Senin, 12 Mei 2008

Ritus Pencarian Identitas


Eksistensi ruang-waktu dalam diri setiap orang adalah bagian utama dari suatu momentum sebuah pencarian jati diri atau secara umum dikatakan identitas. Dalam masa-masa yang demikian, jiwa seseorang cenderung sangat rentan tergerus oleh sistem dan konstruk realitas hidup dimana dan kapan dia tinggal. Pengaruh-pengaruh dari luar, disadari atau tidak, selalu akan menjadi masukan terhadap kondisi temperamentalnya. Kadang dia menolak terhadap realitas yang tidak disenanginya, tetapi lambat-laun dia sadar bahwa mengkondisikan diri pada alam sekitar adalah dimensi penting dikembangkan untuk dapat diterima oleh khalayak orang atau setidaknya oleh keadaan. Tanpa disadari, karena pergumulan dengan realitas sekitar itu sedikit banyak menggugah kesadarannya, meskipun awalnya dia menolak, tetapi pada akhirnya dia akan ikut lebur pada realitas itu.

Namun dapat dikatakan di sini bahwa keyakinan selalu menjadi daya pendorong terhadap bagaimana sesungguhnya sikap yang harus diambil oleh setiap orang terhadap dirinya. Meskipun orang itu telah lebur dalam kondisi gaya hidup yang tidak sejalan dengan jiwa dan pemikirannya, namun sebuah keyakinan terhadap hidup yang telah terbentuk semacam idealisme primordial selalu saja akan mengelaknya. Dalam kondisi yang demikian, seseorang akan jadi serba dilema. Pada satu sisi dia harus mengkondisikan dirinya dengan realitas hidup sekitarnya, di sisi lain konstruksi hidup semacam itu sangat tidak sesuai dengan keyakinan pada hidup yang sebenarnya dia impikan. Ini yang kemudian menimbulkan problema klimaks dalam diri seseorang yang pada batas tertentu menuntut untuk segera diatasi. Dari sini pula, kondisi hidupnya selalu dihadapkan pada pilihan realitas yang sangat sulit. Juga, pada titik ini pula, seseorang akan merasa ragu terhadap pilihan sikapnya, sehingga menjadikannya seorang yang tidak konsisten.

Sesungguhnya jika seseorang itu merasa mampu menjadi ‘yang-lain’, yaitu dengan melawan keadaan demi kemaslahatan idealismenya, dia akan segera jadi orang yang menang. Sebuah kemenangan yang sangat sulit dibayangkan, bahwa ternyata dia mampu melawan situasi gaya hidup komunal meskipun pada tahap yang kritis dia harus mengorbankan apa saja, bahkan dirinya sendiri. Dengan begitu, dia sudah dapat menjadi dirinya sendiri atau telah menemukan identitas ke-diri-annya lantaran dia mengambil keputusan berani untuk menjadikan dirinya itu ‘ada’. Keberadaannya itu, secara langsung maupun tidak, mencerminkan matangnya sebuah keyakinan atau penalaran yang diperoleh dari perenungan terhadap hidup yang selalu tak menafikan dimensi tranformasi kehidupan real. Inilah kemudian puncak dari ‘sucinya’ pemikiran dari asumsi-asumsi yang ‘ahirstoris’. Dalam perkataan lain, idealisme hidup telah benar-benar dapat menjelma realisme atitude.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah: dengan daya apakah orang dapat melakukan itu semua? Langkah-langkah seperti apakah yang harus dia lalui dan mesti dilakukannya? Karena bahwa kadangkala seseorang hanya bisa beretorika tentang hakikat sebuah kehidupan, tapi ternyata dalam kesehariannya idealisme tersebut tidak tercermin pada sifat dan sikap hidupnya. Atau kadangkala juga seseorang itu telah mempunyai pandangan hidupnya sendiri, tetapi bahwa dia kurang menyadari hal itu sebagai sesuatu yang teramat penting, sehingga tetap saja kondisi realitas sekitar yang tidak disukainya tetap menguasai dirinya.

Pertama-tama harus dikatakan bahwa idealisme tanpa realisme seperti pohon yang tidak berbuah. Pohon itu tidak berguna apa-apa, selain hanya menjadi alat pelindung ketika dalam keadaan terik maupun hujan dan sama sekali dia tidak mampu memecahkan kebuntuan dimensi kebutuhan pokok manusia yang paling urgen, yaitu makan. Bahwa sangat omong-kosong, meski seorang filsuf pun, yang mempunyai konstruksi pikiran atau idealisme tentang kehidupan sangat mapan tetapi pada tataran atitude ke-diri-annya, pemikiran itu tidak mempunyai daya kerja nyata. Orang seperti Nietsche yang mengandaikan adanya ‘manusia super’ tanpa cela, gugur kemudian karena kehidupannya sangat melenceng jauh dari konstruk pemikirannya. Terpaan schizofrenia dan kegilaan pada saat-saat terakhir hidupnya, menunjukkan bahwa dia hanya bisa berandai tentang sesuatu tanpa dia memulai dari dirinya sendiri atau setidaknya sesuatu itu merupakan hikmah hidup yang mesti dia jalani. Begitu juga dengan para pemikir politik yang telah melahirkan beribu-ribu tumpuk teori dan hukum negara, namun tanpa adanya suatu keinginan membuat sebuah komunitas gerakan agar gagasan itu dapat dibuktikan secara riil, maka sepenuhnya dia dapat dikatakan sebagai seorang utopis tulen. Orang semacam ini termasuk pada golongan yang tidak berkata atas dasar keyakinan hati nuraninya.
Maka dengan demikian, orang yang sempurna ialah ketika dia dapat menerapkan pikiran-pikirannya terhadap dirinya sendiri dan kepada lingkungannya. Tarulah sepotong contoh, seorang politikus yang gencar menentang KKN, maka dia harus menjadi orang yang bersih dari sikap tersebut. Atau, orang yang selalu mengagungkan kejujuran sebagai pilihan hidup paling utama, maka dia mesti dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran bagi setiap orang. Karena bahwa, kecilnya sebuah gagasan selalu dahsyat manakala menjadi rujukan suatu tatanan kehidupan, setidaknya hidupnya sendiri.

Untuk itu maka, seseorang harus memulainya dari hal terkecil. Dia harus merasa skeptis terhadap sifat dan sikap hidup yang telah dijalaninya secara positif dari hal-hal yang tampaknya remeh namun sangat mendasar. Misalnya tentang kejujuran, egoisme, kedewasaan, pengaturan mental, dan lain sebagainya yang berkenaan dengan falsafah hidup keseharian. Bermacam aspek mendasar kehidupan ini menemukan klasifikasinya pada konteks pribadi dan sosial.
Dalam konteks pribadi, seperti manusia kebanyakan, seseorang pasti mempunyai sebuah rencana, angan-angan, cita-cita serta konsep hidup yang murni sebagai pengharapan dari sisi kemanusiaannya. Dia mesti akan bertanya, apa yang harus diketahui? Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus didapatkan?

