Kamis, 18 September 2008

RIWAYAT BATANGPAGI


bergerai sedingin teduh
daun-daun membelai subuh
maka berlepaskanlah embun-embun
ke tanah kering malam tambun

o. fransiska
jalan berkabut di pagi buta
cinta berangkat rahasia
di tiap tingkap rindu yang patah
kemerlap di badan adalah istirah

kemanakah tanah bangkit
di langit tiadalah selilit
dari mana datangnya angin
desirnya melayukan tegar dinding

pohon-pohon tua riwayat luka
darahnya habis dihisap cuaca
darah yang mengalir serupa sungai
singgah di pantai resai

o. fransiska
di padang ini pagi begitu sunyi
sesunyi cinta luka abadi

RumahBadai, 2008

MEDITASI KEMARAU



– kemarau panjang
adalah hari-hari yang bangkit
dari pembaringan penghujan –

matahari mencari bayangannya
di sekujur bayangan benda-benda
sedang langit tercenung
pada robekan tubuhnya yang menganga

tak ada embun di daun-daun
dan lindap angin
tak lagi sanggup menyapa pohonan

burung-burung mati
dalam pelukan fatamorgana
tanah-tanah membusuk
seperti arang air dalam bejana

Jogja, 2007

PADA SUATU SENJA


pada suatu senja
perahu menari dalam sungkah ombak
berlayar menyeberangi pulau demi pulau
menjejaki hayalan dan kenyataan

kala matahari hampir tenggelam
lautan melukiskan kesedihannya
lewat deru gelombang yang sayu
atau warna langit yang mulai kelabu

lalu tiba-tiba angin berubah arah
dan lanskap mulai muram
serupa masa silam

Jogja, 2007

KEMBARA BULAN


dari balik awan merah saga
bulan memulai kembaranya
selepas burung-burung pantai
berkidung menabik malam

di tiap tingkap langit yang panjang dan jauh
bulan mendzikirkan rahim waktu yang kelabu
meski kilat dan guntur merajam akar pekat
atau angin bergerai memeluk lanskap

o. betapa kerinduan
di hatinya
bagai hujan di malam buta

sinarnya adalah kesunyian sepanjang kembara
tak di laut ia berhias, tak di langit ia terlepas
dan tak pula di tanah-tanah
kemenangan dan cinta menjelma bahana

jogja, 2008

SENANDUNG AKAR SUNYI

daun-daun tertidur, embun, pantai
mutiara di dasar lautan terdiam

bahkan para nelayan mulai menggulung layar
karena di langit ikan-ikan bergeletaran

lebih tiris dari nyanyian seruling
suara-suara di pantai basah memekarkan jiwa

air laut di pinggiran mematung
air laut di tengah bergelombang

senandung bunyi dan sunyi angin
mematahkan kabut di cakrawala yang dingin

jogja, 2008

ROMANSA SEPASANG BURUNG

meski sarang di pohon telah rapuh
sarang di hati tak berwarna kelabu

mereka tak akan pernah melupakan
batu pertemuan di tanduk kemarau itu
karena di sanalah kenangan dan harapan
menjelma selaksa bayang-bayang

"kita adalah seruling merah keperakan
seperti lukisan senja
pada debur gelombang"

waktu telah menggerai bulu-bulu mereka
serupa putih rambut yang tak percaya pada usia
matanya bersitatap dalam-dalam
bertukar tangkap dalam kepedihan

"barangkali kepastian dari mimpi
adalah ketidakpastiannya
dan kita seperti separuh mimpi yang tak nyata”.

jogja, 2008

PURNAMALAM

angin malam membuka awan
lalu gerimis pun turun perlahan

nun jauh di sana, segetun mimpi menggelinding
dari lengang bebukitan, menggumpal
memendam rahasia angkuh semak-belukar

di sini, malam membawa kekunang ke pinggir kali
terbaring di atas batu yang mati

“ke mana bulan, ke mana gemintang?”
“sempurnalah malam segenap jalang!”

Jogja, 2007

Sabtu, 13 September 2008

KRAPYAK, SEBUAH POTRET KENANGAN


Sudah lebih satu tahun pondok pindah ke Cabeyan Panggungharjo Sewon Bantul. Berarti, sudah lebih satu tahun Gus Zainal meninggal dunia, lebih satu tahun pula kami (para santrinya) menjalani hidup tanpa seorang welas-asih sepertinya. Lanskap keindahan Krapyak saat-saat masih ada surga Gus Zainal, ternyata, sudah satu tahun lebih aku tinggalkan.
Betapa cepatnya waktu berlalu. Kenangan nun jauh di masa lalu, bagai baru saja terjadi. Sungguh, aku tak pernah sekali-kali merasa kenangan itu telah satu tahun aku alami. Aku merasa kenangan itu baru kemarin saja terjadi.
Sebegitu lesatnya aku dewasa. Jogja telah mengasuhku sekitar dua tahun yang lalu (aku berangkat ke Jogja tgl 17 Agustus 2006). Tapi, mengapa aku masih merasa baru kemarin menginjakkan kaki di Jogja? Ya, baru kemarin..., itulah kata yang sedang menyeruak di kepalaku.
Ingatan akan waktu-waktu di Krapyak, kini begitu sangatlah dekat, sedekat api dan panas. Sungguh luruh hatiku ketika selintas lalu kenangan itu mengakar di pikiranku. Masa-masa itu adalah masa-masa kerianganku menjalani hidup di Jogja. Keriangan yang barangkali tak akan pernah aku alami kembali. Kini kenangan itu menjelma kerinduan yang luar biasa. Serasa tak sanggup aku mengingat-ingat kembali masa-masa yang sangat indah itu.
Kenangan itu, masih lekat di kepalaku:
Gus Zainal selalu berpesan kepadaku sama Yasin (anak Cilacap itu), sebelum berangkat ke pasar Prawirotaman untuk belanja keperluan Angkring kami, supaya hati-hati kalau lewat di jalan Krapyak. “Karena jalan itu sempit. Terkadang ada orang yang kebut-kebutan di sana. Kalau boncengan harus pakai ontel yang ada remnya! Ya udah, sana berangkat,” katanya.
Lalu aku sama Yasin boncengan, berangkat ke pasar. Dari jauh, aku melihat sosok “guru kehidupanku” itu memakai kaos putih tipis, songkok putih, sarung biru kotak, dan tak lupa dengan rokok Super-nya, melempar senyum dan gelengan kepala kepada kami. Setiap pagi, pengalaman semacam itu kerap kami alami. (Kalau mengingatnya kembali, betapa aku selalu tak bisa menahan tangis).
Satu momen penting ketika tulisanku untuk pertama kalinya (resensi paling atas) di muat di koran Seputar Indonesia. Gus Zainal pernah marah kepadaku saat aku sulit dibangunkan olehnya untuk berjemaah shalat subuh. Tapi kemarahan itu tampak hanya setitik saja, selayaknya orang yang tidak marah. Beliau bilang, “Wah, kalau gini, mendingan Fakih berhenti saja jualan Angkringan”. Itu kata-kata yang agak menyakitkan yang pernah kurasakan dari Gus Zainal. Dan aku rasa kata itu menyakinkan karena kesalahan aku juga.
Sehabis magrib, setelah Gus Zainal memberi tausiah, Gus Zainal ngasi informasi kepada teman-teman santri. Beliau berkata, “Mulai sekarang, Fakih saya tahbiskan sebagai penulis sejati. Saya harap Fakih berjanji kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah meninggalkan dunia ini. Dan mulai saat ini juga, Fakih jangan jualan Angkringan lagi. Mendingan kamu fokus menulis. Biar Fathur yang menggantikanmu”.
Suatu kebanggaan dan sekaligus pukulan kepadaku. Aku merasa, Gus Zainal memecatku berjualan angkringan lantaran aku sulit bangun pagi. Tapi biarlah, saat itu aku benar-benar merasa bangga. Guruku tercinta itu telah menahbiskanku sebagai seorang penulis. Dan itu wasiat terakhir kepadaku, agar aku tidak main-main dalam dunia ini. Semoga saja aku tetap kuat berpegang teguh pada wasiat itu.
Mulai saat itu aku berhenti berjualan angkringan, dan fokus untuk belajar membaca dan menulis. (12-09-08). Bersambung.........

AKU INGIN JADI FAKIH, TUHANKU

Sudah terlalu lama aku jadi orang yang sok pintar, sok relegius, sok bangga dengan apa yang telah aku lakukan, dan bermacam sok sok lainnya. Kini aku mulai muak dengan diriku sendiri, dan mulai sadar bahwa aku ini bukanlah siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya.
Aku hanyalah orang yang tak pernah puas menutup-nutupi kekuranganku. Dan aku merasa, inilah sesungguhnya penyakitku yang paling akut. Penyakit inilah yang mengkungkungku dalam ketidakbebasan dan dalam ketakutan-ketakutan. Karenanya aku selalu merasa dihantui oleh diriku sendiri.
Kini aku tak mau lagi jadi dalang dan sekaligus korban atas permainan ini, Tuhanku, sungguh benar-benar tak ingin. Aku hanya ingin jadi “Fakih” yang selalu merasa puas dengan keadaan. “Fakih” yang tak hanya ada dalam ide, tetapi “Fakih” dalam kenyataan. Aku ingin puas dengan kehidupan yang sungguh-sungguh apa adanya, karena itulah aku rasa sumber kebebasan yang sebenarnya. (100908).

Rabu, 10 September 2008

SEBUAH KEHIDUPAN YANG TAK DIPUNYA


Inilah kehidupanku, bagian terkecil dari duniaku:
Cinta yang hilang ditelan waktu, berlalu tanpa mengajakku.
Hari ini, saat-saat dimana aku sudah merasa sendiri, cinta itu bagai debu yang menempel di alas sepatu. Padanya aku tak lagi peduli, padanya pula aku tak lagi simpati. Cinta hanyalah permata yang siap hilang di telan kenyataan. Tanpa ada jejaknya, tanpa ada sisanya. Kini aku berani bertaruh dan akan mengatakan kepada semua orang bahwa perasaan dan pengalaman cinta seperti air di tanah gurun: fisiknya hilang dalam kekekalan ruhnya.
“Aku benci cinta, aku benci cinta,” batinku selalu, “karena cinta buat orang jadi gila: gila karena memilikinya, gila karena kehilangannya.” Aku hanya merasa, terkadang cinta bagai srigala yang makan apa saja dan pula terkadang bagai kunang-kunang yang menyinari malam. Tapi bagiku kini, cinta lebih jahat dari apa saja.
Ini bermula dari sebuah pengalaman yang sangat pelik dan tak pernah kupunya sebelumnya. Seorang wanita, setelah 7 tahun kutaruh dalam hati, tiba-tiba “menusukku” begitu saja. Ia adalah wanita yang sebelumnya selalu kupuja karena prinsipnya, kepribadiannya dan kepintarannya yang luar biasa. Aku suka padanya bukan karena ia terlalu istimewa rupanya, bukan pula karena ia adalah wanita kaya. Ia telah sempurna membuatku gila, karena dengan tanpa alasan aku telah benar-benar menyukainya. Bahkan jika lebih ekstrim aku katakan, aku cinta padanya sungguh apa adanya, bagai luapan rasa dari hati yang paling curam, dan aku tak tahu mengapa ini bisa terjadi.
Seandainya ada orang yang bertanya mengapa aku mencintainya, barangkali aku tak bisa menjawabnya, karena aku suka padanya sungguh tanpa alasan. Sungguh tanpa batasan. Aku menyukainya karena ia adalah wanita yang pantas aku sukai. Aku mencintainya karena ia adalah wanita yang pantas aku cintai. Entah mengapa, ketika ingat dan atau termenung tentangnya, hatiku jadi berbunga-bunga.
Tapi...kini ia “meludahi” perasaan tulusku itu. Bukan cuma ia telah diambil orang, tapi bahkan sudah kehilangan perawan. Cinta dan keperawanannya yang dulu kudambakan, telah dimakan waktu dan harapan. Wanita yang dulunya aku junjung-junjung sebagai orang yang kuat dalam memegang prinsip ketegaran, kini bahkan tidak sama-sekali ia mengindahkannya. Wanita yang dulunya kupuja sebagai Khotijah, ternyata jadi Monica. Menurut temanku, bahkan kini ia pacaran dengan cowok brandal. Dan tentunya ia akan dikenalkan dengan gaya hidup gemerlap dan “tanpa aturan”. Syahdan, menurut teman-teman, semua dugaan itu benar-benar terjadi.
Mendengar berita itu aku terhenyak, tak percaya. Hatiku menangis dan hancur. Aku merasa pupus dan sekaligus kasihan padanya. Akhirnya...cintaku, sebuah kehidupan yang tak pernah kupunya, hilang tanpa sisa. Rasa cintaku yang sempat kuanggap sebagai kesetiaan telah dibohongi oleh wanita pendusta. Sungguh betapa luluh-lantaknya hatiku. Serasa aku tak lagi bisa menahan diri, aku ingin lari dari kenyataan. Kenyataan yang tak pernah memberiku cinta.
Aku hanya bisa merasa kasihan kepadanya, kepada orang tuanya, kepada masa depannya. Aku hanya bisa berharap semoga masa depan diri dan karirnya berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh orang tuanya. Dan aku selalu berdoa agar ia mendapatkan pendamping yang lebih sempurna, seseorang yang bisa membimbingnya.
Ini akan kuanggap sebagai pengalaman berharga yang mengandung hikmah. Aku tak ingin pupus cinta untuk kedua kalinya. Aku tak ingin sembarangan memilih wanita. Ia harus kupunya sepenuhnya, jiwa-raganya. Dan ia harus selalu bersamaku, agar aku dapat menjaganya selalu. Selai itu, ia adalah orang yang bisa menghargai perasaan, kenyataan, dan hidupku. Ia adalah orang yang selalu mengatakan “tidak” untuk laki-laki selainku. Di luar kategori wanita seperti itu, aku tak manu. Kecuali memang ada takdir lain dari Tuhan, aku tak tahu. Daripada aku selalu sakit hati, mending aku tak sama sekali mengikat cinta. Karena cinta hanya membuat orang jadi gila: gila karena memilikinya dan gila karena ditinggalkannya. (06/09/08).

Aku Jadi Cuti Semester Ini


Hari ini (040908) aku benar-benar resmi jadi cuti. Cuti untuk satu semester, semester tiga. Tadi aku minta surat cuti ke bagian TU fakultas saintek. Dengan melalui proses birokratis yang sedikit rumit dan pertimbangan dari TU yang agak berbelit-belit, akhirnya semuanya jadi beres. Ini merupakan pengalaman pertamaku cuti kuliah.
Aku terkesan dengan introgasi dan wejangan bapak TU. Dia bilang kepadaku bahwa cuti itu tidak baik manakala tidak ada keperluan jangka panjang yang mendesak yang bertujuan sebagai pengembangan diri. Cuti, lanjutnya, hanya menjadi jalan penghambat bagi keberlangsungan materi kuliah. “Kamu akan ketinggalan dari teman-temanmu. Dan parahnya, bisa-bisa kamu akan lupa terhadap pelajaran pada semester-semester sebelumnya kalau kamu tidak berusaha mengulang dan mempelajarinya kembali,” lanjutnya.
Aku mengerti, dia bilang seperti itu bukan tanpa alasan. Aku juga tahu kalau cuti itu hanya akan menjadi jangka-waktu kevakuman jika tidak di isi oleh aktifitas pendukung lainnya. Tapi keputusanku untuk cuti juga bukan tanpa alasan. Barangkali alasan yang paling utama ialah karena tidak adanya biaya pembayaran kampus. Dan juga karena aku belum bisa membayar hutang ke fakultas sebesar 850.000. Hutang itu buat pembayaran pada semester kemarin. Itu saja mungkin cukup sebagai alasan yang berkenaan dengan birokrasi kampus.
Tapi menurutku, alasan eksternal kampuslah yang paling signifikan. Sebenarnya aku memutuskan cuti berawal dari kebingungan. Pada semester dua aku sudah merasa jenuh dan emoh lagi kuliah di saintek (UIN). Karena disamping pembayarannya yang terlalu mahal (yakni, 850.000), juga karena jam pelajarannya sangat padat (untuk ukuran maksimal, aku masuk kuliah dari jam 07.00 sampai jam 17.30). Buat alasan yang pertama, aku rasa, untuk ukuran seorang penulis yang tidak produktif dan orang yang tidak bisa memenej uang dengan baik sepertiku, sangat sulit mendapatkan atau menyimpan uang sebanyak itu selama satu semester.
Terus, buat alasan yang kedua, aku rasa jam pelajaran sepanjang itu bisa dikategorikan sebagai pembodohan terhadap mahasiswa. Apalagi ditambah sistem kredit absensi 75%: mentalitas dan dinamisasi aktifitas mahasiswa menjadi kerdil dan terkekang. Sementara aku tidak suka dengan kekakuan seperti itu. Bagiku, mahasiswa itu harus diberi ruang yang lebih luas untuk kebebasan ekspresinya. Karena kaum muda sepertiku selalu ingin memberontak jika hak kebebasannya dikekang.
Alasan selanjutnya, dan ini yang kiranya yang paling riskan, aku sudah merasa suntuk bergabung dengan orang-orang yang kaku, seperti teman-teman kelasku. Entah mangapa aku punya pikiran seperti ini kepada teman-temanku sendiri. Tapi yang jelas mereka bagiku sangatlah tidak menyenangkan. Mungkin karena kesenangan mereka tidak sama denganku. Dan dugaan itu ternyata benar. Sikap dan sifat mereka membuatku juga merasa jengah dan terkekang. Ya, terkekang karena mereka ada yang terlalu sok serius, tidak familiar, sok pintar, sok tidak fair dan sifat serta sikap lainnya yang tidak aku senangi dari mereka. Aku selalu tidak merasa kerasan di kelas karena tidak kuat menanggung persoalan itu. Pergaulanku di kelas sangat kaku, bahkan jika bisa dikatakan lebih dari itu.
Teman-temanku banyak yang tidak mengerti tentang keinginan-keinginanku dan tidak sepaham denganku, begitu pun juga sebaliknya. Meskipun aku sadar, mungkin hal itu dikarenakan aku belum bisa masuk dalam dunia mereka, aku merasa sangat bosan jika harus berkumpul dengan mereka selama bertahun-tahun dalam kadar kekakuan yang tetap.
Akhirnya aku jadi bingung. Bingung bagaimana caranya berteman baik dan fair dengan mereka dan bagaimana caranya aku menjadi mahasiswa yang agak kaku sedikit, seperti kebanyakan anak-anak saintek. Sungguh aku sangat bingung dengan permasalan ini. Di satu sisi, aku mulai merasa emoh berteman dengan orang-orang yang kaku seperti itu, dan di sisi lainnya, aku ingin mempunyai prinsip dan berteman dekat dengan mereka. Makanya aku lebih memilih mengendapkan diri sejenak dari jerembab ruang yang tidak memberikan inspirasi kepadaku itu. Pendeknya, cuti ini kuambil ialah sebagai jalan proses melebur dalam dunia teman-teman. Aku tidak ingin kehilangan mereka, karena aku mencintai dan menyayangi mereka. Karena itu pula aku cuti. (Maaf teman-teman, aku sudah menyinggung keras kalian. Tapi yang pasti hal ini benar-benar aku rasakan dari kalian).
Itulah beberapa alasan-alasan mengapa aku memutuskan untuk cuti. Semoga pada semester selanjutnya aku bisa mengatasi permasalahan-permasalahanku itu. Amien.....!(05/09/08).

