh untuk pikiran-pikiran sempit seseorang yang sudah terperangkap di dalam cara pandang spesialisasi bidang keilmuan, juga dalam konstruksi metodis yang cenderung menganggap tidak ada hubungannya antara sastra dan ilmu fisika. Padahal, menurutku, keduanya adalah merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan jika seseorang masih menghargai sesuatu yang amat berharga bagi hidupnya, yakni permenungan. Tanpa permenungan, aku rasa hidup seperti sebuah kehampaan.

Di dalam hidup ini, aku hanya menginginkan satu hal, yakni kemasygulan: masygul melihat alam, masygul melihat diri sendiri, masygul melihat rahasia-rahasia paling rahasia dalam kehidupan dan – ini terutama – masygul di hadapan Tuhan. Dan kemasygulan itu tidak akan pernah bisa di temui di sebuah diri yang kosong oleh permenungan. Kemasygulan merupakan akibat dari permenungan, atau dengan kata lain, permenungan merupakan sebab hadirnya kemasygulan. Aku tidak percaya pada orang yang mengatakan bahwa kerap kali kemasygulan datang tanpa didahului oleh permenungan. Tanpa permenungan yang panjang – atau sebuah usaha ke arah itu – tidak mungkin seseorang pada suatu waktu merasakan kemasygulan yang luar biasa.

Untuk saat ini, aku telah sedikit menemukan ”bentuk” kemasygulanku di dalam fisika dan puisi. Aku menemukan sesuatu yang membuatku ekstase di dalam keduanya: sebentuk transendensi yang aku pikir tak dapat dihargai dengan apa pun. Aku berhasrat untuk berkarya di dua bidang ini – atau dalam istilah akademis, ingin mengembangkannya – hingga kemasygulanku semakin bertambah, bertambah hingga mencapai puncak transendensi yang tak terkirakan....Tuhan, semoga ini sesuai dengan jalan-Mu. Amin! (22 April 2011).

Rabu, 20 April 2011

Aku dan Perempuan

Setiap kali aku merenungi hidup, aku merasa, perempuan adalah hal yang amat luar biasa. Perempuan, barangkali, adalah salah satu alasan mengapa hidup menjadi demikian berharga dan masih bertahan hingga detik ini. Puisi hadir karena perempuan. Cinta – dan ini terutama – mengilhami banyak orang karena keberadaan perempuan. Namun bagiku, perempuan adalah hal yang agak rumit. Dalam sejarah hidupku yang tragik, aku tidak pernah sekali pun mengalami hidup yang dalam bahasa anak muda sekarang disebut sebagai ”pacaran”. Hal ini kadang membuatku tersenyum-senyum sendiri, karena merasa – untuk urusan ini – hidupku sungguh lucu sekali.
Sering aku ditanya oleh kawan, apakah aku sudah punya pacar atau setidak-tidaknya pernah pacaran? Dan ketika aku jawab ”tidak”, mereka tertawa dan berkata: ”Naif sekali hidupmu, Fakih!” Barangkali, memang, adalah sesuatu yang tabu bagi mereka bahwa diumurku yang ke-23 ini aku belum pernah sekali pun menjalin tali kasih dengan perempuan.

Tetapi bukan berarti aku tidak pernah mencintai perempuan. Aku adalah laki-laki normal, seperti halnya laki-laki kebanyakan. Tetapi setiap kali aku mencintai perempuan, setiap kali pula aku tidak pernah mengungkapkannya. Mungkin ada rasa takut, khawatir dan bimbang yang mendorongku bersikap demikian. Dan aku tidak mengerti dengan perasaanku ini. Aku lebih memilih diam, menikmati perasaanku sendiri dan menuliskannya dalam puisi. Anehnya, sikap ini masih bertahan hingga kini.

