Rabu, 10 September 2008

Aku Jadi Cuti Semester Ini


Hari ini (040908) aku benar-benar resmi jadi cuti. Cuti untuk satu semester, semester tiga. Tadi aku minta surat cuti ke bagian TU fakultas saintek. Dengan melalui proses birokratis yang sedikit rumit dan pertimbangan dari TU yang agak berbelit-belit, akhirnya semuanya jadi beres. Ini merupakan pengalaman pertamaku cuti kuliah.
Aku terkesan dengan introgasi dan wejangan bapak TU. Dia bilang kepadaku bahwa cuti itu tidak baik manakala tidak ada keperluan jangka panjang yang mendesak yang bertujuan sebagai pengembangan diri. Cuti, lanjutnya, hanya menjadi jalan penghambat bagi keberlangsungan materi kuliah. “Kamu akan ketinggalan dari teman-temanmu. Dan parahnya, bisa-bisa kamu akan lupa terhadap pelajaran pada semester-semester sebelumnya kalau kamu tidak berusaha mengulang dan mempelajarinya kembali,” lanjutnya.
Aku mengerti, dia bilang seperti itu bukan tanpa alasan. Aku juga tahu kalau cuti itu hanya akan menjadi jangka-waktu kevakuman jika tidak di isi oleh aktifitas pendukung lainnya. Tapi keputusanku untuk cuti juga bukan tanpa alasan. Barangkali alasan yang paling utama ialah karena tidak adanya biaya pembayaran kampus. Dan juga karena aku belum bisa membayar hutang ke fakultas sebesar 850.000. Hutang itu buat pembayaran pada semester kemarin. Itu saja mungkin cukup sebagai alasan yang berkenaan dengan birokrasi kampus.
Tapi menurutku, alasan eksternal kampuslah yang paling signifikan. Sebenarnya aku memutuskan cuti berawal dari kebingungan. Pada semester dua aku sudah merasa jenuh dan emoh lagi kuliah di saintek (UIN). Karena disamping pembayarannya yang terlalu mahal (yakni, 850.000), juga karena jam pelajarannya sangat padat (untuk ukuran maksimal, aku masuk kuliah dari jam 07.00 sampai jam 17.30). Buat alasan yang pertama, aku rasa, untuk ukuran seorang penulis yang tidak produktif dan orang yang tidak bisa memenej uang dengan baik sepertiku, sangat sulit mendapatkan atau menyimpan uang sebanyak itu selama satu semester.
Terus, buat alasan yang kedua, aku rasa jam pelajaran sepanjang itu bisa dikategorikan sebagai pembodohan terhadap mahasiswa. Apalagi ditambah sistem kredit absensi 75%: mentalitas dan dinamisasi aktifitas mahasiswa menjadi kerdil dan terkekang. Sementara aku tidak suka dengan kekakuan seperti itu. Bagiku, mahasiswa itu harus diberi ruang yang lebih luas untuk kebebasan ekspresinya. Karena kaum muda sepertiku selalu ingin memberontak jika hak kebebasannya dikekang.
Alasan selanjutnya, dan ini yang kiranya yang paling riskan, aku sudah merasa suntuk bergabung dengan orang-orang yang kaku, seperti teman-teman kelasku. Entah mangapa aku punya pikiran seperti ini kepada teman-temanku sendiri. Tapi yang jelas mereka bagiku sangatlah tidak menyenangkan. Mungkin karena kesenangan mereka tidak sama denganku. Dan dugaan itu ternyata benar. Sikap dan sifat mereka membuatku juga merasa jengah dan terkekang. Ya, terkekang karena mereka ada yang terlalu sok serius, tidak familiar, sok pintar, sok tidak fair dan sifat serta sikap lainnya yang tidak aku senangi dari mereka. Aku selalu tidak merasa kerasan di kelas karena tidak kuat menanggung persoalan itu. Pergaulanku di kelas sangat kaku, bahkan jika bisa dikatakan lebih dari itu.
Teman-temanku banyak yang tidak mengerti tentang keinginan-keinginanku dan tidak sepaham denganku, begitu pun juga sebaliknya. Meskipun aku sadar, mungkin hal itu dikarenakan aku belum bisa masuk dalam dunia mereka, aku merasa sangat bosan jika harus berkumpul dengan mereka selama bertahun-tahun dalam kadar kekakuan yang tetap.
Akhirnya aku jadi bingung. Bingung bagaimana caranya berteman baik dan fair dengan mereka dan bagaimana caranya aku menjadi mahasiswa yang agak kaku sedikit, seperti kebanyakan anak-anak saintek. Sungguh aku sangat bingung dengan permasalan ini. Di satu sisi, aku mulai merasa emoh berteman dengan orang-orang yang kaku seperti itu, dan di sisi lainnya, aku ingin mempunyai prinsip dan berteman dekat dengan mereka. Makanya aku lebih memilih mengendapkan diri sejenak dari jerembab ruang yang tidak memberikan inspirasi kepadaku itu. Pendeknya, cuti ini kuambil ialah sebagai jalan proses melebur dalam dunia teman-teman. Aku tidak ingin kehilangan mereka, karena aku mencintai dan menyayangi mereka. Karena itu pula aku cuti. (Maaf teman-teman, aku sudah menyinggung keras kalian. Tapi yang pasti hal ini benar-benar aku rasakan dari kalian).
Itulah beberapa alasan-alasan mengapa aku memutuskan untuk cuti. Semoga pada semester selanjutnya aku bisa mengatasi permasalahan-permasalahanku itu. Amien.....!(05/09/08).

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Bang mau nanya sehabis cuti kuliah apakah tidak satu kelas lagi sama teman" seangkatan contohnya (kaya pas SMA kalau tidak naik kelas akan mengulang sama adik kelas) atau gimana mohon jawab