Dari tiga pertanyaan ini, tiap orang selalu memiliki kecenderungan untuk sautu jawaban yang berbeda-beda, karena pikiran dan keinginan tiap orang pula berbeda-beda. Setelah pertanyaan pertama sudah dia jawab, dia mesti beranjak pada pertanyaan kedua, dan bukan lantas pada pertanyaan ketiga. Kadangkala ada seseorang yang hanya mampu memberikan justifikasi terhadap masa depannya untuk mengangankan ‘apa yang harus didapatkan darinya’. Dia tidak memikirkan aspek hidup berkenaan dengan bagaimana yang mesti dia lakukan dan aspek hidup yang seperti apa yang mesti dia tentang. Pertanyaan kedualah yang sebenarnya menjadi titik sentral dari pertanyaan pertama dan kedua tersebut. Oleh orang kebanyakan pertanyaan kedua ini dikatakan sebagai proses. Dalam artian bahwa seseorang boleh mempunyai cita-cita dan angan-angan, tetapi yang patut dititikberatkan ialah bukan pada titik tujuan, melainkan proses yang harus dijalaninya. Orang yang menghargai proses seperti halnya menghargai hidupnya.

Dalam hal proses, pula ada tiga hal yang harus menjadi patokan kunci yaitu tentang niat, kehendak, dan konsekuensi. Niat, dalam arti yang sesungguhnya, adalah suara nurani yang menunjukkan kemantapan terhadap ‘apa yang harus diketahuinya’. Sementara kehendak ialah berkenaan dengan kesadaran untuk terus-menerus berusaha memberikan pengorbanan terhadap usahanya supaya dapat menjawab dengan keyakinan terhadap ‘apa yang harus didapatkan’. Dan konsekuensi merupakan aspek-aspek mendasar dari cobaan dan tantangan serta problematika hidup yang tidak boleh tidak harus dihadapi dengan kematangan mental yang harus selalu dilatih. Bukan justeru bahwa problematika harus dihindari, melainkah mesti dikalahkan, karena manusia akan menjadi dewasa dari pengalaman pahitnya. Orang yang tidak meniscayakan problematika berarti juga tidak menghargai cita-cita dan prosesnya.

Dalam konteks sosial, seseorang mempunyai kecenderungan ingin menguasai atau justeru terkuasai. Rasa ingin menguasai sesungguhnya lahir dari ketidakmampuannya dalam mengartikulasikan esensi hidup yang sebenarnya, bahwa komunikasi merupakan nyawa satu-satunya dari hidup manusia. Sedangkan dalam komunikasi mesti disertakan apa yang dinamakan keselarasan untuk saling menghormati, kerena bahwa disparitas dan paritas merupakan kunci pokok dari aspek-aspek sosial. Maka untuk itu rasa ingin menguasai tidak diterima kemudian jika memang ada sebuah jawaban yang lebih diplomatis, yaitu menguatkan sendi-sendi solidaritas sosial. Solidaritas sosial inilah yang kelak akan membentuk suatu masyarakat beradab dan berkeadilan. Pula dari titik solidaritas ini, manusia akan merasa bahwa tiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Yang paling memilukan adalah orang yang memiliki jiwa kerdil atau semacam pesimisme terhadap hidup, sehingga dia hanya bisa memaklumkan dirinya terkuasai. Rasa ingin terkuasai sesungguhnya yang menjadi penyakit sosial dan perlu dihindari. Karena bahwa, meskipun perbedaan dalam hal apa pun setiap manusia merupakan dimensi hidup yang diniscayakan, tetapi persamaan kedirian adalah hal yang mutlak. Rasa menganggap bahwa orang lain sama dengan dirinya merupakan hal yang wajib dimiliki oleh jiwa tiap orang, karena dengan begitu dia telah mensyukuri nikmat yang diberikan oleh tuhan. Tetapi hal ini juga mempunyai batas-batas tertentu, yaitu pada batas kewajaran untuk tidak memunculkan kriteria sikap dan sifat egosentrisme. Karena egosentrisme tidak mempunyai varian pada tahap ‘merasa sama’, namun pada tahap ‘merasa tinggi dari’.

Bahwa titik urgen kehidupan sosial itu bukan terletak pada sikap ingin menguasai dan terkuasai, tetapi lebih kepada tepa salira atau lianing liyan, agar supaya hidup sosial lebih dinamis dalam mengemban tugas komunalnya secara bersama-sama. Maka untuk itu, pula ada tiga pertanyaan yang harus dijawab, yakni, Apa yang harus dipelajari? Apa yang harus dikritisi? Apa yang harus dicapai? Tiga pertanyaan ini merupakan suatu bentuk dialektika historis.

Pertanyaan pertama berkenaan dengan tugas tiap-tiap orang dalam suatu kelompok masyarakat dalam hal memandang sejarahnya sebagai sebuah khazanah yang mesti dibanggakan untuk lebih dikembangkan dan bukan lantas diburuh. Tugas ini bertumpu pada pembelajaran terhadap sejarah dengan mengambil kriteria sistem-nilai, citra dan karsa yang ditanamkan oleh para pendahulunya. Segala yang menyangkut dengan tiga aspek ini perlu digali sedetail mungkin, dari hal yang paling kecil ke sesuatu yang besar, dalam peranan untuk dilakukan pengkajian.

Tahap pengkajian itulah kemudian selalu mensyaratkan adanya instrospeksi sejarah atau kritik terhadap sejarah. Kritik sesungguhnya merupakan klasifikasi antara apa yang harus diambil dan apa yang harus perbaiki. Hal-hal yang terburuk dari sejarah manusia bukan lantas merupakan bentuk ketidaksempurnaan yang merasa perlu untuk dibuang. Tetapi justeru diantisipasi dengan memikirkan kembali alternatif-alternatif yang lebih positif, karena bahwa keburukan sejarah mempunyai pertalian erat dengan kebaikan sejarah. Maka, dengan metode instrospeksi ini, sekelompok masyarakat dapat mengambil hikmah dari sejarahnya untuk bagaimana hal-hal terburuk darinya dirubah sedemikian rupa agar pertanyaan ketiga akan terlaksana, ‘apa yang harus dicapai’?

Pencapaian suatu kelompok masyarakat biasanya terletak pada bagaimana cita-cita bersama dicapainya secara sempurna atau setidaknya dapat memuaskan pengharapan-pengharapan mereka. Dalam suatu masyarakat yang meniscayakan sejarah, selalu menginginkan terciptanya kesamaan derajat, diberlakukannya hak asasi manusia, disadarinya kesejahteraan bersama, terbangunnya solidaritas, dan saling menguatkan sendi-sendi nilai sejarahnya. Untuk beberapa cita-cita bersama itu, suatu masyarakat memerlukan perangkat kesadaran sejarah, kesadaran sosial, dan kesadaran pembangunan.

Kesadaran sejarah adalah suatu upaya bagaimana masa depan tercipta dari nilai masa lalu dengan perangkat penyempurna masa kini. Disinilah sikap reflektif-realistis menempatkan peranannya. Bahwa refleksi yang menghubungkan antara khazanah masa lalu dengan kondisi zaman merupakan perangkat keras untuk melakukan modifikasi bentuk usaha dan pengembangan suatu bangsa di masa depan. Tetapi hal ini sifatnya primodial-kelompok, dalam artian sikap refleksi tidak harus menyertakan intervensi dari luar, karena ditakutkan munculnya kondisi yang tak diharapkan. Namun jika hal itu merupakan kritik konstruktif, tidak mengapa, bahkan justeru diterima tetapi harus dalam batas-batas yang normal.

Kesadaran sosial terletak pada kecilnya lubang antara disparitas (perbedaan) dan paritas (persamaan). Besarnya antara disparitas dan paritas, menunjukkan tidak kuatnya solidaritas sosial yang ditambatkan pada keyakinan untuk “susah senang bersama”. Dua hal ini berkesinambungan jika tidak mengunggulkan diantaranya. Dengan menyelaraskan antara disparitas dan paritas, menunjukkan bahwa suatu masyarakat telah menemukan realitas kesatuannya, dalam hal apa pun.