Cinta pertamaku adalah tetanggaku sendiri. Dia orangnya cantik, manis, pintar, cerdas, terbuka dan terkesan agak centil. Cukup ganjil memang ketika para pemuda menganggapnya sebagai bunga desa. Tetapi aku tidak menolak anggapan itu, sebab dia memanglah demikian adanya. Itu terjadi sekitar tahun 2003 yang lalu ketika aku masih kelas III MTs dan dia kelas I SMP. Aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepadanya, tetapi nampaknya dia tahu akan perasaanku itu. Dia pun demikian, sepertinya juga memiliki perasaan yang sama denganku, sebab kerap kali dia datang ke rumah untuk sekedar menanyakan kepada ibuku apakah aku pulang dari pondok atau tidak. Dan kalau tidak, seringkali dia menitipkan salam kepada ibuku. Saat aku pulang, ibu selalu berkata: ”Ada salam dari calon menantuku!” Aku hanya tersenyum-senyum malu ketika itu.

Percintaan yang gelap dan rumit itu berjalan seperti apa yang biasa dikatakan sebagai ”cinta monyet”. Aku dan dia kadang-kadang bertemu secara tak terduga dan mengobrol panjang-lebar tentang segala hal. Di sisinya, hari menjadi demikian sempit. Melihat wajahnya, aku seperti telah melihat wajah keabadian. Aku sangat mencintainya, sungguh mencintainya setulus hati. Tetapi sayangnya, aku harus kecewa pada akhirnya, sebab tiba-tiba pada sekitar tahun 2005 dia datang kepadaku dengan wajah lesu dan mengatakan bahwa dia sudah jadian dengan temanku sendiri yang juga masih tetanggaku. Hancur-leburlah ketika itu. Angan-angan masa depan yang telah kupancangkan rapuh seketika. Aku tidak bisa melukiskan betapa sakitnya hatiku, hingga bertahun-tahun lamanya. Tetapi aku simpan dalam-dalam rasa sakit itu. Aku tak ingin orang-orang tahu. Aku menyimpannya sendiri.

Meskipun sudah tidak ada harapan lagi, rasa cintaku kepadanya tetap bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Sebenarnya aku tidak menginginkan hal ini, sebab sangat mengganggu terhadap hidupku. Tetapi terkadang perasaan seringkali tidak pernah bisa diatur. Apalagi terhadap cinta pertama yang kata orang-orang sulit dilepaskan. Namun alhamdulillah akhirnya perasaan cintaku kepadanya pudar juga. Dan ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2009 yang lalu, ketika salah seorang temanku bercerita tentang sisi-sisi negatif dan aib-aibnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa – menurut cerita temanku itu – dia playgirl dan sudah berkali-kali berhubungan badan dengan pacar-pacarnya. Bahkan temanku itu bercerita sendiri kepadaku pernah berhubungan badan dengannya.

Setelah itu, mulai tahun 2009 (artinya aku sudah di Jogja sudah sekitar 3 tahun, mulai tahun 2006 lalu), aku berusaha berusaha membuang jauh-jauh kenangan bersamanya dan guratan namanya dalam hatiku. Untuk awal-awal sulitnya minta ampun. Wajahnya, senyumnya, suaranya selalu menghantuiku siang dan malam. Namun akhirnya, aku punya cara, yakni berusaha membuka diri pada perempuan lain. Setidaknya dari saat itu sampai pertengahan tahun 2010 yang lalu ada sekitar 3 perempuan yang sempat menyita perhatianku. Tetapi lagi-lagi aku tidak berani mengungkapkan perasaanku kepadanya. Apalagi setelah aku telusuri, ketiga-tiganya sudah punya pacar. Jadinya aku mengurungkan diri dan berusaha dengan keras membuang jauh-jauh perasaanku kepada mereka.

Saat ini aku sedang menyukai seorang perempuan lagi. Dia orangnya baik, pintar, supel dan sangat mungkin solehah. Wajahnya ayu, seayu personalitas dirinya. Aku yakin dia perempuan yang dapat menjaga diri dan dewasa. Entah, apa karena aku terlalu terbawa perasaan atau tidak, aku tidak tahu. Yang pasti bayang-bayangnya selalu menghantui hari-hariku. Aku selalu tidak yakin bahwa dia merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Karena dilihat dari tingkah laku dan gelagatnya, perhatiannya kepadaku tidak seperti halnya perhatianku kepadanya. Atau mungkin ini hanya dugaanku saja, bahwa sebenarnya aku tidak pernah mengungkapkan perhatianku lebih jauh kepadanya, sehingga dia tidak merasakan apa-apa.

Aku tahu bahwa dia perempuan yang sangat istimewa dan mengagumkan. Bahkan saking istimewa dan kagumnya aku kepadanya, kerap kali aku meyakinkan diri bahwa dia perempuan yang tidak pantas untukku, bahwa bukan laki-laki sepertiku yang pantas bagi hidupnya. Dia lebih dariku dalam segala hal, baik materi, keanggunan jiwa dan aura fisiknya. Atas dasar perhitungan itu, aku jadi mengutuk diri. Sering aku berkata pada diriku sendiri, ” Fakih, Fakih, kau ini sungguh aneh. Apa yang kau miliki untuknya? Apa kau bisa membahagiakannya dengan keadaanmu yang sekarang ini? Kau itu laki-laki yang sangat tidak pantas baginya. Kau sungguh bodoh dan tolol dengan perasaanmu itu. Kau ini tidak punya apa-apa. Tak ada yang dapat dibanggakan darimu. Kasihan kepadanya bila punya kekasih sepertimu. Meskipun kau ngotot untuk mendapatkannya, paling-paling kau akan ditolak, sebab perempuan sepertinya tidak menginginkan laki-laki sepertimu. Sudahlah, lupakan saja perasaanmu itu daripada nantinya kau sakit hati dan tersiksa lagi.”

Aku termasuk orang yang sulit mencintai perempuan. Tetapi setelah mencintainya, aku adalah orang yang paling sulit melepas rasa cintaku itu. Selama hidupku, hanya 2 kali aku mengungkapkan cinta pada perempuan. Dan sungguh sayang, semuanya ditolak. Mungkin aku memang laki-laki yang tidak pantas dicintai.

Tetapi aku sangat bersyukur kepada Tuhan bahwa tidak ada perempuan yang mencintaiku selain cinta pertamaku itu, bahwa aku tidak diberi kesempatan berpacaran, sehingga sampai saat ini pun aku belum pernah menyentuh tubuh perempuan. Aku sangat bersyukur bahwa aku merasa masih dijaga oleh Tuhan dari kebiasaan hidup yang barangkali tidak senonoh. Dan seandainya kelak aku dianugerahi seorang perempuan, aku berdoa semoga itu adalah jodohku; semoga dia perempuan yang baik, solehah dan bisa menjadi pasangan yang setia dan bertanggung jawab, sehingga aku bisa mencurahkan dengan sepenuh hati seluruh rasa cinta serta kasih dan sayangku kepadanya. Amien!***

