Buk Suhaena adalah mbak sepupuku. Sekarang (2011) umurnya 31 tahun. Tapi dia tidak menikah. Entahlah, aku kasihan padanya bila sampai beberapa tahun kemudian dia juga tidak menikah. Padahal, Mak Enna – emaknya – sudah ingin menimang cucu; Mbuk – nenekku – ingin menimang cicit; dan aku juga ingin menimang keponakan. Aku selalu berdoa, semoga Allah segera memberikannya jodoh yang baik dan sholeh.
Dulu semasih aku kanak-kanak, sering aku bertengkar dengannya, tetapi bukan karena aku tidak menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Dialah mbakku yang paling aku cintai. Ketika aku kelas dua SD, dia yang mengajariku membaca buku, menulis tegak bersambung, menghafal perkalian 1 sampai 10. Dan setelah aku di Jogja, mengarang beberapa buku dan bisa hidup mandiri, dia sangat bangga kepadaku. Diceritakannya aku kepada teman-temannya. Dipuji-pujinya aku setinggi langit. Bukan karena telah ”dipromosikannya” aku kepada orang lain yang membuatku terharu, tetapi karena aku tahu bahwa ini adalah bukti betapa sebenarnya dia sangat menyayangiku meskipun sikapnya kepadaku sangat dingin, bahkan terkesan keras.
Pada sekitar tahun 1999 dan 2000-an, mbakku menyukai acara atensian dan dangdutan di radio Pesona 2000. Acaranya siang, sehabis dhuhur. Saat-saat seperti itu aku sudah pulang dari sekolah (SD). Aku selalu diajaknya mendengarkan radio bersama. Awalnya aku tidak mau, tetapi setelah lama-kelamaan akhirnya aku turut menyukai acara itu. Ini pula yang membuatku pada saat-saat setelah itu banyak menyukai acara-acara radio.
Dia mengatakan kepadaku bahwa dia banyak hafal lagu dangdut, dan mengejekku karena tak satu pun lagu dangdut yang aku hafal. Maka aku pun merengek-rengek untuk diajari lagu dangdut. Dan dia sangat antusias sekali. Aku masih ingat, dan mungkin tidak akan pernah kulupa, lagu dandut pertama yang diajarinya kepadaku adalah karya pedangdut daerah, Firmansyah, yang judulnya telah aku lupa. Beginilah lagunya:
Yang manakah, yang mana harus kupilih
Untuk kumiliki, untuk kumiliki, selamanya (2x)
Ni..wes-wes-wes ni
Bhelerhek kalare tarebung manyang
Beres mare tedung nyaman
Beres mare tedung nyaman
(Reff)
Ingin kutepis kenyataan ini
Sampai tiada rasa bimbang lagi
Hanya satu cinta yang kudambakan
Impian asmaraku tak ingin terbeli
Ingin kumiliki, ingin kumiliki
Dia, untuk selamanya
Ketika kunyanyikan lagu itu, bahkan hingga kini, yang tergambar di kepalaku adalah wajahnya, kenangan-kenangan bersamanya yang sungguh luar biasa indah. Tidak hanya lagu, dia pun mengajariku main remi, dom, tebak-tebakan, lagu Madura, dan banyak mainan lainnya. Kalau punya pacar, dia pasti memperkenalkannya kepadaku. Dia membanggakan aku di depan pacarnya.
Dia pula yang mengajariku bagaimana mengarit rumput yang benar, menyuruhku untuk mencuci sendiri baju-bajuku yang sudah kotor, membantuku menyelesaikan PR sekolah, memarahiku jika aku berbuat kesalahan, menyuruhku untuk mengaji dan sekolah yang benar, memberikanku banyak bayangan yang indah tentang masa depan, dan sebagainya-dan sebagainya. Ketika aku sedang bertengkar dengan temanku, aku selalu mencurhatkannya kepadanya. Pokoknya, she is the best my sister!
Tetapi ini hanya kenangan. Ya, hanya kenangan semata. Setelah aku pulang ke Madura, aku tidak akan melihatnya lagi. Dia tidak akan lagi menemaniku bercerita banyak hal tentang perjalanan hidupku di Jogja. Dia tidak akan lagi mengajakku mengarit rumput, mengajariku menanam padi, mengajakku merawat tembakau dan mendengarkan acara dangdutan di radio. Dia tidak akan lagi marah-marah padaku bila aku berbuat salah.
Ya, sudah sekitar seminggu dia meninggalkan rumah. Dia sekarang jadi TKW di Malaysia. Tujuannya satu: untuk membayar hutang-hutang emaknya yang sudah menumpuk. Kata bibiku (mak Enna), dia akan kembali ke Madura setelah masa kerja kurang-lebih dua tahun. Aku kaget mendengarnya. Bukankah dia berjanji kepadaku bahwa dia akan menemani wisudaku nanti? Lalu siapa yang akan mendengarkan cerita-ceritaku ketika aku pulang ke Madura? Siapa pula ketika pagi-pagi akan memarahiku dan mengajakku pergi ke sawah biar kerjaanku tidak hanya tidur saja?
”Buk,” kataku ketika dia hampir berangkat ke Malaysia. ”Seandainya aku kaya, akan kuajak kau tinggal di rumahku. Akan kubantu kau membayar hutang-hutangmu. Akan kucarikan kau jodoh, biar tugasmu sebagai tulang-punggung keluarga tidak seberat ini. Aku sebenarnya tidak ingin kau pergi jauh dari rumah. Kasihan sama mak Enna yang penyakitan begitu, adikmu juga masih kecil-kecil dan bapakmu sudah tua. Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan mengurus mereka.” Dia hanya menangis dan berkata, ”Sudahlah, dik, aku minta doamu saja. Hentikan omelanmu itu!”***
(05 April 2011).
Jumat, 27 Mei 2011
SISKA DAN LAGU-LAGU MALAYSIA
Aku masih ingat, ketika aku kelas 6 SD dan Siska kelas 4 SD, aku suka menyanyikan lagu-lagu Malaysia bersama teman akrabku, Nono. Aku dan Nono, ketika istirahat sekolah, kerap duduk-duduk santai di belakang sekolah dan menyanyikan lagu-lagu Malaysia yang banyak kami hafal bersama-sama. Kami duduk di pinggir lapangan – lapangan sepak bola itu terletak di belakang sekolah kami – sambil melihati anak-anak yang sedang bermain riang. Nono melihat Sri, perempuan dambaannya, sementara aku melihat Siska. Begitu PD-nya kami ketika itu, kami merasa bahwa kamilah laki-laki terganteng dan teromantis ketimbang teman-teman yang lain, sehingga belumlah kami mengungkapkan rasa cinta kami kepada perempuan pujaan kami masing-masing, kami sudah memastikan bahwa mereka juga merasakan hal yang sama dengan kami.
Tidak ada yang tahu bahwa aku menyukai Siska kecuali Nono. Bahkan mungkin Nono pun tidak terlalu memahami perasaanku yang sebenarnya kepada Siska, sebab aku hanya menceritakan sedikit dari perasaanku kepadanya. Memang orang yang sangat introvert, apalagi terrhadap perasaanku. Aku merasa lebih enak menikmati perasaanku sendirian, temasuk juga menikmati hanyalan dan impian-impianku.
