(UNTUK 1 TAHUN KEMATIANNYA)
Untukmu: yang tersayang, yang terkasih
Dari: santrimu yang tak tahu diri
Gus, malam ini lengang. Tak ada angin yang bersiur dan awan-awan berlayar indah di langit. Seperti malam satu tahun yang lalu, ketika kau mengimami shalat magrib kami dan sekitar jam 10 kau meninggalkan kami. Tidak mudah rupanya untuk tidak mengingat malam itu, 14 Maret 2007, yang sungguh bagi kami sangat membualkan.
Lihatlah, kami merayakan 1 tahun kematianmu. Kami pakai bahasa ‘merayakan’ karena, seperti yang dulu kau nyatakan sendiri, kematian lebih indah dari pada kehidupan yang serba fatamorgana ini. Jelasnya, kami merayakan “kehidupan” yang kau damba-dambakan itu.
Untuk mengenangmu, sesungguhnya kami tak pernah tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya bersepakat untuk menembangkan lagu shalawatan yang kau ciptakan dan sering kau lantunkan (Madinah dan Cheng Ho) itu supaya dengan mudah kami mengingatmu. Dan kemudian seperti biasanya, diantara kami ada yang bertugas merefleksikan dunia dan kehidupanmu secara panjang-lebar dengan suara yang dipaksakan terbatah-batah agar kami semua tahu bahwa memang demikianlah yang dinamakan refleksi. Ketika itu kami mulai memejamkan mata bersama, dan meresapi kebersamaan kita dulu, kehangatanmu, kesantunanmu, kerianganmu, ke…ah, tak mungkin semuanya terwakilkan oleh kata. Serasa kami tak kuasa menahan isak jika semuanya terurai, terberai, dan kau benar-benar menjelma mimpi panjang kami. Kami hanya ingin kau hadir dalam lubuk kami dan tidak dalam bayangan kami yang terkadang menyesatkan.
Kami berbicara semau kami, gus. Tentang pesantren, tentang keluarga dan dirimu, tentang apa saja sepuas hati kami. Kami bisa saja menangis, tertawa, rikuh, atau sikap dan sifat lain karenanya. Dan kami tidak benar-benar tahu apakah kau melihat itu semua dengan sempurna. Tetapi keyakinan kami begitu kuat, bahwa kau akan selalu mengiringi kami setiap saat.
Dapat kami bayangkan, kau akan hadir malam ini. Seperti katamu sendiri, “aku selalu bersama kalian”. Entah – dalam bayangan kami – dengan apa kau telah menempuh perjalanan jauh dari Kediri, hanya untuk menghadiri acara kecil ini. Kau akan menganggap acara ini sangat berarti bagimu dan karenanya kau tertuntut hadir.
Jelas dalam bayangan kami, ketika kami semua memejamkan mata, kau hadir mengendap-ngendap di pintu dengan baju koko putih, songkok putih, sarung biru, dan sandal kulit yang talinya hampir copot – setelah kesukaanmu itu. Kau perlahan duduk di antara atau di tengah-tengah kami dan ikut komat-kamit membacakan kalimat shalawat yang sedang kami baca. Kau menitikkan air mata saat kau menatap kami yang sedang meratapmu. Barangkali kau ingin sekali membelai kami penuh kasih dan sayang, dan memberitahukan kami bahwa kau hadir dalam acara itu. Kau akan mengatakan,”mengapa kalian menangis. Aku di sini bersama kalian. Apa kalian menganggapku mati? Bisakah seseorang menafsiri hidup orang lain? Mengapa kalian cuek pada kedatanganku ini? Aku datang jauh-jauh dari Kediri?
Tapi kami akan terus menangis. Meski kau mengusap-ngusap kepala kami, kami tak akan betul-betul mampu memastikan usapan itu. Kami akan terus menangis, gus, dan tanpa seorang pun yang dapat menghalanginya. Seandainya kau memenuhi keinginan kami agar kematianmu itu hanya omong-kosong atau sementara atau barangkali kesalahan prediksi dokter semata atau indikasi apa saja yang penting kau kembali hidup dan berkumpul kembali bersama kami, mungkin kami akan sempurna menatapmu dan tidak akan pernah menangis lagi. Tahukah kau, gus? Kau ini sudah meninggal. Duniamu dan dunia kami jauh berbeda. Jadi jangan kau harap kami bisa menangkap kehadiranmu itu. Bukan karena apa, tetapi kami betul-betul buta akan duniamu. Kami hanya bisa menikmati dunia kami sendiri. Kami tidak sepertimu yang selalu mengaku bisa menemui orang yang sudah meninggal.