Jogjakarta, 29 Maret 2011

Henri Poincare: Sang Universalis Terakhir





PENDAHULUAN
Henri Poincare (29 April 1854-17 Juli 1912) adalah seorang universalis dari Perancis yang unggul di sejumlah bidang disiplin ilmu. Ia adalah seorang insinyur, matematikawan, fisikawan, astronom, kosmolog, logikawan dan filsuf sains. Ia adalah penulis yang sangat produktif. Publikasi makalah dan buku-bukunya banyak sekali.
Sebagai seorang matematikawan, ia banyak memberikan kontribusi fundamental baik di bidang matematika murni maupun terapan. Dia dianggap sebagai salah satu pendiri bidang aljabar topologi, geometri non-Euclidean, geometri system dinamis untuk matematika murni, serta juga bapak teori chaos, teori yang banyak diterapkan di sosiologi, ekonomi, politik, kimia, biologi dan ilmu-ilmu lainnya untuk matematika terapan. Selain itu, ia juga mengeksposisikan diri di bidang topologi diferensial, aljabar geometri, geometri hiperbolik, aljabar kompleks, analisis fungsional, statistik, matematika ekonomi, matematika fisika dan lain-lain.
Sebagai astronom dan kosmolog, ia mendirikan teori n-benda yang menjadi pondasi penting dari ilmu mekanika langit dan termasuk orang pertama pembangun teori kosmologi fisik. Sebagai fisikawan teoritis, ia juga dianggap sebagai salah satu pencetus relativitas khusus dan eksponen penting dari banyak subjek di bidang fisika matematika, termodinamika, elektromagnetisme, fluida, optik, listrik, kapilaritas, elastisitas teori potensial, teori relativitas dan mekanika kuantum.
Sebagai logikawan, ia adalah penentang keras teori bilangan transitif dari George Cantor. Selain itu, ia juga banyak mengambangkan subjek-subjek penting dari ilmu logika matematika. Dan yang paling mencolok dalam subjek ini aladah di bidang ilmu bilangan, teori pembuktian, induksi matematika dan teori himpunan.
Sebagai seorang insinyur, ia mengembangkan teori dan penerapan alat telegrafi untuk keselamatan kerja, terutama di barak penambangan. Selain itu, ia pekerja di perusahaan kereta api dan pertambangan. Ia bergabung dengan France Ministry of Public Services sebagai insinyur yang bertanggung jawab atas pembangunan rel kereta api, serta di Corps de Mines sebagai insinyur dan inspektur kepala untuk penggalian tambang di Vesoul, wilayah timur laut Perancis.
Sebagai filsuf ilmu pengetahuan, ia mengembangkan filsafat matematika, filsafat etika dan filsafat sains. Poincare adalah penentang keras pernyataan dan pembuktian Bertrand Russel dan Gottlob Frege bahwa matematika adalah cabang dari logika. Bagi Poincare, kehidupan matematika adalah intuisi, dan hal ini dibuktikannya di sejumlah makalah-makalahnya. Ia juga penentang Kantianisme tentang akal murni dan akal praktis, dan oleh sebabnya ia banyak merevisi kesalahan-kesalahan fundamental dalam filsafat Emanuel Kant mengenai teori a priori dan a posteriori yang implikasinya terhadap reasoning paradigm, etika dan hukum. Ia adalah filsuf penentang fundamentalisme dan penganjur liberalisme. Buku-buku filsafat matematikanya meliputi On the Nature of Mathematical Reasoning (1894), On the Foundations of Geometry (1898), Intuition and Logic in Mathematics (1900), Mathematics and Logic (1905) dan On Transfinitie Numbers (1910), dan masih banyak lagi. Sementara buku-buku filsafat sains dan etikanya adalah Science and Hypothesis (1902), The Value of Science (1905), Science and Method (1908), dan Last Essays (1913), dan lain-lain.