Saat musim sepeda, Siska selalu memamerkan sepedanya kepada teman-temannya. Aku yang tidak memiliki sepeda, sering meminjam sepeda kepada Nono atau Sipul. Aku bermain sepeda dengan teman-teman yang lain, kadang berusaha menunjukkan kelihaianku beratraksi sepeda. Hanya satu tujuannya, biar Siska kagum kepadaku. Tetapi ternyata Siska tidak kagum dengan sikapku yang seperti itu. Sepertinya dia ingin aku menjadi diriku sendiri, Fakih yang romantis dan tidak ugal-ugalan seperti anak yang lain. Itu anggapanku saja. Aku tidak tahu apakah memang demikian perasaan Siska, sebab kalau tidak ada hal yang sangat penting, aku tidak bicara dengan Siska. Aku menikmati senyumannya, kegenitannya, kecantikannya, kemanisannya, gerai rambutnya, lentik bulu matanya, langsing tubuhnya, dan lain-lainnya dari jauh.
Melihatnya saja aku sudah bersyukur. Aku sudah bisa menghayalkan hal-hal yang manis dengannya. Ketika Siska tersenyum kepadaku saat aku melakukan hal-hal yang bodoh, misalnya, aku sungguh berbunga-bunga. Ketika dia memarahiku karena alasan yang kadang-kadang aneh, hatiku berpendar-pendar. Menyebut namaku saja, meskipun entah dia memarahiku atau menjelek-jelekkanku, aku bisa menjadi sangat bangga. Ah, sungguh luar biasa energi cinta yang mengaliri tubuhku.
Kadang dia memamerkan kecerdikannya bermain permainan-permainan perempuan di hadapanku. Mungkin agar aku memerhatikannya. Aku pun membalasnya dengan menyanyikan lagu-lagu Malaysia kesukaanku. Dia pun ketawa-ketawa melihatku yang sok romantis, bahkan tidak jarang ketika itu, dia menjelek-jelekkanku di hadapan teman-temannya. Tetapi anehnya, aku merasa tidak dijelek-jelekkan, tetapi justru merasa hal itu sebagai bahasa lain bahwa dia menyukaiku. Dengan berbekal itu, aku pulang sekolah dengan perasaan yang riang.
Meskipun rumah dan sekolahku berdekatan, aku biasa datang pagi ke sekolah. Ini aku lakukan agar bisa melihat Siska datang. Biasanya dia bersama adiknya atau diantar orang tuanya, tetapi lebih sering jalan bersama teman-temannya. Dapat dipastikan, ketika datang ke sekolah pagi-pagi, rambutnya basah. Ini yang aku suka, sebab dengan begitu kecantikan Siska lebih natural dan aura mukanya bersinar. Kebetulan ruang kelas 4 ada di paling pojok sekolah, sehingga anak-anak kelas 4 harus lewat di depan kelas 6. Ketika Siska lewat di depan kelas 6, aku berusaha berpenampilan perfect. Kunyanyikan lagu-lagu Malaysia untuk menyindirnya. Dia pun menoleh kepadaku dengan senyumnya yang indah. Dan aku pun sangat bahagia sekali.
Hal yang paling aku sesali bahwa setelah lulus SD, orang tuaku menuntutku supaya mondok di PP. Annuqayah Guluk-Guluk (perjalanan sekitar 2 jam dari rumahku). Dengan begitu aku tidak lagi bisa melihat wajah Siska tiap hari. Serasa aku ingin menangis dengan keputusan orang tuaku itu. Serasa aku tidak bisa dilepaskan dari sisi Siska. Aku ingin melihatnya tiap hari meskipun hanya sesaat. Tak apalah aku dan dia jarang bicara karena perasaan kami masing-masing, yang penting aku bisa bertemu dia setiap hari. Tetapi apa daya, keputusan orang tua itu tidak dapat kutolak.
Kesempatan satu-satunya bertemu dengan Siska adalah ketika liburan atau idzin pulang ke rumah setiap bulan. Aku manfaatkan kesempatan itu. Untuk awal-awal mondok, aku memang jarang pulang agar aku bisa cepat beradabtasi dengan kehidupan baru itu. Tetapi lebih dari setahun aku mondok, aku pamit pulang tiap bulan sekali. Tujuannya hanya satu, ingin melihat Siska. Kesempatan melihat wajahnya pun sangat terbatas, yakni hanya di sekolah SD, sebab rumahku dengan rumahnya agak berjauhan. Atau kadang kalau rinduku sudah meluap-luap, aku bermain ke rumah Bambang, kakak kelasku. Kebetulan rumah Bambang berhadap-hadapan dengan rumahnya, hanya dibatasi oleh jalan raya. Jadi aku tidak perlu mencari alasan yang tidak-tidak untuk sekedar melihat wajah Siska. Tinggal duduk di teras rumah Bambang, aku sudah bisa melihatnya.
Biasanya, ketika aku ada di rumah Bambang, selalu saja ada alasan bagi Siska untuk bermain di halaman rumahnya. Mungkin dia ingin juga melihat wajahku yang sudah jarang dilihatnya. Mungkin dia juga merindukanku ketika aku ada di pondok. Mungkin dia merasakan hal yang sama dengan perasaanku. Mungkin dia mencintaiku. Mungkin dia menyayangiku. Aku tahu itu dari gelagatnya yang aneh ketika kutatap wajahnya. Sungguh betapa bangganya aku bisa menjadi laki-laki yang dicintai oleh seorang perempuan yang sangat aku cintai.
Saat aku duduk-duduk di depan rumah Bambang dan Siska duduk di rumahnya berhadapan denganku, kunyanyikan lagu-lagu Malaysia yang nampaknya sudah menjadi kenangan itu. Dia tersenyum pahit. Aku tahu bahwa kenyataan ini juga turut menyakitinya. Aku tahu Siska juga ingin kenyataannya berubah seperti dulu-dulunya, aku kelas 6 dan dia kelas 4, dan kita bisa bertemu setiap hari. Dia seperti ingin menangis saat kukeraskan nyanyianku. Aku bisa merasakan sakit hatinya terhadap takdir yang sepertinya tidak sesuai dengan keinginan-keinginan kami.
Dia pernah berkata kepadaku bahwa ketika aku pulang kampung agar sekali-kali bermain ke sekolah. Mungkin dia ingin mengulang kenangan-kenangan dulu. Aku pun turuti kemauannya. Tidak hanya sekali-kali aku datang ke sekolah SD, tetapi justru tiap hari. Bisa saja sampai setengah hari aku di sekolah. Hanya satu tujuannya, melihat raut wajahnya dan ingin mengulang kenangan-kenangan manis dulu. Dia pernah berkata kepadaku, “Seandainya kamu masih sekolah di sini, Fakih!“. Aku hanya bisa menunduk di hadapannya. Ingin sekali aku memeluknya, memegang tangannya dan mengecup keningnya sebagai tanda cintaku kepadanya.
Siska adalah perempuan pertama – dan mungkin hingga saat ini – yang mengenalkanku pada hakikat cinta yang sejati. Dia cinta pertamaku. Dia perempuan yang pernah mengajariku banyak hal, terutama tentang bagaimana tegar di hadapan takdir yang tidak memungkinkan cinta kita bersama kembali seperti dulu-dulunya. Sekarang Siska sudah tunangan dengan seorang polisi dari Pamekasan. Aku tahu berita ini dari emakku. Dia pun sudah lulus kuliah keperawatan di Bangkalan. Katanya, sebentar lagi dia akan menikah. Sementara di Jogja, aku terus-menerus mengenangnya sebagai kekasih abadi. Aku selalu bertanya-tanya, apakah sekarang perasaannya sudah tidak seperti perasaanku? Apakah dia telah melupakanku sepenuhnya?
Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya ingin keadaannya manis seperti semula, yakni ketika aku masih mondok, di mana Siska berulang kali bertanya kapan aku akan pulang kampung kepada emakku. Siska bertanya macam-macam tentangku kepada emak, apakah aku kerasan di pondok atau tidak? Apakah tubuhku kurus atau malah tambah gemuk? Bagaimana prestasi-prestasi sekolahku? Apakah aku masih nakal seperti dulu? Aku tidak bisa membayangkan apakah dia juga bertanya, apakah aku sering menyanyikan lagu-lagu Malaysia untuk mengingatnya?
Siska, Siska, engkau sebentar lagi akan memasuki jenjang hidup baru, pernikahan itu, sesuatu yang dulu pernah kita hayalkan bersama. Kita menikah, hidup bersama sampai tua, sampai ajal menjemput kita. Kini kau secara resmi akan menjadi milik orang lain untuk selamanya. Aku relakan engkau, sebab aku tidak ingin menggangu kebahagiaan kalian. Aku juga tahu bagaimana perasaan calon suamimu. Mungkin dia cinta dan sayang kepadamu sebagaimana aku. Biarlah aku menjelma dalam dirinya. Selamat menempuh hidup baru, Siska! Selamat menempuh hidup baru! Meskipun kita tidak bersama, aku akan selalu mencintaimu dan merindukanmu hingga akhir hayatku. Sampai kapan pun aku akan selalu menyanyikan lagu-lagu Malaysia kesukaanku dulu. Sampai kapan pun, aku akan selalu mengingatmu. (27 Mei 2011)
Tidak ada yang tahu bahwa aku menyukai Siska kecuali Nono. Bahkan mungkin Nono pun tidak terlalu memahami perasaanku yang sebenarnya kepada Siska, sebab aku hanya menceritakan sedikit dari perasaanku kepadanya. Memang orang yang sangat introvert, apalagi terrhadap perasaanku. Aku merasa lebih enak menikmati perasaanku sendirian, temasuk juga menikmati hanyalan dan impian-impianku.
Saat musim sepeda, Siska selalu memamerkan sepedanya kepada teman-temannya. Aku yang tidak memiliki sepeda, sering meminjam sepeda kepada Nono atau Sipul. Aku bermain sepeda dengan teman-teman yang lain, kadang berusaha menunjukkan kelihaianku beratraksi sepeda. Hanya satu tujuannya, biar Siska kagum kepadaku. Tetapi ternyata Siska tidak kagum dengan sikapku yang seperti itu. Sepertinya dia ingin aku menjadi diriku sendiri, Fakih yang romantis dan tidak ugal-ugalan seperti anak yang lain. Itu anggapanku saja. Aku tidak tahu apakah memang demikian perasaan Siska, sebab kalau tidak ada hal yang sangat penting, aku tidak bicara dengan Siska. Aku menikmati senyumannya, kegenitannya, kecantikannya, kemanisannya, gerai rambutnya, lentik bulu matanya, langsing tubuhnya, dan lain-lainnya dari jauh.
Melihatnya saja aku sudah bersyukur. Aku sudah bisa menghayalkan hal-hal yang manis dengannya. Ketika Siska tersenyum kepadaku saat aku melakukan hal-hal yang bodoh, misalnya, aku sungguh berbunga-bunga. Ketika dia memarahiku karena alasan yang kadang-kadang aneh, hatiku berpendar-pendar. Menyebut namaku saja, meskipun entah dia memarahiku atau menjelek-jelekkanku, aku bisa menjadi sangat bangga. Ah, sungguh luar biasa energi cinta yang mengaliri tubuhku.
Kadang dia memamerkan kecerdikannya bermain permainan-permainan perempuan di hadapanku. Mungkin agar aku memerhatikannya. Aku pun membalasnya dengan menyanyikan lagu-lagu Malaysia kesukaanku. Dia pun ketawa-ketawa melihatku yang sok romantis, bahkan tidak jarang ketika itu, dia menjelek-jelekkanku di hadapan teman-temannya. Tetapi anehnya, aku merasa tidak dijelek-jelekkan, tetapi justru merasa hal itu sebagai bahasa lain bahwa dia menyukaiku. Dengan berbekal itu, aku pulang sekolah dengan perasaan yang riang.
Meskipun rumah dan sekolahku berdekatan, aku biasa datang pagi ke sekolah. Ini aku lakukan agar bisa melihat Siska datang. Biasanya dia bersama adiknya atau diantar orang tuanya, tetapi lebih sering jalan bersama teman-temannya. Dapat dipastikan, ketika datang ke sekolah pagi-pagi, rambutnya basah. Ini yang aku suka, sebab dengan begitu kecantikan Siska lebih natural dan aura mukanya bersinar. Kebetulan ruang kelas 4 ada di paling pojok sekolah, sehingga anak-anak kelas 4 harus lewat di depan kelas 6. Ketika Siska lewat di depan kelas 6, aku berusaha berpenampilan perfect. Kunyanyikan lagu-lagu Malaysia untuk menyindirnya. Dia pun menoleh kepadaku dengan senyumnya yang indah. Dan aku pun sangat bahagia sekali.
Hal yang paling aku sesali bahwa setelah lulus SD, orang tuaku menuntutku supaya mondok di PP. Annuqayah Guluk-Guluk (perjalanan sekitar 2 jam dari rumahku). Dengan begitu aku tidak lagi bisa melihat wajah Siska tiap hari. Serasa aku ingin menangis dengan keputusan orang tuaku itu. Serasa aku tidak bisa dilepaskan dari sisi Siska. Aku ingin melihatnya tiap hari meskipun hanya sesaat. Tak apalah aku dan dia jarang bicara karena perasaan kami masing-masing, yang penting aku bisa bertemu dia setiap hari. Tetapi apa daya, keputusan orang tua itu tidak dapat kutolak.
Kesempatan satu-satunya bertemu dengan Siska adalah ketika liburan atau idzin pulang ke rumah setiap bulan. Aku manfaatkan kesempatan itu. Untuk awal-awal mondok, aku memang jarang pulang agar aku bisa cepat beradabtasi dengan kehidupan baru itu. Tetapi lebih dari setahun aku mondok, aku pamit pulang tiap bulan sekali. Tujuannya hanya satu, ingin melihat Siska. Kesempatan melihat wajahnya pun sangat terbatas, yakni hanya di sekolah SD, sebab rumahku dengan rumahnya agak berjauhan. Atau kadang kalau rinduku sudah meluap-luap, aku bermain ke rumah Bambang, kakak kelasku. Kebetulan rumah Bambang berhadap-hadapan dengan rumahnya, hanya dibatasi oleh jalan raya. Jadi aku tidak perlu mencari alasan yang tidak-tidak untuk sekedar melihat wajah Siska. Tinggal duduk di teras rumah Bambang, aku sudah bisa melihatnya.
Biasanya, ketika aku ada di rumah Bambang, selalu saja ada alasan bagi Siska untuk bermain di halaman rumahnya. Mungkin dia ingin juga melihat wajahku yang sudah jarang dilihatnya. Mungkin dia juga merindukanku ketika aku ada di pondok. Mungkin dia merasakan hal yang sama dengan perasaanku. Mungkin dia mencintaiku. Mungkin dia menyayangiku. Aku tahu itu dari gelagatnya yang aneh ketika kutatap wajahnya. Sungguh betapa bangganya aku bisa menjadi laki-laki yang dicintai oleh seorang perempuan yang sangat aku cintai.
