Selasa, 30 Desember 2008

Maafkan Aku, Blogku!



Wahai blogku, diriku yang lain, sudah lama aku tak mengunjungimu. Sungguh aku minta maaf. Selama ini aku sering disibukkan oleh banyak hal: konsentrasi menulis di media, belajar intens membaca buku, diskusi, free talk-kan dengan seorang wanita yang semu, berangan-angan, berhayal, dan belajar terus berdekat-dekatan dengan Tuhan.
Jadi sebenarnya ada banyak hal pula yang dapat aku tuliskan saat-saat menjalani pekerjaan itu. Namun entah mengapa, aku selalu lupa atau selalu merasa tidak punya waktu untuk menuliskannya. Aku sangat menyesal karenanya, blogku.
Sebenarnya aku sangat yakin bahwa pada saat yang lain aku bisa menuliskannya. Tapi ternyata, setelah mencoba kembali untuk mengingat-ingatnya, aku sudah tidak bisa.
Blog, sekarang aku sadar, bahwa ternyata pengalaman penting itu harus segera ditulis pada saat dimana pengalaman itu sedang aku jalani. Selain agar perasaanku selalu kuat memberi menggali kedalaman pada setiap tulisan, juga agar kita dapat saling bertegur sapa. Mulai saat ini aku berjanji, jika pengalaman-pengalaman berharga itu datang, aku akan cepat-cepat menuliskannya.
Sekali lagi maafkan aku, blogku. Aku telah berdosa karena sudah lama tidak mengunjungimu. Mari mulai saat ini, kita jadi karib lagi. Jika aku salah, tolong doakan aku supaya kembali ke jalan yang benar. Jika kau salah, aku akan memanggil temanku yang pandai mengolah blog, dan akan membetulkan kesalahan itu. Okey! (24-12-2008).

Rabu, 03 Desember 2008

KEMANAKAH DIRIMU, KEKASIH?



Tuhanku, kemanakah diriMu? Aku di sini menungguMu dengan tangis yang kosong, dengan diri yang beku. Lama. Oh, sungguh lama sekali, kekasih! Hingga kukira hidup ini adalah kesendirian yang sempurna. Atau sekedar arena pencarian yang tak akan pernah memberikan perjumpaan. Atau justeru tempat dimana keterasingan adalah keniscayaan. Kalau begitu, apa arti hidup ini, kekasihku? Mengapa Kau cipta rasa cinta dan rindu dalam diriku?

Kemanakah diriMu, kekasih? Kemanakah?

Hari-hariku selalu hampa dalam rindu yang patah. Dalam cinta yang tak tersua. Aku sudah muak dengan perjumpaan yang dipaksakan ini, kekasih. Aku tak mau lagi bersusah-payah mengekalkan diriMu dalam jiwaku, sementara Kau tak pernah sekali-kali mengekalkan jiwaMu dalam diriku. Aku tak mau hidup ini layaknya fatamorgana. Yang kumau adalah sebuah keyakinan bahwa Kau ini sungguh Ada.

Kemanakah diriMu, kekasih? Kemanakah?

Benar memang kekasih, shalatku tak sempurna. Demikian pula zakat dan puasaku. Tapi apakah semua itu adalah ukuran dari kuatnya sebuah cinta dan kerinduan? Tidak. Sama sekali tidak. Karena aku tak pernah berfikir bahwa rasa cinta dan rinduku kepadaMu lebih dangkal daripada mereka yang sempurna shalat, zakat dan puasanya. Aku hanya tahu, rinduku padaMu benar-benar ada dan sempurna. Bahkan karena begitu dalam dan sublimnya, hingga tak dapat tertanggungkan kata-kata.

Kemanakah diriMu, kekasih? Kemanakah?

(4/12/2008).