Sabtu, 03 Desember 2011

SURAT BUAT EMAK DI MALAYSIA

Mak, udara Idul Adha tadi pagi sangatlah dingin, cuaca menjadi sangat sunyi dan suasana terbawa ke dalam rasa sedih. Tidak ada hal yang istimewa ketika tadi aku bangun tidur. Tidak mendengar celoteh adik atau senyum nenek. Aku bangun sendiri, Mak, sendiri saja. Tidak terdengar omelanmu yang selalu memekakkan telinga di saat kamu membangunkanku. Tidak terasa cucuran air di mukaku yang biasa kau lakukan agar aku cepat-cepat bangun. Di samping bantalku, aku tidak melihat sebungkus kembang dan daun pandan untuk nanti sebagai bekal ziarah ke makam para leluhur.

Gema takbir yang terdengar di sana-sini membuat dadaku sesak, Mak. Sehabis shalat subuh aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku hanya bisa bertawassul dan membaca surat Yaa Sin sendiri kepada para leluhur sambil tak kuasa menahan tangis. Aku minta maaf, Mak, hari ini tidak bisa ziarah ke makam-makam mereka. Aku hanya bisa bermunajat sendiri di dalam kost yang sempit dan kumuh sambil merasakan desir angin Jogja yang menggigilkan.

Tahukah kau, Mak, tadi pagi tidak ada orang yang menawariku makan jajan atau mencicipi kuah gule yang biasa dibuat nenek. Bukan karena aku lapar, sebab semalam aku sudah mempersiapkan makanan kecil, minuman dan rokok untuk sarapan pagi. Tetapi rasanya, Mak, sangatlah hambar. Aku rindu pada nenek yang biasa langsung menawariku makan setelah aku shalat subuh. Aku rindu kepadamu yang biasa menawariku jajan sebelum berangkat ke makam.

Aku memang sengaja tidak langsung menelponmu atau menelpon nenek dan adikku di rumah, karena aku belum bisa meredam air mata dan sedu sedan. Aku takut engkau terbebani dengan rasa sedihku. Aku takut engkau tak tenang di Malaysia. Aku ingin kau hidup tenteram, tak terbebani dengan sesuatu pun, dan menjalani hidup normal sebagaimana orang kebanyakan. Aku ingin kau bahagia di sana, Mak, meski jauh dari sanak keluarga. Aku tak ingin menambah bebanmu yang sungguh berat itu. Aku ingin kau tersenyum. Aku ingin kau bahagia.

Kepada nenek dan adik di Madura, aku tidak terlalu risau, sebab di sana mereka masih bisa tersenyum dan bersenda gurau dengan para saudara. Mungkin aku hanya merindukan mereka saja, tidak lebih dari itu. Tetapi terhadap kamu, bagaimana aku tidak rindu dan risau, sedang kau di Malaysia sendirian tanpa satu pun sanak keluarga. Aku kasihan padamu, Mak, sungguh kasihan sekali.

Selepas shalat Id, yang kutelpon pertama kali bukanlah siapa-siapa, tetapi kau Mak. Mendengar suaramu, aku gembira campur sedih. Sungguh aku ingin sekali menangis. Meskipun nada suaramu datar-datar saja, aku merasa suara itu datang dari jiwa yang gundah gulana. Apalagi saat kau bilang bahwa kau tidak bisa melaksanakan shalat Id, karena kau harus menjaga bayi majikanmu, kerongkonganmu serasa serak, air mata tak bisa lagi di bendung. Di dalam pikiranku, berkecamuk berbagai macam hal. Aku benci pada keadaan, aku benci pada diriku sendiri. Mengapa kejadiannya bisa seperti ini? Mengapa engkau yang kucintai harus terasing dengan kehidupan yang telah bertahun-tahun engkau jalani dengan perasaan yang tenteram dan damai seperti halnya di kampung kita dulu?

Aku begitu sangat merasa berdosa dan merasa sebagai anak yang tak berguna sebab membiarkanmu harus pergi jauh dari rumah, dari tempat di mana kau bisa merasakan hidup yang sebenarnya. Maafkanlah aku, Mak, maafkanlah aku. Aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk hidupmu. Tetapi di dalam dadaku, terpatri janji, bahwa bila kelak aku sudah cukup mampu membiayai hidupmu, akan kuistimewakan hidupmu. Aku ingin kau tinggal di rumah saja. Tidak usah bekerja ke mana-mana. Cukup bertani ringan saja di rumah. Segala kebutuhanmu akan aku penuhi. Akan kubuat kau jauh dari kehidupan sengsara yang telah menjeratmu bertahun-tahun lamanya. Aku ingin kau bahagia. Aku ingin membuatmu bahagia. Ini janjiku, Mak. Semoga Allah mengabulkannya. (06 November 2011).***

AKU INGIN HARI RAYA SEPANJANG HARI

Aku ingin hari raya sepanjang hari, sebab di waktu-waktu itulah aku bisa mendengar takbir di mana-mana. Gema takbir di corong-corong masjid seakan-akan menyuruhku untuk senantiasa memuji Allah. Di waktu-waktu itulah aku sangat bisa menikmati lantunan takbir sendirian, sambil mengunci kamar dan menangis di hadapan Allahku. Aku bisa ”bercengkrama” dengan Allah sepanjang hari, di mana-mana, lebih-lebih di ceruk terdalam dari hatiku.

Sudah dua lebaran ini (Idul Fitri dan Idul Adha 2011) aku merasakan betapa menangis bahagia di hadapan Allah sungguh amatlah nikmat rasanya. Di tengah-tengah lantunan takbir aku bersungkur diri tersebab diriku yang tak berdaya, penuh dosa dan tak mampu memikul tanggung jawabku sebagai manusia. Di tengah-tengah lantunan takbir aku merasa bangga dengan Allahku yang telah memberiku hidup, memberiku alam semesta, memberiku waktu, memberiku kesedihan, memberiku duka, memberiku harapan, memberiku keindahan, memberiku apa saja yang tak ternilai harganya.

Di malam-malam lebaran aku bisa bertakbir sepanjang malam, bercengkerama dengan Allahku dengan penuh damba dan cinta. Aku sungguh-sungguh merasa sebagai hamba, ’abdun, sesuatu yang begitu kudambakan sepanjang hidup. Aku lihat langit, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat masa lalu, hanya Allahlah yang ada. Aku lihat diriku, hanya Allahlah yang ada. Allah ada di mana-mana, dan aku memujinya, bahkan dengan bulu kudukku. Di malam-malam lebaran, sungguh aku terkesima memandang hidup ini, Tuhan!

Aku ingin hari raya sepanjang hari, sebab di waktu-waktu itulah aku bisa merasakan makna dari kebahagiaan. Aku seperti anak kecil yang di malam-malam lebaran hatinya berbunga-bunga. Mereka menyulut petasan karena bahagia. Mereka meneriak-neriakkan takbir sambil menabuh apa saja dengan nada yang seperti apa saja karena bahagia. Mereka amatlah bahagia sekali menyambut datangnya hari raya. Apalagi ketika pagi-pagi berangkat ke masjid, sungguh kebahagiaan telah menjadi miliknya yang suci. Kebahagiaan anak-anak kecil di waktu lebaran adalah kebahagiaan yang abadi. Dan aku merasakannya saat ini.

Setiap sore menjelang, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Besok lebaran”. Setiap malam aku ingin berbunga-bunga sambil berkata pada diriku sendiri, ”Sekarang malam lebaran”. Setiap bangun pagi, aku ingin berkata pada diriku sendiri: ”Sekarang lebaran”. Aku ingin kebahagiaan hari lebaran tak lekang dari hatiku. Aku ingin bertakbir setiap hari, aku ingin lebaran setiap hari. ”Allahku, sambutlah kebahagiaan hari lebaranku sepanjang hayat!”. (06 November 2011).