Kesadaran pembangunan merupakan suatu bentuk usaha untuk terus-menerus melakukan pembenahan-pembenahan, baik yang sifatnya sistem-nilain maupun oprasional. Karena bahwa ukuran kemajuan suatu bangsa ialah dari proses pembangunannya dari waktu ke waktu. Adalah merupakan peradaban yang jumud jika hanya tetap dalam keadaan stagnan. Akan tetapi bahwa, konsep pembangunan ini harus tidak melampaui batas kesadaran. Dalam artian, jika tidak memungkinkan atau justeru dengan pembangunan dalam taraf tertentu hal-hal yang berkenaan dengan kualitas sistem-nilai semakin luntur dan kuantitas oprasional hanya menjadi petaka lingkungannya, maka usaha yang mesti dilakukan adalah bagaimana menemukan kembali kenyamanan anggota masyarkat terhadap dua hal tersebut. Misalnya, dengan melangsungkan dinamisasi aspek kualitas bangsa dalam bentuk kesadaran akan butuhnya sistem-nilai dan lingkungan untuk terus dijaga dari sikap eksploitatif yang sesungguhnya muncul dari keinginan-keinginan utopis manusia.
***

Demikian ulasan tentang bagaimana cara menemukan dan membangun identitas diri yang tidak hanya dalam ruang lingkup primordial tetapi juga komunal. Yang terpenting dari semua ini adalah bahwa setiap manusia harus selalu merasa punya masa depan yang mesti dicapai dengan suatu usaha konkrit dari konsep-konsep matang yang telah diperkirakan secara seksama dan dengan metode tertentu pula. Lalu pertanyaannya ialah, apakah setiap orang mampu meyakinkan dirinya dengan melakukan perenungan untuk mendapatkan konsep keseluruhan tentang hidup atau konstruksi idealisme yang sekiranya dapat mengkalkulasikan apa yang harus dilakukan dengan apa yang mesti dirubah dalam ruang lingkup realitas sosialnya? Adalah memang idealisme dan realisme selalu saja tidak terselaraskan secara sempurna, tetapi tidakkah seseorang melihat hal itu dari dirinya sendiri bahwa dia mempunyai keyakinan hidup yang mampu mensintesiskan keduanya? (03-05-2008).

Kamis, 01 Mei 2008

CATATAN BAGI SISKA

Dealova

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadu sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
O.karena hati telah letih

Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
O.bayangmu seakan-akan

Reff.
Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memmanggil rinduiku padamu
Oo. Seperti udara yang kuhela kau selalu ada.

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tapa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi....dan sepi


Kepada belahan hatiku, Siska.

Siska, inilah lagu yang ingin kupersembahkan dalam mimpi-mimpi indahmu: tentang kehidupan, perjumpaan, perasaan, percintaan atau dengan apa kau artikan dari diriku. Aku ingin lagu itu menemanimu kala kau melamun, duduk sendirian di depan rumah, berjalan dengan seribu kenangan yang menyerbu, dalam keseluruhan waktumu. Sederhana sekali keinginanku, agar kau tahu betapa namamu telah mengalir dalam darahku, seutuhnya. Pula supaya kau sadar bahwa akulah lelaki yang tak lelah-lelahnya memujamu.

Kau adalah lagu hidup yang telah membawaku untuk meraih impian-impian masa depan. Di hatimu aku ingin berlabuh, mengayuh perahu dengan jati diriku yang utuh, mencari kedalaman hidupmu di sana. Karena aku selalu merasa seperti budak, dan kau tuannya. Setiap kali aku menyebut namamu, denyut jantungku tertahan, menyadarkan kerasnya hatiku. Aku yang selalu keras kepala dengan hidup, angkuh terhadap segala yang menantang, telah menjadi luluh di bawah kibaran rona wajahmu.

Suaramu selalu saja terngiang-ngiang dengan jelasnya. Tidakkah kau dengarkan luluhnya aku kala suara itu menusuk-nusuk ke ceruk hidupku yang paling dalam?

Kau selalu ada, siska, selalu ada!

“KURBAN” BUAT IBU DI RUMAH

Ibu, adakah kau merasakan pagi selengang ini?
Angin Adha mengalun lirih dari tiris langit, menawarkan kesejukan di ubun-ubun, menyeka dada dengan tangannya yang lembut dan gemetar. Saat kuraba tubuhnya, kuperikan mimpi masa lalu yang tadi hadir dengan seribu bayang tentang kekalahan, kerinduan, keterasingn, kesenyapan, tentang apa saja yang memuakkan.

Saksikan hari ini aku menangis ibu, setelah kutahu ruang yang kutiduri bukan kamarku, dan orang yang memanggil-manggil namaku bukan suaramu. Aku bangun dengan segenap keringkihanku sendiri. Aku bangun dengan segenap kekalahan, ketakberdayaan.

Berwudu di jeding orang lain membuatku meratap kesejukan sungai Kerta Jaya yang sejuk, indan dan permai, serta ramai oleh celotehan para tetangga kita yang sedang mandi bersama.

Apa yang harus kubayangkan bila hari ini aku tak dapat menghirup aroma desa di pagi buta, berjalan menyusuri sawah, menyeka rumpun ilalang untuk sampai ke makam ayah, dan mencium bau kamboja di sana, betapa sungguh aku merasa terasing. Aku tahu hari ini adalah hari esok dan bukan hari kemarin, tetapi bagaimana mungkin aku tak menangis jika lebaran pagi hari ini, telingaku tak puak oleh bentakanmu yang terkadang menjengkelkan itu ketika aku sulit bangun; ocehan adikku tersayang yang terkadang membuatku jengkel; desah nenek dari dapur yang kecapaian karena semalaman sibuk menyiapkan pernak-pernik masakan. Aku bangun seorang diri, ibu, tanpa seorang kawan. Apakah kau di sana juga merasakan penderitaanku ini?

Kadang aku mengerti bahwa pengor banan seperti pantai bagi lautan. Tapi tahukah kau, ibu, kerinduan itu tak dapat tertebus oleh apa saja. Hari ini aku rindu segalanya tetek-bengek rumah. Aku ingin berkumpul bersama kalian, bersenda gurau dengan kawan-kawan, berangkat ke masjid dengan baju anyar, dan bersalam-salaman ke segenap orang.

Seandainya sekarang aku ditakdirkan beridul adha di rumah, aku tidak akan ngeyel lagi untuk berangkat ke rumah kakek. Aku akan bersemangat mengajak adik dan berkemar diri segera, kemudian dengan sumringah akan menyetop mobil buat kita ke Ambunten. Aku tidak akan menyesal karena hari itu tidak memakai motor. Aku tidak akan lagi merasa gensi ibu karena kita miskin. Rasa gengsi kepada Siska terlebih dulu akan kubuang jauh-jauh. Yang kuharapkan hanya belaian tanganmu di ubun-ubunku, serta tawamu terhadap kebodohanku akan hidup. Itu saja. (Idul Adha, 2008).

FRAGMEN KALI PERTAMA DI JOGJA

Dan akan selalu kuingat:

Pagi hari yang cerah 17 Agustus 2006 – kurang lebih jam 5 – untuk pertama kalinya aku (dengan Ne’Rasid) menginjakkan kaki di tanah Jogja: kota harapan satu-satunya sewaktu aku masih kelas tiga SMA. Sebuah pagi yang asing, dan aku menikmatinya. Aku benar-benar puas dengan pagi ini, karenanya aku telah merasa menang atas kegetiran masalalu. Dengan sempurna telah kutebus seteguk harapan dari masa lalu itu.

Bau asap bus dan ruang halte (terminal Giwangan) lengket di hidungku. Telinga ini bising oleh deru bermacam kendaraan. Ketika aku keluar dari bus Surabaya-Jogja, serasa aku telah bermimpi. Pertanyaan-pertanyaan, misalnya, inikah Jogja yang aku idam-idamkan itu? Betulkah ini bukan Madura, bukan terminal Aryawiraraja Sumenep yang kemarin sore panorama lanskapnya menghias mataku? Apakah benar-benar aku telah jauh dari ema’, embu’, ale’ dan keluarga yang lain?, menyumbul dari benakku. “Tapi…ah, lupakan saja, ini benar-benar Jogja dan aku akan melancong lagi, jauh dari orang tua untuk kedua kalinya – setelah selama 6 tahun mereka kutinggalkan hanya demi ilmu,” pikirku.

Dan aku melangkah ke luar bersama Ne’Rasid, menuju Mushallah, sebelum akhirnya mencari tempat sepi untuk melahap habis sango tengga lorong (bekal makanan yang dibawa dari rumah). Setelah kami shalat, setelah sango tengga lorong itu habis, baru aku ingat pesan orang tuaku bahwa jika telah sampai di Jogja, aku harus menelpon mereka, agar mereka tahu bahwa aku telah sampai dengan selamat. Sejenak air mataku menetes, kenangan-kenangan bersama mereka segera muncul tiba-tiba. Sesungguhnya sangatlah berat buatku meninggalkan mereka untuk kedua kalinya, tapi entah apa aku merasa seperti orang yang selalu haus pada ilmu. Demikian ini adalah salah satu konsekuensi yang harus kutanggung.

Maka kulangkahkan kaki dengan mantap, sedang beribu kenangan yang menyumbul-nyumbul untuk segera ditumpahkan, kuselipkan dibalik harapan dan cita-cita yang sama-sama besarnya. Aku harus yakin bahwa niat ini tidak harus luntur akibat nostalgia masa lalu atau perasaan getir jauh dari orang tua. Pesan ibu itu harus selalu kuingat, “Biarlah kita ini miskin, nak, asalkan kita masih punya hasrat akan ilmu. Tabahkan hatimu demi perjalanan panjang ini. Doaku sedia menyertaimu. Urusi urusanmu, jangan sekali-kali memikirkan kami. Urusan kami biar kami sendiri yang menanggung. Mantapkan kakimu melangkah, meradanglah dan tatap masa depan dengan segenggam cita-cita di tangan. Restuku menyertaimu, nak.”

Dengan begitu aku mesti meyakinkan perasaanku, bahwa aku adalah Madura yang sedang berusaha untuk men-Jogja. Men-Jogja dengan langkah lebih baik untuk kembali me-Madura. (1 Januari 2007).

DALAM BELUKAR IDENTITAS

Malam itu (selasa), aku semakin tak tahu dengan diriku sendiri: aku telah mengandaikan Fakih ‘yang lain’ – dan itu sesungguhnya tak kuinginkan. Aku sering bertanya-tanya, kenapa bayang-bayang Fakih ‘yang lain’ itu terus memburuku, padahal jati diriku – dan telah aku katakan padanya – terus saja menolaknya. Apakah keinginan yang termanifestasi oleh pengandaian dan bayang-bayang terlahir dari fikiran dan jati diri adalah rupa asali dari aku? Bagaimana mungkin ‘pertarungan’ itu dapat terjadi, sedang aku menolaknya? Aku tak tahu mengapa aku harus merasa bahagia dengan pengandaianku itu? Aku juga tak tahu, mengapa aku harus berandai, sedang aku sudah lama ingin segera menjadi diriku sendiri, Fakih yang sesungguhnya?

Ah, aku benar-benar bodoh dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dalam diriku, pengandaian, jati diri, dan keinginan, baku-hantam satu sama lain. Dalam ‘pertarungan’ ini, sepertinya aku adalah manusia karnavalia memuakkan; manusia yang belum menemukan jati dirinya. Aku merasa ke-diri-anku, dari waktu ke waktu, dari kecil hingga saat ini, terus berubah. Dan itu aku yakin karena tekanan lingkungan. Aku belum membenarkan, bahwa lingkungan itu bukanlah entitas yang urgen dalam membentuk suatu karakter. Baik karakter hewan, tumbuhan, apalagi manusia, akan selalu tergantung pada ruang di mana mereka hidup. Seperti halnya seleksi alam-nya Carles Darwin, bahwa lingkunganlah sesungguhnya yang menyeleksi manusia, baik secara fisik maupun non-fisik. (26 Desember 2007).

SURAT KEPADA GUS ZAINAL ARIFIN THOHA

(UNTUK 1 TAHUN KEMATIANNYA)

Untukmu: yang tersayang, yang terkasih
Dari: santrimu yang tak tahu diri

Gus, malam ini lengang. Tak ada angin yang bersiur dan awan-awan berlayar indah di langit. Seperti malam satu tahun yang lalu, ketika kau mengimami shalat magrib kami dan sekitar jam 10 kau meninggalkan kami. Tidak mudah rupanya untuk tidak mengingat malam itu, 14 Maret 2007, yang sungguh bagi kami sangat membualkan.

Lihatlah, kami merayakan 1 tahun kematianmu. Kami pakai bahasa ‘merayakan’ karena, seperti yang dulu kau nyatakan sendiri, kematian lebih indah dari pada kehidupan yang serba fatamorgana ini. Jelasnya, kami merayakan “kehidupan” yang kau damba-dambakan itu.

Untuk mengenangmu, sesungguhnya kami tak pernah tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya bersepakat untuk menembangkan lagu shalawatan yang kau ciptakan dan sering kau lantunkan (Madinah dan Cheng Ho) itu supaya dengan mudah kami mengingatmu. Dan kemudian seperti biasanya, diantara kami ada yang bertugas merefleksikan dunia dan kehidupanmu secara panjang-lebar dengan suara yang dipaksakan terbatah-batah agar kami semua tahu bahwa memang demikianlah yang dinamakan refleksi. Ketika itu kami mulai memejamkan mata bersama, dan meresapi kebersamaan kita dulu, kehangatanmu, kesantunanmu, kerianganmu, ke…ah, tak mungkin semuanya terwakilkan oleh kata. Serasa kami tak kuasa menahan isak jika semuanya terurai, terberai, dan kau benar-benar menjelma mimpi panjang kami. Kami hanya ingin kau hadir dalam lubuk kami dan tidak dalam bayangan kami yang terkadang menyesatkan.

Kami berbicara semau kami, gus. Tentang pesantren, tentang keluarga dan dirimu, tentang apa saja sepuas hati kami. Kami bisa saja menangis, tertawa, rikuh, atau sikap dan sifat lain karenanya. Dan kami tidak benar-benar tahu apakah kau melihat itu semua dengan sempurna. Tetapi keyakinan kami begitu kuat, bahwa kau akan selalu mengiringi kami setiap saat.

Dapat kami bayangkan, kau akan hadir malam ini. Seperti katamu sendiri, “aku selalu bersama kalian”. Entah – dalam bayangan kami – dengan apa kau telah menempuh perjalanan jauh dari Kediri, hanya untuk menghadiri acara kecil ini. Kau akan menganggap acara ini sangat berarti bagimu dan karenanya kau tertuntut hadir.

Jelas dalam bayangan kami, ketika kami semua memejamkan mata, kau hadir mengendap-ngendap di pintu dengan baju koko putih, songkok putih, sarung biru, dan sandal kulit yang talinya hampir copot – setelah kesukaanmu itu. Kau perlahan duduk di antara atau di tengah-tengah kami dan ikut komat-kamit membacakan kalimat shalawat yang sedang kami baca. Kau menitikkan air mata saat kau menatap kami yang sedang meratapmu. Barangkali kau ingin sekali membelai kami penuh kasih dan sayang, dan memberitahukan kami bahwa kau hadir dalam acara itu. Kau akan mengatakan,”mengapa kalian menangis. Aku di sini bersama kalian. Apa kalian menganggapku mati? Bisakah seseorang menafsiri hidup orang lain? Mengapa kalian cuek pada kedatanganku ini? Aku datang jauh-jauh dari Kediri?

Tapi kami akan terus menangis. Meski kau mengusap-ngusap kepala kami, kami tak akan betul-betul mampu memastikan usapan itu. Kami akan terus menangis, gus, dan tanpa seorang pun yang dapat menghalanginya. Seandainya kau memenuhi keinginan kami agar kematianmu itu hanya omong-kosong atau sementara atau barangkali kesalahan prediksi dokter semata atau indikasi apa saja yang penting kau kembali hidup dan berkumpul kembali bersama kami, mungkin kami akan sempurna menatapmu dan tidak akan pernah menangis lagi. Tahukah kau, gus? Kau ini sudah meninggal. Duniamu dan dunia kami jauh berbeda. Jadi jangan kau harap kami bisa menangkap kehadiranmu itu. Bukan karena apa, tetapi kami betul-betul buta akan duniamu. Kami hanya bisa menikmati dunia kami sendiri. Kami tidak sepertimu yang selalu mengaku bisa menemui orang yang sudah meninggal.

Sesungguhnya kami tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu ketika menatap kami semua yang hanyut dalam perenungan, sementara kau merasa sebagai tamu yang asing karena kedatanganmu tidak kami indahkan. Jika memang benar begitu, kami sangat kasihan padamu, gus. Kau merasa asing di tengah orang-orang yang telah kau besarkan. Tapi itulah yang memang sepatutnya terjadi, sekali lagi, duniamu dan dunia kami jauh berbeda. Kau dan kami, akan sama-sama merasa asing. Dunia kadang memang penuh teka-teki, gus.

Barangkali juga kau tidak akan tahu apa yang sedang berdiaspora dalam kepala kami. Ketika memejamkan mata, jangan pernah kau bayangkan, kepala kami terasa kosong dan tak ada sesuatu yang sedang berkecamuk di sana. Bahwa kami sama-sama berangkat menuju masa lalu ketika masih bersamamu. Kami berupaya meremajakan ingatan kami atas tragedi malam yang mencekam itu. Kematianmu.

Sungguh kami terkejut sekitar jam 21.30 saat Bu Har mengabarkan kepada kami bahwa kau tak sadarkan diri. Kami terkejut karena hal itu tak pernah terjadi kepadamu selama itu atau karena kau tidak pernah mengeluh sakit ketika mengimami shalat magrib. Keterkejutan itulah yang memaksa kami untuk meninggalkan senda-gurau kami dan langsung menuju rumahmu untuk memastikan kebenaran kabar Bu Har itu, tanpa sebersit pun perasaan “asing” dalam benak kami. Dengan mudahnya kami menggotong gempal tubuhmu ke dalam mobil yang telah dipesan oleh beberapa orang diantara kami dan langsung membawamu ke rumah sakit PKU Muhammadiah. Tak lama kemudian, sesuatu yang “asing” menyeruak kendang telinga kami sekitar jam 22.00, bahwa kau dinyatakan telah tiada.

Ah, kami kira dokter yang merawatmu itu adalah seorang pembual. Kami tak akan pernah percaya kalau kau betul-betul meniggal. Seandainya kami diberi kesempatan akan kami perintahkan dokter itu untuk memeriksamu kembali, barangkali prediksinya itu salah. Jika dia salah, mungkin tak segan-segan kami mendampratnya atau memukulnya, sekedar menghajar agar hal yang sama tidak akan dia ulangi lagi.

Tapi sayang kami tak punya wewenang. Kami hanya bisa meratap tak percaya di luar kamar rawatmu, menunggu kabar selanjutnya dari Pak Gendut dan Bu Maya. Setelah keluar dari kamar, informasi yang disampaikan mereka berdua kepada kami sama juga dengan informasi dokter tadi itu. Ah, kalian pembohong – benak kami. Semuanya tak dapat dipercaya. Sungguh kami betul-betul tak percaya, karena tak seperti biasanya ajal menjemput awaknya secepat itu. Baru setelah mata kami nyalang melihat tubuhmu dibalut sampir batik coklat, kami agak meragukan keyakinan itu. Serasa kami ingin mendekati tubuhmu dan memegang nadimu. Apakah benar jantungmu sudah tak berdetak?

Karena kami masih tak percaya, karena itu pula kami tak merasa kehilangan. Sedikitpun kami tidak menangis. Meski orang-orang menyiapkan pemandian buatmu, dan dirumahmu berderak orang-orang, masih saja kami tak percaya. Yang ada dalam kepala kami hanya bahwa yang dikatakan semua orang itu hanya omong-kosong belaka. Terus saja kami tertawa di dalam hati sambil berbisik-bisik, “Dikira kita nggak tahu kalau semua ini bohongan. Paling-paling setelah dimandikan, Gus Zainal akan bangkit lagi dan tertawa kepada khalayak, memberitahukan bahwa dia Cuma bermain-main saja.”

Tapi perkiraan kami meleset. Setelah kau dimandikan, kau tak bangkit-bangkit. Sampai orang-orang mengkafanimu, kau juga masih demikian. Mengapa begitu – benak kami. Bukankah semua ini hanya bualan? Mengapa gus Zainal mau dikafani, padahal dia masih hidup?

Meski mata kepala kami melihat kau dikafani, untuk memastikan kembali, kami bertanya pada Bu Maya, apakah Gus Zainal benar-benar meniggal? Tanpa kata-kata, dengan wajah muram bersimbah air mata, beliau hanya mengangguk lirih. Hingga dua kali Bu Maya mengguk, maka berderailah air mata kami. Kami baru percaya bahwa orang-orang berdatangan memenuhi halaman kantor KUTUB bukan untuk sekedar bermain-main. Mereka ingin menatapmu untuk yang terakhir kali. Tetapi sesungguhnya dalam benak kami tidak demikian. Perasaan kami masih abu-abu, apakah benar kau meninggal atau Bu Maya hanya membual?

Pertanyaan itu menemukan jawabannya di pagi hari sekitar jam 09.00, ketika orang-orang berderak memikul keranda ke dekat mobil yang dibawa oleh orang tuamu dari Kediri, dan memasukkan tubuhmu perlahan. Goncangan yang dahsyat terjadi dalam dada kami. Kami betul-betul tak dapat membedungnya. Apalagi ketika mobil itu bergegas dari halaman rumahmu, betapa isak kami meledak-ledak, air mata kami menyumbul deras bagai mata air di musim penghujan, dan harapan hidup kami hancur-lebur. Kami tak punya semangat hidup lagi. Masa depan bagi kami adalah lolong anjing yang menjijikkan. “Sang pembangun telah berpulang,” dada kami berdebar-debar.

