Sudah lebih satu tahun pondok pindah ke Cabeyan Panggungharjo Sewon Bantul. Berarti, sudah lebih satu tahun Gus Zainal meninggal dunia, lebih satu tahun pula kami (para santrinya) menjalani hidup tanpa seorang welas-asih sepertinya. Lanskap keindahan Krapyak saat-saat masih ada surga Gus Zainal, ternyata, sudah satu tahun lebih aku tinggalkan.
Betapa cepatnya waktu berlalu. Kenangan nun jauh di masa lalu, bagai baru saja terjadi. Sungguh, aku tak pernah sekali-kali merasa kenangan itu telah satu tahun aku alami. Aku merasa kenangan itu baru kemarin saja terjadi.
Sebegitu lesatnya aku dewasa. Jogja telah mengasuhku sekitar dua tahun yang lalu (aku berangkat ke Jogja tgl 17 Agustus 2006). Tapi, mengapa aku masih merasa baru kemarin menginjakkan kaki di Jogja? Ya, baru kemarin..., itulah kata yang sedang menyeruak di kepalaku.
Ingatan akan waktu-waktu di Krapyak, kini begitu sangatlah dekat, sedekat api dan panas. Sungguh luruh hatiku ketika selintas lalu kenangan itu mengakar di pikiranku. Masa-masa itu adalah masa-masa kerianganku menjalani hidup di Jogja. Keriangan yang barangkali tak akan pernah aku alami kembali. Kini kenangan itu menjelma kerinduan yang luar biasa. Serasa tak sanggup aku mengingat-ingat kembali masa-masa yang sangat indah itu.
Kenangan itu, masih lekat di kepalaku:
Gus Zainal selalu berpesan kepadaku sama Yasin (anak Cilacap itu), sebelum berangkat ke pasar Prawirotaman untuk belanja keperluan Angkring kami, supaya hati-hati kalau lewat di jalan Krapyak. “Karena jalan itu sempit. Terkadang ada orang yang kebut-kebutan di sana. Kalau boncengan harus pakai ontel yang ada remnya! Ya udah, sana berangkat,” katanya.
Lalu aku sama Yasin boncengan, berangkat ke pasar. Dari jauh, aku melihat sosok “guru kehidupanku” itu memakai kaos putih tipis, songkok putih, sarung biru kotak, dan tak lupa dengan rokok Super-nya, melempar senyum dan gelengan kepala kepada kami. Setiap pagi, pengalaman semacam itu kerap kami alami. (Kalau mengingatnya kembali, betapa aku selalu tak bisa menahan tangis).
Satu momen penting ketika tulisanku untuk pertama kalinya (resensi paling atas) di muat di koran Seputar Indonesia. Gus Zainal pernah marah kepadaku saat aku sulit dibangunkan olehnya untuk berjemaah shalat subuh. Tapi kemarahan itu tampak hanya setitik saja, selayaknya orang yang tidak marah. Beliau bilang, “Wah, kalau gini, mendingan Fakih berhenti saja jualan Angkringan”. Itu kata-kata yang agak menyakitkan yang pernah kurasakan dari Gus Zainal. Dan aku rasa kata itu menyakinkan karena kesalahan aku juga.
Sehabis magrib, setelah Gus Zainal memberi tausiah, Gus Zainal ngasi informasi kepada teman-teman santri. Beliau berkata, “Mulai sekarang, Fakih saya tahbiskan sebagai penulis sejati. Saya harap Fakih berjanji kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah meninggalkan dunia ini. Dan mulai saat ini juga, Fakih jangan jualan Angkringan lagi. Mendingan kamu fokus menulis. Biar Fathur yang menggantikanmu”.
Suatu kebanggaan dan sekaligus pukulan kepadaku. Aku merasa, Gus Zainal memecatku berjualan angkringan lantaran aku sulit bangun pagi. Tapi biarlah, saat itu aku benar-benar merasa bangga. Guruku tercinta itu telah menahbiskanku sebagai seorang penulis. Dan itu wasiat terakhir kepadaku, agar aku tidak main-main dalam dunia ini. Semoga saja aku tetap kuat berpegang teguh pada wasiat itu.
Mulai saat itu aku berhenti berjualan angkringan, dan fokus untuk belajar membaca dan menulis. (12-09-08). Bersambung.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar