Selasa, 30 Juni 2009

DAVID HILBERT



David Hilbert ( 23 Januari 1862 - 14Februari 1943) – setelah aku membaca sedikit biografinya – adalah seorang ilmuwan Jerman yang telah membuatku paham arti pengembaraan mencari hakikat alam, sebuah spekulasi membaca pikiran Tuhan. Ia mengajarkan pentingnya menjadi manusia pembelajar, pemikir yang kuat dan konsisten, manusia yang merdeka dan tidak pernah main-main dengan impiannya.

“Penuhilah panggilan intelektual dalam dirimu. Pelajari apa yang ingin kamu pelajari. Sangsikan apa yang telah kamu pelajari. Pikirkan ia sedalam mungkin. Jika akhirnya kamu tidak merasa puas dengan itu, bangunlah suatu sistem pemikiran yang kurang lebih kokoh, detail dan kebal akan serbuan pertanyaan-pertanyaan, agar hasratmu terpuaskan,” begitu seolah ia berkata padaku.

“Jangan kau berhenti pada satu bidang keilmuan. Jelajahi dan kuasailah semuanya, tapi jangan setengah-setengah. Kau harus memberikan kontribusi penting pada ilmu yang sedang kau pelajari. Caranya tidak lain kecuali membaca, merenung, berpikir dan menulis. Yang harus kau ingat adalah tidak ada waktu santai, lalai dan tidur begitu lama dalam berproses untuk itu semua,” demikian lanjutnya.

David Hilbert adalah seorang jenius matematika yang telah memberikan kontribusi demikian banyaknya di dalam berbagai bidang matematika. Ia adalah fisikawan yang tanpanya barangkali Albert Einstein tidak cukup memiliki pilihan banyak dalam membangun dan mengembangkan Teori Relativitas Umumnya dan salah satu dari sedikit orang yang menyumbang terhadap berkembangnya Teori Mekanika Kuantum. Ia adalah orang pertama yang membuka ruang terhadap lahirnya Fisika Matematika. Ia adalah filosof dan bapak Formalisme, satu aliran penting dalam filsafat logika modern, dimana kemudian mempengaruhi Bertrand Russel dan Alfred Whitehead. Ia adalah pelempar 23 problem matematika, fisika teori dan logika terbesar abad ke-20, dimana karenanya akan terbuka jalan pengembangan keilmuan fronteir di masa mendatang.

Ia adalah praktisi media yang selama kurang lebih 20 tahun mengabdikan dirinya sebagai redaktur ahli di jurnal matematika berpengaruh di zamannya, Annalen der Mathematik. Ia adalah akademisi yang telah mengabdikan dirinya di tiga universitas terkenal Jerman. Ia adalah mahaguru dari sejumlah generasi matematikawan, fisikawan dan logikawan yang kelak menjadi yang terdepan dalam bidangnya masing-masing. Ia adalah penganut Kristen Lutheran yang taat. Ia adalah nasionalis – tetapi bukan pengikut Nazi – yang dibuktikan dengan konsistensinya menetap dan ikut mengembangkan masyarakat Jerman – tidak seperti ilmuwan-ilmuwan lain yang terbiasa berpindah-pindah tempat dari satu negara ke negara lainnya. Terlebih dari itu, ia adalah lambang dari sosok manusia yang rendah hati.

“Hilbert, mampukah aku sepertimu?,” selalu tanyaku dalam hati.

jogja, 27 Juni 2009

Aku Ingin Kembali Ke Pangkuanmu, Kampung!



Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah melupakanmu, kampungku. Sama sekali tidak akan pernah. Tak sudi rasanya hatiku jika kelak aku tidak kembali kepangkuanmu. Aku akan kembali jika saatnya sudah tiba. Dan ini adalah janjiku pada diriku sendiri. Aku yang lahir dari rahimmu, maka aku harus kembali ke rahimmu.

Meski sudah 9 tahun aku telah meninggalkanmu, bayang-bayangmu tidak pernah luntur dari pikiranku. Rinduku padamu sangatlah dalam. Semakin dalam bila kenangan-kenangan bersamamu muncul tiba-tiba. Entah bagaimana aku harus menggambarkannya. Yang pasti, ketika kerinduan itu muncul, aku selalu merasa asing hidup di tanah rantau.

Begitu renyuh hatiku bila ingat kenangan itu. Tidak kuat rasanya aku menahan kerenyuhan hatiku. Benar-benar aku tidak tahan. Aku sama sekali tak berdaya. Apalagi jika dalam bayangan itu, aku ingat betapa waktu tak akan pernah mengembalikan apa yang telah terjadi, aku selalu mengutuk diri. Mengapa aku harus ditakdirkan merantau seperti ini? Tidakkah lebih baik bila aku tinggal di rumah saja, hidup bersama keluarga, teman-teman, orang-orang kampung yang biasanya dikatakan bodoh itu, menjalin cinta yang tulus bersama mereka semua? Tidakkah lebih baik jika aku tak harus mengejar cita-cita ke tempat yang begitu jauh, dan hidup sederhana sebagaimana anak-anak kampung lainnya bersamamu?

Ah, aku tidak bisa membayangkan ini semua. Aku selalu takut mengambil keputusan. Jika muncul dalam diriku tarik-menarik antara pulang ke pangkuanmu dengan meneruskan perjalanan yang telah aku jalani ini, aku selalu diam dan hanya bisa menangis. Sangat ingin rasanya aku hidup bersandingan dengan keluarga, biar kelak ketika diantara mereka ada yang dipanggil Tuhan aku tidak merasa terlalu memiliki beban yang besar. Tetapi aku selalu tidak kuasa membuang begitu saja keinginan-keinginan mereka agar aku menuntut ilmu setinggi-tingginya di tanah perantauan ini.

Akhirnya, aku hanya bisa pasrah, meski sebenarnya hatiku selalu bergejolak karenanya. Meski tak pernah ada dalam diriku setitik ketenangan dan kebahagiaan. Kau hanya ada sebatas dalam kenangan dan bayang-bayang. Dan selalu muncul dalam bentuk kerinduan yang tak dapat kulukiskan. Hanya kenangan dan bayang-bayang tentangmu yang dapat menghiburku. Dan tak ada selain itu. Hanya kenangan dan bayang-bayangmu yang membuatku masih merasa bahwa aku memilikimu, dan kau memilikiku.

Hancur rasanya hatiku bila merenungkan semua ini. Seakan aku tak dapat mempertahankan apa-apa dari diriku jika telah datang kerinduan itu. Aku tak dapat berbuat apa-apa, dan sekali lagi, hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Dan kau tahu, menangisi kerinduan itu terasa sangat menyakitkan.

Maafkan, kampungku, maafkan aku. Tak ada yang bisa aku curahkan padamu. Tak ada jasa yang aku berikan padamu. Aku merasa seperti anak durhaka, orang yang tidak menghargai masa lalunya, tak berterima kasih pada yang telah melahirkan dan membesarkanku.
Tetapi ketahuilah, aku sangat mencintaimu. Sangat merasa bahwa kau adalah satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku. Aku sangat bangga padamu. Sangatlah bangga. Bahkan melebihi kebanggaanku pada diriku sendiri.

Aku akan kembali ke pangkuanmu, kampungku. Ingin merangkai hidup manis bersama keluarga, ingin merasakan hidup hangat bersama teman-teman dan orang-orang kampung. Ingin menjalani masa-masa kejayaan dan masa tua bersamamu. Bahkan, kelak aku ingin meninggal dan dikubur di rahimmu.

Aku berjanji pada diriku, aku akan kembali ke pangkuanmu, kampungku!

Jogja, 27 Juni 2009

Rabu, 24 Juni 2009

Apakah Aku Tidak Berbakat Jadi Seorang Ilmuwan (?)

Otakku kini sudah terasa tua. Tak punya kekuatan dan ketajaman. Tumpul. Sepertinya hanya cocok dipergunakan oleh orang-orang yang tak mau berpikir keras, orang-orang yang sukanya nyantai, atau orang-orang yang tak punya beban apa pun dengan suatu proyek besar intelektual.

Di umur 21 ini, yang katanya otak masih dalam kondisi subur-suburnya, aku sering menyangsikan, apakah hal tersebut benar? Padahal yang terjadi padaku justeru sebaliknya. Daya tangkapku lemah, demikian juga dengan daya ingatku. Kekuatan ketajaman analitisku sering kewalahan, kurang akurat melihat persoalan, bahkan terasa tumpul sama sekali. Untuk persoalan-persoalan yang sulit, sering kali aku tidak bisa menembusnya. Toh walaupun aku akhirnya bisa, itu masih membutuhkan suatu rangkaian pemikiran yang panjang. Tidak sama halnya dengan teman-teman seangkatanku.
Pikiranku tidak inovatif. Kurang cerdas. Tak mau dengan suatu problem yang butuh kedalaman pemikiran. Tidak bisa menyelesaikan dua, tiga atau lebih persoalan dalam sekali waktu. Sering lupa dengan apa yang sudah dipelajari. Proses logika yang lambat. Dan banyak lagi lainnya.

Dari itu, aku sering menyesal diri. Aku takut dan selalu bertanya-tanya, apakah aku tidak berbakat jadi seorang ilmuwan? Aku selalu berdoa kepada Tuhan, jika memang intelektualitas adalah jalanku, maka berikanlah padaku jalan yang lurus. Berikanlah aku kemampuan daya pikir yang tajam dan tangguh, kekuatan belajar dan kecerdasan, serta keteguhan hati. Tetapi apabila tidak, tuntunlah aku kepada jalan hidup yang benar.

Aku tawakkal kepada Allahku, tapi aku akan terus berusaha.............!

Yogyakarta, 23 Juni 2009

Rabu, 17 Juni 2009

KEMANTAPAN ITU...?!

Ada seorang teman menyatakan, bahwa semestinya mahasiswa yang sudah mencapai jenjang semester IV itu sudah paham betul bagaimana ia harus menyikapi ilmu yang ia pilih sebagai jurusan di kampusnya. Barangkali tak setiap orang yang akan menolak pendapat itu. Bagi mahasiswa yang memang sudah memiliki niat kuat sebelum ia benar-benar mengambil jurusan yang ia pilih nantinya, semester IV barangkali merupakan langkah awal pengembangan ilmu yang telah lebih setahun setengah ia tekuni sebagai bidang keilmuan.

Namun lain halnya dengan aku. Hingga semester IV ini, aku masih terlalu malu untuk dikatakan sebagai mahasiswa fisika, lantaran – sebelum segalanya menjadi berubah – aku tak pernah paham bahkan satu bab pun dalam topik fisika. Padahal mestinya, mahasiswa semester IV itu minimal sudah tahu dan paham dasar-dasar umum mata kuliah jurusannya. Meskipun ia tidak terlalu berhasrat dengan jurusan kuliahnya, namun setidaknya ia sudah dapat “meraba” atau sekedar berdebat dengan teman-temannya mengenai kasus-kasus yang berhubungan dengan topik kampusnya.

