wajahku seringkali tersesat dalam bau cuaca
yang tiada bosannya memukul ladang dan sawah
bahkan tumbuhan yang kutanami dan kusirami sendiri
menusuk-nusuk mataku hingga berdarah
dan entah kenapa, warna darah selalu mengingatkanku
pada kata-kata yang kau tanam bersama bunga-bunga
yang tak sempat mengajariku arti wewangian
apakah bau cuaca pernah mengajarimu
arti musim kemarau
yang menafsiri musim hujan
kala bertandang dan hilang?
barangkali karena ladang dan sawah telah jadi hutan-hutan
hingga kita kehilangan arah
dalam mencari notasi tiap-tiap musim
Jogja, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar