Jumat, 09 Oktober 2009
CATATAN TENTANG MUSIK
Musik, bagiku, adalah ruang kelam, dimana kenangan adalah ruhnya. Aku tak benar-benar bisa mengatakan bahwa aku adalah seorang melankolis. Aku berfikir, kenangan kadang menyesatkan seseorang, karena menurutku manusia adalah masa depan, dan karenanya kenangan tak mendapatkan tempat untuk itu. Aku termasuk seseorang yang berpikir tentang masa depan, tentang pembangunan, tentang sebuah impian. Tapi dengan musik, segalanya menjadi berubah.
Tiba-tiba aku merasa bahwa masa depan begitu jahat, serupa pembunuh yang siap dengan parangnya menunggu manusia. Tiba-tiba masa depan seperti suatu masa yang amat mencekam.
Barangkali hanya kata ”rindu” yang cukup berdamai denganku. Rindu dan musik, akan halnya tangkai dan bunga, kapas dan api, pagi dan dingin. Rindu adalah semacam ruang dimana waktu yang telah jauh ditinggal bangkit kembali memanggil-manggil kita. Suatu waktu yang bahkan kita tak akan melupannya selamanya, selama hidup kita. Dan itu, sepengalamanku, musiklah yang
Ketika musik mengalun, aku seperti seseorang yang tak pernah ada. Segalanya menjadi asing. Bahkan diriku sendiri. (09 Oktober 2009).
Label:
cathar
Tentang Pemikir Indonesia Paling Unik dan Brilian
(Hidayat Nataatmadja)
Hidayat Nataatmadja, aku baru mengenalnya sekitar pertengahan tahun 2007 lewat karya keroyokannya, yakni Ilmu Humanistik. Ia barangkali tidaklah begitu terkenal dan tenar seperti, misalnya, Nurcholis Madjid, Selo Sumardjan, Ahmad Baiquni atau ilmuwan-ilmuwan Indonesia lainnya. Ia bagai seluet merah yang lebih panas menyala di tengah-tengah gemerlap cahaya.
Mengapa ia tidak menjadi begitu terkenal, sebuah pertanyaan yang kadang menggelisahkanku. Tetapi tidak lama setelah aku cari tahu ternyata ialah karena pendiriannya yang keras dan “tanpa aturan ilmiah” sehingga menjadikannya terkucilkan – untuk tidak mengatakan dikucilkan – di tengah-tengah aktivitas intelektualisme kita. Watak Hidayat memanglah begitu: keras, kasar, sangar, “narcis”, “sombong dan sok”, “tanpa aturan”, “serabutan”, serta stereotip-stereotip negative intelektualitas lainnya; itu bisa dilihat dari tulisan-tulisannya.
Namun meski demikian, melalui karya-karyanya kesadaranku kemudian menjadi tergugah, sehingga akhirnya aku dapat menyimpulkan bahwa perangkat dasar seorang ilmuwan adalah logika dan imajinasi. Logika dan imajinasi yang dimaksud di sini adalah apa yang dapat dikatakan sebagai “logika terbalik” dan “imajinasi tingkat tinggi”. Logika terbalik ialah pola pikir yang cenderung bertolak dari frame umum, yaitu, misalnya, bila kebanyakan orang memandang bulu, mata, suara dan objek lainnya untuk mengambil pengetahuan mengenai kucing, maka ia mengambil jalan dengan menganalisanya dari sudut pandang tikus sebagai mahluk yang menjadi musuh utama kucing. Sementara imajinasi tingkat tinggi adalah, misalnya, apabila orang kebanyakan berimajinasi mengenai tata surya, maka ia lebih dari itu, yakni alam semesta secara umum.