Sementara itu, pertanyaan yang sering terngiang-ngiang dalam dada, bagaimana mungkin aku dikatakan mahasiswa fisika semester IV sementara aku tak paham sama-sekali topik-topik fisika dasar I dan II? Atau barangkali terlalu menggelikan bila aku mengaku telah setahun setengah belajar fisika sementara sistem deferensial dan integral – dua sistem matematika terpenting untuk penerapannya dalam fisika – aku belum menguasainya, bahkan sekelumit pun?

Inilah hal yang benar-benar membuatku gelisah. Aku tidak mau kelak ketika sudah wisuda dianggap lulusan kacangan atau sarjana fisika “sampahan”. Aku tidak mau dikatakan ini dan itu (diolok-olok) mengenai pengetahuanku tentang fisika. Sangat memalukan rasanya jika seandainya kelak ditanya oleh seseorang mengenai pendidikanku, aku menjawabnya, “SARJANA FISIKA”, sementara ketika aku ditanya menganai gravitasi Newtonian atau rumus E = mc Einstein, aku hanya geleng-geleng kepala.

Semuanya berawal dari masa lalu yang suram, masa lalu yang “haram” hukumnya diikuti oleh generasi di bawahku, yakni ketika aku baru memutuskan untuk kuliah dan aku tidak benar-benar mantap dengan pilihan jurusan yang akan aku pilih. Hal ini sebuah problem pelik yang berimplikasi sangat luar biasa bagi masa depan seseorang. Ceritanya sebagai berikut:

Sewaktu SMA, aku tak benar-benar yakin kalau kelak akan kuliah. Aku tak dapat berharap banyak menjadi seorang mahasiswa, lantaran orang tuaku miskin, apalagi aku sudah tidak punya ayah. Ayahku meninggal dunia ketika aku masih kelas satu MTs. Tidak mungkin rasanya ibuku seorang diri mampu membiayai kuliah yang menurut cerita-cerita para tetangga membutuhkan biaya yang sangat besar. Apalagi kerjaannya cuma tani, dan hasil dari tani itu pun hanya cukup untuk biaya hidup harian keluarga. Dari itu aku pesimistis untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang kuliah.

Tapi keajaiban muncul tiba-tiba. Entah apa gerangan ihwal yang mendorongku sehingga aku – ketika sudah lulus SMA – memiliki cita-cita besar (dan cita-cita itu hingga kini Alhamdulillah masih berpendar di dadaku), yakni menjadi seorang ilmuwan. Cita-cita itu membuatku “buta”. Aku sudah tidak tahu lagi bahwa aku ini anak orang miskin, bodoh, terbelakang, dan sebagainya. Yang penting bahwa aku harus mewujudkan cita-cita itu, apa pun jalan alasannya. Aku pikir dengan menjadi seorang ilmuwan, kelak aku dikenal banyak orang, dan semoga dengan jalan inilah aku dapat membahagiakan orang tuaku. Aku yang terkenal bodoh di kelas dan tidak pernah membuat orang tuaku menangis haru dengan prestasi-prestasi belajarku, ingin membuktikan pada mereka bahwa aku bisa menjadi seorang yang besar oleh ilmu.

Yogyakarta, ya, Yogyakarta, itulah tujuan awalku. Ketika itu, dua orang kakak kelasku (M. Sanusi dan Yusrianto Elga) sudah terkenal menjadi seorang penulis sukses di Yogyakarta. Kutub adalah nama sebuah lembaga kepenulisan yang begitu menggemparkan yang telah membesarkan dua seniorku itu.

Maka tanpa banyak pikir aku meminta restu dan sedikit uang buat ongkos (hanya 300 ribu) kepada orang tuaku dan aku berangkat ke Yogyakarta, ke lembaga Kutub tepatnya (waktu itu masih di Krapyak). Aku berproses menjadi seorang penulis di sana. Meskipun perih dan runyamnya hidup banyak menerpaku dalam berproses di Kutub, aku tidak peduli. Yang penting aku jadi seorang penulis, dan dengan begitu, aku pikir bahwa aku sudah melewati satu jenjang proses keintelektualan. Alhamdulillah – meskipun tidak begitu terkenal – kini aku sudah merasa menjadi seorang penulis yang dapat menulis dalam tema apa pun. Untuk itu, aku sangat berterima kasih kepada alm. Gus Zainal Arifin Thoha – guru hidup, intelektual dan spiritualitasku – yang telah membimbingku ke jalan yang semoga lurus ini.

Iming-iming kuliah muncul begitu saja sewaktu aku satu tahun di Jogja. Ini tak lepas dari pikiran bahwa seorang intelektual saat ini harus menempuh pendidikan formal. Lebih-lebih dorongan yang sifatnya eksternal, yakni agar tetangga kampungku tidak beranggapan negatif dengan tahu bahwa aku merantau ialah untuk kuliah. Karena sudah menjadi tradisi di kampungku bahwa orang merantau jauh-jauh dari desa harus jelas, kuliah atau kerja.

UIN Sunan Kalijaga adalah satu-satunya kampus yang hanya mungkin aku masuki, karena dibanding kampus lain, biayanya tidak terlalu mahal (untuk tahun 2007, SPPnya 600 ribu). Lagi pula aku sudah banyak tahu bahwa UIN telah banyak melahirkan ilmuwan. Kebetulan rata-rata teman-temanku kuliah di sana, jalanku menjadi semakin terang dan lancar – meskipun untuk urusan keuangan selalu menimbulkan masalah. Tapi aku mau ngambil fakultas apa, jurusan apa, aku benar-benar tidak tahu waktu itu.

Awalnya, tak pernah terlintas dalam pikiranku untuk masuk jurusan fisika. Inginnya sih aku mau ngambil jurusan filsafat atau sosiologi. Tapi aku pikir-pikir lagi, jurusan itu kurang menjanjikan secara pragmatis buat masa depanku. Oleh karenanya aku meminta pendapat dari orang-orang yang aku percayai. Setelah itu, aku pertimbangkan semuanya, utamanya dua pendapat sebagai berikut:

1. dari orang-orang rumahku (semuanya aku akumulasikan). Mereka mengatakan bahwa untuk gampang mendapatkan pekerjaan kelak ketika aku pulang ke Madura, jurusan sains dan teknik sangat menjanjikan. Setelah aku pikir-pikir kembali, untuk teknik aku tidak memiliki dasar sama sekali. Maka pilihannya adalah tingga fisika dan matematika (karena biologi dan kimia menurutku sangat sulit waktu itu).

2. dari guru sekaligus kepala sekolah SMAku, yakni KH. Hanif Hasan. Beliau selalu mewanti-wanti kepada seluruh siswa untuk ngambil jurusan sains dan teknologi daripada jurusan-jurusan yang “mengotak-atik” agama. Yang dibutuhkan umat Islam sekarang untuk mencapai kemajuan peradaban masa depan, kata beliau, adalah bukan memikirkan agama, tetapi memantapkan keagamaannya. Sains dan teknologi merupakan garapan yang sangat respektif untuk itu.

Dari semua pertimbangan itu, lalu aku putuskan mengambil jurusan fisika, meskipun aku tidak suka pelajaran itu. Waktu itu, aku pikir, fisika lebih mudah ketimbang matematika. Tetapi ternyata merupakan pelajaran paling rumit untuk jurusan sains. Lebih dari itu semua, jurusan yang telah aku ambil itu, ternyata problematis. Ternyata aku salah pilih jurusan. Mestinya untuk menjadi guru fisika, aku harus ngambil jurusan pendidikan fisika, bukan fisika murni. Ah, entahlah, ini adalah pilihan salah yang keberapakalinya aku lakukan dalam hidup ini.

Oleh karena pilihan salah itu, ditambah ketidaksukaanku dengan fisika, semester satu dan dua aku tidak serius kuliah. Tahun itu (2007-2008) adalah tahun suram pendidikan formalku. Dalam kurun tahun itu aku tidak pernah belajar fisika sama sekali. Di dalam kelas, kerjaanku cuma tidur saja atau ngoret-ngeret buku sendiri. Aku malas-malasan datang ke kampus. Kini, sekitar lima mata kuliah di dua semester itu harus aku ulang kembali, lantara tidak bisa ikut ujian akhir. Nilaiku hancur. IPku tidak sampai 2,24.

Bahkan semester tiga aku pilih cuti, karena aku sudah tidak kuat lagi dengan kehidupan kampus. Aku berpikir, jurusan fisika tidak cocok dengan karir intelektualitasku. Waktu itu, hampir aku pindah kampus, yakni ke UT (Universitas Terbuka) di Bantul. Di sana katanya boleh tidak masuk, tapi boleh ikut ujian. Asalkan memenuhi nilai standart kita naik kelas. Aku pikir dengan masuk UT, waktu untuk belajar sendiri semakin terbuka. Di sana biaya kampusnya hanya 400 ribu/semester. Jadi kalau aku masuk di sana, aku tidak perlu terlalu pusing memikirkan biaya kampus.

Tapi untung aku terlambat daftar. Waktu itu pendaftaran awal tahun 2008 untuk semester ganjil. “Tragedi” ini mungkin rahmat yang memang dikhususkan Tuhan buatku, sehingga aku tidak salah pilih lagi (sehabis aku gagal daftar di UT, banyak aku dengar berita “kejanggalan-kejanggalan” mengenai UT). Ya, sudah, aku mantapkan untuk meneruskan kuliah di UIN.

Awal aku masuk semester IV, kesadaran untuk belajar kembali dan mendalami fisika masih belum tumbuh dalam diriku. Baru ketika aku dihadapkan pada berbagai hal, kesadaran itu muncul. Misalnya, karena semester semakin tua, tuntutan untuk tahu dalam ujian, malu pada kebodohan, keinginan selalu bersaing dengan teman-teman, dan hal-hal lain yang sebelumnya tak pernah aku duga. Lebih-lebih – entah mungkin karena aku sering baca biografi para fisikawan dan berita-berita seputar fisika sering aku up-date di internet – dalam diriku muncul cita-cita yang hingga detik ini aku tidak paham mengapa ia harus hadir dalam hidupku, yakni ingin menjadi seorang fisikawan. Kadang aku tertawa sendiri jika ingat cita-cita itu.

Bagiku, fisikawan adalah merupakan sebuah cita-cita yang menurutku sangat tidak pantas diharapkan oleh seseorang yang sama sekali tidak punya dasar fisika dan matematika, juga oleh seseorang yang tidak memiliki kemampuan luar biasa dan intens dalam merambahi ruang pemikiran yang super rumit itu.

Cita-cita menjadi seorang fisikawan memang cenderung problematis. Tapi entahlah – semenjak semester empat ini – aku selalu di dorong oleh cita-cita itu. Dan aku yakin, aku bisa mewujudkannya. Apakah keyakinan ini hanya ilusi, halusinasi, atau mimpi buruk, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah bahwa, aku yakin kelak bisa menyumbangkan sesuatu dalam ilmu ini. Meskipun saat ini aku masih belum menguasai sedikit hal dalam topik-topik fisika, tapi aku yakin aku akan jadi seorang fisikawan. Entahlah, sekali lagi, aku tidak paham dengan keyakinan ini. Mungkin teman-teman kelasku akan tertawa seandainya tahu cita-cita dan keyakinanku ini.

Mereka barangkali akan berkata, “bagaimana mungkin orang paling bodoh di kelas dan terbelakang penalarannya seperti fakih memiliki impian sebesar itu…?!”

Aku memang mahasiswa paling bodoh di kelas. Tidak memiliki dasar yang kokoh dalam fisika dan matematika. Pemahamanku, ingatanku, logika dan penalaranku, mungkin lebih rendah ketimbang teman-teman kelasku. Aku akui, mereka sudah jauh di depanku pemahaman fisikanya. Aku sangat bukanlah apa-apa dibanding mereka semua.

Tapi semenjak hari ini, semester ini, aku pikir hari masihlah panjang untuk mengejar mereka. Masih banyak waktu buatku untuk belajar keras. Aku kira, tak ada kata terlambat untuk hal ini. Bagaimanapun rendahnya kualitas otakku, keras kepala dalam belajar adalah jalan yang tidak boleh tidak harus aku lalui. Semoga dengan cara ini, aku bisa menyaingi mereka, atau bahkan melampaui mereka. Semester IV ini, ya, pada semester IV ini, semuanya akan berawal. (Teman-teman, maaf kalau aku terlalu arogan).

Tuhan, angkatlah hambaMu ini dari jurang kebodohan. Berikanlah kepadaku kekuatan pemahaman, kekuatan ingatan, ketajaman penalaran, ketetapan hati, kegigihan dan keistiqamahan dalam belajar. Tunjukkan dan bimbinglah aku ke jalanMu.

Jogja, 21/05/2009

Surat Kepada Kekasih

Kini apa yang akan kau katakan tentang cinta. Segalanya telah berakhir. Dan aku tak mau tahu lagi apakah kau merasa sedih dengan kenyataan ini atau bahkan tidak sama sekali.

Penyesalan memang binatang yang paling kejam. Ia tak dapat ditundukkan hanya dengan sekedar perasaan. Namun hanya satu, kasih, yang tersisa untuk kita renungkan: sempurnakah penyesalan itu?

Semula memang tak sempat kubayangkan, betapa kau adalah bunga yang tak pernah layu di hatiku. Kau telah tumbuh sedewasa ini. Dan aku telah memeliharanya sekuat hati.

Namun mengapa juga kau serupa serigala: terus memburuku dan terus saja memburu. Betapa aku tak paham, mengapa aku harus berlari, seakan mengelak dari kenyataan. Tak mampu aku berucap apa-apa dengan perasaan ini.

Kegagalan bukanlah kata pertama bagi perjalanan kita, namun ketidakberdayaan serupa pintu yang tak mampu kubuka meski aku telah berusaha untuknya.

Aku luluh, kasihku. Aku begitu luruh. Semuanya kini telah beranjak dan aku terdiam sepi. Aku tak lagi mampu membanyangkanmu. Aku tak mampu membayangkan betapa takdir adalah kehampaan. Namun apakah kau juga begitu, itulah pertanyaan yang tak pernah kutahu jawabannya.

Aku selalu berhadap akan kesempurnaan, kasih, karena barangkali itulah kata yang paling tulus bagimu. Bagi cinta kita. Bahkan tanpa alasan, aku menginginkannya demikian. Tanpa memaknai betapa sungguh kerdilnya aku ini, aku yakin, kesempurnaan itu bagai titik terdalam dalam buah mata kita.

Jogja, 10/09/08

Menggali Akar Kebudayaan Bangsa (?)

(Catatan Diskusi Budaya dan Bedah Buku Rhadar Panca Dahana)



Dalam acara Diskusi Budaya “Dialektika Seni dan Indonesia” dan bedah buku “Dalam Sebotol Coklat Cair” karya Radhar Panca Dahana yang diadakan oleh anak-anak Aqidah dan Filsafat UIN Suka pada hari Senin 26 Mei 2008 bertempat di Stadium Center (SC) UIN Suka, hadir tiga pembicara: Halim HD (seorang neteworker budaya), Radhar (penulis buku), dan Hairus Salim HS (pemerhati budaya dari LKiS). Diskusi itu juga dihadiri oleh berbagai lapisan pemuda, baik aktivis pergerakan, penyair, kritikus budaya, dan para utusan atau undangan dari beberapa organisasi pemuda di Yogyakarta.

Pentingnya diskusi budaya itu bukan terletak pada struktur dan pola acara yang disuguhkan oleh panitia, bukan pula karena buku yang dibedah menawarkan nuansa baru yang menyentak kesadaran para hadirin (maklum, buku itu adalah antologi essei yang tentu tidak sistematis), tetapi pada bagaimana pembahasan tentang kebudayaan dan tradisi bangsa dihadirkan sebagai ruang tafsir nasional yang kurang lebih menarik karena berkenaan dengan posisi bangsa yang kini sedang membutuhkan jawaban secara paradigmatik tentang memaknai kebudayaannya.

Dengan demikian, meskipun skeptisisme terhadap eksistensi dan perjalanan dialektika kebudayaan bangsa selalu hadir – baik dari pembicara maupun para penanya – dengan pernyataan-pernyataan yang seringkali memojokkan, namun dari sinilah tampak bahwa semangat nasionalisme ternyata belum luntur atau malah berkobar dalam diri bangsa Indonesia yang nyatanya kini sedang dihadapkan pada fenomena kebangsaan dimana pada batas terekstrim hendak melemahkan daya kesadaran.

Saya sendiri sebagai genarasi muda bangsa – utamanya ketika diberi kesempatan angkat bicara oleh saudara moderator – tidak merasa risau, misalnya, pada pertanyaan yang seringkali dilontarkan oleh Radhar tentang apa arti kebudayaan bagi kita? Bukankah efektifitas kebudayaan dalam ruang sosial (dalam banyak pengalaman bangsa ini) justeru seringkali menimbulkan anarkisme dan bahkan disintegrasi? Lalu kenapa kita masih merasa perlu kepada kebudayaan bila sudah jelas bahwa kebudayaan itu sendiri tidak mampu memberikan pemaknaan terhadap hidup keseharian kita?

Saya kira pernyataan Radhar ini dalam tataran tertetu adalah bertolak dari sebuah semangat menghargai kebudayaan bangsa dalam bentuk mempertanyakannya sebagai dasar untuk merekonstruksi pemahaman kita bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang tidak hanya patut dihargai, melainkan turut pula dihayati. Atau jika tiga pertanyaan penting tersebut memang sangat mendesak untuk dijawab, maka cukuplah dengan hanya mengajukan salah satu poin dari ajaran Trisakti-nya Bung Karno, yang menandaskan suatu semangat kebangsaan untuk “berkepribadian dalam hal budaya”.
Tidak terlalu sulit memang untuk menyatakan bahwa kebudayaan adalah sebuah identitas yang tampanya suatu bangsa barangkali tidak akan pernah menemukan titik pijak refleksi esensialitas kepribadiannya. Karena itu kebudayaan bukan hanya penting, tetapi barangkali sebuah keharusan yang tak terelakkan bagi suatu bangsa.

Catatan pendek ini berusaha menanggapi beberapa uraian penting dari tiga orang pembicara pada diskusi budaya itu atau semacam koreksi ulang yang mempertanyakan, apakah pernyataan-pernyataan mereka tentang pola, struktur dan proses kebudayaan berkesuaian dengan paradigma konstruktif yang mendesah untuk diperbaharui maupun dengan realitas kekinian dimana konsep kebudayaan memerlukan pemaknaan ulang yang kurang lebih secara ekstrim?

***
Adalah Hairus Salim yang menyatakan bahwa buku Rhadar itu merupakan percikan pemikiran yang hendak memberikan kemungkinan untuk mengembalikan kebudayaan bangsa kepada akar historisnya. Tidak jelas dia paparkan tentang bagaimana percikan pemikiran itu dibangun dan dikembangkan untuk menghindari segala celah yang menuntut untuk dipertanyakan. Misalnya tentang fenomena kebudayaan apa saja yang ditelaah oleh Rhadar dalam bukunya itu sebagai sampiran menuju pemecahan konstruktif dan solutif, atau tahapan dan prinsip apa yang harus dikembangkan oleh segenap masyarakat budaya dalam rangka menuju proses pembentukan kembali ke akar itu?

Pertama-tama harus diperjelas bahwa tidak mudah dan selalu menemukan problematika pelik dalam setiap menangkap sesuatu tanpa mempertimbangkannya dalam segala dimensi tentangnya, misalnya dari sisi epistemologik, historis, substansi dan realitas anomali yang telah terjadi selama sesuatu itu dapat diketahui. Membicarakan segala kemungkinan untuk mengembalikan kebudayaan bangsa kepada akar pembentukannya, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit dalam merenungi pertanyaan, misalnya, adakah akar historis kebudayaan bangsa yang azali tanpa adanya modifikasi (realitas kebudayaan kita, menurut Salim, telah termodifikasi sedemikian rupa. Oleh karenanya harus dikembalikan kepada akarnya agar ruh kebudayaan kita menemukan momentum baiknya)?


Jogja, 23 Mei 2008

TUHAN, AGAMA, MANUSIA

Sejak makin vital ditentangnya modernisme sebagai landasan peradaban yang justeru menciptakan erosi multidimensi dunia dan kehidupan, pengambilan jalan tengah dengan menyertakan aspek sistem-nilai agama cukup mendominasi. Inilah yang kemudian, dalam posisi tertentu, dikatakan sebagai model lajur pemikiran post-modernisme.

Adapun kesatuan konstruksi pemikiran post-modernisme, terletak dalam dua corak kecenderungan yang berbeda, yaitu antara pencerabutan grend narration dan paralelisme dialektik. Grend narration atau narasi besar dikatakan sebagai kelangsungan hidup pemikiran modernisme dalam meletakkan klarisifikasi kecenderungan dunia pada hanya terhadap aspek ‘yang agung’. Para idealis post-modernisme merefleksikan ‘yang agung’ kepada bangunan dasar ideologi seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme bahkan demokratisme. Dikatakan bahwa dengan meletakkan dunia pada lintasan ‘yang agung’, sama halnya dengan mengatakan bahwa air adalah merupakan hidrogen dan oksigen. Bahwa dengan menumbangkan ‘yang agung’ ini sama saja dengan mengandaikan the end of history.

‘Keterburuan’ ini dikritisi oleh para pemikir post-modernisme dengan argumen bahwa menegasikan ‘narasi kecil’ yang dalam waktu tertentu sangat dominan sama dengan mereduksi tatanan hidup ‘yang lain’ yang semestinya pula patut dihormati. Karena ‘yang lain’ inilah pada tingkat intensitas tertentu bukan hanya sebatas dibutuhkan tetapi menyimpan potensi dasar dalam setiap pembicaraan tentang perkembangan sebuah peradaban dalam mengandaikan pemenuhan hasrat tujuan masa depan yang lebih dapat dikendalikan. Dengan mengafirmasikan ‘yang lain’ ini, pakem ‘narasi agung’ harus ditanggapi melalui mendeteksi kecenderungan-kecenderungan untuk didekonstruksinya sedemikian rupa.

Sementara pengertian paralelisme dialektik, justeru merupakan usaha menemukan bentuk alternatif antara akal dan nurani. Oleh banyak pengamat dikatakan bahwa pengandaian akan hal ini merupakan bentuk romantisme terhadap nurani yang telah berabad-abad lamanya dinegasikan modernisme.

Dalam sistem simbolisasi terhadap nurani atau lebih jelasnya agama, terdapat bermacam kecenderungan yang berbeda yang menjadi bagian terpenting melalui sistem diagnostik terhadap simbol social maupun pemikiran. Agama ditekankan pada dua aspek yang sama-sama mengkritisi lajur hidup dunia dan kehidupan masyarakat modern.

Petama, paralelisme menekankan akan terdapatnya bagian terpenting dari struktur social dan simbol dunia satu sama lain yang penuh ketergantungan. Argument dasar para penekan parelelisme adalah bahwa masyarakat modern mempunyai kecenderungan untuk membedakan secara mendasar antara kultur dan subkultur, symbol dan subsimbol, system dan subsistem, dan lain-lain yang pada ketentuan tertentu mengagungkan rasionalitas di atas spiritualitas kehidupan, sehingga melahirkan bermacam anomali yang justeru mengancam eksistensi hidup manusia di dunia. Dari sini kemudian dianalisis duduk persoalan masyarakat modern pada tingkat kesadaran substansialnya, bahwa sudah saatnya mengembalikan seluruh dimensi dunia dan kehidupan pada tataran yang dianggapnya berjejaring satu sama lain itu.

Lebih radikal lagi, system pemikiran dialektik dalam tahap tertentu berusaha menekankan pada prinsip-prinsip agama supaya dijadikan sebagai pedoman dasar atau landasan dinamika social dan kesadaran individual, karena keberadaan kitab-kitab suci agama-agama secara substansial memberikan suatu bahan dasar tentang apa sesungguhnya dan bagaimana seharusnya dunia dan kehidupan. Sekularisme oleh para pemikir yang berkecenderungan demikian dianggap sebagai referensi dasar untuk melihat perkembangan peradaban modern yang diyakini bertitik klimaks pada pencerabutan system-nilai masyarakat dan perusakan terhadap symbol-simbol dunia dan alam dimana pada saat yang sama kehidupan manusia menjadi sumber satu-satunya atas masalahnya sendiri. Dari sini kemudian, posisi agama seperti terlihat pada arif-bijaksana tokoh-tokohnya terdahulu mesti lebih dipandang penting karena bahwa pandangan dan prinsip mereka terhadap dunia dan kehidupan sama sekali tidak mengemban pemahaman yang reduksionis. Titik kesadaran manusia dikatakan kemudian ialah terletak pada tahap bagaimana mereka mengambil kearifan dan kebijaksanaan itu sebagai modal dasar untuk memahami symbol zaman yang sedang mereka hadapi.

Akar Modernisme
Kalau ditarik ulur pada tahapan awal munculnya paham modern ialah sejak Descartes semakin skeptis terhadap para Yesuitnya yang dikatakannya tidak punya bangunan jelas dalam pemikirannya. Ketidakjelasan ini dinyatakan oleh Descartes sebagai konsekuensi logis dari dogma agama yang cenderung memuja ‘yang tahayyul’ daripada ‘yang rasional’. Dengan begitu dia mendeklarasikan cogito ergo sum-nya beserta pondasi dasar pemikiran yang disebutnya sebagai idea clara et distinca (ide yang terang dan jelas) untuk mencari kebenaran. Sikap skeptisis Descartes ini kemudian dapat diterima secara umum di Eropa dengan syarat utama menghilangkan unsur agama (religiositas) dalam proses epistemologisnya.

Meskipun ada bermacam kecenderungan paham rasionalitas yang masih menyertakan mistisisme dimana tidak serta merta menghilangkan ‘yang tunggal’ (Allah), seperti yang dibawa oleh Leibnis dkk, pada perkembangan yang lebih lanjut tetap saja agama dianggap ‘musuh’ kebenaran karena ‘ketidakjelasannya’.

Periode pasca rasionalisme Descartes, di ranah Britania Raya, para filsuf inggris secara bersamaan mendeklarasikan apa yang dikatakan empirisisme. Orang-orang semacam John Locke, Thomas Hobbes, Berkeley dan David Hume mambangun empirisismenya masing-masing dengan pondasi dan sistem yang berbeda-beda. Meskipun pada Berkeley – barangkali karena dia adalah seorang pendeta – sistem emperisisme masih mengandaikan adanya ‘yang batiniah’, tetapi dapat dikatakan bahwa hal yang demikian hanyalah bentuk justifikasi pemikiran yang dipaksakan. Bahwa tetap saja paham emperisisme menegasikan ‘yang ghaib’ yaitu system-nilai pada agama-agama.

Sejenak kemudian pencerahan di Perancis telah menemukan pilihannya yang berpuncak paling radikal pada positivisme August Comte. Dia berusaha membangun pemikirannya atas sintesis antara rasionalisme dan empirisisme. Ateisme cenderung rentan dalam hal demikian, begitu juga sekularisme. Saat itu pengacuhan terhadap metafisis berpuncak, sementara materialisme menemukan titik pancarnya yang paling awal. Abad pencerahan selaras hanya pada tahapan epistemologi an sich dan agama betul-betul berada dalam keadaan yang sangat sulit, bahkan kian pudar.

Beruntun kemudian pada idealisme dan materialisme Jerman dimana sistem-nilai tidak lagi ditambatkan pada agama, tetapi hanya pada saja aspek dunia dan kehidupan. Etika hanya mendapatkan pengertiannya dalam ruang sosial formal. Metodologi saintifik terbangun kokoh dan barangkali merupakan titik klimaks yang paling awal. Sedangkan mekanisme Newtonian telah diprakarsai sedemikian rupa agar kemajuan ilmu pengetahuan tidak mendapatkan ancaman substansial.

Lahirnya Erosi
Peradaban Eropa dan Amerika, dengan seribu hasrat pemikiran yang telah membangun multidimensi kehidupan, kemudian menjadi tonggak kesadaran dunia. Tak dapat dibayangkan bagaimana anarkisme terjadi sangat gencar sehingga memakan banyak korban jiwa di Negara-negara dunia kedua yang “tergiur” oleh kesuksesan Eropa dan Amerika. Peran serta dunia kedua ini, karena pengaruh dari turunan pola pemikiran dasar mekanisme, mempercayai bahwa kolonialisme merupakan jalan terbaik untuk menemukan identitas pembangunan negaranya.

Kehancuran moral kemanusiaan lalu terjadi tak terelakkan tanpa adanya kesadaran untuk melakukan perlawanan atas nama kebijaksanaan. Sementara eksploitasi nilai dan oprasional alam dilakukan demi hanya sekedar pemuas ’dimensi hasrat menguasai’ manusia. Perang, baik fisik maupun dingin, mewarnai kancah dunia abad modern yang memerankan Amerika sebagai kapitalis dan Rusia sebagai komunis menyeruak sedemikian rupa sehingga menciptakan “scizhoprenia” dunia. Dalam kondisi dunia yang demikian kritisnya, manusia tidak banyak lagi mementingkan peran agama dan kebijaksaan terhadap alam, namun justeru berupaya menemukan sitesis diantara dua blok itu. Disusun kemudian konsepsi demokrasi yang dipandang lebih humanis, tetapi pada saat bersamaan dituding sebagai ‘panjang tangan’ dari kapitalisme.

Demokrasi berpacak sebagai paham dominant bahkan hingga saat ini dengan turunan paham yang lebih rumit lagi, yaitu globalisme. Manusia barangkali tidak sempat berfikir bahwa globalisme sesungguhnya bukan seperti apa yang dia bayangkan. Globalisme yang disinyalir oleh pengandaian terhadap terciptanya asimilasi positif antara warga dunia, ternyata pada tahapan realnya justeru hanya melahirkan perseteruan yang tiada habisnya. Hasrat “menguasai” dan “dikuasai” manusia bahkan menemukan tempat paling dominant dalam hal ini. Manusia tidak akan lagi memikirkan hal-hal yang sangat spesifik dan fundamental dari keringkihan diri dan alamnya, kerena sudah terlampau diteriaki oleh “iming-iming” kapitalisme yang sesungguhnya berpihak pada anarkisme dan bukan toleransi berkeadaban.

Romantisme Spiritualitas
Barangkali manusia tidak berfikir bahwa tatanan budaya, politik, ekonomi, sosial, alam dan dimensi dunia serta kehidupannya menjadi pertaruhan yang sedemikian rupa karena telah terjadi banyak erosi. Baru setelah ditemukan fenomena-fenomena fundamental yang diperkirakan akan menjadi ancaman serius terhadap eksistensi manusia, seperti bobroknya bangunan sistem-nilai dan moralitas serta etika kehidupan, ditambah lagi oleh bencana alam yang terjadi mendera tiada akhirnya, manusia mulai sadar bahwa pemahamannya terhadap dunia dan kehidupan selama ini dipenuhi oleh bangunan pemikiran yang reduksionis yang hanya sekedar artifisial. Bahkan ketika ditemukannya titik bahaya dari alam yang ditunjukkan sebagai global warming, pada saat bersamaan manusia merasa bahwa dirinya merasa kering dari nilai kearifan dan kebijaksanaan. Setidaknya terhadap dirinya sendiri dia tidak merasa bahwa selama ini dia telah menciptakan segala ketimpangan yang tidak pernah dia kira sebelumnya. Seperti halnya dia tidak mansyukuri keadaan dunia dan kehidupannya, kemudian dia mulai sadar bahwa berabad-abad lamanya dia telah memusuhi dirinya sendiri.

Frijtof Capra barangkali adalah seorang ilmuawan yang hendak ingin mengembalikan reduksi pemahaman manusia modern pada duduk persoalannya secara substansial. Dikatakan bahwa pemahaman manusia modern, secara tidak langsung dari berbagai paham yang dia agungkan, telah meniscayakan keberjarakan dirinya terhadap dunia dan kehidupannya. Tidak disadari bahwa alam semesta sesungguhnya merupakan jaringan yang berantai antara satu entitas dengan entitas hidup lainnya.

Disparitas dan paritas yang semestinya mengharapkan terciptanya solidaritas, dalam dunia modern justru dibuat lubang yang sangat lebar oleh masyarakat modern. Anggapan yang mengatakan bahwa alam semesta tak lebih serupa ruang mekanis itulah merupakan varian penting dari terciptanya pemahaman keterjarakan ini. Maka dari sini kemudian kepercayaan manusia pada yang abstrak atau yang ghaib menemui titik buntu yang paling memilukan. Manusia sepenuhnya percaya terhadap kekuatan dirinya dengan perangkat hukum alam yang diciptakannya sendiri, kemudian menganggap segalanya dapat direduksi dan dieksploitasi. Pada saat genting seperti inilah bahwa apa yang dikatakan daya spiritualitas Timur membutuhkan ruang untuk lebih dominan sebagai antitesis dari rasionalitas dan empirisitas pemahaman manusia, agar terjadi paralelisasi dan integrasi yang berkesinambungan antara keduanya. Diharapkan dari sintesis antara spiritualitas dan rasionalitas pada diri manusia suatu pemahaman yang sebisa mungkin dapat mengatasi berbagai problema modernsasi yang sekularistik.

Metodologi Spiritualitas
Namun, bagaimana metodologi atau cara dalam meyakinkan manusia akan pentingnya daya spiritualitas disini tidak ada satu pun perangkat dasar yang setidaknya bisa menjadi acuan umum. Para post-modernis yang mendukung paralelisme spiritualitas dengan rasionalitas selama ini hanya dapat menampilkan beberapa catatan penting dari fenomena-fenomena keganjilan dunia dan kehidupan serta mendorong untuk bagaimana spiritualitas menjadi fondasi dasar dari paham manusia dan belum sampai pada pengertian tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Sangat sulit dirasa untuk mendapatkan pemahaman baik terhadap spiritualitas jika tidak diarahkan dengan perangkat metodologi dasar yang menyertakan peran ontologi dan epistemologi relegitusitas serta sistem-nilai agama. Karena bahwa untuk manusia yang makin memiliki daya nalar kritis tinggi, hal-hal berupa mistisisme atau tahayyul cenderung sangat sulit diterima seandainya tidak ada satu bangunan dasar pemahaman yang mengakar dan dapat dipercayai sebagai keyakinan yang patut diterapkan.

Setidaknya paham post-modernis yang menganjurkan paralelisme antara rasionalitas dengan spiritualitas dapat digolongkan pada dua kelompok besar, yaitu pemikir yang berusaha menemukan kesatuan antara sains dan agama dan penganjur supaya ditingkatkannya penghayatan terhadap dunia dan kehidupan termasuk juga kepercayaannya kepada tuhan. Mereka memiliki kecenderungan pemahaman yang berbada, dikarenakan penekanan yang diharapkannya memiliki bobot serta implikasi yang berbeda pula. Kelompok pertama lebih kepada penekanan terhadap kebenaran adanya ketersambungan antara satu dimensi dengan dimensi yang lain, sehingga dari ini manusia diharapkan tidak menegasikan diantara salah satunya. Indikasi logis dari ini pula, agar manusia memiliki kesadaran universal terhadap apa yang dia kerjakan. Kesadaran ini berkenaan dengan kemantapannya melakukan sesuatu serta kesiapannya menerima implikasi yang semestinya telah disadarinya sejak semula. Sementara untuk kelompok kedua, lebih menekankan kepada penerimaan terhadap adanya dzat tunggal yang memberikan manusia kesadaran terhadap dunia dan kehidupannya. Mereka mengharapkan manusia modern kembali mengindahkan ajaran-ajaran pokok dalam agama, agar daya naluriahnya tidak kering-kerontang sehingga manusia selalu merasa siap pada apa yang sedang dia hadapi.

Selama ini, para penganjur spiritualitas hanya dapat mengangkat contoh kearifan hidup para spiritualis Timur dahulu, yang kalau dalam Islam biasa disebut sufi. Sufisme telah menjadi kajian umum dengan satu tujuan agar dapat menjadi pedoman manusia modern saat ini. Pemahaman dan pengalaman hidup serta pola pikir orang-orang sufi diinterpretasikan serta direlevansikan dengan kondisi arus zaman. Banyak interpretasi yang didapatkan dari usaha demikian, dan yang paling fundamental bahwa sistem-nilai spiritualitas adalah merupakan keyakinan untuk tidak bertindak tanpa adanya satu pegangan hidup yang terdiri dari kebijaksanaan spiritual yang tinggi. Pengenalan terhadap yang ‘Maha Tunggal’ merupakan satu urgensitas yang tidak boleh ditampik. Sistem-nilai agama yang dianggapnya determinan ialah karena mencakup dari keseluruhan sistem-nilai kehidupan. Sesungguhnya, menurut mereka, kebahagiaan di dunia dan di akhirat ialah ketika seseorang mengindahkan seruan agama. Baik dan buruk harus selalu ditimbang dari titik moralitas agama.

Jika kelompok pertama berusaha mengilmiahkan sintetis tersebut, sementara yang kedua menyuguhkan perenungan kepada manusia tentang kearifan tokoh spiritualis zaman dulu. Bagaimanapun juga dapat dimafhumi dari dua kelompok itu, orang akan mengambil banyak pelajaran, akan tetapi apakah orang itu akan menjadi sadar dengan argumentasi keduanya merupakan satu keganjilan yang memang patut dipertanyakan. Karena bahwa secara substansial, romantisme spiritualitas untuk zaman ini harus lebih radikal lagi disebabkan jika tidak demikian, maka kecenderungan tidak diterima sangatlah memungkinkan.

Untuk itu kemudian, bahwa bagaimana kemungkinan untuk tidak diterima itu diperkecil sedemikian rupa adalah merupakan tugas bersama. Adapun dalam rangka penyadaran, memang tidak dapat dipungkiri untuk menyusun bermacam argumen sistematis dan konstruktif yang barangkali pula dapat dikatakan sebagai sistem paham seperti halnya paham-paham lainnya. Setiap paham diterima oleh khalayak ialah karena paham itu memiliki pondasi dan bahan serta perangkat dasar penyusun konstruksi pemikirannya. Paham itu tidak diterima kemudian jika telah ditemui cela terhadap ketahanannya atas segala kemungkinan konsekuensi.


Jogja, 2008
1
“Yang dikatakan manusia-dalam-Tuhan adalah manusia-bagi-kehidupannya dan bukan kehidupan-bagi-Tuhannya”.

2
“Alam semesta tercipta untuk kehidupan dan sama sekali tidak untuk Tuhan. Apakah demikian juga dengan agama? Seseorang hanya bisa merasakan dan tidak bisa menalar”.

3
“Hidup bagai daun tegar dalam tumbuh dan tumbang”.

4
“Menuhankan ‘Aku’ itu eksistensialisme radikal. Sementara meng-‘Aku’-kan Tuhan itu radikalisme eksistensial”.

5
“Jalan agama adalah horizontalisme-vertikal, sekaligus juga vertikalisme-horizontal”.

6
“’Aku’ bukan pencipta diri, tapi penjadi diri. ‘Aku’ adalah Tuhan bagi Tuhan dalam ke-diri-an”.


Jogja, 2007

Musik dan Masa Lalu

Beberapa bulan belakangan ini, hatiku terasa hampa, kosong dan seperti tak pernah menemu tambatan. Entah bagaimana waktu begitu cepat membawaku jauh dari masa lalu. Tak sekali waktu, seperti biasanya dalam hidupku, ia mampir dalam perenungan, membawa aroma baru yang mencerahkan dalam hidupku. Ia terasa lain, seperti sesuatu yang tak pernah berarti sama sekali. Padahal, betapa ia menjadi obor dalam setiap jalan yang aku tapaki. Ia seperti seorang ibu, mengasuhku sepenuh hati. Aku terasa asing tanpanya. Merasa bahwa tak pernah menjadi seorang manusia, seorang anak desa.

Di tanah perantauan ini, aku rasa masa lalu adalah kekuatan, sesuatu dimana ketika dahaga ia selalu menyediakan air kesadaran. Tanpanya, entah bagaimana gersangnya hatiku. Saat dalam keadaan susah dan dipenuhi oleh kesulitan hidup, ia datang membawa kehangatan. Dikala hidup terasa sumuk, jiwa gelisah, hati merana, ia adalah satu-satunya kawan yang paling setia berbagi rasa, berbagi duka. Aku tak sudi, ia hilang dan lenyap dalam kesadaranku.

Meski aku tak pernah bisa menyemainya lagi, setidaknya hidupku terasa berarti dengan kehadirannya. Barangkali dialah satu-satunya yang dimiliki oleh manusia ketika tak punya apa-apa lagi Dialah yang paling setia mendampingi perjalanannya dan memberinya pelajaran hidup yang kekal dan abadi. Dialah mungkin sesuatu yang diciptakan Tuhan agar manusia selalu sadar dari mana ia berasal dan bagaimana ia harus memperlakukannya.

Jogja, 2008

SECARIK TENTANG TUHAN DAN AGAMA

Secara substansial, agama diturunkan untuk membentuk kemanusiaan yang beradab. Seandainya manusia diciptakan tuhan dengan sempurna, baik secara sikap maupun sifat yang utamanya bertendensi pada kemanusiaan universal, barangkali agama tidak akan pernah dihadirkan. Maka pentingnya ajaran agama ialah mengatur bagaimana sesungguhnya manusia menyikapi kehidupan pribadinya, sosial, lingkungan, tuhan, dan sebagainya. Menurutku, terlepas dari tujuan itu, dalam tataran tertentu, agama tidak terlalu penting. Perkembangan pembahasan seputar agama yang selama ini kita kenal dalam teologi, relegiusitas, spiritualitas, dan filsafat agama hanyalah berupa turunan dari tujuan utama itu. Namun yang perlu dipertanyakan, apakah keempat termin tersebut telah membawa spirit tujuan agama secara substansial?