Kini tragedi itu sudah satu tahun, gus. Berarti kami telah menjalankan amanatmu selama satu tahun pula. Padahal dalam perasaan kami, kau meninggal kemarin lusa. Kami tidak menyangka bahwa malaikat Mungkar dan Nakir telah menjagamu satu tahun penuh.

Selama satu tahun ini terlalu banyak yang harus disampaikan. Barangkali kau tak akan kuat menahan rasa haru dan tangis seandainya kami ceritakan pengalaman menggetirkan selama satu tahun pasca-kematianmu. Tak akan kuceritakan panjang-lebar tentang detik-detik menggetirkan itu. Kami hanya memberitahu bahwa rumah untuk pondok dan kantor KUTUB tidak bisa dikontrak lagi, kami sekarang ada di Cabeyan Panggungharjo Sewon Bantul dengan menempati rumah joglo pemberian seorang dermawan. Selama perpindaha itulah yang kami sebut sebagai detik-detik yang menggetirkan. Dengan bersusah-payah teman-teman telah mengusahakan tetap berdiri dan berjalannya pesantren, LKKY, dan penerbit KUTUB – warisan berhargamu. Santri senior menyusun konsep program, sementara yang junior berkerja praksis. Suatu pekerjaan yang sangat melelahakan. Selama itu kami baru sadar betapa beratnya perjuanganmu dalam membangun pesantren dan mendidik kami. Tetapi yang pasti perlu kau tahu, di bawah “bayang-bayang ruhmu” kami telah terbata-bata memikul semua warisanmu itu.

Kini suasana menjadi sangat berbeda. Kebahagiaan kita dulu tidak pernah kami rajut kembali. Tetapi ketahuilah, kami tetap hidup dalam sepenanggungan. Bu Maya, putra-putrimu, dan para santrimu telah betul-betul menjadi keluarga yang harmonis, meski tanpa raba-tanganmu. Kami masih meneruskan “puing-puing” warisanmu dan dengan sekuat tenaga akan menggapai apa yang kau cita-citakan terhadap kami. Doakan jalan-panjang kami, gus! Semoga kau bahagia di sana?

Teriring salam cinta-kasih dari kami semua!***(Malam Jum’at, 14 Maret 2008).

BUNDAKU YANG LUAR BIASA

Namanya aslinya Maya Veri Oktavia, dan saya beserta teman-teman pondok biasa memanggilnya Bunda Maya. Dia adalah istri tercinta Gus Zainal Arifin Toha, seorang guruku yang paling aku takzimi, hormati dan sayangi, karena jasa-jasa beliau terhadap masa depanku tidak dapat dibandingkan dengan segala sesuatu. Pada 14 Maret 2007 kemarin beliau berpulang ke rahmatullah dengan bekal yang aku kira sangatlah cukup. Yang ditinggalkannya “pergi” bukan hanya keluarganya, tetapi juga para santri pondok yang sedang dirintisnya beserta juga orang-orang yang sangat mencintainya.

Awalnya aku mengira bahwa Bunda Maya tidak akan mengurusi kami lagi, dengan alasan karena beliau masih mengandung anaknya yang ke lima, mengurusi semua anaknya yang rata-rata masih kecil, juga karena beliau seorang wanita muda (kira-kira umur 28 tahunan) yang tak pantas hidup sendirian tanpa adanya seorang suami. Barangkali beliau akan pulang ke Kediri dan hidup bersama keluarganya di sana. Karena aku pikir, “Ngapain di Jogja kalau hanya untuk menemani kami yang terkadang tak tahu diri ini!”.

Tapi ternyata perkiraanku itu meleset dan sama sekali tidak benar: Bunda Maya masih sudi menemani kami menatap masa depan di Jogja dan pula sudi meneruskan riwayat pondok yang selama bertahun-tahun dirintis oleh Gus Zainal ini. Keteguhan sifat dan sikap yang dijarkan oleh Gus Zainal, betul-betul telah mengakar dalam jiwa Bunda Maya. Seakan-akan beliau rela mengorbankan diri dan kehidupannya hanya demi kami. Beliau tak ada bedanya dengan Gus Zainal: “keras kepala” terhadap kebahagiaan orang lain. Kedua orang yang sangat aku cinta-kasihi ini merupakan pasangan unik yang selalu mengabaikan dunia dan kehidupannya di bawah dunia dan kehidupan orang lain. Sifat dan sikap kesalehan sosial keduanya barangkali adalah yang tertinggi selama yang dapat kuketahui.

Mengenai Bunda Maya, terkadang aku merasa iri. Beliau sangat luar biasa berspekulasi dengan kehidupannya. Demikian juga aku kira beliau bukanlah wanita dalam pengertian biasa. Jiwa maskulinitasnya sangat dominan, tetapi bukan dalam artian bahwa beliau itu tomboi. Dikatakan beliau sangat maskulin ialah karena ketabahannya dalam hidup. Kehidupan, bagi beliau, tak ubahnya srigala yang akan sulit ditundukkan jika tidak dilawannya dengan gigih. Hidup menjadi tak berarti, seperti ilustrasi ini, apabila seseorang hanya tunduk dalam tikaman srigala yang mematikan itu.

Barangkali seorang wanita yang masih muda, tanpa suami, dengan lima anak yang kesemuanya belum baligh, berada di rantau orang, akan memutuskan untuk kembali ke desa kelahiran agar dia bisa berkumpul lagi bersama keluarga dan ada yang mengurusnya jika suatu hal yang tidak diinginkan sedang melanda diri dan anak-anaknya. Atau dalam waktu dekat (pasca-melahirkan atau pasca-iddah dalam ketentuan syari’at Islam) dia akan mencari laki-laki lain untuk menjadi pendamping hidupnya.

Tapi keputusan semacam ini sama sekali tidak diinginkan oleh Bunda Maya terjadi pada dirinya. Beliau lebih memilih hidup bersama kelima anaknya di sebuah rumah mungil agak kusut yang aku kira begitu menyedihkan untuk ukuran beliau. Bunda Maya memilih untuk hidup di Jogja daripada harus pulang ke Kediri untuk mengurus kami dan semua temen-temen Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’arie. Kami sangat berhutang budi, moral, sifat dan sikap arif, serta material kepada beliau. Beliau begitu luar biasa - hanya itu kata-kata yang pantas untuknya. (30 Maret 2008).

TENTANG LAPAR DAN HAYALAN MASA DEPAN

Barangkali adalah kebiasaan dalam hidup perantauanku bahwa lapar telah menjadi kata sederhana dari penderitaan. Perasaan, yang kiranya belum merasa siap dengan kondisi semacam ini menuntutku untuk menafsirkan hidup secara parsial, bahwa aku adalah sosok manusia yang kerap kali dibohongi oleh pengandaian atau hayalan akan masa depan. Sebuah masa depan yang dulu aku hayalkan, ternyata tak sekali-kali mengasuhku dengan benar. Bahwa hayalan-hayalan itu telah mendorongku untuk tidak mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi real yang harus aku dihadapi. Hayalan-hayalan itu rupanya hanyalah bualan yang menjanjikan apapun dari segenap kesenangan pada si penghayal, yang dalam hal ini adalah aku.