Apa yang diajarkan Hidayat secara tersirat dalam tulisan-tulisannya terletak pada dua hal tersebut. Tulisan-tulisannya memanglah serabutan. Ia kerap kali bicara tentang agama, pancasila, teori ekonomi dan teori fisika dalam satu pokok tulisan. Hal ini yang sering membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenanya diinginkan oleh Hidayat? Mengapa ia tidak menggeluti ilmu ekonomi – catatan: ia meraih doctor ekonomi di salah satu universitas Amerika – sebagai strudi utamanya ketimbang serabutan yang seperti tidak “menemukan arah”?
Prosedur dalam tulisan-tulisannya rata-rata tidak memenuhi aturan ilmiah. Cara ia menyampaikan demikian juga: kadang ngelantur, kasar, bertele-tele, juga sama sekali keluar dari batas kewajaran karya ilmiah. Akhirnya hal ini berkonsekuensi pada nalar analitis yang dibangun di dalam tulisannya tersebut. Sebagai contoh, apa yang ia munculkan seperti teori psy-war dan Ilmu Humanistik versinya sebenarnya merupakan ide yang amat brilian, tetapi karena tidak ditopang oleh keseriusan cara penulisan, teori dan ilmu yang dibangunnya tersebut tidak memenuhi standart atau criteria umum untuk diterima publik.
Dia memang satu-satunya pemikir yang memiliki frame dan wilayah garapan paling unik di antara pemikir-pemikir lainnya di Indonesia yang aku kenal. Tetapi ide-idenya, inovasi pemikirannya, kecermatan pembacaan dan kedalaman renungannya sangat luar biasa. Membaca karya-karyanya sering aku dibuat tertegun dan bertanya-tanya, bagaimanakah pemikiran Hidayat sampai pada batas wacara yang tidak sempat dipikirkan atau dirambahi oleh orang sebelumnya?
Ia adalah penemu teori-teori bahkan cabang disiplin ilmu baru yang mencengangkan. Seakan ia tidak mau berkarya dengan ide-ide yang basi dan “linier”, tetapi ia hanya ingin berkarya dengan segepok pemikiran yang betul-betul murni sebagai pencapaian yang sangat mengesankan. Tetapi sayang – mungkin karena a priori-nya terhadap prosedur ilmiah – teori-teori dan ilmu baru yang ia bangun tidak ditopang oleh kejernihan dan kedalaman karya dengan batas yang menggembirakan. Teori-teori dan ilmu barunya bagai bangunan rumah yang hanya diselesaikan dasarnya, tetapi tidak seutuhnya. Mungkin karena hal inilah teori-teori dan ilmu baru Hidayat minim apresiasi publik, bahkan dicibir dan dicemooh.
Tetapi terlebih dari itu, aku betul-betul mengagiminya, salut dengan semangat dan cara ia memandang sesuatu. Ia menguasai banyak hal, dari ekonomi, fisika, al-ghazali, dan pancasila, dan ia juga tahu bagaimana ia mesti membalas hutang budi dengan mengembangkan ilmu-ilmu itu. Ia adalah fenomena bagi dunia keintelektualan Indonesia. Ia adalah tonggak yang bertuliskan, “kita jangan hanya jadi konsumen ilmu, tetapi juga harus jadi produsen”. (04 Oktober 2009).
Hidayat Nataatmadja, aku baru mengenalnya sekitar pertengahan tahun 2007 lewat karya keroyokannya, yakni Ilmu Humanistik. Ia barangkali tidaklah begitu terkenal dan tenar seperti, misalnya, Nurcholis Madjid, Selo Sumardjan, Ahmad Baiquni atau ilmuwan-ilmuwan Indonesia lainnya. Ia bagai seluet merah yang lebih panas menyala di tengah-tengah gemerlap cahaya.
Mengapa ia tidak menjadi begitu terkenal, sebuah pertanyaan yang kadang menggelisahkanku. Tetapi tidak lama setelah aku cari tahu ternyata ialah karena pendiriannya yang keras dan “tanpa aturan ilmiah” sehingga menjadikannya terkucilkan – untuk tidak mengatakan dikucilkan – di tengah-tengah aktivitas intelektualisme kita. Watak Hidayat memanglah begitu: keras, kasar, sangar, “narcis”, “sombong dan sok”, “tanpa aturan”, “serabutan”, serta stereotip-stereotip negative intelektualitas lainnya; itu bisa dilihat dari tulisan-tulisannya.
