Kamis, 05 November 2009

DOSENKU YANG PALING AKU KAGUMI

(Bapak Dr. rer. nat. Muhammad Farchani Rosyid)

Pertama, beliau adalah dosen astronomiku (semester empat). Kebetulan, semester empat adalah momen paling istimewa dalam sejarah pendidikanku. Semester empat adalah suatu tonggak di mana aku mulai sadar untuk benar-benar belajar ilmu-ilmu alam, khususnya matematika dan fisika. Sebelum itu, boleh dibilang aku tidak tahu-menahu mengenai teori-teori matematika dan fisika. Aku menganggap dua ilmu itu jauh dari kenyataanku sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan sampai semester tiga pun, aku sama sekali tidak faham matematika dan fisika.

Sebelum semester empat, pikiranku banyak aku forsir untuk mendalami ilmu-ilmu sosial-politik dan budaya, lebih-lebih sastra. Kurang-lebih aku sudah mulai merasa bangga dengan prestasiku di bidang ilmu itu: setumpuk opini, artikel, esei, cerpen dan puisi telah aku hasilkan, serta sebagiannya aku terbitkan di koran-koran. Aku juga sudah mulai bisa menulis satu buku (Membaca Rahasia Nabi Khidir, Mitra Pustaka, 2008) dan menyumbang tulisan dalam beberapa buku komplikasi. Mungkin ini karena aku lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang berlatar sosial, budaya dan sastra ketimbang dengan teman-teman kelas sendiri.

Tapi setelah semester empat, aku kira prestasi eksternal tersebut tidak cukup membuatku puas dengan proses pembelajaranku. Mengesampingkan ilmu internal (fisika dan matematika) dari ilmu eksternal bagiku adalah penghianatan intelektual seseorang. Lebih-lebih, saat itu aku juga mulai faham bahwa matematika dan fisika lebih rumit ketimbang ilmu sosial-budaya dan sastra (anggapan ini telah aku tanggalkan, karena setelah tahu, dua bidang yang tampaknya terpisah itu, sama-sama rumitnya). Karena aku adalah tipe orang selalu merasa tertantang dengan hal-hal yang rumit-rumit, aku berpikir, ini cukup menarik untuk aku jelajahi. Pasca itulah aku mulai sadar untuk memulai dari awal belajar matematika dan fisika.

Tetapi rupanya, kesadaran itu tidak muncul serta-merta tanpa adanya suntikan-suntikan dari luar. Siapakah gerangan orang-orang yang telah berjasa mengangkat semangatku belajar matematika dan fisika?

Pertama adalah kakak angkatanku: orang yang selalu menganggap aku tidak cocok masuk jurusan fisika, karena pemahaman matematika dan fisikaku sangat lemah (maklum, sebelum itu aku tidak benar-benar ingin belajar fisika). Kata dia, karena dasarku adalah seorang penulis, lebih baik aku masuk jurusan filsafat atau sosial, atau setidaknya pendidikan fisika, karena menurutnya ilmu-ilmu itu tidak terlampau sulit (kini aku berani bertaruh dengan anggapannya bahwa ilmu sosial dan filsafat itu tidak sesulit matematika dan fisika).

Kedua, teman-teman kelasku sendiri: orang-orang yang sering membuatku terasing sendiri di kelas ketika dosen-dosen fisika dan matematika sedang memberikan pelajaran. Aku iri pada mereka. Mengapa mereka paham dan aku tidak paham? Apa yang sesungguhnya yang membuatku berbeda dengan mereka? Keseriusan! Ya, keseriusan. Aku “kalah” dengan mereka karena selama ini aku tidak pernah serius belajar matematika dan fisika.

Ketiga adalah Pak Rosyid. Beliau tidak seperti dosen-dosenku yang lain. Banyak dari dosen-dosenku (tetapi tidak semuanya) yang bertipikal sebagai “pekerja”, yakni “asal mengajar, yang penting dapat duit”. Ada juga yang bermodel sebagai “dewan juri”, yaitu mereka yang sering menganakemaskan satu anak dan mengabaikan yang lainnya. Ada juga yang “kaku”, hanya paham mata kuliah yang diampunya semata dan tidak yang lain. Ada pula yang tidak tahu-menahu sebuah arti semangat belajar mahasiswanya.

