Selasa, 03 Juni 2008

APOLOGIA MAFASYIRUS 1

jalan-jalan merentang. langit berkaca-kaca
debu kerikil berhamburan mencari istirahnya

hari-hari bercahaya. tanah-tanah lapang
pohon-pohon tumbang. musim-musim berguguran

jalan-jalan mayapada
waktu letih mencatatnya

Jogja, 2008

APOLOGIA MAFASYIRUS 2

o. angin, kemanakah tualang?

pasir-pasir bidadari kesunyian
karang-karang pecah berbantun ombak
gelombang bertandang dan pulang

tapi dimanakah cakrawala?
di kanvas pantai tiada jejaknya

jarak dan waktu tersipu bisu
di lubuk layar sampan-sampan itu

pohon-pohon condong ke laut
dan langit kian mengembang
matahari dan bulan merangkai biasnya
di delta-delta muara

lalu musim demi musim terasing
dari lanskap dunia

Jogja, 2008

BERSAMPAN

bersampan aku seorang diri
menyulam wajahmu pada rona senja
pada pendar ombak dan nyala bebuih

kuistirahkan mimpi tanah dan tetumbuhan
pada matahari dan awan
yang setia menenggakku
dari cawan misteri kasihmu

tapi sampan ini tak akan pernah mengerti, sayang
arti keindahan dan kesunyian
bila kau tak paham warna pelangi:
kilau embun bumi sendiri

Jogja, 2008

RITUS PENCARIAN

1
berapa banyak lagi hutan yang mesti kubuka jalan
untuk bertanya pada batu dan belukar
tentang bagaimana mereka menangkap
matahari dan bulan

karena pada jalan-jalan itu
selalu tumbuh kerikil dan rerumputan
yang padanya kau cipta sejumlah luka

maka terkadang aku merasa bosan
memelihara pohon sidrah kutukan ini
terkadang pula ingin terus kuselami
lubuk kemarau dan hujan
yang tak pernah memberiku
makna siang dan malam

2
mengapa kau tak pula mendekapku
meski harus aku kembali
membakar debu kata-katamu itu

bahkan kau cipta keterasingan di jiwaku
kala kutatap kesunyian pada api itu

aku tahu, sayang
bara lahir dari rahim nyala
tapi sungguh kau serupa udara
yang membuat api itu berkobar

maka seringkali aku bertanya-tanya
haruskan aku membakar tubuhku yang asing ini
agar kau paham arti jati diri
yang pada wajahmu sedang menjelma misteri

Jogja, 2008

LAGU MUSIM-MUSIM

wajahku seringkali tersesat dalam bau cuaca
yang tiada bosannya memukul ladang dan sawah
bahkan tumbuhan yang kutanami dan kusirami sendiri
menusuk-nusuk mataku hingga berdarah

dan entah kenapa, warna darah selalu mengingatkanku
pada kata-kata yang kau tanam bersama bunga-bunga
yang tak sempat mengajariku arti wewangian

apakah bau cuaca pernah mengajarimu
arti musim kemarau
yang menafsiri musim hujan
kala bertandang dan hilang?

barangkali karena ladang dan sawah telah jadi hutan-hutan
hingga kita kehilangan arah
dalam mencari notasi tiap-tiap musim

Jogja, 2008

NYANYI SUNYI SEORANG PENUNGGU

wajahmu tak pula tumbuh bersama bunga-bunga
di lengkung mataku. dan bahkan senja
telah membeku di cakrawala
memendam kutukanku pada pantai
dan bau tubuhmu pada karang

maka bangunlah sebuah rumah
dari bulir-bulir pasir itu. hiasilah ia
dengan keindahan yang kau cipta dari dosaku
sebuah kealpaan yang tak akan pernah kusesali

karena barangkali kita bukan lagi daun
yang gugur di musim kemarau
dan bangkit di musim semi
bukan pula mercusuar yang tumbuh di atas misteri

kurasa telah cukup silih berhanti musim mengajarimu
tentang kehadiran matahari dan bulan
yang selang-menyelang menunggu kematianku

Jogja, 2008

NARASI MALAM

ketika malam telah menghitam
perahu-perahu tertidur di atas karang
debur ombak bagai kegelisahan pepasir
menangkap arah mata angin

tatapan langit pada laut telah membutakanku
bahkan pada diriku sendiri
segalanya tampak padaku
memandam warna yang sama

barangkali ini malam bukanlah impian
bagi seorang buta. perahu-perahu pula
tak dapat menuntun tongkatnya ke tengah samudera

ia hanya tahu laut karena ada ombak
tahu karang karena keras merebak
tahu pasir karena dapat menangkap jejak

kesepian dan tangis terendam abadi
dalam dingin sebeku ini
aku ingin sekali kembali berperahu
tak lebih kembali belajar
mengaji diri yang tabu

Jogja, 2008