Saat aku duduk-duduk di depan rumah Bambang dan Siska duduk di rumahnya berhadapan denganku, kunyanyikan lagu-lagu Malaysia yang nampaknya sudah menjadi kenangan itu. Dia tersenyum pahit. Aku tahu bahwa kenyataan ini juga turut menyakitinya. Aku tahu Siska juga ingin kenyataannya berubah seperti dulu-dulunya, aku kelas 6 dan dia kelas 4, dan kita bisa bertemu setiap hari. Dia seperti ingin menangis saat kukeraskan nyanyianku. Aku bisa merasakan sakit hatinya terhadap takdir yang sepertinya tidak sesuai dengan keinginan-keinginan kami.
Dia pernah berkata kepadaku bahwa ketika aku pulang kampung agar sekali-kali bermain ke sekolah. Mungkin dia ingin mengulang kenangan-kenangan dulu. Aku pun turuti kemauannya. Tidak hanya sekali-kali aku datang ke sekolah SD, tetapi justru tiap hari. Bisa saja sampai setengah hari aku di sekolah. Hanya satu tujuannya, melihat raut wajahnya dan ingin mengulang kenangan-kenangan manis dulu. Dia pernah berkata kepadaku, “Seandainya kamu masih sekolah di sini, Fakih!“. Aku hanya bisa menunduk di hadapannya. Ingin sekali aku memeluknya, memegang tangannya dan mengecup keningnya sebagai tanda cintaku kepadanya.
Siska adalah perempuan pertama – dan mungkin hingga saat ini – yang mengenalkanku pada hakikat cinta yang sejati. Dia cinta pertamaku. Dia perempuan yang pernah mengajariku banyak hal, terutama tentang bagaimana tegar di hadapan takdir yang tidak memungkinkan cinta kita bersama kembali seperti dulu-dulunya. Sekarang Siska sudah tunangan dengan seorang polisi dari Pamekasan. Aku tahu berita ini dari emakku. Dia pun sudah lulus kuliah keperawatan di Bangkalan. Katanya, sebentar lagi dia akan menikah. Sementara di Jogja, aku terus-menerus mengenangnya sebagai kekasih abadi. Aku selalu bertanya-tanya, apakah sekarang perasaannya sudah tidak seperti perasaanku? Apakah dia telah melupakanku sepenuhnya?
Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya ingin keadaannya manis seperti semula, yakni ketika aku masih mondok, di mana Siska berulang kali bertanya kapan aku akan pulang kampung kepada emakku. Siska bertanya macam-macam tentangku kepada emak, apakah aku kerasan di pondok atau tidak? Apakah tubuhku kurus atau malah tambah gemuk? Bagaimana prestasi-prestasi sekolahku? Apakah aku masih nakal seperti dulu? Aku tidak bisa membayangkan apakah dia juga bertanya, apakah aku sering menyanyikan lagu-lagu Malaysia untuk mengingatnya?
Siska, Siska, engkau sebentar lagi akan memasuki jenjang hidup baru, pernikahan itu, sesuatu yang dulu pernah kita hayalkan bersama. Kita menikah, hidup bersama sampai tua, sampai ajal menjemput kita. Kini kau secara resmi akan menjadi milik orang lain untuk selamanya. Aku relakan engkau, sebab aku tidak ingin menggangu kebahagiaan kalian. Aku juga tahu bagaimana perasaan calon suamimu. Mungkin dia cinta dan sayang kepadamu sebagaimana aku. Biarlah aku menjelma dalam dirinya. Selamat menempuh hidup baru, Siska! Selamat menempuh hidup baru! Meskipun kita tidak bersama, aku akan selalu mencintaimu dan merindukanmu hingga akhir hayatku. Sampai kapan pun aku akan selalu menyanyikan lagu-lagu Malaysia kesukaanku dulu. Sampai kapan pun, aku akan selalu mengingatmu. (27 Mei 2011)
Label:
cathar
Rabu, 25 Mei 2011
Dua Pengalaman Jadi Penyaji dan Sedikit Kegelisahan
Selama di Jogja (17 Agustus 2006) sampai hari ini (24 Mei 2011), hanya dua kali aku berpengalaman jadi penyaji. Pertama di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang dalam acara Pekan Tadarus Sastra – sebagai bagian dari perayaan Haflatul Imtihan – pada tanggal 20-21 Juni 2010. Di sana aku didakwah jadi pembedah buku novel Sepasang Sayap di Punggungmu karya Mangun Kuncoro pada tanggal 20 dan antologi puisi Mazhab Kutub karya penyair-penyair Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta pada tanggal 21. Audiennya rata-rata adalah anak SMA-SMP, sedikit mahasiswa, penggiat sastra Jombang serta wartawan Radar Mojo.
Kedua di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam acara bedah buku antologi puisi karangan M. Faizi, Permaisuri Malamku, pada tanggal 21 Mei 2011. Sebagai penyaji, selain penulisnya, adalah aku dan Afrizal Malna. Aku ditugasi berbicara isi sajak-sajak dalam antologi puisi tersebut yang rata-rata berisi tentang alam semesta, sementara Bang Afrizal dari sisi kritik sastranya. Audiennya cukup banyak, barangkali 100-an orang yang terdiri dari berbagai latar belakang: mahasiswa (UIN, UNY dan UGM), anak teater ESKA, anggota IAA Yogyakarta (Ikatan Alumni Annuqayah Yogyakarta) serta satu-dua penyair (baik muda dan tua).
Untuk pengalaman yang kedua ini ada kesan tersendiri bagiku. Bagaimana tidak, buku yang dibedah adalah karangan penyair yang sudah kesohor. Selain itu, aku didudukkan satu kursi dengan Afrizal Malna yang menurut sejumlah kritikus sastra adalah merupakan “penyair besar“. Untungnya aku hanya ditugasi untuk berbicara soal “kisah alam semesta“ serta hubungannya dengan isi puisi, sehingga aku dapat dengan leluasa berbicara ini dan itu tentang topik yang memang pernah aku mempelajarinya di kampus. Uniknya, meskipun bagiku apa yang aku bicarakan tidaklah cukup istimewa, mendapat sambutan antusias dari audien. Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah jika memang betul bahwa para audien merasa senang dengan apa yang aku sampaikan.
Undangan untuk acara tersebut datang secara mendadak ketika aku di Kost Bahauddin – temanku – sedang memperbaiki notebookku. Undangan itu melalui sms, dari teman Bernando J. Soedjibto (biasa dipanggil BJ). BJ memintaku untuk membahas puisi-puisi M. Faizi dalam perspektif ilmu Astrofisika. Tanpa dipikir panjang, aku terima tawaran itu. Aku pikir, ini merupakan jalan buatku mengamalkan ilmu yang aku miliki. Aku tidak menanyakan soal honor, sebab bagiku hal yang paling membahagiakanku adalah dapat bersilaturrahim dan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Apalagi setelah tiga hari setelah undangan itu aku tahu panitianya (IAA-ESKA) tidak cukup dana untuk membayar pembicara. Jadi, aku semakin bisa untuk tidak menghiraukan soal itu.
