Jumat, 05 September 2008

TENTANG LAPAR DAN HAYALAN MASA DEPAN

Barangkali adalah kebiasaan dalam hidup perantauanku bahwa lapar telah menjadi kata sederhana dari penderitaan. Perasaan, yang kiranya belum merasa siap dengan kondisi semacam ini menuntutku untuk menafsirkan hidup secara parsial, bahwa aku adalah sosok manusia yang kerap kali dibohongi oleh pengandaian atau hayalan akan masa depan. Sebuah masa depan yang dulu aku hayalkan, ternyata tak sekali-kali mengasuhku dengan benar.

Bahwa hayalan-hayalan itu telah mendorongku untuk tidak mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi real yang harus aku dihadapi. Hayalan-hayalan itu rupanya hanyalah bualan yang menjanjikan apapun dari segenap kesenangan pada si penghayal, yang dalam hal ini adalah aku. Aku merasa bahwa ternyata aku belum memafhumi bagaimana sebuah proses hidup selalu tak lepas dari pengorbanan, dalam pengertian yang sebenarnya. Sebuah pengorbanan keras yang secara tidak sadar sangat bertolak belakang daripada sebuah hayalan. Sebuah pengorbanan yang tak sempat aku bayangkan dulu akan menjadi sedemikian rumitnya. Sebuah pengorbanan yang tak sebanding dengan apa yang aku harapkan, dengan apa yang kerap kali aku hayalkan.

Oleh karena hayalan-hayalan akan sempurnanya hidup yang ternyata kini telah memberiku segala kebohongan, membuatku heran, mengapa sebuah proses demikian sulitnya ditempuh. Jika tidak ingin benar-benar belajar pada sebuah proses dengan baik, barangkali seseorang akan menyudahinya dengan suka cita. Tapi aku…tak pernah sekali-kali membayangkan akan seperti itu. Aku telah memutuskan, bahwa apapun yang mesti kutempuh walaupun dengan darah sekalipun aku membayarnya, aku akan tetap bertahan dalam pilihan hidup semacam ini. Aku ingin membuktikan bahwa kesusahan dan penderitaan apa pun macamnya akan bermuara pada kebahagiaan juga. Dan untuk saat ini sampai kapan pun aku tidak akan sekali-kali percaya lagi pada hayalan. Aku yakin akan hal itu.

Kini aku hanya tak ingin diperdaya olah hayalan-hayalan untuk yang kesekian kalinya. Aku ingin bangkit dengan kesadaran bahwa hidup memang tidak semudah yang dibayangkan oleh orang-orang yang hanya mampu berhayal. Segala cobaan dan penderitaan yang menerpa hidup manusia barangkali adalah semacam bualan yang hanya membuang-buang waktu jika dipikirkannya. (12 April 2008).

2 komentar:

rimba palangka mengatakan...

salam kenal kang mafasy...setelah saya baca-baca ternyata anda adalah santri Gus zaenal...maka perkenankanlah saya ucapkan salam kenal dari saya yang pernah menjadi santrinya walaupun hanya sebentar....dan sebatas dalam sebuah perbincangan....salam buat Durrohman...

Muhammad Ali Fakih AR mengatakan...

kalam kenal juga kang..kang durrohman sekarang di mana? gak mau main ke pondok toh? seluruh santri gus zainal adalah sekeluarga kang, meskipun cuma mondok sebentar