SEJARAH HIDUP, PENDIDIKAN DAN KARIRNYA
Nama pemberian orang tuanya adalah Jules Henri Poincare. Dia lahir pada 29 April 1854 di Ducale Cite, Nancy, Meurthe-et-Moselle, Kerajaan Perancis. Dia lahir dari keluarga bangsawan, yang tentu berkecukupan dan berpendidikan. Ayahnya, Leon Poincare (1828-1892) adalah seorang professor kedokteran di University of Nancy (sekarang berganti nama menjadi Univerty of Henri Poincare). Ibunya, Eugenie Lounois (1830-1897) adalah seorang ibu rumah tangga sederhana yang sangat dekat dan menyayangi anak-anaknya. Sejak kecil, Henri Poincare sering sakit-sakitan, dan oleh karenanya, perlu perawatan khusus dari ibunya. Sampai tuanya pun ia memiliki ciri-ciri fisik yang lemah dan rapuh. Penyakit rabunnya sudah dia alami mulai sejak kecil.
Pada tahun 1862, Poincare masuk sekolah Lycee di daerah Nancy (sekarang berganti nama menjadi Lycee Henri Poincare). Dia menghabiskan sebelas tahun di Lycee, dari tingkat dasar sampai menengah. Poincare merupakan salah satu siswa terbaik di setiap topik pelajaran. Guru matematikanya menyebutnya ”raksasa matematika” setelah Poincare memenangkan hadiah General Concours dalam sebuah kompetisi antar siswa se-Perancis. Nilai jeleknya hanya pada pelajaran musik dan pendidikan jasmani dan kesehatan. Poincare lulus dari Lycee pada tahun 1871.
Setelah lulus, Poincare menganggur selama satu tahun untuk membantu korban perang Perancis-Jerman. Dia ikut ayahnya yang seorang dokter mengurus Korps Ambulan. Sebenarnya aktivitas ini ia lakukan sejak masih duduk di bangku sekolah, pada 1870. Baru setelah keadaan agak tenang, Poincare meneruskan pendidikannya dengan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa matematika di Ecole Polytechnique pada tahun 1873. Di kampus itu termasuk sebagai dosen adalah Charles Hermite, salah seorang matematikawan termasyhur Perancis.
Satu tahun sebagai mahasiswa tingkat pertama (S 1), yakni pada 1874, Poincare telah mampu menerbitkan makalah penelitian pertamanya, Démonstration nouvelle des propriétés de l'indicatrice d'une surface. Dia lulus sebagai sarjana sains (Bachelor of Science) pada 1876. Lalu dia melanjutkan pendidikannya di Ecole des Mines, sebagai mahasiswa tingkat pertama (S 1) teknik pertambangan, sambil melanjutkan ke tingkat pascasarjana di University of Paris. Dia lulus dan menerima gelar insinyur pada 1879.
Setelah lulus, pada tahun itu juga, dia bergabung dengan Korps des Mines sebagai inspektur pertambangan di Vesoul, wilayah timur laut Perancis. Pada saat yang sama, Poincare sedang mempersiapkan gelar doktor ilmu matematika di bawah pengawasan Charles Hermite. Poincare menerima gelar doktornya pada tahun 1879 dengan disertasi berjudul Sur les propriétés des fonctions définies par les équations differences. Disertasi ini berada di bidang persamaan diferensial, di mana di dalamnya Poincare meletakkan pondasi pertama sifat geometris dari persamaan integral, suatu formulasi matematis yang nantinya digunakan oleh dia untuk model masalahn-tubuh dalam gerakan tata surya.
Setelah itu, dia ditawari sebagai dosen junior di departemen matematika di Caen University. Meski demikian, Poincare tidak meninggalkan pekerjaannya di departemen pertambangan. Pada 1881 dilamar di Departemen Pelayanan Publik (Ministry of Public Service) untuk menjadi insinyur pembuatan rel kereta api utara Perancis. Di departemen ini pada 1910 dia diangkat sebagai inspektur umum.
Tahun 1881 Poincare keluar dari Caen University, kemudian mendedikasikan diri di University of Paris (Sorbonne) sampai akhir hayatnya. Pada tahun itu pula dia diangkat sebagai profesor matematika analisis. Di sana dia mengajar matakuliah fisika, mekanika eksperimental, fisika matematika, teori probabilitas, mekanika langit dan astronomi. Pada tahun yang sama (1881) Poincare menikah dengan Paulain d’Andecy, di mana dengannya dia mempunyai empat anak, yakni Jeanne (lahir 1887), Yvonne (lahir 1889), Henriette (lahir 1891) dan Leon (lahir 1893).
Pada tahun 1887, pada usia 32 tahun, Poincare diangkat menjadi anggota French Academy of Sciences, dan pada tahun 1906 dia menjabat sebagai ketua umumnya.