Aku merasa bahwa ternyata aku belum memafhumi bagaimana sebuah proses hidup selalu tak lepas dari pengorbanan, dalam pengertian yang sebenarnya. Sebuah pengorbanan keras yang secara tidak sadar sangat bertolak belakang daripada sebuah hayalan. Sebuah pengorbanan yang tak sempat aku bayangkan dulu akan menjadi sedemikian rumitnya. Sebuah pengorbanan yang tak sebanding dengan apa yang aku harapkan, dengan apa yang kerap kali aku hayalkan.
Oleh karena hayalan-hayalan akan sempurnanya hidup yang ternyata kini telah memberiku segala kebohongan, membuatku heran, mengapa sebuah proses demikian sulitnya ditempuh.

Jika tidak ingin benar-benar belajar pada sebuah proses dengan baik, barangkali seseorang akan menyudahinya dengan suka cita. Tapi aku…tak pernah sekali-kali membayangkan akan seperti itu. Aku telah memutuskan, bahwa apapun yang mesti kutempuh walaupun dengan darah sekalipun aku membayarnya, aku akan tetap bertahan dalam pilihan hidup semacam ini. Aku ingin membuktikan bahwa kesusahan dan penderitaan apa pun macamnya akan bermuara pada kebahagiaan juga. Dan untuk saat ini sampai kapan pun aku tidak akan sekali-kali percaya lagi pada hayalan. Aku yakin akan hal itu.

Kini aku hanya tak ingin diperdaya olah hayalan-hayalan untuk yang kesekian kalinya. Aku ingin bangkit dengan kesadaran bahwa hidup memang tidak semudah yang dibayangkan oleh orang-orang yang hanya mampu berhayal. Segala cobaan dan penderitaan yang menerpa hidup manusia barangkali adalah semacam bualan yang hanya membuang-buang waktu jika dipikirkannya. (12 April 2008).

INGIN KEMBALI KE MASA LALU

Setiap manusia, dalam tiap-tiap fragmen hidupnya, pasti melewatkan waktu-waktu tertentu untuk kembali kepada masa-masa yang telah dilewatinya. Masa lalu yang telah dibasuh oleh waktu ingin dikunjunginya kembali dengan segenap kesadaran sebagai manusia yang berevolusi. Rasa ingin kembali ke masa lalu, dalam kondisi ini, selalu menjelma segurat perasaan dimana air mata seringkali menjadi tanda (pemuas). Masa lalu menjelma sebuah alam yang indah dan tak ada bandingnya. Keindahan masa lalu terefleksikan sebagai kurun waktu yang menjerat manusia untuk tidak dapat melupakan secuil pun kenangan-kenangan hidupnya. Pengalaman hidup di masa lalu sepertinya telah melahirkan benih kesadaran bahwa pada masa-masa itu manusia begitu telah disadarkan oleh hidup dan kesadaran untuk tidak melupakan alam sekitar yang mengasuhnya.

Karenanya, kenangan di masa lalu bagi masa depan, adalah bentangan fragmen hidup yang memperdayakan manusia sebagai sosok yang tak lepas dari sejarah. Dalam posisi ini, manusia acap kali merasakan keasingan yang tak terperikan: keterasingan hidup di masa kini. Seakan alam dan suasana masa lalu adalah kondisi hidup yang sebenarnya, dan karena itulah manusia merasa telah asing dengan suasana hidup yang kini sedang dijalaninya.

Pada umur 20 tahun ini, dalam saat-saat begini (sendirian tanpa satu pun teman dan dalam kondisi yang telah merasa muak dengan perjalanan hidup), aku ingin sekali kembali ke masa lalu, masa dimana saat aku masih SD dulu. Masa kecil itu telah menghentak kesadaranku untuk kembali mengunjunginya. Saat-saat terindah dalam hidup membantang dengan jelasnya. Semua perjalanan yang terangkum dalam waktu lama itu seperti kemarin saja aku alami. Aku ingin sekali kembali ke masa kecil yang indah itu. Seakan masa-masa itu adalah hidupku yang sebenarnya.

Aku ingin sekali kembali digendong dan dibonceng sepeda oleh ayah tiap pagi, pergi ke pasar untuk ikut jualan kedondong. Ingin sekali-sekali merasakan bagaimana dibentak dan dipukulnya hingga aku menangis dan, setelah beberapa waktu, dielusnya rambutku sambil beliau berpapareghan, mengajariku bagaimana menjadi anak yang baik, dan berkata (sebuah kata-kata yang selamanya tak selalu aku ingat), “Biarlah kita miskin, asalkan kita tetap punya hati dan pendirian hidup yang kokoh”. Seperti juga kata-kata beliau ketika pulang dari pelayaran satu minggu di Bluto karena perahunya hancur disambar petir sehingga beliau dituntut untuk berenang sepanjang 30 kilometer untuk mencapai daratan, “Jangan kau jadi nelayan sepertiku. Bekerja keraslah untuk yang lainnya. Janganlah kau menjadi orang bodoh sepertiku. Carilah ilmu ke mana pun selagi kau mampu. Tahun depan kau mondok, dan sekarang kau harus membantuku menyiram tembakau sebagai modal. Aku ingin kau kelak tidak hanya menjadi guru atas keluarga dan anak-anakmu, tetapi guru terhadap diri dan masyarakatmu.” Aku sangat menyayangi ayah meski beliau sangat keras. Ketika beliau meninggal, aku gila bukan kepayang karena merasa penuntun hidupku kelak hanya harus menjadi kenangan.

Aku ingin melihat ibuku meraung tangis karena tidak dapat hutangan buat modal jualan tahunya. Aku ingin membantunya di pasar berjualan tahu habis shlat Jum’atan. Ingin dimandikannya pagi hari, dibetulkan kembali baju dan celana sekolahku serta dipersiapkan segala peralatan sekolahku oleh beliau sebelum berangkat sekolah. Aku ingin kembali dicubitnya hingga pahaku hampir luka ketika tanpa pamit aku menginap di rumah teman. Aku ingin mendengar kembali kata-katanya, “Kau jangan seperti saya. Kuharap kelak kau menjadi payung kami. Karena itulah kau harus sekolah dan belajar yang baik. Aku tidak rela kau menjadi orang yang tak berguna dan mengabaikan kata-kata orang tua.”

Aku ingin dimarahi oleh nenek saat aku lupa makan. Dan dihidangkannya makanan, disuapinya, dan dibentaknya ketika aku tidak mau menghabiskan makanan. Ingin bersamanya menyabit rumput buat sapi-sapi kami, menyiram pohon cabe dan segala apa yang tanamannya, belajar membuat jamu tradisional, dan dikipasinya punggungku saat aku mau tidur. Ketika aku sedang bertengkar dengan adikku, beliau membentakku sambil berucap, “Kau harus menjadi contoh yang baik untuk adikku. Jangan kau sia-siakan adikmu itu.”

Aku ingin kembali bermain dengan teman-teman kecilku. Mencuri jambu mentenya Man Tolani, mencuri dompet dan tali serta kelereng di pasar sehabis Jumátan, main sepak bola tiap sore, mencari urmang tiap minggu, lari atau bersepeda ke pantai Slopeng, bersama-sama menggapai keriangan. Berolahraga bersama Pak Musyaffak dan ditanya tentang cita-cita masa depanku. Untuk pertanyaan itu, aku selalu menjawabnya, “Saya ingin menjadi tentara atau pemain sepak bola yang handal, Pak!”.

Terlalu banyak kenangan-kenangan bersama mereka semua di desa dulu. Harus tersedia berlembar-lembar kertas untuk menuliskannya. Dan terutama lagi, ternyata kenangan-kenangan itu tidak mudah jika hanya dituliskan, karena pengalaman yang dituliskan hanya jadi separuh dari pengalaman. Pengalaman hanya terperikan begitu dahsyat dalam diri seseorang jika dihayati dengan sepenuh hati. Dalam diriku kini terserak kenangan-kenangan masa kecil itu, masa jaya-jayaku menikmati hidup di desa dulu. Tapi semua itu telah punah dan hanya menjadi kisah yang patut dikenang. Dengan alasan apapun, aku hanya bisa mengingat-ngingatnya dan tidak dapat mengunjunginya kembali. Kenangan indah itu telah dibunuh oleh waktu. Betapa kejamnya waktu, pikirku.

Dalam perantauan ini, aku selalu merasa asing dengan hidup. Meski aku sadar bahwa waktu dalam perantauan telah mengajariku banyak hal, seringkali aku merasa sebagai sosok manusia yang terbuang dari hidup yang sebenarnya, dari sejarah yang aku angankan. Namun demikianlah, betapapun aku menggugat sejarah, takdir tuhan telah menjawabnya.
Sebenarnya aku ingin sekali hidup di desa tempat aku dilahirkan oleh ema’ untuk mengabdikan hidupku kepada keluarga dan kepada masyarakat desaku tentunya. Tak apa aku bertani, berpayah-payah menjalani sisa watu, jadi manusia yang tak punya masa depan cemerlang, asalkan aku hidup dengan keluarga, itu cukup membuatku bahagia.

Barangkali keinginan itu muncul dari keibaanku melihat kondisi keluarga yang menurutku selalu terpuruk, apalagi selepas ditinggal oleh ayah. Dulu tidak dapat aku bayangkan bagaimana kondisi hidup keluargaku tanpa adanya ayah sebagai ikon tampuk keluarga. Dalam kondisi yang didera kemiskinan seperti itu, sering aku meramalkan bahwa hidup kami tidak akan pernah bahagia. Karena itu, dengan segala tenaga dan waktuku, sepenuhnya ingin aku serahkan buat hidup mereka. Mungkin mereka akan sangat bahagia dengan sikapku itu, bahwa mereka tidak sia-sia mengayomiku, memberiku kehidupan yang baik, mengasuhku untuk jadi manusia yang lebih dari mereka, dan segala sesuatu yang membuat mereka bahagia. Memang demikianlah seharusnya sikap anak kepada orang tua.

Karena itu aku sangat menyesal dengan pilihan hidupku, setidaknya untuk saat ini. Bagaimana dapat dikatakan bahwa aku adalah anak yang berbakti (secara langsung) kepada orang tua, jika membiarkan kondisi mereka yang sedang terpuruk seperti itu? Acap kali aku membayangkan, aku ingin berhenti kuliah dan pulang ke rumah untuk mempertaruhkan hidupku dalam hidup mereka. Juga sering aku membayangkan untuk segera mengambil kesimpulan, biarlah meski aku tidak jadi orang cemerlang di masa depan, asalkan aku dapat membahagiakan orang tua yang telah memberiku banyak pelajaran tentang hidup. (Malam Jumát, 10-04-2008).

(28 Maret 2008)

Aku juga tak tahu, mengapa siang ini (15.01) begitu mencekam. Bukan perasaan takut karena setelah aku bangun tidur ternyata tidak ada orang-orang kecuali Fathollah yang juga tidur di sisiku, melainkan karena tiba-tiba, sejenak aku bangun, masa lalu bagai angin malam, memukul-mukul ingatanku. Aku serupa anak kecil yang diperlihatkan kepadaku oleh waktu berbagai pernak-pernik mainan hidup: sejumlah mainan yang pernah aku jalani dan rasakan.

Kesunyatan selanjutnya menguasai jiwaku ketika aku sedang bertamasya melihat rias halaman kantor Indeks Press dari dalam kamar. Kutatap cecabang teratai di beranda itu, semuanya, namun serasa aku tak pernah ada di mana atau melihat apa saja. Aku juga tak tahu, aku ini berada di mana. Yang kuingat bahwa di tempat ini aku telah merasakan kebosanan karena tawaran lanskap kamar dan halaman begitu terasa memuakkan. Barangkali aku sedang mengimpikan sebuah tempat, sebuah masa, sebuah kehidupan, di mana orang-orang yang aku cintai berkumpul denganku sebagaimana waktu yang sudah-sudah dulu.

Tiba-tiba saja, keinginanku untuk kembali kepada masa lalu begitu kuat. Tiba-tiba saja, masa kini ingin aku tinggalkan meski aku tahu bahwa ia adalah pertaruhanku yang sebenarnya dengan hidup. Tiba-tiba saja…..aku menangis sendiri, menikmati keterasingan.

Aku merasa seperti tidak punya siapa-siapa lagi hidup di Jogja. Itu alasan kuat mengapa aku ingin kembali ke masa lalu. Karena di sana aku dapat berkumpul bersama ayah, ibu, nenek, kakek, adik, paman, bibi, teman-teman masa kecil, semuanya. Di sana aku bisa menikmati hidup dan tidak malah melawan kegetiran seperti di sini, di Jogja. Di masa lalu itu barangkali tidak pernah aku rasakan kegetiran hidup, kesedihan, pengorbanan, kedekilan, perasaan yang tidak menentu, dan apa saja yang kerap menjengkelkan. Aku bisa senang hidup bersama keluarga yang sangat aku sayangi dan, bagitu, tidak ada duanya itu.

Aku sangat merindukan belaian tangan ayah meski keras serupa batu. Aku tidak akan membencinya hanya karena beliau sering memukul dan memarahiku. Seandainya kini beliau ada, akan aku katakan kepadanya bahwa aku merindukan bentakannya, pukulan-pukulannya, wejangan-wejangannya, meski aku harus menahan rasa sakit hati. Aku cukup bahagia bahwa beliau adalah seorang nelayan dan petani yang tangguh. Aku tidak akan malu mengatakan yang sesungguhnya kepada teman-teman kalau ayahku adalah seorang petani dan nelayan. Aku bangga dengan kehidupan ayahku yang seperti itu. Aku sangat mencintainya bahkan melebihi masa depanku. Aku berani mengorbankan apa saja demi membahagiakan beliau.

Demikian juga dengan ibu. Dialah seorang yang ulet, gigih, tajam. Matanya selalu nyalang meradang masa depan anak-anaknya. Seperti bahwa hidupnya murni buat kebahagiaan anak-anaknya. Beliau rela berkorban jiwa-raga, seperti menjadi PRT di Jakarta misalnya, demi kesuksesan anak-anaknya. Dia adalah seorang ibu yang tangguh dalam memegang pesan ayah supaya aku dan adik disekolahkan ke jenjang tertinggi. Karena itu aku sangat menyayanginya. Aku ingin selalu didekatnya, membantu dia bekerja atau sekedar membuatnya bahagia, tetapi apa daya kini aku mesti menjalankan cita-cita ayah supaya aku kuliah di sini, di Jogja.
Karena itu, saat ini aku berjanji kepada diriku sendiri, bahwa akan aku tunjukkan kepada mereka bahwa mimpi-mimpi mereka agar aku jadi “orang besar”, yaitu orang yang berbakti kepada bangsa dan negaranya bukanlah pengandaian yang utopis. Akan aku kibarkan Merah-Putih dengan rasa bangga dan kepala tegak, kemudian berkata lantang kepada mereka, “Demi kalian, demi negeri tumpah darah ini, kupersembahkan jiwa-raga sepenuhnya!”.