Ini sangat kontras dengan sosok Pak Rosyid. Aku dapat melihat secara kasat mata, bahwa beliau mengajar bukan karena apa-apa, melainkan karena kecintaannya kepada ilmu. Beliau tidak pernah menganakemaskan satu anak diantara yang lainnya. Beliau juga tidak kaku, berpengetahuan sangat luas, dan sering membuka cakrawala berpikir mahasiswa-mahasiswanya.

Kata-kata beliau yang selalu menggaum dalam kesadaranku, “kalian boleh saat ini tidak paham, tetapi tidak untuk saat yang lain. Tugas arif seorang ilmuwan adalah belajar dan belajar, berpikir dan bermenung, lalu menyumbangkan pengetahuannya untuk kemaslahatan peradaban manusia ke depan. Telah lama bangsa ini menunggu generasi-generasi penerusnya yang betul-betul konsisten dan punya integritas yang tinggi terhadap yang mereka tekuni”.

Melihat visi integritas-interkoneksitas kampus UIN Sunan Kalijaga, selama pengalamanku diajar oleh dosen-dosen Saintek, hanya beliau yang kiranya sangat paham dan matang dalam mengomunikasikan antara wahyu dan sains. Beliau pernah berkata di hadapan kami saat mengajar Astronomi, “bidang penelitian saya yang sedang saya tekuni adalah mengenai mekanika langit. Saya senantiasa skeptis dengan teori-teori yang diciptakan oleh fisikawan-astronomer Barat jika hal itu bertentangan dengan al-Qur’an. Penelitian-penelitian yang saya hasilkan selalu merujuk terhadap kebenaran dalam al-Qur’an, karena itu keyakinan saya.”.

Aku mulai tahu eksistensi beliau sebagai ilmuwan, salah satunya, ketika ikut bedah buku “Ayat-Ayat Semesta” oleh Bapak Dr. Agus Purwanto (fisikawan nuklir ITS). Pak Agus bilang, Indonesia hingga kini hanya memiliki 15 fisikawan yang berkredebilitas internasional, dan salah satunya ialah Pak Rosyid. Hebat! – pikirku. Aku punya dosen hebat. Dan merasa sangat beruntung, setidaknya pernah diajar oleh dosen berkaliber internasional.

Setelah itu, aku mulai penasaran dengan sosok Pak Rosyid. Aku coba ketik nama MF. Rosyid di google scholar (ruang maya yang menghimpun artikel-artikel seputar fisika dan matematika). Aku menemukan artikel beliau yang berjudul On The Structure of Quantizable Algebras of The Products of Symplectic Manifolds with Polarizations atas nama beliau sendiri. Selain itu, ada beberapa artikel lain yang sudah kulupa judulnya. Artikel-artikel beliau yang aku temukan memang bukan yang dimuat di jurnal-jurnal internasional, tetapi di jurnal nasional. Ini hanya persoalan glamoritas, alih-alih juga persoalan keuangan (karena sepengetahuanku, untuk memuat tulisan di jurnal internasional, penulis harus mengeluarkan kocek 10 juta per tujuh halaman).

Selain itu, aku juga menemukan di google daftar keynot speeker dalam simposium-simposium fisika nasional dan internasional di mana tersemat nama dan judul karya Pak Rosyid. Dari sana aku mulai paham bahwa Pak Rosyid adalah fisikawan kuantum dan teoris astronomi, serta ahli matematika terapan.