Sesungguhnya kami tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu ketika menatap kami semua yang hanyut dalam perenungan, sementara kau merasa sebagai tamu yang asing karena kedatanganmu tidak kami indahkan. Jika memang benar begitu, kami sangat kasihan padamu, gus. Kau merasa asing di tengah orang-orang yang telah kau besarkan. Tapi itulah yang memang sepatutnya terjadi, sekali lagi, duniamu dan dunia kami jauh berbeda. Kau dan kami, akan sama-sama merasa asing. Dunia kadang memang penuh teka-teki, gus.
Barangkali juga kau tidak akan tahu apa yang sedang berdiaspora dalam kepala kami. Ketika memejamkan mata, jangan pernah kau bayangkan, kepala kami terasa kosong dan tak ada sesuatu yang sedang berkecamuk di sana. Bahwa kami sama-sama berangkat menuju masa lalu ketika masih bersamamu. Kami berupaya meremajakan ingatan kami atas tragedi malam yang mencekam itu. Kematianmu.
Sungguh kami terkejut sekitar jam 21.30 saat Bu Har mengabarkan kepada kami bahwa kau tak sadarkan diri. Kami terkejut karena hal itu tak pernah terjadi kepadamu selama itu atau karena kau tidak pernah mengeluh sakit ketika mengimami shalat magrib. Keterkejutan itulah yang memaksa kami untuk meninggalkan senda-gurau kami dan langsung menuju rumahmu untuk memastikan kebenaran kabar Bu Har itu, tanpa sebersit pun perasaan “asing” dalam benak kami. Dengan mudahnya kami menggotong gempal tubuhmu ke dalam mobil yang telah dipesan oleh beberapa orang diantara kami dan langsung membawamu ke rumah sakit PKU Muhammadiah. Tak lama kemudian, sesuatu yang “asing” menyeruak kendang telinga kami sekitar jam 22.00, bahwa kau dinyatakan telah tiada.
Ah, kami kira dokter yang merawatmu itu adalah seorang pembual. Kami tak akan pernah percaya kalau kau betul-betul meniggal. Seandainya kami diberi kesempatan akan kami perintahkan dokter itu untuk memeriksamu kembali, barangkali prediksinya itu salah. Jika dia salah, mungkin tak segan-segan kami mendampratnya atau memukulnya, sekedar menghajar agar hal yang sama tidak akan dia ulangi lagi.
Tapi sayang kami tak punya wewenang. Kami hanya bisa meratap tak percaya di luar kamar rawatmu, menunggu kabar selanjutnya dari Pak Gendut dan Bu Maya. Setelah keluar dari kamar, informasi yang disampaikan mereka berdua kepada kami sama juga dengan informasi dokter tadi itu. Ah, kalian pembohong – benak kami. Semuanya tak dapat dipercaya. Sungguh kami betul-betul tak percaya, karena tak seperti biasanya ajal menjemput awaknya secepat itu. Baru setelah mata kami nyalang melihat tubuhmu dibalut sampir batik coklat, kami agak meragukan keyakinan itu. Serasa kami ingin mendekati tubuhmu dan memegang nadimu. Apakah benar jantungmu sudah tak berdetak?
Karena kami masih tak percaya, karena itu pula kami tak merasa kehilangan. Sedikitpun kami tidak menangis. Meski orang-orang menyiapkan pemandian buatmu, dan dirumahmu berderak orang-orang, masih saja kami tak percaya. Yang ada dalam kepala kami hanya bahwa yang dikatakan semua orang itu hanya omong-kosong belaka. Terus saja kami tertawa di dalam hati sambil berbisik-bisik, “Dikira kita nggak tahu kalau semua ini bohongan. Paling-paling setelah dimandikan, Gus Zainal akan bangkit lagi dan tertawa kepada khalayak, memberitahukan bahwa dia Cuma bermain-main saja.”
