Kamis, 20 Agustus 2009

Tantangan Dalam Hidup

Tantangan paling besar dalam hidup manusia adalah pertama, menetapkan jiwa dan pikirannya senantiasa dalam kedamaian. Kedua, mencegah diri dari upaya merecoki atau bahkan mengambil hak orang lain. Setiap orang bisa berpikir tentang kearifan, tepi tidak setiap orang dapat berbuat arif, baik kepada orang lain, lebih-lebih pada dirinya sendiri. (Dasuk, 6 Agustus 2009).

Hal Yang Paling Aku Benci

Hal yang paling aku benci adalah kekerasan. Menyakiti orang bagiku adalah kesalahan paling fatal dalam hidup manusia. Setiap orang sama-sama punya hak untuk senantiasa hidup dalam kedamaian. Hak itu tidak bisa diganggu gugat dengan cara apa pun, apalagi dengan kekerasan. Bila mana ada masalah, persoalan atau konflik dalam masyarakat, memang itulah hidup. Hidup dan masalah adalah satu, bagai hati dan perasaan. Yang paling penting dalam masalah adalah bagaimana cara memecahkannya. Tugas manusia adalah memecahkan segala permasalahannya sedemikian sehingga kedamaian kembali terajut. (Dasuk, 4 Agustus 2009).

Rasa Sedih Balik ke Tanah Rantau

Perasaan berat tiap kali meninggalkan rumah mungkin tiap orang merasakannya. Perasaan semacam ini sangat manusiawi. Aku tidak yakin, sekuat-kuatnya hati seseorang ketika berangkat merantau tidak merasa sedih sama sekali meninggalkan rumahnya. Perasaan semacam ini juga aku rasakan. Aku selalu merasa sangat berat sekali tiap kali mau berangkat ke tanah rantau. Dan ini sangat menghantuiku. Membuat hatiku senantiasa tidak nyaman, tidak damai.

Aku rasa, tanah kelahiran adalah segalanya bagiku. Bukan hanya sekedar tempat aku pertama kali melihat matahari, mengenal lingkungan sekitar, atau mencium betapa anyirnya bau bumi. Ia bagai sesuatu yang sedemikian menatah jiwa dan ragaku, memalungkan cabik waktu pada darahku. Meski aku tahu –setelah mengenal banyak hal di perantauan– orang-orang rumah tidak sejalan dengan garis hidupku, dan karenanya ada rasa sedikit tidak senang pada diriku, tapi bagai sepasang kekasih abadi, aku mencintai mereka semua tanpa alasan apa pun. Aku benar-benar mencintai mereka, jiwa dan raga. Aku mencintai tanah Kerta Timur, karena itu aku juga mencintai orang-orang Kerta Timur.(Dasuk, 11 Agustus 2009).

Liburan Semester Empat

Liburan semester empat ini sungguh tak ada yang istimewa. Rumah baru rupanya tak membawa perubahan di batinku. Lama tak jumpa keluarga, sesuatu yang kukira sumber kebahagiaanku, tak membuatku merasakan hausnya rinduku. Aku hanya seperti perantau yang pulang tanpa kesan apa-apa, kecuali ratap yang sama sebagaimana sebelum aku meninggalkan rumah.

Gundah-gulanaku melihat kondisi keluarga masih pula bertahan dalam hatiku selama kurang-lebih tiga tahun dalam perantauanku di Yogyakarta. Entahlah, aku bingung dengan diriku sendiri. Mungkin hal inilah yang membuat liburanku tak istimewa. Aku berpikir, kebahagiaan tidak terletak pada rindu yang terselamatkan, tapi lebih pada aura hati dan jiwa.

Soal ekonomi keluarga barangkali adalah hal yang paling utama yang aku risaukan. Hutang emakku yang semakin bertumpuk, ditambah tidak jelasnya pemasukan menjadikan keluargaku terpuruk dan kian takut menatap masa depan. Hatiku selalu menangis ketika pagi, siang dan malam melihat emakku pamit keluar rumah barang sebentar hanya untuk cari pinjaman uang buat kebutuhan harian kami. Lebih menyakitkan lagi ketika emakku tak dapat hutangan, lalu seperti antrian, orang-orang datang ke rumah buat menagih hutang. Ya Tuhan, kapan kondisi semacam ini leyap dari kehidupan keluargaku? Kami berlindung kepadaMu dari segala hal yang membuat kerapuhan pada jiwa dan hati kami!

Hal kedua adalah soal kondisi keluargaku perseorangan. Nenekku yang sudah tua sering sakit-sakitan, kenakalan adikku yang amat merisaukanku dan wajah ibu yang selalu memancarkan aura kesedihan pada jiwaku, membuatku begitu tertekan. Kadang aku berpikir untuk menyudahi saja perantauanku, dan bertahan di rumah untuk meringankan beban dan menjaga keluarga. Tapi aku juga tidak berdaya meninggalkan kuliahku di Jogja dan membuat mereka kecewa kepadaku. Entahlah, aku sangat bingung dengan hal ini. Lebih-lebih tidak kuasa mengambil keputusan. Dalam hidup, kadang seseorang memang dihadapkan pada dua persoalan yang sangat rumit untuk memilih salah satunya.

Tapi aku sungguh luar biasa bersyukur kepada Tuhan, lantara dengan keadaan sesulit itu, keluargaku baik-baik saja, tidak ada yang terkena penyakit berat akan halnya tetanggaku yang dalam hari-hari ini ada beberapa yang masuk rumah sakit dengan biaya yang sangat besar. Tak ada cobaan begitu berat yang menimpa kami. Kami toh tetap ceria, damai dan besar hati menghadapi hidup kami yang terhimpit ini. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karenanya.

Aku selalu berdoa kepada Tuhan, semoga kami tidak diberi cobaan besar dimana kami tidak kuasa menanggungnya. Semoga Allah senantiasa memberkahi kami, menguatkan dan memberikan keikhlasan serta ketabahan bagi kami dalam mengarungi aras hidup ini. Semoga Allah menjauhkan kami dari bencana panyaket bhalai. Semoga Allah senantiasa meneguhkan keimanan kami, menguatkan keharmonisan dan tali kasih pada keluarga kami, serta menuntun kami kepada jaaln yang lurus. Amien yaa rabbal ‘alamien. (Dasuk, 26 Juli 2009).

Registrasi Semester Lima

Setiap kali registrasi, aku selalu kebingungan, pusing, dan ah…aku tak bisa membayangkannya. Hampir-hampir selalu saja registrasiku terlambat. Masalahnya adalah apalagi kalau bukan karena uang.

Saat-saat registrasi aku merasa hidupku diatur oleh uang. Semuanya serba uang. Meskipun tidak banyak-banyak amat, membayar uang kost dan kampus bagiku sangat menyesakkan. Bukan karena apa, karena selalu pada detik-detik itu aku merasa seakan tak punya kebebasan menentukan hidupku sendiri. Uang adalah raja bagi hidupku. Uang telah sebegitu menjeratku. Dan aku sungguh tak berdaya karenanya.

Uang untuk registrasi 850.000 rupiah, dan kost rata-rata butuh satu jutaan rupiah untuk tiap tahunnya. Jadi tiap tahun aku harus mengeluarkan uang dua juta tujuhratusan. Betul-betul itu harga yang sangat besar buat orang sepertiku: orang yang hidup mandiri.

Coba pikirkan, dari mana aku dapat uang sebanyak itu? Honor tulisan tidak terlalu memungkinkan tentunya, karena aku bukan tipe orang yang pintar menyimpan. Honor tulisan hanya cukup buat kebutuhan harian saja. Meski honor tulisan juga terbilang besar, biaya hidup di kota sebesar kota Jogja ini juga besar. Jadi, secara rata-rata honor tulisan hanya berbanding lurus dengan kebutuhan harian. Bahkan, honor tulisan pun tidak cukup untuk biaya harianku yang aku pikir semakin hari nampak semakin besar saja.

Akhirnya, hutang adalah jalan terakhir yang tidak boleh tidak harus aku lakukan. Hampir tiap semester aku selalu ngutang ke fakultas untuk biaya registrasi. Ditambah lagi hutang buat biaya kost. Dan tidak cukup hanya itu, untuk biaya harian pun kerap aku harus cari hutangan kesana kemari. Jadi kalau dipikir-pikir, aku ini sangat cocok dengan tipe orang pengutang kelas berat. Ah, hutang, manis tapi sangat menyiksa.

Tapi disamping semua itu, aku tidak cukup pikir, dari mana aku dapat uang buat membayar hutang-hutang yang semakin hari semakin besar itu? Tuhan ternyata lebih cerdik dari yang kita kira. Selalu ada jalan yang diberikanNya buatku bayar hutang-hutang itu. Kalau dikalkulasi secara ekonomis, sangat jelas semakin hari aku akan terbunuh oleh hutang-hutangku. Tapi di luar dugaan, kalkulasi ekonomis tidak tepat dijadikan standart ukuran secara universal dalam segala segmen hidup manusia. Mukjizat ternyata ada, dan aku sangat mempercayainya, karena telah benar-benar terbukti dalam hidupku.

Tuhan, syukurku padaMu. Meski selayaknya tidak cukup banyaknya debu di alam semesta ini untuk dosaku, Engkau begitu Maha Besar, Maha Adil dan Maha Penyayang kepada umatmu yang teramat buruk ini. Engkau telah memberikan bahkan hal yang tak pernah aku pikirkan. Ini betul-betul rahmat yang luar biasa bagiku. Aku bertobat, berdoa dan tawakkal kepadaMu, Tuhanku. Amien yaa rabbal ‘alamien. (Jogja, 17 Agustus 2009).