Tetapi, bagiku, yang terpenting adalah tentang sikap dan sifat Pak Rosyid sebagai entitas akademik. Pak Rosyid memberikan kebebasan berekspresi kepada mahasiswa-mahasiswanya. Ketika di dalam kelas, beliau suka berhumor, mengritik pemerintah dan banyak mengulas isi-isi al-Qur’an, terutama tentang fenomena alam dan kewajiban umat Islam dalam mendalami ilmu. Ketika beliau mengajar, terutama astrofisika (semester lima), sangat tampak betapa penguasaannya terhadap ilmu itu sangat tinggi dan dapat dengan mudah mengomunikasikan teori-teori yang rumit kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Pernah sekali beliau bicara tentang demokrasi. Kata beliau, “di dalam demokrasi, suara seorang kiai sama nilainya dengan seorang biasa, suara seorang profesor sama nilainya dengan suara seorang preman”. Aku memikirkan dan merenungkannya dalam-dalam, dan segera mencari dan membaca buku-buku tentang demokrasi. Aku menulis opini untuk menyampaikan gagasan Pak Rosyid itu. Dan, Alhamdulillah, opiniku itu di muat di koran Joglosemar.

Sekali dalam kuliahnya di FMIPA UGM, beliau berhumor. Katanya, “ternyata banyak kalimat yang diwariskan oleh pendahulu kita salah. Salah satunya, mereka berkata, ‘belajar untuk mengejar ketertinggalan. Padahal seharusnya, ‘belajar untuk mengejar kemajuan’”. Dan banyak humor-humor lain yang sering beliau lontarkan di tengah-tengah memberikan kuliah.

Biodata Pak Rosyid
Dr. rer.nat. Muhammad Farchani Rosyid, lahir di Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juli 1968. Pendidikan dasar sampai menengah atas diselesaikan olehnya di tempat kelahiran dari tahun 1975 sampai tahun 1987.

Dr. Rosyid menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) fisika teori pada jurusan fisika FMIPA UGM pada tahun 1992 dan strata dua (S2) fisika teori di universitas yang sama pada tahun 1995. Derajad doktor diperolehnya pada tahun 2000 dalam Fisika Matematika (Mathematical Physics) dari Technische Universität Clausthal, Republik Federal Jerman dengan dissertasi berjudul : Zum Zusammenhang zwischen geometrischer Quantisierung und Borel-Quantisierung. (On the Relation between Geometric Quantization and Borel-Quantization).

Bidang penelitian yang diminatinya adalah Topological and differential geometrical methods in Physics, Theory of Quantization, Groups and Symmetries, Mathematical Foundations of Quantum Theory.

Riwayat Pekerjaan: - Asisten Dosen pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1992-1996) - Staf peneliti pada Arnold-Sommerfeld-Institut für Mathematische Physik, Technische Universität Clausthal, Jerman (1996-2000) - Staf Pengajar pada jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (sejak tahun 2000).

Bagiku, beliau adalah my best dosent! (05-11-2009).

4 komentar:

R.I.P mengatakan...

Saya juga pernah berjumpa dengan Pak Rosyid sekitar 2 tahun yang lalu saat pembinaan SC UGM 2008, beliau oerang yang memberi saya makna dari tersenyum yang sangat mengbah pola pikir saya, kalau mas bertemu dengannya lagi saya titip salam,,

Rizifika A. I.

Siswa sc UGM 2008

Muhammad Ali Fakih AR mengatakan...

terima kasih komentarnya. insyaallah akan saya sampaikan salamnya. ngomong-ngomong SC itu apa ya? rizifika kuliah di UGM toh?

Unknown mengatakan...

Hai Mas Fakih, kenalkan saya Isma adik angkatan Mas Fakih. Fisika 2013. Saya kenal Pak Rosyid pas beliau jadi penguji skripsinya Mas Taqwan (Fisika 2011). Sayangnya, pas saya kuliah gak diajar beliau, ternyata memang beliau orang keren. Dan pas baca tulisan Mas Fakih ini jadi ikutan melonjak semangat saya belajar Fisika lagi :)

Muhammad Ali Fakih AR mengatakan...

Tengkyu, Isma, sudah komen di blogku. Ya, aku masih ingat dulu aku pernah ngulang matakuliah dan sekelas denganmu. Pak Rosyid memang inspiratif. Aku sangat beruntung skripsiku dulu dibimbing oleh beliaui. Terus, selama 2 tahun ini aku kan kerja di luar bidang fisika dan gak pernah nyentuh fisika. Tapi kemarin pas ingat Pak Rosyid, aku langsung ngeprint buku "The Classical Theory of Fields" dan aku baca tiap habis kerja. Hehe.