Setelah acara tersebut selesai, Bang Afrizal meminta kontak saya. Katanya, dia mau mengudang saya untuk acara pertunjukannya. Aku menerima email darinya tanggal 23 Mei. Isi email itu, Bang Afrizal berharap aku bpergabung dalam acara pementasan tari Group Kelola sebagai perpanjangan program instansi EWA 2011 (Empowering Women Artis 2011) di Taman Budaya Jawa Tengah Solo. Hingga hari ini, aku belum bisa memutuskan bisa-tidaknya. Hanya saja, aku pikir, jika ini adalah jalan buatku berbagi ilmu dengan orang lain, apalagikah alasan untuk menolaknya. Dalam acara itu, demikian minta Bang Afrizal, adalah sebagai pendamping dan pembicara dalam acara diskusi pengenalan seputar “fenomena langit“.
Mungkin ini adalah berkah, tetapi mungkin juga hal yang hanya akan mengakibatkan sesuatu yang buruk bagi diriku. Aku tidak ingin disibukkan oleh hal-hal di luar aktivitasku. Aku tidak ingin jadi orang sibuk, itu saja. Sebab kesibukan membuatku menjadi tidak “istimewa“ dalam menjalani hari-hari. Aku sangat tidak bisa untuk menjadi terkenal seperti mereka-mereka, bisa bersombong diri, menjadi elit dan teralienasi dari kehidupan “sederhanaku“. Tetapi aku selalu ingat pesan guruku, “Jadilah orang yang bisa membahagiakan orang lain, sebab tanpa orang lain, kau tidak berarti apa-apa“. Kata-kata itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam diriku, dan aku menyadarinya sebagai suatu “kebenaran“. Lagi pula, betapa kecewanya Bang Afrizal yang sudah dengan rendah hatinya memintaku bergabung dengan dia dalam acara itu ketika nanti aku putuskan untuk menolak tawarannya? Bagaimana juga bila seandainya aku meminta temanku untuk membantuku kemudian dia tidak mau?
Aku pikir, jika aku terima tawaran ini, mungkin akan semakin memperbanyak perbendaharaan pengalamanku. Pengalaman, kata orang, adalah guru yang paling baik. Lagi pula, apa sih susahnya bergabung bersama mereka dalam acara yang tidak terlalu lama itu. Apalagi acara itu, aku yakin, adalah bagian dari kebaikan. Mungkin jika acara itu adalah bagian keburukan, maklum saja aku berpikir panjang untu menerimanya, atau langsung menolaknya. Ini kebaikan kok. Mungkin acara ini akan menjadi semacam ritual untuk memperbanyak amal kepada orang lain. Hitung-hitung juga, aku pikir, bila Allah telah membuka jalan bagi manusia, tidakkah dia menyambutnya dengan suka cita? Aku selalu minta jalan yang lurus kepada Allah, tetapi setelah diberiNya jalan lurus, aku malah menolaknya. Bukankah tindakan itu sangat aneh dan tidak rasional? Ya sudahlah, aku akan menerimanya segenap jiwa. Ya Allah, jadikanlah ini sebagai media untukku semakin mendekat ke hadiratMu. (24 Mei 2011).
Kedua di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam acara bedah buku antologi puisi karangan M. Faizi, Permaisuri Malamku, pada tanggal 21 Mei 2011. Sebagai penyaji, selain penulisnya, adalah aku dan Afrizal Malna. Aku ditugasi berbicara isi sajak-sajak dalam antologi puisi tersebut yang rata-rata berisi tentang alam semesta, sementara Bang Afrizal dari sisi kritik sastranya. Audiennya cukup banyak, barangkali 100-an orang yang terdiri dari berbagai latar belakang: mahasiswa (UIN, UNY dan UGM), anak teater ESKA, anggota IAA Yogyakarta (Ikatan Alumni Annuqayah Yogyakarta) serta satu-dua penyair (baik muda dan tua).
Untuk pengalaman yang kedua ini ada kesan tersendiri bagiku. Bagaimana tidak, buku yang dibedah adalah karangan penyair yang sudah kesohor. Selain itu, aku didudukkan satu kursi dengan Afrizal Malna yang menurut sejumlah kritikus sastra adalah merupakan “penyair besar“. Untungnya aku hanya ditugasi untuk berbicara soal “kisah alam semesta“ serta hubungannya dengan isi puisi, sehingga aku dapat dengan leluasa berbicara ini dan itu tentang topik yang memang pernah aku mempelajarinya di kampus. Uniknya, meskipun bagiku apa yang aku bicarakan tidaklah cukup istimewa, mendapat sambutan antusias dari audien. Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah jika memang betul bahwa para audien merasa senang dengan apa yang aku sampaikan.
Undangan untuk acara tersebut datang secara mendadak ketika aku di Kost Bahauddin – temanku – sedang memperbaiki notebookku. Undangan itu melalui sms, dari teman Bernando J. Soedjibto (biasa dipanggil BJ). BJ memintaku untuk membahas puisi-puisi M. Faizi dalam perspektif ilmu Astrofisika. Tanpa dipikir panjang, aku terima tawaran itu. Aku pikir, ini merupakan jalan buatku mengamalkan ilmu yang aku miliki. Aku tidak menanyakan soal honor, sebab bagiku hal yang paling membahagiakanku adalah dapat bersilaturrahim dan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Apalagi setelah tiga hari setelah undangan itu aku tahu panitianya (IAA-ESKA) tidak cukup dana untuk membayar pembicara. Jadi, aku semakin bisa untuk tidak menghiraukan soal itu.
Setelah acara tersebut selesai, Bang Afrizal meminta kontak saya. Katanya, dia mau mengudang saya untuk acara pertunjukannya. Aku menerima email darinya tanggal 23 Mei. Isi email itu, Bang Afrizal berharap aku bpergabung dalam acara pementasan tari Group Kelola sebagai perpanjangan program instansi EWA 2011 (Empowering Women Artis 2011) di Taman Budaya Jawa Tengah Solo. Hingga hari ini, aku belum bisa memutuskan bisa-tidaknya. Hanya saja, aku pikir, jika ini adalah jalan buatku berbagi ilmu dengan orang lain, apalagikah alasan untuk menolaknya. Dalam acara itu, demikian minta Bang Afrizal, adalah sebagai pendamping dan pembicara dalam acara diskusi pengenalan seputar “fenomena langit“.
Mungkin ini adalah berkah, tetapi mungkin juga hal yang hanya akan mengakibatkan sesuatu yang buruk bagi diriku. Aku tidak ingin disibukkan oleh hal-hal di luar aktivitasku. Aku tidak ingin jadi orang sibuk, itu saja. Sebab kesibukan membuatku menjadi tidak “istimewa“ dalam menjalani hari-hari. Aku sangat tidak bisa untuk menjadi terkenal seperti mereka-mereka, bisa bersombong diri, menjadi elit dan teralienasi dari kehidupan “sederhanaku“. Tetapi aku selalu ingat pesan guruku, “Jadilah orang yang bisa membahagiakan orang lain, sebab tanpa orang lain, kau tidak berarti apa-apa“. Kata-kata itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam diriku, dan aku menyadarinya sebagai suatu “kebenaran“. Lagi pula, betapa kecewanya Bang Afrizal yang sudah dengan rendah hatinya memintaku bergabung dengan dia dalam acara itu ketika nanti aku putuskan untuk menolak tawarannya? Bagaimana juga bila seandainya aku meminta temanku untuk membantuku kemudian dia tidak mau?
Aku pikir, jika aku terima tawaran ini, mungkin akan semakin memperbanyak perbendaharaan pengalamanku. Pengalaman, kata orang, adalah guru yang paling baik. Lagi pula, apa sih susahnya bergabung bersama mereka dalam acara yang tidak terlalu lama itu. Apalagi acara itu, aku yakin, adalah bagian dari kebaikan. Mungkin jika acara itu adalah bagian keburukan, maklum saja aku berpikir panjang untu menerimanya, atau langsung menolaknya. Ini kebaikan kok. Mungkin acara ini akan menjadi semacam ritual untuk memperbanyak amal kepada orang lain. Hitung-hitung juga, aku pikir, bila Allah telah membuka jalan bagi manusia, tidakkah dia menyambutnya dengan suka cita? Aku selalu minta jalan yang lurus kepada Allah, tetapi setelah diberiNya jalan lurus, aku malah menolaknya. Bukankah tindakan itu sangat aneh dan tidak rasional? Ya sudahlah, aku akan menerimanya segenap jiwa. Ya Allah, jadikanlah ini sebagai media untukku semakin mendekat ke hadiratMu. (24 Mei 2011).
Label:
cathar
AKU DAN BUK SUHAENA
Buk Suhaena adalah mbak sepupuku. Sekarang (2011) umurnya 31 tahun. Tapi dia tidak menikah. Entahlah, aku kasihan padanya bila sampai beberapa tahun kemudian dia juga tidak menikah. Padahal, Mak Enna – emaknya – sudah ingin menimang cucu; Mbuk – nenekku – ingin menimang cicit; dan aku juga ingin menimang keponakan. Aku selalu berdoa, semoga Allah segera memberikannya jodoh yang baik dan sholeh.
Dulu semasih aku kanak-kanak, sering aku bertengkar dengannya, tetapi bukan karena aku tidak menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Dialah mbakku yang paling aku cintai. Ketika aku kelas dua SD, dia yang mengajariku membaca buku, menulis tegak bersambung, menghafal perkalian 1 sampai 10. Dan setelah aku di Jogja, mengarang beberapa buku dan bisa hidup mandiri, dia sangat bangga kepadaku. Diceritakannya aku kepada teman-temannya. Dipuji-pujinya aku setinggi langit. Bukan karena telah ”dipromosikannya” aku kepada orang lain yang membuatku terharu, tetapi karena aku tahu bahwa ini adalah bukti betapa sebenarnya dia sangat menyayangiku meskipun sikapnya kepadaku sangat dingin, bahkan terkesan keras.
Pada sekitar tahun 1999 dan 2000-an, mbakku menyukai acara atensian dan dangdutan di radio Pesona 2000. Acaranya siang, sehabis dhuhur. Saat-saat seperti itu aku sudah pulang dari sekolah (SD). Aku selalu diajaknya mendengarkan radio bersama. Awalnya aku tidak mau, tetapi setelah lama-kelamaan akhirnya aku turut menyukai acara itu. Ini pula yang membuatku pada saat-saat setelah itu banyak menyukai acara-acara radio.
Dia mengatakan kepadaku bahwa dia banyak hafal lagu dangdut, dan mengejekku karena tak satu pun lagu dangdut yang aku hafal. Maka aku pun merengek-rengek untuk diajari lagu dangdut. Dan dia sangat antusias sekali. Aku masih ingat, dan mungkin tidak akan pernah kulupa, lagu dandut pertama yang diajarinya kepadaku adalah karya pedangdut daerah, Firmansyah, yang judulnya telah aku lupa. Beginilah lagunya:
Yang manakah, yang mana harus kupilih
Untuk kumiliki, untuk kumiliki, selamanya (2x)
Ni..wes-wes-wes ni
Bhelerhek kalare tarebung manyang
Beres mare tedung nyaman
Beres mare tedung nyaman
(Reff)
Ingin kutepis kenyataan ini
Sampai tiada rasa bimbang lagi
Hanya satu cinta yang kudambakan
Impian asmaraku tak ingin terbeli
Ingin kumiliki, ingin kumiliki
Dia, untuk selamanya
Ketika kunyanyikan lagu itu, bahkan hingga kini, yang tergambar di kepalaku adalah wajahnya, kenangan-kenangan bersamanya yang sungguh luar biasa indah. Tidak hanya lagu, dia pun mengajariku main remi, dom, tebak-tebakan, lagu Madura, dan banyak mainan lainnya. Kalau punya pacar, dia pasti memperkenalkannya kepadaku. Dia membanggakan aku di depan pacarnya.
Dia pula yang mengajariku bagaimana mengarit rumput yang benar, menyuruhku untuk mencuci sendiri baju-bajuku yang sudah kotor, membantuku menyelesaikan PR sekolah, memarahiku jika aku berbuat kesalahan, menyuruhku untuk mengaji dan sekolah yang benar, memberikanku banyak bayangan yang indah tentang masa depan, dan sebagainya-dan sebagainya. Ketika aku sedang bertengkar dengan temanku, aku selalu mencurhatkannya kepadanya. Pokoknya, she is the best my sister!
Tetapi ini hanya kenangan. Ya, hanya kenangan semata. Setelah aku pulang ke Madura, aku tidak akan melihatnya lagi. Dia tidak akan lagi menemaniku bercerita banyak hal tentang perjalanan hidupku di Jogja. Dia tidak akan lagi mengajakku mengarit rumput, mengajariku menanam padi, mengajakku merawat tembakau dan mendengarkan acara dangdutan di radio. Dia tidak akan lagi marah-marah padaku bila aku berbuat salah.
Ya, sudah sekitar seminggu dia meninggalkan rumah. Dia sekarang jadi TKW di Malaysia. Tujuannya satu: untuk membayar hutang-hutang emaknya yang sudah menumpuk. Kata bibiku (mak Enna), dia akan kembali ke Madura setelah masa kerja kurang-lebih dua tahun. Aku kaget mendengarnya. Bukankah dia berjanji kepadaku bahwa dia akan menemani wisudaku nanti? Lalu siapa yang akan mendengarkan cerita-ceritaku ketika aku pulang ke Madura? Siapa pula ketika pagi-pagi akan memarahiku dan mengajakku pergi ke sawah biar kerjaanku tidak hanya tidur saja?
”Buk,” kataku ketika dia hampir berangkat ke Malaysia. ”Seandainya aku kaya, akan kuajak kau tinggal di rumahku. Akan kubantu kau membayar hutang-hutangmu. Akan kucarikan kau jodoh, biar tugasmu sebagai tulang-punggung keluarga tidak seberat ini. Aku sebenarnya tidak ingin kau pergi jauh dari rumah. Kasihan sama mak Enna yang penyakitan begitu, adikmu juga masih kecil-kecil dan bapakmu sudah tua. Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan mengurus mereka.” Dia hanya menangis dan berkata, ”Sudahlah, dik, aku minta doamu saja. Hentikan omelanmu itu!”***
(05 April 2011).
Dulu semasih aku kanak-kanak, sering aku bertengkar dengannya, tetapi bukan karena aku tidak menyayanginya. Aku sangat mencintainya. Dialah mbakku yang paling aku cintai. Ketika aku kelas dua SD, dia yang mengajariku membaca buku, menulis tegak bersambung, menghafal perkalian 1 sampai 10. Dan setelah aku di Jogja, mengarang beberapa buku dan bisa hidup mandiri, dia sangat bangga kepadaku. Diceritakannya aku kepada teman-temannya. Dipuji-pujinya aku setinggi langit. Bukan karena telah ”dipromosikannya” aku kepada orang lain yang membuatku terharu, tetapi karena aku tahu bahwa ini adalah bukti betapa sebenarnya dia sangat menyayangiku meskipun sikapnya kepadaku sangat dingin, bahkan terkesan keras.
Pada sekitar tahun 1999 dan 2000-an, mbakku menyukai acara atensian dan dangdutan di radio Pesona 2000. Acaranya siang, sehabis dhuhur. Saat-saat seperti itu aku sudah pulang dari sekolah (SD). Aku selalu diajaknya mendengarkan radio bersama. Awalnya aku tidak mau, tetapi setelah lama-kelamaan akhirnya aku turut menyukai acara itu. Ini pula yang membuatku pada saat-saat setelah itu banyak menyukai acara-acara radio.
Dia mengatakan kepadaku bahwa dia banyak hafal lagu dangdut, dan mengejekku karena tak satu pun lagu dangdut yang aku hafal. Maka aku pun merengek-rengek untuk diajari lagu dangdut. Dan dia sangat antusias sekali. Aku masih ingat, dan mungkin tidak akan pernah kulupa, lagu dandut pertama yang diajarinya kepadaku adalah karya pedangdut daerah, Firmansyah, yang judulnya telah aku lupa. Beginilah lagunya:
Yang manakah, yang mana harus kupilih
Untuk kumiliki, untuk kumiliki, selamanya (2x)
Ni..wes-wes-wes ni
Bhelerhek kalare tarebung manyang
Beres mare tedung nyaman
Beres mare tedung nyaman
(Reff)
Ingin kutepis kenyataan ini
Sampai tiada rasa bimbang lagi
Hanya satu cinta yang kudambakan
Impian asmaraku tak ingin terbeli
Ingin kumiliki, ingin kumiliki
Dia, untuk selamanya
Ketika kunyanyikan lagu itu, bahkan hingga kini, yang tergambar di kepalaku adalah wajahnya, kenangan-kenangan bersamanya yang sungguh luar biasa indah. Tidak hanya lagu, dia pun mengajariku main remi, dom, tebak-tebakan, lagu Madura, dan banyak mainan lainnya. Kalau punya pacar, dia pasti memperkenalkannya kepadaku. Dia membanggakan aku di depan pacarnya.
Dia pula yang mengajariku bagaimana mengarit rumput yang benar, menyuruhku untuk mencuci sendiri baju-bajuku yang sudah kotor, membantuku menyelesaikan PR sekolah, memarahiku jika aku berbuat kesalahan, menyuruhku untuk mengaji dan sekolah yang benar, memberikanku banyak bayangan yang indah tentang masa depan, dan sebagainya-dan sebagainya. Ketika aku sedang bertengkar dengan temanku, aku selalu mencurhatkannya kepadanya. Pokoknya, she is the best my sister!
Tetapi ini hanya kenangan. Ya, hanya kenangan semata. Setelah aku pulang ke Madura, aku tidak akan melihatnya lagi. Dia tidak akan lagi menemaniku bercerita banyak hal tentang perjalanan hidupku di Jogja. Dia tidak akan lagi mengajakku mengarit rumput, mengajariku menanam padi, mengajakku merawat tembakau dan mendengarkan acara dangdutan di radio. Dia tidak akan lagi marah-marah padaku bila aku berbuat salah.
Ya, sudah sekitar seminggu dia meninggalkan rumah. Dia sekarang jadi TKW di Malaysia. Tujuannya satu: untuk membayar hutang-hutang emaknya yang sudah menumpuk. Kata bibiku (mak Enna), dia akan kembali ke Madura setelah masa kerja kurang-lebih dua tahun. Aku kaget mendengarnya. Bukankah dia berjanji kepadaku bahwa dia akan menemani wisudaku nanti? Lalu siapa yang akan mendengarkan cerita-ceritaku ketika aku pulang ke Madura? Siapa pula ketika pagi-pagi akan memarahiku dan mengajakku pergi ke sawah biar kerjaanku tidak hanya tidur saja?
”Buk,” kataku ketika dia hampir berangkat ke Malaysia. ”Seandainya aku kaya, akan kuajak kau tinggal di rumahku. Akan kubantu kau membayar hutang-hutangmu. Akan kucarikan kau jodoh, biar tugasmu sebagai tulang-punggung keluarga tidak seberat ini. Aku sebenarnya tidak ingin kau pergi jauh dari rumah. Kasihan sama mak Enna yang penyakitan begitu, adikmu juga masih kecil-kecil dan bapakmu sudah tua. Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan mengurus mereka.” Dia hanya menangis dan berkata, ”Sudahlah, dik, aku minta doamu saja. Hentikan omelanmu itu!”***
(05 April 2011).
Label:
cathar
Minggu, 01 Mei 2011
MENCURI JAMBU MENTE PAK MANTOLANI
Rudi, Hamdi, Aan, Nasiroh, Sri dan aku adalah sepaket teman akrab. Pada suatu kali di tahun 1997 (waktu itu aku kelas 4 SD), di musim tanam jambu mente, kami berinisiatif untuk mencuri jambu mentenya Pak Mantolani. Kami berencana mencurinya sekarung saja, untuk keinginan kami membeli mainan yang kala itu lagi musim-musimnya, yakni layang-layang, bhejeng, kelereng, kentat, dan lain-lain. Pokoknya, banyak amat rencana kami. Mengapa jambu mente Pak Mantolani dan bukan yang lain? Karena Pak Mantolani waktu itu suka jail sama kita-kita. Ada saja cara dia untuk membuat kita menangis. Dan kami sangat membencinya. Kami bersepakat bahwa pada saatnya nanti kami akan menuntut balas. Dengan mencuri jambu mentenya kami pikir adalah balasan yang setimpal.
Maka, sehabis jam sekolah, di hari Jum’at (hari itu adalah hari pasaran di desa kami), kami berduyun-duyun menuju sawah Pak Mantolani lengkap dengan clurit kecil dan karung. Nasiroh kami mintai untuk memantau keadaan, aman dan tidaknya, sementara kami berlima naik ke pohon mente untuk memetik jambu mentenya dengan cepat. Sial, sungguh sial, Nasiroh bukannya memantau keadaan, tetapi malah bermain-main sendiri ke luar areal persawahan. Jadinya, kehadiran Pak Mantolani tidak kami ketahui. Pertama-tama dia tidak melihat kami, karena kami ada di bagian tengah sawah. Tetapi akhirnya ketika dia masuk ke dalam sawah, seketika dia melihat kami, lantas berteriak-teriak supaya kami turun.
Kami yang tiba-tiba tahu kehadirannya, balingsatan lari. Pak Mantolani mencabut cluritnya dari balik punggungnya dan mengejar kami. Untung lari kami lebih cepat dari dia. Kalau tidak, mungkin di antara kami akan ada yang ditebasnya. Soalnya, dari gelagatnya, Pak Mantolani tidak main-main dengan ancamannya itu. Dia betul-betul mengejar kami sekuat tenaga, mukanya berubah tajam, garang dan menakutkan. Seumpama kami tertangkap, mungkin dia tidak akan segan-segan untuk membacokkan cluritnya. Tapi untungnya tidak. Aku pikir barangkali nasib belum saatnya berkata buruk bagi kami.