Pertama-tama harus dipahami bahwa lahirnya banyak faham dan interpretasi terhadap suatu agama ialah karena terdapatnya penekanan khusus para penganutnya terhadap sisi syakralitas dan profanitas agama yang dianutnya itu. Namun dapat kita saksikan, indikasi dari hal ini kemudian memunculkan aliran fundamentalisme atau liberalisme, yang pada batas lebih ekstrem, menampakkan suatu pengertian dan tendensi yang menganggap agamanya lebih baik daripada agama lain dalam segala sesuatunya. Indikasi inilah yang kemudian manurut saya turut menciptakan kesenjangan antar pemeluk agama. Padahal jika mengacu pada hakikat tujuan diturunkannya agama, indikasi tersebut merupakan hal di luar batas kewajaran, bahkan dapat dikatakan melenceng dari apa yang diharapkan oleh lahirnya agama itu sendiri.

Bagiku, agama yang baik ialah ketika ajaran-ajarannya menjadi ruh para pemeluknya. Selain itu, misalnya agama yang hadir dalam ruang filsafat, teologi, spiritualitas, atau pada paham lain yang diturunkan dari ajaran-ajarannya yang justeru kemudian menciptakan keretakan sosial dalam batas hidup wajar kemanusiaan, bagiku, hanyalah menjadi petaka atau sumber anarkisme sosial belaka yang diciptakan oleh umatnya sendiri. Agama semacam ini tidak lagi azali, karena telah dicampur-adukkan atau dikomodifikasi dengan penalaran objektif dan tidak subjektif. Dan hal ini belum disadari oleh rata-rata manusia pada zaman ini, suatu zaman yang dikatakan maju.
Sesungguhnya seluruh ajaran agama yang ditunjukkan dalam kitab sucinya, ialah semata-mata untuk kemaslahatan sosial dan perbaikan hidup individual. Di samping itu, bagi saya pribadi, agama tidak mempunyai maknanya. Namun pertama-tama untuk mesjustifikasi pendapat saya ini, maka harus diperjelas terlebih dahulu secara garis besar, apa isi dari keseluruhan kitab suci dalam tiap agama?

Pertama, kitab suci membicarakan tentang tuhan, berkenaan dengan sifat dan eksistensi dzatnya. Tentang eksistensi dan sifat dalam tiap kitab suci agama-agama, tuhan digambarkan sebagai dzat tunggal yang memiliki dimensi sifat penguasa, pencipta, pengatur, pengasih, penyayang, absolut dan sebagainya. Dan ajaran tentang semua ini, sepenuhnya dipegang sebagai yang-determinan oleh tiap-tiap pemeluk agama, sehingga seandainya ada yang mencela “sifat tuhannya” itu, mereka tidak segan-segan akan mengutuknya, bahkan membunuhnya. Mereka akan mengagungkan tuhannya sendiri secara berlebih-lebihan tanpa didasarkan pada satu kerangka filosofis yang lebih mempuni. Sikap semacam inilah, bagi saya, merupakan kesalahan fatal manusia.

Menurut saya, umat semacam ini telah teretidur di atas kesadarannya sendiri. Ajaran tentang eksistensi dan sifat tuhan, dalam pemahaman mereka masih dianggap sebagai medium bagi tuhan untuk disembah dan diagungkan oleh mereka. Padahal, jika memang itu landasan epistemologinya, betapa tuhan tidak Maha Kuasanya, karena masih butuh terhadap apa yang oleh manusia dikatakan sebagai penghambaan. Bila demikian, tuhan tidak lagi sebagai yang-absolut, dalam artian masih memiliki sifat berketergantungan.

Bagi saya pribadi, tuhan tidak memerlukan pengagungan dan penyembahan dari manusia, karena Dia adalah pencipta yang Maha Sempurna dari segala kebutuhan. Dia adalah yang Haq dan sama sekali tidak memiliki sifat egois seperti yang dibayangkan oleh manusia selama ini. Dia tidak butuh apa-apa dari mahluk ciptaannya, kecuali hendak mengantar mereka kepada alam kemaslahatan dan keberadaban. Tidak lebih dari itu. Tapi mengapa tuhan masih membicarakan tentang sifat dan eksistensi Dirinya dalam tiap kitab suci agama secara – lebih radikal dikatakan – berlebihan? Inilah sebenarnya yang harus pertama-tama direnungi oleh manusia, bukan lantas menerimanya tanpa adanya daya kritisisme dan kuroisitas yang tinggi.


Jogja, 23 Mei 2008

Surau Ngaji Pertama Dan Mereka Semua

terima kasih yon, edi, deni, yoyok, joko, lisa
terima kasih atas kebersamaannya
terima kasih pak matripin, terima kasih mak erra
terima kasih atas kasih-sayangnya
tanpa kalian, aku tak akan pernah bisa mengaji alif-baa-taa

aku masih ingat kenangan kita itu
saat magrib tiba, kita datang ke langgar bersama-sama
berjemaah bersama-sama, mengaji bersama-sama
dan bermain-bermain riang sebelum pulang ngaji bersama-sama

saat diantara kita ada yang khatam iqra’ atau al-qur’an
kita merasa begitu senang
karena kita bisa makan bersama nasi rebbha syukuran
dan saling mengayuh masa-masa keriangan

aku tak pernah menyesal dan marah padamu, edi, deni
atas kenakalan kalian yang menyebabkan lengan kiriku patah
karena kenakalan kalian ini
kini menyadarkanku akan makna kata waspada

aku masih ingat kenangan itu, pak, mak
saat kalian mengajari kami bagaimana cara mengaji yang baik
bagaimana cara berwudhu dan bershalat yang baik
bagaimana cara menghormati guru dan orang tua yang baik

sungguh kalian begitu sabar membimbing kami yang nakal ini
mengajari bagaimana berbuat baik pada orang lain dan diri
menapih sesal tentang betapa jahatnya kebodohan
belajar bagaimana selalu ingat pada tuhan

oh, betapa kenangan itu tak pernah aku melupakannya
selamanya, bahkan barangkali sampai aku ini tiada
betapa sangat berharganya kebersamaan kita
betapa bahwa segalanya menjadi begitu bermakna

suru tua itu, bolehlah kini sepi atau bukan lagi tempat untuk ngaji
bagiku, ia tetaplah tempat yang bergelimang cahaya di hati
sudah terlalu lama aku tak menjenguknya
rindu ini telah berkarat sekian lama

ingin aku memampirinya lagi
sekedar bersih-bersih
dan mengingat kembali
bagaimana ia begitu berharga bagi kami

Yogyakarta, 13 Juni 2009

Biografi Pengembaraan dan Pergulatan Hidup


-->


Pada sebuah ashar akar musim kemarau, aku terlahir ke dunia (Selasa, 8 Maret 1988) – dengan nama pemberian almarhum ayahku (Asyikurrahman), Ahmad Ali Faqih. Kelahiran itu adalah sejarah hidup pertamaku. Selama sembilan bulan bertapa di rahim ibu (Rusipa) – seorang yang kelak kukatakan sebagai “cahaya yang tak berlentera” itu – aku jadi tahu apa arti waktu.
Menurut penuturan ibu, tangisku lamat-lamat terngiang, memekikkan penderitaan hidup yang hendak aku jalani di hari depan. Kisahnya, aku adalah bayi sareang yang cukup sehat dibanding dengan bayi-bayi lainnya, walau tanpa asupan vitamin dan gizi yang sempurna.
Tanda kelahiranku, berwarna bening hitam, terletak di sisi dalam pangkal paha kanan. Ari-ariku ditanam di sebelah kanan depan rumah – rumah kuno khas Madura kesayanganku itu. Aku terlahir sebagai laki-laki dan karenanya tugas seorang ayah tersemat di pundakku.
Kehadiranku di dunia untuk kali pertama telah menjadi kebahagiaan seluruh keluarga; sebuah keluarga yang telah turun-temurun dijerat kemiskinan, sebuah keluarga yang tak pernah berdendang lagu afia (kebahagiaan) – sebuah lagu yang kelak ingin kunyanyikan untuk mereka. “Tahukah kau Sareang-ku, betapa telah lama kau kunantikan. Dan hari ini kami adalah keluarga yang sangat berbahagia di dunia,” mungkin itulah kata-kata yang diucapkan oleh ayah dulu.
Beliau mengisahkan bahwa aku sempat sakit berkepanjangan, kira-kira berumur belum satu tahunan. Dalam dunia mistik orang madura – sebagaimana yang tercetak dalam beberapa buku tentang Madura, juga dalam buku Mien Ahmad Rifai, Manusia Madura yang terbit Maret 2007 ini – bahwa persoalan nama dapat menghambat apa saja dalam diri seorang anak, dan dapat juga sakit, karena namanya tidak cocok. Maka dengan jalan inisiatif seperti itu ke dua orang tuaku mengubah namaku – tetapi tidak dari segi arti dan tujuan nama itu dibuat – dengan nama Muhammad Ali Fakih. (Dalam ijazah maupun akte kelahiran tertulis Moh. Ali Faki). Sekarang kuubah (kutambahi) lagi, sebagai nama pena dan nama sepanjang masa, yaitu Muhammad Ali Fakih AR, (AR adalah kepanjangan dari nama orang tuaku, yaitu alm. Asykurrahman dan Rusifa).
Aku adalah bayi yang manying, hingga sampai air mataku sempat kering. Ini barangkali adalah bukti bahwa suka-derita hidup telah menanti kehadiranku di dunia yang penuh teka-teki ini.
Aku tumbuh besar dan sehat, walau batapa yang ia makan dan minum sangatlah jauh dari kelayakan umum. Kedua orang tuaku sangat bahagia ketika aku memperoleh apa yang sebelumnya tak pernah dikira: juara balita sehat se-Kecamatan Dasuk. (Sertifikat itu masih kuabadikan hingga sekarang). Perkembanganku sangat pesat. Dalam dada orang tuaku kemudian terserak harapan yang diluncurkan; “inilah sang buah hati yang bakal meneruskan perjuangan dan cita-citaku”.
Kira-kira umur lima tahunan, kata ibu, aku merengek minta untuk di sekolahkan. Padahal pada waktu itu (sekitar bulan Juli 1993), jarang anak-anak seusiaku yang sekolah. Tapi karena keinginanku yang kuat, kedua orang tuaku tak dapat membendungnya. Maka diambillah inisiatif untuk menyekolahkannya, meskipun ro’noro’ babhang. Ibuku memang sudah minta kepada bapak kepala sekolah, Suwito, untuk tidak menaikan kelas, lantaran aku masih terlalu kanak-kanak. Pada tahun itu pula aku resmi jadi siswa Sekolah Dasar (SDN Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura).
Setahun aku tak naik kelas (kelas satu) lantaran memang permintaan dari orang tua. Padahal waktu itu aku peringkat delapan, suatu peringkat yang tak beralasan untuk tidak dinaikkan. Bahkan sempat aku kalahkan kakak kelasku (kelas dua) saat lomba antar kelas dalam bidang matematika dan menyanyi. Itu suatu prestasi yang dapat aku banggakan dan menurutku adalah sebuah batu loncatan semangat di tahun-tahun mendatang.
Maka aku masih bertahan di kelas satu. Ada satu kenangan menarik yang tak pernah lekang dari ingatan. Setiap kali jam istirahat aku mesti jadi harimau-harimauan untuk menghibur teman-teman. Itu kulakukan atas keinginan untuk mendapatkan uang jajan dari teman-teman. Karena setiap anak yang merasa puas dengan penampilanku, ia harus memberiku uang. (enak juga buat jajan dan simpanan, pikirku). Maklum uang sakuku waktu itu 75 rupiah: terlalu rendah untuk ongkos saku anak sekolah. Tapi apa boleh dikata, kekuatan orang tuaku hanya segitu saja. Itu pun masih diperoleh dari banting-tulang dan keringat kuningnya dalam bertani, berjualan buah kedonong ke pasar, kuli sawah dan nelayan, yang kini ketika aku ingat kembali sungguh betapa beratnya hidup mereka.
Aku menjalani masa siswa pertama itu seperti biasa; menghibur teman-teman saat istirahat untuk mendapat uang jajan. Perjalanan itu aku lakukan sampai kelas tiga. Setelah kelas tiga, aku punya inisiatif baru untuk sekedar tambahan uang jajan dan simpanan, yaitu berjualan jajan-jajan kecil, buah-buahan yang dipanen di kebun rumah, dan juga urmang (kicot laut) – suatu pekerjaan yang kemudian menginspirasi adikku (baru lulus SD) untuk juga berbuat sebagaimana aku – di ruang kelas, karena kalau di luar aku takut dimarahi kepala sekolah. Itu kulakukan hingga lulus SD. Kunikmati jalan Allah yang satu ini. Mendingan juga kurasa. Sedang uang saku dari emak (ibu) aku simpan, dan lalu kubelikan ayam untuk diternak.
Satu hal lagi yang menarik saat aku masih SD: aku jadi peternak ayam yang ulung. Semua ayam itu adalah hasil simpananku sendiri. Aku sangat bangga karena itu. Aku bekerja sama dengan Hamdi – seorang teman kecilku, anak yang kini senasib denganku: tidak punya ayah, tetapi aku kagum pada ketangguhannya dalam mempertahankan idealismenya, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua dan berkorban hanya untuk mereka.
Banyak hasil yang kudapat dari usahaku itu. Aku dapat membeli baju dan perangkat sekolah sendiri. Selain itu juga, kira-kira akhir kelas enam aku juga beternak ikan hias. Setiap hari Jum’at (hari pasar Dasuk) aku menjualnya dan membeli yang baru. Namun sayangnya, semua itu kutinggalkan akibat keharusanku pergi menuntut ilmu ke pondok pesantren.
***
Masa kecil (SD) bagiku adalah masa di mana segala rasa susah-senang tertumpah menjadi sejumput kenangan yang tak pernah lekang dari ingatan. Bahkan begitu sangat mengakar, ingin sekali rasanya aku melipat waktu dan kembali pada masa lalu, walau perih saat kuingat, tapi indah kala kubayangkan. Karena masa kecil adalah dunia bebas, tak pernah tertuntut oleh aturan. Sebab masa kecil merupakan suatu tonggak menuju kecemerlangan masa remaja. Sebab masa kecil….sebab masa kecil….ah, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Lebih baik aku merenung saja, karena waktu terus menjulur, dan segala kenangan kini telah jadi sejarah, sedang sejarah tak dapat terulang.
Ingin sekali rasanya aku menjenguk teman sekelas yang sakit bersama teman-teman lainnya dengan penuh kebersamaan. Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu dan memberi telur ayam pada guru saat lebaran. Ingin kudengar kembali suara Ibu Narti, Ibu Hos, dan Bapak Heri yang mengayomi kami dalam memberi pelajaran dan dengan kesabarannya mendidik kami yang nakal. Ingin aku kembali berolah raga bersama teman-teman di pagi hari pada waktu pelajaran olah raga dan kesenian dengan dipandu oleh Bapak Musyafak; guru yang mengantarkanku mendapat penghargaan sebagai juara ke II dalam lomba lari Agustusan se-Kabupaten Sumenep untuk kategori SD, guru yang mengantarkan kami dapat juara I lomba senam se-Kabupatan. Ingin sekali aku merasakan pukulan Bapak Sholehuddin, cubitan Bapak Kusairi, karena kini cubitan dan pukulan itu sejatinya adalah belaian kasih saying, kurasa. Ingin lagi aku mendengar sanjungan guru-guruku saat aku menorehkan prestasi dan mengharumkan nama sekolah. Ingin sekali aku dipentungi bapak tani, karena tanaman pisangnya, tanaman kacangnya, jambu mentenya kucuri. Dan ingin sekali rasanya aku menanak bersama teman-teman, bernyanyi lagu perpisahan, menangis bersama saat bersalaman kepada semua guru. Ingin…ingin….ingin…. ingin sekali semuanya terangkum, dan aku adalah raja waktu. Tapi aku tetaplah aku; kerdil dan mengerdilkan.
Keinginan untuk kembali pada masa kecil sama besarnya dengan keinginan untuk pulang ke alam kandungan – sekali lagi kata Hazrat Inayat Khan. Semuanya telah menjadi arca. Masa SD adalah masa keindahan yang tak pernah pulang dari sanubari. Sedang perpisahan dengan masa kanak-kanak untuk menuju masa remaja adalah masa peralihan yang penuh dengan kelabu kepenatan. Aku mungkin termasuk orang yang selalu penat, karena begitu dahsyatnya daya kemanusiaan saat masa itu diingat. Akulah orang yang merasa bahagia dengan masa kanak-kanakku, dan juga akulah orang yang paling perih menahan gejolak takdir pada masa kanak-kanak.
Perpisahan hari itu cukup haru. Semuanya menangis. Air mataku menetes dan bumi menelannya, lalu kini jadilah ia bayang-bayang dan tonggak hidup. Betapa apa yang aku tangisi ialah masa yang penuh dengan keriangan. Betapa keriangan itu menjadi saksi menetesnya air mataku kini. Saat ijazah di serahkan, aku dan sekalian teman kelas akhir SD bersenandung lagu “Anak-Anak Desa”, lagu kebangsaan, dan “Wajib Sekolah Sembilan Tahun”. Mungkin perasaan kami semua lepas dari kesadaran kata-kata. Kami adalah makna yang bukan mantra, dan kesadaran yang tak dapat disaksikan adalah bukan kami. Tapi akulah orang yang sangat sayang dengan kesadaranku sendiri, karena darinya kutemukan makna hidup.
Perpisahan itu benar-benar terjadi (10 Juli 2000). Semua teman-teman telah menemukan tujuannya masing-masing, sedang aku bagai batu karang, seturut dengan nazar orang tua yang bermaksud untuk memondokkanku di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura. Dengan perasaan yang berat aku setujui keinginan itu, karena itu nadzar yang diucapkan ayah sebelum aku lahir. Padahal seandainya aku masuk SMP, mungkin masa dengan teman-teman seperjuangan sejak SD dapat aku rajut kembali sebuah tali ikat perkawanan. Tapi itulah jalan yang terbaik dari Tuhan. Tak dapat aku berbuat apa-apa kecuali dengan petunjuk-Nya.
Dengan persiapan bekal yang kurang, akhirnya aku berangkat juga. Yang dituju adalah PP. Annuqayah daerah Lubangsa, karena di sana ada pamanku. Jadi aku ada yang mengayomi. Dipesan dua mobil untuk mengantarku ke pondok yang bakal menjadi tempat prosesku selama enam tahun (MTs-SMA). Sedang ayahku masih tetap tergolek di tempat tidur, karena sakit kanker darah (kata dokter, sedang kata masyarakat di sihir. Menurutku memang adalah jalan takdir). Jelas tak dapat mengantarku ke pondok. Hatiku luruh, selain diberatkan oleh sebuah perpisahan dengan tanah kelahiran, ditambah oleh pikiran yang bukan-bukan tentang ayah (tapi akhirnya pikiran itu benar-benar terjadi).