Jumat, 05 September 2008

TENTANG LAPAR DAN HAYALAN MASA DEPAN

Barangkali adalah kebiasaan dalam hidup perantauanku bahwa lapar telah menjadi kata sederhana dari penderitaan. Perasaan, yang kiranya belum merasa siap dengan kondisi semacam ini menuntutku untuk menafsirkan hidup secara parsial, bahwa aku adalah sosok manusia yang kerap kali dibohongi oleh pengandaian atau hayalan akan masa depan. Sebuah masa depan yang dulu aku hayalkan, ternyata tak sekali-kali mengasuhku dengan benar.

Bahwa hayalan-hayalan itu telah mendorongku untuk tidak mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi real yang harus aku dihadapi. Hayalan-hayalan itu rupanya hanyalah bualan yang menjanjikan apapun dari segenap kesenangan pada si penghayal, yang dalam hal ini adalah aku. Aku merasa bahwa ternyata aku belum memafhumi bagaimana sebuah proses hidup selalu tak lepas dari pengorbanan, dalam pengertian yang sebenarnya. Sebuah pengorbanan keras yang secara tidak sadar sangat bertolak belakang daripada sebuah hayalan. Sebuah pengorbanan yang tak sempat aku bayangkan dulu akan menjadi sedemikian rumitnya. Sebuah pengorbanan yang tak sebanding dengan apa yang aku harapkan, dengan apa yang kerap kali aku hayalkan.

Oleh karena hayalan-hayalan akan sempurnanya hidup yang ternyata kini telah memberiku segala kebohongan, membuatku heran, mengapa sebuah proses demikian sulitnya ditempuh. Jika tidak ingin benar-benar belajar pada sebuah proses dengan baik, barangkali seseorang akan menyudahinya dengan suka cita. Tapi aku…tak pernah sekali-kali membayangkan akan seperti itu. Aku telah memutuskan, bahwa apapun yang mesti kutempuh walaupun dengan darah sekalipun aku membayarnya, aku akan tetap bertahan dalam pilihan hidup semacam ini. Aku ingin membuktikan bahwa kesusahan dan penderitaan apa pun macamnya akan bermuara pada kebahagiaan juga. Dan untuk saat ini sampai kapan pun aku tidak akan sekali-kali percaya lagi pada hayalan. Aku yakin akan hal itu.

Kini aku hanya tak ingin diperdaya olah hayalan-hayalan untuk yang kesekian kalinya. Aku ingin bangkit dengan kesadaran bahwa hidup memang tidak semudah yang dibayangkan oleh orang-orang yang hanya mampu berhayal. Segala cobaan dan penderitaan yang menerpa hidup manusia barangkali adalah semacam bualan yang hanya membuang-buang waktu jika dipikirkannya. (12 April 2008).

Tentang Pembunuhan Terhadap Waktu

Kadang aku berfikir, menyia-nyiakan waktu adalah bagian dari membunuh diri sendiri. Sementara, adakah seseorang yang peduli terhadap kehidupan, rela menggiris sebagian dari tubuhnya? Barangkali hanyalah dia yang tidak sadar bahwa waktu telah mengasuhnya sebagai manusia yang betul-betul mengimpikan sejarah; dia yang tak dapat membedakan antara dunia dan kehidupan. (22.04.2008).