Namun meski demikian, melalui karya-karyanya kesadaranku kemudian menjadi tergugah, sehingga akhirnya aku dapat menyimpulkan bahwa perangkat dasar seorang ilmuwan adalah logika dan imajinasi. Logika dan imajinasi yang dimaksud di sini adalah apa yang dapat dikatakan sebagai “logika terbalik” dan “imajinasi tingkat tinggi”. Logika terbalik ialah pola pikir yang cenderung bertolak dari frame umum, yaitu, misalnya, bila kebanyakan orang memandang bulu, mata, suara dan objek lainnya untuk mengambil pengetahuan mengenai kucing, maka ia mengambil jalan dengan menganalisanya dari sudut pandang tikus sebagai mahluk yang menjadi musuh utama kucing. Sementara imajinasi tingkat tinggi adalah, misalnya, apabila orang kebanyakan berimajinasi mengenai tata surya, maka ia lebih dari itu, yakni alam semesta secara umum.
Apa yang diajarkan Hidayat secara tersirat dalam tulisan-tulisannya terletak pada dua hal tersebut. Tulisan-tulisannya memanglah serabutan. Ia kerap kali bicara tentang agama, pancasila, teori ekonomi dan teori fisika dalam satu pokok tulisan. Hal ini yang sering membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenanya diinginkan oleh Hidayat? Mengapa ia tidak menggeluti ilmu ekonomi – catatan: ia meraih doctor ekonomi di salah satu universitas Amerika – sebagai strudi utamanya ketimbang serabutan yang seperti tidak “menemukan arah”?
Prosedur dalam tulisan-tulisannya rata-rata tidak memenuhi aturan ilmiah. Cara ia menyampaikan demikian juga: kadang ngelantur, kasar, bertele-tele, juga sama sekali keluar dari batas kewajaran karya ilmiah. Akhirnya hal ini berkonsekuensi pada nalar analitis yang dibangun di dalam tulisannya tersebut. Sebagai contoh, apa yang ia munculkan seperti teori psy-war dan Ilmu Humanistik versinya sebenarnya merupakan ide yang amat brilian, tetapi karena tidak ditopang oleh keseriusan cara penulisan, teori dan ilmu yang dibangunnya tersebut tidak memenuhi standart atau criteria umum untuk diterima publik.
Dia memang satu-satunya pemikir yang memiliki frame dan wilayah garapan paling unik di antara pemikir-pemikir lainnya di Indonesia yang aku kenal. Tetapi ide-idenya, inovasi pemikirannya, kecermatan pembacaan dan kedalaman renungannya sangat luar biasa. Membaca karya-karyanya sering aku dibuat tertegun dan bertanya-tanya, bagaimanakah pemikiran Hidayat sampai pada batas wacara yang tidak sempat dipikirkan atau dirambahi oleh orang sebelumnya?
Ia adalah penemu teori-teori bahkan cabang disiplin ilmu baru yang mencengangkan. Seakan ia tidak mau berkarya dengan ide-ide yang basi dan “linier”, tetapi ia hanya ingin berkarya dengan segepok pemikiran yang betul-betul murni sebagai pencapaian yang sangat mengesankan. Tetapi sayang – mungkin karena a priori-nya terhadap prosedur ilmiah – teori-teori dan ilmu baru yang ia bangun tidak ditopang oleh kejernihan dan kedalaman karya dengan batas yang menggembirakan. Teori-teori dan ilmu barunya bagai bangunan rumah yang hanya diselesaikan dasarnya, tetapi tidak seutuhnya. Mungkin karena hal inilah teori-teori dan ilmu baru Hidayat minim apresiasi publik, bahkan dicibir dan dicemooh.