Kami kagetnya minta ampun. Karena saking kagetnya, sampai-sampai karung dan clurit kecil kami tinggal di sawahnya tanpa sadar. Kami lari sekencang-kencangnya hingga bukan saja jauh dari kejaran Pak Mantolani, tetapi bahkan sampai ke pantai yang jaraknya kurang-lebih 3 kilometer dari tempat itu. Setibanya di pantai kami berenam bersembunyi di bawah rimbunan pohon bakau sambil menyelesaikan rasa capek yang luar biasa itu.
Kami tidak tahu bagaimana seandainya orang tua kami tahu akan hal ini. Kami juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang tua kami bila mereka tahu bahwa kami (terutama aku, Hamdi dan Rudi) tidak pergi Jum’atan ke masjid. Hah, benar-benar kami menyesal akhirnya. Kami merasa sangat ketakutan untuk pulang ke rumah, sebab pulang berarti menyerahkan diri ke Pak Mantolani. Tempat lewat satu-satunya dari laut ke rumah kami adalah sawah Pak Mantolani itu. Dan kami pikir, Pak Mantolani akan terus menunggu hingga sore. Makanya kami bersepakat untuk pulang ke rumah bila magrib tiba.
Dan magrib pun tiba, kami berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. Setali tiga uang, semua dari kami harus tidak hanya menghadapi kemarahan orang tua kami, tetapi juga beberapa pukulan. Katanya, orang tua kami sama-sama mencari kami sedari tadi siang. Sebenarnya hal ini sudah terpikirkan oleh kami, tetapi apa daya kami merasa lebih takut pada Pak Mantolani ketimbang kepada orang tua kami. Maka, pagi-pagi keesokan harinya, kami bertemu di sekolah. Kepala pinggang Hamdi memar, demikian juga pipi Rudi, telinga Aaan merah, dahi Nasiroh benjol, hidung sri bengkak dan di pahaku tercetak tiga lambang gagang sapu. Tanpa saling bilang apa yang terjadi, kami pun sama-sama tahu, semua itu karena kemarin kami sama-sama mendapatkan hadiah pukulan dari orang tua kami. Kami pun saling mengejek satu sama lain, saling tertawa cekikikan, dan saling berusaha sendiri-sendiri menghilangkan rasa gundah dalam diri.
(Kutulis catatan ini ketika pada jam 00.02 sedang teringat teman-teman masa kecil, terutama Rudi, Hamdi, Aan, Nasiroh dan Sri. Rasa rinduku pada mereka tiba-tiba menjadi besar dan tak terbendung. Ingin rasanya aku pulang segera dan bertamu ke rumah mereka satu-persatu. Tetapi apa daya, di Jogja aku masih ada banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Tak apalah. Tetapi aku janji, nanti kalau sudah bisa mudik ke kampung, aku akan mengumpulkan mereka dan menceritakan kisah kenangan aneh ini!). (Jogjakarta, 25 April 2011).
Maka, sehabis jam sekolah, di hari Jum’at (hari itu adalah hari pasaran di desa kami), kami berduyun-duyun menuju sawah Pak Mantolani lengkap dengan clurit kecil dan karung. Nasiroh kami mintai untuk memantau keadaan, aman dan tidaknya, sementara kami berlima naik ke pohon mente untuk memetik jambu mentenya dengan cepat. Sial, sungguh sial, Nasiroh bukannya memantau keadaan, tetapi malah bermain-main sendiri ke luar areal persawahan. Jadinya, kehadiran Pak Mantolani tidak kami ketahui. Pertama-tama dia tidak melihat kami, karena kami ada di bagian tengah sawah. Tetapi akhirnya ketika dia masuk ke dalam sawah, seketika dia melihat kami, lantas berteriak-teriak supaya kami turun.
Kami yang tiba-tiba tahu kehadirannya, balingsatan lari. Pak Mantolani mencabut cluritnya dari balik punggungnya dan mengejar kami. Untung lari kami lebih cepat dari dia. Kalau tidak, mungkin di antara kami akan ada yang ditebasnya. Soalnya, dari gelagatnya, Pak Mantolani tidak main-main dengan ancamannya itu. Dia betul-betul mengejar kami sekuat tenaga, mukanya berubah tajam, garang dan menakutkan. Seumpama kami tertangkap, mungkin dia tidak akan segan-segan untuk membacokkan cluritnya. Tapi untungnya tidak. Aku pikir barangkali nasib belum saatnya berkata buruk bagi kami.
Kami kagetnya minta ampun. Karena saking kagetnya, sampai-sampai karung dan clurit kecil kami tinggal di sawahnya tanpa sadar. Kami lari sekencang-kencangnya hingga bukan saja jauh dari kejaran Pak Mantolani, tetapi bahkan sampai ke pantai yang jaraknya kurang-lebih 3 kilometer dari tempat itu. Setibanya di pantai kami berenam bersembunyi di bawah rimbunan pohon bakau sambil menyelesaikan rasa capek yang luar biasa itu.
Kami tidak tahu bagaimana seandainya orang tua kami tahu akan hal ini. Kami juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang tua kami bila mereka tahu bahwa kami (terutama aku, Hamdi dan Rudi) tidak pergi Jum’atan ke masjid. Hah, benar-benar kami menyesal akhirnya. Kami merasa sangat ketakutan untuk pulang ke rumah, sebab pulang berarti menyerahkan diri ke Pak Mantolani. Tempat lewat satu-satunya dari laut ke rumah kami adalah sawah Pak Mantolani itu. Dan kami pikir, Pak Mantolani akan terus menunggu hingga sore. Makanya kami bersepakat untuk pulang ke rumah bila magrib tiba.
Dan magrib pun tiba, kami berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. Setali tiga uang, semua dari kami harus tidak hanya menghadapi kemarahan orang tua kami, tetapi juga beberapa pukulan. Katanya, orang tua kami sama-sama mencari kami sedari tadi siang. Sebenarnya hal ini sudah terpikirkan oleh kami, tetapi apa daya kami merasa lebih takut pada Pak Mantolani ketimbang kepada orang tua kami. Maka, pagi-pagi keesokan harinya, kami bertemu di sekolah. Kepala pinggang Hamdi memar, demikian juga pipi Rudi, telinga Aaan merah, dahi Nasiroh benjol, hidung sri bengkak dan di pahaku tercetak tiga lambang gagang sapu. Tanpa saling bilang apa yang terjadi, kami pun sama-sama tahu, semua itu karena kemarin kami sama-sama mendapatkan hadiah pukulan dari orang tua kami. Kami pun saling mengejek satu sama lain, saling tertawa cekikikan, dan saling berusaha sendiri-sendiri menghilangkan rasa gundah dalam diri.
(Kutulis catatan ini ketika pada jam 00.02 sedang teringat teman-teman masa kecil, terutama Rudi, Hamdi, Aan, Nasiroh dan Sri. Rasa rinduku pada mereka tiba-tiba menjadi besar dan tak terbendung. Ingin rasanya aku pulang segera dan bertamu ke rumah mereka satu-persatu. Tetapi apa daya, di Jogja aku masih ada banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Tak apalah. Tetapi aku janji, nanti kalau sudah bisa mudik ke kampung, aku akan mengumpulkan mereka dan menceritakan kisah kenangan aneh ini!). (Jogjakarta, 25 April 2011).
Label:
cathar
Langganan:
Postingan (Atom)