Pada 1897, Poincare bergabung dengan French Bureau des Longitudes, suatu lembaga yang bertanggung jawab menyingkronisasi waktu di seluruh dunia. Pada tahun yang sama dia mengajukan usulan cara mudah untuk mengukur waktu menggunakan metode lingkaran waktu bujur dan penerapan waktu relatif. Metode ini kemudian dia terapkan ke dalam fisika sehingga menghasilkan apa yang sekarang dikenal sebagai relativitas waktu dalam teori relativitas khusus. Ini adalah salah satu sumbangan besarnya dalam membentuk zona waktu internasional. Lalu pada tahun 1909 dia terpilih sebagai ketua umum Academie Francaise.
Pada tahun 1912, Poincare mengidap penyakit prostat. Oleh istri dan keluarganya ia dibawa ke rumah sakit dan dioperasi. Tetapi sayangnya tidak berhasil. Pada tanggal 17 Juli 1912, Henri Poincare menghembuskan nafas terakhirnya dalam umur yang masih relatif muda, yakni 58 tahun. Dia dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Poincare di Cemetery of Montparnasse, Paris. Pada tahun 2004, Menteri Pendidikan Perancis, Claude Allegre, mengusulkan supanya jasad Poincare diambil dan dimakamkan kembali di Pantheon Paris, yakni suatu wilayah pemakaman khusus bagi warga kehormatan Perancis.

KARAKTERNYA
Kebiasaan Poincare dianalogikan seperti seekor lebah yang terbang dari bunga ke bunga. Analogi ini ditujukan kepadanya sebab dia memiliki minat yang luas terhadap ilmu pengetahuan. Menurut matematikawan Perancis lainnya, Darboux, Poincare bekerja dengan intuisinya, dan ini ditunjukkan oleh kebiasaannya menggunakan representasi visual, baik ketika mengajar maupun mengerjakan kertas penelitiannya. Dia tidak menyukai dengan aturan-aturan logika yang ketat. Lebih-lebih dia percaya bahwa logika bukan cara untuk menemukan sesuatu, tetapi hanya cara untuk menstrukturkan dan mensistematisasi ide-ide.
Toulouse, seorang psikolog dari Psychology Laboratory of the School of Higher Studies di University of Paris, tertarik untuk meneliti karakter dan kebiasaan hidup harian Poincare. Hasil penelitian itu dibukukan dalam Henri Poincare (1910). Menurut Toulouse, kebiasaan, kelebihan dan kekurangan Henri Poincare adalah sebagai berikut:
• Poincare bekerja pada waktu yang sama setiap hari dalam jangka waktu yang singkat. Dia melakukan penelitian matematika selama empat jam sehari, antara jam 10:00 pagi dan siang, kemudian diterukan pada jam 15:00-19:00. dia membaca artikel jurnal di malam hari.
• Kebiasaannya ketika meneliti adalah menyelesaikan masalah-masalahnya terlebih dahulu di pikirannya, kemudian setelah dikira benar-benar sudah terpecahkan, baru dituliskannya di kertas.
• Dia terkena penyakit ambidextrous dan rabun dekat. Namun ia mampu membayangkan apa yang didengarnya ketika, misalnya, ketika mengikuti kuliah. Dia tidak bisa melihat dengan benar apa yang ditulis oleh dosennya di papan, tetapi dari penjelasan dosennya itu, dia bisa menangkap maksudnya.
• Dia secara fisik kikuk dan artistik tubuhnya tidak kompeten.
• Dia selalu terburu-buru dan tidak suka merubah atau mengkoreksi kertas kerja yang sudah disusunnya.
• Ia tidak pernah menghabiskan waktu yang lama untuk sebuah masalah, karena ia yakin bahwa alam bawah sadarnya akan terus bekerja pada masalah tersebut meskipun dia sedang mengerjakan masalah lain.
• Jika matematikawan lain memulai pekerjaannya dari prinsip-prinsip yang sudah mapan, sementara Poincare memulainya dari prinsip-prinsip yang sangat dasar. Dan entah, menurut Toulouse, apakah ini dapat dianggap sebagai kekurangan atau justru kelebihian.
• Poincare terbiasa mengabaikan rincian-rincian masalah. Dia lebih melihat masalah dari sisi umumnya dan paling fundamental. Sehingga karenanya dia banyak menemukan sesuatu.