Pondok yang dapat ditempuh selama 2 kilo meter/jam, seturut keyakinanku pada waktu itu, adalah tempat yang dapat membunuh; tempat yang memisahkanku dari teman, tempat kelahiran, dan aroma panorama desaku tercinta, Kerta Timur. Tapi demikianlah, tidak boleh tidak aku harus ke sana. Dan ini atas nama nadzar. Kadang aku menyesal sekali patuh pada nadzar itu, tapi apa daya bahwa aku harus jadi anak yang patuh kepada orang tua, sebagaimana pesan Bapak Heri sewaktu SD.
Panorama pondok yang begitu asing. Bunyi-bunyian teralienasi dari perasaan. Walau aku sudah di pondok, perasaan tetap masih di rumah. Apalagi ketika ingat saat-saat perpisahan dengan ke dua orang tua, nenek, dan seorang adik yang sangat aku cintai. Rasanya aku ingin pulang saja. Aku tidak kerasan dengan panorama pondok. Semuanya asing bagiku. Aku merasa bahwa yang asing bukanlah duniaku. Duniaku adalah dunia keriangan yang tak penuh oleh perintah dan larangan. Mungkin dunia pondok bukanlah gantungan cita-cita. Sebuah cita-cita yang dipaksa akan berkonsekuensi pada keterpaksaan kehendak. Tetapi kehendak itu tetap saja akan jadi suatu identitas, suatu jati diri. Aku adalah korban dari pemikiran yang demikian. Tapi kuyakini itu sebagai takdir, yang pada akhirnya menjadi tambatan kemanusiaanku kelak. Dengan terpaksa aku berusaha untuk kerasan.
Awal-awal aku di pondok adalah cerita tentang realitas yang menggelikan. Suatu ketika, kira-kira sudah mencapai satu bulan, aku belajar menanak. Kaum tanakku ada tiga orang; syamsul, pamanku sendiri (Tsabits) dan aku. Karena aku baru dan seorang santri baru itu harus belajar menanak, maka aku menjadi ahli dapur. Tak ada yang menanak kecuali aku. Pada suatu ketika aku ketiduran dan lupa menanak. Pamanku yang aktif di organisasi dan sangat sibuk itu marah atas “insiden” ini. Kuhadapi dengan biasa saja. Tapi akhirnya kemarahan pamanku itu memuncak dan tak pernah mengajakku makan. Ia hanya makan dengan syamsul. Aku marah dan sangat sedih.
Mungkin ia tak tahu tentang karakterku dan psikologi seorang anak yang jiwanya dalam keaadan ngambang. Karenanya, ketidakkerasanku semakin memuncak. Akhirnya perbuatan konyol kulakukan; mengambil inisiatif untuk pulang sendiri, walau aku tak faham jalan menuju ke rumah. Tapi keinginanku itu sangat kuat. Lalu kukemasi barang-barang bawaan, dan menuju ke perempatan; tempat menunggu mobil ke arah kota.
Tapi akhirnya, karena rasa tanggung jawab, pamanku mengejarku ke perempatan dan mengajakku kembali ke pondok. Aku merengek seperti anak kecil. Padahal aku tak pernah berbuat seperti itu, walau kepada orang tuaku. Jadinya aku sangat malu sekali, terutama pada diriku sendiri. Namun akhirnya aku kembali juga. Dan meneruskan hidup di pondok.
Perjalanan itu kunikmati. Hari demi hari telah menikamku, sekaligus juga menambah usiaku di pondok itu. Sampai sekitar usiaku dua bulan di pondok itu, adalah saat pertamaku pulang, karena aku di parani oleh orang rumah untuk menjenguk ayah yang katanya sedang sekarat. (Tapi sebelumnya aku tak diberitahu tentang hal itu. Jadinya seperti burung yang diberi kesempatan untuk terbang oleh pemiliknya; sangat bahagia.). Kini aku pulang; suatu harapan yang ditunggu-tunggu. Kini aku benar-benar kembali dan hendak menghirup aroma desa kelahiran. Pikirku bahwa kepulanganku itu menjadi momentum yang sangat indah. Tetapi tidak. Kepulanganku bahkan merupakan saat-saat yang sangat menyedihlam, bahkan mencapai puncaknya. Ayakku, tak lama setelah aku bacakan surat Yaasin, ia berpulang ke rahmatullah dengan membawa Syahadat. Aku tak menyangka hal itu akan terjadi. Tapia pa bolek dikata; semuanya Allah yang menentukan.
Akhirnya tulang punggung keluarga itu telah tiada. Akhirnya orang yang selalu memberiku semangat untuk terus iqra’ dan belajar ilmu setinggi-tingginya telah tiada. Rasa sedih ini tak tertahankan, bahkan aku luapkan dengan menjerit sekeras-kerasnya, walau ada tokoh masyarakat yang aku segani pada waktu itu, dan memarahi orang-orang rumah yang tak pernah memberiku berita tentang keadaan ayah yang sebenarnya. Pada waktu itu aku merasa, segala tentang diriku, harapan dan cita-cita, segala tentang keluarga, keinginan dan hamparan jalan, luruh bersama kesedihan panjang. Kukira inilah awal dari kehancuran, momentum keterpurukan, dan sejarah yang mencatat kisah-kisah pedih yang melimpah.
Hidupku jadi blingsatan; tak tentu arah untuk beranjak. Pernah aku berusaha untuk menghabisi diriku sendiri, dan orang yang dikira telah menyihir ayah. Ke mana saja aku bawa clurit (senjata orang Madura) dan berusaha mengambil kesempatan untuk membunuh orang itu dengan tanganku sendiri. Sampai-sampai aku berkomplotan dengan teman-teman yang agak dewasa, bahkan pamanku. Aku benar-benar gila pada waktu itu. Padahal pada waktu itu aku masih sangat kecil (umur 12 tahun). Karena kemarahan, sesuatu yang mustahil akan jadi kenyataan. Tapi akhirnya niat itu kuurungkan setelah aku tahu bahwa tak ada yang kuasa mencabut nyawa manusia kecuali Allah. Dialah yang Maha Penguasa. Kuyakini saja bahwa ini adalah takdir-Nya. Karena separah apapun penyakit seseorang jika tidak sampai pada waktunya ia berpulang, maka di harus pasti hidup, sebagaimana nabi Ya’kub.
Benar sungguh segala harapan jadi hambar, bahkan aku ingin berhenti mondok dan lebih baik membantu orang tua saja mengais rezeki. Tapi walau bagaimanapun, jika Allah telah memberi jalan yang lurus kepada sekalian manusia, maka manusia itu akan tetap dengan jalannya. Alhamdulillah, walau dengan bantuan Bapak kepala desa, aku kembali kepondok dan belajar ilmu Agama. Aku sangat berhutang budi kepadanya. Tetapi denyar-denyar darah ini ingin mengatakan kelak esok, bahwa tidak sia-sia engkau membiayai proses pematanganku. (Terima kasih bapak kepala desa. Doaku bakal terus mengalir kepadamu).
Selama itulah biaya sekolahku (MIs) termasuk buku-buku wajib di gratiskan, karena aku yatim. Aku bersekolah seperti biasanya, dan selalu menjadikan segala keperihan (jeratan kemiskinan dan kematian ayah) sebagai gumpalan semangat. Kuharap gumpalan itu teruah oleh kekokohanku untuk menunaikan niat sang ayah tercinta. Selama tiga tahun sekolah tingkatan pertama kujalankan (2000-2003). Aku lulus dengan nilai biasa. Satu bidang pun tak ada yang kudalami, tak sama dengan idealismeku sebagai penuntut ilmu yang terserak di dada. Tapi aku bersyukur, karena aku banyak tahu tentang kehidupan; jalan dan batasan-batasannya.
Aku hendak melanjutkan ke sekolah tingkat atas (SMA). Kupilih SMA Annuqayah yang baru berdiri. Awalnya tak ada alas an mengapa aku tertarik padanya, padahal masih ada sekolah yang tua yang berada di naungan Yayasan Annuqayah (MA 1 dan MA 2). Tapi setelah kujalani, sangat jauhlah berbeda, karena sekolah yang baru pasti penuh dengan peraturan yang bertujuan untuk mendisiplinkan. Buatku SMA paling faforit. Walau aku tak mau pada formalitas, tetapi darinya aku dapat belajar bagaimana jadi orang formal. Kepada SMA aku sangat berhutang budi, karena dialah yang membesarkanku dengan ilmu-ilmu yang diajarkannya, juga karena guruku di sana, semangat keilmuanku semakin berhasrat.
Kujalani sekolah SMA (2003-2006) dengan keriangan, keakraban, keeratan tali hubungan antar teman. Tak ada yang sangat paling terkesan dari segala sesuatu hidup masa remaja, kecuali masa-masa SMA. Hingga kini masih terngiang tentang apa yang terlipat; teman-tema seperjuangan, semua guru-guru yang bersahabat, kisah-kisah sekolah yang meriangkan hari-hari. Sungguh di sana hari-hariku jadi hidup, bersinar, dan pancarannya bertahan hingga kini.
Perpisahan memang menguras air mata dan gejolak hati. Sebagaimana juga sewaktu SD, perpisahan SMA menjadi ujung kisah sedih. Perpisahan kali itu adalah puncak perpisahan, karena waktu itu sekaligus perpisahanku dengan pondok yang semakin kusayangi dan teman-guru yang sangat aku cintai.
Perpisahan selalu mengundang romantika luka. Setelah segalanya terangkai, setelah segalanya selesai, perjalanan seakan kurang. Tak sudi kiranya aku meninggalkan jejak kakiku di pondok yang dulu sangat tak kusukai. Tak sudi aku meninggalkan teman-teman yang sering menolongku saat lapar, mengajakku cangkruan, merangkum hatiku, menjejaki segala yang bakal jadi sejarah. Ingin lagi kunikmati panorama pondok yang serba islami, ingin kurajut jejak-jejak yang tertinggal, ingin semai pertemanan sepanjang asa menggumpal. Tapi apalah daya, sebuah tangisan di awal juga akan berakhir dengan tangisan. Aku tak bisa terlalu lama bertahan di podok, karena prosesku tak harus sepenuhnya tertambat di sana. Aku harus beranjak, dan menatap cakrawala di ketinggian.
Karenanya maka dipilihlah Yogyakarta (17 Agustur 2006), sebagai ruang proses ke tigaku. Aku tertambat di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim ‘Asyi’ari; tempat aku jernih memandangi langit dan bumi, sebuah pondok yang diasuh oleh Gus Zainal Arifin Thoha; ilmuwan, penyair, budayawan, sufi, presiden kuburan, guru hidupku setelah orang tua, yang meninggal pertengahan Mei lalu. Darinya aku banyak belajar tentang landai-terjal kehidupan dan bagaimana cara untuk menghadapinya. Aku belajar “hidup” dan sekaligus “mati”, belajar “menjual kehormatan”, dan hidup mandiri sepenuhnya dari beliau.
Karena beliau aku menjadi penjual angkrengan (selama kira-kira empat bulan), penjual Koran di perempatan Malioboro, menjadi seseorang pengais jejak-langkah diri sebagai proses pematangan spiritual. Darinya aku dapat jadi remaja yang tangguh, kuat, dan mengakar. Salam hormat dan doaku selalu mengalir pada beliau.
Dengan KUTUB-nya aku dapat menjadi “besar” berkenaan dengan proses kepenulisan. Dari lembaga ini beberapa tulisan-tulisanku, berupa Essai, opini, cepen, puisi dan resensi, bermunculan di koran-koran pusat maupun daerah, seperti di Seputar Indonesia, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, Suara Merdeka, Surya, Bali Post, Bisnis Jakarta, Solo Pos, Surabaya Pos dan di sejumlah online.
Dasuk bagai sarang tempat aku pulang nanti. Annuqayah bagiku lebih dari segala apa yang tercipta di luar diriku. Jogja buatku adalah kota kecil tempat untuk menatap cakrawala yang lebih luas.. Sekarang aku masih dalam proses menjadi “manusia”, dengan motto hidup “spiritualitas, intelektualitas, kreativitas dan profesionalitas”.
Itulah mungkin tentang siapa, apa dan bagaimana aku, guru. Tentang cinta, mungkin aku adalah lelaki sejati. Aku masih terlalu cinta buat kekasihku yang sejatinya kini telah menghilangkan aura cintanya yang dulu ditebarkannya saat aku masih kelas tiga MTs. Aku memilikinya, tapi dia tidak. Tetapi ketahuilah bahwa aku bukanlah lelaki pejantan – sebagaimana juga Ahmad Wahib, dalam catatan hariannya yang diterbitkan LP3S. Aku tak dapat menumpahkan rasa cinta di hatiku kepadanya, karena pikirku; hingga aku tak pernah berubah dari keterpurukan keadaan, dari kemiskinan, biarlah cinta ini kunikmati sendiri. Tanpa diucapkanpun kuyakini dia mengerti. Tapi ia tak pernah mengerti dengan kemengertiannya.

Jogja, 2007