Tapi perkiraan kami meleset. Setelah kau dimandikan, kau tak bangkit-bangkit. Sampai orang-orang mengkafanimu, kau juga masih demikian. Mengapa begitu – benak kami. Bukankah semua ini hanya bualan? Mengapa gus Zainal mau dikafani, padahal dia masih hidup?
Meski mata kepala kami melihat kau dikafani, untuk memastikan kembali, kami bertanya pada Bu Maya, apakah Gus Zainal benar-benar meniggal? Tanpa kata-kata, dengan wajah muram bersimbah air mata, beliau hanya mengangguk lirih. Hingga dua kali Bu Maya mengguk, maka berderailah air mata kami. Kami baru percaya bahwa orang-orang berdatangan memenuhi halaman kantor KUTUB bukan untuk sekedar bermain-main. Mereka ingin menatapmu untuk yang terakhir kali. Tetapi sesungguhnya dalam benak kami tidak demikian. Perasaan kami masih abu-abu, apakah benar kau meninggal atau Bu Maya hanya membual?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya di pagi hari sekitar jam 09.00, ketika orang-orang berderak memikul keranda ke dekat mobil yang dibawa oleh orang tuamu dari Kediri, dan memasukkan tubuhmu perlahan. Goncangan yang dahsyat terjadi dalam dada kami. Kami betul-betul tak dapat membedungnya. Apalagi ketika mobil itu bergegas dari halaman rumahmu, betapa isak kami meledak-ledak, air mata kami menyumbul deras bagai mata air di musim penghujan, dan harapan hidup kami hancur-lebur. Kami tak punya semangat hidup lagi. Masa depan bagi kami adalah lolong anjing yang menjijikkan. “Sang pembangun telah berpulang,” dada kami berdebar-debar.
Kini tragedi itu sudah satu tahun, gus. Berarti kami telah menjalankan amanatmu selama satu tahun pula. Padahal dalam perasaan kami, kau meninggal kemarin lusa. Kami tidak menyangka bahwa malaikat Mungkar dan Nakir telah menjagamu satu tahun penuh.
Selama satu tahun ini terlalu banyak yang harus disampaikan. Barangkali kau tak akan kuat menahan rasa haru dan tangis seandainya kami ceritakan pengalaman menggetirkan selama satu tahun pasca-kematianmu. Tak akan kuceritakan panjang-lebar tentang detik-detik menggetirkan itu. Kami hanya memberitahu bahwa rumah untuk pondok dan kantor KUTUB tidak bisa dikontrak lagi, kami sekarang ada di Cabeyan Panggungharjo Sewon Bantul dengan menempati rumah joglo pemberian seorang dermawan. Selama perpindaha itulah yang kami sebut sebagai detik-detik yang menggetirkan. Dengan bersusah-payah teman-teman telah mengusahakan tetap berdiri dan berjalannya pesantren, LKKY, dan penerbit KUTUB – warisan berhargamu. Santri senior menyusun konsep program, sementara yang junior berkerja praksis. Suatu pekerjaan yang sangat melelahakan. Selama itu kami baru sadar betapa beratnya perjuanganmu dalam membangun pesantren dan mendidik kami. Tetapi yang pasti perlu kau tahu, di bawah “bayang-bayang ruhmu” kami telah terbata-bata memikul semua warisanmu itu.
Kini suasana menjadi sangat berbeda. Kebahagiaan kita dulu tidak pernah kami rajut kembali. Tetapi ketahuilah, kami tetap hidup dalam sepenanggungan. Bu Maya, putra-putrimu, dan para santrimu telah betul-betul menjadi keluarga yang harmonis, meski tanpa raba-tanganmu. Kami masih meneruskan “puing-puing” warisanmu dan dengan sekuat tenaga akan menggapai apa yang kau cita-citakan terhadap kami. Doakan jalan-panjang kami, gus! Semoga kau bahagia di sana?
Teriring salam cinta-kasih dari kami semua!***(Malam Jum’at, 14 Maret 2008).
1 komentar:
dalem!
Posting Komentar