(Hidayat Nataatmadja)
Hidayat Nataatmadja, aku baru mengenalnya sekitar pertengahan tahun 2007 lewat karya keroyokannya, yakni Ilmu Humanistik. Ia barangkali tidaklah begitu terkenal dan tenar seperti, misalnya, Nurcholis Madjid, Selo Sumardjan, Ahmad Baiquni atau ilmuwan-ilmuwan Indonesia lainnya. Ia bagai seluet merah yang lebih panas menyala di tengah-tengah gemerlap cahaya.
Mengapa ia tidak menjadi begitu terkenal, sebuah pertanyaan yang kadang menggelisahkanku. Tetapi tidak lama setelah aku cari tahu ternyata ialah karena pendiriannya yang keras dan “tanpa aturan ilmiah” sehingga menjadikannya terkucilkan – untuk tidak mengatakan dikucilkan – di tengah-tengah aktivitas intelektualisme kita. Watak Hidayat memanglah begitu: keras, kasar, sangar, “narcis”, “sombong dan sok”, “tanpa aturan”, “serabutan”, serta stereotip-stereotip negative intelektualitas lainnya; itu bisa dilihat dari tulisan-tulisannya.
Namun meski demikian, melalui karya-karyanya kesadaranku kemudian menjadi tergugah, sehingga akhirnya aku dapat menyimpulkan bahwa perangkat dasar seorang ilmuwan adalah logika dan imajinasi. Logika dan imajinasi yang dimaksud di sini adalah apa yang dapat dikatakan sebagai “logika terbalik” dan “imajinasi tingkat tinggi”. Logika terbalik ialah pola pikir yang cenderung bertolak dari frame umum, yaitu, misalnya, bila kebanyakan orang memandang bulu, mata, suara dan objek lainnya untuk mengambil pengetahuan mengenai kucing, maka ia mengambil jalan dengan menganalisanya dari sudut pandang tikus sebagai mahluk yang menjadi musuh utama kucing. Sementara imajinasi tingkat tinggi adalah, misalnya, apabila orang kebanyakan berimajinasi mengenai tata surya, maka ia lebih dari itu, yakni alam semesta secara umum.
Apa yang diajarkan Hidayat secara tersirat dalam tulisan-tulisannya terletak pada dua hal tersebut. Tulisan-tulisannya memanglah serabutan. Ia kerap kali bicara tentang agama, pancasila, teori ekonomi dan teori fisika dalam satu pokok tulisan. Hal ini yang sering membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenanya diinginkan oleh Hidayat? Mengapa ia tidak menggeluti ilmu ekonomi – catatan: ia meraih doctor ekonomi di salah satu universitas Amerika – sebagai strudi utamanya ketimbang serabutan yang seperti tidak “menemukan arah”?
Prosedur dalam tulisan-tulisannya rata-rata tidak memenuhi aturan ilmiah. Cara ia menyampaikan demikian juga: kadang ngelantur, kasar, bertele-tele, juga sama sekali keluar dari batas kewajaran karya ilmiah. Akhirnya hal ini berkonsekuensi pada nalar analitis yang dibangun di dalam tulisannya tersebut. Sebagai contoh, apa yang ia munculkan seperti teori psy-war dan Ilmu Humanistik versinya sebenarnya merupakan ide yang amat brilian, tetapi karena tidak ditopang oleh keseriusan cara penulisan, teori dan ilmu yang dibangunnya tersebut tidak memenuhi standart atau criteria umum untuk diterima publik.
Dia memang satu-satunya pemikir yang memiliki frame dan wilayah garapan paling unik di antara pemikir-pemikir lainnya di Indonesia yang aku kenal. Tetapi ide-idenya, inovasi pemikirannya, kecermatan pembacaan dan kedalaman renungannya sangat luar biasa. Membaca karya-karyanya sering aku dibuat tertegun dan bertanya-tanya, bagaimanakah pemikiran Hidayat sampai pada batas wacara yang tidak sempat dipikirkan atau dirambahi oleh orang sebelumnya?
Ia adalah penemu teori-teori bahkan cabang disiplin ilmu baru yang mencengangkan. Seakan ia tidak mau berkarya dengan ide-ide yang basi dan “linier”, tetapi ia hanya ingin berkarya dengan segepok pemikiran yang betul-betul murni sebagai pencapaian yang sangat mengesankan. Tetapi sayang – mungkin karena a priori-nya terhadap prosedur ilmiah – teori-teori dan ilmu baru yang ia bangun tidak ditopang oleh kejernihan dan kedalaman karya dengan batas yang menggembirakan. Teori-teori dan ilmu barunya bagai bangunan rumah yang hanya diselesaikan dasarnya, tetapi tidak seutuhnya. Mungkin karena hal inilah teori-teori dan ilmu baru Hidayat minim apresiasi publik, bahkan dicibir dan dicemooh.
Tetapi terlebih dari itu, aku betul-betul mengagiminya, salut dengan semangat dan cara ia memandang sesuatu. Ia menguasai banyak hal, dari ekonomi, fisika, al-ghazali, dan pancasila, dan ia juga tahu bagaimana ia mesti membalas hutang budi dengan mengembangkan ilmu-ilmu itu. Ia adalah fenomena bagi dunia keintelektualan Indonesia. Ia adalah tonggak yang bertuliskan, “kita jangan hanya jadi konsumen ilmu, tetapi juga harus jadi produsen”. (04 Oktober 2009).
2 komentar:
silakan kunjungi Jurnal Hidayat Nataatmadja
terima kasih komentarnya. akan saya kunjungi Jurnal Hidayat Nataatmadja. saya terharu, rupanya ada juga yang menghormati Pak Hidayat...
Posting Komentar