Tetapi terlebih dari itu, aku betul-betul mengagiminya, salut dengan semangat dan cara ia memandang sesuatu. Ia menguasai banyak hal, dari ekonomi, fisika, al-ghazali, dan pancasila, dan ia juga tahu bagaimana ia mesti membalas hutang budi dengan mengembangkan ilmu-ilmu itu. Ia adalah fenomena bagi dunia keintelektualan Indonesia. Ia adalah tonggak yang bertuliskan, “kita jangan hanya jadi konsumen ilmu, tetapi juga harus jadi produsen”. (04 Oktober 2009).
Label:
cathar
KEHILANGAN
adakah yang berarti di dunia ini
dan lebih berarti daripada kehilangan
bunga yang tumbuh kini
kelak akan layu dan mati
lalu hilang pesona dan baunya
seperti akan juga kita
hidup memang tak istimewa, kasihku
kini kau milikku
tapi mungkin tidak di saat yang lain
karena setiap perjumpaan
selalu menjanjikan kehilangan
tapi jangan kau takut dan sedih
cinta adalah kemungkinan
yang tak harus dipaksakan
biarkanlah segalanya datang
segalanya menghilang
bagai ombak yang bertandang dan pulang
jogja, 2009
Label:
puisi
SENYUMMU ADALAH MALAM PADAKU
senyummu adalah malam padaku
selalu menyisakan kelam pada mataku yang buta
yang hanya bisa merapal nasib sendiri
di dalam kubangan cinta yang gelap
aku yang terus saja berjalan, bagai hanya terdiam
menekuri butir-butir debu di kakiku
masa depan, seperti juga kenangan
hanya menyediakan kekalahan demi kekalahan
aku tak pernah mampu mengelak segala yang datang padaku
tetapi aku juga merasa tak mampu memilikinya
kisah hidup menjadi sedemikian asing
seperti sinar matamu yang tak menjanjikan apa-apa
kadang aku merasa lelah memikul nasibmu, kekasihku
menyimpan cintamu yang fana
tetapi aku juga tak mengerti
mengapa segala yang kutatap adalah dirimu
mengapa waktu begitu rentan
untuk setiap kenangan
mengapa ia memberikanmu padaku
jika akhirnya kumiliki kau
hanya dalam ingatan
kini aku hanya bisa menulis puisi
belajar menyimpan luka dalam kata-kata
sebab aku tak percaya lagi
pada impian yang membusuk di kepala
jogja, 2009
Label:
puisi
ALIENASI
dalam cahaya, adakah kau lihat mimpi itu
dalam kerling mataku
suara, adakah kau mendengarnya
antara diam dan berkata-kata
antara lengang dan hitam cuaca
sesuatu tak mungkin terjadi, kekasihku
dalam sepi yang menyendiri
sebab pada ketakpastian
segalanya berasal
jogja, 2009
Label:
puisi
DI TANAH INI
di tanah ini, kusunyikan angin
dari aus tubuh, anyir darah
dan nafsu perburuanmu
kulukis musim dengan keheningan langit
kutaburkan sejuta warna dan kisah-kisah
kesucian cinta
kuangkat lagi gugur daun-daun
kumekarkan layu bunga-bunga
– untuk menghapus sisa-sisa jejakmu –
kurekatkan sukmaku ke lubuk sunyi
lalu aku akan berkata, seperti juga mereka:
“mari simpan dalam-dalam
segala rencana dan masa silam
segala mimpi buruk tentang luka dan air mata”
dasuk, 2009
Label:
puisi
DI SAAT JALAN BEGITU KEDAP
di saat jalan begitu kedap
tangan dan mataku
tak mampu berdamai
dengan warna-warna
ada yang tertawa dalam kabut
ada yang menangis dalam pagut
dan waktu ibarat langkah
berderap dalam rahasia
segalanya mengalir
seperti bayang
ke palung pejam
jogja, 2009
Label:
puisi
Langganan:
Postingan (Atom)